Rabu, 30 Januari 2019

Gertakan Pustakawan


Waktu masih kerja di Trans TV saya sering ikut Klinik Leadership yang diselenggarakan kantor. Waktu itu yang presentasi adalah almarhum Om Bob Sadino, pengusaha nyentrik yang kemana mana selalu memakai celana pendek. Menarik karena Om Bob, bagi ilmu tentang bluffing, atau gertak yang sangat bermanfaat. Nah saya pernah mempraktekan ilmu gertak ini di kehidupan sehari hari. Ternyata kekuatan mental itu sangat bermanfaat ketika kita berinteraksi dengan orang lain.

Ada kata kata inspirasi:

" Jika kita dikalahkan karena fisik yang lemah, maka menangkanlah dengan mental yang tangguh ".
Ada kisah nyata ketika saya mempraktikan ilmu gertak tersebut:

Suatu saat mobil saya senggolan di daerah Mampang Prapatan Jakarta. Bemper mobil saya nyerempet body mobil doskih. Kamipun berdua menepikan mobil ke pinggir jalan. Anak muda berbadan besar mirip Khabib Nurgamedov dengan gaya petakilan ke arahku. Dia sepertinya emosi dan sudah pasang kuda kuda ju jit su.


"Pak, kenapa nabrak mobil saya? : tanyanya. 
" Saya gak nabrak, kamu aja yang gak liat spion. Kalo kamu belok kiri kan gak nabrak! " kataku dengan nada selembut salju 
" Loh kok kekiri, emang bapak mau kemana ? ", ngajak ribut doskih. 
" Saya ditunggu teman teman di Komdak. Ntar kamu ketemu aku di reskrim yak "...diapun kemudian perlahan menjauh...

Nah lo,  politik bluffing ini juga bisa membantu para jomblo. Kalo dalam cinta, sombong itu perlu. Asal tempatnya pas, yaitu disaat wanita galau kita temani dia dengan sok kuat kita dan keluarin tuh hapalan ngajinya ama mario teguh, shakespir, hipwe, prestiholic. Jika itu konsisten, secara psikologis wanita itu akan mengatakan kamu kuat, lakik banget, dewasa dan bla bla bla.

Bagaimana dengan Gertakan Pustakawan ? Apakah anda pernah mempraktekannya?


Jadi gini. Kita sering denger curhatan teman teman pustakawan yang sering diremehkan dalam sub sistem kerjanya. Saya juga sering denger keluhan lain, misal  ketika manajemen menaruh orang orang buangan yang dimutasi ke bagian perpustakaan. Menghadapi kondisi tersebut, pustakawan biasanya diam bongkokan  kaya kucing katisen.

" ah gue gak mau ngomong, ntar dapur gue terancam " 

Padahal, ketika manajemen melakukan kebijakan tersebut, sebenarnya toh mereka sedang berkomunikasi ke pustakawan. Komunikasi tak harus verbal, bisa juga simbolis. Tak perlu takut untuk berdialog. Nah kalau pustakawan diam tak bersikap, bagaimana manajemen akan tahu idealis kita. Kecuali kalau kita setuju bahwa laku kerja sebagai pustakawan bisa dikerjakan oleh sembarang orang termasuk mereka yang dimutasi karena bermasalah. Kembangkan komunikasi gertak yang halus kepada manajemen, bahwa kita para pustakawan adalah pegawai yang profesional. Gak perlu ngelihat outputnya dulu, yang penting pesan dari kita mereka tangkap. Komunikasi adalah pertukaran pesan yang dialogis. Saya curiga kalau jika diam, jangan jangan karena kita secara tak sadar menyetujuinya.


Saya pernah mempraktekan ilmu gertak ini di kantor. Tentu saja harus disertai dengan metode cerdas jangan serampangan. Saya lobby ke jenjang tertinggi di kantor (direktur), tentang kebijakan gertak hold gaji jika pengguna terlat atau menghilangkan material (pengguna atau usernya dilingkungan kantor). Dengan teknik perpuasif, akhirnya  manajemen setuju.  Kebijakan ini sebenarnya lebih ke kebijakan shock teraphy agar si pengguna lebih menghargai aset dan pustakawannya. Lebih ke gertakan dari kita untuk pengguna. So yang kita hiligt kebijakan simbolis pengguna akan di hold gaji bulanannya jika telat mengembalikan aset. Sengaja di hilight padahal kebijakan tersebut sekedar "gertak", karena prakteknya tentu kita tidak melakukan ekstrim itu. So bluffingnya gak tanggung tanggung. Kalau di perpustakaan tradisional menghilangkan buku dendanya paling banter 50 ribeng, seharga siomay di mall. Padahal kebijakan tersebut kan sering dikadali pengguna.....diumpetin ngomongnya hilang. Kalau disuruh mengganti, tinggal foto kopi bukunya. 

Dan terbukti kebijakan itu sangat efektif, pengguna jadi lebih care dan sangat menghargai eksistensi kita. dan manajemen juga senang karena mempunya tim pustakawan yang tangguh. Dengan bahasa sederhana, gertak tersebut dimaknai pengguna sebagai pesan simbol ke pengguna:

" Lo jual gue beli. Mulailah menghormati orang lain kalo kita ingin dihormati. sebuah posisioning yang egalitar dan sejajar tidak lebih rendah dari yang lain "

Kuncinya kan disitu. Manajerial perpustakaan salah satunya adalah teknik berkomunikasi dengan cerdas ke pengguna dan stakeholder. Satu lagi kekuatan pustakawan dan perpustakaan adalah kolaborasi. Ketika kita menempatkan perpustakaan sebagai support, artinya kita menempatkan posisi perpustakaan dan pustakawannya sebagai subordinat ! Tau kan bahasa slank nya subordinat? mirip pembantu ! Beda jika kita memposisikan perpustakan atau pustakawan sebagai partner yang bekolaborasi dalam sistem.

Ayo pustakawan, asah kemampuan berkomunikasi, lobying, kolaborasi kita. Buang jauh penyakit mindernya...


Tabik

yogi hartono - digital asset manager cnn









0 komentar:

Posting Komentar