Senin, 25 Februari 2019

Perpustakaan Sebagai Ruang Sosial, Tantangan di Dunia Nyata dan Digital


Oleh : Bambang Haryanto

Kampanye perpustakaan. Aksi happening di arena Car Free Day Solo, September 2014, untuk memeriahkan Hari Kunjung Perpustakaan 14 September 2014. Upaya membangun ruang sosial di luar gedung perpustakaan.
Anda ketika berkuliah dulu, Anda termasuk golongan pertama atau kedua dalam kategori berikut ini ?

Golongan pertama. Mahasiswa kupu-kupu alias mahasiswa yang kuliah-pulang kuliah-pulang. Mahasiswa kue-kue. Artinya kuliah-gawe kuliah-gawe. Mahasiswa kulom-kulom. Inilah mahasiswa jenis kuliah-lomba menulis kuliah-lomba menulis, karena mereka menekuni dunia tulis-menulis untuk mengikuti lomba menulis.

Golongan kedua. Mahasiswa kuda-kuda, kuliah-dagang kuliah-dagang. Mahasiswa kura-kura, kuliah-rapat kuliah-rapat. Mahasiswa paku-paku. Alias mahasiwa pasukan anti-kuliah, karena mereka pergi ke kampus hanya untuk berdiskusi.

Ada pula mahasiswa kunang-kunang, apa pasalnya ?  Itu sebutan untuk mahasiswa yang gemar pulang berkuliah untuk kemudian nangkring, bersosialisasi bersama teman-teman. Ada juga mahasiwa kudet, singkatan dari kuliah-ngedate.

Kutipan di atas diambil dari tulisan saya yang lalu, yang berjudul “Ngumpet Dimana “Buzzword” Perpustakaan di Kampus-kampus Kita ?” Gara-gara membaca buku karya Ghani Kunto, Youth Marketing : Trik Mengoptimalkan Strategi Marketing Dengan Memancing Suara Anak Muda (2014), saya berpikir ada bagian dari buku itu yang kiranya menarik didaulat menjadi pisau analisis atas hadirnya beragam buzzword di kalangan mahasiswa. Tentu saja, implikasinya terkait dengan keberadaan perpustakaan kampus beserta interaksi para mahasiswa tersebut sebagai penggunanya.

Seperti tertulis di awal, dari beragam buzzword yang ada telah saya coba bagi menjadi dua golongan berdasarkan kadar kerapatan atau densitas interaksi antarmahasiswa dalam beraktivitas. Menurut pandangan saya, pada golongan  pertama kadar atau kualitas interaksi antarmahasiswa lebih longgar dibandingkan dengan golongan kedua. Mahasiswa tipe kupu-kupu atau kukos-kukos, kuliah pulang/kuliah kos, atau pun mahasiswa yang rajin mengikuti lomba penulisan, bisa diasumsikan mereka “kurang gaul” dibandingkan mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan golongan kedua. 

Mahasiswa golongan yang kedua, baik yang beraktivitas dalam kegiatan berdagang, rapat, berdiskusi, nangkring sampai nge-date, dalam buku Youth Marketing disebut sebagai aktor ruang sosial yang mereka ciptakan sendiri untuk diri mereka. Karena  memang anak muda membutuhkan ruang sosial dengan teman-temannya untuk berinteraksi apa adanya. 

Sebelum dikabarkan bangkrut baru-baru ini akibat disrupsi, sebagai contoh, jaringan toko yang buka 24 jam 7-Eleven disebut sukses besar ketika mereka beroperasi di Jakarta. Jaringan toko ini tidak sengaja menemukan resep untuk menciptakan ruang sosial untuk anak-anak muda Jakarta : buka 24 jam, lampu yang terang untuk mengurangi persepsi unsur kriminal yang sepertinya hadir ketika anak muda nongkrong di malam hari, dan mereka diperbolehkan duduk-duduk di lapangan parkirnya.

Kalau Anda keluar rumah di Malam Minggu dan berkeliling di alun-alun kota Anda, saksikan apa yang terjadi di tempat tersebut. Di kota saya, di salah satu pojok alun-alun itu berjajaran sepeda kuno, di pojok lain deretan motor Vespa lama, tak lupa barisan sepeda motor  merek tertentu, yang dikerumuni para pemiliknya. Agak lucu, mereka berhimpun, mengobrol, tetapi sekaligus juga tidak lepas matanya dari gadget mereka. Itulah ruang sosial bagi mereka.

Ruang sosial tak semata dihadirkan berupa tempat, tetapi juga oleh alat. Ketika anak-anak muda kini begitu mudah untuk mengunduh lagu apa pun secara online, ada sebagian anak muda yang menekuni hobi baru : mengoleksi pringan hitam atau vinyl. Sarana mendengarkan lagu yang jadul amat. Cek saja situs komunitas mereka: gilavinyl.com. 

Menyuruk ke dalam untuk mengetahui apa yang terjadi pada mereka, ternyata kepingan piringan hitam itu itu nilainya bukan (semata) sebagai benda teknologi yang mentransmisikan suara, tetapi sebagai alat sosial. Sarana untuk gaul. Bila kita bandingkan dengan proses pembelian musik digital melalui Itunes akan terlihat perbedaannya : pembelian piringan hitam adalah pembelian benda yang bermakna, sedangkan pembelian di Itunes adalah proses pembelian barang atau komoditas. 

Dalam konteks keberadaan ruang sosial, alat sosial sampai terjadinya interaksi sosial, boleh jadi kita bisa melihat posisi perpustakaan, buku dan aktivitas membaca dalam kehidupan sosial para mahasiswa.  Yang saat ini terlintas di benak saya antara lain : 

Pertama, perpustakaan tentu saja adalah ruang sosial, tetapi suka atau tidak suka, kondisinya lebih “steril” dibandingkan suasana kafe atau warung kopi. 

Kedua,membaca buku adalah aktivitas individual, dan baru menjadi kegiatan  atau interaksi sosial apabila sang pembaca bisa berbagi dengan pembaca atau khalayak lainnya. 

Ketiga, buku adalah alat sosial. Dinantikan atau diintensifkan sejauh mana perpustakaan dapat mengangkatnya sebagai sarana interaksi dan pertukaran gagasan dengan pembaca lain yang membaca buku yang sama ? Baik tentang isi, desain sampul, kutipan, dan beragam aspek sesuatu buku tersebut.

Tantangan untuk menghidupkan perpustakaan sebagai ruang sosial yang hidup ini, bagi saya, bisa memicu adrenalin. Karena selain peluang tersebut terbuka dipraktekkan di dunia nyata, kiranya juga menantang untuk dieksplorasi di dunia digital yang maya.

BH/190226

Minggu, 24 Februari 2019

LIBLOMAT – LIBRARIAN RASA DIPLOMAT

oleh 
Irhamni Ali
Pustakawan Wannabe - Perpustakaan Nasional

Minggu lalu 19-22 Februari 2019, Saya mendapat tugas untuk ikut rombongan Kepala Perpustakaan Nasional RI menghadiri Conference of Director National Library Asia-OCEANIA (CDNL-AO) atau Sidang Kepala Perpustakaan Nasional RI se-Asia dan OCEANIA di Singapura. CDNL-AO Konferensi Direktur Perpustakaan Nasional di Asia dan Oceania (CDNLAO) bertemu setiap tahun untuk membahas masalah perpustakaan yang menjadi kepentingan bersama dan untuk mempromosikan dan berbagi sumber daya dan informasi di kawasan Asia Pasifik. Pertemuan pertama diadakan pada tahun 1979 dan Direktur Perpustakaan Nasional sepakat pada pertemuan ini bahwa tujuan utama CDNLAO adalah untuk bertukar informasi dan mempromosikan kerja sama untuk pengembangan perpustakaan di Asia dan Oseania; membantu perpustakaan di negara-negara kurang berkembang melalui kerja sama; memahami bagaimana pengembangan perpustakaan di antara perpustakaan di Asia dan Oseania. Organisasi ini bisa mengadakan pertemuan setiap tahunnya di wilayah Asia dan Oseania, dan setiap 3 tahun sekali pasti di selenggarakan di negara ASEAN bertepatan dengan acara CONSAL (Congress of South East Asia Library) atau persatuan Pustakawan Se-ASEAN. Ada banyak hal yang saya pelajari terkait bagaimana berdiplomasi di tingkat regional dan internasional serta bagaimana konstalasi kepentingan yang berkaitan dengan perpustakaan di wilayah regional Asia dan Oseania.

Foto 1. Delagasi Peserta CDNL-AO ke 40 di Singapura 20-21 Februari 2019
Foto 1. Delagasi Peserta CDNL-AO ke 40 di Singapura 20-21 Februari 2019
Conference of Director National Library Asia-OCEANIA (CDNL-AO) atau Sidang Kepala Perpustakaan Nasional RI se-Asia dan OCEANIA ke 40 tahun saat ini dihadiri oleh Australia, Bangladesh, Bhutan, China, Fiji, Indonesia, Iran, Japan, Korea, Malaysia, Maldives, Mongolia, Myanmar, New Zealand, Papua New Guinea, Philippines, Qatar, Singapore, Thailand, Vietnam. Sidang kali ini akan membahas bagaimana rencana serta peran strategis perpustakaan di 40 tahun yang akan datang di negara Asia dan Oceania. Indonesia memberikan presentasi bagaimana Isu-isu serta program strategis perpustakaan di Indonesia salah satunya adalah implementasi perpustakaan berbasis inklusi sosial serta implementasi big data untuk layanan perpustakaan yang lebih baik. Selain itu Conference of Director National Library Asia-OCEANIA (CDNL-AO) atau Sidang Kepala Perpustakaan Nasional RI se-Asia dan Oceania akan dilaksanakan di Jakarta di tahun 2020 mendatang.

Diplomasi ala pusakawan

Diplomasi merupakan istilah yang acap kali disebutkan dalam pembahasan mengenai hubungan antar negara. Pada dasarnya tujuan utama diplomasi yaitu “pengamanan kepentingan negara sendiri”. Atau bisa dikatakan bahwa tujuan diplomasi merupakan penjaminan keuntungan maksimum negara sendiri. Selain dari itu juga terdapat kepentingan lainnya, seperti ekonomi, perdagangan dan kepentingan komersial, perlindungan warga negara yang berada dinegara lain, pengembangan budaya dan ideologi, peningkatan prestise, bersahabat dengan negara lain, dan lain lain. Tujuan untuk pengamanan kebebasan politik dan integritas teritorial suatu negara biasanya merupakan hal paling utama dalam diplomasi walaupun tidak bisa dipungkiri tujuan-tujuan lainnya seperti ekonomi, budaya, dan lainnya. Tujuan pokok lain yakni mencegah negara-negara lain melawan suatu negara tertentu.

Foto 2. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia  Sedang Berdiskusi dengan Kepala perpustakaan Nasional Republik Islam Iran Pada Sidang CDNL-AO ke 40 di Singapura
Foto 2. Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia  Sedang Berdiskusi dengan Kepala perpustakaan Nasional Republik Islam Iran Pada Sidang CDNL-AO ke 40 di Singapura
Dalam hal ini tentu diplomasi ala pustakawan adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan negara atau organisasi kita sendiri. Dalam sidang CDNL-AO ini akan banyak sekali penawaran-penawaran kerjasama yang ditawarkan, salah satunya adalah China silk belt initiative. China silk belt initiative merupakan program rintisan china untuk menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa, inisiatif ini telah berubah menjadi slogan yang luas untuk menggambarkan hampir semua aspek keterlibatan Cina di luar negeri.  Belt and Road, atau yi dai yi lu, adalah “jalan sutra abad ke-21,” yang terdiri dari “sabuk” koridor darat dan “jalan” maritim dari jalur pelayaran. Dari Asia Tenggara ke Eropa Timur dan Afrika, Belt dan Road mencakup 71 negara yang menyumbang separuh populasi dunia dan seperempat dari PDB global. Negara-negara yang menjadi anggota silk belt initiative adalah sebagai berikut :
  • 8 negara di Asia Selatan: Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Afghanistan, Nepal, Maladewa, Bhutan 
  • 11 negara di Asia Tenggara: Mongolia, Rusia, Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, Filipina, Myanmar, Kamboja, Laos, Brunei, Timor Leste
  • 5 negara Asia Tengah: Kazakhsta, Uzbekistan, Turkmenistan, Kyrghyzstan, Tajikista
  • 16 negara di Asia barat dan Afrika utara: Arab Saudi, UEA, Oman, Iran, Turki, Israel, Mesir, Kuwait, Irak, Katar, Yordania, Lebanon, Bahrain, Yaman, Suriah, Palestina
  • 16 negara Eropa tengah dan timur: Polandia, Rumania, Republik Ceko, Slovakia, Bulgaria, Hongaria, Latvia, Lithuania, Estonia, Kroasia, Albania, Serbia, Makedonia, Bosnia dan Herzegovina
  • Enam negara bagian lainnya: Ukraina, Azerbaijan, Armenia, Belarus, Georgia, Moldova
Inisiatif sabuk dan jalan sutra saat ini bukan hanya tentang perdagangan dan investasi tetapi juga pertukaran budaya, yang akan membawa perubahan yang menjanjikan pada ikatan budaya China dengan peserta inisiatif lainnya. Sampai saat ini  China telah menandatangani lebih dari 300 kesepakatan kerja sama resmi dan rencana aksi pertukaran budaya dengan negara-negara yang berpartisipasi. Setelah membangun mekanisme kerja sama budaya multilateral dengan negara-negara Eropa Timur dan Arab serta ekonomi ASEAN, Cina bersekutu dengan sejumlah peserta inisiatif dalam hal teater dan museum bertema Silk Road. Hal ini akan memungkinkan para cendekiawan di seluruh dunia akan diberikan lebih banyak kesempatan untuk mengunjungi Cina dan menghadiri kursus lanjutan tentang budaya Tiongkok untuk membantu mereka lebih memahami China. China juga akan menyambut karya-karya asing dari sastra dan produk-produk film, buku untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Cina dan diperkenalkan ke pasar Cina, dan akan melakukan hal yang sama untuk negara-negara yang terlibat dalam inisiatif ini. Ada sejumlah potensi besar yang potensi besar yang belum dimanfaatkan dalam investasi dua arah di industri kreatif seperti game dan kartun, serta perlindungan bersama warisan budaya.

Forum Internasional Silk Road untuk Perpustakaan adalah inisiatif yang dipelopori oleh Perpustakaan Nasional Cina. Forum perdana diadakan pada Mei 2018 di Chengdu, Cina. Tujuannya adalah untuk menjalin aliansi di antara perpustakaan yang berpartisipasi untuk kerja sama strategis jangka panjang dan pertukaran budaya, serta kemajuan umum kepustakawanan negara-negara terkait. Forum ini untuk Kepala Pustakawan atau Direktur semua Perpustakaan Nasional di sepanjang Jalur Sutra, yaitu negara-negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Tengah, termasuk Belarus. Tujuan forum adalah untuk:
  • Memperkuat pertukaran bisnis dan kemitraan di antara perpustakaan tentang akuisisi, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya dokumen untuk meningkatkan layanan perpustakaan.
  • Mempromosikan pertukaran dan kemitraan di antara orang-orang, mengorganisir kunjungan ke perpustakaan, mendorong kunjungan antara staf manajemen tingkat atas dan memberikan pelatihan kepada para profesional untuk memastikan pengembangan timbal balik.
  • Mempromosikan pertukaran akademis dan kemitraan dalam penelitian ilmiah, mengadakan pertemuan puncak dan forum reguler untuk direktur untuk berbagi hasil dari warisan budaya dan program penelitian.
  • Bersama-sama mendiskusikan transformasi dan mengembangkan strategi untuk perpustakaan.
Menghadapi hal ini tentu seorang pustakawan harus mempertimbangkan Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan dalam berpartisipasi kerjasama Silk Belt Initiative untuk itu diperlukan suatu analisis lebih jauh mengenai dampak kerjasama di kemudian hari dengan melihat aspek-aspek sebagai berikut;
  • Risiko keuangan dalam hal ini terkait anggaran
  • Risiko Hukum, kontrak, dan peraturan
  • Risiko organisasi terkait manajemen dan manusia
  • Risiko politik yang terkait dengan masyarakat.
  • Faktor lingkungan dan tindakan Tuhan (force majeure)
  • Risiko teknis, operasional, dan infrastruktur kerjasama Aliansi perpustakaan Jalur Sutra yang dipelopori oleh China.

The Power Of Soft Diplomacy ala Pustakawan

Diplomasi tidak melulu mengandalkan kekuatan politik. Tetapi diplomasi bisa juga dilakukan melalui soft diplomacy yang lebih lembut, tetapi mampu memberikan hasil. Untuk itu  diplomasi semacam ini dilakukan melalui keinginan masing-masing pihak dengan sukarela serta hasilnya memberikan kontribusi positif bagi setiap pihak yang terlibat. Soft diplomacy yang paling ampuh adalah melalui pedekatan informal yaitu melalui pendekatan pribadi. Sebagai contoh pada saat perundingan damai antara RI dan GAM di Helsinki para diplomat Indonesia menghadapi petinggi GAM dengan pendekatan informal dan layaknya seorang saudara namun tetap dengan membawa prinsip NKRI Harga Mati.

Bagaimana seorang pustakawan melakukan soft diplomacy? Seorang pustakawan haruslah luwes dan tidak kaku dalam bergaul dan memilih teman. Untuk itu Pustakawan dituntut untuk mampu berkolaborasi dengan pustakawan dari negara lain dalam berdiplomasi. Melalui kolaborasi, pustakawan bisa melihat dari berbagai sisi perspektif untuk mengetahui bagaimana mengatasi hambatan dan melangkah lebih dekat ke tujuan. Untuk itu setiap perpustakaan harus mempersiapkan setiap individu pustakawan di dalam organisasinya untuk siap berdiplomasi dengan konsep “Pustakawan Super Agile” (super lincah), memiliki 5 ciri berikut:
  1. People Agility: Mampu bekerjasama dengan siapapun. 
  2. Change Agility: Mampu beradaptasi dengan perubahan se-ekstrim apapun.
  3. Result Agility: Mampu tetap berprestasi dan menghasilkan dalam kondisi apapun. 
  4. Mental Agility: Mampu bertahan dalam tekanan mental apapun. 
  5. Learning Agility: Mampu memahami dan mempelajari hal baru dengan cepat.
Kunci dari diplomasi adalah kemampuan berkomunikasi dan mampu mengetahui waktu yang tepat untuk mengungkapkan kepentingan sesuai dengan etika diplomasi. Etika diplomasi merupakan upaya pelaku diplomasi untuk menjalankan tugas mereka memperjuangkan kepentingan nasional (Lembaga) sesuai dengan kaidah-kaidah moral dan kebenaran universal yang berlaku secara internasional. Etika diplomasi mencakup beberapa elemen yang harus dianut oleh para pustakawan, yaitu integritas, kejujuran, obyektivitas, dan impersialitas (ketidakberpihakan).

Foto 3.Penulis Bersama Kepala Kantor IFLA Regional Asia Oceania Ms.Soh Lin Li dari Singapura
Foto 3.Penulis Bersama Kepala Kantor IFLA Regional Asia Oceania Ms.Soh Lin Li dari Singapura
Dalam setiap event  internasional ingatlah bahwa pustakawan merupakan wakil negara yang akan menjadi representasi dari negara itu sendiri di hadapan negara-negara lainnya. Pustakawan bagaikan menjadi seorang public relations bagi negaranya di mana setiap pustakawan harus menjaga citra negaranya dan juga mampu membangun hubungan baik dengan pustakawan dari negara-negara sahabat. Pustakawan harus menjadi cerminan bagaimana negara ingin dipandang. Apapun kepentingan yang diusulkan dalam setiap kesepakatan, pustakawan harus selalu bersikap hati-hati dan mampu menyampaikan informasi tentang kepentingannya tanpa menimbulkan pandangan negatif di mata kolega lainnya. Seorang pustakawan harus selalu menjaga image negara dan institusinya dengan memahami etika diplomasi dan membangun kerjasama yang baik pada tiap negara yang disinggahi.

Meneladani Pak AR, untuk kepustakawanan kita

Siapa Pak AR? warga Muhammadiyah pasti tahu. Nama lengkapnya Abdur Rozaq Fachrudin, Ketua PP Muhammadiyah dengan periode yang paling lama, 22 tahun. “Pak AR adalah ulama yang tawaduk,” demikian simpul Pak Syafii Maarif.

Seperti ditulis pada buku Pak AR Sang Penyejuk karya Saefudin Simon, Pak AR sekolah di SR kemudian melanjutkan di Mualimin meski hanya bertahan 2 tahun. Beliau kemudian balik ke kampungnya, karena tak ada biaya. Dengan semangat ngajinya yang tinggi, beliau belajar dengan Kyai di kampung, termasuk pada ayahnya: KH. Fachrudin.

Pak AR tidak kuliah. Konon, kabarnya pernah mendaftar kuliah, namun ditolak oleh kampusnya. “Kami ingin Pak AR ngajar, bukan menjadi mahasiswa,” demikian tanggap kampus. Hobinya membaca, di mana saja. Menjadi Mubaligh Muhammadiyah cita-citanya, dan wong ndesolah sasarannya.

Beliau tak punya rumah, bahkan sampai meninggal. Rumah di Cik Di Tiro merupakan pinjaman Muhammadiyah. Di depan rumah berjejer rapi botol bensin eceran. Rumah yang ditempati juga disekat jadi kamar kos. Motornya Yamaha butut tahun 70-an, itupun - kata Pak Syafii Maarif -pemberian Prawiro Yuwono, orang yang kasihan pada Pak AR. Motor itu menemani ke sana ke mari untuk berdakwah. Kadang juga berboncengan dengan Bu Qom, istrinya. Karena keduanya berbadan gemuk, kadang Bu Qom hampir duduk di lampu belakang.

***

Pak AR pintar berkomunikasi, berdiplomasi. Dengan warga pengajiannya sudah pasti. Namun, Beliau juga lihai berkomunikasi dengan orang tinggi level presiden. Presiden Soeharto merupakan kawan baiknya. Ketika berbicara, keduanya menggunakan Jawa Kromo Inggil. Pak Harto begitu mempercayai Pak AR, karena tak pernah minta apapun, kecuali untuk Muhammadiyah dan ummat Islam. Konon, Pak Harto tidak marah ketika diajak “istirahat” oleh Pak AR. Tentu saja karena keduanya sudah akrab, ditambah lagi dengan lumantar bahasa jawa kromo inggil, menjadikan keduanya lebih saling menghormati.

Bantuan untuk Muhammadiyah, atau lembaga lain yang melewati Pak AR selalu utuh. Meski menjadi talang berbagai bantuan, Pak AR tidak teles. Pak AR merupakan talang yang selalu garing, mengantarkan air sampai ke tujuan tanpa kurang.

***

Pak AR mampu menghadirkan agama dengan bahasa yang ringan, enak, sejuk, dan membahagiakan. “Ceramahnya disukai bukan hanya oleh ummat Islam, namun juga umat agama lain,” kata Pak Amidhan. “Agama Islam itu sejuk jika dihadirkan Pak AR,” demikian kutip Simon dari kawannya, Pak AR mampu menyaring, memilih dan memilah informasi, kemudian disampaikan pada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Bukan hanya menyampaikan, namun juga melakukan, memberi contoh.


“Pak AR adalah ulama yang tawaduk,” kata Prof. Syafii Maarif. Tidak perlu menyampaikan bahwa dia bisa ini atau itu. Bahkan, konon, kabarnya Pak AR menolak ketika akan dibuatkan buku dalam rangka 70 tahun usianya. “Loh, aku ini bukan siapa-siapa. Ndak pantas dibuatkan buku 70 tahun Pak AR,” katanya. Ketika ceramahnya di RRI akan dibukukan, Pak AR bertanya, “apakah lawakan Basiyo sudah dibukukan?”. Ternyata tidak. Pak AR pun tidak mau ceramahnya dibukukan.


***

Membaca kisah Pak AR, saya jadi ingat dengan kepustakawanan kita. Mampukan, atau adakah tokoh kepustakawanan ala Pak AR?

Pustakawan yang belajar dari membaca, mempraktikkan, memberi contoh. Lihai berdiplomasi, namun tetap tawaduk, menyejukkan, jauh dari hingar bingar harta dunia, namun tetap berperan dalam mendidik.

Pak AR yang da’i, sama dengan pustakawan. Bahkan Pak AR itu pustakawan. Ah, terlalu jauh saya membandingkan. Tapi, mohon maaf bagi yang kurang berkenan. Pustakawan itu seperti da’i. Tidak harus sekolah formal, cukuplah keinginan kuat, mau membaca, belajar sepanjang hidup.

Da’i itu pustakawan.

Sobat #missqueen Ala Pustakawan

Oleh: Veny Fitriyanti
Beberapa bulan yang lalu, Indonesia kembali menjadi tranding topik di social media Twitter.
Seluruh masyarakat Indonesia ramai berbondong-bondong mencuitkan Hastag #missqueen ato sobat missqueen di Twitter.
Istilah ini hanya sebagai bahan candaan ato guyonan yang ditujukan kepada orang-orang sok kaya yang suka pamerin harta bendanya. Sehingga muncul sobat missqueen (miskin.red) yang memamerkan hal-hal kemiskinan mereka di sosial media.
Loh…Apa hubungannya dengan pustakawan?
Jelaaaaaas… ada dong hubungannya dengan pustakawan. Selain sebagai ikut tranding. Pustakawan aka saya sendiri turut serta termasuk sobat missqueen.
Apaan tuh?😲
Apalah daya seorang pustakawan yang melihat buku novel baru terpampang cantik indah bak rupawan di rak toko buku tapi hampir pingsan liat bandrol harga. #missqueen ala pustakawan
Ini yang saya rasakan bertahun-tahun kalo jalan-jalan ke toko buku. Jika ada rejeki lebih untuk beli buku saya pasti lama di rak karna galau pilih novel mana yang mau dibeli. Hal ini dikarenakan uangnya gak cukup beli lebih dari 2.
Alhamdulillah, PNRI menjawab dilema kantong saya. PNRI memberikan fasilitas bagi sobat missqueen untuk bisa baca buku apa saja baik buku lama atau buku terbaru bahkan buku populer di masyarakat dibagikan secara GRATIS.
KOK BISAAAA…..?😲😲😲😲😲
Ya bisa lah, perpustakaan sapa dulu dong!!! Mau tau caranya gimana? Yuks! Simak tulisan ini sampai habis.
Jawabanya adalah download aplikasi IPUSNAS.
Nah ini adalah aplikasi ipusnas yang bisa kamu download di playstore (android system), Appstore (apple system), dan versi desktop untuk komputer.
iPusnas

Itu aplikasi apaan sih?
Ini adalah aplikasi perpustakaan digital yang berisikan segala jenis buku e-book yang bisa kamu pinjamkan selama 3 hari secara gratis.
Fiksi Remaja

Siapa yang SUKA pake kata BANGETZZZ baca buku, saya sarankan segera download aplikasi ini.
Karna ini adalah jawaban bagi para sobat #missqueen yang gak punya uang untuk beli buku tapi pengen BANGETZ baca buku.
Saya mengaktifkan kembali aplikasi ini sejak tanggal 4 April 2018. Dulu pernah download tapi bukunya “enggak banget deh” makanya di uninstall.
User Profile

Dan sekarang gak terasa, sekarang ini history buku yang sudah dipinjam sudah sampai ratusan.
Pameeer😒😒😒
iPusnas
Cara pemakaian aplikasi ini sangat lah mudah. Kamu cukup sign in ipusnas melalui akun Facebook atau email. Nah nanti kamu isi kolom yang diminta.
Setelah itu gimana cara meminjamnya?
It’s so easy…
Cari buku yang kamu inginkan dengan klik tombol kaca pembesar.
Collection

Book Detail

Borrow

Nanti akan muncul tampilan begini
Choose ePustaka

Pilih yang kolom yang punya koleksi masih available. Jangan yang run out.
Nanti akan muncul pertanyaan apakah kamu yakin meminjam buku ini?
Book Detail

Pilih YES jika kamu bener-bener ingin baca buku tersebut.
Tahap akhirnya adalah “menunggu”
Book Detail

Book Detail

Kemudian buku tersebut akan terdownload. Kalo sobat #missqueen gak punya kuota, bisa kamu pake wifi gratisan.
Tadaaaaaaaaa! Bisa deh baca buku dilan 2 sebelum keluar filmnya yang akan segera tayang tahun ini.
View Ebook

Di ipusnas ada fitur status user. Jika kamu buat akun baru, maka status kamu sebagai pengguna ipusnas langsung menjadi “newbie”. Dalam ipusnas ada 3 status pembaca
Newbie
Bookworm
Sosializer
Nah….bagi user yang mau naik tingkat atau level up harus penuhi persyaratan sbb:

Ada tips untuk mendapatkan follower, caranya simpel kok. Banyak-banyak lah menulis komentar di tombol review buku yang kamu baca. Hal ini berguna bagi user lain untuk memilih buku yang cerita nya bagus atau jelek.
User yang lain juga bisa melihat history book yang sudah kamu pinjam dan bisa juga dijadikan bahan rekomendasi buku-buku yang bagus untuk dibaca.
Nah…..sudah tau kan tips sobat #missqueen ala pustakawan.
Smoga tips ini bisa membuat para sobat #missqueen berbahagia bisa membaca buku secara gratis dan makin pintar.
Salam Literasi Sobat Missqueen 😍😍😍😍

Jati Diri Pustakawan

Jati diri pustakawan sesungguhnya adalah pustakawan yang memiliki kepribadian lembut, bisa memahami pemustaka, melayani dan memberikan tambahan wawasan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan pemustaka"
Oleh: Susetiyanti

Entah benar atau tidak, menurutku modal utama seoarang pustakawan adalah suka membaca, dan kebetulan mambaca adalah hobiku sejak kecil, selain membaca aku juga senang mendengarkan cerita atau dongeng yang dituturkan ibuku menjelang tidur hingga kantuk datang dan tak terasa aku terlelap.

Hobiku membaca terus berkembang hingga sekarang, bahkan saat ini aku juga suka membaca melalui searching tentang hal hal yang menarik perhatianku. Seperti pagi ini, udara yang cukup cerah membuatku lebih bersemangat, kelima pustakawan di dinas kami telah berbagi tugas sesuai dengan jadwal masing - masing. Kebetulan jadwal yang aku terima di unit pelayanan intern, Jadi aku hanya duduk didepan laptop, siap melayani berbagai perangai pemustaka yang datang dan memerlukan informasi maupun bahan rujukan.

Jati Diri Pustakawan
Credit: Openclipart
Setiap hari biasanya banyak pemustaka yang datang, tetapi pagi ini agak sepi. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk searching sesuai hobiku. Ketika aku terlarut, tiba tiba dikejutkan oleh suara rengekan seorang anak yang sangat keras dan telah berdiri didepanku bersama seorang pria yang mungkin ayahnya. Anak tersebut berbicara gagap dan tak jelas sambil menarik narik baju lelaki yang ada di depanku dan menunjuk ke deretan rak buku yang tertata rapi di ruang pelayanan.

Aku mengamati keduanya dengan seksama, kemudian aku bangkit dari tempat dudukku dan mengulurkan tangan untuk menyalami anak itu, tapi reaksinya diluar dugaannku dia berulang ulang menjerit sangat keras aku jadi bimbang lalu berkata pada pria yang kuduga sebagai ayahnya

"Monggo pak."

Lelaki itu menjawab pelan, "nggih bu matur nuwun."

Mereka segera kuantarkan ke ruang anak yang berisi rak rak buku dan alat permaian edukatif serta program aplikasi khusus untuk anak anak yang ada di komputer. Lalu, kutinggalkan mereka dan aku kembali searching sambil berfikir setengah melamun.

Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaku. Apakah anak tadi termasuk kategori hiperaktif atau disabilitas ringan? Apa yang bisa kulakukan untuk membantunya guna mewujudkan jati diriku sebagai pustakawan?  Dan mengapa kesini tidak ditemani ibunya? Kemana ibunya dan apakah pria tadi adalah ayahnya . Om atau mungkin pakdhenya, apa tujuan mereka datang ke perpustakaan? Apa yang sebenarnya diperlukan oleh anak tersebut?

Belum selesai aku berpikir, lamunanku buyar oleh langkah seseorang didepanku yang tidak lain adalah lelaki tersebut, aku lihat dia tampak kebingunan dan sedikit khawatir walau terukir senyum tipis di parasnya, kemudian dia berkata kepadaku.

"Bu ada nggak buku-buku tentang gambar-gambar hewan, tumbuhan, bunga-bunga, pesawat atau tentang angkasa?"

Woowww, bisa shock nih aku dibuatnya bila tidak bisa memberikan rujukan ke lelaki tersbut.

"Nggih pak wonten, sebentar kami carikan dulu," Jawabku dengan tenang. Aku carikan buku yang dimaksud di ruang referensi tentang ensiklopedia ilmu pengetahuan bergambar khusus untuk anak ada 3 Jilid , tetapi belum sempat aku menunjukan buku pada pria tersebut tiba-tiba anak itu berlari dan memanggil dengan suara keras, "paaapaaa .....paaapaaa..."

Bearti dugaanku benar lelaki ini adalah ayahnya. Dengan sigap pria tersebut segera memegang tubuh anaknya supaya tak terjatuh. Kuperhatian suasana itu lebih seksama, Jika kupadukan peristiwa tadi dengan hasil searching yang baru saja kudapatkan dari media kemungkinan besar anak ini mengalami disabilitas berkategori ringan dengan ciri ciri hiperaktif dan minta perhatian lebih, namun disabilitas ringan ini bisa disembuhkan seiring dengan berjalannya waktu.

Intinya untuk kesembuhan anak sangat diperlukan perhatian khusus dari kedua orang tua dan dukungan lingkungan yang menyenangkan bagi sang anak. Ketika anak itu sudah mulai tenang, kusodorkan tiga jilid buku pada ayahnya, melihat hal tersebut anak itu segera meronta untuk meraih buku yang sudah berada ditangan ayahnya. Aku dan ayahnya segera membujuk supaya lebih tenang dan Alhamdulillah akhirnya anak itu menurut.

Aku bertanya pada ayahnya,"Apa buku ini yang bapak maksud?"

"Coba bu kami lihat dulu," Jawabnya singkat sang ayah segera membuka lembaran buku yang telah aku sodorkan dan anak itu tertawa tawa sambil mengangguk anggukan kepalanya.

"Ya Bu benar"

"Kami tinggal dulu ya pak, silahkan dilihat gambar gambarnya supaya putrinya senang"

Namun, sebelum aku berlalu pria iru berkata kembali.

"Bu, apa boleh kami meminjam buku ini?"

Aku ragu untuk menjawabnya karena buku-buku referensi hanya boleh dibaca dan tidak bisa dipinjam itu aturan baku yang tertulis di dinas kami, tetapi dalam teori manajemen perpustakaan yang pernah aku baca menurut Sulistiyo Basuki, apapun jenis literatur yang ada di perpustakaan jika untuk kepentingan pendidikan bisa dipinjam dengan sistem "Over Night Loan" dan juga sesuai kebijakan dari pimpinan di dinas kami untuk hal hal teknis di bidang perpustakaan diserahkan sepenuhnya kepada pustakawan, setelah berfikir demikian akhirnya aku menjawab.

"Ya pak boleh tapi bersyarat"

"Maksudnya bagaimana bu?"

"Boleh dipinjam tapi besok buku sudah harus dikembalikan itu syarat pertama dan syarat yang kedua bapak wajib meninggalkan arsip identitas diri berupa SIM atau KTP"

"Ya bu, ini KTP saya"

Setelah proses sirkulasi selesai pria itu segera pamit karena putrinya merajuk minta ingin segera pulang dengan memukul-mukul dada sang ayah. Setelah mereka pergi aku mencoba mengamati identitas KTP yang ditinggalkan pria tersebut. Ternyata Pria itu bernama Chandra, dia adalah seorang duda dan memiliki pekerjaan sebagai pengusaha konveksi.

Bagiku, status dan profesi apapun lelaki itu tak masalah. Aku kembali merenung, batinku meronta keras bersentuhan dengan jati diriku sebagai seorang pustakawan. Aku harus menunjukan walau hanya pada segelintir orang yang benar-benar membutuhkan bimbingan penuh dariku yang berprofesi sebagai pustakawan berupa tambahan wawasan.

Dampak "literacy" yang telah kugeluti selama ini, hobi membaca dimasa kecilku, kupadukan dengan jati diri profesiku, dengan semangat aku bertekad membantu pria tersebut untuk memberikan tambahan wawasan pengetahuan guna membimbing putrinya secara lebih baik.

Kini muncul suatu gagasan dalam hatiku, besok ketika Pak Candra mengembalikan buku, aku akan menemuinya secara khusus dan menanyakan tentang perilaku putrinya, terlebih saat ini perpustakaan memang bukan hanya berfungsi untuk pelayanan pembaca saja tetapi juga kemanfaatan hasil membaca tersebut dapat diarahkan untuk membangun kemandirian yang berbasis inklusi sosial termasuk didalamnya adalah disabilitas yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan serius.

Pagi harinya sekitar Pukul 09.15, Pak Chandra datang ke dinas kami memenuhi janjinya untuk mengembalikan buku yang dipinjam kemarin. Aku mengajak Pak Chandra untuk berbicara di ruang referensi, sedangkan ruang pelayanan sirkulasi kuserahkan kepada siswa yang sedang PKL.

Sebenarnya aku agak rikuh mau bicara tentang putrinya dengan lelaki ini, namun demi tugasku kuabaikan hal itu. Dari hasil pembicaraan tersebut dapat kusimpulkan bahwa istrinya telah meninggal 4 tahun yang lalu saat putrinya masih berumur 3 tahun. Putrinya yang bernama Sifa itu ternyata memang sejak kecil memiliki sifat yang sedikit berbeda dibandingkan dengan anak-anak lain seuasianya.

Sifat tersebut semakin bartambah parah setelah ibunya wafat. Sebelum Pak Chandra pamit pulang sempat kusarankan padanya agar putrinya diberikan perhatian secara khusus, dan putrinya sangat memerlukan sosok seorang ibu yang benar-benar mau peduli dengan kondisi putrinya. Di akhir pembicaraan itu aku memberikan literatur kepadanya yang sudah aku persiapkan kemarin terkait tehnik dan solusi penanganan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang berhasil disembuhkan.

Setelah pak Chandra pamit pulang, aku merasa lega karena jati diriku sebagai seorang pustakawan sudah aku tunaikan. Ya, jati diri pustakawan sesungguhnya adalah pustakawan yang memiliki kepribadian lembut, bisa memahami pemustaka, melayani dan memberikan tambahan wawasan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan pemustaka baik yang bersifat "board storming " maupun "deep deeping" secara tulus, ikhlas dan tanpa pamrih apapun.

Salam pustakawan

Blog: https://pustakajatidiri.blogspot.com

Pustakawan Meneliti 2



              
             Lagi-lagi ini cerita penelitian dari Bulan sang pustakawan. Setelah sukses dengan petualangan pada penelitian terdahulu, kini Bulan lanjut proyek berikutnya. Puas atas hasil kerja Bulan, membuat pimpinannya kembali meminta bantuan Bulan. Tepatnya tahun 2016 setelah Bulan menyelesaikan tubelnya alias tugas belajar, Bulan diminta ke Bali untuk melakukan penelitian tentang guru madrasah di MI (Madrasah Ibtidaiyyah) Al-Azhar Denpasar Bali. Madrasah ini tepatnya berlokasi di jalan I Gusti Ngurah Rai, Kampung Bugis, Tuban.
               Seperti biasa, tidak ada pembimbingan khusus dan bekal yang spesial, maka berangkatlah Bulan  menuju lokasi yang telah ditentukan. Sebagai  seorang pustakawan Bulan senang melakukan penelitian ini. Akan dapat pengalaman baru yang seru. Hanya saja ini menjadi tugas tambahan pustakawan yang entah ada angka kreditnya atau tidak. Bulan tidak ambil pusing, yang penting misi selesai, lancar dan sukses.
               Seperti pada penelitian sebelumnya, Bulan selalu membuat field note semacam catatan perjalanan. Ini lho catatannya.
Rabu, 23 November 2016
1.      Sampai di hotel Puri Nusantara sekitar pukul 17.00 WITeng.
2.      Survei ke lokasi (MI Al Azhar) sekitar pukul 5 pm dari hotel dengan berjalan kaki sekitar 15’.
3.      Sepanjang perjalanan menuju lokasi, menyusuri pemukinan penduduk mayoritas Hindu. Aroma dupa dan sesajen tiap rumah yang ada mewarnai pemandangan yang khas. Beberapa rumah menjual makanan siap saji, diantaranya nasi goreng babi.
4.      Sejenak berteduh di Masjid Assut Taqwa sambil menanti Maghrib.
5.      Di ujung jalan menuju lokasi, terdapat Pure Bale Agung yang selalu diperdengarkan gamelan khas Bali.
6.      Sampai di depan gerbang lokasi menjelang maghrib. Lokasi berdempetan dengan Masjid Asasut Taqwa.
7.      Suara Murottal Qur’an dari masjid cukup terdengar ke luar sampai jauh.
8.      Di dalam masjid sempat berbincang-bincang dengan salah seorang warga, Ibu Putu namanya, warga asli Tuban dan muslim. Sayangnya tidak sempat berdialog lebih lanjut untuk mengetahui asal-muasal berIslamnya.
Kamis, 24 November 2016
1.      Keluar hotel pukul 07.45.
2.      Sampai di lokasi sekitar pukul 08.00 dengan berjalan kaki.
3.      Bertemu dengan Kepala Sekolah MI Al Azhar, Bapak Suwito. Menyampaikan maksud kedatangan dan melakukan wawancara dengan beliau pukul 08.30 sampai Zuhur. Hasil wawancara terlampir.
4.      Kemudian wawancara dengan salah satu guru, Ibu Nur, pukul 13.00-14.00. Hasil wawancara terlampir.
5.      Selanjutnya silaturahim ke rumah guru tersebut di jalan Gunung Lempuyang sekitar 9 km dari lokasi sekolah sampai Isya.
6.      Sampai kembali di hotel sekitar pukul 20.00.
Jum’at, 25 November 2016
1.      Berangkat dari hotel pukul 08.20.
2.      Sampai di lokasi mengambil beberapa gambar/ foto sekolah. Foto-foto sekolah terlampir. Sekolah libur karena memperingati Hari Guru Nasional. Sebagian guru mengikuti gerak jalan sehat pada pagi hari  di kantor Kabupaten Badung.
3.      Sekitar pukul 09.30-10.05 wawancara dengan salah seorang guru, Ibu Fatmawati, wali kelas V. Hasil wawancara terlampir.
4.      Sekitar pukul 11.10-11.30  wawancaa dengan salah satu staf TU sekolah, Ibu Eka. Hasil wawancara terlampir.
5.      Kembali ke hotel pukul 14.00.
6.      Pukul 17.30 ke masjid Assasut Taqwa.
7.      Sambil menunggu dan setelah sholat Maghrib, sempat wawancara dengan beberapa orang siswa MI Al Azhar di area masjid. Hasil wawancara terlampir.
Sabtu, 26 November 2016
1.      Berangkat dari hotel ke lokasi pukul 07.30.
2.      Wawancara dengan orang tua siswa yang sedang berada di gazebo, tempat biasa ibu-ibu ngumpul saat menunggu anak-anaknya pulang sekolah. Foto dan hasil wawancara terlampir.
3.      Pukul 08.30, wawancara dengan salah satu guru, Pak Zai guru olahraga. Hasil wawancara terlampir.
4.      Kemudian wawancara dengan salah satu siswa kelas 6 MI. Nama siswa Hardi. Hasil wawancara terlampir.
5.      Setelah itu berbincang-bincang dengan kepala sekolah sekitar pukul 09.20-10.00.
6.      Ke perpustakaan bercengkerama dengan beberapa guru yang ada di sana, foto bersama sekaligus berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Sebelumnya sempat berbincang-bincang dengan salah satu pihak yayasan, Ibu Mesya, sekaligus juga sebagai guru MI. Beberapa pihak yayasan yang lain sedang ada keperluan. Saat akan di temui, ketua yayasan memang sedang sakit stroke dan sudah sepuh, usia sekitar 80 an tahun, sehingga sulit untuk berkomunikasi. Sekretaris yayasan sedang ada keperluan luar, dan bendahara yayasan sedang mengurus pajak yayasan.
Tidak ada yang terlalu spesial dalam perjalanan penelitian ini. Namun Bulan banyak mendapat pengetahuan dan semangat baru dari cerita-cerita perjuangan para guru di sana. Salah satunya, ada cerita menarik dari Bapak Suwito, kepala sekolah di sana.
Bapak Suwito menceritakan bahwa Kampung Bugis adalah tanah yang dihadiahkan oleh Kerajaan Bali. Kampung Bugis ada sebelum merdeka. Bangsa Bugis saat itu banyak yang memiliki keahlian ketabiban, mereka bisa mengobati orang yang sedang sakit tanpa meminta bayaran sedikitpun. Hal ini menjadi sarana dakwah mereka dalam menyebarkan Islam di Bali, bahkan sampai sekarang. Banyak pula di kalangan orang-orang Bugis yang merantau di Kampung Bugis tersebut ahli dalam bidang ekonomi dan menyelam.
Selama ini hubungan masyarakat Bugis dan Bali tidak ada gesekan. Mereka saling bekerja sama  bahkan mereka memeiliki banjar untuk kegiatan anak-anak. Pada saat ada upacara keagamaan masyarakat  Hindu Bali, sekolah di kampung Bugis, khususnya MI Al-Azhar libur dan mengganti hari libur tersebut di hari yang lain.
Bapak Suwito pernah juga mengajar tapi tidak pernah dibayar. Pesan dari dosen-dosen di Jember yang mengajar beliau, juga pesan dari beberapa kyai di sana, bahwa mengajar itu mengembangkan ilmu dan mengajar itu termasuk di dalamnya adalah mengajar ngaji atau baca Qur’an adalah kewajiban. Karenanya harus meluangkan waktu sedikitnya 2 jam sepekan untuk mengajar masyarakat, sukur-sukur bisa lebih dari itu.
Pembicaaraan mereka berakhir dengan cerita Bapak Suwito, bahwa selama beliau di Bali beliau kadang diisebut orang Muhammadiyah, sekali waktu kadang disebut orang NU. Buat beliau hal ini tak masalah, tidak dianggap serius. Dua-duanya baik. Bahkan beliau dihormati para pecalang di sana karena dianggap dekat dengan Gus Dur. Selama ini Gus Dur dikenal sangat dekat dengan masyarakat Hindu Bali.
               Hmmm, menarik ya mengetahui sejarah adanya suatu kelompok masyarakat, tak kalah menarik pula mengetahui bagaimana orang-orang hidup dalam perantauan. Beradaptasi dengan keadaan, supel dan lentur dalam bergaul, tepo seliro dan menghormati satu sama lain.  Ini menjadi seni indahnya kehidupan manusia di muka bumi. Hmm pustakawan pastinya bisa begitu.
Eit tapi ada satu lagi yang menarik dari ucapan Bapak Suwito, “…harus meluangkan waktu sedikitnya 2 jam per pekan untuk mengajar masyarakat”.  Nah ini kalimat sakti bin pamuncak buat Bulan sang pustakawan. Bulan diingatkan.  Perpustakaan dan pustakawan satu paket sebagai agen pembelajaran seumur hidup. Sudahkah Pustakawan meluangkan waktunya 2 jam untuk mengajar masyarakat…? (oleh Hariyah A.)