Kamis, 28 Februari 2019

Ketika Pustakawan Mencangkok Jurgen Habermas



Beberapa tahun yang lalu para pengelola library (saya menggunakan istilah library bukan perpustakaan) yang bernaung di Institusi Media di Indonesia berkumpul di Hotel Sofyan. Saya masih ingat, pengelola library dari RCTI, Metro TV, Trans TV, SCTV, Koran Kompas, Media Indonesia, Media Bola, KBN ANTARA dll bergabung. Ya, mereka berdiskusi, saling berbagi ceritera, mencurahkan isi hatinya melihat kondisi profesi ini yang membosankan mengarah pada kuldesak. Mereka bersuara dengan merdeka, mengeluarkan uneg unegnya, sampai akhirnya memutuskan untuk berkoalisi berhimpun, meski akhirnya koalisi ini pecah…karena beberapa faktor.
Sedikit flashback, adalah simbah Habermas yang mendorong kami para pustakawan muda untuk berhimpun. Habermas pula yang mungkin menginspirasi beberapa generasi Y pustakawan yang kebetulan sudah mewarisi tongkat kepemimpinan Gen X kepustakawanan untuk melakukan sedikit “pemberontakan” untuk berinisiatif memecah kebuntuan.

Mencangkok Jurgen Habermas
Saya terpaksa harus mensitir teorinya Mbah Jenggot, tentang perlunya kemerdekaan dalam menuangkan ide ide dalam sebuah perkumpulan. Ketika dihadapkan pada pilihan berbuat sesuatu untuk kepustakawanan ini, ada baiknya lebih dulu mengamini Mbah Jurgen Habermas dengan paradigma “komunikasi nya” dibanding Mark dengan paradigma “kerja”.
Suatu saat simbah pernah berujar, bahwa: maka yg dibutuhkan “peoples” sebetulnya bukanlah kerja tapi media aktualisasi, karena kerja mengandaikan hubungan buruh-modal. Klo Capito-liberal majikannya modal, klo komunal-sosialis penguasanya buruh.
Postmo dengan teori kritisnya membuka tabir bahwa aktualisasi memiliki energi yg berlipat dibanding interaksi kerja. Komunikasi tanpa distorsi adalah kunci keberhasilan hubungan antar aktualitas yg disebut network dalam suatu komunitas. Jejaring partisipasif inilah yang coba dibangun untuk sekedar; ya minimal ngumpul dan ngariung dulu disini.
Adakalanya kita tidak hendak ngomongin sesuatu yang berat-berat seperti teorinya si mbah jenggot tersebut. Tapi ada sesuatu yang sederhana yang bisa kita tangkap secara awam dari teori mbah tersebut. Dimulai dari kemerdekaan berkomunikasi guyup berhimpun dalam grup kecil. Nah belajar dari teorinya eyang Habermas diatas…pendekatan komunikasinya adalah pada cara, prosesnya bukan output. Minimal dari kumpul kumpul ngariung ini muncul jejaring partisipasif…..kalopun dari sini muncul output yang positif, ya itu bonus, bukan target …
Itu juga yang menginspirasi kami untuk berhimpun. Tak perlu ada target besar, tapi berhimpunlah, ngariunglah, guyuplah, karena dari sini nanti akan lahir sebuah proses aktivitas yang menghasilkan output yang positif.
Kemudian dibentuklah Forum Pengelola Media sebagai sebuah bridging, jembatan. Ia merupakan media komunikasi dalam membentuk networking, jejaring informatif dan kolabortif antar aktualita anggotannya dengan komunikasi tanpa distorsi. Ia juga merupakan terminal aktifasi inisiatif kegiatan di bidang ini.
Pada tahun tahun awal forum ini sangat lancar. Beberapa kali mengadakan kegiatan seperti mendatangkan Direktur Buku kesohor dunia Penguin Books; Simon Winder untuk berbagi ceritera tentang buku. Menggandeng stake holder seperti Sony dan Fuji, mereka memfasilitasi meeting di hotel2 bintang 5 workshop dll ( tentu sambil mendengarkan mereka jualan he he he).

Who Am I ?

Sayang sekali, adakalanya hidup tidak sesederhana yang kita pikirkan. Visi dan Misi acapkali mengalami revisional. Beberapa pertanyaan mendasar  tentang jatidiri “Who am I ?” mulai menyeruak. Siapakah saya? Apakah saya pustakawan? ataukah spesies lain? Gondoruwo atau cucakrowo? Ajakan untuk mendekonstruksi makna kepustakawanan menyeruak !
Kita tahu di Industri broadcast tahun 2009 sd 2015 adalah masa transisi. fase dari pengelolaan manajerial analog dengan paradigma mekanis-elektronis dengan digitalisasi asset yang pendekatannya Information Technology. Secara subtansi mungkin fungsi Librarian tidak berubah, tapi paradigma Librarian yang melebur ke dalam keluarga besar Information Technology membuat galau rekan rekan. Apakah tetap berkumpul, berhimpun dalam komunitas besar the Old Librarianship?, ataukah berdiri sendiri sebagai spesialis dalam payung information technologi ? Banyak pertanyaan yang belum terjawab, karena toh organisasi kepustakawan yang hadir pun mementingkan kepentingannya sendiri. 
Kesibukan dan kejar deadline juga merupakan faktor menghambat berhimpun. Beberapa Librarian terlibat dalam pekerjaan pengeditan alih media deadline yang menyita waktu. Dibutuhkan pionir yang berinisiatif dan care terhadap kemajuan kepustakawanan. Faktor lain tantangan berhimpun bagi para pustakawan media adalah roh dan misi institusi induk penaung yang relatih kurang sinkron dengan roh kepustakawanan itu sendiri. Pada institusi bisnis, dimana masing masing institusi berkompetisi head to head secara bisnis, susah bagi para librarian nya mensinkronisasi value value librarianship dengan value value bisnis payungnya.

Paradoks

Masalah seperti ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh filosof Jean-Paul Sartre.
“Di dalam sepakbola, segalanya menjadi lebih rumit dengan hadirnya kesebelasan lawan”.
Nah lho, hubungannya apa bawa-bawa sepakbola dan Sartre? Bedul.... Kamu harusnya paham dengan maksud dari simbah Sartre tersebut. Maknanya adalah bahwa ketika taman teman profesional di sebuah perusahaan akan berhimpun; segalanya menjadi lebih rumit dengan masif nya persaingan perusahaan penaungnya.
Loh pustakawan sekolah, pustakawan perguruan tinggi, pustakawan legal kok bisa...Nah itu umumnya mereka memang sama sama swasta, tapi mereka bukan perusahaan yang berorientasi profit kan?
Mereka bukan perusahaan jasa penghasil profit yang berkompetisi secara linier berhadapan. Ya, induk mereka tidak berkompetisi bisnis head to head. Kalau intitusi penaungnya roh nya bisnis oriented yang berkompetitor head to head, bagaimana memposisikan partikelnya ketika berkumpul ? 
Paradok kan???

Yogi H, Penulis adalah Ketua Forum Profesional Pustakawan Media

4 komentar:

  1. Rupanya guyup dengan ada motif profit oriented, menjadi sulit dan rumit ya

    BalasHapus
  2. sangat menarik arikelnya, harapannya ada artikel lanjutan yang membahas tentang digital librarian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak artikel tentang digital librarian di blog saja dek Intan sisilainpustakawan.wordpress.com

      Hapus