Jumat, 17 Mei 2019

Serunya Bibliobattle di Ramadhan Kareem


Ini menjadi hari yang terberkati bagi Bulan sang Pustakawan.  Apa gerangan?  Tepatnya 15 Mei 2019, Bulan dan teman-teman di perpustakaannya berhasil mengadakan sebuah acara yang cukup atraktif, seru dan menarik perhatian. Acara perdana yang belum ada sebelumnya. Tepatnya di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, seolah menjadi suasana yang turut meliputi keberkahan dan kegembiraan acara ini.

Gagasan untuk membuat acara ini sudah lama bergelayut di benak Bulan. Tapi Bulan masih bingung bagaimana memulainya. Situasi dan kondisi saat itu belum memungkinkan untuk bergerak. Ndilalahnya, saat itu temannya yang bekerja di perpustakaan Japan Foundation menghubunginya untuk mengikuti acara Bibliobattle. Temannya tahu kalau Bulan memiliki beberapa buku yang sedang dibacanya. Begitu pula temannya Bulan ini juga mengontak teman-temannya yang lain untuk mengikuti kegiatan ini. Dari teman-temannya itu, Bulan kenal beberapa orang yang memang suka dan hobi membaca buku.

Sampailah Bulan pada kesempatan untuk menguatkan dirinya mengusulkan kegiatan ini pada pimpinan. Sebelum melaporkan pada pimpinan tentang rencana kegiatan ini, Bulan sudah memastikan bahwa konsep acara yang sedang direncanakannya ini sudah jelas. Bulan mencontoh temannya yang pernah mengadakan acara ini di perpustakaan Japan Foundation dengan cara terlebih dahulu mengontak calon peserta potensial.

Pertama-tama Bulan mencari calon peserta yanag berpotensi bisa mengikuti bibliobattle. Menggunakan buku pengunjung perpustakaan untuk mencari nama-nama peserta yang potensial, rupanya cukup membantu. Setelah beberapa pemustaka dihubungi, ada yang bisa, ada yang tidak, ada yang masih ragu-ragu, ada yang gak pede, ada yang gak siap, ada yang tiba-tiba dapat tugas luar kantor dan beragam alasan lainnya. Bulan tidak patah semangat. Bulan hanya perlu lima nama saja yang potensial.

Setelah hunting para pemustaka--yang notabene adalah pegawai di lembaga tempat Bulan bekerja di mana sebagiannya sudah Bulan kenal--akhirnya daftar nama peserta pun terkumpul.  Bulan mencoba menjelaskan konsep bibliobattle supaya peserta paham acara yang akan diikutinya. Undangan acara baik tercetak maupun pdf dikirimkan ke mereka.  Bulan pun  membuat infografis dengan canva (maklum pustakawan yang satu ini baru bisa pake canva.com,  itu pun belum professional) dan sedikit catatan tentang apa itu bibliobattle di-share ke calon peserta tersebut.  

Hari H semakin mendekat. Bulan me-reminder calon peserta. Bulan dan teman-teman panitia juga mengkordinir teman-teman yang ada di unitnya untuk menghadiri acara bibliobattle ini. Semua informasi tentang kegiatan ini baik yang dibuat dalam bentuk infografis atau narasi singkat, di share ke semua grup wasap yang ada di kantornya,  ke media sosial yang dimilki perpustakaan hingga website lembaga.  Wah pokoknya media apa saja dipakai deh.

Taraaa…hari H pun tiba. Selalu ya, setiap acara gak ada yang mulus, pasti selalu ada saja satu dua kendala. Tetiba pagi-pagi peserta dari Bimas Budha berhalangan hadir. Mendadak ada tugas dari pimpinan yang tidak bisa ditinggalkan. Tinggalah Bulan bingung, siapa ya penggantinya. Sebenarnya empat peserta saja gak masalah, tapi Bulan berusaha cari pengganti. Walhasil orang yang dimaksud ketemu juga. Entah kenapa tetiba Bulan ingat pernah melayani pemustaka dari Bimas Hindu. 

Mencoba menghubungi dan mengajaknya untuk kegiatan bibliobattle dan ternyata responnya cukup baik, padahal Bulan yakin pemustaka ini belum paham banget konsep acara yang dimaksud. Demi memberikan informasi yang lengkap dan sejelas-jelasnya, pagi sebelum acara dimulai, Bulan mengirimkan rekannya menemui peserta tersebut di lantai 15, memberikan undangan dan menjelaskan acara yang dimaksud. Uniknya peserta ini memang tidak punya HP android, sehingga Bulan tidak bisa wasap dan share informasi secara cepat dan jelas. Tapi misi ini beres. Lengkap sudah peserta ada lima orang. Ada dari Balitbangdiklat, ada dari Bimas Islam, PKUB (Pusat Kerukunan Umat Beragama), BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) dan dari Bimas Hindu tersebut.

Tepatnya di lantai dua ruang sidang perpustakaan, acara ini digelar. Setelah dibuka oleh kepala bagian dan Bulan pun sudah menyampaikan aturan main acara ini, maka mulailah satu persatu para peserta atau presenter menyampaikan review buku vaforitnya selama lima menit di hadapan penonton yang kurang lebih sekitar 25 orang. Kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab selama dua atau tiga menit, begitu seterusnya sampai peserta ke lima. Hingga diakhiri dengan vote dari para penonton dan juga peserta, siapakah yang mendapat suka atau like  terbanyak  dengan mengangkat tangan mereka untuk masing-masing presenter.

Begitulah acara bibliobattle ini  akhirnya bisa terwujud. Walaupun penonton tidak banyak tetapi cukup ramai dan meriah. Suasananya pun cukup cair, akrab,  dan ramah.  Buku yang direview oleh peserta pun menarik semua. Ada Ensiklopedia Juz Buah dan Sayuran untuk Pengobatan karya Abednego Bangun, Atomic Habits karya James Clear, Buku Sastra Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Energi Ilahi Tilawah karya Subhan Nur dan Novel Ayah karya Andrea Hirata. Bulan merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Banyak hal atau kejadian unik yang terjadi di sini. Dan Bulan banyak mengambil hikmah yang sangat berharga dari sini.  Apa sih yang unik-unik tersebut.

Unik pertama, saat Bulan memanggil presenter pertama (meski tidak dibuat nomor urut peserta), dengan serta merta presenter dari Bimas Hindu, sebut saja Ibu Made maju sebagai presenter pertama. Seperti apa sih profil Ibu Made. Ibu Made peserta yang paling tua usianya, dua tahun lagi akan pensiun. Beliau berperawakan kecil bahkan cenderung kurus. Bicaranya lambat dan pelan. Beliau generasi X berarti ya, salah satunya terlihat dr HP nya yang jadul yang penting bisa buat  nelpon, gak punya wasap, gak ada email dan sejenisnya hihihi.

Tetapi beliau senang membaca buku. Sebagai Pustakawan Bulan mengamati Ibu Made ini senang membaca tentang  dua hal, yakni tema kesehatan dan tema keagamaan. Uniknya buku keagamaan yang dibacanya adalah buku keagamaan Islam bukan buku keagamaan Hindu sesuai dengan keyakinannya. Sempat Bulan ngobrol dengan beliau tentang kesukaannya membaca buku keagamaan Islam, kata beliau karena dua hal: pertama dulu waktu sekolah dasar pernah diajar oleh guru beragama Islam, orangnya sangat baik dan berkesan bagi beliau hingga kini, yang kedua keinginan yang tidak bisa dijelaskannya sendiri kenapa beliau suka dengan buku keagamaan Islam.

Kembali pada biblioibattle, Ibu Made menyampaikan buku yang dibacanya tentang Juz Buah dan Sayuran untuk  Kesehatan. Menariknya apa yang disampaikan dalam buku itu sudah dipraktekan sendiri oleh Ibu Made ini. Beliau menyampaikan bahwa dirinya kekuarangan Ph dan minyak dalam tubuh. Karena itulah dirinya terlihat sangat tua, kurus, kecil bahkan sempat wajahnya seperti tengkorak saking tidak adanya daging. Beliau bahkan memasrahkan dirinya jika harus segera menghadap Yang Maha Kuasa.

Tetapi takdir berkata lain. Sedikit demi sedikit beliau mulai pulih, wajahnya mulai nampak segar, badannya mulai berisi, jalannya mulai tegap. Inilah salah satunya berkat buah dan sayur yang menjadi terapi kesehatannya. Yang bukunya beliau presentasikan, yang bukunya adalah juga koleksi perpustakaan. Luar biasa. Bulan juga penonton lainnya sampai terpana dan  ternganga mendengarkan kisah beliau. Karena beliau tidak tuntas menyampaikan bukunya dalam lima menit, maka mengundang penasaran penonton, banyak yang akan  bertanya, tetapi waktu tiga menit yang membatasi. Seru sekali sesi awal ini. Seisi ruangan bergemuruh karena tepuk tangan penonton atas penampilan Ibu Made yang luar biasa.

Unik yang kedua adalah, saat presenter kedua sedang menyampaikan review bukunya, pimpinan Bulan yang eselon dua, yang juga Sekretaris Balitbangdiklat, yang juga seorang professor,  turut menghadiri acara ini, turut bertanya jawab dengan presenter dan  menyaksikan acara ini hingga akhir. Wow, ini adalah dukungan moril yang luar biasa. Sedikit ada pimpinan yang mau meluangkan waktunya diantara kesibukannya yang cukup padat, untuk menghadiri acara seperti ini. Itu artinya acara bibliobattle ini menarik dan mengundang penasaran pimpinan. Kereen.  

Unik yang ketiga adalah presenter keempat, yang mereview bukunya sendiri. Sebut saja Bapak Nur. Selama ini Bulan mengamati  beliau sebagai pemustaka yang rajin ke perpustakaan dan rajin pula meminjam buku. Hanya sebatas itu. Tetapi ternyata  beliau juga seorang penulis. Sudah lima buku yang ditulisnya. Salah satu yang dipresentasikan pada acara ini adalah Energi Ilahi Tilawah. Buku ini menjadi menarik karena bukan semata teori tetapi ada penelitian dalam buku ini yang kemudian relasinya ke  terapi kesehatan khususnya penyakit asma. Penonton pun dibuat penasaran dengan buku ini dan banyak pula yang bertanya walaupun waktunya tidak memadai. Bahkan pimpinan sampai mengusulkan buku ini dibedah khusus dalam acara bedah buku selanjutnya. Kereen.

Unik yang keempat, Bulan hampir mengenal semua penonton acara bibliobattle. Diantara mereka ada yang  gak suka baca buku, ada yang pendiam, ada yang pemalu, ada yang cuek dan sejenisnya. Tetapi mengikuti acara bibliobattle ini membuat mereka mau bertanya, mau merespon, mau berkomentar, mau berbagi pengalaman dan sebagainya. Wah ini luar biasa. Suatu yang harus terus dibudayakan. Ini menjadi ajang berbagi pengetahuan, pengalaman, belajar bebicara, belajar manajemen waktu dan banyak lagi. Contoh Ibu Made, walaupun sudah tua mau berbagi, tidak malu, percaya diri, dan mau belajar. Tentu ini contoh dan praktik baik buat yang muda-muda. Ini menjadia awal bergeliatnya budaya baca di lembaga Bulan sesuai moto bibliobattle yaitu Know People through Books, Know Book Through People  (Mengenal orang melalui buku, mengenal buku melalui orang).

Unik yang kelima adalah follow up dari acara ini. Atas usulan Bulan kepada pengelola website lembaga dan disetujui pimpinan, maka para peserta bibliobattle diberikan kesempatan untuk menuliskan review bukunya dan akan dimuat di website lembaga dengan diberikan honor penulisan. Wow, ini nih ibarat gula yang akan didatangi semut, hihihi.

Dan unik yang keenam adalah, acara ini di Bulan Ramadhan Kareem, bulan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat Allah SWT. Semoga acara ini menjadi media kebaikan buat bersama, acara yang mendapat keberkahan dariNya, dan menjadi acara yang bisa dirutinkan. Bulan jadi teringat pada Bulan Ramadhan ini pula lah pelantikannya sebagai pejabat fungsional pustakawan bermula. (Hariyah A.)


Minggu, 12 Mei 2019

Masihkah kita Rahmatan Lil Alamin??



oleh:
Sirajuddin, S. PD. I., S. IPI., M. PD. 
(Pustakawan Iain Parepare)


Bulan Ramadhan sebagai penghulu dari segala bulan Sayyidussyuhur yang seyogyanya menjadi bulan terbaik untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi diri sehingga kita termasuk orang-yang kembali fitrah setelah menjalani serangkaian ritual ibadah Ramadhan dan.....  "Rahmatan lil alamin" menjadi prasa populer yang sering muncul dari mulut para penceramah dan selalu jadi wacana.

Rahmatan Lil Almin secara umum difahami sebagai ajakan kepada kebajikan dan kebaikan da Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai subyek Rahmatan lil alamin (pembawa rahmat bagi seluruh manusia) sehingga dalam hal ini Allah mendelegasikan kepada sang manusia terpilih Rsulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perintah: “Dan tidaklah engkau (Muhammad) diutus ke muka bumi ini kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya: 107).

Inkonsistensi dan tidak istiqamahnya  (dibahasakan tidak ikhlas) manusia dalam melakoni tugas sebagai pengikut yang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagai manifestasi (perwujudan) dari penghambaan kepada sang pencipta  menjadi penyebab kerusakan di muka bumi.

Melalui opini ini penulis lebih jauh menyorot tentang eksistensi manusia dan intervensi manusia terhadap lingkungan sekaligus menggugat keislaman kitaR

Rusaknya Bumi dan Lingkungan

The World Risk Report yang dirilis German Alliance for Development Works (Alliance), United Nations University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) dan The Nature Conservancy (TNC) pada 2012 pun menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya risiko bencana di suatu kawasan.

Kerusakan bumi dan alam disebabkan oleh pristiwa alam (seperti tsunami dan angin puting beliung ) dan ulah manusia,  peristiwa Disteriorasi atau penurunan mutu lingkungan yang ditandai dengan berkurangnya sumber daya tanah, air, udara, punahnya flora dan fauna liar, dan kerusakan ekosistem. Kerusakan lingkungan hidup ini memberikan dampak langsung bagi kehidupan manusia.

Jika kita evaluasi lebih jauh kita akan menemukan bahwa kerusakan bumi ini karena intervensi (campur tangan) dan aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan seperti perusakan hutan dan alih fungsi hutan, pertambangan, pencemaran udara, air, dan tanah dan lain sebagainya.

Allah sudah mewanti wanti dalam sebuah firmannya: Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum/30:41)

Eksistensi dan kontribusi manusia dalam menjaga dan merawat lingkungan adalah sebuah keniscayaan dengan kesiapan sumber daya manusia (human resourch) hingga Rasulullah menitipkan pesan bahwa"Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." (HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).M

Meretas Kesadaran

Ajakan hidup aman lahir secara primordial Dan menjadi tuntutan bathin yang seharusnya disupport oleh kebiasaan peduli terhadap lingkungan, sehingga tidak perlu lagi ada tulisan ..... "Dilarang membuang sampah, peliharalah kebersihan lingkungan, dan masih banyak lagi" yang terlihat di sekitar kita.

Dibutuhkan Konsistensi dan komitmen manusia dalam memelihara alam itu agar tetap seimbang (al mizan) dan terhindar dari bencana alam.  Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS ar-Rahman [55]: 7-9).
Dalam hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud Rasulullah juga menyampaikan "jangan mengotori dan merusak tempat umum atau alam yang dibutuhkan banyak orang, seperti air, udara, dan tanah"

Yang menggelitik baru-baru ini ada berita viral bule membersihkan selokan dari got yang tersumbat dan tidak ada yang membantunya padahal dalm keterangan bule cantik tersebut tidak ada masyarakat yg membantunya padahal tidak jauh dari got ada tempat untuk buang sampah...... Tentu ada gugatan bathin dimana agama yg kita anut (Islam) banyak mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebahagian dari iman.  Sampai berita ini diturunkan postingan ini sudah mendapatkan lebih dari 19.700 likes dan 324 komentar.

Kamis, 09 Mei 2019

Perpustakaan : Lembaga Post-Minimalisme


Budaya minimalis semakin digandrungi oleh individu-individu saat ini, budaya tersebut mengagungkan bentuk kelapangan sehingga membawa kebahagiaan. Minimalis merupakan upaya untuk menjelaskan tentang konsep sederhana dengan melihat dari segi ruang maupun segi kejiwaan, sehingga dapat memberikan efek psikologis yang menenangkan dan membahagiakan bagi para penganutnya.

Seperti yang selalu digaungkan oleh para tokoh-tokoh minimalisme Minimalism has helped us to Eliminate our discontent, Reclaim our time, Live in the moment, Pursue our passions, Discover our missions, Experience real freedom, Create more, consume less, Focus on our health, , Grow as individuals, Contribute beyond ourselves, Rid ourselves of excess stuff, Discover purpose in our lives

Salah satu aplikasi dari budaya minimalis ini adalah decluttering atau budaya beres-beres. Beberapa pembaca pernah mendengar atau bahkan sudah membaca konsep beres-beres ala Marie Kondo, minimalist lifestyle ala Fumio Sasaki, Ryan Nicodemus, Joshua Fields Millburn. Nama-nama tersebut adalah tokoh-tokoh yang menggaungkan budaya minimalis, sederhana dan simple. Salah satu yang terkena dampak pengaplikasian konsep beres-beres atau minimalist lifestyle adalah, koleksi buku-buku dan majalah-majalah yang disimpan oleh para pemiliknya. Istilah termudah dari menjelaskan tentang decluttering adalah aktifitas untuk menata ulang dan mengurangi timbunan barang yang kita miliki. Decluttering lebih memfokuskan pada apa saja yang perlu disimpan, dan bagaimana menata ulang benda yang disimpan itu.

Koleksi buku dan majalah merupakan yang paling top menjadi kendala bagi para minimalis dalam proses menjalankan decluttering. Karena biasanya buku-buku dan majalah tersebut menyimpan banyak kenangan bagi pemiliknya, dalam otak pemilik terkadang bermunculan suara-suara sumbang seperti “Sebagai orang yang sangat gemar membaca buku, ada budget khusus untuk membeli “makanan pikiran” ini. Pola beli-baca-simpan terus berulang, rak buku pun beranak pinak, cepat sekali terisi dengan deretan penghuni yang memikat hati. Hingga sebagian besar semakin jarang tersentuh ulang, untuk dibaca lagi.”

Source : www.evazahra.com

Berbeda dengan lembaga yang kita bilang perpustakaan, lembaga satu ini selalu setiap tahunnya mengumpulkan buku-buku untuk menambahkan koleksi nya menjadi semakin mutakhir dan komplit. Malahan salah satu perpustakaan lembaga pemerintah yang melakukan weeding decultering menjadi olok-olokan dari banyak orang (entah itu orang yang menggunakannya atau hanya numpang lewat). Padahal dengan budaya minimalis itu mungkin perpustakaan tidak menjadi lembaga yang berkesan kuno tetapi lembaga yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, begitupun pustakawan yang ada didalamnya mungkin dapat menjadi lebih bahagia dan lebih tenang. Sehingga kosongkanlah perpustakaan anda buatlah lebih lapang dan nyaman dipandang mata.

You don’t have to be a people pleaser, you don’t do good to look good, you don’t do mainstream to look normal, you don’t have to follow what others do, you don’t have to mimicking them. All you need is let go things in your life so you can be in a better life.

Rabu, 08 Mei 2019

Hari Pendidikan Nasional: Saatnya Orang Tua Millenial Mendidik Generasi Digital Yang Bermoral dan Berakal

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu. Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Ditulis oleh Tri Utami, S.Hum.
Pustakawan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

“Hi guys, jangan lupa like, comment and subscribe” kalimat itu tiba-tiba saya dengar dari lisan anak perempuan saya usia 3,5 tahun. Saya tidak menyangka, anak ini bisa menirukan dengan fasih gaya youtuber ternama yaitu si cantik Ria Ricis. Anak saya belajar kalimat itu dari teman bermainnya yang suka menonton konten youtube mainan (slime dan sequisy).

Betapa dunia sudah berubah dan mau tidak mau kita juga harus ikut berubah, tapi tetap dengan prinsip tidak ikut hanyut dalam kelalaian perubahan ini. Zaman saya, saya masih mengalami bermain lompat tali, petak umpet, jamuran, kelereng, dakon dan permainan tradisional lain yang menguras tenaga hingga tubuh lelah berkeringat. Zaman sekarang, bermain bola tidak perlu ke lapangan bola, bermain boneka juga tidak perlu punya boneka, bermain musik tidak perlu punya alat musik, bermain catur pun tidak perlu membawa papan catur, pun dengan seabrek jenis permainan lain yang bisa dikemas dalam sebuah aplikasi dan bisa dimainkan dengan gadget kita tanpa harus keluar keringat.

Generasi millenial saat ini rata-rata sudah menjalani peran baru yaitu sebagai orang tua, sedangkan anak-anak generasi millenial yang lahir di tahun 2014 dan seterusnya disebut generasi digital, dimana dunia sudah dalam genggaman karena kecanggihan teknologi. Tapi apakah semua harus berubah? Tidakkah kita sebagai orang tua dan pendidik tidak ikut andil dalam mendampingi generasi digital ini tumbuh dan menguasai dunia digitalnya dalam prinsip moral dan akal?

Kecanggihan teknologi informasi menjadi magnet tersendiri bagi generasi millenial dan generasi digital, namun sebagaimana magnet yang memiliki kutub positif dan kutub negatif, kecanggihan teknologi informasipun memiliki dampak positif dan negatif. Kita sebagai orang tua harus mendidik anak kita sesuai zamannya, menyiapkan mereka untuk mampu beradaptasi di zaman mereka lahir, tumbuh dan hidup untuk mempertahankan eksistensi dan potensinya sebagai khalifah di bumi. Orang tua diharapkan mampu melindungi anak-anak dari ancaman negatif kemajuan teknologi informasi di era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat positif yang dihasilkan dari kemajuan teknologi informasi tersebut.

Beberapa manfaat kemajuan teknologi informasi saat ini adalah:

a. Sumber informasi

Informasi yang telah dikemas menjadi bentuk digital membawa kemudahan tersendiri bagi kita, apalagi jika gadget sudah dalam genggaman, seakan semua bisa kita ketahui hanya dengan sentuhan jari jemari kita. Apapun yang menjadi ke-kepo-an kita bisa dengan mudah didapatkan dan terjawab. Data dan berbagai informasi sudah dikemas semenarik mungkin dalam berbagai bentuk tulisan, e-book, infografis, audio, visual, video, bahkan dalam bentuk aplikasi yang bisa di download secara gratis.

Informasi menjadi semakin mudah, murah dan cepat. Namun, dengan banyaknya informasi yang tersebar di dunia maya, membuat informasi harus disaring, jangan asal percaya kemudian diambil lalu disebarluaskan. Kita harus bisa membedakan informasi mana yang benar atau hoaks, informasi mana yang bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan sumbernya atau tidak dan informasi mana yang mengandung ujaran kebencian dan menyinggung SARA. Kita harus membekali diri kita dan anak-anak kita pengetahuan dan ketrampilan untuk mendapatkan dan menyebarluaskan informasi yang akurat, terpercaya dan aktual.

b. Membangun Kreativitas

Siapa yang tidak kenal dengan youtuber dengan follower terbanyak di Indonesia? Mereka adalah Atta Halilintar dan Ria Ricis? Mereka berdua berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meraup pundi-pundi uang, dan masih banyak lagi youtuber yang berhasil menggali dan melejitkan kreativitas mereka dengan menciptakan konten-konten digital yang bermanfaat dan menghibur. Bahkan dari akun youtube atau sosial media kita, bisa menjadi ajang meraup uang yang omsetnya mencapai ratusan juta rupiah. Kita bisa menciptakan konten youtube yang berisi tutorial, membuat karya atau kerajinan tangan, hiburan atau konten youtube edukatif. Bisa juga kita menjadi selebgram, vlogger, influencer atau endorser suatu produk barang atau jasa yang kita promosikan dengan akun media sosial kita. Kita bisa mengajarkan anak-anak kita untuk menggali kreativitas mereka dan menampilkannya di akun sosial media mereka. Mengajari mereka untuk menciptakan dan memposting konten yang kreatif , edukatif, bermanfaat tapi tetap beretika.

c. Komunikasi

Era Digital benar-benar membuat komunikasi menjadi sangat mudah, cepat, dan murah bahkan berkomunikasi jarak jauh saat ini bisa terkesan nyata dekat berhadapan. Kecanggihan ini bisa mengobati rasa rindu orang tua pada anaknya yang dulu hanya terobati oleh tulisan, kini bisa bertatap muka melalui video call. Kita dulu harus ke wartel dan membayar mahal untuk berkabar melalui telepon, sekarang semua ekspresi bisa kita lihat langsung melalui kecanggihan gadget.


d. Pembelajaran Jarak Jauh

Istilah e-learning dan teleteaching sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan zaman ini, kegiatan belajar dan mengajar sudah tidak harus datang langsung ke pembimbing atau guru, kita bisa memanfaatkan tekonolgi untuk belajar jarak jauh. Bahkan banyak aplikasi pendidikan yang bisa di download gratis, seperti aplikasi bimbingan online Ruangguru, latihan soal-soal ujian nasional bahkan latihan soal CPNS yang semuanya gratis dan mudah diakses.

e. Jejaring Sosial

Generasi digital adalah generasi yang sangat mengutamakan eksistensi, generasi ini cenderung lebih terbuka, blak-blakan dan cara berpikirnya lebih agresif. Generasi digital akan mempertahankan eksistensinya di dunia digital daripada dunia nyata, mereka beramai-ramai memiliki akun media sosial yang tidak cukup satu, misalnya instagram, facebook, twitter, youtube, line dan lainnya. Di sini peran orang tua harus sangat ketat, orang tua harus membekali ilmu dan  menanamkan rasa malu serta etika, agar apa yang di upload atau didownload generasi digital adalah sesuatu yang bermartabat dan bermanfaat.

g. Mendorong Pertumbuhan Usaha

Jika kita ingin belajar seluk beluk usaha, mencoba membuka usaha sampingan, ingin membuka lapangan pekerjaan atau membuka layanan jasa hanya dengan duduk di depan komputer atau smartphone kita, semua itu sudah bisa kita lakukan dengan sangat cepat dan mudah di era digital. Kita bisa menjadi freelancer, penjual online shop, reseller, dropshipper, dan pekerjaan jasa antar jemput melalui aplikasi jasa (grab atau gojek).

h. Memperbaiki Pelayanan Publik

Pendaftaran peserta didik dan pengumuman kelulusan dalam penerimaan peserta didik baru dalam suatu sekolah atau perguruan tinggi juga sudah bisa dilakukan secara online. Pembuatan akte kelahiran, akte kematian, Kartu Identitas Anak (KIA), dan kartu keluarga juga sudah bisa dilakukan secara online di dinas kependudukan dan pencatatan sipil daerahnya masing-masing. Pelayanan bank sekarang sudah memudahkan kita dalam mentransfer uang, membayar tagihan bulanan dan menerima laporan per transaksi tanpa print rekening koran di bank. Hal ini karena adanya kemajuan teknologi dalam bentuk aplikasi internet banking atau mobile banking. Kita merasa nyaman, cepat dan mudah dalam bertransaksi perbankan hanya dengan smartphone atau komputer. Laporan SPT Tahunan sudah tidak perlu mengantri ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama, cukup dengan aplikasi e-Filing  pada komputer kita, kita sudah bisa melaporkan SPT dan mendapatkan bukti pelaporan.


Berikut ini adalah beberapa dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi di era digital. Hal-hal yang harus diperhatikan orang tua dalam mendampingi putra-putrinya dalam menggunakan gadget adalah:

a. Kesehatan mata

Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh layar sangat berbahaya bagi kita jika terpapar terlalu lama, gelombang elektromagnetik ini antara lain dikeluarkan dari peralatan audio-video, handphone, televisi dan komputer. Terlalu lama terpapar radiasi layar baik televisi, komputer atau smartphone bisa berdampak pada kerusakan mata seperti minus dan silinder.


b. Masalah tidur

Tubuh manusia memiliki siklus alami untuk tetap terjaga pada siang hari dan terlelap pada malam hari. Jika mata kita terlalu lama terpapar layar smartphone atau komputer di malam hari, siklus alami ini menjadi rusak dan membuat otak kebingungan apakah ini waktunya tidur atau terbangun.  Rusaknya siklus ini karena otak berhenti menghasilkan melatonin, yaitu hormon yang merangsang tubuh untuk tidur, sehingga jika produksi hormon ini terganggu, siklus tidur akan terganggu.

c. Kesulitan konsentrasi

Masalah sulit tidur dan kurangnya waktu tidur membuat kita sulit untuk fokus dan belajar, otak menjadi lambat dalam bekerja dan sulit untuk berkonsentrasi dalam menangkap hal-hal baru. Tubuh menjadi lemas dan malas melakukan aktifitas harian, sehingga kemampuan berpikir dan berkonsentrasi menjadi terganggu.


d. Menurunnya prestasi belajar

Menurut hasil penelitian, pancaran layar smartphone ini bisa mereduksi kapasitas kognitif dan kemampuan fokus dalam belajar, sehingga pemahaman tentang suatu pelajaran menjadi terganggu bahkan cenderung tidak bisa memahami apa yang diajarkan, hal ini berakibat pada penurunan prestasi belajar anak.

e. Perkembangan fisik

Anak yang terlalu lama berada di depan gadget atau komputer bisa mengalami 2 kemungkinan, yaitu antara menjadi terlalu gemuk (obesitas) atau menjadi kurus. Faktor pemicu obesitas yang utama pada anak-anak adalah gaya hidup, pola makan yang tidak sehat dan berlebihan yang disertai duduk terlalu lama di depan TV, komputer atau gadget. Tubuh menjadi kurang gerak, sementara porsi ngemil dan makan terlalu banyak.

Game addict pada anak membuat anak menahan lapar, haus, dan keinginan buang air sehingga mengganggu sistem pencernaan, yang menyebabkan anak lupa makan hingga kurus bahkan nyawa bisa menjadi taruhannya.

f. Perkembangan sosial

Aktif di dunia maya memang penting, tapi aktif di dunia nyata juga tidak kalah penting. Anak-anak kita butuh bermain dan belajar bersosialisasi dengan dunia luar dan teman sebayanya. Kecerdasaan sosial anak adalah bekal utama dalam menghadapi dunianya di sekolah, dunia kerja dan hidup bersosialisasi ditengah masyarakat. Anak harus bisa belajar bertenggang rasa dan tolong menolong pada orang lain. Anak juga harus belajar merasakan berbagai nuansa perasaan hasil dari dia bergaul dengan teman sebayanya.

g. Perkembangan otak dan hubungannya dengan penggunaan media digital

Anak-anak usia balita sangat dianjurkan untuk bermain yang membuat dia berkeringat dan bereksplorasi terhadap lingkungan luar. Cahaya matahari, rumput dan tanah adalah wahana terbaik untuk perkembangan otak dan fisik anak.

h. Menunda perkembangan bahasa anak

Penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan media digital bisa menunda perkembangan bahasa anak (speak delay) terutama pada anak-anak usia 2 tahun dan dibawahnya. Hal ini karena suara yang dikeluarkan dari kegiatan menonton adalah bentuk komunikasi satu arah, jadi anak tidak diajari komunikasi aktif, dia hanya pasif mendengarkan, tanpa harus berpikir dan mencoba untuk merespon dengan menjawab atau menirukan seperti orang yang berbincang.

i. Paparan hoaks dan pornografi

Maraknya akun hoaks di media sosial menjadi kewaspadaan dan filter tersendiri yang harus orang tua ajarkan pada anak-anaknya, ratusan akun hoaks yang sengaja dibuat untuk menyebarkan informasi palsu, menyebarkan ujaran kebencian dan penipuan sudah marak kita dapatkan di smarthphone kita. Pun dengan situs-situs pornografi yang bebas diakses siapaun dan dimanapun. Akses ke situs pornografi bahkan sengaja dibuat menarik oleh kaum pedofilia, karena mereka mencari mangsa anak-anak yang lengah dan lemah.

Semua sisi positif dan negatif kemajuan teknologi informasi di era digital ini menjadi perhatian dan pengetahuan yang harus dikuasai orang tua millenial untuk menyiapkan generasi digital yang ahli dan melek teknologi, tapi tetap memiliki moral dalam setiap mengkonsumsi dan memposting informasi. Generasi millenial juga harus dibekali ilmu agar berakal sehingga apa yang diposting memiliki manfaat dan martabat. Orang tua millenial harus belajar dari apa yang diajarkan guru kita, menteri pendidikan pertama di Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara, pahlawan nasional yang mencetuskan Patrap Triloka.
Ing ngarsa sung tuladha, - di depan memberi teladan.
Ing madya mangun karsa, - di tengah membangun semangat
Tut wuri handayani, - dari belakang memberi dorongan

Berpedoman pada tiga kalimat diatas, kita harus mendidik anak kita dalam 3 posisi dengan tugas berbeda ditiap posisinya. Pertama, memposisikan diri sebagai orang tua, memantaskan diri untuk dihormati dan dijadikan teladan yang baik bagi anak-anak kita. Orang tua menjadi yang terdepan, menjadi guru yang bisa digugu lan ditiru, sebagai sosok yang bisa menjadi contoh baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, serta apa yang harus dilakukan dan jangan dilakukan. Menjadi sosok yang harus bisa dibanggakan, karena anak-anak akan mudah meniru seseorang yang menjadi kebanggaan atau idolanya. Kedua, orang tua memposisikan diri sebagai “teman” yang senantiasa berada disampingnya, ada saat anak-anak kita membutuhkan kita di waktu yang paling penting dalam hidupnya, saat anak sakit, saat anak sedih dan saat anak unjuk prestasi, senantiasa menyemangati anak untuk terus berkreasi, berkarya hingga mampu menghasilkan produk barang dan jasa yang bermanfaat dan bermartabat. Ketiga, kita memposisikan diri sebagai orang yang berada di belakang layar, memotivasi dengan sedikit intervensi, menasihati tanpa introgasi dan mendorong dengan tujuan menolong.

Referensi
  • https://www.fimela.com/beauty-health/read/3723500/bahaya-radiasi-handphone-dan-komputer-sekaligus-cara-mengatasinya akses 6 Mei 2019
  • https://tekno.kompas.com/read/2017/07/18/19190057/7-efek-buruk-cahaya-layar-ponsel-bagi-mata-di-malam-hari?page=all akses 6 Mei 2019
  • https://mudazine.com/raisarft/pendidikan-ala-ki-hajar-dewantara-adalah-pendidikan-yang-progresif/ akses 6 Mei 2019
  • https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/kecil/wp-content/uploads/2018/11/MATERI-BIMTEK-MENDIDIK-ANAK-DI-ERA-DIGITAL.pdf akses 6 Mei 2019

Senin, 06 Mei 2019

Pustakawan Sejam Bersama Kepala LIPI



Seperti halnya pada lembaga lain, di lembaga Bulan pun juga ada kegiatan penerbitan jurnal ilmiah dan majalah lembaga. Pada sebuah rapat redaksi, Bulan mendapat kesempatan untuk terlibat bersama yang lainnya dalam menentukan tema yang akan di bahas. Kali ini Bulan mendiskusikan Majalah Lembaga dengan tema yang cukup “seksi” dan seru untuk dibahas yakni  “Jalan Sunyi Peneliti”.

Setelah panjang lebar selama hampir dua jam, pertemuan ini malah menambah kerjaan Bulan. Apa pasal? Bulan kedapatan tugas membuat resensi buku. Hmm bagi pustakawan mestinya ini bukan pekerjaan yang sulit bagi Bulan. Apalagi buku yang akan diresensinya pernah ia baca dan tersedia di koleksi perpustakaanya. Tetapi kebetulan Bulan sedang ada pekerjaan lainnya sehingga terkesan menambah pekerjaan saja. Ditambah lagi, saat usulan akan mewawancarai tokoh penting terkait dunia peneliti dan kepenelitianan, membawa nama Kepala LIPI Dr. Laksana Tri Handoko menjadi tokoh utama yang akan diwawancara. Entah bagaimana diskusi itu bergulir, Bulan menjadi pihak yang dimintai tolong untuk mengurus hal ini. Hmmm tantangan sang pustakawan untuk membuktikan dirinya bisa diamanahkan tugas ini. Sang pustakawan harus berfikir bahwa ini adalah pekerjaan yang menyenangkan, menantang dan menambah wawasan serta mengasah keterampilan.

Mulailah Bulan menghubungi beberapa rekannya di LIPI untuk mendapatkan nomor kontak Kepala LIPI. Awalnya Bulan agak sungkan untuk langsung mengubungi, karena bisanaya Kepala pasti punya staf khusus untuk keperluan membuat janji, keperluan administratif dan sebagainya. Mencoba untuk langsung menghubungi Beliau via wasap ternyata langsung mendapatkan respon dari Beliau, tepatnya tanggal 2 April 2019. Wuih, orangnya asyik juga ya, gak birokratis, gak ribet, begitu pikir Bulan. Dari pembicaraan awal dengan Kepala, Bulan malah mendapat nomor staf Beliau untuk mengurus keperluan pertemuan ini.

Setelah melengkapi segala persyaratan yang dibutuhkan untuk keperluan wawancara ini, Bulan hanya tinggal menunggu kapan waktu yang dijadwalkan oleh staf Beliau. Menungu dan menungu, ternyata jadwal yang dinanti tak kunjung dikabari. Bulan mencoba menghubungi stafnya, dan pesan via wasap pun belum berbalas yakni tanggal 8 dan 11 April 2019. Bisa jadi staf Kepala sibuk, dan lebih-lebih pak Kepala juga sibuk, sehingga masih sulit memustuskan kapan waktunya.

Terlalu lama menunggu membuat Bulan penasaran. Ia berinisiatif mengontak Kepala LIPI langsung. Ndelalah…langsung direspon. Luar biasa, pikir Bulan. Pak Kepala orangnya gaul nih. Selalu respon, ngakrabi, ramah. Membuat Bulan merasa nyaman dan enjoy berkomunikasi dengan Beliau. Pak Kepala bahkan langsung kasih tanggal pertemuan untuk Bulan wawancara.

Sejurus kemudian Bulan mengabarkan ke stafnya kalau Ia sudah mendapat tanggal pertemuan dengan pak Kepala. Pada komunikasi selanjutnya masih terjadi perubahan waktu. Itu pun awalnya Pak Kepala langsung yang mengabari Bulan, dan kemudian stafnya juga mengabari hal terkait. Sampai akhirnya tanggal klimaks itu hadir juga dalam genggaman Bulan.

Hari yang dinanti tiba. Bulan meluncur dari kantor bersama salah satu team redaksi majalah. Inilah saat di mana Bulan akan bertatap muka langsung dengan tokoh yang sedang ramai dibicarakan ini, tokoh yang fenomenal.  Alhamdulillah pak Kepala masih mau menunggu Bulan karena Bulan harus presensi dulu di kantor selepas pulang kerja. Dari jadwal yang ditentukan yakni pukulm16.00, baru bisa berlangsung wawancara pukul 17.00. Padahal saat itu salah satu stafnya mengatakan kalau Bapak ada pertemuan dan harus pergi pukul 18.00 ini. Hiks, Bulan sempat ternganga dan gak percaya. Serius nih Bulan gak jadi ketemu pak Kepala, begitu pikirnya. Eits, tapi tidak, setelah berwasap dengan beliau untuk meminta waktunya sebentar, ternyata Pak Kepala malah menyambut Bulan dengan hangat dan meluangkan waktu, perhatian dan tenaga beliau untuk pertemuan padat dan maksimal sore itu.

Yes, Bulan sangat senang. Pertemuan satu jam ini sungguh berkesan dan luar biasa. Bahkan ada satu kata-kata pak Kepala yang bikin Bulan tersenyum simpul, “Gimana…sudah puas, tanya pak kepala dengan senyum simpulnya”. Bulan menjawab mantap, ‘Puas Pak…hihihi”.

Bulan Terbayang sebelum pertemuan, bagaimana banyak berita-berita di luaran sana yang membicarakan Kepala LIPI. Mulai dari mosi tidak percaya dari beberapa peneliti senior tentang gebrakan baru Kepala LIPI bahkan sampai masalah penyiangan koleksi perpustakaan. Gambaran seperrti apa sosok Kepala LIPI memberikan kesan sedikit negatif di benak Bulan. Tetapi ternyata tidak saat pembicaraan. Beliau berbicara  lepas saja, santai, ramah tetapi serius. Tepatnya pukul  17.00 pada tanggal 25 April 2019 di ruang kerja Kepala LIPI, Bulan sang pustakawan membersamai beliau selama 1 jam dengan 9 pertanyaan terkait dunia peneliti dan kepenelitian.

Selama wawancara berlangsung, pertanyaan-pertanyaan muncul di tengah diskusi atau pembahasan. Pak Kepala menanggapi dengan tenang dan penuh antusiasme. Banyak sekali wawasan dan hikmah dari  pertemuan ini. Semoga pertemuan ini mampu mencairkan suasana yang kaku dan  meluruskan pemahaman yang keliru baik di benak Bulan maupun para pembaca sekalian..

Mau tau ke-9 pertanyaan itu. Ini lho pertanyaan yang Bulan kirim ke Beliau. 1) Apa yg terbentuk dalam pemikiran Bapak tentang peneliti, penelitian dan dunia kepenelitian? 2) Apa arti penting penelitian bagi bangsa dan negara? 3) Bagaimana sebetulnya hubungan LIPI dengan para Peneliti di tiap Litbang Kementerian? 4) Jika Peneliti di tiap Litbang Kementerian menginduk ke LIPI, apa kebijakan LIPI dalam melindungi kepentingan peneliti dan mengafirmasi mereka? 5) Tusi peneliti di Litbang Kementerian adalah melahirkan bahan kebijakan sekaligus supporting system bagi seluruh direktorat di kementerian tersebut. Apa yg harus dilakukan jika hasil penelitian tidak dijadikan bahan pijakan mengambil kebijakan? 6) Ada gagasan yang ingin menggabungkan seluruh badan penelitian menjadi satu institusi, yakni Lembaga/Badan Riset Nasional.  Tanggapan Bapak? 7) Jika lembaga tsb menjadi kenyataan, apa plus minus bagi para peneliti dan dunia penelitian? 8) Apa format ideal penelitian bagi kemajuan bangsa dan negara? 9) Pesan dan harapan Bapak bagi para peneliti dan dunia penelitian.

Ada satu kata kunci yang Bulan tangkap dari Kepala LIPI. “Bahwa kemajuan negara ini tidak mungkin tanpa ditopang kemajuan science. Karena ini negara besar, bukan negara kecil yang hanya bisa dengan satu dua sektor saja dalam mempertahankan tingkat kemakmurannya. Kita harus siap untuk kerja keras dan  siap untuk berubah”.  

Di akhir pertemuan, Pak Kepala memberikan kartu namanya pada Bulan, lengkap dengan kode barcode yang tertera di sana. “Wah, Bapak gaul nih, milenial. Kalah nih kita, gak punya kartu nama dan gak ada barcodenya pula, hahahaha.” Mereka bertiga tertawa lepas. Dan pertemuan diakhiri dengan foto bersama pak Kepala LIPI di ruang kerjanya. (Hariyah A.)


Beasiswa Ikatan Pustakawan Indonesia


[Semarang, 2 Mei 2019] Kamis malam Jumat, saya terpilih menjadi juara ketiga Lomba Pustakawan Berprestasi Terbaik Provinsi Jawa Tengah 2019. Berbagai rangkaian seleksi telah saya ikuti di gedung Perpustakaan Provinsi di Jl Sriwijaya. Salah satu tahapan seleksi diantaranya adalah menuliskan artikel alasan memilih berprofesi sebagai pustakawan dan rencana untuk memajukan profesi pustakawan. Berikut ini adalah artikel yang saya sajikan untuk kelima dewan juri yang  100% difasilitasi Perpustakaan Kota Magelang. Terimakasih teman-teman pustakawan Kota Magelang telah sepenuh hati mendukung moril dan materiil.


***

BEASISWA IPI

Sejak sekolah dasar, saya dibiasakan memegang majalah oleh ibu. Kala itu, ketika Ibu pulang kantor pada kamis siang, beliau membelikan majalah Bobo dan Ina. Saya senangnya bukan main. Sejak itu, saya selalu dibawakan kedua majalah itu tiap kamis.

Setelah dewasa, saya baru tahu bahwa Ibuku ternyata tidak suka membaca. Alasan Ibu membelikan majalah begitu sederhana, karena mengikuti nasehat dari teman kerjanya semata. Bagiku itu tidak penting, karena masa kecilku sangat bahagia dibawakan majalah oleh Ibu. Walau sebenarnya saya hanya suka melihat-lihat gambar di majalah dan sesekali mendapatkan bonus permainannya. Misalnya menyusun potongan gambar menjadi mainan kertas dinosaurus berdiri dengan empat kakinya.

Beranjak ke jenjang sekolah menengah atas, saya begitu tertarik meminjam buku di perpustakaan. Maklum, selama sekolah enam tahun sekalipun tidak pernah melihat perpustakaan. Mulai kelas tujuh, saya sudah mulai meminjam buku. Namun hanya di kala libur sekolah saja. Sehingga total selama tiga tahun hanya 5 judul buku yang saya baca. Semuanya cerita pendek. Sedangkan di saat jam pelajaran kosong, saya pergi ke perpustakaan untuk menyempatkan membaca majalah MOP. Tapi merasa kurang puas, saya lebih memilih menyisihkan uang untuk membeli majalah XY Kids dan Bola. Jika tidak ada uang, kerap kali saya merengek kepada Nenek untuk membelikan kedua majalah itu.

Setidaknya, kebiasaan membeli majalah menjadi rutinitas tiap pulang sekolah. Eh, kadang malah kehabisan stok. Ada rasa menyesal. Akan tetapi, semenjak masuk jenjang sekolah menengah atas, rasa menyesal pun hilang. Perpustakaan ternyata berlangganan majalah Bola, sehingga saya kerap kali pergi ke perpustakaan hanya untuk membaca majalah itu. Acap kali antar siswa laki-laki berebut membaca majalah itu. Sampai-sampai petugas perpustakaan mencopot steplesnya sehingga masing-masing lembaran lepas dan bisa dibaca oleh banyak siswa sekaligus.

Itulah kisah saya yang erat dengan majalah dan perpustakaan. Kini, saya telah lulus dari Ilmu Perpustakaan dan bekerja menjadi pustakawan di salah satu perguruan tinggi negeri di Magelang. Perjalanan saya memilih pilihan jurusan ketika penerimaan mahasiswa baru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Waktu itu, saya ditanya oleh Bapak. “Mau kuliah jurusan apa? Pilihlah yang kerjaannya kelak yang kamu suka dan cepat mendapat pekerjaan.” Setelah beliau menyodorkan beberapa usulan jurusan dan mendengar arahannya, saya telah memantabkan diri memilih jurusan Ilmu Perpustakaan.

Bagi Ibu, pilihan jurusan yang telah saya putuskan adalah tidak sesuai keinginannya. Beliau ingin saya bekerja satu kantor di Dinas Pekerjaan Umum. Sehingga saya disarankan untuk memilih jurusan Teknik Sipil. Apa daya, untuk memenuhi hasrat kedua orang tua, saya pun memasukkan kedua nama jurusan tersebut pada formulir daring penerimaan mahasiswa baru Universitas Diponegoro. Saya isi pilihan nomor 3: Statistika, pilihan nomor 2: Teknik Sipil, dan pilihan nomor 1: Ilmu Perpustakaan. Beres, bukan? Hasrat kedua orang tua saya telah terpenuhi. Bagi teman sekolah yang mengetahui formulir itu. Mereka membuli saya. “Bocah kok lucu. Kalau tidak keterima pilihan nomor 1, ya tidak bakal keterima pada pilihan nomor 2 atau pun 3 lah!”.

Tapi, takdir berkata lain. Tepat satu hari setelah ujian akhir sekolah berakhir, saya melihat pengumuman penerimaan masuk mahasiswa baru Undip. Saya berteriak kencang: Alhamdulillah! Saya diterima sesuai pilihan pertama yang saya pilih.

Sejak saat itu, saya membayangkan seperti apa pekerjaan seorang lulusan Ilmu Perpustakaan. Saya bertanya ke tetangga yang pernah bekerja di perpustakaan.  Cari sana dan sini. Dan bertemulah saya dengan Ibu Wiharjanti, yang bekerja di perpustakaan daerah. Saya diajak berkunjung dan mendengar cerita perjuangan beliau bekerja. Dan akhirnya, saya mantab bercita-cita menjadi pilotnya suatu perpustakaan: pustakawan.

***

Masa kuliah telah usai, gemuruh sorak-sorak wisudawan menghiasi gedung Soedarto. Semua wisudawan dan orang tua wali tertib masuk ke gedung lalu duduk dan mengikuti prosesi upacara wisuda dengan khidmat. Saya bangga. Saya adalah lulusan mahasiswa Ilmu Perpustakaan pertama dalam sejarah Undip sebagai pembaca sumpah alumni di upacara wisuda universitas. Tidak hanya itu, saya pun diberi amanah lagi mewakili seluruh wisudawan Fakultas Ilmu Budaya untuk memberikan pidato pada upacara wisuda fakultas. Berikut petikan pidato yang masih terngiang: “Seandainya kami (alumni) bagai kura-kura, tempurung kami ini kian berat! Pasalnya terlabel Undip di pundak kami! Universitas ternama dengan prestasi mengabdi kepada masyarakat yang menjulang. Sudah saatnya kami tidak lagi merepotkan Ayah dan Ibu. Kami siap mandiri demi martabat negeri!”

Lulus! Ya, lulus adalah momok bagi semua alumni. Rasa bangga bisa lulus namun hanya kesenangan sesaat. Setelah itu? Ada yang malu kerja dengan gaji sedikit. Tidak sedikit yang karirnya banting stir. Saya sudah bertekad sejak pendaftaran mahasiswa baru: Ilmu Perpustakaan adalah pilihan pertama, bukan pilihan cadangan. Oleh karena itu, saya ingin sekali bekerja menjadi pustakawan ala lembaga tempat bekerja.

***

Sejak awal mencari lowongan kerja, saya yakin menjadi pustakawan bagaikan memiliki sifat air. Air yang selalu menyesuaikan diri (mengisi) sesuai bentuk wadahnya. Jika wadahnya berbentuk tabung, maka air itu juga berbentuk tabung, jika wadahnya berupa mangkuk, maka air akan mengisi mangkuk tersebut. Artinya, indikator menjadi pustakawan itu tidak bisa dipukul rata dari sabang sampai merauke dari desa sampai ibu kota. Akhirnya saya berlabuh untuk kali pertama sebagai pustakawan di Surabaya, YPPI, Lembaga Swadaya Masyarakat yang saya lebih suka menyebutnya: lembaga konsultan perpustakaan. Dan sekarang ini, saya membentangkan layar lalu mengarahkannya di Universitas Tidar, tempat saya melanjutkan karir sebagai pustakawan.


Setelah melalang buana ke seantero negeri lalu kembali ke daerah (magelang) bukan malah mengerutkan semangat untuk berkarir lagi sebagai pustakawan. Kini karya-karya sebagai pustakawan telah saya capai. Mulai dari bekerjasama internal dengan mahasiswa untuk pendekatan kebutuhan sampai berjejaring eksternal dengan lembaga mentereng. Berbagai tulisan telah tayang di Call For Paper dan berbagai jurnal serta media massa. Kemas ulang video pun telah tayang di berbagai televisi nasional. Kini 3 buku telah terbit dan 1 sebagai editor buku. Tentu saya tidak berhenti sampai di sini. Saya memiliki pandangan yang berbeda di profesi pustakawan ini. Pasalnya menjadi pustakawan bukanlah hal mudah walau memiliki nilai IPK sempurna.

Saya berpendapat, untuk memutuskan benar-benar menjadi pustakawan adalah di mulai sejak bangku kuliah. Lebih-lebih baik lagi sejak lulus SMA. Soalnya, bila mahasiswa yang masuk kuliah saja sudah galau apalagi setelah lulus malah semakin galau, mau jadi apa negara ini?. Oleh karenanya, supaya mahasiswa tidak galau, perlu ada arahan oleh para alumninya. Mereka (mahasiswa) adalah adik tingkat kita yang menjadi tanggungjawab bagi alumni untuk membinanya. Sudah ada dosen, bukan? Kenapa alumni harus terlibat? Kita meyakini bahwa sebuah pekerjaan dikatakan menjadi profesi ketika ada tiga kriteria. Pertama, ada pabrik pencetak calon pustakawan, kedua adalah keberadaannya diakui oleh masyarakat, dan ketiga yang terpenting adalah memiliki organisasi profesi yaitu IPI – Ikatan Pustakawan Indonesia. Sehingga IPI perlu dilibatkan dalam mencetak calon pustakawan di pabriknya yaitu di lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan.

Pelibatan ini perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya, organisasi IPI sudah terlanjur basah kuyub dicap mengecewakan oleh sebagian pustakawan. Karena itu, saya menawarkan sebuah gagasan untuk meningkatkan martabat IPI dikancah daerah maupun nasional. Bagaimana caranya? Saya berpendapat perlunya kesediaan dan keikhlasan dari anggota IPI sendiri untuk menyelenggarakan gagasan saya ini. Lalu juga perlunya kerjasama antara IPI dengan lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan. Gagasan saya ini adalah program pemberian beasiswa gotong royong kepada calon pustakawan.

Program beasiswa ini memiliki konsep sebagai berikut:

  1. Penggalangan donasi beasiswa dari para alumni / pustakawan / anggota IPI sebagai donator yang bergotong royong mendonasikan minimal sejumlah Rp 50.000,- sampai maksimal tidak terhingga.
  2. Donasi disetorkan tiap bulan pada tanggal 25-4 (misal 25 april - 4 mei) dan durasi donasi tiap periode minimal 12 bulan (12 x setor).
  3. Maksimal 10 donatur membiayai kuliah seorang mahasiswa terpilih. (Tiap 10 donatur gotong royong untuk 1 mahasiswa).
  4. Calon penerima beasiswa diseleksi ketat, transparan dan daring.
  5. Calon penerima beasiswa diberikan wawasan baru tentang jenjang karirnya kelak melalui serangkaian wawancara oleh IPI.
  6. Calon penerima beasiswa wajib menjadi pengurus IPI Provinsi jika sudah bekerja dimanapun berada.
  7. IPI harus mencari donator lain selain dari anggota / pustakawan seperti perusahaan ternama.
  8. Melalui program ini, citra IPI disinyalir membaik dan pengurus IPI akan terisi oleh generasi penerus yang berkualitas sehingga IPI semakin maju.



Sabtu, 04 Mei 2019

REKONSTRUKSI HARDIKNAS DALAM BUDAYA LITERASI

Spirit perjuangan Ki Hajar Dewantara seharusnya meradikal dalam diri setiap insan Pembelajar sebagai manifestasi dari tujuan Hardiknas"

Oleh: Sirajuddin*

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei setiap tahunnya selalu dirayakan secara nasional oleh masyarakat Indonesia. Ini menjadi tonggak sejarah kelahiran seorang tokoh dan Pelopor pendidikan Ki Hajar Dewantara pendiri sekolah Taman Siswa dengan nama "Nasional Onderwijh Institute Taman Siswa" yang saat ini berpusat di balai Pawiyatan (Majelis Luhur) di jalan Ki hajar Dewantara Jojakarta.

Momentum Hardiknas seyogyanya menjadi bahan evaluasi bagi pendidikan di tanah air yang masih sarat dengan banyak masalah mulai dari persoalan Pemerataan pendidikan, kekerasan terhadap guru, tuntutan guru honorer, kurikulum pembelajaran, kualitas guru dan masih bnyak lagi, namun melalui opini singkat ini penulis ingin memberikan tinjauan dari sisi kualiatas budaya Literasi masyarakat Indonesia.

Istilah dan konteks literasi

Secara etimology literasi berasal dari bahasa latin Literatus yang berarti orang yang belajar yang diistilahkan dalam bahasa indonesia literasi yang merupakan kata serapan bahasa inggris Literacy,  UNESCO (The United Nations Education,  Scientific and Cultural Organizations) mendefinisikan Literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan membaca dan menulis,  terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya.
Fenomena di masyarakat terpelajar Indonesia pada umumnya kelihatan adanya penyambutan yang meriah sebagai bentuk apresiasi bagi kelahiran pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantara sehingga dengan mengggelar Perhelatan dan event-event untuk memeriahkan hari menjelang Hardiknas di lembaga pendidikan seperti pada sekolah, SD,  SMP, SMA dan sederajat selalu dimeriahkan dengan perlombaan yang bernuansa literasi.

Fenomena ini berkelindan dalam hati penulis yang aktif sebagai Pustakawan pada perguruan tinggi sebagai stimulus untuk beropini bahwa antusiasme terhadap spirit literasi tidak seharusnya muncul hanya pada perayaan penyambutan Hardiknas saja tapi seharusnya sudah membudaya,  kegiatan literasi seperti; membaca, berceramah, berdiskusi dan menulis dankebiasaan menghidupkan forum Ilmiah merupakan langkah bijak bagi majunya budaya literasi.

Membudayakan literasi

Literat bukan sebuah fantasy maupun fatamorgana namun sebuah keniscayaan bagi masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang litarat seperti Finlandia di tengah masyarakat Indonesia yang berbudaya dan menjunjung tinggi kearifan lokal, tahun 2016 The World Most literate Nations (WMLN) merilis daftar panjang negara-negara dengan peringkat literasi di dunia,  penelitian ini dilakukan oleh Jhon W.  Miller persiden Central Connecticut State University,  New Britain,  hasil penelitian ini menempatkan Finlandia di urutan pertama sebagai negara paling literat dan terpelajar dan Indonesia masih di urutan 61.

Kedangkalan dan ketertinggalan budaya literasi ini menjadi PR. besar bagi pemerintah dan semua pihak yang berkontribusi aktif,  bertanggung jawab meningkatkan kualitas pendidikan,  sehingga tanpa moment perayaan yang Hardiknas-pun kita seharusnya sudah pada kondisi Literate Culture (Budaya Terpelajar),  Moment Hardiknas seyogyanya sudah menjadi moment aktualisasi diri dengan pencapaian tertinggi yang menjadi kebanggaan.

Pencanangan minat baca sebagai isu sentral budaya literasi oleh pemerintah,  lembaga pendidikan dan oleh pegiat literasi yang secara masif mem-buzzer gerakan literasi belum mampu menempatkan indonesia pada posisi yang membanggakan,  tak salah Proggram for Internasional Student (PISA) tahun 2015 menempatkan Indonesia pada posisi 62 dari 70 negara yang di survey tentang minat baca anak sekolah usia 15 tahun sebagai responden (penelitian ini tidak mengikutkan Khazastan dan Malaysia yang tidak memenuhi kualifikasi penelitian.

Meletakkan makna dan semangat Hardiknas dalam kultur dan kearifan lokal masyarakat Indonesia adalah sebuah upaya menciptakan lingkungan yang cinta membaca dengan menfasilitasi pembelajar dengan bahan bacaan yang mudah diakses,  memberikan ruang bagi pembelajar untuk lebih kreatif,  mengekspresikan kemampuan kognitif,  mengapresiasi setiap capaian prestasi pembelajar dengan memberikan reward  dan lebih penting bagaimana pemerintah, pengajar dan para pegiat literasi menjadi tahu ada dalam meningkatkan budaya literasi.

Spirit perjuangan Ki Hajar Dewantara seharusnya meradikal dalam diri setiap insan Pembelajar sebagai manifestasi dari tujuan Hardiknas.

*Penulis Pustakawan IAIN Parepare

Kamis, 02 Mei 2019

GADGET DAN PENDIDIKAN ANAK DI INDONESIA

Oleh: Maniso Mustar
Perpustakaan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada
ariemaniso1205@ugm.ac.id 

Opini ini dimuat oleh SKH Kedaulatan Rakyat, Kamis 2 Mei 2019 Halaman 11, yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Mari sejenak kita amati hiruk pikuk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sedang mewabah bak virus influensa di masyarakat. Virus ini begitu gawat,  dapat menyebabkan infeksi dan siap menyebar dengan mudah melalui udara yang kasat mata.

Perkembangan TIK dalam masyarakat tidak jauh berbeda dengan kondisi tersebut. Di mana hampir semua orang terdampak atas perkembangan TIK dengan mengikuti tren kekinian yang dikemas dalam benda berbentuk telepon pintar atau gadget. Gadget yang diidentikkan dengan perkembangan teknologi terkini benar-benar diburu, seolah menjadi bagian hidup dari masyarakat. Tak terkecuali anak-anak yang masih dalam ranah dunia pendidikan.

Benarkah gadget yang merupakan produk revolusi industri 4.0 harus diikuti oleh masyarakat? Tentu! Masyarakat tidak boleh lengah dan harus mengikuti perkembangan TIK bila tak mau ketinggalan informasi yang cepat  dalam segala aspek kehidupan. Revolusi ini menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat yang mengutamakan profesionalisme, kecepatan, ketepatan, keakuratan, entertainment dan smart device untuk menunjang pekerjaan, termasuk pendidikan. Perubahan ini merupakan kebutuhan manusia modern, di mana hampir semua aspek kehidupan ditunjang dengan perkembangan teknologi digital yang canggih.


Rujukan Utama

Tidak dipungkiri, ketenaran gawai sangat mendunia dengan segala kecanggihannya. Gawai seolah menjadi rujukan utama dalam pelaksanaan pendidikan. Mengapa gadget dibutuhkan dalam proses ini? Adalah fitur dan progam yang aplikatif dengan pendidikan menjadi rujukan utama atas penggunaan TIK untuk mendukung berbagai aktifitas pendidikan berbasis profesionalisme, kecepatan, ketepatan bahkan smart device.

Proses pendidikan yang terbantu diantaranya adalah segi teknis menjadi praktis, aturan pendidikan, keilmuan yang terbuka, akses mudah berupa search engine, serta ruang pendidikan yang tak tersekat ruang dan waktu. Semua ini merupakan dampak posistif gadget dalam dunia pendidikan termasuk di Indonesia. Keuntungan dan kemudahan lainpun dapat diberikan secara mudah oleh gawai yang saat ini digencarkan oleh pemerintah untuk membantu proses pendidikan. Gadget dan pendidikan adalah suatu relevansi revolusi industri 4.0 untuk mewujudkan kecaggihan pendidikan dan Indonesia yang cerdas di mata dunia. Membuka wacana baru kekuatan Indonesia bidang pendidikan adalah negara yang cerdas, pintar dan berwibawa yang bersinergi mengikuti perkembangan TIK yang menjadi trending topic dunia.

Melihat berbagai manfaat dan kegunaan gadget dalam berbagai aktifitas memang sangat menyenangkan. Efektifitas program pendidikan adalah wujud nyata keberhasilan pemerintah. Profesionalisme tenaga pendidik pun merupakan kebutuhan pokok dalam proses pendidikan. Kecepatan dan ketepatan sumber referensi adalah bukti otentik betapa terbukanya informasi dalam akses sumber bibliografi pendidikan. Dan semua itu dapat dilakukan dengan mudah dengan dukungan gadget dan perangkat lainnya.

Berbicara mengenai keterbukaan informasi yang terdapat dalam layanan gadget, penulis sangat bersyukur dan bangga dengan pemerintah yang telah mendukung proses pendidikan di Indonesia dengan mengikuti perkembangan teknologi dan revolusi industry 4.0. Pelaksanaan pendidikan terselenggara dengan begitu baik dan representatif yang hampir selaras dengan program pendidikan di dunia.

Tidak Dicederai

Mengingat begitu aplikatif dan mudahnya penggunaan gadget di masyarakat, termasuk anak-anak, penulis berharap program bagus di atas tidak dicederai dengan adanya kebebasan penggunaan gadget pada anak yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif karena tanpa batasan usia.

Kakhawatiran tersebut meliputi kebebasan bermain game, pengaksesan berita dan konten yang tidak pada tempatnya dan perilaku lain yang dapat mencederai moral anak dalam proses pendidikan. Keterbukaan informasi memang sangat mendukung proses belajar mengajar, namun apabila tidak diimbangi kebijakan dapat menjadi gejala awal rusaknya mental anak bangsa.

Untuk itu, mari kita kawal pendidikan di Indonesia yang mengikuti revolusi industry 4.0 namun juga kita ciptakan anak didik yang aman dari pengaruh gadget dan perkembangan teknologi. Gunakan perkembangan TIK untuk hal yang efektif dan tepat guna bagi masyarakat di Indonesia. Dirgahayu pendidikan Indonesia.

Menyelami Tagline Baru Perpustakaan Nasional

Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Dalam Rangka Ikut Serta Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”

Oleh: Tri Utami, S.Hum

Tagline Perpustakaan Nasional Tahun 2019 ini sangat menantang bagi kita yang berprofesi sebagai pustakawan. Mengingat kembali karya apa yang selama ini telah kita buat, mengorek kembali hasil apa yang sudah kita kontribusikan untuk masyarakat, dan memecut semangat kita, sudahkah karya kita menyebar ke semua lapisan masyarakat? Sudahkah karya kita mengubah hidup masyarakat sampai semua lapisan?

Perpustakaan Nasional sebagai lembaga negara yang mengemban tugas mengadakan, mengolah, melayankan, melestarikan dan mengelola seluruh koleksi yang terbit di Indonesia menjadi ujung tombak dalam memfasilitasi masyarakat menemukan cita-citanya. Disinilah peran penting Perpusnas dan semua perpustakaan yang ada di Indonesia. Pustakawan dituntut mampu berkarya, menciptakan produk atau jasa baru yang berdayaguna dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Bukan hanya membuat masyarakat gemar membaca, tapi pustakawan diharapkan mampu menggali potensi-potensi pemustakanya, pustakawan mampu meningkatkan ketrampilan masyarakat agar tercipta kesejahteraan masyarakat.

Inklusi sosial memang sedang menjadi pembahasan dalam pencapaian tujuan kesejahteraan masyarakat. Upaya menempatkan martabat dan kemandirian seseorang sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik dan sejahtera. Pemerintah berusaha menjangkau masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, masyarakat dengan status sosial yang kurang dihargai di lingkungannya, dan masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan formal rendah. Sebagai Warga Negara Indonesia, mereka memiliki hak yang sama dalam mendapatkan perhatian dan fasilitas pemerintah, bahkan jika ketrampilannya terasah dan terarah, mereka bisa menjadi potensi yang luar biasa bagi kemakmuran masyarakat kedepannya. Jangan sampai kegiatan yang tidak merata ini menciptakan eksklusi sosial.

Salah satu perpustakaan umum yang telah terpilih untuk melaksankan program revitalisasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dan berhasil mensejahterakan masyarakat adalah Perpustakaan Kabupaten Musi Banyuasin. Perpustakaan Kabupaten Musi Banyuasin telah melakukan pengembangan perpustakaan sebagai sumber belajar dan berkegiatan. Contohnya, mereka mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), Sanggar Tari, Bimbingan Belajar Membaca dan Matematika, Salon Literasi, dan pendirian Pojok Baca di Polres Musi Banyuasin. Perpustakaan Kabupaten Musi Banyuasin memilih 5 Desa dan 1 Kelurahan sebagai penerima manfaat Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Perpustakaan Nasional sendiri telah melakukan banyak kegiatan untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari perpustakaan, diantaranya aplikasi iPusnas, pusteling (perpustakaan elektronik keliling), kuda pustaka, sepeda pustaka, motor pustaka, kapal pustaka, pelatihan merajut dan kegiatan sosial lain seperti pelatihan bagi masyarakat di pedesaan. Tidak kalah pentingnya, Perpustakaan Nasional memiliki gedung layanan perpustakaan tertinggi di dunia yang terletak di civic center Jakarta, dengan berbagai macam layanan yang tersebar di 24 lantai dan 1 Gedung Cagar Budaya. Hal ini tidak lepas dari usaha Pemerintah melalui Perpustakaan Nasional untuk menarik pengunjung, membuat nyaman pengunjung dan memenuhi kebutuhan pengunjung. Perpustakaan Nasional buka setiap hari kecuali libur nasional.

Perpustakaan bertransformasi untuk memberdayakan masyarakat melalui karya-karya pustakawan. Karya pustakawan yang memperkuat peran dan fungsi perpustakaan, agar tidak hanya sekedar tempat penyimpanan dan peminjaman buku, tapi menjadi agen perubahan,  wahana pembelajaran sepanjang hayat dan pemberdayaan masyarakat.

Dari karya dan hasil kerja pustakawan inilah, masyarakat dari kalangan ekonomi rendah, masyarakat dengan status sosial kurang dihargai, dan masyarakat di daerah 3T (Tertingal, Terdepan, Terluar) diharapkan bisa menemukan passion-nya, mereka bisa menggali ketrampilan yang dimilikinya dan menghasilkan produk atau jasa yang berdaya guna, berhasil guna dan memiliki nilai jual yang tinggi. Mereka bisa meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk individu yang merdeka, utuh dan mampu bersaing di lingkungan masyarakat.

Masyarakat yang daerahnya memiliki potensi sayur pare misalnya, mereka bisa mendapatkan pengetahuan agar dapat mengolah pare menjadi keripik yng nilai jualnya lebih mahal dan pastinya lebih awet. Masyarakat mantan narapidana atau yang terasingkan karena status sosialnya, sebaiknya diberikan motivasi, ketrampilan dan bimbingan agar mereka bangkit, berkarya dan hilang rasa mindernya. Ibu- ibu yang menjadi korban kekerasan bisa mendapatkan pelatihan menjahit atau membuat kerajinan tangan yang bisa dijual, sehingga mereka bisa bangkit dan mandiri, jauh dar keterpurukan dan kemiskinan.

Peran perpustakaan tersebut di muka dalam mendukung cita-cita bangsa: "... memajukan kesejahteraan umum & mencerdaskan kehidupan bangsa ..." . Betapa mulia cita-cita bangsa Indonesia, dan perpustakaan ikut serta dalam mengemban tugas mewujudkan cita-cita mulia itu. Meskipun koleksi perpustakaan bukan milik atau karya kita, tapi ada jasa dan karya pustakawan disana yang tidak bisa dipungkiri. Pustakawan yang melakukan pengadaan koleksi, mengolah koleksi hingga siap layan, dan pustakawan yang melayani dan bertemu langsung dengan pemustaka.

Disinilah tugas paling mulia itu diemban oleh pustakawan. Bukan sebagai dokter kita bekerja, tapi sebagai pustakawan kita diharapkan mampu menyembuhkan “penyakit” jiwa dan pikiran masyarakat. Bukan sebagai fisioterapis kita menerapi, tapi sebagai biblioterapis kita mendampingi. Bukan dengan obat kita memnyembuhkan, tapi dengan koleksi kita mengubah keadaan.
                                                                                                                           
Sumber:
  • https://news.okezone.com/read/2019/01/03/65/1999638/perpustakaan-berbasis-inklusi-sosial-tingkatkan-kesejahteraan-masyarakat, diakses 24 April 2019
  • https://programpeduli.org/inklusi-sosial/, diakses 24 April 2019
  • https://www.mubaonline.com/berita/terpilih-laksanakan-program-perpustakan-berbasis-inklusi-sosial-dpk-muba-dapatkan-kunjungan-tim-monev-terpadu-muba3377t, diakses 24 April 2019

Sabtu, 27 April 2019

"BEDAH BUKU" SEBAGAI PEMANTIK ANIMO MENULIS

Buku adalah The Window of the World "jendela dunia"  tersirat makna jika kita ingin melihat dunia maka banyak membaca buku.  Buku dalam catatan sejarah semuanya berawal dari zaman Mesir Kuno tahun 2400 SM.  dimana pada waktu itu orang-orang menuliskan simbol-simbol pada lembaran-lembaran daun Papyrus yang disusun menjadi sebuah buku pertama.

Masyarakat Timur Tengah menulis pada kulit domba yang disebut Perkamen dari lembaran Perkamen yang disusun dan dijilid menjadi sebuah buku. Yang unik bangsa Cina menggunakan potongan kayu dan bambu sehingga bentuk tulisan mereka berurut ke bawah.  Di zaman industri sekarang ini kertas dihasilkan dari kompresi serat yang berasal dari Pulp sebagai prototype dari kertas yang dikemas menjadi buku saat ini  yang memiliki arti besar dalam sebuah peradaban dunia.

Di zaman ini buku didesain dan dikemas sesuai dengan kebutuhan baca masyarakat khususnya pada lembaga pendidikan,  buku menawarkan beribu desain dan subyek yang mampu menggugah minat baca masyarakat,  ketika kita melihat sebuah buku yang pertama kita akan tertuju pada desain cover kemudian muncul keinginan untuk menyelami konten dari buku tersebut John Cremer dalam Pitra (2007:46) mengatakan "You sell a book by its cover" rata2 orang tertarik membeli buku karena sampul buku itu.

Dari sisi penulis buku merupakan citra diri (Self Image) dan menjadi konsekuensi bagi penulis untuk menguasai anatomi buku (batang tubuh) sebuah buku sebagai ilmu dasar dan cikal bakal lahirnya buku yang berterima bagi pembaca. Sistematis dan apiknya sebuah buku ditentukan oleh pengetahuan penulis dan editor tentang anatomi buku itu sendiri.


Spirit bedah buku bagi civitas akademik

Bedah buku atau book review, resensi buku,  ulasan buku adalah kegiatan mengevaluasi,  menilai, mengkritik, dan memberikan perbandingan padasebuah buku dalam sebuah event bedah buku. Bagi Civitas Akademik  ini adalah salah satu manifestasi dari tugas utama dosen dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,  dosen dituntut untuk giat menyebarkan sumber informasi melalui hasil penelitian dan hasil karya buku.

Unesco mendefinisikan; a book is a non-priodical printed publication of at least 49 pages, exclusive of the cover pages, published in the country and made avaluable to the public.  (buku adalah publikasi tercetak tidak berkala dengan ketebalan 49 halaman, memiliki sampul yang khas dipublikasikan di negara dan disediakan untuk masyarakat.

Ada empat bagian dalam event bedah buku yaitu; kelompok pembaca,  mereka yang menjadi audiens atau orang-orang yang hadir pada event bedah buku sudah memiliki dan membaca buku yang akan dibedah; Penulis,  adalah orang yang memberikan roh pada rangkaian teori dalam sebuah buku melalui penelitian dan melalui hasil pikir para ahli yang dijadikan referensi dari buku yang dibedah; Pembanding,  pada bedah buku sering dihadirkan orang yang punya disiplin ilmu berkaitan dengan buku yang akan dibedah walaupun ini tidak menjadi keharusan pada acara bedah buku, namun pembanding sering menjadi energizing  bagi kegiatan bedah buku.

Idealnya event bedah buku dihadiri oleh pembaca buku yang memiliki buku itu,  event bedah buku memberi keuntungan bagi penulis dan penerbit karena event ini memberi efek larisnya buku yg dibedah dan menjadi alasan dan pertimbangan  bagi endorsment atau penerbit untuk menerbitkan edisi revisi,  bagi peserta (audiens) sering dalam event ini memperoleh doorprize sebagai bentuk apresiasi dari penulis dan penerbit.


Bedah buku bagi Perpustakaan

Pengelola Perpustakaan pada sebuah lembaga/unit pendidikan tinggi sering menjadi event organizer bedah buku dan mempunyai peran secara masif dalam mensukseskan minat baca,  minat membeli buku,  minat mengunjungi perpustakaan hal ini termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab I Pasal 4: Perpustakaan bertujuan memberikan layanan bagi pemustaka,  meningkatkan kegemaran membaca serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan bangsa.

Kegiatan bedah buku di kampus mampu memberikan sinergi antara dosen dan  pengelola perpustakaan (pustakawan). Jika Perpustakaan diasosiasikan sebagai jantung perguruan tinggi, mahasiswa adalah darah yang dihantar oleh pembuluh darah dalam hal ini dosen menuju ke jantung (Perpustakaan),  mobilisasi darah melalui pembuluh darah membuat jantung tetap berdenyut.