Sabtu, 09 Maret 2019

Pustakawan VS Kepala Perpustakaan Sekolah

Oleh: Veny Fitriyanti
Sebagai pustakawan di perpustakaan umum, kegiatan membina perpustakaan sekolah merupakan salah satu kegiatan rutin yang selalu saya lakukan setiap tahun.
Mengajarkan mereka tentang tata cara mengelola perpustakaan sekolah, mulai dari mengolah buku, sirkulasi buku, merawat buku, program kerja hingga membuat buku laporan perpustakaan.
Dalam peraturan sistem pendidikan nasional dimana guru yang sertifikasi tapi tidak memiliki jam mengajar 24 jam dapat mengambil tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan sekolah, akan mendapat tambahan 12 jam.
Mungkin peraturan ini bertujuan baik agar Perpustakaan Sekolah terurus, tidak terbengkalai dan jadi tempat nongkrong makhluk halus kali yah.
Peraturan ini lah yang membuat para guru sertifikasi yang tidak punya 24 jam datang berbondong-bondong ke perpustakaan umum kabupaten untuk meminta saya diajarkan segala hal tentang perpustakaan. Boro-boro punya latar pendidikan ilmu perpustakaan, banyak dari mereka tidak pernah sekalipun mendapatkan pelatihan perpustakaan sekolah.
Sebagai pustakawan yang ada di Perpustakaan Umum Kabupaten, saya lah yang bertugas mengajari mereka.
Pertanyaan nya adalah :
Apakah Perpustakaan Sekolah Semakin Baik?”
Jawaban saya adalah bisa YA, bisa TIDAK, bisa juga OMG GAK BANGEEETZZZ
Bisa dikatakan saya pernah di tahap putus asa. Bahkan ogah ngajari mereka karena PERCUMA. Sebab, saya udah ngomong panjang kali lebar kali tinggi (kok jadi rumus luas balok๐Ÿ˜…). Tetap aja perpustakaan mereka tak tersentuh tangan manusia (kalo tangan jin udah beda cerita dah).
Plis jangan tanya upahnya saudara-saudara. Smua ini Gratis bahkan bahan materi yang diberikan pada mereka gratis biaya kantor.
Beda kalo program tahunan pembinaan perpustakaan sekolah door to door, saya diberi Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) tapi ini hanya untuk Sekolah Pelosok (sekolah sangat terpencil).
Tapiiiii ujung-ujungnya sama aja banyak yang tidak berubah, sedikit sekali yang mau berubah. Akhirnya saya jadi “down” terhadap Perpustakaan Sekolah.
Penyebabnya bisa bermacam-macam tapi saya lebih menjabarkan dari segi Jenis-jenis/tipe-tipe Kepala Perpustakaan Sekolah.
1. Pemburu sertifikat
Jangan ditanya sumber intel berita dari mana, mereka ini selalu tahu tentang pelatihan perpustakaan sekolah. Terkadang mereka rela membayar bahkan loncat bahagia kalo gratisan. Tapi ujung-ujungnya gak ngaruh tuh dengan perkembangan perpustakaan nya sendiri. Mau berantakan kayak kapal titanic ato susun buku yang penting rapi, bodo amat tentang inventaris, klasifikasi, dll. Bahkan saat belajar diklat ato pemberi materi, dia ilang entah kemana. Yang penting SERTIFIKAT!
2. Tipe Penyakitan
Nah yang ini Kepala Perpustakaan Sekolah hampir di ujung tanduk PENSIUN, atau yang divonis penyakit kronis entah jantung, darah tinggi, stroke pokoknya gak ngajar lagi tapi usia blom mendekati pensiun. Tipe yang beginian ibarat pepatah “layu sebelum berkembang”. Ngajar tentang perpustakaan pada tipe ini udah kayak sekedar kewajiban amal jariyah aja. Karena jelas kemungkinan untuk mengubah perpustakaan nyaris nol.
3. Tipe “What The Hell, I Dont Care
Kalo tipe ini, bikin saya garuk dinding berkali-kali plus pengen jedotin kepala. Karena jangankan untuk perhatian tentang perpustakaan, sekedar mengunjungi perpustakaan aja gak pernah. Tapi jangan tanya uang sertifikasi nya lancar kayak air selalu diterima. Mo ngajarin stafnya yang status anak bakti hanya digaji dari dana bos 300rb saja tapi tidak memiliki kebebasan untuk membuat keputusan merubah perpustakaan. Ujung-ujungnya saya akan menyanyikan lagu Abdullah (๐Ÿ˜‚gak nyambung emang)
4. Tipe More Niat Less Action
Tipe yang begini nih, saya kasih tambahi julukannya yaitu Kepala Perpustakaan Sekolah tipe PHP. Pemberi Harapan PALSU, saat saya ajarin tentang perpustakaan, beugh…! omongannya untuk mengubah perpustakaan udah mirip kayak CALEG. Tapi saat saya datang melihat perubahan dan perkembangan perpustakaan nya NOL BESAR. Mulai lah saya akan menyanyikan lagu sayur koooooool…sayur kooooool (pustakawan stres๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ)
5. Tipe Duet Maut
Ini perpustakaan ato manggung nyanyi sih sampe pake ada kata “duet maut”. Kalo biasanya duet maut itu menghasilkan sesuatu yang spektakuler ke arah yang lebih positif. Akan tetapi ini lebih ke arah negatif. Kenapa? Kemajuan perpustakaan merupakan hubungan kerjasama antara Kepala Perpustakaan Sekolah dengan Kepala Sekolah. Karena beliau memiliki kewenangan atas Dana Operasional Sekolah. Terkadang saya menemukan seorang Kepala Perpustakaan Sekolah yang niat untuk mengubah perpustakaan sekolah dari yang jelek ke arah yang lebih baik. Akan tetapi tidak di support oleh Kepala Sekolah yang memiliki konsep pemikiran bahwa perpustakaan sekolah itu gak penting. Sehingga semangat kepala perpustakaan sekolah layu dan padam untuk mengubah perpustakaan sekolah.
6. Tipe Truly, Deeply, almost Pustakawan sejati
Walaupun tipe ini sangat amat sedikit sekali (lebay dah gue). Tapi bisa membuat semangat saya dari 0% bisa loncat jadi 100%. Ini beneran loh, apa yang saya ajarkan benar-benar diterapkan nya di perpustakaan sekolah. Apa yang saya sarankan untuk membuat ini itu dikerjakan dengan semangat. Ditambah dukungan Kepala Sekolah yang memberi dana serta kebebasan untuk mengubah perpustakaan sekolah. Saya benar-benar menghargai orang yang seperti ini. Efeknya tak sedikit yang iri dengan perhatian saya sebagai pustakawan dalam membina mereka. Karena setiap kegiatan pelatihan, lomba, dan kegiatan apapun itu selalu mereka duluan yang mendapatkan info.
Perpustakaan sekolah
Perpustakaan sekolah

Mungkin bagi teman-teman pustakawan yang lain ada yang tidak setuju dengan saya terhadap tipe-tipe ini. Mungkin ada yang angguk-angguk plus senyum ketawa-ketawa membaca artikel ini berarti tos! dulu kita senasib sependeritaan.๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.
Mudah-mudahan tulisan saya ini tidak dihujat, dicaci, dihina dan dijilat (say whaaaat๐Ÿคจ๐Ÿคจ). Ini cuma sharing pengalaman aja dan semoga para pustakawan yang selalu membina perpustakaan sekolah tetap semangat dan tetap berusaha mengubah perpustakaan sekolah lebih baik lagi.
Salam Literasi!!!!
Dari Pustakawan Bergerak

5 komentar:

  1. Mantap kali ini tulisan Kak Veni. Di kehidupan nyata memang ditemui kepala-kepala perpustakaan sekolah seperti jabaran di atas. Mau nambah satu lagi: tipe pembuangan SDM yang kadang nggak bisa apa-apa atau bermasalah, solusinya malah ditaro di perpus sekolah, hahaha.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
  2. Hahahahaha makasiu luckty����
    Tenyata di perpustakaan sekolah termasuk tempatnya tong sampah pegawai bermasalah yah kakak pikir cuma di perpustakaan universitas dan dinas perpustakaan.

    BalasHapus
  3. Aku penasaran sama hal" tentang pustakawan sejak baca postingan siapa yah, lupa. Aku jdi penasaran pustakawan tuh kenapa, ngapain aja, gimana caranya bsa smpe jadi seorang pustakawan dan seberapa banyak perjuangannya dan ternyata memang penuh perjuangan.

    Aku suka sih kak kalo soal masuk perpus baca". Tapi perpusnya yg gak ada kwke.
    Masa iya, setiap setengah tahun bayar uang 200K buat perpustakaan, tapi buku gak nambah, tempat pun acak"an bikin males banget kan masuk perpus sekolah.

    Btw, tipe nmor 4 kok bkin greget ya kak๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
  4. Hi bintang makasih udah komen.
    Terkadang saya juga heran ada uang tapi untuk beli buku fiksi kok susaaaaah BANGEEETZZZ. Padahal buku novel seken banyak, sebulan beli 100k aja udah banyak dlm setahun. Tapi herannya gak ada yg mikir begitu.
    Kalo saya, tipe no 3 dan 4 bikin gregetan dan desperate librarian ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

    BalasHapus
  5. Hemhh bikin kesel banget kan ya kalau kaya gitu mah kak.. Hihi

    BalasHapus