Sabtu, 02 Februari 2019

Mengenal Perpustakaan Sejak SD

2011 lalu akhirnya saya berkesempatan mendapatkan status mahasiswa. Artinya saya berkesempatan kuliah setelah setahun ‘nganggur’ selepas tamat pendidikan menengah atas. Keinginan kuliah memang sudah ada sedari masih sekolah menengah pertama. Dan, program studi yang saya tempuh adalah Ilmu Perpustakaan jenjang diploma dua.

Mempelajari kepustakawanan memang bukan pilihan utama. Dalih-dalih menjadi pustakawan, profesi macam apa itu pun saya tak tahu sebelumnya. Setelah beberapa kali ketemu dan ngobrol dengan senior melalui berbagai kesempatan, saya menemukan kesamaan dengan sebutan “tersesat di jalan yang benar”. Boleh jadi bukan tersesat, atau bukan tersesat di jalan yang benar, tapi setidaknya istilah ini cukup untuk menghibur diri. Minimal sampai saat ini.

Sementara berstatus sebagai mahasiswa ilmu perpustakaan, saya mencoba mengingat keterkaitan diri dengan perpustakaan. Sejak kapan, apa, siapa, bagaimana dan dimana saya bersinggungan dengan yang namanya perpustakaan. Bukan apa-apa, saya hanya ingin merefleksikannya saja.


Entah kelas berapa saya lupa, mungkin kelas dua atau lima. Setelah mengumpulkan segenap sisa-sisa ingatan yang masih ada, saya susun kata dan kalimat mengisahkan realita. Saat itu tak ada yang memberitahukan kepada saya, apa itu perpustakaan.

Saya dan beberapa teman lelaki memang sering usil main ke belakang sekolah tiap guru belum masuk kelas atau waktu istirahat tiba. Di pojok utara sekolahan yang langsung berbatasan dengan sawah, kami, saya dan teman-teman sering bermain layaknya anak-anak. Dari keusilan kami, sesekali kami memenuhi rasa keingintahuan dari isu sekeliling meski kadang dengan cara yang tak wajar. Gedung di pojok sekolah itu bagi banyak teman menakutkan, mistis, angker, ada hantunya dan sebagainya. Ruangnya memang tertutup, tak banyak orang masuk kesana, bahkan guru, mungkin sesekali ada guru tapi tak lama, begitu sejauh yang kami amati.

Pak Bun, begitu dulu kami menyebut penjaga sekolah sekaligus tukang kebun di sekolah, meski ternyata namanya tak ada unsur kata “bun” sama sekali. Sering kami dapati Pak Bun berada di gedung itu, gedung di pojok sekolah yang ternyata di dalamnya saat ini saya sebut perpustakaan. Kami belum bisa menjangkau isi ruang gedung yang diisukan mistis dan angker itu. Kecuali Pak Bun dan mungkin beberapa guru, tapi kami tak yakin Bapak atau Ibu guru mengetahui. Dalam berbagai kesempatan, kami beberapa kali mencoba ‘ngintip’ dari sela-sela kaca jendela yang dicat warna gelap. Coklat tua atau apa warnanya saya sudah lupa. Kami menemukan tumpukan buku walau sebenarnya tak yakin dengan hasil temuan pengintipan hari itu.

Keusilan kami yang sering main di belakang gedung di pojok sekolah tercium oleh Pak Bun. Pernah kami dipergoki Pak Bun saat mengintip celah jendela kaca yang dicat warna gelap itu. Sontak saya dan teman-teman lari ‘sipat-kuping’ terbirit-birit. Kejadian itu justru sebenarnya menguatkan rasa penasaran dan kecurigaan kami. Pasalnya ada isu lain di luar keangkeran gedung pojok sekolah. Disisi lain kami sempat takut dan tidak ingin melanjutkan investigasi untuk mengetahui apa sebenarnya yang ada disana.

Sejak kejadian itu, cukup lama kami tak bermain di pojok belakang sekolah. Kami hanya main layaknya teman pada umumnya. Di kelas, jajan di pinggir jalan atau sekedar main bola di halaman sekolah. Entah angin apa yang berhembus, atau setan apa yang merasuki pikiran kami. Kami memutuskan melanjutkan investigasi dan memuaskan rasa keingin-tahuan yang pernah melanda. Kami putuskan kembali ke pojok belakang sekolah jika ada kesempatan.

Sekolah kami kekurangan guru, dan korbannya adalah kelas saya yang gak kebagian guru. Sementara guru olah raga dan guru agama saat itu tidak hanya mengajar di sekolah kami. Kelas sering kosong, kecuali termat ramai karena kegaduhan hingga guru kelas sebelah datang sekedar memberikan tugas. Ini kesempatan. Kesempatan ini kami gunakan untuk melanjutkan penelusuran. Kami kembali ke markas.

Pada kesempatan itu, kami mencoba memberanikan diri bertemu Pak Bun secara langsung. Kami mencoba dengan ‘modus’ ingin meminjam buku. Meski sebenarnya kami belum yakin apakah disana benar ada buku yang boleh dipinjam. Paling tidak kami mencoba supaya bisa masuk. Untuk kemudian tahu apa yang ada disana, menjawab rasa keingintahuan kami. Menyatakan apa yang menjadi isu, mencari bukti. Menguak misteri.

Setelah memastikan Pak Bun ada di ruang itu, kami bersama-sama dengan segenap tekad yang ada untuk masuk. ‘Celingak-celinguk’ memperhatikan sekitar yang berisi tumpukan barang tak terpakai, satu diantara kami atau secara bersamaan berkomunikasi dengan Pak Bun menyampaikan maksud (alibi) meminjam buku. Gayung bersambut, kami diantar ke sebuah ruang kecil di ujung gedung. Pintunya dikunci dengan gembok. Setelah Pak Bun membukanya, benar saja kami menemui bertumpuk-tumpuk buku disana. Terang, ini sesuai dengan penglihatan kami saat mengintip tempo lalu. Tanpa basa-basi kami langsung masuk, agar supaya Pak Bun tidak curiga.

Dengan mengiyakan arahan Pak Bun untuk tidak mengacak-acak tempat acak-acakan itu, kami memilih buku asal-asalan. Berikutnya Pak Bun meninggalkan kami dalam ruang itu, kemudian rasa takut dan curiga pun datang. Cepat-cepat kami membawa buku yang terpilih dan segera menemui Pak Bun di tempat duduknya seperti saat pertama kami temui dekat tempat pencucian peralatan dapur. Kami mencukupi kesempatan pertama dengan ‘wanti-wanti’ seminggu lagi bukunya harus dikembalikan. Kami kembali ke kelas.

Belum ada seminggu sejak hari itu, saya mengajak teman-teman kembali ke gedung pojok sekolah. Di ruang yang berisi lemari dengan banyak dokumen di dalamnya, barang-barang bekas hasil kerajinan tangan, berbagai peralatan tak terpakai di ruang tengah, kursi dan meja berisi beberapa gelas dan piring, tempat pencucian dan kamar kecil dalam yang kemudian saya ketahui juga ada bak air yang mengisinya dari luar, dari sumur di belakang gedung. Satu ruang di pojokan yang hari ini saya sebut perpustakaan serta satu ruang terkunci di sebelahnya. Dari kesempatan kedua ini, kami sudah bisa memetakan seisi gedung itu walau tak begitu detail. Aura mistis dan angker masih melekat yang menjadikan kami belum berani berlama-lama disana.

Masih dengan alibi bin modus yang sama, kami kembali menjemput kesempatan berikutnya. Berpura-pura mengembalikan buku dan meminjam buku lainnya, kami masih berusaha mencari bukti atas isu, mencari kebenaran yang tersembunyi. Kekurangan guru membuat kami memiliki kesempatan lebih untuk bermain di pojok sekolah. Sampai akhirnya saya berkesimpulan, tempat itu tidak angker, mistis sebagaimana isu yang berkembang, hanya saja tempat itu tidak sering dijadikan tempat beraktifitas, kecuali penghuni tunggal yaitu Pak Bun.

Ternyata oh ternyata, sedari sekolah dasar saya sudah bersinggungan dengan perpustakaan. Saya tahu hari ini bahwa saat itu bukan pustakawan yang melayani peminjaman. Penjaga tempat yang saya namai perpustakaan itu bukan lah pustakawan.

Pertanyaan saya hari ini adalah fungsi pustakawan apa dan mana yang tidak bisa digantikan oleh mereka yang bukan pustakawan?
Ataukah benar hasil perenungan Paijo bahwasanya setiap orang adalah pustakawan? Entahlah. Ingin saya bertanya tapi kepada siapa.

Bagaimana saya bersinggungan dengan perpustakaan di sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan saat duduk di selasar perguruan tinggi?. Nantikan tulisan berikutnya.

4 komentar:

  1. Ceritanya mirip saat aku SD 20 tahunan yg lalu..
    Tulisan yang keren..

    BalasHapus
  2. Mau buat pengakuan; SD kayaknya sekolahku gak ada perpusnya, SMP pernah ke perpus itungan jari, pas SMA malah lebih parah gara-gara pernah dimarahin tanpa alasan jelas oleh penjaga perpusnya langsung bersumpah nggak pernah mau dateng ke perpus SMA lagi. Endilalah....sekarang malah jadi pustakawan SMA, mungkin ini yang namanya karma, hahahaha... :D

    BalasHapus