Senin, 18 Februari 2019

Make "Pustakawan" Great Again





Di Amerika, 2016 lalu, kita melihat kesuksesan seorang yang sering dicap sebagai kontroversial, pemimpin beberapa media terkemuka, Donald Trump, berhasil mengungguli Hillary Clinton. Trump membalik prediksi para pakar politisi, ia didaulat jadi Presiden Amerika ke-45. Ia terpilih karena janji membawa Amerika jaya kembali.
Jika kita memeriksa file-file kampanye, kita bisa membaca apa yang diteriakkan oleh tim Trump, sebuah slogan yang dianggap sebagai salah satu daya tarik para pemilih, “Make America Great Again” (MAGA). Slogan itu dianggap tepat, mengingat kepercayaan Amerika di mata dunia mulai tergerus. Di dalam negeri, perekonomian negeri Paman Sam pun tidak baik-baik saja. Pengangguran dan tuna wisma secara statistik makin meningkat.
Nah saya tidak akan masuk ke kampanyenya Trump dalam artian terjebak dalam pusaran konstelasi politik yang komplek. Saya cuma menangkap ide dasar MAGA menjadi MPGA (make pustakawan great again) sebagai kampanye di bidang kepustakawanan untuk melakukan pemberontakan terhadap citra buruk profesi pustakawan dimata Publik. Pustakawan Indonesia akan mendapatkan wangi harum citranya positif di masyarakat  karena telah meruntuhkan sakralitasnya. 

Make Pustakawan Great Again
Berbonceng dengan tumbangnya rezim Orde baru yang berganti oleh orde reformasi, termasuk juga semakin pesatnya perkembangan teknologi komunikasi informasi; Perpustakaan dalam konteks kekinianpun sudah mulai genit dan membargaining kebutuhan masyarakat awamnya. Kepustakawanan sudah berani menyelimpang dari ritual sakralnya; seraya menolak anggapan dipagut serta dipiting kerja onanis.
Asumsi ini dengan mudah dapat dibuktikan karena dalam era kekinian, perpustakaan telah merasionalisasikan dirinya sendiri, mencoba menyelusup kedalam semua ketiak segment serta kelas sosial. Beragam tema kepustakawanan telah diterima keberadaannya, tak hanya lingkungan kaum cendikia akademis, peneliti yang lumrah kalo menggunakan jasa perpustakaan. Perpustakaan juga menjajakan diri ke pasar anak baru gede, komunitas, termasuk juga lingkungan perusahaan swasta sampai blusukan ke pedesaan serta pihak yang termarjinalkan.
Mirip sebuah karnaval tanpa dirijen, rentetan percikan kembang api, perpustakaan-perpustakaan dengan nafas baru yang menyegarkan, absen mengiringi yang lebih dulu eksis. Jangan dulu tanya sampai seberapa lama endurance tarikan nafas kehidupan mereka, tapi biarlah dan berikan kesempatan mereka menikmati euforia keberjamakan berkepustakawanan. Janganlah diganggu bullyan nyinyir menyangkut keberadaannya.
Alhasil; adalah maraknya perpustakaan-perpustakaan yang didirikan dengan tujuan lebih ringan bagi penggunanya. Ibarat sebuah racikan kopi yang ringan diseduh, perpustakaan dijadikan tempat sebagai berkunjung untuk membunuh kala senggang serta tak berambisi mendesakkan capaian informatif yang berat-berat dan serius. Perpustakaan sebagai tempat melepaskan katarsis kelas muda perkotaan, tidak melulu kegiatan peminjaman buku, melainkan juga tempat nongkrong, diskusi, ngobrol santai, bahkan tempat lobby bisnis, singkat kata tempat kembang tumbuhnya ide-ide kreatif kelas menengah perkotaan. Perpustakaan juga tempat meluapkan imajinasi, mengkomulatifkan ide ide segar segar yang keluar dari rahim milenial.
Kurun yang sama, perpustakaan komunitas juga tumbuh bersemi. Pertumbuhannya bak cendawan di musim hujan. Tumbuh retasnya kekuatan sipil pada era reformasi sedikit banyak ikut melahirkan tumbuh seminya perpustakaan komunitas. Perpustakaan komunitas berjejaring mensuport komunitasnya, riuh rendah warna warni bak pelangi di lembah kehidupan.
Di perusahaan-perusahaan swasta, perpustakaan-perpustakaan hadir bertransformasi sebagai pengelolaan dan pendokumentasian asset baik yang analog maupun digital. Perpustakaan hadir di institusi firma hukum, perusahaan minyak, Institusi media, perusahaan manufacture, bank dll. Disana 
Jauh dari hingar bingar, pada ranah pedesaan, perpustakaan hadir sebagai ruang pembelajaran bagi masyarakat sekitarnya. Selain itu perpustakaan bahkan hadir di lembaga permasyarakatan. Seolah terinspirasi dengan teori ‘Broken Window’ di bidang kriminologi yang secara tidak langsung menghadirkan perpustakaan sebagai penekan angka kriminalitas.
Keberjamakan kembangnya perpustakaan semacam ini menjadi varian yang cukup penting karena tak bisa ditolak sebagai resiko postmoderisme yang menyumpah serapahi keserbatunggalan penafsiran, termasuk akan makna kepustakawanan. Kepustakawanan Indonesia-pun (harusnya) sudah sanggup merayakan eksistensinya, tak perlu juru bicara dan telah melakukan bargaining terhadap publiknya sendiri.
Yang penting tetap tak ada anasir Insvisible Hand, klaim, dalam euforia kemeriahan kepustakawanan dalam kurun waktu ini. Hal semacam ini lebih berharga dibandingkan dengan kemeriahan sosialisasi kepustakawanan beberapa warsa silam yang penuh konsep, jargon dan juru bicara, tapi sepi sasaran cuma manggut-manggut koyo manuk deruk.

Merubah Paradigma




Boleh jadi saya telah menggeneralisasikan secara serampangan terhadap kondisi Perpustakaan di Indonesia pasca tumbangnya Orde Baru. Secara sederhana dapatlah dipahami, pengguna perpustakaan membutuhkan alternatif layanan perpustakaan yang segar. Pemakai akan mengunjungi perpustakaan sesuai dengan kebutuhan dan keperluannya.
Dalam konteks ini peluang sosialisasi perpustakaan menjadi besar untuk meruntuhkan hegemoni penafsiran perpustakaan yang kolot dan konvensional. Pengguna perpustakaan yang sudah suntuk dan sumpek, jutek dengan layanan yang kaku, pasti akan lari ke perperpustakaan dengan layanan yang lebih membebaskan, mencerahkan dan menyegarkan. Pengguna perpustakaan harus merasa nyaman, ke perpustakaan serasa ke mall, serasa ke tempat yang bersih, rapi, asyik dilihat mata, bukan bangunan yang bluwek, surem menyeramkan seperti di film Pengabdi Setan.
Paradigmanya harus dirubah. Apabila dahulu perpustakaan cukup percaya diri mengandalkan kekuatan dirinya tanpa networking (monopoli), sehingga seburuk apapun layanan yang diberikan kepada pengguna, mereka akan menggunakan jasanya.  Sekarang tidak bisa begitu. Pustakawan jaman now bukankah seperti profil pustakawan jadul : ( lihat empat spesies pustakawan )
Dalam konteks kekinian, penggunalah yang menentukan pilihan kemana perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanannya. Dan pustakawan jaman now harus banyak mendengar serta menelurkan ide ide kreatif, kolaboratif menjadikan bidang ini sangat berwarna…

Nah anda sebagai pustakawan, siapkah dengan semua perubahan ini? 

Silahkan baca : 
- Mimpi Kurosawa dan pustakawan kreatif
Penghasilan pustakawan
Pustakawan Data Yang Berwarna
Benarkah profesi pustakawan akan mati ?

Yogi Hartono, Ketua Asosiasi Profesional Informasi Media




0 komentar:

Posting Komentar