Jumat, 08 November 2019

Ketika Paijo Menggugat Bookless

"Rezim ini harus tumbang" teriakku bersama kawan-kawan ketika ikut demo jalanan menumbangkan Orde Baru dahulu. Pun tak lupa, saat itu, kita membekali dengan asupan otak dengan membaca buku buku yang ideal tentang humanisme.

Waktu itu sempet baca bukunya Mazhab Frankfurt: One Dimensional Man, karya Herbeth Marcuse. Yoi, maklum masih muda, sepertinya kok benar kritik doski terhadap manusia moderen yang kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Ternyata dalam perjalananannya, ketika saya lulus dan mulai bekerja sebagai profesional, mindset saya lebih terbuka. Kegalauan sempat melanda sebentar. Lupakan tema tema besar kemanusiaan dan penyelamatan manusia. Gobal gabel. Jangan terprovokasi ketika baca buku jadul yang kesohor, yang berjudul "The end of the world ", Francis Fukuyama...

Ah bangke..toh nyatanya sekarang ular beludak itu sudah menyaru ke neolib dsb. Udahlah, jangan norak ngomongin pertarungan ideologi.
Di era kekinian, justru saya terbantukan oleh lirik lengking lagu Padi, yang berjudul

"Kasih Tak Sampai"....
Sudah..
Lambat sudah…
Kini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini"

Pertanda kita yang semakin bijak? semakin realitis? ataukah semakin Pragmatis?

Banyak yang bilang (mempertanyakan) aktifitas berkepustakawanan terlalu ‘kecil’ dan kerdil untuk bisa merubah dunia dan seisinya. Kurasa semakin sedikit pilihan (dan mustahil) untuk merubah semua totalitas ini (korupsi, kkn, gender dll….

Demikian juga bicara kepustakawanan dengan segala stakeholdernya. Tak melulu bicara tentang ke akuannya dengan segala keegoannya: perspektif pustakawan tok surotok !. Kalau yang terjadi demikian, betapa sederhananya dan indahnya hidup. Nahlo...padahal Jean Sastre kan sudah memperingatkan:

"Pertandingan sepakbola akan terlihat sederhana, 22 pemain yang mengejar bola. Agak rumit ketika hadir para suporter"

Nah lo, ada benang merahnya ngomongin bola dengan kepustakawanan. Bicara tentang kepustakawanan gak sesederhana juga ngomongin jualan cilok mas broh... gak sekedar dengkuran idealis ketika saya muda dulu, atau teori teori yang menempel di batok kepala ketika kuliah dulu. Pengalaman saya bekerja sebagai profesional, butuh kompromis dan jalan tengah lebih daripada sekedar menjadi pungguk merindu. Nah beberapa waktu yang lalu ada isyu yang menggelikan tentang keberadaan Bookless Library atau dalam bahasa indonesia, perpustakaan tanpa buku. Isinya semua komputer dan monitornya. Pertanyaan kritisnya, apakah keberadaan Bookless Library ini sekedar mengepulkan orang orang di luar perpustakaan, (yang sebenarnya bisa akses internet langsung) ke sebuah ruangan yang bernama Bookless Library tersebut? Nah lo !

Bookless


Di grup Pustakawan Blogger lagi rame diskursus tentang Perpustakaan Nonbuku atau Bookless Library. Ngapain perlunya berubah. Rekan saya pustakawan di UGM Jogja, Purwoko yang biasa disebut Paijo menyentil satir keberadaan Bookless yang disamakan dengan pos ronda.
Tentu, Purwoko memberikan argumentasi yang kuat:

"Intinya kalau perpustakaan itu hadir tanpa buku, tempat nongkrong, ngobrol, trus apa bedanya dengan Pos Ronda. Akan hilang kesejatiannya"...

Agak sadis.....namun bisa jadi kita dipaksa untuk menyetujui pendapatnya. Kalau perpustakaan bookless serba online, dan semua sudah disediakan oleh teknologi, lalu pustakawannya ngapain ??? Untuk pertanyaan ini, Paijo menjawab dengan menggelikan:

"Di Bookless Library, pustakawan bisa berpindah peran menjadi pengelola cafe. Jualan kopi dan indomie rebus", ha ha ha ha

Menggelikan. Bisa jadi Kang Paijo menggeneralisasikan perubahan konsep perpustakaan dengan serampangan. Wajar, karena seperti yang disampaikannya, doskih mengkroping salah satu sudut pandang. Titik dia berpijak. Tipping point pada keakuannya.

"Roh kegiatan kepustakawanan harus berpusat pada pustakawannya. Bukan pengguna atau pemakai. Perspektif idealis dari kacamata pustakawan", begitu teriaknya sambil menggoyangkan badannya mengikuti instrumentalia lagu Ambyarnya Didi Kempot. Ya, Paijo memang sedang raker di tempat kerjanya.

Paijo harus belajar dari Nicolaus Copernicus, jenius Fisika yang mengemukakan teori Heliosentris. Pusat tatasurya adalah Matahari. Menjungkilkan kaum agama Lutherian bahwa bumilah pusat semesta. Pusat tatasurya bumi, merepresentasikan pendekatan ke akuannya, egosentris, pustakawan sentris. Yang kemudian dikoreksi oleh Copernicus, Mataharilah yang menjadi pusat. Penggunalah yang harus kita layani.

Hidup bukan selalu perkara idealisme. Hidup butuh juga kompromi dan jalan tengah, agar kita tidak mati.

Paijo, mungkin harus berempati menjadi pustakawan eks Britis Council yang akhirnya dibubarkan. Mencoba merasakan keakuannya ketika menjadi pustakawan Japan Foundation yang ditutup. Andai saja kang Paijo berprofesi sebagai pustakawan majalah Hai, Tabloid Gatra, Bola dll yang tidak bertahan. Atau Perpustakaan LIPI yang bertransformasi dari buku ke data. Saya semdiri sudah mengalami transformasi itu, pustakawan yang ketika analog ada 30 orang, menyusut jadi 10 orang. Karena apa? Ya tuntutan jaman dan perkembangan teknologi. Kita akan melawan dengan bambu runcing menolak perubahan?

Ada point point yang saya setujui dengan subtansi Paijo. Melihat dari sisi pustakawannya. Bagaimana kalau filosofinya kita balik. Kita kompromikan bahwa perspektif pengguna juga penting. Kenapa? karena tanpa pengguna toh pustakawan bukan siapa siapa. Meski jika kita terlalu menghamba ke pengguna, bakalan babak belur. Kasus Britis Council, Japan Foundation dan PDDI LIPI kan karena kuasa manajemen atas tuntutan pengguna juga kan? Tentu aktifitas dan role pustakawannya juga harus berubah.

Nah ini yang menarik....apakah Bookless  dibangun untuk memuaskan pengguna berkunjung ke perpustakaan ??
Nah....jika ternyata bukan itu outputnya...terpaksa saya harus menyetujui argumen Paijo....Bookless Library ya sama dengan pos ronda...

Tabik

Yogi H

0 komentar:

Posting Komentar