Kamis, 07 Februari 2019

Meruntuhkan Hegemoni Pemaknaan Pustakawan

Jaquest Lacan selalu memandang objek sebagai objek hasrat dan juga objek penyebab hasrat. Objek penyebab hasrat adalah apa yang dicari subjek hasrat saat menghasrati suatu objek hasrat. Objek hasrat adalah botol. Sebuah pemaknaan botol sebagai wadah air minum merupakan objek penyebab hasrat. Objek penyebab hasrat bukanlah objek dalam-dirinya-sendiri, melainkan objek untuk diri kita. Kehadiran objek inilah yang justru menjadikan botol sebagai objek hasrat hilang.
Contoh yang sangat menggelikan adalah maraknya Tab HP sebesar telenan yang marak dimiliki klas menengah baru, pada awal berkembangnya smartphone, Tab yang kita mengerti sebagai alat komunikasi pada kenyatannya bisa digunakan sebagai alat kipas ibu ibu arisan ketika kepanansan. Tab juga dipakai sebagai dasar untuk menulis catatan.
Dalam konsep Lacanian, kesalah-mengertian (meconnaissance) berbeda dengan ketidaktahuan (ignorance). Di balik kesalah-mengertiannya, subjek tau pengetahuan macam apa yang disalah-mengerti.
Sebagai masyarakat modern, kita tentu saja melihat fenomena itu sebagai hal yang menggelikan. Namun pada saat itulah kita menyadari kehilangan familiaritas objek akibat makna kita sendiri dan menjadikan objek tersebut tak familiar bagi diri kita. Semuanya terjadi tiba-tiba seakan-akan objek mengguncang dan meninggalkanmu dengan mendisorientasi makna kebingungan dan ketidakpastian. Itulah yang dinamakan Keganjilan (Uncanny).

Meruntuhkan Hegemoni Pemaknaan Pustakawan
Sejatinya memang tidak ada pemaknaan tunggal dari sebuah objek. Objek-dalam-dirinya-sendiri memang selalu dimaknai oleh orang yang mengetahui objek. Pengetahuan yang dimengerti tentang objek ironisnya merupakan sebuah kesalah-mengertian. Kesalah-mengertian dari objek ini memang akan selalu terjadi setiap kita mengenali apapun termasuk diri kita sendiri. Dalam konsep Lacanian, kesalah-mengertian (meconnaissance) berbeda dengan ketidaktahuan (ignorance). Di balik kesalah-mengertiannya, subjek tau pengetahuan macam apa yang disalah-mengerti.
Begitulah Pustakawan sebagai sebuah objek Lacanian tidak hanya dipandang sebagai profesi itu sendiri (das-ding-an-sich). Pustakawan mendapatkan maknanya sebagai seseorang yang berprofesi menyimpan-pinjamkan buku. Pengertian apapun terhadap fungsi baru seorang pustakawan hanya membuat pustakawan kemudian semakin disalah-mengertikan.
Stereotip justru menyandera subjek untuk mengaburkan pandangannya tentang pustakawan. Makna pustakawan menjadi statis dan sempit. Sialnya stereotip ini kemudian dibungkus dengan hegemoni pendefinisian pustakawan yang terbelah. Pustakawan PNS disatu sisi, pustakawan swasta disisi lainnya. Negara melalui undang undang perpustakaan mendefinisikan “pustakawan”, hanya dari kacamata mereka yang berjaket pustakawan berplat negeri. Adanya tunjangan dan jenjang fungsional cuma menyentuh tubuhnya. Subjek tersandera dan terfiksasi terhadap suatu objek dalam fungsi tersebut. Fenomena tersebut diperparah dengan stereotip sempit, bahwa yang namanya pustakawan pustakawan  adalah profesi pengelola "buku ansich". Hal ini membuat beberapa generasi “pustakawan” yang mengelola media baru serasa tidak lagi menjadi bagian dari keluarga besar pustakawan. Mereka nyang mempertanyakan "who am i ?" kemudian terjebak pada fantasinya sendiri. Fantasi yang tumbuh, karena mereka merasa kehilangan. Kehilangan sesuatu yang “real” sebuah kepustakawanan yang egaliter.
Suatu saat Hapsari yang secara subtansi bekerja sebagai “pustakawan digital” di perusahaan swasta, diundang atas kebaikan Kepala Perpustakaan Nasional , Bapak Hernandono untuk mengikuti raker perpustakaan nasional. Semua peserta mayoritas pustakawan PNS, hanya Hapsari dan beberapa rekan muda yang mewakili swasta.
” Saya ada, tapi saya serasa tak (di)tampakkan. Saya sudah bicara tapi tak didengar. Saya ada, tapi saya tak paham apa yang dibahas juklak, peraturan tatalaksana kepegawaian dll; sergah sambil tersenyum lirih “
Bisa jadi Hapsari hadir di ruang yang salah. Atau sebaliknya, ketika ngomongin tentang kepustakawanan ada baiknya membuka ruang yang plural agar bisa nyambung. Fenomena ini diperkuat oleh Puwoko (2018), pustakawan UGM yang berpendapat bahwa semua manusia adalah pustakawan:
"Pustakawan yang sesungguhnya, adalah semua manusia yang tersebar di dunia ini. Mereka adalah pustakawan bagi dirinya sendiri. Mereka semua memiliki cara mereka masing-masing untuk mencari, menyimpan, mengolah dan menemukan kembali informasi serta menyebarkan kembali pada orang lain. Cara mereka unik, yang mungkin berbeda satu dan lainnya, dan mungkin hasil pencariannya juga akan berbeda."

Lantas, apa obat mujarab agar fantasi ini hilang? Fantasi ini adanya di mind. Untuk membunuh fantasi, bicaralah seolah olah tidak ada lagi fantasi. Berhimpunlah dan suarakan keberagaman, keberjamakan kepustakawanan Indonesia. Munculkan pelangi indah kepustakawanan Indonesia yang warna warni. Dari situlah ide ini bermula. Kita himpun Pustakawan Blogger  dan menggempur dunia medsos melaui tulisan warna warni pustakawan Indonesia. 
Tabik

3 komentar:

  1. MAntap mas yogi...ayo pustakawan kita bersatu meruntuhkah hegempni pemaknaan pustakawan....supaya semua orang tau pustakawan juga manusia yg memiliki hasrat...dan jiwa pengabdian....

    BalasHapus
  2. MAntap mas yogi...ayo pustakawan kita bersatu meruntuhkah hegempni pemaknaan pustakawan....supaya semua orang tau pustakawan juga manusia yg memiliki hasrat...dan jiwa pengabdian....

    BalasHapus