Selasa, 15 September 2020

Refleksi HKP. dan geliat literasi mengejar lebel identitas


Di era disrupsi digital,  masa pandemi saat ini bertepatan hari kunjung perpustakaan (HKP) buah pikiran Martini Hardjoprakoso,  kepala Perpustakaan nasional pertama tahun 1980-1998.

Ada yang klise dari Hari nasional yang ditetapkan pada setiap 14 september melalui surat keputusan kepala perpustakaan nasional RI. Nomor: 020/A1/VIII/1995 ini.

Sebelum pandemi para pemustaka (pengunjung perpustakaan) masih terlihat berbondong bondong mngunjungi gedung yang mnyimpan bahan pustaka biang ilmu pengetahuan.

Sekejap ruang itu bertransformasi ke platform digital. Perpustakaan mengunjungi pemustaka melalui gadget di ruang virtual.

Layanan di plosokpun meradang untuk memenuhi kebutuhan baca masyarakat kunjungan langsung pustaka ke masyarakat dilakoni dgn transportasi beraneka ragam mulai dari  bersepeda,  perahu sampai betkuda,. 

Pustaka saat ini

Informasi berseliweran terus mewarnai media. Para penulis antusias mengisi media online dengan beragam genre, beragam topik dan beragam manufer yang seakan tidak pernah kosong dari ide ide.

Dunia menulis menggeliat, eksistensi  penulis dari segala disiplin terus merespon kondisi sosial dalam susunan diksi untaian kalimat dalam artikel mengalir di dunia maya saling berebut pembaca.

Kalimat tanya yang berkelindang di benak saya.  Apakah ini diartikan bahwa tugas sebuah perpustakaan sebagai penyebar informasi antusias mengambil peranan sebagai lembaga penyebar informasi?.

Apakah bisa diyakini bahwa informasi tulisan yang bertebaran di media sosial itu terbaca. Seperti tugas perpustakaan yang selalu memastikan bahwa informasi berupa buku yang dimiliki memiliki data berapa banyak orang yang menggunakan buku di perpustakaan?.

Apakah di zaman ini perpustakaan masih menjadi identitas di beberapa kota ketika pandemi Covid-19 mengasingkan kita dari layanan langsung perpustkaan dan ketika era disrupsi digital betul betul sudah terjadi?.

Perpustkaan saat ini tutup, kehilangan spirit literasi. Kontradiktif dengan sejarah ketika saudara laki laki Kaisar bizantium Konstantinus XI yang lari ke Roma dengan membawa serta perpustakaan dalam sejarah abad ke -15 ketika Turki menaklukkan Konstantinopel.

Menyambut quote Bung Hatta yang melegenda “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bebas”.

Buku saat ini betul betul menjadi barang yang antik melebihi kesan antik ketika sebuah  buku tidak terbaca berbaris berhias debu di dalam etalase dan rak perpustakaan.


Perpustakaan sebagai ikon kota

Dalam sebuah komune pegiat literasi saya diajak ngobrol sebagai seorang pustakawan. Mereka bersemangat membahas tentang kota tercinta yang berlabel kota pendidikan, namun tanpa melibatkan sebuah gedung perpustakaan sebagai landmark atau identitas kota.


Bersama pegiat literasi Kota Parepare


Saya menghela nafas merasa ada yang beda dari obrolan perpustakaan bersama para pegia literasi ini.

Kepedulian bukan sekedar mereka berkumpul untuk mengajak mereka yang tidak membaca tapi,  berkumpul berkolaborasi untuk tujuan membahas bagaimana perpustakaan bergeliat.

Perpustakaan seumpama mall, tempat wisata, warkop, dan cinema yang banyak dikunjungi pemustakanya di kota yang banyak menjanjikan kenyamanan.

Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.

Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa,  salah satu  item dalam UU no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.

Fungsi perpustakaan di atas seharusnya memantik kesadaran pemerintah kota untuk membangun perpustakaan dengan fasilitas pendukung bagi pustakawan dan pemustaka.

Sekuat apa kita butuh perpustakaan, Kita adalah bangsa dengan budaya ngobrol yang tinggi dan hegemoni budaya ini mungkin hanya bisa dibungkam oleh. Kemewahan perpustakaan yang salah satunya saya gambarkan Trinity College Library: Dublin, Irlandia.

Dengan panel kayu gelap dan langit-langit yang melengkung tinggi, perpustakaan ilmiah ini begitu mempesona. Selain itu, Trinity College juga dikenal sebagai perpustakaan terbesar di Irlandia. Tidak hanya itu saja, perpustakaan ini juga mendapatkan gelar "perpustakaan hak cipta", yang memberikan hak untuk memperoleh materi yang dipublishkan dalam negeri tanpa biaya apapun.

Saya berfikir di keterbatasan dukungan pemerintah kota tidak harus menjadi penghambat untuk menggunakan fasilitas yang ada saat ini,  namun pegiat literasi " Gelanggang buku" jauh berfikir perpustakaan sebagai identitas kota.

Ini adalah kemajuan cara pandang tentang kota meskipun gemerlap perpustakaan di tanah air ini belum mampu memalingkan kita dari gagap gempita ala warkop dan keseruan teman ngobrol sembari menyeruput dibalik rindangnya "setangkai bunga makka" (warkop literasi).

Saat ini buku meninggalkan rumah nyaman perpustakaan, merangsek masuk ke setiap ruang kumpul kita, apakah ini bagian dari "identitas"?.


Inklusi sosial

Perpustakaan yang diharapkan saat ini adalah perpustakaan berinklusi sosial.  Perpustakaan memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya.

Melakukan perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak azazi manusia.

Data tes internasional menunjukkan lebih dari 55% orang Indonesia yang menyelesaikan pendidikan masih mengalami functionally illiterate.

Functionally illiterate,  kurangnya kegiatan membaca dan menulis untuk mengelola kehidupan sehari-hari dan pekerjaannya yang membutuhkan kemampuan membaca.

Kunjungan perpustakaan dapat bermanfaat untuk kehidupan dengan memperoleh skill yang mampu meningkatkan taraf ekonomi. 

UNESCO di tahun 2016 menyatakan Pogram Literasi untuk Orang Dewasa muncul untuk menghasilkan beberapa manfaat, khususnya membangun self esteem (kepercayaan diri) dan empowerment (pemberdayaan) dengan mekanisme pembiayaan yang sama efektifnya dengan pendidikan utama di sekolah.

Perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat menyediakan informasi dan fasilitas belajar yang berperan untuk mendorong peningkatan literasi masyarakat.

Menuliskan literasi tidak akan terhenti sampai disini karena fenomena ini bergeliat memasuki ruang gemerlap kota yang diusung pegiat literasi,  sisanya bagaiman pemkot mengapresiasi,  menfasilitasi kerja mereka untuk membangun "Perpustakaan sebagai identitas kota". Wassalam. 

Minggu, 13 September 2020

Perpustakaan: Jalan Menuju Surga (Refleksi Hari Kunjung Perpustakaan)

Oleh: Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I 
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Seperti yang ketahui bersama bahwa pemerintah Indonesia melalui Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI telah menetapkan tanggal 14 September melalui surat Kepala Perpustakaan Nasional RI nomor 020/A1/VIII/1995 pada tanggal 11 Agustus 1995, sebagai Hari Kunjungan Perpustakaan (HKP), dimana  ide  tersebut lahir dari pemikiran Mastini Hardjoprakoso yang merupakan Kepala Perpusnas pertama yaitu tahun 1980-1998. 

Sejarah HKP pencanangannya dimulai sejak 14 September 1995 di Banjarmasin dimasa pemerintahan Presiden Soeharto yang tujuannya adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang tergolong masih rendah. Hinggi kini selama 25 tahun sudah, HKP terus dperingati dan digalakkan.

 Perpustakaan seperti dijelaskan dalam Undang-Undang Perpustakaan RI Nomor 43 tahun 2007 pasal 1 ayat 1 mendefinisikan perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka.  Dari definisi tersebut bahwa di era informasi  saat ini perpustakaan mengalami transformasi seiring dengan kemajuan teknologi informasi, dimana perpustakaan tidak hanya sebagai sebuah tempat  menyimpan dan meminjam buku saja.

Transformasi Perpustakaan
Menurut Joko Santoso, Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpusnas RI, arah transformasi perpustakaan lebih bergeser kepada basis inklusi sosial yang mencakup 3 hal yaitu perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan yang menjadikan perpustakaan sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat yang mampu melahirkan berbagai inovasi dan kreatifitas masyarakat; perpustakaan sebagai pusat kegiatan perberdayaan masyarakat yang berkomitmen pada peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat; perpustakaan sebagai pusat kebudayaan melalui pelestarian dan pemajuan khazanah budaya bangsa secara berkelanjutan untuk kemajuan masyarakat.

Aspek transformasi perpustakaan mencakup 3 hal yaitu Koleksi, Ruang dan Layanan. Karakter dari KOLEKSI yang ditransformasi adalah koleksi perpustakaan yang BERMAKNA untuk membantu pemustaka dalam memahami diri dan dunia; REFLEKTIF-Gue Banget, pemustaka dapat melihat dirinya sendiri pada koleksi perpustakaan secara positif dan akurat; RELEVAN, koleksi perpustakaan berhubungan dengan pengalaman hidup dan signifikansi kecakapan hidup; MENVALIDASI, koleksi perpustakaan menegaskan nilai-nilai keberagamaan, kebenaran, kejujuran, keadilan, kegigihan); MEMBERDAYAKAN, memungkinkan pemustaka untuk berbuat perubahan positif dalam kehidupan diri dan komunitas mereka; INKLUSIF, koleksi perpustakaan mencerminkan spektrum keragaman seluas mungkin dalam hal konten, kepengarangan dan akses; MEMUDAHKAN, multimodal dan multiple media; dan MENUMBUHKAN, koleksi perpustakaan menumbuhkan kesadaran sosial, kesadaran politik dan kesadaran kultural.

Karakter dari RUANG yang ditransformasi adalah MENEGASKAN, ruang perpustakaan merayakan keragaman dan sikap positif ilmu pengetahuan; RESPONSIF, ruang perpustakaan adaftif dalam menghadapi perubahan demografi, kebutuhan dan minat pemustaka; MENGUNDANG, ruang perpustakaan mengundang beragam orang, keluarga dan anggota komunitas ke dalam ruang perpustakaan dan berkomunikasi; MENGHARGAI, ruang perpustakaan mengadaftasi sikap saling menghargai budaya masyarakat dengan memasukkan item-item budaya lokal; FLEKSIBEL, ruang perpustakaan dapat digunakan dalam berbagai tujuan oleh berbagai jenis pengguna individu, kelompok kecil, termasuk kelas-kelas pembelajaran; PERLUASAN; ruang perpustakaan serupa dalam dimensi fisik dan virtual; dan NYAMAN, ruang perpustakaan mengundang pemustaka untuk berlama-lama di perpustakaan. 

Karakter dari LAYANAN yang ditransformasi adalah TRANSFER PENGETAHUAN, perpustakaan berusaha membangun akses pengetahuan ke pedesaan, termasuk mengubah perpustakaan menjadi penyedia layanan internet; LIFESKILL, perpustakaan berusaha mengembangkan kecakapan dan keterampilan kerja; KESEJAHTERAAN, perpustakaan mampu memastikan kesehatan dan kesejahteraan komunitas. Dalam waktu dekat, pustakawan harus menjadi mitra utama kesehatan masyarakat dalam mengembangkan upaya penelusuran kontak pandemi; PUSAT INFORMASI KRISIS, perpustakaan harus menyediakan layanan tanggap krisis/darurat dalam situasi bencana alam atau sosial; INKLUSIF, perpustakaan mampu menguatkan empati pemustaka yang beragam kondisi. Ramah difable dan menolong kaum marjinal dan sektor informal; PERLUASAN LAYANAN, perpustakaan menyediakan layanan yang tak terbatas pada fisikal, tetapi juga virtual; dan PARTISIPASI, adanya perpustakaan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat untuk berkegiatan dan berbagi pengalaman praktis di perpustakaan untuk memperluas transformasi pengetahuan.

Taman Surga Pengetahuan
Jika kita melihat kegiatan perpustakaan di era pandemi saat ini, banyak sekali mengadakan berbagai webinar gratis secara online, seperti seminar, workshop, bimtek, bedah buku yang menjadi surga ilmu pengetahuan bagi siapa saja yang ingin mengikutinya. Ketika kita bisa hadir berkunjung dan mengikuti webinar tersebut, maka berarti kita telah berada dalam sebuah majelis ilmu yang diibaratkan dalam Islam sebagai Taman Surga di dunia yang akan terus memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi setiap mereka yang haus dengan berbagai ilmu dan melalui perpustakaanlah sebagai salah satu pintu sumbernya ilmu pengetahuan.
Suatu ketika, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu (RA) mendengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) bersabda: “Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu).” (HR. Tirmidzi)

Dari hadits tersebut, yang dimaksud dengan taman surga adalah majelis ilmu/webinar yang mempelajari berbagai ilmu dengan dihadiri banyak orang dalam berbagai forum kegiatan. Bila umatnya melihat forum-forum seperti itu, maka segeralah singgah hadir bergabung, karena sejatinya itu bagian dari taman surga. Ternyata undangan spesial dari Nabi kita adalah menghadiri majelis ilmu. 
Siapa saja yang memenuhi undangan ini juga akan mendapatkan hadiah istimewa langsung dari Allah, apa saja? Tidak tanggung-tanggung, Allah SWT berikan langsung empat hal bagi tamu taman-taman surga ini yaitu Allah turunkan ketenangan dalam hati, Allah berikan rahmat bagi mereka, para malaikat Allah kumpulkan ditengah majelis itu, Allah sebutkan orang yang menjadi tamu taman surga itu dihadapan para malaikat-Nya.

Ibnul Qayyim RA berkata, “Barangsiapa ingin menempuh taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majelis-majelis zikir, karena ia adalah taman- taman surga.” Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR.Muslim). 

Islam begitu tinggi menjunjung seorang penuntut ilmu (ahli ilmu). Janji Allah bagi orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu syar'i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga karena ia telah mendapat ilmu tentang bagaimana cara menuju surga. 

Betapa indahnya keutamaan para penuntut ilmu, yang hadir dalam majelis ilmu atau berkunjung ke perpustakaan mencari ilmu sampai-sampai mereka dibicarakan oleh Allah SWT dan para malaikat. Mereka pun dicari-cari malaikat, sehingga saat di majelis ilmu, malaikat membentangkan sayap-sayapnya sebagai tanda perhormatan bagi para penuntut ilmu.

Kamis, 03 September 2020

Menjawab Pertanyaan Via Chat Webinar Ketika Pustakawan Bloger Berkisah

Acara webinar ngobrol-ngobrol santai nan ringan di Zoom "Ketika Pustakawan Blogger Berkisah," akhirnya bisa terlaksana malam tadi (3/9/2020). 

Terima kasih buat Ibu Labibah selaku moderator dan teman-teman Pustakawan Blogger walau tanpa panitia atau bisa juga disebut panitia dadakan, tapi bisa langsung aksi. 

Ketika Pustakawan Blogger Berkisah

Terima kasih juga buat Kang Yogi yang sigap hingga membuat flayer-nya dan cerita-cerita penuh motivasi sisi lain diblognya, Kang Ambar BSN sebagai host, mantap. Walaupun ada sebagian teman-teman yang mengalami kendala teknis seperti konon katanya mati listrik. Tapi, tak mengapa, semoga nanti bisa mengikuti acara pustakawan blogger selanjutnya. 

Terima kasih juga buat Luckty blogger yang terus konsisten menulis resensi buku (wawancara dengan blogger yang satu ini bisa dibaca disini: Sang Pustakawan dan Blogger Produktif dari Metro), Kang Irsan yang konsisten menulis tentang dunia literasi, Mas Danang sang dosen yang jos ceritanya, teman-teman pustakawan blogger lain yang keren ikut berdiskusi: Kang Nasrullah Sitam, Kang Wahid dari LIPI (wawancara dengan pustakawan keren ini disini: KTI Membuat Pustakawan Lebih Eksis), Kang Arif UGM semoga bisa lanjut Doktor Ekonomi Syariahnya (he..2), Ibu Bernadetta  dan Kang Yuan yang sudah urun rembug dan pastinya yang di tunggu-tunggu, Mbah Paijo yang super mantap dengan kisahnya. 

Terima kasih buat teman-teman lainya yang sudah ikut nimbrung. Semoga mulai menulis lagi, ya minimal di blog (he..2). 

Sedikit sejarah awal saya ngeblog, sudah diceritakan di acara tersebut. Kisah-kisah perjalanan saya terkait ngeblog juga sebenarnya ada di ebook yang sudah pernah publish diblog ini: Dua Dunia Seirama: Secarik Kisah Pengalaman Menulis Pustakawan Blogger.

Ok, kali ini saya ingin sedikit menjawab beberapa pertanyaan dari teman-teman melalui chat saat acara berlangsung dan kebetulan karena keterbatasan waktu, ada yang belum sempat dijawab. Pertanyaan ini hanyalah jawaban singkat pribadi, jadi teman-teman pustakawan blogger yang menjadi narasumber lainya (Purwoko, Yogi, Luckty, Irsan, dan Danang) atau teman-teman pustakawan blogger lainya, barangkali bisa memberi jawaban juga melalui blog ini. Pastinya pengalamanya akan berbeda-beda. 

Berikut pertanyaanya:

Assalamualaikum, mohon maaf sebelumnya, saya pustakawan tetapi bukan blogger, hehe. Saya tidak sengaja menemukan id zoom webinar ini dan saya tertarik mengikutinya. Semoga tidak diusir yaa.. hehe (Itanopii)

Semoga nanti tertarik untuk menulis salah satunya di blog ya.He..2

Gimana sih mas/mbak mempertahankan "nafas" di dunia bloger terutama nulisnya sih? (Muhammad khudri)

Sebenarnya sudah pernah saya singgung dan pernah tulis di buku "Motivasi Goblog: Semangat Menulis Blogger Pemburu Dolar" atau juga di slide saya "Motivasi Ngeblog ala Lebah,"  tapi dua hal yang mungkin bisa diawali:

1. Nulis yang ringan-ringan dulu, yang disenangi. 

2. Belajar konsisten dan berjanji pada diri sendiri misal satu hari satu tulisan atau kalau belum mampu satu minggu satu tulisan, dan seterusnya. Ayo praktik!

Mau tanya mbak/mas apa fungsi bloger dalam dunia perpustakaan pada masa sekarang setelah banyak disajikan media sosial lainya.? (Stefani Indah)

Bisa ladang promosi kepustakawanan, menuangkan ide awal gagasan kepustakawanan, personal branding, dan sejenisnya. Kendati sekarang banyak pilihan media sosial lainya, itu bisa dijadikan pelengkap. Misal tulisan di blog bisa di share di Facebook, Twitter, atau mungkin juga di Instagram dengan kemasan format visual (kasih link blognya). Bagaimana dengan Youtube? Bisa di combine. Sekarang ini, Youtube bisa jadi alat pemancing, tautkan link blognya di deskripsi video. Bisa sebaliknya, di embed kode Youtube di blog. Bahkan, menulis zaman now bisa di Youtube misal yang terkenal dengan istilah "Spoken Word"  

Saya mau tanya lebih bagus mana membuat artikel blogger dengan membahas satu topik saja apa campur-campur kayak gado-gado (Veny Fitriyanti)

Dua-duanya ok. Saya pribadi kenapa gado-gado? Untuk memancing pembaca lain, barangkali nanti gak sengaja membaca tulisan kepustakawanan. Terus tertaik. He..2

Klo satu topik juga ok. Bisa jadi pakar kelak dalam jangka panjang. Walaupun kalaupun ngomongin pakar, sering kali dikaitkan dengan harus banyak tulisan ilmiahnya. Tapi, menurut saya blog bisa menjadi covernya dululah. Misalnya ingin fokus nulis satu topik khusus "perilaku informasi," monggo dicoba, konsisten menulis tentang itu. Tulisan dengan gaya bahasa populer juga tak mengapa. Bisa dari berbagai perspektif. Di pencarian mesin pencarian juga saya yakin bisa lebih mudah menduduki peringkat pertama ketika ada yang mencari kata kunci itu.

Bagaimana caranya menumbuhkan rasa PD menulis di blog? (Moh Mursyid) 

Wah ini, yang nanya biasa nulis. Khusus akang ini skip aj deh.he..2

Bagaimana cara buat blog mas? (Nona Rosalinda)

Teknis ini, gampang, gak sampai 5 menit. Yang perlu perjuangan adalah menulis berkelanjutannya. "membuat blog itu mudah, menulis berkelanjutan yang perlu perjuangan." Banyak yang membuat blog, seminggu kemudian jadi blog berhantu.  

Bagaimana dampak yang signifikan blogger pustakawan terhadap perpustakaan? Apa ada dampaknya dengan misal lomba perpus maupun akreditasi perpus? Terima kasih (Senirah)

Saya jawab singkat ya, perpustakaanya bisa dikenal dengan mudah. Itu saja dulu. 

Untuk lomba atau akreditasi perpustakaan saya belum pernah ikut. Jadi, mohon maaf gak bisa jawab.

Ok, itu saja jawaban singkat dari saya pribadi. Teman-teman narasumber lain, silahkan pengalamannya bisa tulis diblog ini. Kalau ada pertanyaan yang terlewat, mohon maaf ya.

Salam,

Pustakawan Blogger Indonesia

Selasa, 01 September 2020

PERPUSTAKAAN (PUN) PEDULI LINGKUNGAN

 


Kondisi  lingkungan berpengaruh terhadap kualitas hidup manusia. Coba bayangkan betapa tersiksanya kita apabila lingkungan sekitar berbau, kotor dan tercemar akibat polusi udara, air dan tanah. Alih-alih menikmati hidup, lingkungan yang kotor dapat memicu berbagai penyakit yang menurunkan kualitas hidup manusia. Apabila kita renungkan, sesungguhnya lingkungan rusak akibat kebiasaan buruk manusia, antara lain: membuang sampah secara sembarangan, menebang pepohonan tanpa upaya menanam kembali dan masih banyak lagi. Celakanya, akibat rendahnya kesadaran manusia terhadap pentingnya kebersihan dan kelestarian lingkungan maka kebiasaan buruk tersebut masih terpelihara sampai saat ini. Bahkan kebiasaan tersebut diprediksi akan terus ada di tahun-tahun mendatang jika tanpa ada upaya merubah kebiasaan tersebut.

Dilain sisi, perpustakaan sebagai salah satu pilar peradapan memiliki tanggung jawab moral untuk mengikis kebiasaan buruk terhadap lingkungan. Menurut cendekiawan, perpustakaan merupakan wahana pendidikan non formal sepanjang hayat sebab perpustakaan menyediaakan beragam sumber informasi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan manusia. Jika ditelisik lebih lanjut, apa benang merah antara perpustakaan dan pelestarian lingkungan? Benang merahnya adalah literasi terhadap isu-isu lingkungan atau meminjam istilah Fritjof Capra (Fisikawan Austria) adalah Ekoliterasi. Sebuah konsep yang dikenalkan pada tahun 1995 yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia dengan memanfaatkan sumberdaya alam secara lestari dan berkesimbungan. Ekoliterasi menyasar pada perubahan perilaku yang ramah lingkungan dan perubahan pola pikir yang bersandar pada prinsip lestari dan berkesinambungan.


Perpustakaan R.I Ardi Koesoema, sebagai perpustakaan khusus dibidang lingkungan hidup dan kehutanan, mulai mengadopsi konsep ekoliterasi  sejak 2019. Kegiatan ekoliterasi dikemas dalam beberapa event, seperti: penyuluhan kepada peserta Perkemahan Bhakti Saka Wanabakti dan Kalpataru di bumi perkemahan Cibubur tahun 2019, story telling tentang lingkungan yang menyasar pelajar sekolah dasar pada tahun yan sama. Ternyata kegiatan ekoliterasi tersebut mendapat sambutan positif baik dari siswa, guru maupun mitra perpustakaan R.I Ardi Koesoema. Menyadari bahwa merubah perilaku dan kebiasaan perlu dilakukan sejak dini dan berkesinambungan maka Perpustakaan R.I Ardi Koesoema rutin mengagendakan ekoliterasi setiap tahunnya. Namun pelaksanaan ekoliterasi tahun 2020 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Awal tahun 2020, Dunia digemparkan oleh pandemi Covid-19. Jejak-jejak virus covid-19 masih dapat ditemui sampai saat ini. Guna mencegah penyebarluasan virus tersebut, maka pemerintah pun memberlakukan protokol pencegahan virus dibarengi perubahan perilaku sehat dengan menjaga kebersihan diri. Menimbang hal tersebut, Perpustakaan R.I Ardi Koesoema menyelenggarakan ekoliterasi yang dikemas dalam acara bercerita dengan tetap mengacu pada protokol pencegahan Covid-19. Para peserta story telling bertema ‘Lingkungan Sahabat Kita’ diupayakan mematuhi ketentuan seperti: mencuci tangan sebelum memasuki ruangan, menjaga jarak dan memakai masker dan face shield. Peserta yang berasal dari perwakilan kelas 4,5,6 salah satu sekolah dasar di Kabupaten Bogor tersebut dibatasi hanya 20 orang. Sedangkan siswa lainnya menyimak acara tersebut melalui link Zoom dan Youtube yang telah disediakan oleh panitia. Acara bercerita tersebut menampilkan Kak Bugi dan boneka Otan-nya (orang hutan) dengan menekankan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan cara membuang sampah pada tertib, manfaat pepohonan, cara menyemaikan benih. Selama acara, pendongeng menyelingi materi dengan menyanyi  bersama. Terlihat antusiasme peserta mengikuti dan menyimak kegiatan bercerita tersebut.

Penyuluhan dalam bentuk mendongeng diyakini efektif dalam menyampaikan pesan kepada audiens berusia anak-anak. Mendongeng merupakan kegiatan yang mengkombinasikan aspek hiburan dan aspek informasi. Pesan dikemas secara non formal dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak. Boneka berfungsi sebagai alat bantu visualisasi dalam menyampaikan pesan sehingga pesan cerita dapat meninggalkan kesan mendalam dalam benak anak-anak. Diharapkan kesan kognitif  terkait kelestarian lingkungan tersebut tersebut akan berpengaruh positif terhadap perilaku (afektif)  anak-anak dimasa dewasanya kelak.

Sebagai penutup, Perpustakaan sebagai pilar peradapan berperan penting dalam pelestarian lingkungan melalui penyebar luasan ekoliterasi. Sebuah konsep yang bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan/seperangkat keterampilan mengakses informasi terkait lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Khususnya untuk anak-anak usia sekolah, ekoliterasi dapat dikemas dalam bentuk mendongeng. Mengkombinasikan pesan verbal dan visual, mendongeng dinilai efektif untuk meninggalkan kesan kognitif yang mendalam sehingga dapat merubah perilaku anak dimasa dewasanya. Ekoliterasi sebagai wujud kepedulian perpustakaan terhadap pelestarian lingkungan. Semoga tulisan ini bermanfaat. (RAH)

Rabu, 19 Agustus 2020

Menghitung Umur Pustakawan (Refleksi Tahun Baru Islam 1442 Hijriah)

Oleh: Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
Tak terasa sekarang kita memasuki tahun baru Islam 1442 Hijriah, yang tentunya umur atau usia kita juga bertambah dan sekaligus kontrak hidup di dunia ini semakin berkurang. Karena bertambahnya usia kita, membuat semakin berkurangnya masa hidup di dunia.

Bicara tentang umur merupakan misterius problem. Tidak ada seorang pun yang tahu, apakah dia seorang ulama, kyai, raja, presiden, termasuk juga seorang pustakawan yang sehari-hari bekerja di perpustakaan bersahabat dengan buku, perihal tentang berapa lama umurnya ia hidup di dunia.  

Umur itu bisa dilihat dari dua makna yaitu umur biologis dan umur amal shaleh atau kebaikan. Umur biologis adalah umur yang sudah ditentukan batas waktunya oleh Allah SWT seperti ada orang yang diberi umur 60 bahkan 100 tahun. Umur biologis ini tidak bisa ditawar dan tidak diketahui oleh manusia. Tetapi untuk umur kebaikan, bisa kita perpanjang. 

Ada sebuah nasehat perkataan dari Buya Hamka yang dikenal sebagai seorang Ulama dan Sastrawan Indonesia, beliau mengatakan bahwa “kita sudah MATI hancur dikandung tanah, tapi kita masih hidup. Dalam umur yang sekian pendeknya yang telah kita lalui di dunia, misalnya 70 tahun, dia bisa kita panjangkan. Dengan apa! Dengan sebutan, dengan bekas tangan (tulisan), dengan iman dan amal shaleh”. Sesuai dengan apa yang disebut dalam pantun Melayu “Pulan Pandan Jauh Ditengah, Dibalek Pulau Angsa Dua, Hancur Badan Dikandung Tanah, Budi Yang Baik Terkenang Jua”.

Ada juga satu syair dari Syauqi Beikh seorang Penyair Arab Mesir yang terkenal mengatakan “Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu yang akan dikenang orang daripada dirimu, karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia”. Banyak orang yang setelah dimasukan ke dalam kubur, masuk sudah ditimbun kubur tadi, orangpun pulang ke rumah, sebutan orang tadi keluar dari kuburnya tiap hari dia keluar, setahun, dua tahun, sepuluh tahun, seratus tahun, malah ada yang beribu tahun.

Nabi kita Muhammad SAW umurnya cuma 63 tahun, tapi beliau sampai sekarang sudah 1442 tahun, masih seperti kemaren saja hidup beliau, menjadi sebutan orang siang dan malam. Inilah maksud yang dikatakan orang, “sesudah mati dia hidup kembali”, lebih panjang umurnya 63 tahun dibandingkan dengan 1442. Dan selama adzan masih kedengaran di puncak menara, entah ratusan ribuan lagi, itu nama akan tetap hidup.

Fase Umur

Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (1998: 13-14), menjelaskan bahwa kehidupan manusia terbagi ke dalam 5 (lima ) fase umur, yaitu Fase Umur Pertama, dimulai sejak Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT. Saat itu juga dalam punggung Nabi Adam AS terdapat anak-cucunya. 

Fase Umur Kedua, dimulai sejak kelahiran manusia ke dunia ini hingga meninggal dunia. Dalam fase umur kedua ini, berlaku taklif dimana manusia dibebani kewajiban-kewajiban tertentu ketika telah mencapai usia baligh dengan kewajiban menunaikan perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya.

Fase Umur Ketiga, dimulai sejak manusia mati meninggalkan alam dunia ini hingga ia dibangkitkan oleh Allah dari kubur dengan tiupan sangkakala. Dan inilah masa tunggu manusia di alam barzakh. Fase Umur Keempat,  dimulai sejak manusia dibangkitkan keluar dari kuburnya atau tempat lain yang Allah kehendaki, lalu dikumpulkan di Makhsyar untuk diadili di hadapan Allah SWT dengan ditimbang semua amalnya untuk dihisab. Sesudah itu meniti jalan kecil (shirath) dan menerima buku catatan amal masing-masing. Fase Umur Kelima, sebagai fase terakhir dimulai dari saat masuknya manusia ke dalam surga atau neraka yang kekal abadi di dalamnya sesuai dengan catatan amal masing-masing selama di dunia. 

Kelima fase umur tersebut berlangsung secara urut dan berlaku pada semua manusia, yakni dimulai sejak fase umur pertama/alam azali, fase umur kedua/alam dunia, fase umur ketiga/ alam kubur/barzakh, fase umur keempat-kelima/alam akhirat yang dimulai dengan kebangkitan manusia dari kubur, berkumpul di makhsyar, ditimbang untuk dihisab amal-amalnya ketika hidup di dunia, hingga mereka mendapat sorga/neraka sebagai balasan atas amal yang kita lakukan.

Batasan Umur

Rasulullah SAW mengabarkan melalui hadits beliau yang artinya “Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.” (HR At-Tirmidzi). Penyebutan kelaziman angka umur umat akhir zaman ini tidak menafikan mereka yang wafat sebelum mencapai atau sesudah melewati kisaran tersebut. Meski ada yang berusia melebihi 70 tahun, jumlah mereka sangat kecil. 

Abdurra’uf Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan bahwa “umatku” yang disebut dalam hadits di sini bukan hanya pemeluk agama Islam (ummatul ijabah), tetapi manusia secara umum yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW dan seterusnya (ummatud da’wah). 

Umur umat Nabi Muhammad SAW relatif singkat dibanding umat terdahulu yang mencapai usia ribuan tahun, tetapi Allah SWT mengistimewakan segala amalan ummatnya dengan  limpahan rahmat berupa pahala kebaikan berlipat ganda atas amal ibadah yang membantu mereka di tengah keterbatasan usia mereka yang sangat singkat di dunia. Allah SWT juga memuliakan umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat akhir zaman ini dengan sedikit siksa dan hisab yang dapat menghalangi mereka dari masuk surga. Oleh karena itu, mereka adalah umat pertama yang masuk surga sebagaimana sabda Nabi SAW, “Nahnul ākhrūnal awwalūn” (Kami adalah umat akhir zaman yang awal (masuk surga). Ini termasuk kabar Rasulullah yang terbilang mukjizat. (Abdurra’uf Al-Munawi, At-Taysir bi Syarhil Jami’us Shaghir). 

Kualitas Umur

Suatu ketika Rasulullah SAW ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. (HR. Ahmad). 

Kenapa orang yang panjang umurnya dan baik amalnya merupakan orang terbaik? Karena orang yang banyak kebaikannya, setiap kali umurnya bertambah maka pahalanya juga bertambah dan derajatnya semakin tinggi dengan sebab nilai kebaikan yang terus tambah. Sebaliknya, seburuk-buruk orang adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya, berarti telah menyia-nyiakan umurnya, dia tidak akan beruntung bahkan merugi dengan kerugian yang nyata.

Nilai umur manusia memang tidak ditentukan oleh panjang atau pendeknya, melainkan oleh KUALITAS amal yang kita perbuat semasa hidup. Umur yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah AMANAH yang harus dipertanggungjawabkan dan diisi dengan berbagai amal shaleh. Rasululllah SAW bersabda, “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan”. (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).   

Sebagai penutup, di awal tahun Islam ini mari kita berdoa bersama “Ya Allah jadikanlah sebaik-baik UMURKU pada ujungnya & sebaik-baik AMALKU pada AKHIR hayatku & jadikanlah sebaik-baik HARIKU yaitu hari ketika aku bertemu dengan-Mu di hari kiamat”. (HR. Ibnu Sunny). Wallahu A’lam.

Kamis, 30 Juli 2020

Kunci Kebahagiaan Hidup Pustakawan (Sebuah Refleksi Pembelajaran Nabi Ibrahim AS)

Oleh : AHMAD SYAWQI
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

AHMAD SYAWQI
Dalam kalender Islam, bulan Zulhijjah merupakan bulan yang sangat mulia, karena di bulan tersebut umat Islam merayakan hari raya yang penuh makna yaitu hari raya Idul Adha atau yang dikenal dengan hari raya qurban yang dikaitkan dengan kisah tentang keimanan seorang ayah dan anak yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.  Mereka berdua sama-sama merelakan sesuatu yang paling dicintainya, sebagai pembuktian bahwa cinta mereka kepada Allah SWT adalah mutlak di atas segalanya. Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya Nabi Ismail yang sangat dicintainya dan Nabi Ismail pun merelakan nyawanya demi menjalankan perintah Allah SWT. 

Yang menjadi renungan kita adalah apa makna Idul Adha yang ingin disampaikan Allah SWT kepada ummatnya? Tentunya bukan hanya sekedar berqurban. Tetapi Allah SWT telah memberikan makna pembelajaran kehidupan yang bisa menjadi kunci kebahagiaan hidup bagi setiap manusia apapun profesinya, apakah ia seorang pedagang, guru, dokter, atau lainnya, termasuk bagi seorang pustakawan, ia akan merasakan kebahagiaan hidupnya ketika mengamalkan  apa yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS.

Pertama, Cintai Tuhanmu melebihi yang lainnya. Lewat Idul Adha, Allah SWT ingin mengajarkan kita tentang kemurnian cinta. Kita tentu tahu bahwa Nabi Ibrahim baru dikaruniai seorang anak saat usianya memasuki senja. Doa beliau untuk memiliki putra dikabulkan dengan lahirnya Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Bisa dibayangkan betapa beratnya hati Nabi Ibrahim ketika anak yang dinantikan setelah sekian lama, dirawat dan dibesarkan sekian tahun, dicintai dengan segenap hati, harus direlakan ketika Allah SWT memerintahkan kepadanya untuk menyembelih Ismail.

Namun rasa cinta Nabi Ibrahim yang begitu besar kepada Allah, mendorong hatinya untuk rela mempersembahkan Ismail, sesuai yang diperintahkan kepadanya. Nabi Ismail yang memiliki kecintaan yang sama murninya kepada Allah pun, merelakan dirinya dijadikan persembahan kepada Sang Pencipta. Tapi, cinta Allah jauh lebih murni dari cinta siapapun. Allah mengakhiri ujiannya kepada mereka, dengan cara menukar Nabi Ismail dengan hewan qurban.

Bagi seorang pustakawan, ketika kita ingin hidup dengan bahagia, wajib mencintai Tuhan sang pencipta dengan tulus ikhlas yang telah memberikan nikmat ilmu pengetahuan dan menshare ilmu tersebut kepada orang lain sehingga memberikan manfaat kebaikan sebagai amal jariyah yang terus mengalir, sehingga Tuhan pun akan mengangkat derajat kita sebagai orang yang berilmu pengetahuan dengan berbagai kemudahan dan keberkahan hidup berkah ilmu yang kita berikan kepada orang lain.

Kedua, Doa orang yang taat tak pernah terlewat. Nabi Ibrahim dikenal sebagai nabi yang begitu taat kepada Allah. Kecintaannya tak perlu diragukan. Maka ketika Nabi Ibrahim menginginkan seorang putra di usianya yang senja, Allah tak segan-segan mengabulkannya. Allah membalas ketaatan Nabi Ibrahim dengan keturunan-keturunan yang soleh dan berbakti pada orang tua. 

Bagi seorang pustakawan, doa menjadi senjata utama dalam melaksanakan segala aktivitas kepustakawanan, karena dengan doa akan menjadi kekuatan batin pustakawan untuk bisa melaksanakan tugasnya dengan ikhlas dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka sebagai  simbol ketaatannya kepada Tuhan terhadap tugasnya sebagai seorang pelayan informasi bagi pemustaka. 

Ketika pustakawan yang dengan ikhlas memberikan kebaikan dengan layanannya kepada pemustaka, maka secara otomatis, Allah SWT juga akan memberikan ganjaran kebaikan atas apa yang telah diberikannya kepada orang lain, dimana jika Allah SWT sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, asalkan kita juga menjadi hamba yang taat.  

Ketiga,  Ikhlas memberi rasa bahagia tanpa pamrih. Beribadahlah hanya karena Allah. Ini yang bisa kita pelajari dari Nabi Ismail, saat beliau merelakan dirinya disembelih oleh ayahnya sendiri. Bagi Nabi Ismail, mengorbankan nyawa sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah adalah bagian dari ibadah. Dan ketika Nabi Ismail ikhlas menyerahkan nyawanya, Allah membalas keikhlasannya dengan usia yang panjang, dan derajat kehidupan yang lebih baik. Buktinya, kita selalu mengenang Nabi Ismail setiap tahunnya. 

Bagi pustakawan keikhlasan dalam memberi harus menjadi karakter yang harus selalu melekat dalam dirinya. Ketika pustakawan memberikan pelayanan kepada pemustaka yang memerlukan informasi, maka keikhlasan harus selalu tumbuh dalam dirinya dengan segala kesiapan melayani segala keperluan si pemustaka sehingga memberikan rasa kebahagian bagi setiap pemustaka yang datang ke perpustakaan. Oleh karena pembelajaran terpenting adalah  berilah rasa kebahagian orang lain karena Allah, maka kita juga akan selalu merasakan kebahagiaan hidup.

Keempat, menjadi anak berbakti. Kalau kita jadi Nabi Ismail, mungkin kita akan meminta Nabi Ibrahim untuk memohon kepada Allah, supaya menarik lagi perintahnya untuk menyembelih leher kita. Tapi, Nabi Ismail beda. Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail justru yang meminta ayahnya untuk segera menjalankan perintah tersebut. Sepertinya Nabi Ismail takut kalau Allah akan marah pada ayahnya dan memberikan hukuman pada ayahnya. Kalau kita? apa yang sudah kita lakukan untuk kedua orang tua kita?

Bagi pustakawan, ketaatan untuk berbakti kepada orang tua menjadi modal utama dalam meraih keberkahan dan kesuksesan hidupnya. Ketika menjadi pustakawan maka keridhoan orang tua juga menjadi keridhoan Tuhan, sehingga pustakawan dituntut untuk selalu meminta doa mereka agar menjadi anak yang shaleh berbakti kepada kedua orang tua yang setiap saat selalu mendoakan mereka yang telah melahirkan kita semua ke dunia ini.

Kelima, Berbagi kepada sesama. Melalui Idul Adha, Allah ingin memberikan satu lagi kunci hidup bahagia. Selain mencintai-Nya dengan tulus, mencintai orang tua, kita juga harus mencintai sesama. Itu mengapa, berqurban disarankan untuk mereka yang mampu. Dengan harapan, saudara-saudara di sekitar kita yang belum mampu membeli daging yang harganya mahal bisa menikmati lezatnya berbagai menu olahan daging.

Kepedulian kepada sesama jangan hanya saat Idul Adha saja, tetapi harus belajar peduli sesama setiap saat. Tidak bisa menyumbang uang, bisa menyumbang tenaga. Tidak bisa menyumbang tenaga, bisa menyumbang pikiran. Tidak bisa menyumbang pikiran, bisa menyumbang doa. 

Bagi pustakawan kesempatan untuk berbagi terutama melalui ilmu dan informasi yang ia berikan sangat terbuka lebar melalui pemberian layanan kepada permustaka yang datang ke perpustakaan, maka berusahalah untuk selalu berbagi buat sesama.

Berharap dengan moment hari raya Idul Adha ini, sebagai pustakawan yang selalu berinteraksi dengan orang lain (pemustaka), mampu mengimplementasikan 5 hal tersebut melalui pengabdian yang kita berikan sehingga bisa memberikan kebahagian hidup bagi kita dan orang lain di dunia dan di akhirat nanti. Aamiiin.

Rabu, 22 Juli 2020

Melindungi Anak dengan Membaca (Refleksi Hari Anak Nasional 2020)

Oleh: 
Ahmad Syawqi (Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 23 Juli menjadi moment yang sangat istimewa bagi anak-anak Indonesia, karena pada tanggal tersebut merupakan perayaan Hari Anak Nasional (HAN) yang selalu dirayakan dengan meriah setiap tahunnya berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. 

Perayaan HAN tersebut dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak. Upaya ini akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Berbeda dengan perayaan pada tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan HAN tahun 2020 ini menghadapi tantangan karena adanya pandemi COVID-19 di Indonesia yang berimplikasi pada masyarakat, terutama anak, mengalami  berbagai persoalan seperti masalah pengasuhan bagi anak yang orangtuanya positif COVID-19, kurangnya kesempatan bermain dan belajar serta meningkatnya kasus kekerasan selama pandemi sebagai akibat diterapkannya kebijakan jaga jarak maupun belajar dan bekerja di rumah.

Berdasarkan tantangan tersebut, maka tema HAN tahun 2020 adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan Tagline #AnakIndonesiaGembiradiRumah. Hal ini sebagai motivasi bahwa pandemi tidak menyurutkan komitmen kita untuk tetap melaksanakan peringatan HAN tahun ini secara virtual, tanpa mengurangi makna HAN untuk mewujudkan anak Indonesia gembira di rumah selama pandemi COVID-19.

Buku Yang Menggembirakan

Di tengah pandemi COVID-19 ini, kegembiraan anak-anak sekarang lebih banyak berada di rumah dan sebagian besar tidak berada di sekolah sehingga lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sebagai salah satu kebijakan untuk melindungi anak-anak kita agar terhindar dari penyebaran COVID-19. 

Ada satu upaya yang dapat kita lakukan dalam melindungi  anak Indonesia agar selalu gembira, diantaranya adalah dengan memberikan bacaan berupa buku-buku yang menyenangkan kepada anak. Membaca dapat diibaratkan membuka jendela dunia, karena dengan membaca akan memperluas wawasan dan  juga dapat meningkatkan daya pikir dan kemampuan seseorang dalam menemukan hal-hal baru yang berguna bagi kehidupan. 

Sebuah laporan penelitian (A Society of Readers, 2018) yang disusun institusi riset Demos dan lembaga amal asal Inggris, Reading Agency, menyimpulkan bahwa membaca bisa membantu mengatasi gangguan kesehatan mental, problem mobilitas sosial, kesepian, dan bahkan mencegah demensia. Saking pentingnya membaca, laporan itu bahkan menyarankan Pemerintah Inggris menambah anggaran untuk aktivitas literasi (pengadaan buku, perpusatakaan, dan program membaca) hingga 200 juta paun (sekitar tiga triliun rupiah). 

Di Inggris, kesepian memang menjadi persoalan bagi kesehatan mental penduduknya, terutama mereka yang memasuki usia lanjut. Bahkan di negeri itu, salah satu posisi kabinet adalah “Minister for Loneliness”. Kesepian disebut bakal menjadi epidemi kesehatan mental pada 2030, sehingga A Society of Readers mengajukan membaca sebagai salah satu solusi mengatasi problem itu.

Ada juga sebuah penelitian yang sangat menarik terkait dengan budaya membaca anak di masa pandemi COVID-19 ini yang dilakukan oleh The reading Agency dengan hasilnya sangat memberikan dampak positif bahwa anak-anak menjadi rajin membaca di tengah situasi negara sedang karantina. Menariknya lagi, penelitian ini mengungkapkan bahwa banyak anak yang menjadi gemar membaca berbagai jenis buku ketika masa karantina. Responden untuk penelitian ini melibatkan sekitar 14.461 anak usia 7 hingga 11 tahun. Hasil penelitian dari agensi tersebut menyebutkan bahwa sekitar 89 persen anak usia 7 hingga 11 tahun telah membaca dalam beberapa bentuk. Selain itu, sebangak 37 persen diantaranya menghabiskan lebih banyak menghabiskan waktu daripada di sekolah.

Adapun penelitian ini juga mengemukakan alasan anak bisa lebih banyak membaca ketika masa karantina. Dari anak-anak yang diteliti, sebanyak 40 persen mengatakan bahwa membaca telah membantu dirinya menjadi lebih rileks. Di sisi lain, sebanyak 35 persen anak mengatakan bahwa membaca membuat mereka bahagia. Secara garis besar, banyak juga anak yang mengaku menemukan inspirasi membaca dari berbagai platform. Rata-rata anak mendapatkan insprasi ide dari Youtube sekitar 45 persen dan dari media sosial sebanyak 28 persen. Berdasarkan jenis kelamin, hasil menunjukkan bahwa sekitar 68 persen anak laki-laki dan 70 persen anak perempuan menjadi gemar membaca.

Memang tak semua anak membaca buku bacaan, ada juga diantaranya yang memilih untuk membaca buku komik. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena The Reading Agency tengah menjalankan inisiatif Summer Reading Challenge. Tujuannya tentunya untuk mendorong anak muda untuk lebih gemar membaca. Dari segi jenis bacaan, rata-rata anak memilih untuk membaca buku bacaan, yakni 61 persen. Sisanya yakni 40 persen memilih untuk membaca komik.

Beruntung kita saat ini pemerintah Indonesia telah mencanakan program cerdas yang yang mampu membahagian dan melindungi anak kita dari kebodohan dengan sebuah gerakan yang dinamakan GERAKAN NASIONAL ORANG TUA MEMBACAKAN BUKU (GERNAS BAKU) yaitu sebuah gerakan untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, di satuan PAUD, dan di masyarakat. GERNAS BAKU ini menjadi penting sekali dalam upaya membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak, mempererat hubungan sosial-emosi antara anak dan orang tua, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini. Kalau GENAS BAKU ini sudah menjadi kebiasaan, maka akan tumbuh menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik serta menjadikan para orang tua dan anaknya adalah orang yang selalu bahagia. 

Selamat HAN tahun 2020, tetap selalu rajin membaca di rumah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” #AnakIndonesiaGembiradiRumah.

MEMUPUK LITERASI PEMUSTAKA DI ERA "NEW NORMAL"

Hal yang akan sampaikan disini bukanlah suatu cerita, tetapi kegiatan nyata sehari - hari yang biasa kami  lakukan karena tugas dan tanggung jawab kami sebagai seorang pustakawan . Dapat dipastikan bahwa sebagai seorang pustakawan tentunya  seringkali bersentuhan atau berhubungan langsung dengan  pengunjung yang biasa disebut pemustaka, atau pengguna perpustakaan.

Ilustrasi diatas berbeda dengan pejabat struktural yang justru  memiliki PR  sendiri yang sangat berat,  dengan setumpuk pekerjaan yang harus dikerjakan berupa berbagai jenis berkas diatas meja kerjanya tentang beberapa rencana dan strategi yang justru sangat memerlukan perasan keringat yang tak terukur. Bukankah begitu ?

Dinas kami adalah  termasuk salah  satu Dinas Kearsipan dan Perpustakaan di Wilayah Provinsi Jawa tengah yang tentunya juga  mengikuti rangkaian aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan menerapkan  "Protokol Kesehatan Layanan Pengunjung" tepatnya  sejak tanggal 5 Juni 2020 ditengah "gelontoran" Era " New Normal " .

Perpustakaan umum di Dinas kami sudah mulai  dibuka kembali, setelah lebih dari sebulan  yang lalu sempat ditutup karena pandemi corona Virus Disease yang dikenal dengan Covid 19 , walaupun demikian pemustaka masih bisa menikmati layanan  Perpustakaan digital melalui iPekalongan Kab.

Layanan  bagi pemustaka di perpustakaan Umum yang sudah dibuka tersebut ,  berpedoman pada  syarat utama dan wajib menerapkan Pola " Protokol Kesehatan Layanan Pengunjung " secara ketat .Berbagai hal  yang diatur dalam Protokol Kesehatan Layanan Pengunjung tersebut antara lain meliputi : Cuci tangan pakai sabun, memakai dan menggunakan  Masker, pengukuran suhu tubuh, Jaga Jarak melalui kapasitas daya tampung maksimal, pakai hand sanitizer sebelum dan sesudah memegang buku. serta aturan tehnis lainnya yang diatur secara fleksibel oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan guna mengantisipasi hal hal riil yang mungkin terjadi saat pelayanan perpustakaan berlangsung,pada masa pandemi Covid 19.

Pemustaka yang telah mentaati  Protokol kesehatan layanan pengunjung  dimaksudkan agar pelaksanaan pelayanan pada Perpustakaan tetap berjalan aman, nyaman, lancar dan lebih baik guna memupuk kemampuan "literasi "dan menggairahkan semangat bagi pemustaka untuk kembali berkunjung ke perpustakaan pada era new normal dengan mematuhi  Kewajibannya  sebagai  pemustaka melalui penerapan Protokol kesehatan layanan pengunjung secara tertib dan teratur .


Namun kenyataannya dalam memberikan layanan perpustakaan tidak semulus yang kita harapkan, tampak masih kita temui ada beberapa pemustaka yang belum mematuhi aturan terutama anak-anak. Ketidak patuhan ini sebagaian besar dikarenakan  tidak memakai masker saat berkunjung ke perpustakaan. Hal tersebut tampak dalam Foto berikut:


Menghadapi kenyataan ini, bagi kami selaku pustakawan dan para pustakawan lainnya di Dinas kami sungguh sangat dilematis . Sanksi memang harus diberlalukan secara tepat dan benar . Hal inilah yang membuat para pustakawan jadi berfikir secara lebih serius dan sangat hati  hati dalam mengambil tindakan ,karena jika kita salah dalam mengambil tindakan maka bisa jadi pemustaka akan " Kapok " dan tidak mau kembali berkunjung ke Perpustakaan. Dalam mengatasi masalah ini , tentu saja kami tidak bisa langsung "Mengusir" Mereka dari perpustakaan secara kasar dan tanpa toleran , karena anak-anak memiliki jiwa yang sangat peka dan masil labil . Tindakan ini juga tidak bisa diterapkan bagi pemustaka lainnya walaupun bukan anak-anak.

Disamping hal tersebut , Pustakawan juga memiliki tugas yang sangat berat terutama dalam memupuk " Literasi Pemustaka Di Era New Normal . Anak anak atau siapapun pemustaka yang datang berkunjung ke perpustakaan adalah  mereka yang sudah memiliki kemampuan mengenal dan menginginkan literasi . Jika keinginan atau harapan dari pemustaka ini kita hentikan dan kita putus , tentu mereka  akan kecewa , terlebih jika pemutusan itu karena pemustaka belum mengetahui aturan Protokol Kesehatan layanan pengunjung di Era New Normal walaupun sudah  dipublikasikan melalui berbagai media yang terrsedia.

Dalam Wikipedia didefinisikan bahwa literasi adalah 

"Seperangkat kemampuan individu dalam membaca, menulis , berbicara , menghitung dan memecahkan masalah ".

Masalah riil yang dihadapi oleh pustakawan terkait dengan pelayanan perpustakaan pada era " New Normal " adalah masih ditemui pemustaka yang tidak menggunakan masker . Pemustaka yang tidak atau belum menggunakan masker ketika berkunjung ke Perpustakaan ada  dua kemungkinan :

Kemungkinan pertama adalah :  pemustaka yang belum mengetahui aturan " Protokol kesehatan layanan pengunjung " walaupun sudah dipublikasikan melalui berbagai media .Kemungkinan Kedua pemustaka yang sudah  mengetahui aturan " Protokol kesehatan layanan pengunjung " tetapi dia tidak mematuhi aturan tersebut secara tertib dan teratur karena belum memiliki Masker, ataupun sarana lainnya yang diperlukan ,

Sesuai dengan gagasan diatas , maka solusi yang tepat dalam memupuk literasi pemustaka di Era new Normal adalah dengan cara berupaya melakukan berbagai tindakan yang komprehensif meliputi :

Pertama : Bimbingan secara persuasif dan kontinue kepada pemustaka  tentang berbagai aturan yang harus dipenuhi sebagai pemustaka  di Era New Normal . 

Kedua : Lembaga menyediakan sarana dan prasarana tehnis yang diperlukan bagi Pemustaka  beserta tehnis pelaksanaannya , walaupun terkadang tehnis pelaksanaan tersebut di luar jangkauan tugas  pustakawan, tetapi pustakawan mempunyai kewajiban untuk membantu pemustaka .Misal anak anak yang belum bisa menggunakan masker maka kita sebagai pelayan pemustaka perlu membantu mereka dalam menggunakan masker tersebut.

Jika kedua hal tersebut diatas dipenuhi maka kami berharap semoga Pupuk literasi yang ditebarkan oleh Pustakawan kepada Pemustaka akan mampu menumbuhkan tingginya minat baca bagi pemustaka guna meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan  sehingga akar budaya belajar di negeri yang kita cintai ini semakin kuat dan berkembang serta membuahkan hasil karya nyata guna peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti yang kita dambakan bersama . 

Salam Pustakawan 
Penulis : Susetiyanti 
Pustakawan Dinas Arpus Kab Pekalongan.

Jumat, 17 Juli 2020

Semangat Pustakawan Melawan Covid-19

Perpustakaan Amrina Rosyada

Oleh: Wahid Nashihuddin (Pustakawan LIPI)

Namanya Wibowo Purnomohadi (Pak Bowo), seorang pustakawan di Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Ia sangat aktif dalam kegiatan kepustakawanan dan literasi informasi masyarakat.

Selain menjadi pustakawan, ia juga aktif di Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Cabang Kota Surabaya (sebagai wakil ketua), pendiri Perpustakaan Amrina Rosyada, sekretaris rumah pintar Jawa Timur, pengelola koleksi Prof M.Nuh (Menristekdikti), dan wakil ketua forum taman bacaan masyarakat Jawa Timur. Dengan banyaknya kegiatan dan pengalaman yang Pak Bowo miliki, ia diajak oleh para profesor untuk menjadi “Warga Komunitas Pendidikan Jawa Timur” dan sering diminta menjadi narasumber dalam pertemuan kepustakawanan.

Membangun Perpustakaan Pribadi

Sebagai pustakawan, Pak Bowo aktif mengajak pustakawan lain untuk membangun perpustakaan pribadi dirumahnya. Dalam setiap kesempatan, ia aktif memotivasi orang lain untuk bangkit dari kebodohan, serta melakukan advokasi kegiatan pustakawan dalam kegiatan strategis pemerintah, khususnya yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan literasi.

“Baginya, setiap ada kesempatan, pustakawan harus menjadi “garda terdepan” dalam gerakan literasi informasi di masyarakat, dan pustakawan harus mampu membuat masyarakat menjadi cerdas dalam berbagai aspek kehidupan”.
“Dokter saja bisa buka praktik di luar jam kerja bersama teman-teman seprofesinya dengan membuka klinik dan rumah sakit dari uang sumbangan pribadi (patungan), masa pustakawan ga bisa seperti dokter?” Hal itulah yang memotivasi Pak Bowo (sejak tahun 2006) untuk membangun perpustakaan pribadi. Ia berpendapat bahwa jika pustakawan bisa membangun perpustakaan pribadi, tentunya sangat “dashyat” dalam menggerakan semangat literasi di masyarakat.

“Perpustakaan Amrina Rosyada” itulah nama perpustakaan pribadi Pak Bowo, yang diambil dari nama putri tunggalnya yaitu Amrina Rosyada. Perpustakaan pribadi ini akan sangat membantu Pemerintah dalam meningkatkan budaya baca dan tulis masyarakat. Perpustakaan pribadi akan sangat membantu pustakawan ketika sudah purna tugas (pensiun), meskipun sudah tidak bekerja ia dapat memberikan layanan perpustakaan sepanjang hayat.

Untuk mengisi koleksi perpustakaan pribadinya, Pak Bowo saat ini sudah menyiapkan sekitar 7000 buku yang diperoleh dari bantuan orang lain (hasil ngamen buku) sejak tahun 2010. Dalam mengelola buku-buku di rumah, Pak Bowo dibantu oleh istri dan dikerjakan pada malam hari setelah pulang kerja. Buku-buku yang dikoleksi juga dipamerkan di lapak pameran dan taman-taman kota. Selain dari bantuan koleksi, Pak Bowo juga mulai belajar menulis buku yang diharapkan dapat menjadi koleksi pribadinya.

Masa Karantina dan Isolasi

Ketika pandemi Covid-19 melanda daerahnya (sejak Maret 2020), ia proaktif dalam kegiatan perpustakaan dan literasi informasi ke masyarakat. Dengan senang hati, Pak Bowo selalu memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik di jam kerja (kantor) maupun ketika dirumah.

“Intinya bahwa selama ada kesempatan, pustakawan harus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, dan siap membangun masyarkat yang literet di daerahnya”.
Hal yang paling menginspirasi adalah ketika Pak Bowo berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP) akibat Covid-19, hingga dirinya harus dikarantina di Rumah Sakit Jiwa Menur di Surabaya (selama 12 hari) dan menjalani isolasi mandiri di rumah sampai dinyatakan sembuh.