Senin, 11 Februari 2019

Pustakawan Bisa Ngalahin Profesi Bergengsi Lain...


Ini bukan tulisan serius, sekedar curhatan yang kutulis sambil nyruput kopi. Saya sekedar ingin berbagi, bahwa sebagai pustakawanpun kita bisa menjadi yang terbaik.
Saya bukan pustakawan murni, dalam artian saya bekerja di sektor swasta sebuah perusahaan sebagai pekerja informasi. Sudah lebih dari 20 tahun saya bekerja di lingkungan kepustakawanan dan informasi. Sebagai "pustakawan digital" atau istilahnya Digital Asset Manager. Dan puncaknya adalah saya mendapat anugerah The Best Employee of The Year di lingkungan tempat kerja saya mengalahkan profesi lain yang menjulang seperti Jurnalis, Sales & Marketing, Transmission Engineering, Information Technology, Floor director, Editor dll. Sebuah capaian yang membanggakan mengingat aktifitas berkepustakawanan adalah aktifitas kolektif dan teamwork bukan individu. So rasanya gimana gitu bersaing dan mengalahkan mereka yang berprestasi individu menjulang, misal tim grafis yang secara individu juara se asia pasifik, atau sales yang bisa menghasilkan uang milyaran, photo journalis yang biasa membongkar kasus besar dll. Tapi begitulah, bagai air yang mengalir dan kerja cerdas tak akan mengkhianati hasil.


Employee of The Year
Pustakawan Jangan Terlalu Banyak Apriori Orang Tiongkok, siapa yang tak kenal bintang film Samo Hung. Doskih bintang film seangkatan Cho Yun Fat. Tapi berbeda 180© derajat dengan Cho yang ganteng, Hung berfisik jelek, gendut , bajunya kucel, wajahnya (maaf) ada bekas operasi sumbing dan berjalanpun susah. Tapi siapa nyana doski bisa populer, sukses dan berprestasi. Siapa sangka doi punya banyak fans dengan karakter aktingnya. dengan kata lain, Hung akan menjadi manusia biasa jika dia tidak memaksimalkan potensinya.


Samo Hung

Nah...sayapun suka berdialektika. Para pustakawan terkadang selalu apriori, berprasangka buruk, mungkin karena kita (pustakawan) merasa inferior kali yak? Ataukah sebagai mekanisme defensif pada alam bawah sadar kita. Dalam ilmu psikologi, prasangka bisa terbit sebagai mekanisme pertahanan diri menghadapi fenomena. Kita (pustakawan) berprasangka manajemen atau atasan tidaklah memperhatikan kita. Kitapun berapriori mereka cuek bebek dengan kondisi kita.


Benarkah?


Jangan jangan ....ah, karena kita para pustakawan tidak bisa mengkomunikasikan segala permasalahan secara elegan dengan mereka. Jangan jangan ada mental block dari pustakawan yang jelek seperti Samo Hung. sehingga meluruhkan upaya melobby atasan atau manajemen.
Ah retoris, pasti ada yg nyeletuk gitu. Blegedes...pasti ada yang bilang gitu...
Kita berprasangka orang lain merendahkan profesi kita. Kita juga kebanyakan mikir..ah jangan jangan....doski para pengambil kebijakan tak peduli dengan kita ?? ah jangan jangan....hihihihihi Tapi selalu ada kemungkinan lain toh. Di era kekinian, mana ada sih yang bisa melakukan persuasif atau advokasi secara verbal tok, trus ujuk ujuk cling cangkeling manajemen mau merubah sikap untuk care pada kita. Kita bisa saja berteriak dengan TOA, Hooiiiiiiiiiiiiiiii
Sampai bulukan mereka susah berubah, jika modusnya stright seperti itu. kenapa?, Karena mereka toh, tidak cuma mendengar, tapi melihat secara visual atau berdiskusi dengan kolega, dan mengamati. Satu lagi, mereka juga sudah punya persepsi dari kerangka referensi dan bidang pengalamannya. Ada gap, ada kesenjangan. Kita terjebak dalam lingkaran setan tak berujung. Si pustakawan ngerasa hebat. Si pemberi kerja dan user ngerasa pekerjaan pustakawan biasa biasa saja. Dan semua ini terjadi karena pustakawan umumnya gak bisa mengartikulasikan peran dan fungsinya bagi manajemen.
Tinggalkan Manajerial Kepustakawanan Jadul


Nah lo, trus carane kepriben Son?



Hidup ini dinamis. Perubahannya sangatlah cepat. Cara cara yang dahulu mungkin bisa dijadikan solusi berkepustakawanan, mungkin sekarang sudah gak cocok lagi. Gak ada pilihan, terapkan change management, agar perpustakaan kita bisa beradaptasi dengan perubahan ini.

Hancurkan mental block, peran pustakawan apa saja yang harus dirubah?
  • Proses Perpustakaan berubah jadi Proses Bisnis.
  • Peran Mediator berubah jadi Kolaborator
  • Peran Pengepul Koleksi berubah jadi Fasilitator
  • Peran Penelusur informasi berubah jadi Trainer atau Pelatih
  • Peran Pengumpul Informasi berubah jadi Pemecah Permasalahan
  • Dari Fokus Pengelolaan Masalah Internal berubah Networking dan Jejaring
  • Peran Penunjang (Support) berubah jadi Peran Partner
Berubah......

Dari perpustakaan yang tadinya sekedar support, rubah jadi "partner" (kolaborasi) dalam bisnis proses. Pake istilah atau terminologi yang mudah dipahami. Posisi support kesannya subordinat ( subordinat bahasa indonesia slanknya pembokat he he he ) Ada batas dan gap. Ya karena tadi, kita para pustakawan kesulitan mengartikulasi peran kita di institusi atau perusahaan. Karena kita tidak merubah aktifitas kolaborasi dalam sistem besar. pustakawan masih suka dengan praktek kerja old school jadul.
Gimana caranya?. Butuh softskill dan kepercayaan diri yang tinggi. Lobbying, kemampuan handal berkomunikasi, networking dan presentasikan dengan bahasa yang sederhana gak usah terlalu detil di depan manajemen. Harus percaya diri, langsung ke pucuk pimpinan tertinggi direktur kalo di swasta, atau rektor kalau di perguruan tinggi. Kita butuh back up dari mereka. Dan para pustakawan harus tampil dan terampil, jangan nguplek dibelakang layar. Sehebat hebatnya pustakawan bisa mengklasir sambil koprol, bisa mengkatalog diluar kepala....cekatan dalam menata buku, .percuma saja kalau kinerjanya kita gak keliatan.

Yuk jangan suka melakukan aktifitas berkepustakawan yang sifatnya Onanis. Karena diseberang sono, para pemustaka membutuhkan layanan kreatif kita. Jangan jadikan bumi (ego kepustakawanan) sebagai pusat tata surya, jadikan matahari (pemustaka) pusat kegiatan yang harus kita puaskan.


Jangan berlarut berkeluh kesah, karena berapa waktu dan energi yang terbuang. Yang bisa merubah diri kita ya kita sendiri, bukan gondoruwo atau gondorukem.


Tabik

Yogi H

5 komentar:

  1. warbiasah...semangadhhhh pustakawan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mba hariyah...semoga menginspirasi yang lain...

      Hapus
  2. penghargaan dari transmedia, keren, sebuah kebanggaan mendapat awards seperti itu kan, semoga makin sukses mas,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih doanya ya, semoga kita semua sukses bareng bareng...amin..

      Hapus
  3. Klo mindset org msh anggap bhw ada yg ga bs dikolaborasikan dgn prpust itu, kira2 pustkwn hrs gmn ya bukain wawasannya...

    BalasHapus