Senin, 28 Januari 2019

Menjemput Takdir Pustakawan (Digital Asset Manager)





Flashback 25 tahun yang lalu............

Lulus dari SMA 1 Pemalang Jawa Tengah, tahun 1992, awalnya saya mengutuk diri sendiri. Betapa tidak, saya gagal nembus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) untuk pilihan pertama, yaitu Psikologi Universitas Indonesia. Tapi Alhamdullilah, teriring waktu, akhirnya bersyukur meski cuma diterima pilihan keduanya di  Jurusan Ilmu Perpustakaan Unpad Bandung. Malang nasibku, aku tidak punya uang untuk kuliah di Unpad, akibatnya daftar ulang mahasiswa baru telat karena ayah harus jual motor dulu. 

Kegalauan saya diterima di JIP Unpad sedikit mereda, setelah saya nekat menghadap PUREK 3 Unpad karena telat membayar daftar ulang mahasiswa baru (saya oleh panitia Fakultas disyaratkan minta surat rekomendasi Purek 3 di Kampus Dipati Ukur, kalau tidak dicoret, alias DO sebelum mulai kuliah)

Saya tanya ke Pak Purek:
" Pak, saya diterima di JIP Unpad, apakah saya punya masa depan disana ? " tanyaku polos.
Pak Purek tidak menasehatiku hitam putih, tapi cenderung menggunakan kata sufi yang awalnya susah dipahami:
" Jangan mundur Dik...fokuslah belajar dan kuliah. Ibarat masuk ke sebuah gua yang gelap, mungkin kita tidak tau apa yang bakal kita dapatkan didalam gua. Tapi pikirkan di dalam sana ada emas permata dan hamparan hijau alam yang asri. Kamu harus yakin mampu meraih itu "  
Sejak saat itu motivasiku bertambah. Dalam pikiranku saat itu, terinstal "drive" bahwa aku harus bisa menjadi yang terbaik. Yang terbaik tidak harus yang nomor 1, bisa nomor 10, 13 atau bahkan urutan ke 94, asalkan punya kompetensi, skill dan value yang mumpuni. Lebih baik menjadi nakhoda kapal cepat fregat yang sehat, ketimbang sekedar jadi penumpang kapal induk. He he he menjadi nakhoda kapal induk lebih baik sih....




-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Fikom Unpad Yang Berubah

25 tahun kemudian, saya kembali ke Kampus Unpad di Jatinangor. Saya diundang oleh Jurusan Ilmu Perpustakaan Unpad sebagai dosen tamu untuk berbicara tentang profesi baru Digital Aset Manager, transformasi profesi pustakawan di industri penyiaran.









Fikom yang ada di memori saya, ya Jatinangor dulu yang gersang dengan kantin bedeng dan triplek reotnya. Mang Udin yang sering terlihat di tempat parkir dengan jaket Himaka hijaunya. Tertancap juga memori era kuliah angk 90 an, rebutan bus Damri berdarah darah. Sampai hapal saya  modus kucing garongnya. Sering ngelihat anak anak JIP, Jaka 93 Bilal 92 dan Hapsoro 92 sampai jalan kaki dulu dari Dipati Ukur ke jalan Supratman, nyegat bus balik lagi ke DU, demi memboking bangku bus ke Jatinangor.

Era dahulu, aktifitas fisikal mahasiswa terlihat sangat dinamis. Bukan cuma aktifitas sosial politik, termasuk masalah asmara. Konsep locus  makerspace & common learning nya justru lebih terasa di sekeloa. Di kampus yang agak pesing itu, banyak mahasiswa yang nyatain cinta nya dibawah tangga kampus. Maklum karena konsep makerspace tidaklah seluas kampus fikom sekarang. Fenomena lain, dulu banyak mahasiswa gondrong dengan jean belel dan sandal jepit ala Kurt Cobain. Termasuk dosen JIP Kusnandar 91 yang rambutnya terurai mirip Antonio Banderas.

Beda dengan mahasiswa millenial yang lebih terawat, gak ada lagi yang kuliah tanpa mandi dan pake sendal jepit, kaos oblong mirip Bilal temanku dulu. Ketika dosen muda Andriyanto mengajakku keliling Fikom saat itu, terlihat style millenial ala Siti Badriyah yang marak. Gak ada lagi yang gaya Bu Siti yang mirip mak uwok legenda warung si sekeloa dulu.

Di depan mahasiswa, saya mulai cerita:


Awal cerita..........


Suatu malam aku makan bebek peking di sebelah daerah Tegal Parang  Jakarta. Porsinya mantap. Rasanya nendang. Sambelnya bikin tubuh gobyos berkeringat. Mata langsung melek. Sel-sel tubuh seakan berjingkrak. Entah zat apa yang begitu mengaktivasi hampir seluruh elemen untuk menggeliat.
Bebek ni’mat ini, aku rasan-rasan, seperti berkah dari ketaksengajaan. Meskipun aku sering mendengarnya dari teman-teman, magnet bebek ini belum pernah sekalipun sanggup menarik hasratku untuk mendatangi. Tapi, ada ketaksengajaan yang menuntunnya. Suatu sore di minggu lalu, kendaraan yang aku supiri tetap lari kencang mengacuhkan rute yang biasanya aku lalui. Tahu kenapa? Frustasi karena terjebak macet aku memutuskan mengubah dan menambah jarak rute jalan. Sampai di lokasi bebek peking ini aku lewati.
“Ini tho, tempatnya”, pikirku sambil berjanji untuk nyambangi lain kali.
Ya, ada berkah dari “musibah”. Ada “bebek-bebek” dalam hidup kita yang diperoleh melalui ketaksengajaan-ketaksengajaan yang jauh dari rencana. Dulu waktu SMA aku bercita-cita mendalami ilmu Psikologi, ternyata malah kesasar ke Ilmu Perpustakaan & Informasi; ingin mendalami ilmu Jiwa ternyata mengalir ke teknologi, eh sekarang ke ilmu sosial dan kemanusiaan.  Tersesat yang kemudian membawa berkah.

Tersesat Yang Membawa Berkah.

Lulus kuliah, aku mulai tersesat lagi ketika kecemplung di bidang baru yang a saat itu masih jarang di Indonesia. Mengelola data restricted dan confidensial “human capital” dibawah bendera grup milik konglomerat terkaya di Asia saat itu, Lim Kha Sing di Jakarta. Aku direkrut bareng Rury, kolega seangkatan dari UI untuk menjadi teamwork mengelola ribuan “personnal data”, semacam curicullum vitae (data resume) para profesional yang ada di Indonesia. Istilahnya, kami mengelola; mencincang dan mengolah jeroan data para profesional dan executive di Indonesia. Nah lo, sadis bingit. Bekerja sebagai fresh graduate di bidang yang dulu belum diajarkan di bangku kuliah.
Lini bisnis korporat adalah rekruitment interaktif sekaligus perusahaan penyedia jasa profesional dan executive search di Indonesia. Klien nya banyak dari perusahaan lokal sampai multinasional. Proses rekruitment interaktif dijadikan sarana untuk menjaring database para profesional. Ratusan ribu data kemudia diolah kedalam database yang terintegrasi dengan database di wilayah Singapura, Indonesia dan Malaysia. Sebagai jasa layanan executive dan para profesional, mereka menyediakan jasa mecarikan posisi yang diminta oleh klien. Misal Samsung Indonesia butuh seorang Direktur Operasioal dan Manager Bisnis Process yang kosong, entah karena resign atau dibajak perusahaann lain. Nah Samsung menggunakan jasa kita untuk mencarikan profesional tersebut. Siapa yang menyediakan data nya? Ya Kami berdua titik.
Nah orang mungkin tidak akan percaya 2 orang culun lulusan fresh Ilmu Perpustakaan dipercaya mengelola data restricted pemasok resume executive dan profesional di Indonesia. Beuh, kami bekerja dalam tekanan yang sangat keras. Ada banyak sekali klien yang harus disuport. Gilak, dan akhirnya Rury cuma bertahan 7 bulan, setelah muntah darah. Saya lebih lama dikit, 12 bulan, setelah lolos dari sakit typhus.
Tapi benar kata orang bijak bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Tempaan dan tekanan kerja di usia muda justru membuat mental kami lebih tangguh. Istilahnya kami telah mengalami tekanan kerja berdarah darah, bleeding. Kalau ada teman yang mengeluh karena kondisi kerja yang begindang begundang, kami hanya diam. Karena mental kami sudah teruji bekerja dalam tekanan.
Kesasar yang kedua, lepas dari mulut buaya setelah resign dari perusahaan tersebut, saya tersesat lagi manjadi management trainee di lingkungan industri penyiaran. Lagi lagi saya kecemplung di bidang pengelolaan data (bigdata), bedanya ini data video. Banyak istilah baru yang harus dipelajari metadatadatamining; datalake; . Sayapun disekolahkan lagi sampai ke Malaysia untuk belajar asset management. Susahkah mengelola bigdata video? Gak susah amit, karena teknologi kekinian menggunakan Platform Digital Asset Mangement yang dihubungkan dengan Server Robotic. Kami gak perlu lagi blusukan mencari buku atau arsip secara manual, tapi menggunakan server yang menggerakan lengan lengan robotik mencari data. 

Digital Asset Media (DAM) itu pengelolaan server (bisa cloud atau NAS atau SUN) di bagian hulunya. Sementara di bagian hilirnya si server Robot yang memindahkan bigdata dari DAM ke Deep Archive. Nah antara DAM dan server robotic, ada profesi digital archiving yang mengassesmet datanya. Ada the man behind the gun nya, profesi digital archive librarian, atau Digital Entreprise Management nya. ( silahkan baca: shifting pustakawan buku ke pustakawan data )



Begitulah...............
Sering kita berdo’a mengharap dikabulkannya keinginan. Namun, kayaknya Tuhan mengabaikan. Dia malah seolah menghempaskan keadaan jauh dari angan.  Beberapa waktu berikutnya, kita baru mafhum bahwa Dia jauh lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-NYA.
Maka, musibah adalah definisi sesaat. Kesedihan melekat singkat. Kesasar tidak perlu membuat kita gusar. Kegagalan memberikan alternatif rute meraih kesuksesan. Hidup adalah aliran transisi keadaan. Dari satu status ke status berikutnya; berakhir pada tarikan nafas akhir. Baik buruk itu takaran relatif insan. Ukuran kebaikan menurut Tuhan mendasarkan pada bagaimana kita memaknai keadaan, bukan baik-buruknya keadaan. Kesenangan bisa jadi berbuah pahit dan kesedihan bisa berakhir manis.
Jika keadaan selalu berubah, mengapa kita tidak memperlakukan hidup seperti air; mengalir mengikuti hukum Tuhan atas alam ini. Bergerak tanpa paksaan. Mencari tempat lebih rendah dan ruang kosong untuk diisi. Air tidak memilih mengalir karena hasrat, tetapi mengikuti sunnat.
Bagi air, hanya ada satu hukum; mengalir ke tempat rendah. Bagi hidup, hanya ada satu prinsip; mengalir mengikuti keinginan Tuhan. Baik atau buruk keadaan menurut takaran kebendaan.
Moralitas kisah ini adalah menjadi seorang pustakawan atau whatever lah, tidak perlu galau. 
Nikmati dan syukurin sahaja. Bukan begitu Masbro?



Note:
Terimakasih ke Pak Agus Rusmana kaJur yang mengundang saya balik kampung. Pak Dosen Andriyanto, Bu Nuning dan Bu Neneng Komariah, Pak Samson, Bu Ninis, Bu Tine, dan Pak Prijana dan semua dosen jip unpad.

Yogi Hartono, digital asset manager, cnn 

8 komentar:

  1. Tulisannya sangat inspiratif pak! Apapun kerjaan kita sekarang, syukuri dan nikmati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali Dik Amirotul.....mengalir saja dah syukur selalu ke hadiratNya

      Hapus
  2. Salut..tks sharing pnglmnya..sngt inspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mas Hendi, semoga bisa memberi inspirasi, apapun mimpi kita, akan kita raih jika kita bekerja keras dan cerdas

      Hapus
  3. Inspiratif, teladan, jalan penuh lika-liku..mantul

    BalasHapus
  4. very inspiring.......memotivasi....terutama bagi saya yang punya background nonperpustakaan yang kecemplung di dunia perpustakaan

    BalasHapus