Rabu, 19 Februari 2020

Bookless


Di sebuah grup whatsapp, lagi rame diskursus tentang perpustakaan nonbuku atau bookless library. Ngapain perlunya berubah ?. Rekan saya pustakawan sebuah PTN, sebut saja Paijo menyentil satir keberadaan Bookless yang disamakan dengan pos ronda. Ironi, karena perpustakaan bookless tersebut ada di kampusnya, yang notabene satu institusi tempat Paijo mengabdi.
Tentu, doskih memberikan argumentasi yang kuat:

“Intinya kalau perpustakaan itu hadir tanpa buku, tempat nongkrong, ngobrol, trus apa bedanya dengan Pos Ronda. Akan hilang kesejatiannya”…

Agak sadis…..namun bisa jadi kita dipaksa untuk menyetujui pendapatnya. Kalau perpustakaan bookless serba online, tanpa buku, dan semua sudah disediakan oleh teknologi, lalu pustakawannya ngapain ???

“Terus, apakah itu disebut perpustakaan”, kata Paijo meradang.

Untuk pertanyaan ini, Paijo melanjutkan dengan jawaban satir dan kocak:

“Di Bookless Library, pustakawan bisa berpindah peran menjadi pengelola cafe. Jualan kopi dan indomie rebus, pustakawan yang multiskill”, ha ha ha ha

Menggelikan. Bisa jadi Paijo cuma bercanda dan menggeneralisasikan perubahan konsep perpustakaan dengan serampangan. Wajar, karena seperti yang disampaikannya, doskih mengkroping salah satu sudut pandang. Titik dia berpijak, dan itu manusiawi. Titik sebagai seorang pustakawan. Tipping point pada keakuannya. Dan perubahan yang bisa mengancam eksistensi profesi ini harus dilawan !

“Roh kegiatan kepustakawanan harus berpusat pada pustakawannya. Bukan pengguna atau pemakai”, begitu teriaknya sambil menggoyangkan badannya mengikuti instrumentalia lagu Ambyarnya Didi Kempot.

Hidup Tidak Sesederhana Yang Ada Dipikiran Mas Bro !

Paijo harus belajar dari Nicolaus Copernicus, jenius Fisika yang mengemukakan teori Heliosentris. Pusat tatasurya adalah Matahari. Menjungkilkan kaum agama Lutherian bahwa bumilah pusat semesta. Pendapat kaum agamawan bahwa pusat tatasurya bumi, merepresentasikan pendekatan ke akuannya, egosentris, pustakawan sentris. Yang kemudian dikoreksi oleh Copernicus, Mataharilah yang menjadi pusat. Semesta penggunalah yang harus kita layani.

Hidup bukan selalu perkara idealisme yang berputar di batok kepala kita. Hidup adalah seni dan stategi memecahkan masalah, mencari solusi terbaik dan butuh juga kompromi dan jalan tengah, agar kita tidak mati.

Paijo, mungkin harus berempati terhadap pustakawan eks Britis Council yang akhirnya dibubarkan. Paijo harus mengiliminir egonya ketika perpustakaaan Japan Foundation yang ditutup. Andai saja kang Paijo berprofesi sebagai pustakawan majalah Hai, Tabloid Gatra, Bola, Kontan dll yang sekarat gak bisa bertahan hidup. Atau seperti Perpustakaan PDII LIPI yang bertransformasi dari buku ke data dalam PDDI (Pusat Dokumentasi dan Data Ilmiah Indonesia). 

Karena apa? Ya perubahan! Ya tuntutan jaman karena perkembangan teknologi. Perpustakaan kemudian inovatif mengembangkan layanannya termasuk menyajikan bookless. Toh layanan ini cuma dikembangkan di salah satu sudut perpustakaan. Bukan merubah semuanya, hanya mengembangkan layanan dengan segmen baru. Gak perlu alergi dengan inovasi dan perubahan. Akankah kita melawannya dengan bambu runcing menolak perubahan?

Perubahan dimana kuasa pengguna perpustakaan begitu besar. So perpustakakaan tidak sempat lagi bicara “siapa akunya”, tapi bicara tentang apa yang harus dilakukan agar perpustakaan bisa bertahan dikunjungi dan memuaskan pengguna. Memuaskan pengguna ! Bagaimana kita harus memuaskan pemakai jika kita terlalu melihat output nya ? Kuncinya ada pada harmonisasi. Terlalu menekankan output kepuasan pengguna tanpa menekankan proses akan crowded dan berantakan. Tapi terlalu nguplek dan fokus pada proses yang mbulet dengan melupakan outputnya, ibarat berjalan dengan kacamata kuda. Serampangan.

Ada beberapa point yang saya setujui dengan subtansi Paijo. Perspektif dari sisi pustakawnnya, karena bagaimanapun pustakawan juga merupakan subsistem dari sistem besar kepustakawanan. Solusinya, kita kompromikan juga dengan perspektif pengguna juga yang tak kalah vital. Karena tanpa pengguna toh pustakawan bukan siapa siapa. Meski jika kita terlalu menghamba ke pengguna, bakalan babak belur. 

Nah kasus Britis Council, Japan Foundation, serta perpustakaan lain yang tutup dan bergesernya fokus layanan PDDI LIPI kan karena kuasa manajemen atas tuntutan pengguna juga kan? Tentu perubahan ini menuntut aktifitas dan role pustakawannya yang harus berubah.

Siapkah pustakawan menghadapinya ?

Selasa, 18 Februari 2020

Pustakawan Mentok


Banyak alasan seorang pustakawan tetap bertahan di tempat kerjanya sejak 10 bahkan 20 tahun lamanya. Antara lain mungkin karena mentok.

1. Mentok usia.

Yah… udah tua, mau ngelamar ke mana lagi? Yang buka lowongan juga pastinya nyari yang masih muda lah! Kalau yang fresh graduate kan minta gajinya gak selangit, beda sama yang sudah pengalaman.

2. Mentok ilmu.

Meski tahu sih, kalau yang namanya belajar itu seumur hidup, pustakawan yang selalu dikelilingi buku belum tentu sempat membaca. Perkembangan apa sih yang ada di dunia profesi perpustakaan? Nggak tahu juga mau cari ke mana. Beruntunglah yang ikutan grup WAG profesi, bisa update meski hanya sebagai silent reader.

3. Mentok pengalaman.

Ah, sudah bagus ini, setiap tahun saat tanda tangan kontrak juga dipuji kok kalau perpustakaannya sekarang terlihat bagus sejak dia yang pimpin. Buat apa nyari-nyari tempat lain, yang mungkin disuruh set up perpustakaan dari awal, diminta ini-itu biar kekinian. Bisanya segini doang udah cakep banget. Sesuai gaji lah!

4. Mentok jaringan.

Teman se-angkatan sudah kerja semua, pasti sudah settle dengan gaji yang memadai. Mau nanya apa ada lowongan, ya kali jadi junior temen sendiri, malu lah! (padahal asap dapur gak kenal malu kalau gak ngebul).

5. Mentok karena sayang.

Nah, yang ini juara deh. Pengabdian, loyalitas, mencintai profesi dan tempat kerja, menganggapnya sebagai rumah kedua, betah di kantor bahkan suka pulang malam kerja lembur tanpa bayaran overtime. Ini pustakawan langka, mesti dipertahankan.

Sayangnya, terlepas dari alasan-alasan mentok di atas, banyak atasan yang tidak menghargai pustakawannya. Menganggap sebagai penjaga buku, disuruh bikin kegiatan padahal nggak pernah ditengokin sekali pun, disuruh buat laporan per minggu tapi kalau diajak rapat tetiba paling sibuk se dunia, pas ada komplain dari pemakai langsung kena bombardir tanpa ampun.

Ini curhat ya?

Bukan, hanya sharing, kalau dunia perpustakaan itu tidak seindah tempat tidur bertabur bunga mawar. He-he.

**

Penulis: pustakawan sekolah dasar di Bintaro, yang sekarang Sukanya main di Instagram dengan akun @BookDragonMomma. Website: book-corner.blogspot.com

Perpustakaan Mengikuti Zaman atau Pencitraan?

Bekerja di tempat yang nyaman
Bekerja di tempat yang nyaman/Ilustrasi - Sumber Pixabay
Acapkali terlontar ide-ide menarik yang patut didiskusikan kala saya memantau salah satu WhatsApp Grup (WAG) yang ada di gawai. Pustakawan Blogger, WAG yang menjadi tempat para pustakawan sering riuh. Berbagai tulisan menarik saya dapatkan dari sana. 

Salah satunya ketika ada kawan yang melontarkan pernyataan menarik dan pastinya memancing respon dari kawan yang lainnya. 

“Apakah boleh melakukan pencitraan perpustakaan? Boleh. Tentu boleh” 


Lantas ditambahi jika penyediaan sofa yang empuk dan kafe adalah pencitraan perpustakaan. Tentu makin sedap, karena sekarang banyak perpustakaan yang mulai menyediakan tempat duduk nyaman serta ditambah kafe. 

Sejauh ini, saya menyukai sebuah perpustakaan yang menyediakan sofa empuk sekaligus kafe. Bagi saya, menulis artikel di tempat yang nyaman tentu mempunyai nilai plus dibanding tempat yang kurang nyaman. 

Hal ini pula yang membuat saya akhir-akhir ini malah lebih memilih kedai kopi sebagai tempat kedua ketika mengerjakan deadline artikel dari klien. Entah mengapa, sejak mengenal kedai kopi yang nyaman, saya menjadi lebih bersemangat menulis. Buktinya, setiap sepuluh hari sekali, saya mengulas kedai kopi yang ada di Jogja dan sekitarnya di blog pribadi. 

Inovasi Perpustakaan Mengikuti Zaman 

Sebelum era milenial, saya mengenal perpustakaan sebagai tempat yang menyediakan koleksi tercetak. Baik buku cerita maupun buku-buku mata pelajaran. Tidak muluk-muluk, sewaktu SD, perpustakaan saya berada di kelas 5. Itupun tanpa ada label dan yang lainnya. 

Pun dengan SMP, tidak ada yang perubahan signifikan. Hingga saya SMA, sedikit ada perbedaan. Tiap buku terdapat labelnya. Ketika saya meminjam harus menulis nama dan menyerahkan Kartu Pelajar untuk dicatat. 

Bagaimana dengan tempatnya? Tentu hanya ruangan sebesar kelas yang dilengkapi meja panjang beserta kursi. Tidak ada yang istimewa. Satu-satunya yang istimewa pada masa tersebut adalah, perpustakaan tempat bolos sekolah teraman. Ini pengalaman saya. 

Saat ini semua mengikuti perkembangan zaman. Pembelajaran tidak hanya tatap muka di kelas. Sudah ada e-learning. Pekerjaan tidak hanya kantoran, makin banyak kawan sejawat yang menjadi pekerja lepas tanpa harus ke kantor. 

Perpustakaan pun sama. Lambat laun berbenah. Mulai dari koleksinya yang tidak hanya tercetak, sistem otomasi perpustakaan menggerus kartu katalog manual, pelayanan peminjaman mandiri dan yang lainnya. 

Selain itu, perpustakaan juga mengikuti perkembangan zaman terkait gedungnya. Gedung-gedung menjadi bagus, rak buku tertata rapi dan menyenangkan, saking bagusnya terkadang hanya digunakan spot foto para influencer untuk keperluan feed Instagramnya. 

Tatkala gedung sudah bagus, fasilitas mumpuni, tentu untuk merias dibutuhkan interior yang menarik. Termasuk tempat duduk yang nyaman. Salah satu tujuannya tentu agar pemustaka menjadi betah berlama-lama di perpustakaan. 

Internet cepat, tersedia banyak stop kontak, kursi empuk dan meja termasuk kebutuhan sekarang di setiap perpustakaan. Atau malah tempat khusus semacam co-working space. Di salah satu perpustakaan fakultas di UGM kemarin mengenalkan co-working space baru. 

Menurut saya pribadi, adanya sofa yang nyaman atau tersedia kafe dan yang lainnya adalah bagian dari perkembangan zaman. Perpustakaan mengikuti keinginan pemustaka. Jika ada kawan yang mengatakan fasilitas tersebut adalah pencitraan, tentu menarik ditunggu pendapatnya. 

Atau memang sebuah pencitraan? Mencitrakan bahwa perpustakaan saat ini tempatnya lebih nyaman, fasilitasnya lebih baik, dan sudut ruangannya instagramable. Sehingga orang datang tidak hanya meminjam buku tapi mencari tempat untuk diskusi atau sekadar santai duduk di sofa yang empuk. Entahlah.

Jumat, 07 Februari 2020

Sertifikat Akreditasi Perpustakaan itu…



“Assalamu’alaikum…bisa bertemu Ibu Bulan”, sebuah suara mendarat di telinga Bulan. Sementara orang yang mengucapkan salam tersebut sedang berbincang dengan sekuriti kantor. Seketika Bulan langsung melambaikan tangannya, pertanda tamu tersebut sudah melihat orang yang dimaksud.
“Pa kabar Mas Agung, sehat-sehat ya. Gak nyasar kan ke sini”, tanya Bulan antusias kepada Agung dan temannya, Samuel. Bulan bisa langsung menyapa karena nama mereka melekat di bead seragam kantornya.
“Alhamdulillah aman Mbak”, balas Agung tersenyum juga. Setelah sekian lama saling bertanya dan berkontak via wasap, akhirnya mendarat juga selembar sertifikat yang menjadi penilaian keberadaan perpustakaan di mana Bulan bekerja selama ini. Kedua tamu Bulan berdiskusi dan menyampaikan hasil akreditasi perpustakaannya kepada pimpinan setempat serta berfoto bersama penyerahan sertifikat akreditasi perpustakaan.
“Kami sampaikan terima kasih. Semoga ini menjadi langkah awal kami untuk lebih baik lagi pada masa-masa mendatang. Terima kasih Mas Agung dan Mas Samuel atas kerjasamanya selama ini”, harapan pimpinan Bulan kepada kedua tamu Bulan yang bekerja di Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) DKI Jakarta.
Mengikuti akreditasi perpustakaan memang tantangan tersendiri. Bukan perkara mudah karena begitu banyaknya bahan dan berkas yang harus disiapkan. Ini tentunya pekerjaan bersama, bukan pekerjaan satu dua orang saja. Setidaknya dengan mengikuti akreditasi perpustakaan, usaha-usaha dan pekerjaan-pekerjaan di perpustakaan pernah dinilai oleh pihak luar dan perpustakaan mendapat rekomendasi, sudut pandang baru tentang apa saja tata kelola perpustakaan yang masih harus diperbaiki dan dibenahi.
      

Kamis, 06 Februari 2020

Menyoal Kebanggaan Katalog Daring (Online) Perpustakaan

Kalau saya perhatikan, tidak sedikit para pustakawan yang merasa bangga apabila telah memiliki katalog daring (online) perpustakaannya yang bisa diakses oleh pemustaka melalui internet. Tentu ini tidak salah, karena mereka menganggap bahwa bisa memberikan informasi koleksinya secara daring itu merupakan bagian dari penerapan teknologi informasi dan komunikasi yang terus mengalami perkembangan hingga sekarang ini.

Menyoal Kebanggaan Katalog Daring (Online) Perpustakaan

Jangan lupa, alih-alih merasa bangga itu, tapi tentu menurut hemat saya informasi koleksi yang biasanya berupa metadata itu ada tingkatannya. Sebab, tidak sedikit metadata katalog daring perpustakaan daring yang ada itu juga kosong. Memang, pemustaka (user) tak peduli apabila ada salah satu metadata di katalog daring itu kosong misalnya sebut saja nomor klaisifikasinya. Bagi pemustaka yang terpenting biasanya  tahu koleksi yang sedang diaksesnya itu tentang apa sih? Isinya apa saja sih? dan lain sebagainya.

Metadata Katalog Daring Perpustakaan

Menyoal metadata katalog perpustakaan daring itu, apa yang kira-kira paling terberat untuk mengisinya? Misalnya mulai dari judul, nomor panggil, pengarang, penerbit, tahun terbit, kota terbit, ISBN, deskripsi fisik, tipe media, subyek, edisi, abstrak , dan lain sebagainya.

Iya memang, sekarang dengan adanya fitur copy cataloging, semua metadata itu bisa diisi secara otomatis sehingga lebih cepat. Tapi, menurut hemat saya, ada satu hal yang tidak bisa main ambil atau copy dari semuanya. Apa itu? Yakni ringkasan/catatan/resensi dan apalah sejenisnya semacam komentar terkait isi dari koleksi tersebut. Kenapa demikian? Karena minimal pustakawan harus membaca konten koleksinya itu. Tidak serta merta, sekonyong-konyong asal copy paste dari web lain. Disinilah ujian seorang pustakawan yang sesungguhnya. Bukan sekedar teknis, menginput metadata koleksi. Namun, lebih dari itu.

Membuat catatan koleksi tersebut secara mendalam akan sangat bermanfaat dan inilah seharusnya bentuk kebanggaan tertinggi seorang pustakawan. Selain pemustaka lebh puas, tentunya bisa memancing diskusi dari para pemustaka atau bahkan pustakawan lain. Bisa jadi, tanggapan antar pustakawan satu dengan yang lain itu akan berbeda karena menyangkut mindset, pengetahuan, pengalaman si pustakawan tersebut.

Ini menarik bukan kalau seandainya pustakawan bisa membuat semacam komentar dari setiap koleksi yang diinput di katalognya. Tentu ini memerlukan waktu lama. Belum lagi bagaimana seandainya koleksi tersebut koleksi bersifat teknis katakanlah misalnya koleksi teknik fisika, kimia, biologi, dan sebagainya. Ini tentu akan susah. Oleh karena itu, pustakawan yang berkerja di perpustakaan umum atau sekolah sepertinya bisa melakukan itu karena bukunya yang masih bisa dipahami.

Pengalaman saya sendiri dengan koleksi khusus ketenaganukliran, sering kali untuk yang bersifat teknis, angkat kaki alias mundur. Kecuali koleksi-koleksi yang bersifat umum atau sosial yang masih bisa saya pahami.

Oh, iya satu lagi, hingga sekarang saya juga bukanlah pustakawan yang benar-benar teruji karena untuk metadata koleksi saja khususnya pada review koleksi masih sering kali mengambil dari website lain. Benar-benar saya masih bukanlah pustakawan sesungguhnya. Makanya sampai sekarang saya belum merasa bangga alias puas dengan metadata katalog daring di perpustakaan yang saya kelola. Bagaimana dengan teman-teman?

Salam,
Pustakawan Blogger

Jumat, 24 Januari 2020

KEMULIAAN ANGPAO PUSTAKAWAN (Renungan Tahun Baru Imlek)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, salah satu kekhasan yang menjadi tradisi dalam perayaan tahun baru Imlek adalah pemberian Angpao. Dalam kamus bahasa Mandarin, Angpao didefinisikan sebagai "uang yang dibungkus dalam kemasan merah sebagai hadiah; bonus bayaran; uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya”. 

Dalam kesehariannya Angpao sendiri lebih diartikan sebagai bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah dan beberapa catatan yang berisi doa kebaikan dalam menyambut tahun baru Imlek atau perayaan lainnya.  Angpao umumnya muncul pada saat ada pertemuan masyarakat atau keluarga seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru, hari raya seperti tahun baru Imlek, memberi bonus kepada pemain barongsai, beramal kepada guru religius atau tempat ibadah, dan sebagainya. Pada pesta pernikahan, pasangan yang menikah biasanya diberi Angpao oleh anggota keluarga yang lebih tua dan para undangan. Masyarakat yang masih teguh memegang budaya tradisional juga menggunakan Angpao untuk membayar guru dan dokter.

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

Angpao merupakan lambang kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Warna merah Angpao melambangkan ungkapan semoga beruntung dan mengusir energi negatif. Oleh sebab itu, Angpao tidak diberikan sebagai ungkapan berbelasungkawa karena akan dianggap si pemberi bersukacita atas musibah yang terjadi di keluarga tersebut.

Saking mulianya sebuah Angpao, sehingga muncul pola penghargaan terhadap orang yang memberi Angpao berdasarkan nilai atau besarnya angpao. Makin besar Angpao yang diberikan makin dihargai dan dianggap sukses memiliki banyak rejeki.

Bagi para pustakawan, Angpao merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan bagi mereka yang bekerja  di perpustakaan. Tentu saja Angpaonya pustakawan juga diberikan dalam bentuk uang berupa gajih dan tunjangan jabatan lainnya yang diberikan sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. Pemberian Angpao terhadap pustakawan diberikan dalam upaya meningkatkan mutu, prestasi, produktivitas kerja, dan pengabdian Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan agar meraih kesuksesan dalam karirnya.

Kemuliaan Memberi Angpao

Satu hal yang menarik untuk kita tiru dalam tradisi Imlek ini adalah keinginan untuk selalu memberi dan berbagi dengan sesama dalam bentuk Angpao. Hal ini sesuai yang diajarkan dalam setiap agama dan tentunya harus menjadi sebuah karakter dalam setiap orang termasuk para pustakawan yang selalu diberikan nikmat rejeki agar bisa terus berbagi.

Ketika seorang pustakawan yang senang berbagi Angpao atau besedekah maka ia berada pada posisi yang terbaik, sebab tangan di atas (orang yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (orang yang meminta)." (HR Muslim). Dan pustakawan tersebut akan selalu didoakan oleh malaikat setiap paginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (ra) juga disebutkan, “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Sebagai seorang pustakawan tentu tahu bahwa kesuksesan, begitu pula harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) anugerahkan kepada kita semua hanyalah titipan dari-Nya yang diperintahkan untuk memanfaatkannya dalam kebaikan dan bukan di jalan yang keliru, maka sudah sepatutnya kita untuk terus berbagi di jalan Allah.

Seorang pustakawan tidak perlu khawatir hartanya berkurang ketika berbagi di jalan Allah. Jika seseorang mengerti dan pahami, investasi dan infak di jalan Allah sama sekali tidaklah mengurangi harta. Allah SWT berfirman, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat ini, beliau mengatakan, “Selama engkau menginfakkan sebagian hartamu pada jalan yang Allah perintahkan dan jalan yang dibolehkan, maka Allah-lah yang akan memberi ganti pada kalian di dunia, juga akan memberi ganti berupa pahala dan balasan di akhirat kelak.” 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) mengatakan bahwa harta tidaklah mungkin berkurang dengan sedekah. Beliau bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558)

Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An-Nawawi  rahimahullah ada dua penafsiran: pertama, Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan lama-kelamaan terbiasa merasakannya. Kedua,  Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.

Bagi seorang pustakawan yang sering memberikan Angpao atau sedekah, Allah SWT memberikan  balasan di akhirat berlipat ganda. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini sangat memotivasi hati untuk gemar berangpao. Ayat ini merupakan isyarat bahwa setiap amal sholih yang dilakukan akan diiming-imingi pahala yang berlimpah bagi pelakunya. Sebagaimana Allah mengiming-imingi tanaman bagi siapa yang menanamnya di tanah yang baik (subur). Terdapat dalam hadits bahwa setiap kebaikan akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat”.

Inilah permisalan yang Allah gambarkan yang menunjukkan berlipat gandanya pahala orang yang berinfak di jalan Allah dengan selalu selalu mengharap ridho-Nya. Dengan ini semua akan membuat harta akan selalu lebih berkah di puncak kesuksesan.

Pustakawan yang telah membiasakan dirinya untuk rajin bersedekah merupakan pribadi yang memiliki sikap terpuji. Tidak semua orang mampu melakukannya. Diperlukan latihan agar menjadi perilaku keseharian dan membentuk sikap mental dermawan. Ketika sudah terbangun sikap dermawan dalam diri seseorang, ia akan senantiasa berupaya memberikan apa yang bisa diberi setiap harinya. Hidupnya selalu optimistis. Yakin bahwa apa yang diberikan, hakikatnya bukan berkurang, justru bertambah.

Berharap dengan tahun baru Imlek ini, mampu  memperkuat relasi dan saling mendoakan kesejahteraan satu sama lainnya. Semoga kita semua bisa terus membiasakan diri kita untuk selalu istiqamah memberikan Angpao bersedekah setiap hari, memberikan keberkahan dan kebahagiaan kepada orang lain meski hanya dengan SENYUMAN dan BERWAJAH CERIA. SUNGGUH MULIA ORANG YANG MENJADIKAN KEBIASAAN BERSEDEKAH SEBAGAI JALAN HIDUPNYA. Selamat tahun baru Imlek 2571 bagi saudara-saudara kita yang merayakannya, Gongxi Fat Choi.

Senin, 20 Januari 2020

Apakah Sekolah Memandulkan Intuisi Kita ?

Oleh : Bambang Haryanto

Mobil patroli polisi menanti lampu hijau menyala. Opsir tua menyopir. Mitranya, yang muda,mengamati mobil BMW baru yang ada di depan mereka. Dia lihat sopirnya merokok. Sendirian. Lalu membuang abu rokok ke jok kosong.

"Membuang abu rokok ke jok mobil baru?" Insightnya berputar keras. "Tidak mungkin pemilik melakukan hal itu.Tidak juga teman si pemilik mobil tersebut."

Gotcha !

***

Kenneth Williams, agen FBI di Phoenix, Arizona, AS, mengendus hal mencurigakan. Dua bulan sebelum 11 September 2011 ia melihat sejumlah warga Arab ambil les menerbangkan pesawat.

Herannya, mereka tidak berlatih hal yang paling penting dari penerbangan : saat take-off dan landing.

Insight Williams terpatuk. Tanggal 10 Juli 2011 dia kirim memo ke markas besar FBI. Sohor sebagai Memo Phoenix. Dia menyarankan mengawasi aktivitas serupa di seluruh negeri. Juga memeriksa visa orang asing yang belajar penerbangan di Amrik. Sayang, memonya tidak digubris markas besar FBI.

Kedua cerita tentang insight itu saya baca dari buku Seeing What Others Don't (2013), karya Gary Klein.

***

Ketajaman insight di era VUCA yang banyak kekaburan akan jadi faktor pembeda kita meraih sukses. Sayangnya, di pendidikan kita, murid-murid terpenjara dalam tembok. Pepatah luhur alam terkembang jadi guru, hanya jadi slogan belaka!
           
 

Selasa, 31 Desember 2019

KEBERKAHAN UMUR SEORANG PUSTAKAWAN (Sebuah Renungan Pergantian Tahun Baru)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)


Setiap manusia yang lahir ke dunia, siapapun dia, apapun profesinya (Guru, Dokter, Pustakawan, dan sebagainya) tentu diberikan umur yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) Tuhan Yang Maha Esa dan nantinya akan dimatikan untuk kembali kepada Tuhannya.

Umur panjang atau pendek sama saja, yang terpenting adalah kualitas hidup kita dalam  memanfaatkan umur untuk kebaikan dan ibadah sehingga umur menjadi berkah meskipun umurnya pendek.

Umumnya orang berdoa kepada Allah SWT Tuhan YME agar diberi-Nya umur panjang. Sedikit sekali atau bahkan mungkin tidak ada orang yang menginginkan berumur pendek. Mereka tentu memiliki alasan masing-masing. Namun umumnya alasan mereka adalah karena ingin memiliki amal baik yang cukup semasa hidupnya sebagai bekal hidup abadi di akhirat. Hal ini memang memiliki dasar yang kuat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  (SAW) yang artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?Beliau menjawab: Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi) 
 
Hadits itu telah menginspirasi banyak orang termasuk seorang PUSTAKAWAN untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi-Nya umur panjang. Mereka telah meyakini bahwa salah satu tanda orang terbaik adalah apabila seseorang berumur panjang dan hidupnya penuh dengan amal-amal kebaikan. Mereka yang umurnya panjang tetapi amal-amal kebaikannya amat sedikit tidak termasuk orang-orang terbaik, bahkan mereka digolongkan sebagai orang-orang yang merugi.   

Namun demikian adalah kenyataan bahwa tidak setiap orang berumur panjang meski mereka berdoa demikian. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana dengan mereka yang berumur pendek? Apakah mereka dengan sendirinya tidak termasuk orang-orang terbaik? 

Baca juga: Senyum Pustakawan
Untuk menjawab pertanyaan di atas kita dapat merujuk penjelasan dari Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 47) sebagai berikut:   “Sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah SWT, yang diberi-Nya taufiq untuk mengerjakan amalan saleh dan kebajikan-kebajikan lain baik yang khusus maupun yang umum”.

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah SWT, yang diberi-Nya bimbingan untuk melakukan berbagai kesalehan dan kebajikan. Jadi kebaikan seseorang sebetulnya tidak semata-mata bergantung pada umurnya yang panjang, tetapi lebih pada seberapa banyak amal kebaikan yang dilakukannya semasa hidupnya. Penjelasan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW di atas. 

Oleh karena itu, bisa saja seorang PUSTAKAWAN berumur pendek tetapi amal kebaikannya sangat banyak dan mungkin sama atau bahkan melebihi mereka yang berumur panjang. Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang terbaik karena mampu memanfaatkan umurnya yang pendek untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Inilah umur yang penuh dengan berkah dari Allah SWT.   

Sebagai contoh beberapa orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya sangat banyak dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas sehingga bisa ditiru oleh para PUSTAKAWAN. Di antara contoh itu adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’í. Beliau wafat dalam usia 54 tahun. Meski usia beliau tidak panjang, namun beliau semasa hidupnya mampu menghasilkan banyak kebaikan seperti karya-karya tulis yang sangat penting bagi kaum Muslimin.

Di antara karya-karya besar Imam Syafi’i adalah pertama: Kitab Ar-Risalah yang merupakan kitab tentang Ushul Fiqh. Kedua, Kitab Al-Umm yang merupakan kitab tentang mazhab fiqihnya. Ketiga, Kitab Ikhtilaf al-Hadits yang merupakan kitab tentang hadits. Keempat, Kitab Tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i yang merupakan kitab tentang tafsir Al-Quran, dan lain sebagainya. Beberapa sumber menyebutkan jumlah kitab karangan Imam Syafi’i lebih dari 120 buah, dan beliau hafidz Qur’an dalam usia 7 tahun.   

Contoh lain orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya sangat banyak adalah Abu Hāmid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Al-Ghazali. Beliau wafat dalam usia 55 tahun. Meski beliau berumur pendek, namun begitu besar sumbangsihnya bagi masyarakat luas, khususnya kaum Muslimin. Beliau dijuluki Hujjatul Islam karena jasa-jasanya membela kebenaran Islam dengan mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran dengan argumen yang sulit dipatahkan oleh lawan.   

Di antara karya-karya besar Imam Al-Ghazali adalah pertama: kitab Ihya Ulumiddin yang merupakan kitab tentang akhlak dan tasawuf. Kedua, kitab Jawahir Al-Qur’an yang merupakan kitab tentang tafsir Al-Qur’an. Ketiga, kitab Al-Basith dan Al-Wasith yang merupakan kitab tentang ilmu fiqih dan ushul fiqih. Keempat, kitab Maqashid Al-Falasifah dan Al-Arba’in fi Ushuluddin yang merupakan kitab filsafat dan ilmu kalam, dan lain sebagainya. Beberapa sumber menyebutkan jumlah kitab karangan Imam Al-Ghazali lebih dari 200 buah.

Dari apa yang dijelaskan dan dicontohkan di atas sangatlah jelas bahwa pemahaman  tentang umur yang baik adalah umur yang dipenuhi dengan kebaikan yang bisa diraih oleh orang-orang yang  saleh meskipun tidak berumur panjang, namun amal-amal kebaikan dan karyanya sangat banyak sebagaimana disebutkan di atas, yakni Imam Syafií dan Imam Al-Ghazali.

Saya teringat dengan sebuah nasehat perkataan dari almarhum Buya Hamka yang dikenal sebagai seorang Ulama dan Sastrawan Indonesia, beliau mengatakan bahwa “kita sudah MATI hancur dikandung tanah, tapi kita masih hidup. Dalam umur yang sekian pendeknya yang telah kita lalui di dunia, misalnya 100 tahun, dia bisa kita panjangkan. Dengan apa! Dengan sebutan, dengan amal, dengan bekas tangan, dengan iman dan amal shaleh”. Sesuai dengan apa yang disebut dalam pantun Melayu “Pulan Pandan Jauh Ditengah, Dibalek Pulau Angsa Dua, Hancur Badan Dikandung Tanah, Budi Yang Baik Terkenang Jua”.

Ada juga satu syair dari Syauqi Beikh seorang Penyair Arab Mesir yang terkenal mengatakan “Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu yang akan dikenang orang daripada dirimu, karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia”. Banyak orang yang setelah dimasukan ke dalam kubur, masuk sudah ditimbun kubur tadi, orangpun pulang ke rumah, sebutan orang tadi keluar dari kuburnya tiap hari dia keluar, setahun, dua tahun, sepuluh tahun, seratus tahun, malah ada yang beribu tahun.

Nabi kita Muhammad SAW umurnya cuma 63 tahun, tapi beliau sampai sekarang sudah 1440 tahun, masih seperti kemaren saja hidup beliau itu, menjadi sebutan orang siang dan malam. Inilah maksud yang dikatakan orang, “sesudah mati dia hidup kembali, lebih panjang umurnya 63 tahun dibandingkan dengan 1440”. Dan selama adzan masih kedengaran  di puncak menara, entah ratusan ribuan lagi, itu nama akan tetap hidup.

Baca juga: Pustakawan Berakhlak Nabi Muhammad saw.
Oleh karena itu, sebaik-baik umur manusia adalah umur yang diberkati Allah SWT. Hal ini meliputi umur panjang dan banyak digunakan untuk melakukan amal-mal saleh dan kebajikan-kebajikan lainnya. Selain itu adalah umur yang tidak panjang namun banyak digunakan untuk mengerjakan kesalehan-kesalehan hingga pada tingkat tertentu yang setara atau malahan lebih banyak dari mereka yang berumur panjang. 

Agar umur kita panjang, Rasulullah SAW mengajarkan dalam sabdanya yang artinya : "Siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung silaturahim." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan juga kita dianjurkan untuk memperbanyak doa berikut, yaitu Allahumma aktsir mali wa waladi wa barik li fima a’thoitani wa athil hayati ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amali waghfirli. (Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku).

Berharap semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki umur yang diberkati Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

Minggu, 22 Desember 2019

Kursi Terbang dari Onggokan Kertas

Kursi Terbang dari Onggokan Kertas

               Hari ini begitu banyak orang memberikan ucapan dan do-doa terbaiknya untuk ibunda tercinta. Ya, Ibu sosok yang luar biasa. Wajar bahkan sepatutnya ibu mendapatkan perhatian yang lebih, baik oleh anak-anaknya bahkan negara sekalipun. Begitupun ibu di mata sang pustakawan yang satu ini. Ya bagi Bulan, ibu adalah sosok tangguh yang mengagumkan.

               Bulan jadi ingat, saat kecil dahulu ibu sering mendapat kertas-kertas bekas baik dari tetangga ataupun dari orang yang tak dikenal sekalipun. Untuk apa kertas-kertas itu. Ya itu adalah kertas-kertas bekas untuk membungkus dagangan ibu karena ibu berjualan sayuran. Orang memberikan secara cuma-cuma kepada ibu. Ibu dengan senang hati menerimanya. Dari sekian banyak kertas bekas itu, ada yang berupa buku bekas, majalah bekas, koran bekas, dan lembaran-lembaran lepas.

               Apa semua kertas-kertas itu untuk membungkus dagangan ibu. Tidak. Ternyata ibu mampu melakukan klasifikasi. Klasifikasi sederhana dengan memisahkan mana kertas-kertas tersebut yang akan dipakai untuk membungkus dagangan, dan mana yang akan disisihkan untuk Bulan kecil belajar membaca dan menulis. Maklumlah, ibu dengan kondisi ekonomi yang sederhana memaksa otaknya berfikit keras untuk bisa memenuhi kebutuhan informasi dan edukasi anak-anaknya.

               Kertas hasil pilahan ibu memang tidak salah. Pilahan yang tepat. Banyak sekali tumpukan kertas itu berupa buku-buku bacaan atau buku cerita yang menarik untuk Bulan kecil. Ibu membiarkan Bulan kecil yang belum bisa membaca dan menulis itu untuk men-corat-coret dan berkhayal dengan gambar yang dilihatnya. Ibu tersenyum bahagia saat melihat betapa antengnya Bulan kecil menikmati dan menelususri tiap halaman yang membawa imajinasinya jauh ke negeri antah barantah.

               Sebuah buku tentang kursi terbang mencuri perhatian Bulan kecil begitu rupa. Ya lembaran buku itu sudah lepas-lepas dan lecek. Halamannya sedikit lusuh dan kusam karena beberapa coretan tak beraturan dan berdebu. Tetapi buku itu full colour, gambarnya menarik dan hidup. Tak henti-hentinya Bulan kecil memandangi dan mulutnya berkomat-kamit, berceloteh  sendiri membaca buku tersebut menurut imajinasinya. Ya tokoh dalam dalam buku tersebut adalah seorang anak kecil yang sedang duduk di kursi. Kursi itu bisa terbang kemana saja anak itu mau. Seperti karpet terbangnya Aladin yang terbang ke sana kemari sesuka hati membawa Aladin berkelana. Sebuah kursi terbang yang membawa gadis kecil itu  melihat pemandangan indah dari atas.

               Bulan kecil tak bosan-bosannya membaca buku itu. Dan Bulan kecil selalu memamerkan kepada ibunya bahwa Bulan kecil ingin terbang juga seperti anak kecil dalam buku cerita itu. “ Ibu, kapan-kapan Bulan mau terbang ya bu sama kursi ini. Bulan mau pergi ke mana ajah,” celetuk Bulan kecil sambil menatap ibunya dengan senyum khas bocah lima tahun.  Ibu hanya tersenyum, “Iya nak, suatu saat kamu pasti bisa terbang, kamu bisa mejelajah bumi yang luas ini,” jawab ibu yakin selaksa doa yang mantap dipanjatkan ibu kepada Tuhannya sambil mengelus kepala Bulan kecil.

              Ibu dan harapannya selalu menjadi doa yang diaminkan semesta. Kini Bulan merasakan dan menikmati imajinasinya puluhan tahun lalu. Ibu adalah penghantar sejatinya. Bermula dari seonggok kertas bekas yang membangkitkan mimpi indah untuk kebahagiaan anak-anaknya, pandangan  ibu jauh ke depan melampaui keterbatasan hidupnya. 

Sabtu, 21 Desember 2019

Ibu Kunci Sukses Pustakawan (Refleksi Hari Ibu Nasional)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

Seperti kita ketahui bersama bahwa tanggal 22 Desember 2019 bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu Nasional (HIN) yang ke-91 dengan tema Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Hari Ibu lahir dari pergerakan perempuan Indonesia diawali dengan  Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928 di Yogyakarta telah mengukuhkan semangat dan tekad bersama untuk mendorong kemerdekaan Indonesia.

Hakekat HIN setiap tahunnya adalah mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda akan arti dan makna Hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Termasuk juga untuk mendorong semua pemangku kepentingan guna memberikan perhatian, pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan. Dan pada akhirnya memberikan keyakinan yang besar bahwa perempuan akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya serta mengembangkan segala potensi dan kemampuan sebagai agen penggerak (agent of change).  Untuk itu sebagai apresiasi atas gerakan yang bersejarah itu, HIN ditetapkan setiap tanggal 22 Desember sebagai hari nasional para ibu.


Keistemewaan Ibu

Ada sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh grup musik Nasidariya yang isinya sangat menyentuh hati kita semua yang menceritakan tentang kemulian ibu, yaitu

Ibu, kaulah wanita yang mulia
Derajatmu tiga tingkat dibanding ayah
Kau mengandung melahirkan menyusui mengasuh dan merawat
Lalu membesarkan putra-putrimu Ibu
Lautan kasih sayang
Pada setiap insan
Mataharinya alam
Sebagai perumpamaan
Dunia isinya belumlah sepadan
Sebagai balasan ibumu melahirkan
Doanya terkabulkan keramat di dunia
Kutuknya kenyataan jangan coba durhaka
Syurganya Tuhanmu dibawah kakinya
Ridhanya Ibumu ridha Tuhan jua
Wahai jangan jadi anak durhaka
Marilah berbakti pada Ibunda

Dari lirik lagu tersebut, apa yang menjadikan seorang ibu begitu istimewa? Setiap anak sungguh telah merasakan keistimewaan seorang ibu. Ibu adalah orang yang telah mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, mendidik, dan membesarkan.

Begitu besar pengorbanan seorang ibu, Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (SAW) dalam hadisnya yang disampaikan oleh Abu Hurairah RA, berkata, "Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai, Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi SAW menjawab, 'Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.

Baca juga: Angpao Pustakawan
Perintah penghormatan yang besar kepada seorang ibu juga banyak disebutkan dalam Al- Quran. Contoh, perintah hormat kepada ibu disebutkan dalam QS Luqman ayat ke-14. "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.

Kebaikan ibu sangatlah luas dan tak pernah dapat tergantikan dengan apapun. Seberapa banyak harta kekayaanmu, tak akan pernah bisa lunas untuk membayar kebaikan ibu. Maka, buatlah beliau tersenyum bahagia.

Membahagiaan ibu juga adalah perintah Agama. Dikisahkan, seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Aku akan berbai'at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis." Rasulullah SAW bersabda, "Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis." (HR. Abu Dawud).

Peran Ibu

Perempuan sebuah kata yang memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seorang perempuan menikah, lalu mempunyai seorang anak maka perempuan tersebut bermetamorfosis menjadi seorang ibu. Di Jepang jabatan seorang ibu sangatlah mulia. Banyak wanita-wanita Jepang yang lebih memilih mengundurkan diri dari karir profesionalnya ketika mempunyai seorang anak. Mereka merasa lebih bahagia, tersanjung dan mulia dengan jabatan dan tugasnya sebagai seorang ibu. Para wanita Jepang menganggap bahwa mendidik seorang anak sama profesionalnya dengan para wanita pekerja.

Karenanya, membahas peran Ibu untuk kesuksesan anaknya, seperti halnya saya seorang pustakawan yang telah berhasil memiliki prestasi dalam skala global, semuanya adalah berkah kemuliaan seorang ibu yang telah melahirkan kita yang selalu berusaha berdoa untuk anaknya, bagaikan tarikan nafas kita. Apa yang kita rasakan ketika kita berhenti menarik nafas? Disadari atau tidak menarik nafas terus menerus kita lakukan dalam keadaan dan kondisi apapun. Kita tidak pernah bisa menahan nafas dalam waktu yang lama bukan? Begitu pun peran seorang ibu terhadap anaknya, berlangsung secara terus menerus dan tidak pernah berhenti hingga ajal menjemput. Banyak para ahli yang berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional seorang ibu pada anaknya merupakan salah satu aspek penting kesuksesan hidup seseorang.

Pernah suatu ketika seorang jamaah mau mengetahui tentang kesuksesan Ustaz Abdul Somad (UAS). Yang  mereka jadikan sebagai sumber informasinya adalah ibunya, karena ibunya yang paling dominan dalam mendidik UAS sehingga bisa menjadi terkenal di Tanah Air hingga luar negeri seperti sekarang ini. Lalu jawaban ibundanya UAS, “Kalau mendidik UAS harus menerapkan disiplin. Pendidikan agama merupakan hal utama dalam mendidik UAS. Saya mendidik UAS dengan keras tak mau lembek. Anaknya harus disiplin. Ilmu agama selalu diberikan kepada UAS. Mengenai ajaran agama ibunda selalu keras dan sangat menyayangi anaknya”. Di sinilah peran ibu sangat amat penting terhadap pendidikan anak, ia menjadi seorang A, B atau C adalah karena orang tuanya. Karena itu sudah bukan rahasia lagi, jika dibalik anak yang hebat selalu ada ibu yang hebat.
Baca juga: Pustakawan Berakhlak Nabi
Satu hal yang menarik dari hasil didikan ibunya UAS adalah kasih sayang yang selalu diberikannya pada UAS. Bentuk kasih sayang, seperti pelukan, kecupan hangat, belaian, dukungan dan bentuk lainnya sangat dibutuhkan anak untuk kesehatan mentalnya di masa depan. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Child Trends sebuah organisasi riset nirlaba terkemuka di Amerika Serikat berfokus pada peningkatan kehidupan anak-anak, remaja, dan keluarga mereka.

Diketahui bahwa dengan kehangatan dan kasih sayang yang diungkapkan oleh orangtua kepada anak-anak akan menghasilkan dampak positif seumur hidup. Efeknya antara lain, anak jadi memiliki harga diri yang lebih tinggi, kinerja akademis yang lebih baik, dan risiko mengalami masalah psikologis juga lebih rendah. Sebaliknya anak-anak yang tidak memiliki orangtua yang menyayangi cenderung memiliki harga diri yang rendah dan merasa lebih terasing, agresif, dan anti social.

Pada 2010, para periset di Duke University Medical School juga menemukan bahwa bayi dengan ibu yang sangat sayang dan penuh perhatian tumbuh menjadi orang yang lebih bahagia,
lebih tangguh, dan tak mudah. Penelitian ini melibatkan sekitar 500 orang yang dianalisis saat masih bayi sampai berusia 30-an. Ketika bayi berusia delapan bulan, psikolog mengamati interaksi ibu mereka dengan mereka saat mereka melakukan beberapa tes perkembangan. Para psikolog menilai tingkat kasih sayang dan perhatian ibu pada skala lima poin mulai dari yang" negatif" hingga " boros" . Hampir 10 persen ibu menunjukkan tingkat kasih sayang rendah, 85 persen menunjukkan jumlah kasih sayang normal. Lalu sekitar 6 persen menunjukkan tingkat kasih sayang yang tinggi. Kemudian 30 tahun kemudian, orang-orang yang sama diwawancarai tentang kesehatan emosional mereka. Orang dewasa yang ibunya menunjukkan kasih sayang secara 'boros' atau sering memeluk dan membelai, tidak mudah mengalami stress, cemas, tetapi  mudah dalam interaksi sosial.

Selamat hari ibu, kasih sayangmu akan selalu dirindukan, dengan jasamulah kami bisa menjadi orang-orang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin.