Jumat, 24 September 2021

Apakah Karya Digitalmu Aman dari Plagiarisme? Peran Perpustakaan Melindungi HKI dengan NFT

Oleh: Akmal Faradise

Mahasiswa Manajemen Informasi dan Perpustakaan UGM

NFT - photo by A M Hasan Nasim from Pixabay


Hari ini setiap orang dapat dengan mudah berkarya, apalagi berkarya dalam bentuk digital. Banyak tool yang tersedia untuk memudahkan hal itu, didukung gadget canggih yang mulai ramah kantong. Format karya digital semakin beragam, bahkan bisa disertifikasi sebagai barang unik (NFT) pada platform digital. Rasanya menyenangkan bukan ketika karya kita diapresiasi banyak orang atau dipamerkan di ruang publik seperti media sosial atau perpustakaan? Tapi rasanya juga menyebalkan ketika karya kita tersandung plagiarisme, atau diplagiasi tanpa hati. 

    Berkarya merupakan hak semua orang. Ada yang melakukan hanya sebagai sebuah kesenangan, ada yang menjadikannya sebuah jalan mencari nafkah. Seseorang bisa saja memiliki tujuan tertentu dalam berkarya, bisa saja juga tidak. 

    Suatu karya yang memiliki dampak besar biasanya tidak lahir dalam waktu yang singkat. Ada energi, ide dan perasaan pembuatnya. Ada yang ingin disampaikan pembuatnya kepada orang-orang. Terkadang, butuh waktu, dan biaya yang tidak sedikit untuk membuat karya sebaik itu.

    Sayangnya, seringkali suatu karya dibajak oleh orang lain. Pembajakan secara sederhana merupakan tindakan tanpa izin yang menyangkut karya orang lain lalu kemudian mengakui sebagai karya sendiri, atau melakukan ‘peniruan’ tanpa memberikan kredit. Bahkan dalam kasus tertentu, pembajakan dilakukan dengan motif ekonomi karena memang dapat menjadi jalan pintas untuk meraup keuntungan. Pembajakan timbul dari motif personal untuk mengeksploitasi, bertemu dengan celah dan kesempatan untuk memperlancar prosesnya. Pembajakan sudah ada sejak lama dan terus berlangsung hingga hari ini.

    Pesatnya internet dan media sosial dapat memberikan celah untuk memudahkan pembajakan. Mudah sekali hari ini untuk mengambil karya orang, atau meniru secara dominan tanpa memberikan kredit. Misalnya, ada sebuah karya yang kita lihat di media sosial berupa ilustrasi sampul buku. Selanjutnya kita membuat ilustrasi serupa dengan melakukan beberapa perubahan kecil pada warna dan font. Kemudian sampul buku itu kita jual, dan laku. Sadarkah kita bahwa kita telah membajak karya orang lain? Kalau itu terjadi pada karya kita, rasanya sakit bukan?

    Cerita seperti di atas sering kita temukan di internet atau dengar dari seorang kawan. Rasanya sudah menjadi sisi gelap yang umum orang tahu. Kabar baiknya, internet dan media sosial tidak cuma memudahkan pembajakan tapi sekaligus dapat memudahkan pelacakannya. Suatu karya yang terunggah di internet bisa dilacak siapa dahulu yang mempublikasikan. Ini memberikan kesempatan bagi kreator untuk memberikan karyanya perlindungan.

    Logikanya seperti ini. Misalkan kita membuat suatu ilustrasi. Apakah karya tersebut kira-kira sudah pernah dibuat dan dipublikasikan orang? Kita perlu melakukan pengecekan sebab bisa saja kita terinspirasi karya seseorang, pernah melihatnya di suatu tempat, dan secara tidak langsung tersimpan dalam bawah sadar dan menjadi inspirasi. Kita bisa mengunggah ilustrasi kita pada mesin pencari untuk melihat apakah kemudian muncul ilustrasi serupa, misalnya. Cara ini mirip sekali saat kita menggunakan plagiarism checker untuk melihat apakah tulisan kita punya kemiripan dengan karya orang lain. Internet dan media sosial yang bersifat ‘terkoneksi satu sama lain’ memungkinkan hal ini terjadi. 

    Atas dasar yang sama, prinsip ini juga terjadi pada blockchain. Blockchain pada dasarnya merupakan ledger terdistribusi yang mencatat setiap transaksi. Setiap orang yang terhubung pada blockchain dapat melihat transaksi yang terjadi –blockchain memiliki asas transparansi. Bila diterapkan pada konteks hak cipta, maka kreator bisa mengetahui kapan pertama kali karyanya dipublikasi. Tidak hanya itu, dengan sifat pencatatan permanen pada blockchain, nama kreator akan secara permanen tercatat dan tidak terpalsukan. 

    Beberapa waktu yang lalu, Non-fungible tokens (NFT) muncul sebagai isu yang ramai dibicarakan dalam ekosistem blockchain. Meski isunya lebih berat pada trading, lelang dan apresiasi nilai suatu karya seni digital, namun sebenarnya NFT memiliki kekuatan pada perlindungan hak cipta. NFT secara sederhana adalah token yang merepresentasikan kepemilikan atas suatu barang unik. NFT merupakan praktik asset tokenization yang bekerja di ekosistem blockchain. Dengan menjadikan suatu karya digital sebagai NFT, pada dasarnya kita memberikan perlindungan berupa sertifikat digital atas karya tersebut.

    Pertanyaannya kemudian, apakah NFT menjamin kreator dan karyanya aman dari tindakan pembajakan? Sayangnya ada berita miris mengenai ini. Banyak cerita yang bisa dibaca tentang pembajakan karya yang berlindung dibalik NFT. Teman-teman bisa membaca salah satu ulasannya di Whiteboard Journal. Rekapnya begini: karya seorang seniman bernama Kendra Ahimsa dijiplak oleh Twisted Vacancy. Kemudiain Twisted Vacancy mengunggah karya tersebut di blockchain sebagai sebuah NFT. Akhirnya, blockchain dan orang-orang akan lebih dulu melihat karya tersebut sebagai karya Twisted Vacancy bukan Kendra Ahimsa. 

    NFT memang ide yang menarik untuk mengamankan hak cipta suatu karya. Namun ada celah besar, screening. Sistem atau marketplace atau crypto project belum bisa mengantisipasi kepalsuan. Dalam arti siapapun yang meunggah suatu karya seni digital, maka sistem akan membaca dialah pembuatnya. Atau lebih tepatnya, hari ini belum belum disediakan opsi untuk memvalidasi hal tersebut. Sebab bagaimanapun, blockchain membawa ciri khasnya yang lain: anonimitas. Pada masa mendatang, masalah ini tentu bisa diselesaikan dengan pengembangan protokol dan mekanisme yang lebih ketat pada pembajakan. Atau yang bisa dilakukan hari ini: ada pihak tertentu menjadi penanggung jawab dalam mencegah pembajakan. Kehadiran pihak tersebut penting, utamanya bagi kreator pemula yang belum terliterasi mengenai hak cipta ataupun blockchain.  

    Pengetahuan setiap kreator berbeda mengenai pembajakan. Tidak semua punya cukup resource untuk mengadvokasi hal tersebut. Pengalaman dan relasi tentu berperan penting. Kreator yang sudah profesional tentu akan lebih siap menghadapi pembajakan, di luar apakah usahanya berhasil atau tidak. Namun bagaimana dengan kreator pemula? Bagaimana dengan seniman baru? Atau lebih spesifiknya, bagaimana dengan mahasiswa jurusan seni?

    Beberapa universitas di Indonesia membolehkan mahasiswanya membuat tugas akhir selain skripsi. Misalnya, mahasiswa jurusan kesenian dapat membuat karya seni digital menjadi tugas akhir yang menjadi syarat kelulusan. Membuat karya seni sebagai sebuah tugas akhir juga menjadi latihan yang bagus sebelum akhirnya berprofesi sebagai seniman di masa mendatang. Lalu, kemana tugas akhir tersebut bermuara? Perpustakaan.

    Perpustakaan menjadi tempat tugas akhir mahasiswa di kampus. Sebagai gerbang pengetahuan, perpustakaan juga berperan untuk melestarikan pengetahuan. Begitupun dengan karya seni. Tak ubahnya konsep Galleries, Libraries, Archives and Museums (GLAM) yang satu, karya seni dapat disimpan di perpustakaan juga dapat digunakan sebagai media belajar dan rujukan. Karya seni digital yang disimpan oleh perpustakaan dapat menjadi kekayaan pengetahuan. Hari ini, perpustakaan tidak harus menyimpan sendiri karya tersebut namun bisa menggunakan platform. Dalam konteks karya seni digital, perpustakaan bisa menyimpan karya seni digital mahasiswa pada blockchain sebagai NFT. Jadi alurnya bisa begini: 1) mahasiswa membuat karya seni digital, 2) mahasiswa menyerahkan karya seninya ke perpustakaan untuk keperluan tugas akhir,  3) perpustakaan mengubah dan menyimpan karya seni mahasiswa sebagai NFT.

    Perpustakaan akan mendapat keuntungan secara finansial juga dari setiap transaksi yang terjadi atas NFT yang terjual. Nantinya, royalti dari setiap NFT yang terjual dapat dibagi keuntungannya dengan mahasiswa sebagai kreator aslinya. Sebuah kondisi win-win solution. Tentu perpustakaan perlu mendapat bagian karena pada dasarnya proses minting memerlukan biaya (dengan cryptocurrency) yang sering kali tidak sedikit. Tentu perpustakaan harus selektif memilih blockchain dan NFT marketplace yang tidak cuma populer, aman dan  memudahkan tetapi juga biaya layanannya tidak terlalu besar. 

    Apakah perpustakaan bisa melakukan hal tersebut? Bukankah institusi ini ‘hanya menjaga buku’? Tenang, perpustakaan adalah organisasi/institusi yang terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi. Beberapa perpustakaan sudah mengintegrasikan AI dan IoT dalam layanan perpustakaan. Beberapa perpustakaan juga mengadopsi data science untuk meningkatkan kualitas layanan. Ke depan, bukan tidak mungkin perpustakaan merambah area blockchain.
 
    Perpustakaan juga dapat bertanggung jawab hak kekayaan intelektual mahasiswa dan plagiarisme. Tepatnya dalam hal ini, perpustakaan berperan sebagai gerbang untuk mencegah pembajakan atas karya digital mahasiswa sekaligus memeriksa karya mahasiswa bukan sebuah hasil tindak plagiarisme. Apakah karya seni yang diunggah mahasiswa memang orisinil karyanya? Perpustakaan menjadi pihak yang memastikan hal tersebut. Praktik ini mirip dengan unggah skripsi pada repository perpustakaan yang perlu memperhatikan tingkat plagiasi dan keasliannya. Lalu dengan mengunggah pada blockchain sebagai NFT, perpustakaan turut melindungi hak kekayaan intelektual mahasiswa. 

    Sebagai penutup, ide ini hanya salah satu cara menghadapi pembajakan. NFT menjadi pilihan yang baik untuk mengamankan karya digital di satu sisi, namun di sisi lain juga terdapat celah pembajakan terjadi. Selama marketplace NFT masih belum memiliki cara untuk mendeteksi plagiarisme, maka peran perpustakaan menjadi penting. Pembajakan pada dasarnya akan terus ada saat masih banyak orang memiliki motif untuk mengambil untung sendiri. Namun, selama pembajakan masih ada, selama itu juga kita akan terus melawan.

P.S. Tulisan ini diikutsertakan lomba menulis artikel Indodax tapi tidak lolos sebagai pemenang. 

Jumat, 20 Agustus 2021

Berbagi Cerita Praktik Partisipasi Masyarakat dalam rangka Akreditasi Perpustakaan

 


Eksistensi Perpustakaan tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan informasi masyarakat penggunanya. Perpustakaan hadir karena dibutuhkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan informasi melalui penyediaan, pengelolaan dan pelayanan beragam jenis informasi. Selama perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat penggunanya maka selama itu pula kehadiran perpustakaan dinantikan oleh masyarakat.

Pada umumnya, pengembangan koleksi perpustakaan terbentur dengan keterbatasan anggaran. Permasalahan klasik yang masih belum terselesaikan sampa saat ini. Selain itu, kurangnya atensi dari lembaga induk perpustakaan acapkali menyebabkan abai pemenuhan standar kebutuhan pemustaka sehingga kondisi perpustakaan baik dari aspek koleksi, sarana prasarana tidak mengalami perubahan yang berarti dari tahun ke tahun. Dilain sisi, ekspektasi pemustaka cukup tinggi terhadap peningkatan layanan perpustakaan guna mendapatkan pemenuhan informasi. 

Bisa dikatakan bahwa akreditasi perpustakaan merupakan salah satu wujud advokasi terhadap perpustakaan dan pustakawan. Dengan acuan standar nasional perpustakaan (SNP)  maka lembaga induk perpustakaan ‘didorong’ untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan mencakup aspek koleksi, sarana prasarana, layanan, sumbedaya manusia, kelembagaan dan inovasi. Salah upaya advokasi adalah komponen partisipasi masyarakat. Tulisan  bermaksud berbagi pengalaman perpustakaan R.I Ardi Koesoema, KLHK dalam upaya pelibatan partisipasi masyarakat guna mengembangkan koleksi perpustakaan

Mengenal komponen partisipasi masyarakat pada perpustakaan

Komponen partisipasi masyarakat memiliki kode yang berkode 5.2.7 pada lembar instrumen penilaian akreditasi perpustakaan. Indikator partisipasi masyarakat adalah jumlah dana partisipasi masyarakat/sumbangan yang tidak mengikat. Wujud partisipasi masyarakat lebih bersifat kuatifikasi guna memudahkan melakukan penghitungan skor pada proses akreditas perpustakaan. Selanjutnya pada kriteria partisipasi masyarakat diperinci kedalam 5 pilihan jawaban, yakni: A.) 10 juta atau Lebih; B.) 5  juta – 9 juta; C.) 1 juta – 4 juta; D.) Kurang dari 1 juta; E.) Tidak ada

Pada saat pertama kali saat membaca indikator 5.2.7, Hal yang terbayang dibenak kami adalah sumbangan uang tunai dari masyarakat. Hal tersebut tentu memberatkan bagi pengelola perpustakaan/pustakawan dengan berbagai alasan, yakni: 1.) perpustakaan yang bernaung dibawah lembaga pemerintahan tidak bisa serta merta menerima sumbangan uang dari masyarakat karena ada beberapa regulasi yang mengatur; 2.) Pustakawan/pengelola perpustakawan belum terlatih menyusun proposal dana hibah; 3.) Tidak banyak lembaga/individu  yang mau/berkeinginan menjadi donatur bagi perpustakaan. Namun bayangan tersebut perlahan berangsur sirna setelah berdiskusi dengan teman sejawat melalui jejaring pustakawan. Tafsir lain atas dana publik tersebut dapat berupa sumbangan barang/benda yang dapat dikonversikan kedalam nominal rupiah. Alhasil tafsir alternatif tersebut menjadi rujukan bagi kami dalam memenuhi unsur komponen partisipasi publik.

Praktik menggaet partisipasi masyarakat


Perpustakaan kami mencoba menggaet partisipasi publik dengan memprioritaskan program Tanggung Jawab Sosial perusahaan (Coorporate Social Responsibility (CSR)). Setelah menelusuri informasi peluang CSR dari berbagai sumber maka diperoleh bahwa salah satu penerbitan di kota kami (Bogor) tengah menggelar program berbagi buku kepada perpustakaan dan masyarakat yang membutuhkan. Kebetulan juga bahwa genre (topik) bukunya terkait ilmu kehutanan, pertanian dan lingkungan yang sesuai dengan subyek perpustakaan RI Ardi Koesoema yang mengelola sumber informasi terkait ilmu lingkungan hidup dan kehutanan. Kami pun bersurat dan menyampaikan proposal permohonan hibah buku dari penerbit tersebut dan gayung pun bersambut dengan ‘lampu hijau’ tanda persetujuan hibah. Berkaca dari pengalaman tersebut maka penerbit merupakan mitra potensial bagi perpustakaan dalam pengembangan koleksi. Penerbit membutuhkan media promosi terhadap produk-produk terbitannya dan perpustakaan merupakan lembaga pengelola informasi dan beberapa layanan seperti resensi buku, jasa penyebaran informasi terseleksi, paket informasi merupakan sarana penyebarluasan informasi (baca: promosi) bagi penerbit dan produk-produknya. Hubungan mutualisme tersebut dapat berperan menumbuhkan ekosistem masyarakat cinta baca. Sebab, mustahil tercipta masyakat pecinta baca tanpa didukung bahan bacaan yang memadai beserta fasilitas pendukungnya.

Berlanjut pada tahapan konversi buku hibah kedalam nominal rupiah. Setelah melengkapi berkas administrasi hibah buku, seperti Berita Acara Serah Terima hibah buku dan sesi foto bersama sebagai bukti pendukung maka buku hibah CSR tersebut kami olah dan konversikan nilainya kedalam nominal rupiah. Hal tersebut bertujuan mengetahui kapitalisasi buku hasil CSR. Proses tersebut mengacu pada Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia nomor 1 tahun 2017 tentang Tentang Pedoman Penaksiran Harga Bahan Perpustakaan. Adapun file lengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut: https://jdih.perpusnas.go.id/file_peraturan/Perka_1_2017_Pedoman_Penaksiran_BP.pdf. Garis besarnya, terdapat 9 (sembilan) aspek penaksiran  Bahan Perpustakaan meliputi: tahun terbit, jumlah halaman, jenis kertas, bahan kulit muka (cover), finishing kulit muka (cover), penjilidan karya cetak, Ilustrasi, indeks, glossary, Kondisi dan jenis. Adapun penjelasan detail tolak ukur tersebut diatur pada bab III halaman 16 s.d 21. Sedangkan hasil konversi/penaksiran bahan perpustakaan disajikan dalam bentuk tabel seperti gambar berikut:

 

Catatan akhir 

Perpustakaan berasal dari masyarat dan keberadaannya untuk melayani masyarakat. Diperlukan dukungan masyarakat agar eksistensi perpustakaan dapat terjaga. Perwujudan partisipasi masyarakat kepada perpustakaan tidak mutlak berbentuk uang namun dapat berupa barang atau benda yang bernilai ekonomi seperti: bahan pustaka. Selain itu, penerbit merupakan mitra strategis bagi perpustakaan untuk saling bahu membahu mengembangkan minat baca masyarakat. Penerbit pun dapat berkontribusi kepada perpustakaan dalam bentuk hibah buku sebagai wujud kepedualian sosial perusahaan. Diperluhan komunikasi dan koordinasi yang harmonis antara perpustakaan, penerbit dan masyarakat.Selain itu, Perpustakaan Nasional RI telah mengeluarkan acuan dalam penaksiran bahan perpustakaan melalui Perka PNRI nomor 1 tahun 2017. Aturan teresebut mempermudah pustakawan/pengelola perpustakaan dalam menkonversi bahan pustaka dalam nominal rupiah. Dukungan segenap pihak akan mempermudah perpustakaan memenuhi standar pengelolaan perpustakaan (SNP) yang bermuara pada peningkatan kapasitas kelembagaan, personel dan layanan guna kepuasan pengguna. Semoga tulisan ringan ini bermanfaat. Salam (RAH)

 

 

Senin, 09 Agustus 2021

HIJRAHNYA PUSTAKAWAN

HIJRAHNYA PUSTAKAWAN

Oleh: Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I.

(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Ahmad Syawqi

Selasa, 1 Muharram 1443 Hijriah bertepatan 10 Agustus 2021 Masehi umat Islam memperingati tahun baru Islam yang dihitung sejak Nabi Muhammad saw. hijrah dari Mekah menuju Madinah sehingga penanggalan dalam Islam dinamakan Hijriah. Berbeda dengan penanggalan nasional dan dunia pada umumnya menggunakan perhitungan Masehi dengan sistem matahari dan dimulai pada zaman Nabi Isa AS.

Sejarah tahun baru Islam berawal dari kebimbangan umat Islam saat menentukan tahun. Hal ini tidak lepas dari fakta sejarah pada zaman sebelum Nabi Muhammad saw., orang-orang Arab tidak menggunakan tahun dalam menandai apa saja, tetapi hanya menggunakan hari dan bulan sehingga membingungkan.

Sebagai contoh, pada waktu itu Nabi Muhammad saw. lahir pada tahun Gajah. Hal ini menjadi bukti bahwa pada waktu itu kalangan umat Arab tidak menggunakan angka dalam menentukan tahun sehingga membingungkan. Berawal dari sini, pada sahabat berkumpul untuk menentukan kalender Islam, salah satu di antaranya yang hadir adalah Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, dan Thalhan bin Ubaidillah.

Mengenai sejarah kalender Islam, mereka ada yang mengusulkan kalender Islam berdasarkan hari kelahiran Nabi Muhammad, ada yang mengusulkan sejak Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul. Namun, usul yang diterima adalah usulan dari Ali Bin Abi Thalib di mana beliau mengusulkan agar kalender hijriah Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah dan Madinah. 


Makna Hijrah Nabi Muhammad saw.

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari Hijrahnya Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dari Mekah ke Madinah. Diantaranya adalah Pertama, perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki makna yang sangat berarti bagi setiap Muslim, karena hijrah merupakan tonggak kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak kondusif di Mekah menuju suasana yang prospektif di Madinah.

Kedua,  Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa opimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal yang buruk kepada yang baik, dan hijrah daru hal-hal yang baik ke yang lebih baik lagi. Rasulullah saw. dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara dan harta benda mereka.

Ketiga, Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw,  pada saat beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.

Dalam konteks sekarang ini, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW dan kaum Muhajirin, tetapi pemaknaan hijrah lebih kepada nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah dalam arti seperti ini tidak akan pernah berhenti. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ada seorang yang mendatangi Rasululllah dan berkata: "Wahai Rasulullah, saya baru saja mengunjungi kaum yang berpendapat bahwa hijrah telah telah berakhir", Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya hijrah itu tidak ada hentinya, sehingga terhentinya taubat, dan taubat itu tidak ada hentinya sehingga matahari terbit dari sebelah barat”.

Hijrah dari Kebodohan

Hjirah itu sama dengan berpindah, bergeser atau mutasi menuju arah yang lebih baik lagi, dari kemiskinan menjadi kemakmuran, kebodohan menjadi pintar, yang masih rendah ketaqwaannya menjadi lebih tingga ketaqwaannya kepada Allah Swt.

Bagi pustakawan yang sehari-hari bergelut dengan  buku dan informasi, hijrah wajib selalu dilakukan dengan semangat berjuang dalam memberikan layanan yang prima kepada pemustaka tanpa putus asa dan rasa opimisme yang tinggi guna mencerdaskan manusia dari kebodohan. Di samping  semangat berhijrah untuk terus belajar dari kebodohan untuk menjadi pintar. Dan Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘Alamin sangat mengajarkan kita untuk menjadi orang yang berilmu dan berakhlak.

Ilmu erat kaitannya dengan akal manusia. Lantaran akal dan olah pikirnyalah manusia menapak kemajuan sekarang. Hanya saja manusia tak boleh lupa bahwa dulu sewaktu kecil, ketika masih bayi merah, dia belum tahu apa-apa. Dia tak boleh takabur atas secuil ilmu yang dimilikinya sekarang yang katanya begitu hebat dan membuatnya terkenal, bahkan meraih piagam, award sainstek atau hadiah Nobel, misalnya. Sebab, bagaimanapun ilmu manusia masih terbatas, paling-paling dia hanya tahu di bidang ilmu yang ditekuninya. Tak ada manusia yang menguasai segala ilmu.

Walau demikian, manusia tetap selalu diwajibkan hijrah dari kebodohan untuk menjadi pintar, pindah dari satu "sumur" ilmu menuju "sumur" ilmu lainnya. Ini bisa dibaca pada kata pertama, ayat pertama firman Allah Swt. kepada Muhammad, yaitu baca. Soal baca adalah soal ilmu. Soal hijrah adalah bertambah pengetahuan. 

Untuk itu mari kita jadikan moment Tahun Baru Islam 1443 H ini untuk menjadi pribadi yang BERUNTUNG tahun ini lebih baik lagi dari tahun kemaren dan hari-hari yang kita jalani  selalu diisi dengan kebaikan dan selalu bersyukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah kita peroleh, sehingga akan terus ditambah Allah Swt. nikmat-nikmat lainnya yang lebih besar lagi. “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu …” (QS. Ibrahim: 7). Aamiiin. 

Selasa, 13 Juli 2021

Sertifikasi Profesi dan Upaya Proteksi Profesi Pustakawan dari Serbuan Pekerja Asing

 


 

Tanpa disadari bahwa kehidupan kita erat bersinggungan dengan kompetisi. Mari kita buka ingatan kita sejenak tentang bagaimana sejak dalam kandungan sejatinya kompetisi telah dimulai. Janin merupakan hasil kompetisi antar sel-sel jantan dalam membuahi sebuah sel betina. Selanjutnya memasuki dunia pendidikan, kita berkompetisi dengan sesama teman sekolah untuk meraih predikat terbaik. Persaingan dunia kerja tidak kalah sengitnya. Ribuan kandidat bersaing ketat dengan pelamar lain untuk menempati suatu posisi pekerjaan. Bahkan bagi kita yang saat ini berprofesi sebagai pustakawan, patutlah bersyukur sebab kita merupakan pemenang yang mampu menyisihkan kandidat lain yang hendak mengisi posisi tersebut. Singkatnya, kehidupan manusia tidak lepas dengan persaingan.

Berlakunya kebijakan Asean Free Trade Area (AFTA) berdampak positif sekaligus negatif. Sisi positifnya, mobilitas barang, jasa dan manusia tidak lagi terbentur sekat-sekat geografis maupun administratif sehingga konsumen memiliki banyak pilihan dan produsen berpotensi meraup keuntungan berlipat. Sisi buruknya, persaingan bebas tersebut semakin mengencangkan tensi persaingan. Sumberdaya manusia yang tidak mampu bersaing akan tersisih. Jika tidak bermental pemenang maka bukan tidak mungkin kekalahan bersaing tersebut akan mendorong munculnya isu SARA. Selanjutnya pada aspek jasa, pemberlakuan pasar bebas akan membuka keran bagi tenaga kerja asing menawarkan kompetensi dan profesionalisme dengan mengisi profesi pada suatu negara. Keberadaan tenaga kerja asing (TKA) bahkan memicu resistensi dari penduduk lokal yang terancam mata pencariannya. Lalu bagaimana dengan pustakawan di Indonesia pasca pemberlakuan kebijakaan pasar bebas. Walaupun belum ada studi yang membahas secara khusus topik tersebut, namun diprediksi pelan tapi pasti keberadaan profesi pustakawan (khususnya pustakawan yang bekerja di lembaga privat) akan terancam. Tulisan ringan ini hendak membahas tentang strategi proteksi bagi pustakawan dari serbuan tenaga kerja asing melalui sertifikasi profesi.

Merespon kesepakatan antar negara tentang pemberlakuan pasar bebas, tentu pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Pemerintah sebagai regulator tentu berkepentingan untuk melindungi hak-hak warga negaranya. Salah satu langkah untuk membentengi warga negaranya dari serbuan tenaga kerja asing adalah melalui peningatkatan kompetensi dan profesionalitas SDM. Perlu diketahui bersama bahwa kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dimiliki oleh seseorang dalam bidang tertentu yang diperoleh melalui pendidikan formal dan informal. Wujud konkret keperpihakan pemerintah terhadap hak warganya melalui pengesahan sejumlah aturan perundangan dan pembentukan badan pelaksananya dalam hal ini adalah Badan Standarisasi Nasional Profesi (BNSP).

Pada sebuah kesempatan dalam pelatihan Calon Asesor akhir Maret 2021, Kepala BNSP menyampaikan informasi perkembangan sertifikasi profesi di Indonesia. Disampaikan bahwa sertifikasi profesi bertujuan memastikan kompetensi profesional  dan kredibilitas proses bisnis telah dilaksanakan sesuai standarisasi yang telah ditentukan. Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) merupakan Lembaga yang melaksanakan kegiatan sertifikasi profesi yang telah memenuhi syarat dan telah memperoleh lisensi dari BNSP. Menurut data BNSP saat ini, jumlah LSP yang  memiliki fungsi melakukan pembinaan, pengembangan dan pengawasan langsung terhadap pemegang sertikasi diseluruh Indonesia  sebanyak 1.794 buah. Terdapat  Tempat Uji Kompetensi (TUK) sebanyak  21.160 buah, skema sertifikasi kompetensi sebanyak 12,583 skema, asesor sebanyak 44.457 orang. Mengerucut ke profesi Pustakawan. Kepala LSP Pustakawan yang pada kesempatan yang sama turut menyampaikan perkembangan sertifikasi profesi pustakaan sejak tahun 2013. Terhitung sebanyak 1.622 orang pustakawan yang telah tersertifikasi dan berpredikat kompeten yang telah diases oleh LSP Pustakawan. Sejauh ini bisa dikatakan pemerintah telah hadir dalam merespon pasar bebas melalui instrumen peraturan Standar Kerangka Kerja Nasional dan kehadiran Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sebagai kepanjangan tangan BNSP.

Sertifikasi sebagai Upaya Proteksi Profesi Pustakawan di Indonesia

Diklaim bahwa pemegang sertifikat profesi berhak menggunakan kualifikasi dan kompetensi yang dimilikinya berdasarkan hasil uji kompetensi untuk menaikkan posisi tawarnya dan/atau promosi pekerjaan. Hal tersebut tentu sepadan dengan pengorbanan dalam memperoleh hasil maksimal dalam mendapatkan pengakuan profesional. Namun terbetik sebuah pertanyaan : apakah tenaga asing yang hendak bekerja di Indonesia juga diwajibkan mengikuti dan lulus sertifikasi profesi pustakawan?. Pertanyaan tersebut bersandar pada sebuah realita bahwa Indonesia saat ini merupakan salah satu negara incaran pekerja migran asing.  Media online nasional menyajikan sebuah data bahwa tercatat 98.902 orang tenaga kerja asing (TKA) berasal dari Asia, Amerika dan Eropa yang masuk ke Indonesia pada tahun 2020 (Waseso, R: 2020). Selanjutnya, Diperkerjakannya TKA tersebut akan membuat perebutan lowongan pekerjaan semakin sengit, terlebih profesi pustakawan turut terancam karena profesi tersebut merupakan salah satu dari 143 pekerjaan dibidang pendidikan yang dapat diisi oleh TKA (CNBC Indonesia: 2019). Selain itu, faktor yang akan membuat pustakawan lokal akan bertekuk lutut dengan pustakawan TKA adalah kemampuan softskill meliputi: kemampuan berbahasa asing serta komunikasi antar budaya (--2014) dalam konteks persaingan pasar bebas. Merujuk hal tersebut, maka sertifikasi profesi pustakawan menjadi harapan bagi pustakawan lokal sebagai filter menahan laju infiltrasi pustakawan TKA yang akan masuk indonesia.

            Sejauh ini, penulis belum menemukan klausul tentang wajib tidaknya bagi TKA yang akan bekerja disektor perpustakaan untuk mengikuti dan lulus sertifikasi profesi pustakawan. Jika sudah terdapat aturan tersebut maka hal tersebut telah menunjukkan keberpihakan regulator untuk melindungi pustakawan Indonesia dari serbuan TKA sekaligus mendorong pustakawan Indonesia untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitasnya melalui uji kompetensi sertifikasi pustakawan. Sebaliknya jika belum ada klausul kewajiban TKA mengikuti sertifikasi profesi maka perlu diperjuangkan agar terdapat prasyarat yang mewajibkan memiliki sertifikasi profesi.

                Selain itu, terbetik pemikiran bahwa sertifikasi profesi pustakawan di Indonesia dapat diakui oleh masyarakat ekonomi di ASEAN sehingga pemegang sertifikasi pustakawan di Indonesia dapat layak/diterima bekerja sebagai pustakawan di ASEAN. Sertifikasi pustakawan Indonesia mendorong Indonesia sebagai negara eksportir pustakawan yang berkualitas, berkompeten dan profesional. Setidaknya masalah surplus lulusan jurusan ilmu perpustakaan (JIP) dapat diatasi melalui eksportir pustakawan ke negara-negara tetangga di ASEAN. Ide tersebut terdengar konyol namun jika merujuk pada pendapat Iswadi Syahrial Nupin (2015) seorang pustakawan Universitas Andalas yang menyatakan bahwa Standar kompetensi Nasional sebagai acuan baku sertifikasi pustakawan telah memenuhi standar regional ASEAN. Bukan mustahil ide tersebut terwujud berkat usaha, lobby dan dukungan dari para pihak terkait.

Simpulan

Persaingan untuk mengisi lowongan pekerjaan khususnya dibidang pendidikan dan perpustakaan semakin ketat dari tahun ketahun. Tuntutan profesionalisme, komptensi dan serbuan tenaga kerja asing merupakan hal yang tidak bisa ditawar bagi pustakawan Indonesia untuk meningkatkan kualitas diri melalui sertifikasi pustakawan. Kelulusan sertifikasi profesi pustakawan memberikan manfaat kepada pustakawan untuk meningkatkan daya daing, posisi tawar dan promosi.

Namun perlu dipikirkan juga tentang kebijakan proteksi bagi profesi pustakawan Indonsia dari serbuan TKA salah satunya adalah mewajibkan TKA mengikuti dan lulus sertfikasi profesi pustakawan. Selanjutnya, upgrading dan lobbying Standar Kerja Nasional perlu dilakukan oleh pihak terkait agar sertifikasi profesi pustakawan juga diakui secara regional di negara ASEAN. Jika hal tersbeut terwujud maka memberikan kesempatan kepada pustakawan Indonesia yang lulus sertifikasi profesi untuk bersaing mengisi posisi pustakawan di negara-negara ASEAN. Hal yang menjadi salah satu solusi peyediaan lapangan kerja bagi lulusan JIP yang surplus dan meningkatkan citra pustakawan Indonesia yang berkualitas, berkompetensi dan profesional (RAH).

Daftar Pustaka

--, 2014, Berita: Pustakawan mesti fasih Berbahasa Asing, diakses tanggal 14 Juli 2021, http://lib.ugm.ac.id/ind/?p=1168

CNBC  Indonesia 2019, Catat! Jabatan-Jabatan Ini Sekarang Bisa Diisi Orang Asing, diakses tanggal 05 September 2019, https://www.cnbcindonesia.com/news/20190905110749-4-97265/catat-jabatan-jabatan-ini-sekarang-bisa-diisi-orang-asing.

Iswadi Syahrial Nupin 2015,Kesiapan Pustakawan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Association of Southeast Asian 15 Juli 2021, https:pustaka.unand.ac.id/component/K2/item/63- Kesiapan Pustakawan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Association of Southeast Asian Nation-ASEAN-2015

Ratih Waseso, 2020, Jumlah tenaga kerja asing di Indonesia 98.902, TKA China terbesar, diakses tanggal 14 Juli 2021, https://nasional.kontan.co.id/news/jumlah-tenaga-kerja-asing-di-indonesia-98902-tka-china-terbesar-berikut-datanya.

 

 

 

Selasa, 23 Maret 2021

Jika Clubhouse Tersedia untuk Publik Luas, Haruskah Perpustakaan/Pustakawan ikut meramaikan? Sebuah Pengantar

Oleh: Akmal Faradise

Mahasiswa Manajemen Informasi dan Perpustaakan UGM

Pengantar

Saya harus bilang bahwa tulisan ini dipicu oleh salah satu artikel di Bloomberg, yang mengatakan bahwa Clubhouse adalah ‘bintang baru’ di jagat media sosial. Mungkin artikel tersebut termasuk sebuah cara soft selling. Namun di luar hal tersebut, artikel dimaksud saya kira berhasil memantik rasa ingin tahu atas Clubhouse dan bagaimana potensi perkembangannya ke depan. Saya kemudian berdiskusi dengan seorang kawan pegiat voice-over (@miela_baisuni) mengenai platform ini dan semakin mantap untuk bergabung. Bagi saya, meski perubahan dalam lanskap bisnis media sosial itu niscaya, mengamati tiap media sosial berubah, berkembang, dan timbul-tenggelam adalah hal menarik. 

Tulisan ini merupakan ulasan sekilas tentang aplikasi sebagai gambaran bagi teman-teman yang belum bisa mencicipi Clubhouse dan bacaan pengantar serta pemantik diskusi di lingkungan LIS mengenai Clubhouse ke depannya. Pengalaman pribadi saya mungkin mirip dengan beberapa ulasan yang beredar di media sosial atau situs, sebab bisa jadi memang begitulah UI yang ada dan UX yang ditawarkan. Sisanya berupa opini dan preferensi. 

Saya pertama kali bergabung pada 20 Pebruari 2021, dinominasikan oleh teman saya @imammfi. Walau demikian, perlu sekitar seminggu bagi saya ‘bergerilya’ mencari orang yang bisa mengundang saya ke platform

Apa sih Clubhouse itu?

Clubhouse merupakan aplikasi media sosial berbasis audio besutan Alpha Exploration. Aplikasi ini dibuat oleh Rohan Seth dan Paul Davison. Pengguna dapat berinteraksi lewat suara dalam ‘room’. Room merupakan ruang interakasi (seperti WAG keluarga) yang membolehkan pengguna berkirim pesan suara. Jika room hanya berisi dua orang, rasanya akan seperti teleponan. Namun jika memuat lebih banyak orang, rasanya seperti mendengarkan seminar tapi lewat hp dan bisa disambi rebahan. Batas peserta sebuah room sependek yang bisa saya tahu adalah 8 ribu orang, wow. Dalam room berkapasitas besar tersebut, orang bisa saling mengobrol dan berdiskusi. Terdapat fitur yang dapat memosisikan pengguna sebagai moderator –mengatur diskusi dengan memperbolehkan atau menunda pengguna lain (peserta) untuk berbicara. Ada tombol ‘mengangkat tangan’ yang memperbolehkan kita ikut nimbrung dalam diskusi. Persis seperti di kelas gitu. 

Pertama kali instal saya agak terganggu karena permission yang diminta cukup banyak (email, no hp, akun medsos, audio, kontak) walau ini bisa dipahami agar aplikasi berfungsi dengan baik. UInya relatif bersih, tidak terlalu ramai dengan pemilihan font yang menurut saya lucu. Ada lima tab yang tersedia.

Pertama adalah tab home. Room yang sedang berlangsung ditampilkan di sini. Biasanya muncul karena orang yang kita follow tengah join di room tersebut. Jika ingin bergabung, tinggal klik saja maka otomatis masuk. Rasanya sih seperti mendengarkan pertunjukan langsung, realtime. Di bagian home tersedia tab search. Ini memungkinkan untuk mencari pengguna atau club (semacam grup) berdasar kata kunci tertentu. Kamu juga bisa mencari berdasar topik/interest. Ada beberapa nama pengguna yang biasanya menjadi rekomendasi untuk diikuti. 

Kedua adalah tab invitasi. Secara default kita mendapat dua jatah mengundang orang. Di tab ini akan muncul daftar nama dari kontak kita yang mungkin mau kita undang. Terdapat keterangan kontak tersebut memiliki beberapa teman di Clubhouse. Jadi kita perlu sedikit melakukan kurasi dalam mengundang siapa yang kira-kira tertarik dengan platform atau kiranya bisa aktif di platform. Jatah invitasi ini bisa bertambah sih, saya dapat beberapa (sekarang ada 6). Oh ya, karena ini berbasis kontak yang kita simpan, dapat dipastikan pengguna adalah orang nyata karena berdasar orang yang kita kenal. Jadi, ngga butuh ‘centang biru’ sih haha.

Ketiga, tab kegiatan. Kamu bisa melihat event room yang akan datang beberapa waktu ke depan dan bisa membuat jadual event kamu sendiri. Keempat tab notifikasi dan kelima tab profile. Di bagian profile kamu bisa menulis bio yang relatif panjang, macam resume CV gitu ahaha dan diperlihatkan siapa yang menominasikan/mengundang kamu ke Clubhouse. Kalau bahasa mas Ainun Najib sih, ‘ikut Clubhouse itu ada sanadnya’.

Tampilan Clubhouse
 
Tulisan ini selesai setelah sekitar satu bulan saya menggunakan Clubhouse. Menurut saya kadang aplikasi masih agak lemot, sesekali. Namun kualitas suara tergolong sangat bagus. Oh ya berbicara mengenai suara, aplikasi ini audio only jadi kemampuan public speaking, storytelling dll sangat penting dimiliki. Males kan dengerin orang yang ngomongnya belibet atau cara bertuturnya berantakan. Mana ngga bisa dipause atau skip kaya podcast wkwk. Ya mau ngga mau emang pilihannya left dari room. Masalah muncul jika itu room bersama; kamu suka denger pembicara A tapi tidak B. 

Sementara, aplikasi ini tidak punya iklan. Tapi belum tahu nanti misal dikembangkan dan memiliki banyak fitur baru, biasanya ada saja celah untuk mengombinasikan fitur dengan iklan. Ya wajar, media sosial kan juga bisnis. Cuma, saya hanya berharap bagaimanapun pengembangannya ke depan, semoga pendirinya tidak kehilangan visi dasarnya. Jadi meski Clubhouse nanti jadi besar, tetap menarik seperti awal muncul –platform diskusi berkualitas.

Penting diketahui, meski kalian sangat suka obrolan di suatu room, kalian belum bisa menikmatinya kembali artinya ketika percakapan selesai, tidak ada jejaknya. Clubhouse belum menyediakan fitur rekam percakapan, atau semacam transkripsi dari percakapan. Mau tidak mau kita bisa mengakalinya dengan live tweet (menulis poin obrolan per moment) atau membuat resume/notulensinya via microblog Instagram, misalnya. 

Kekurangan dan Kelebihan. Enak enggak si?

Bagian ini akan kita bagi menjadi dua penilaian, dari sisi aplikasi dan pengalaman pribadi. Seperti UI x UX.

Aplikasinya punya tampilan cukup bersih namun rasanya agak sedikit lemot. Beberapa kali kadang gagal melakukan perintah tertentu, semacam kalau di browser kita melihat ‘page is unresponsive’. Mungkin ini masalah server. Bisa dibilang Clubhouse sedang berkembang untuk menjadi lebih baik, lebih besar. Jadi masalah seperti ini di masa transisi bisa dibilang wajar.

Pernah Dapat Masalah

Clubhouse belum bisa clear log activity (notifikasi kegiatan seperti siapa yang baru join, ada room apa yang baru dibuat dll). Sebenarnya hampir semua aplikasi media sosial memang demikian dan aktifitas yang lama akan hilang seiring waktu. Padahal Clubhouse bisa mengatur seberapa sering pop up notification muncul. Maka seandainya notifikasi aktifitas juga bisa diatur, rasanya menyenangkan. Ngarep. Jadi bisa dibilang, digital wellbeing Clubhouse lumayan baik dan masih bisa dikembangkan.

Room di Clubhouse hanya ditampilkan judul dan siapa yang sedang berbicara, artinya kita perlu masuk room untuk tahu apa yang sedang dibicarakan. Ini menarik karena tidak langsung terpapar konten. Tidak seperti kita lihat feeds IG langsung terpapar foto/video, tidak seperti kita browsing FYP Tiktok langsung terpapar video rekomendasi, tidak seperti video yuotube yang tetap berjalan tanpa suara padahal belum kita klik dan tidak sepert cuitan/status tertulis di FB dan Twitter yang langsung kita lihat dari home. Sebenarnya ini prefensi, tapi UI yang demikian yang saya rasa relatif berpihak pada pengguna.

Keluhan saya tentang Clubhouse lebih ke hardware perangkat saya. Clubhouse memungkinkan kita mendengarkan percakapan yang sangat lama, tentu berdampak pada jam penggunaan aplikasi yang makin panjang. Nah berhubung hengpong saya iphone jadul, kondisi ini secara nyata menguras baterai dengan cepat. Sad :(

Ada catatan penting yang perlu kita ketahui bersama bahwa Clubhouse belum mendukung monetisasi. Sementara ini, tanpa monetisasi, kreator, organisasi, atau siapapun yang ingin membuat room dan mencapat cuan, maka hal terkait pembayaran akan dilakukan terpisah di luar aplikasi Clubhouse. Kondisi tanpa monetisasi cukup problematis. Satu sisi kreator tidak bisa mendapat imbalan material dari apa yang dia sampaikan, sisi lain pengguna bisa mendapat banyak insight berharga. Jadi setidaknya kita perlu berterima kasih dan bersyukur kepada siapapun yang telah membuat room dengan insight ‘daging semua’, terima kasih untuk informasi berharga yang sudah dibagikan. Tentu juga terima kasih kepada pengembang Clubhouse karena memudahkan orang untuk bisa membuat diskusi lebih mudah terjadi. Cukup janjian secara personal, tidak harus selalu di bawah organisasi tertentu.

Mungkin hal tersebut yang membedakan Clubhouse dengan Zoom. Clubhouse membuat room terjadi lebih mudah dan relatif natural. Bahkan ini menjadi alternatif yang baik untuk menghindari zoom fatigue. Cocok bagi mereka yang ngga mau harus sedikit berdandan demi sesi video conference. Walau kita tahu Zoom memang punya kelebihan pada fitur penyajian yang lebih kompleks dan interaktif, misal dengan adanya share screen.

Pengalaman saya selama menggunkan Clubhouse relatif enak. Rasanya seperti kita mendengarkan podcast, tapi saya bisa langsung memberikan komentar. Dan rasanya lebih nyata karena sama-sama live dengan lawan bicara. Persis seperti menelepon.

Lalu, apa yang kira-kira bisa Clubhouse kembangkan? Hm banyak sih. Kalau saya cenderung ke bagian Temu Kembali Informasi yang lebih baik. Bisa saja room pada Clubhouse dapat direkam jadi saat kita tidak sempat ikut room tertentu, kita bisa mendengarkan siaran tundanya. Sistemnya mungkin seperti IG live, rekaman ada setelah room selesai. Mungkin perlu bekerja sama dengan penyedia cloud drive. Bisa semacam transkirpsi juga. Walaupun hal ini saya rasa bakal masuk sebagai fitur berbayar, tentu untuk menarik pemasukan bagi pengembang. Sisanya yang mungkin terbayang untuk dimonetisasi pengembang adalah statistik pengunjung profile, premium room, donasi dan log peserta room. Btw kamu bisa cek postingan bang Ogut untuk insight lebih banyak.

PS.

Saya ingin menambahkan kegelisahan mengenai perseteruan netizen pengguna Android vs iPhone.

Saya agak kurang sreg ketika iPhone terlalu dilihat sebagai ‘hp mahal’, walau memang Apple ingin membangun image tersebut dan kesan eksklusif. Menurut saya lebih tepat iPhone dibilang hp future-proof. Saya menggunakan iPhone SE keluaran 2016 dan masih enak digunakan sampai sekarang (kecuali battery issue yang emang jadi masalah klasik iPhone). Itupun saya beli sekenan pada 2019. iPhone jadi future-proof karena didukung oleh iOS yang banyak menjangkau seri lama. Android? Sulit. Pixel series aja cuma 3 tahun dukungan. Nah mengenai mahal, hp Android sik larang yo akeh bos!

Selanjutnya mengenai pengembangan Clubhouse. Saya ngga tahu kenapa developer rilis di iOS dulu baru Android. Yah saya rasa ini wajar karena masih sedikit tim dan skalabilitasnya belum besar untuk menuju pengembangan di Android. Ingat, dulu WA dan IG juga awalnya di iOS kok. Jadi sabar, bertahap. Cek ombaknya di iOS dulu, karena pasarnya lebih sedikit. Hai kalian kasta Android, berbanggalah kalian mayoritas di muka bumi ini.

Walau yah beda lagi emang kalau bicara persaingan bisnis antar SNS. Kalau Clubhouse tidak segera meluncurkan versi Android, pasar mereka bisa direbut Twitter yang menyediakan layanan serupa –Space.

Btw kalau kamu mau coba Clubhouse versi mod Android juga ada, cuma risiko tanggung sendiri.

Pengalaman Ikut Room

Saya sudah mengikuti beberapa room di Clubhouse. Ada yang memberikan informasi insightful, ada juga yang isinya tidak jelas. Room dari publik figur tetap bisa membuat orang penasaran meski isinya kadang tidak mengenyangkan. Bahkan terkadang seperti mendengarkan orang ... ghibah. Karena bagaimanapun, seadainya dianalogikan, room di Clubhouse bisa diibaratkan sedang melakukan panggilan (baik personal atau grup), cuma orang di luar percakapan dapat menyimak bahkan berkomentar. Maka bahasannya tentu seperti percakapan kita dengan kawan; bisa sangat menarik dan berbobot, bisa juga cuma gurawan receh atau bahasan mengambang.

Kemudahan membuat room seperti di atas, tentu memudahkan mereka yang sudah ‘punya nama’ untuk mendapat lebih banyak pendengar. Walau sebenarnya kita yang biasa aja ini punya kesempatan juga jadi ‘semacam influecer’ di Clubhouse. Ada caranya.

Perasaan yang timbul saat ikut sebuah room sama persis ketika saya ikut seminar, atau webinar. Meski cuma audio, tapi tetep aja deg-degan kalau mau tanya. Haha. Pernah gitu out of knowhere saya tanya tentang sosial media berbasis blockchain di sebuah room bersama mas Ismail Fahmi dan Prof Joel Picard.

Saya juga pernah ikut room mas Ainun menyilakan mas Ismail Fahmi untuk menceritakan pengalaman menggunakan Clubhouse, dan bagaimana Drone Emprit Academic menangkap percakapan tentang Clubhouse. Saya jadi tahu bahwa Clubhouse sempat dijadikan medium pergerakan sosial di Thailand. Bahkan karena room ini saya juga jadi tahu idol kpop ada yang join Clubhouse xixixi.

Insight menarik yang saya dapat dari room tersebut adalah banyak nakes atau tepatnya dokter yang join Clubhouse untuk memerangi misinformasi isu-isu kesehatan. Membuat sebuah room di Clubhouse itu mudah dan siapa saja bisa bicara apa saja. Jadi para nakes-dokter perlu ikut bersuara dalam mengurangi misinformasi. Nah, ini semacam catatan penting. Semakin banyak ahli yang bergabung di Clubhouse, misinformasi atau disinformasi dalam room bisa lebih cepat ditangani karena banyak ahli yang bisa dirujuk langsung, bisa berkomentar langsung tentang suatu tema. Bahkan bagi pemerintah, menurut pak Sandiaga Uno dalam suatu room, Clubhouse bisa menjadi medium transparansi kebijakan pemerintah dan memungkinkan masyarakat memberikan aspirasi langsung. Hail daebak.

“Lalu, kira-kira bagaimana Clubhouse ke depannya?” tanya mas Firdza pada mas Fahmi di suatu room. “Bisa berkembang. Ada orang yang punya intensi ingin menyuarakan kritik. Lagipula, Clubhouse memfasilitasi mereka yang punya preferensi ‘ingin berbicara saja atau mendengarkan’. Clubhouse mengisi ruang kosong sosial media berbasis audio” jawab mas Fahmi, aw kama qala. Walaupun saya pribadi berpikir bahwa anak generasi baru sepertinya lebih tertarik konten/interaksi visual base, dan pada aplikasi video pendek seperti Tiktok.

Room yang Asik

Fun fact.

Tepuk tangan di Clubhouse dilakukan dengan menekan tombol suara berulang kali (mute-unmute, mute-unmute). Pertama kali tahu dari kak Gabriela. Katanya di room internasional begitulah keadaanya. Ngakak lama tidak kelar-kelar.

Tren Bergulir. Bagaimana Kita merespon?

Saya pribadi melihat Clubhouse punya potensi untuk berkembang. Cerita mereka membangun platform relatif mirip raksasa media sosial (atau tepatnya periklanan) hari ini, Facebook –mulai dari lingkaran terdekat, orang terbatas, dapat eksposur kemudian naik dan menyetabilkan pengaruh. Itupun kalau mereka ngga keduluan kalah pengaruh dengan Space-nya Twitter haha. Bagaimanapun, Clubhouse harus segera merilis versi Android. Karena tidak bisa dielakkan pangsa pasar smartphone tetap tetap dipegang pengguna Android. Clubhouse kemarin bisa hype karena menggunakan konsep scarcity seperti pada cryptocurrency; hanya bisa di iOS, hanya bisa join kalau diinvite. Tentu strategi ini tidak bisa terus bertahan atau diulang.

Bagi yang sudah tergabung di Clubhouse, saran saya satu: hati-hati. Hati-hati dalam berbicara. Karena kita tidak tahu apakah ternyata diam-diam ada yang merekam. Hat-hati dalam membicarakan orang/institusi. Karena kita tidak tahu di mana celah kebocoran informasi. Hati-hati dalam membicarakan sesuatu. Sitatlah hal yang perlu disitat, tidak perlu sok ngaku-ngaku insight yang bukan dari kamu. Jadilah bertanggung jawab dengan apapun yang kamu sampaikan.

Well, kalau begitu Clubhouse berbahaya? Ada potensi bahayanya seperti yang diulas mas Ario Pratomo. Tapi ada potensi cuannya juga. Kamu bisa cek konten mas Ogut. Oh ya, ada triknya juga kok buat kamu yang ingin punya eksposure di Clubhouse. Sering-sering ikut dan bikin room, sering-seringlah berinteraksi di sana. Kualitas saat berbicara dapat menarik orang untuk mengikuti kamu. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Haruskah LIS meramaikan?                                         

Baiklah. Akhirnya kita sampai pada penghujung tulisan dan maksud dasar dari tulisan ini dibuat. Sebagaimana terteta pada judul, haruskah?

Sebenarnya pertanyaan tersebut tidak bisa serta-merta dijawab diametral YA atau TIDAK. Tapi saya pribadi akan cenderung untuk mengadvokasi sembari juga menanyakan preferensi.

Apakah kamu termasuk orang yang lebih suka ngobrol atau mendengarkan? Apakah kamu suka mendengerkan podcast? Apakah kemasan konten audio lebih kamu suka dari teks, foto dan video? Kalau jawaban pertanyaan disebut dominan YA, kamu punya kecenderungan untuk menikmati Clubhouse.

Meski sebelumnya Clubhuouse naik gara-gara sentimen dan pemberitaan, saya rasa tidak masalah bila LIS dan pustakawan (jika memungkinkan) untuk join the trend. Bukan karena FOMO tapi lebih pada positioning bahwa pustakawan juga bisa keep up dalam dinamika media sosial.

Per tulisan ini dibuat, pustakawan (baik dari Indonesia atau luar negeri) yang join Clubhouse masih sedikit. Saya sempat mencari dengan kata kunci ‘perpustakaan’, ‘library’, ‘pustakawan’, ‘librarian’. Room berbau literasi dengan kata kunci ‘book’, ‘buku’, belum banyak. Asumsi saya memang tema literasi dan juga teman-teman LIS serta pustakawan belum banyak yang bermain di Clubhouse. Belum seramai topik atau tokoh bidang kesehatan, creative industry, financial, dll. Apakah juga ternyata teman-teman pustakawan dan pegiat literasi banyak yang ... pakai Android? No offense, please. Xixixi

Bagi saya, peluang naiknya citra pustakawan bisa digarap juga di platform ini. Seperti di singgung pada bagian sebelumnya, banyak ahli bidang tertentu yang join di Clubhouse. Harusnya pustakawan juga bisa hadir sebagai orang yang punya citra profesional pada bidang informasi, expertise-nya bisa kelihatan dengan banyak berinterakasi lewat room. Kita bisa menunjukkan dengan bangga "kita pustakawan" di profile dan bisa menunjukkan kualitas penguasaan kita dalam pengelolaan informasi, literatur, buku, penerbitan dll. Kita bisa mendapat ruang untuk menunjukkan kualitas public speaking. Seperti yang saya lakukan; membubuhkan profil sebagai mahasiswa LIS, ikut berinterasi dalam room dan ikut bersuara tentang informasi, buku, penerbitan dll.

Apa yang saya dapat dengan ikut Clubhouse dengan membawa identitas anak LIS? Banyak insight baru, banyak relasi.

Cheers!