Minggu, 17 Februari 2019

Pustakawan dan Gara-gara Call for Paper


                Dunia kepustakawan itu sebenarnya indah dan menarik. Siapa saja yang memasukinya selalu ada cerita. Ada suka-duka, haru-biru, lucu bin kocak, heroik, dan sederet lainnya. Termasuk dunia kepustakawan juga dekat dengan dunia ke-akademis-an. Dunia yang gak jauh dari per-buku-an, membaca, menulis, belajar-mengajar, meneliti, mengkaji dan sejenisnya. Nah diantara aktivitas dunia keakademisan adalah tulis menulis  dalam sebuah karya ilmiah.
Sebagai mahasiswa program magister ilmu perpustakaan tahun 2014, Bulan sang pustakawan  yang dapat rejeki tugas belajar dari institusinya--setelah figting dan hunting begitu rupa—kegandrungan menulis. Ibarat anak kecil yang dicekoki jamu pahit oleh emaknya, anak itu jadi nafsu makan, makannya lahab  bukan kepalang. Nah begitu pun Bulan. Saban harinya berjibaku dari paper ke paper, makalah ke makalah, presentasi ke presentasi. Sampai-sampai lulus kuliah prasyaratnya pun harus menulis di jurnal nasional atau internasional atau mengikuti call for paper (CFP) beberapa pertemuan kepustakawanan tingkat nasional atau internasional.
Nah, selama tugas belajar, Bulan menghadiri dua pertemuan atau konferensi kepustakawanan, yang merupakan hasil lolosnya CFP Bulan. Yang pertama adalah saat mengikuti CONSAL (Congress on Southeast Asian Librarian) tahun 2015 di Thailand. Yang kedua saat mengikuti ICIS (International Conference on Informations Science) tahun 2015 di Malaysia.
Beginilah bunyi surat penerimaan saat Bulan diterima CONSAL. On behalf of the CONSAL XVI Academic Committee, we are pleased to inform you that your paper, “Developing and Disseminating Religious Information Among ASEAN Countries In Order to Get Understanding ASEAN Moslem Society”, has met the accepted international academic standard of blind peer review and has been accepted for oral presentation at the upcoming 16th Congress of Southeast Asian Librarians (CONSAL XVI) and the opportunity for your full paper to be published in the official conference proceedings.
Ini berkat dorongan kuat dari profesornya yang memerintahkan para mahasiswanya untuk mengirimkan makalahnya dalam kongres tesebut. Bulan adalah satu dari beberapa  orang yang  papernya direkomendasikan untuk dikirimkan ke ajang tersebut. Bukan kepalang senangnya Bulan. Ini kali pertama dia harus presentasi makalahnya di depan banyak orang dengan bahasa inggris yang menurutnya masih belepotan. Untungnya dia tidak sendiri, ada beberapa teman-teman yang berangkat bareng bersamanya. Hanya saja, untuk keperluan ini tidak ada sponsor khusus baik dari lembaga atau kampusnya  dalam hal pendanaan. Alhamdulillah, mereka yang lolos CFP free biaya seminar. Tetapi transport pesawat pp dan hotel serta biaya hidup harus tanggung sendiri.  Ga apa-apalah. Pikir Bulan. Walaupun harus mengocek dalam kantong sendiri, setidaknya ini kesempataan mengembangkan diri dan menambah jejaring. Begitu pikirnya.
Presentasi makalah di bagi ke dalam kelas atau ruangan  sesuai subjeknya. Saat presentasi, Bulan bersama presenter lainnya maju ke panggung secara paralel. Ada yang dari Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Saat akan presentasi, rasa nervous itu ada. Tapi bulan berhasil mengendalikannya. Rasanya Bulan baru bicara sebentar, ternyata panitia didepan panggung sudah menunjukkan papan yang bertuliskan 5 munites more. Rada gelagapan Bulan menjelaskan secara cepat-cepat. Tapi akhirnya presentasi itu selesai juga. Ahhh lega rasanya. Eit, tapi belum selesai. Karena penjelasannya rada di kebut-kebut, akhirnya ada yang bertanya dua orang. Satu orang Asia, satunya lagi orang Australia. Kalo diinget-inget, Bulan rada lupa, ngomong apa ya. Ah sudahlah, yang penting mereka ngerti maksud Bulan hihihi.
Nah yang paling ditunggu setelah presentasi adalah acara Program of Library and Cultural Visit. Bulan memilih Half day library and cultural visits in Bangkok karena jadwal keberangkatan Bulan dan teman-teman untuk kembali ke Indonesia hanya beberapa jam saja setelah  jalan-jalan. Lucunya adalah Bulan dkk pengen banget pergi ke Paket 1 (The Royal Grand Palace with the Temple of  the Emerald  Buddha, Wat Pho (sightseeing), dan  The National Library of Thailand). Bulan dkk sudah berusaha bernegosiasi begitu rupa pada panitia untuk diikutsertakan dalam paket 1 tapi apa daya usaha mereka gagal. Akhirnya Bulan dkk memilih paket 6 (Bang Rak Market, Assumption Cathedral, dan Haroon Muslim Mosque) yang tidak banyak peminatnya. 
Entah kenapa pada saat hari H keberangkatan Bulan dkk akhirnya dimasukkan ke paket 1. Wow, girang dong mereka. Tapi kenapa ya. Ternyata banyak yang tidak hadir  pada paket 1, mungkin karena satu dan lain hal. Ndilalahnya pula paket 6 ini, peserta harus naik bis, turun naik kereta semacam CL kalo di Jakarta. Dan itu tentu menyusahkan peserta. Karena sebagian peserta sudah siap dengan perlengkapan koper untuk langsung menuju bandara. Alhamdulillah panitia peka. Rejeki anak sholih. Begitu pikir Bulan dkk. 
Menyambangi Perpustakaan Nasional negara tetangga memang memiliki kesan tersendiri. Selain kita bisa membanding-bandingkan pengelolaan perpustakaan nasionalnya, kita juga bisa menakar seberapa jauh concern pemerintah negara tersebut pada perpustakaan. Tentu ini terlihat salah satunya dari tampilan dan layanan yang menjadi kesan pertama pengunjung. Dalam pikiran Bulan, Indonesia gak jelek kok. Mungkin sebelas duabelas dengan Thailand. Begiu perkiraan Bulan. 
Bulan mau cerita sisi lain konferensi. Ada yang menarik dan lucu juga sih. Pertama, di gedung diadakannya konferensi. Saat itu Bulan dkk  bertemu rombongan para waria. Wiw, cantik-cantik ya, hihihi. Masalahnya saat Bulan mau ke toilet, mereka serombongan ada di belakanag Bulan, mengikuti arah yang sama menuju toilet wanita. Hiiiy. Bulan sedikit kaget. Bulan buru-buru menyelesaikan hajatnya. Dan segera keluar dari toilet. Hihihi.
Kedua, saat Bulan dkk di kereta. Karena Bulan berdiri dan  di depannya duduk seorang wanita muda. Cukup ayu dan sopan rupanya. Wanita itu memberikan tempat duduknya kepada Bulan, yang memang rada kelihatan sedikit sepuh, hihihi. Setelah mengucapkan terimakasih dan duduk dengan nyaman, barulah sadar, si wanita itu ternyata waria. Hihihi. Bulan jadi bingung, mana wanita mana pria ya. Hihihi.
Ketiga, saat Bulan dkk di hotel. Kebetulan Bulan sekamar bertiga. Ada salah satu teman Bulan, memang cantik wajahnya. Kali ini ketika di lift bertemu dengan dua orang India. Mereka rada mengamati teman Bulan yang cantik tersebut sampai menuju ruang makan.  Entah gimana. Saat Bulan dkk sudah di kamar hotel, bel pintu kamar berbunyi dan terdengar suara ketukan pintu. Teman Bulan yang cantik itu yang membukakan pintu. Dia berteriak. Bukan kepalang takutnya. Setelah dilihat di depan pintu adalah orang India yang tadi bertemu di lift dengan senyuman yang menyeringai. Dia seketika langsung menutup dan mengunci pintu kemudian berhamburan ke kasur memeluk Bulan. Hiii, sereem. Bulan sebagai yang dituakan rada ikutan takut juga. Akhirnya mereke bersepakat tidak membuka pintu dan membiarkan beberapa saat orang India tersebut. Sampai akhirnya orang itu berlalu dari situ dan tidak nampak lagi sampai keesokan harinya. Bulan dkk padahal sudah berencana akan minta security untuk mengamankan. Hihihi, dramatis ya. Maklum kaum hawa tanpa pengawal, jadinya serba paranoid ya.
Apalagi ya, banyak kayaknya. Tapi lebih banyak senangnya kok. Apalagi pas jalan-jalan dan terutama yang menarik juga adalah ke sungai yang di tengah-tengah kota. Chao Prhaya namanya. Pada malam hari sangat indah dan gemerlap. Pasar malam yang gak pernah sepi, dan di sinilah Bulan dkk memborong banyak souvenir oleh-oleh.  
Lanjut cerita yang kedua ya. Saat Bulan mau konferensi di Malaysia. Inti acara konferensinya gak beda lah sama konferensi lainnya yang Bulan pernah hadiri. Ini pernyataan penerimaan makalah Bulan.  First of all, thank you very much for your extended abstract submission to our International Conference on Information Science (ICIS 2015). ICIS 2015 review procedure has completed. We are delighted to inform you that your manuscript has been accepted for presentation. Your abstract was reviewed by our panel of national and international experts. Based on the evaluations, the reviewers’ comments are enclosed. Begitu kira-kira bunyinya.
Tapi Bulan hendak cerita sisi lainnya ya. Yaitu suka duka perjalanan menuju ke sana. Bulan berangkat dari rumah, diantar suami tercinta menuju bis yang akan membawanya ke bandara. Saat itu  sore hari dan  hujan deras. Setelah lama menunggu bis, baru teringat Bulan, kalau ternyata tiket pesawatnya masih tertinggal di rumah beserta dompet yang berisi KTP dkk. Bulan gak maksimal saat packing, sehingga banyak yang terlewat. Kondisi Bulan saat itu sedang tidak enak badan, flu berat dan pusing. Dengan kasih sayang, sang suami kembali ke rumah—padahal jaraknya sekitar 7 km sekali jalan-, mengambilkan tiket yang tertinggal di tas kecil. Setengah jam kemudian, tiket tersebut sudah berada di tangan Bulan. Setelah berpamitan, mencium tangan dan kening suami, berangkatlah Bulan menuju bandara.
Alhamdulillah perjalanan lancar. Sampailah Bulan di bandara. Dia bertemu dengan teman seperjalanan sekitar tiga orang yang sudah siap check in. Bulan segera menuju counter check in dan apa yang terjadi. Jleb…hampir pingsan. Bulan gak bawa paspor. Teman-temannya pun sampai melongo, gak percaya. Kok bisa. Akhirnya ada yang menawarkan kalau Bulan gak jadi berangkat, biar dia yang mempresentasikan papernya. Oalah Bulan bingung tujuh keliling. Meminta suami tercinta mengantarkan ke bandara pun tidak mungkin. Gak akan terkejar waktunya, hanya ada waktu satu jam ke depan. Akhirnya Bulan menunda keberangkata sampai esok hari. Dan dengan terpaksa teman-temannya berangkat lebih dahulu, menyemangati Bulan sambil saling berpelukan.
Apa yang dikerjakan Bulan. Dia duduk sejenak di sana, sambil menenangkan pikiran. Kemudian menghubungi pihak pertiketan untuk membatalkan keberangkatan hari itu. Setelah bernegosiasi dengan petugas tiket, akhirnya muncul kesepakatan. Tiket Bulan sebenarnya hangus. Dia harus membeli tiket baru yang lumayan juga harganya. Bersyukurnya petugasnya seorang pria muda yang cukup sabar dan pengertian. Apalagi  dia melihat Bulan sepertinya sedang tidak enak badan, plus mereka ternyata tinggal di kawasan yang sama didaerah Depok. Hihihi dunia sempit ya.  Bulan hanya diminta membayar setengaha harga dari tiket baru dan dijadwalkan keesokan harinya, pesawat jam 6 pagi. Alhamdulillah, aahhh Bulan lega.
Setelah itu Bulan menghubungi suami tercinta untuk mengantarkan paspornya sebelum jam 5 pagi. Bulan terlihat menitikkan air mata karena telah merepotkan suaminya tercinta.  Dari seberang telepon genggamnya, sang suami berkata, “Yang sabar ya sayang, ini ujian kamu. InsyaAllah aku antar paspornya, mudah-mudahan jam 4 pagi sudah sampai sana. Istirahat ya, jangan lupa makan yang cukup”. Begitu pesannya. Bulan makin menitiskan air mata, betapa suaminya sangat sayang dan mendukung apapun yang bermanfaat buat Bulan.    
Lengkaplah Bulan menginap di bandara malam itu. Dalam keadaan pening dan flu berat, tidak membuat Bulan bergairah makan. Mencoba tidur di sofa bandara rasanya dingin sekali. Bulan gak bawa selimut. Cari-cari tempat yang agak hangat, akhirnya Bulan tidur di musholla bandara. Merebahkan diri berteman kesunyian. Yak, dramatis perjalanan Bulan hari itu. Hihihi.
Sampailah Bulan di negeri Jiran. Katanya negeri yang bagaikan saudara kandung dengan Indonesia. Kalau jauh ngangenin, kalau dekat “bau …tebak sendiri”. Hihihi. Nah saat pemeriksaan barang, pihak imigrasi rada menyebalkan Bulan. Banyak tanya apa keperluan di sini dll. Mungkin dianggapnya Bulan itu TKW ya, jd dipanggil Indon. Hihihi, sabar ya Bulan.
                Di bandara sana, Bulan dengan kondisi yang masih belum membaik, rada bingung. Sedikit kocar-kacir mencari trasnportasi untuk sampai ke Kampus, tempat berlangsungnya konferensi. Banyak bertanya agar tidak tersesat. Itulah yang Bulan lakukan. Di jalan, iseng-iseng ngobrol sama supir taksi yang mengantarnya, ternyata orang awak, alias orang Pekanbaru. Punya istri orang Jawa. Sudah puluhan tahun tinggal di negeri jiran. Bagi sang sopir, tinggal di Malaysia bukan seperti tinggal di negara lain. Dia beranggapan Indonesia-Malaysia bukan negera berbeda. Baginya sama-sama Melayu, alias Nusantara. Hmmm, Bulan jadi mikir, iya juga sih. Makanya Bulan ketinggalan passport karena dia pikir hanya mau pergi ke Sumatera saja, hihihi.
                Akhirnya, kampus yang dituju sampai juga. Bulan terlambat mengikuti seremonial pembukaan. Bulan dapat jadwal presentasi setelah jam makan siang. Saat itu Bulan tiba tepat jam makan siang. Ndilalah, emang bener ini ujian. Prasmanan hampir habis, hanya tinggal beberapa menu yang tersisa dan Bulan gak terlalu sreg.  Lengkaplah Bulan presentasi dengan perut rada lapar karena dari kemarin belum nafsu makan. Tetapi bertemu dengan teman-teman rombongan Indonesia, sedikit menghapus nelongsonya. Bahkan di berapa kelas presentasi, cukup dinamis dan menyegarkan. Ada dua bahasa yang dipakai, bahas Inggris dan bahasa Melayu. Bahasa Indonesia, tentu saja boleh dipakai. Tetapi Bulan tetap usaha mau pakai bahasa Inggris. Karena masih terbata-bata, ini jadi ajang latihan. Begitu alasannya.
                Bulan dkk menginap di hotel yang sama. Mereka sampai hotel pada sore hari. Selepas beristirahat dan sholat Maghrib, Bulan dkk berencana mencari makan malam. Mereka bersepakat mencari menu  ikan. Ndilalah, menu ini cocok banget buat Bulan. Dia makan dengan lahap  seperti orang yang gak makan beberapa hari. Rasanya Bulan menjadi lebih segar dan membaik. Oalah obatnya cuma makan enak tho ternyata dan cukup stirahat. Dan yang spesial lagi, Bulan dkk siap melancong ke sebelah alias Singapura. Hihihi, sekalian nyebrang, secara konferensi telah usai sambil menunggu waktu kembali ke Indonesia. Selamat berpetualang Bulan. Nikmatnya jadi turis backpakeran. Menginap di masjid dan nongkrong-nongkrong di Merlion Park sambil pepotoan sama si patung Singa. (Oleh Hariyah)


2 komentar:

  1. Luar biasa Bulan. Rezeki akibat rajin nulis call for paper sampai jalan-jalan ke luar negeri. Mantap. Jos...

    BalasHapus
  2. Kisah bulan yang inspiratif. Semoga bisa menular ke pustakawan lainnya termasuk diriku. Amin

    BalasHapus