Selasa, 05 Februari 2019

Trik Mencari Rumah Ala Pustakawan



Jika anda wong ndeso, anak pensiunan pegawai negeri sipil gol 2A dari kabupaten di Jawa Tengah. Dan anda cuma lulusan sekolah perpustakaan Unpad dari Jatinangor Sumedang. Bukan penyayi atau pengusaha cilok. Andapun tidak punya saudara serta masih punya kewajiban mengirim uang buat orang tua di kampung. Lalu anda ingin punya rumah di Ibukota Jakarta, pada  usia muda dibawah 35 tahun, maka kemungkinan besar anda sedang bermimpi di siang bolong! 

Tiga tahunan setelah mentas kuliah dari Jurusan Ilmu Perpustakaan Fikom Unpad Bandung, aku nyemplung ke metropolitan Jakarta yang keras. Aku diterima sebagai staf pustakawan di sebuah perusahaan swasta. Setahun setelah bekerja dengan status sebagai seorang pustakawan, aku kemudian membuat keputusan maha besar: 

Menikah di usian muda, 28 tahun  saudara saudara!.  

Tapi bener kata orang, nikah itu jangan dipikirin, tapi dilakukan. Karena waktu itupun aku nyesel, kenapa nggak dari dulu nikahnya ...eeeaaa enak terasa. Dan meskipun aku kawin dengan mantan kekasih hati; ternyata profesiku tetap sebagai pustakawan bukan berganti pustakawin he he wedus gembel. 

Kami sama-sama perantau dari kota kecil di Jawa Tengah. Nah berprofesi sebagai pustakawan, di belantara Jakarta membuat galau. Apakah saya bisa hidup di Jakarta yang keras ini? Gimana saya harus membesarkan dan menghidupin anak anak kelak?  Ibaratnya, modal kami ya dengkul yang bolong ini.  Tak ada bekal dari orang tua atau saudara yang kami pinjam. Tabungan kami dimasa lalu sudah habis buat resepsi pernikahan di kampung. Kedua orang tua dan juga mertua adalah pensiunan yang sudah sepuh tak mungkin menemani kami di Jakarta. Beliau tinggal di Jawa yang berjarak sekitar 300 km dari Jakarta. Tiap bulan kami menyisihkan sebagian penghasilan kami untuk orang tua di kampung. Kami mengontrak di rumah bedeng dengan satu kamar berukuran 30 m persegi di kawasan Mampang.  

Awalnya Galau Menjadi Pustakawan


Banyak impian yang ingin kuraih selagi muda. Step by step, salah satunya adalah kebutuhan papan dulu yang jadi prioritas. Memiliki rumah adalah bak mimpi siang bolong saat itu. Kami hanya bisa menabung sekitar 500 ribeng tiap bulan, dan kalaupun ada dana cadangan sekitar 15 juta. Asset yang lain adalah sebuah motor Honda Astrea butut yang sudah lecet di beberapa bagiannya. Alhamdulilah tiap bulan bisa kirim 500 ribeng ke kampung. Dengan biaya kontrak rumah bedeng setahun 3 juta, dan lahirnya si bayi mungil, kami memprediksi tabungan bakalan habis dalam kurun setahun tak menyisakan apapun.

Membeli rumah baru? jelas impossible karena harga mahal. Makanya strategiku berubah. Aku harus membeli rumah bekas, dengan bantuan kredit bank. Ada rahasia umum, rumus membeli rumah di Indonesia: kecepatan nominal jumlah uang yang kita tabung gak bakalan bisa ngejar kecepatan naiknya harga rumah pertahun. Rumusnya tidak berbanding lurus. Gak bakalan kekejar dengan tabungan untuk memiliki rumah. Galau pengen punya rumah, tapi duit gak ada. Sedih seperti pungguk yang merindu bulan.

Rupanya tangan Tuhan ada dimana dimana. Yang penting nawaitu, ikhtiar dan jangan lupa berdoa. 
 Bermodalkan niat, strategi dan sedikit bumbu nekat, do it. Coba pakailah otak kanan jangan kebanyakan berfikir. No Action Talking Only. Lupakan kondisi keuangan yang pas-pasan. Aku dan istri melakukan simulasi survey rumah. Modus kami adalah pura-pura mau membeli rumah bekas. Meski kami tau resiko outputnya bakal sia sia, yang penting kami ingin menguji prosesnya. 


Pake Ilmu Kepustakawanan Mencari Rumah


Ternyata kuliah di jurusan ilmu perpustakaan banyak manfaatnya. Kami searching segala informasi tentang rumah yang dijual. Saya inget di kampus dulu belajar mata kuliah penelusuran informasi. Kami telusuri dan teliti iklan lowongan jual beli rumah via koran pos kota, via online serta informasi lainnya. Aku mengaplikasikan mata kuliah  pengindeksan, klasifikasi serta dasar katalogosasi ketika memilah mana iklan jual rumah yang berpotensi closing. Aku berkunjung ke beberapa perpustakaan untuk riset data. Aku keluarkan jurus indexing dan abstrack dulu, telusur metadata; keyword, teknik bolean logic untuk mencari rumah. Setelah itu, hasilnya aku dokumentasikan seperti teori dokumentasinya Suzanne Briet dulu.


Dalam dua minggu kami blusukan ke Jabotabek pura pura menawar rumah yang dijual. Total ada sekitar 25 rumah yg kami datangi dan tawar. Karena kami tau ini cuma proyek pelatihan mental bertransaksi, gak serius lah mau beli rumah. So diakhir biasanya kami memakai modus ketidak sesuaian rumah yang dicari untuk secara halus membatalkan rumah yang kami taksir.
Dan ternyata perjuangannya tidak sia sia. Sewaktu survey dan blusukan menggunakan motor ke beberapa komplek, istriku melihat tulisan di tembok sebuah rumah:




TANAH DAN BANGUNAN INI DALAM PENGAWASAN BANK ........ 

Wow…cekidot 

Kami kembali melakukan riset kualitatif. Layaknya detektif informasi, kami konsultasi dengan customer service bank atau marketing secara acak. Setelah melakukan riset dan deep interview ke beberapa kolega selama seminggu, akhirnya kami punya titik terang. Keyword nya adalah BLBI. Satu kata, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dengan jaminan rumah akibat krismon di tahun 1998. Saat itu banyak nasabah yang terkena kredit macet. Bayangkan, suku bunga KPR pernah mencapai 25% pertahun disaat krismon dulu.. Dan rumah tersebut adalah salah satu rumah hasil sitaan yg dijaminkan BLBI di tahun 2002 an.

Beuh…bakal runyam, ciut nyali, bayanganku pasti harus melawan dedengkot mafia yang punya modal banyak. Apakah aku harus siap mental memasuki Black Hole dunia mafia percaloan yang keras. Mau maju atau mundur ? Jawaban logisnya sih sebaiknya mundur, wong aku gak punya duit cash. Tapi entah kucing garong yang mana yang mendorongku untuk terus maju...


Terinspirasi Braveheart nya Mel Gibson.

Entah kenapa kok aku tiba tiba jadi terinspirasi dengan film Braveheart dengan tokoh Sir William Wallace yang diperankan Mel Gibson. Film Braveheart mengajarkan tentang keberanian dan kepantang-menyerahkan dan kebanggaan. Pasukan Wallace yang jumlahnya ratusan bertempur dengan pasukan pemerintah Skotlandia yang berjumlah ribuan. Menyerah kalah? Diatas kertas bakal kalah telak. Tapi lupakan outputnya dan harus bertempur sampai mati. Ciut nyali? Ya. tapi disaat kritis menjelang pertempuran, Wallace berkata lantang ke pengikutnya:

Kalaupun akhirnya semua akan berakhir, matilah dengan harga diri dan kebanggaan (pride) “…. eeeaaaa….

Kata kata yang melecut seluruh syaraf motivasiku.

Singkat cerita setelah melalui perjuangan berat dan berdarah darah (panjang ceritanya) saya disuruh bertemu dengan petinggi sebuah bank di daerah komdak (kantor pusat Bank nya). Saya kemudian bertemu seorang manajer bank di lantai 21 untuk membicarakan kemungkinan memiliki rumah lelang BLBI. Ternyata disana sudah berkumpul orang orang perlente dengan pakaian jas mahal yang juga akan mengikuti lelang. Saya datang sendirian pake kaos berkerah lecek karena naik motor. Sialnya, kaos agak bau keringat karena perjalanan di siang hari. Sempet agak minder karena tatapan mereka terkesan mengintimidasi dan meremehkan. Mungkin mereka menyangka saya sebagai office boy yang kesasar di tempat yg salah (masa office boy ganteng sih?). Semua yg ikut lelang berkumpul disitu, termasuk aku. 

Tiba saatnya berbicara dengan manajer bank, saya ceritakan apa adanya, bukan ada apanya. Saya narasikan tentang hasrat keinginan memiliki rumah. Saya tidak sedang ber-dramaturgi, tapi ternyata kepolosan saya memberi kesan yg positif. Mungkin karena hati saya bersih selembut salju, si manajer tau kalo rumah tersebut akan saya tinggalin bukan untuk dijual lagi.  
Ada ratusan list rumah, saya harus memilih 1 diantaranya. Saya berstrategi menawar rumah yg halamannya banyak rumput ilalang nya (foto saat itu). Asumsinya sederhana, rumah yg banyak ilalang di halamannya pasti sedikit peminatnya. Stelah itu saya disuruh mengajukan penawaran rumah yg dimaksud secara tertulis ke jajaran direksi bank tersebut.  

" Bapak harus langsung mengajukan penawaran ke direksi secara tertulis. nanti akan dijawab langsung oleh direksi ", kata si manager kepadaku. 

Waduh kok direksi? Kampreeet, seperti keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya. Wong ketemu manajer bank aja grogi kok disuruh menghadap direksi? Ada perasaan untuk mundur dari perjuangan mengingat saingan juga berat para dedengkot broker rumah level nasional.  
Minder karena aku hanyalah seorang pustakawan kere. Rendah diri karena daku hanyalah seorang penjaga buku berkaos oblong. Tapi aku tak bergeming. Kubayangkan dulu pernah melalui rasa sakit tapi segera bangkit dan tegak ketika disunat. Pernah juga digigit ular sawah yang ompong ketika kecil mengejar layangan putus. Pernah mengalami terpental ke lumpur ketika menabrak kerbau yg nyebrang di jalan desa. Pernah melewati “malam pertama” pernikahan dengan sukses..he he he…Pokonya kata Wilbur Scramm, Field of Experience dan Frame of Reference ku, cukup untuk menghadapi semua ini. 

Bermodalkan doa dan bondo nekat sayapun mengajukan penawaran tertulis disertai materai. Dan ini lucunya, saya tulis disurat penawaran dengan kredit karena gak punya duit cash. Lah kok? gak punya modal kok berani nawar lelang ! Memang terkesan malu-maluin, tapi mungkin justru disitulah point’ approvalnya. Mereka melihat kegigihan dan upaya kita dalam mendapatkan rumah tersebut.  
Saya ajukan penawaran 50 juta untuk rumah mewah dengan luas bangunan 200 m persegi 4 kamar, itupun kredit karena cuma ada duit cash 15 juta.

Intervensi Tangan Tuhan

Seminggu gak ada kabar. Dua minggu sepi berita. Sayapun sedikit hopeless. Berhenti berharap meminjam lagunya Sheila on 7. Yah mungkin sudah jalannya harus menunggu lama untuk punya rumah. Sudah suratan harus bergabung dengan cerita mainstream repetitif perjuangan mencari rumah yg berat. 

Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap.  Sampai nanti suatu saat tak ada cinta kudapat. Kenapa ada derita bila bahagia tercipta?Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan ?  
Disaat hopeless, keputusasaan melanda, momen yang ditunggupun tiba. Dering ringtone handphone ku yang bernadakan lagunya Stand by Me nya Oasis, memecah kebuntuan di siang itu. Ada telepon dari sekretaris direksi bank agar ketemu di minggu berikutnya. sebelum aku pingsan, spontan kucubit pipiku terasa sakit, artinya ini nyata bukan fantasi. Aku menang lelang sebuah rumah dengan harga yg sangat murah dan bisa mencicil melalui kredit bank. Alhamdullilah


Moral cerita, jangan berputus asa atau menyerah. Tangan Tuhan beserta orang orang yg berikhtiar dan berdoa. Satu yang sangat penting adalah doa orangtua. Dibalik kesulitan, selalu ada kemudahan. Dibalik segala permasalahan ada keikhlasan. Semoga penggalan cerita ini bisa menginspirasi. Jangan malu dan rendah diri menjadi pustakawan, karena you'll never walk alone ! Anda para pustakawanpun bisa kok diusia muda punya rumah.


Yogi Hartono 
Note 1: kisah nyata, pernah ku upload di facebookku. saya tuangkan di blog pustakawan blogger untuk menginspirasi yang muda, jangan takut berprofesi sebagai pustakawan. gusti Allah mboten sare, dan rejeki itu tak akan pernah salah alamat.
Note 2: Kenapa harga murah? itu sebenarnya nilai jual tahun 1998 ketika krismon. Ada sekitar 5000 aset rumah yang dilelang. Tidak semua laku. Nah tahun 2003 an aset yang tersisas karena belum lakuk lelang harus liquid makanya dilelang ulang dengan nilai 1998 karena asumsi aset terbengkalai.

1 komentar: