Selasa, 01 Oktober 2019

DARSO GUNDALA

“Harapan pada masyarakat adalah candu”.

Pengkor berbicara dengan bibir yang bergetar pada Gundala. Pengkor sepertinya menitipkan pertanyaan sulit pada Gundala. Bagaimana harapan mahasiswa perpustakaan menjadi pustakawan? Apakah sebuah ektasi juga?



Gundala di tulisan ini bukan tokoh superheronya Joko Anwar yang lagi trending topik di jagat medsos Indonesia. Nama lengkapnya Darso Gundala. Doski adalah seorang mahasiswa PTN yang logonya bunga teratai. Dan sama seperti pertanyaan repetitif yang tipikal, Darsopun bertanya dengan nada gulana:

“Nanti setelah lulus dari sini, saya jadi apa Pak?”

Nah lo, apakah pertanyaan tersebut terkait dengan ekspetasi mahasiswa untuk kelak menjadi pustakawan?





Pertanyaan tersebut juga terlontar beberapa kali ketika saya memberikan kuliah umum tentang pengelolaan konten digital entreprise di kampus UGM, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, yang sewaktu muda dulu sering diplesetin dengan universitas gundul mu (konon karena banyak mahasiswa yang gundul ?)...

Entah apa yang membuat para mahasiswa Jip  galau. Mereka adalah generasi milenial calon pustakawan yang ketika kecil merangkak, pipispun masih dicebokin, sampai kuliahpun sudah kelonan dengan teknologi digital. Istilahnya mereka generasi native digital. Dari kecil sampai besarpun generasi Darso Gundala ini: tidur berpeluk handphone dan ngelindurpun sambil update status di medsos

Generasi Gundala yang percaya dengan melihat sendiri, perubahan sebuah masyarakat karena disrupsi dan teknologi. Generasi Instant katanya. Para milenial ini sekarang gak terlalu kesengsem dengan profesi tukang insinyur yang pada saat generasi Y, merupakan profesi yang menjulang. Padahal dulu saking blagunya tukang insinyur, sering nyindir ke gen Y, memplokamirkan anekdok, mantu ideal itu seorang insinyur teknik. Sementara jomlo abadi direprentasikan lulusan jurusan sosial. Tenang..tenang ......Paijo dan Dulpengep...semua akan indah pada waktunya...he he he ?


PUSTAKAWAN PENGELOLA KONTEN DIGITAL




Nah konon sekarang sudah berubah Ferguso…Profesi pengelolaan konten kreatif kembali menjulang di era perubahan ini. Elo boleh berdarah darah kuliah di teknikal dan kelak menginstal hardware berat...tapi tahukan anda, bahwa di Amerika sono, para engineer tersebut pada akhirnya disindir hanya sebagai para pekerja perekayasa DUMB PIPE ! Sadis dibilang mereka cuma menciptakan saluran, pipa teknis "bodoh" perangkat teknologinya, sementara para kreatif pengelola konten yang berjaya yang mengeruk duitnya. Memang perumpamanya tidak seektrim itu. Tapi paling tidak siapa yang kemudian mengisi atau mengelola kontennya mulai diperhatikan. Perusahaan telkom dan infrastruktur banyak yang bertumbangan, digilas Youtube, Instagram, Facebook, Twitter dll para penyedia konten.

Bayangin profesi seorang vloger seperti Atta Halilintar dan Ria Reces yg bermodalkan megal megol kaya bebek depan kamera video selfih, bisa berpenghasilan lebih 1 milyar perbulan? (masa sih...meski gue gak percaya...), sesuatu yang gak mungkin ditemukan pada jaman gen Y.

Nah lo, lalu apa hubungannya ngomongin pengelolaan konten dengan kepustakawanan ? Kenapa kamu memilih jurusan ilmu perpustakaan Gundul ?

Dan faktanya, ada seorang pakar konten digital pengajar Ischool di Pratt University, New York, Prof Anthony Chocciolo tentang hubungan keduanya (Baca buku beliau: Ketegangan profesi Digital Asset dan Digital Arsip). Beliau yang menyebutkan bahwa pengelolaan konten di sektor bisnis itu mencangkok prinsip dasar kepustakawanan. Dan seorang lulusan sekolah perpustakaan dan informasi bisa jadi manajer Entrepise Content Manajement ! Dengan simbolik, ECM dianggap sebagai perselingkuhan kepustakawanan dengan teknologi di era digital.

Beberapa waktu yang lalu saya ikut konvensi Google Summit dan salah satu pembicaranya dari Tokopedia. Pembicara dari Toped mempresentasikan fakta yang menarik. Sebagai gambaran besar data arsip konten transaksi, perharinya bisa lebih dari 2 T, gila besar bingit. Artinya, mereka butuh kecepatan akses temu balik datanya, daripada proses repositori permanennya.

Fokus pada manajerial proses, untuk kecepatan akses retrieval data (temu balik) secara umum merepresentasikan gugus aktifitas kepustakawanan. Sementara proses kedalaman penyimpanan permanen dari si data, masuk ke area archive. Meskipun di era bigdata dan digital, batas tersebut luluh lantak bukan isyu lagi. Tapi tetap, dalam pandangan saya sebagai praktisi profesional, peran yang ditengah gak akan berkurang sampai kapanpun

Nah ini yang sekarang giliran saya yang tanya ke Gundala:

" Nah saya sudah jawab Darso, kamu bisa jadi apa saja kuliah disini. Kamu gak perlu menghabiskan energimu dengan selalu bertanya, kelak jadi apa? "Lah kamu, apa motivasimu kuliah di sini Gundala ? " 
Dia gak menjawab. Dan kitapun gak boleh berprasangaka, karena mereka asal milih biar bisa kuliah keren di PTN ? Atau karena dipaksa bokapnya yang menjadi korban majalah Hai dulu ?


ARTI MENJADI PUSTAKAWAN 

Kehidupan tidak bisa dibedah hanya dengan perspektif dan tafsir tunggal. Pilihan merdeka untuk berprofesi sebagai apa, dan menjadi apa, juga beragam. Sama seperti tokoh Seth dalam film City of Angel yang memilih menjadi manusia, karena bisa mencintai, sakit, dan mati ketimbang malaikat yang abadi. Atau perubahan pada diri si Casey Stoner dari gadis pesta menjadi pustakawan di film Party Girl? Dan pilihan hidup lain termasuk ketika memilih profesi pustakawan?

Saya ajak  Darso ngopi di kafe Old Town di depan Kampus Universitas Gajah Mada untuk berdiskusi serius tentang arti menjadi Pustalawan.




“Aku tak mau terjebak dalam diskusi tentang ini Darso,” ujarku sambil menyantap marugame rebus yang warnanya begitu mengkilap. Kau pun aku sama dalam memandang makna menjadi pustakawan. Bukan begitu Gundul ?".

Singkat kata, akupun kemudian membrainstromming Darso si Gundala.

“Kalo sekedar menjadi pustakawan, mah gampang Dul ! Sule atau si Tukul yang gak pernah kuliah di Jip juga bisa. Yang susah itu menjadi pustakawan yang paripurna Darso!”

Awalnya Darso Gundala, bengong gak paham. Sampai akhirnya kami kemudian mempunyai persamaan pada suatu titik; sama-sama tak ingin cepat bertekuk lutut menjadi pustakawan yang repetitif prosedural dan untuk mengabdi menjadi sahaya.

Betapa tidak menjadi Pustakawan yang sering terlihat adalah akumulasi ketertundukan manusia yang kehilangan dimensi kemanusianya. Pustakawan yang hanya terjebak dalam kegiatan repetitif administratif pagi – sore – siang – malam.

Tapi aku tak ingin diadu dengan kata-kata yang tak bermakna. Buktikan dengan tindakanmu barulah semuanya jelas. Baru aku dapat menilaimu apakah memang pantas aku menilanya sebagai Pustakawan yang Paripurna. Sayangnya itu sulit sulit dan mustahil, hingga aku merasa seperti sembelit!

“Kupikir itu wajar saja. Kita adalah orang-orang yang percaya terhadap arti penting pencapaian sebuah mimpi. Mana mau kita dengan cepat menyandarkan diri dengan orang yang tak tepat dan lemah?”

Kubiarkan pikiran Darso mengelana entah kemana. Rasanya jauh dan begitu menyakitkan. Ada kesadaran yang tiba-tiba merasuk dan mesti kuungkapkan. Iya, jika kau pada akhirnya menemukan kebahagiaan yang sempurna.

“Jika tidak?”

Atau jangan jangan karena kita telah berjalan terlalu jauh dan tenggelam ke dalam obsesi menuju mimpi-mimpi kita sendiri.

Darso mendengarkanku dengan seksama. Begitu serius dan hanyut ke dalam kata-kata yang kuucapkan disela-sela bibirku.

“Iya, selalu ada yang mesti dikorbankan Darso !,” kubisiki dengan sedih.

Kesadaran mengenai kebahagiaan yang tak mungkin dicapai jelas membayangi. Manusia yang dapat berpikir, sungguh menakjubkan sekaligus menakutkan. Berpikir dan menyelami diri sendiri seolah bermain layaknya Tuhan. Berpikir mengantarkan pada pengetahuan baru yang begitu menakutkan untuk diselami.

Kuracuni si Darso dengan kata penutup:

“Menjadi pustakawan hanyalah sebuah tools profesi. Sama seperti jasi dosen, dokter, jualan cilok dll. Dan sekarang aku memprovokasimu belajar tentang pengelolaan konten... Tujuan kehidupan pada akhirnya, tentu saja ingin bahagia kan So….Apakah dia bahagia menjadi manusia yang tak bisa  mati kesamber geledek? Itulah konsekwensi hidup.

Tapi tiba-tiba si Darso nyeletuk cerdas, doski melakukan counter attack kepadaku...:

“Dari tadi ngomong ngalor ngidul, emang Mas Yogi itu Pustakawan?”

Akupun terdiam, ...serasa menjadi terdakwa...millenial memang straight, sekali mukul pake upper cut....rasanya seperti komentator bola, yang sebenarnya tidak bisa main bola.....…

 Menjadi pustakawan itu seperti nyruput semangkuk ice cream gelato ini Darso...kamu tidak akan mendapat jawaban sebelum merasakannya..."


Darso langsung semangat nyruput eskrim gelato nya dengan lahap....entah, apakah ini strategiku untuk mengakhiri perbincangan ini....begitulah millenial...



Tabik.
Diposting dengan kategori :

0 komentar:

Posting Komentar