Rabu, 04 Desember 2019

Gaji Kecil Tidak Menghambat Untuk Berprestasi

Oleh: Veny Fitriyanti
Bekerja di perpustakaan sekolah negeri, jika kamu bukan PNS maka kamu harus persiapkan tenaga dan HATI untuk menerima upah yang kecil dibawah standar UMR. Kalo sudah begitu apakah kinerja kamu di perpustakaan asal-asalan, malas-malasan ato tetap giat dan bekerja ikhlas.
Jujur saja sebelum saya PNS, Tahun Oktober 2008- Februari 2009 (kalo gak salah ingat) saya pernah bekerja di perpustakaan sekolah yaitu Pondok Pesantren Darul Arafah di Tanjung Anom, Deli Serdang (tempat ustadz somad dulu loh). Saat sahabat saya sudah gaji 2 jutaan, saya hanya 750rb. Tapi bagi saya, gaji itu wajar karna makan ditanggung dan nginap di asrama putri.
Namun masih ada yang lebih kecil lagi gajinya bekerja di Perpustakaan Sekolah khusus yang di Negeri nih, rata-rata kemampuan sekolah hanya bisa memberi gaji 250rb-300rb. Nah hal ini terus jadi perbincangan hangat di kalangan pustakawan. Banyak yang gak terima tapi tetap menerima dengan legowo karna sulitnya lowongan kerja dan susahnya lulus masuk PNS.
Sehingga harap maklum kalo mutu Perpustakaan sekolah negeri rata-rata tidak bagus, kayak gudang, dsb karena gaji yang terlalu minim.
Tahun 2019, Bagian Perpustakaan dan Kearsipan Setdakab Aceh Tamiang mempunyai program kegiatan yaitu Lomba Perpustakaan Desa dan Perpustakaan Sekolah Terbaik Tingkat SD, SMP, SMA Se-kabupaten Aceh Tamiang. Perpustakaan Sekolah dan Desa akan diberi kuisioner dan Juri akan memeriksa jawaban dengan melihat sendiri Perpustakaan tersebut. Untuk Tingkat SMP dan SMA ada tahap presentasi lagi.
Rata-rata yang ikut lomba ini hampir semuanya Kepala Perpustakaan Sekolah yang sudah PNS fungsional dan bersertifikasi, kecuali Perpustakaan SD. Hal ini yang membuat jiwa saya tergugah untuk menulis kisah inspiratif ini.
Juara I Lomba Perpustakaan Sekolah Terbaik Tingkat SD Se-kabupaten Aceh Tamiang diraih oleh SD Negeri Tangsi Lama, Kecamatan Seruway.
Sekolah ini terletak di desa banget dan Tenaga Pengelola Perpustakaannya bernama Safrida Nita hanya tamatan SMA dengan gaji hanya 300rb.
Yang saya kagumi dari Nita (nama panggilan Safrida) adalah kemauan nya untuk belajar tentang perpustakaan mulai dari Nol. Dukungan penuh Kepala Sekolah SD Tangsi Lama Bapak Nurdin S.Pd untuk Nita juga turut mempengaruhi kinerjanya demi meningkatkan mutu Perpustakaan Sekolah walaupun hanya dari Sekolah SD desa kecil.
Saya membina dan melatih Nita sama seperti di sekolah lain mulai dari membuat buku inventaris perpustakaan, Klasifikasi, buat nomor punggung hingga Laporan jumlah buku per judul dan eksemplar, peminjaman dan pengunjung perpustakaan per tahun dsb.
WhatsApp saya pun selalu jadi tempat alternatif Nita bertanya apa-apa saja yang tidak mengerti. Mungkin bagi anda kelihatannya sepele.
Anda salah Ferguso!!!!!😎😎
Menulis inventaris tumpukan buku dari awal, mengklasifikasikan buku sesuai Dewey Decimal Classification (DDC) itu sudah bikin anda demam meriang. Apalagi seorang Nita yang bukan sama sekali lulusan Perpustakaan. Bahkan bukan sekali Nita mengeluh pusing, buntu bahkan pernah gak enak badan selama perbaikan perpustakaannya.
Namun dijalankan perlahan-lahan tapi pasti. Hingga akhirnya saat lomba ini diadakan dia dengan PD (Percaya Diri) menunjukkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan untuk lomba.
Hingga NILAI Perpustakaan Sekolah SD Tangsi Lama meningkat tajam paling tinggi mengalahkan juara 2 dan juara 3.
Nita bersama Kepala Sekolah dan guru-guru SDN Tangsi Lama.
Penyerahan hadiah bersama Wakil Bupati Aceh Tamiang. T. Insyafuddin, berupa Piala+Sertifikat+Uang Tunai Rp. 2.500.000
Saya kagum dengan proses pembelajaran Nita yang sudah berkeluarga dan masih punya anak bayi tapi masih semangat belajar perpustakaan. Hasil kerja kerasnya mendatangkan sebuah prestasi yang manis.

Sabtu, 30 November 2019

TERAPI AIDS DENGAN BUKU (Momentum Hari AIDS Sedunia)

Oleh: DR. AHMAD SYAWQI, S.AG, S.IPI, M.PD.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

DR. AHMAD SYAWQI, S.AG, S.IPI, M.PD.I
Seperti kita ketahui bersama setiap 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia yang dimulai pada 1988 oleh Organisasi Kesehatan Dunia yang tahun 2019 ini adalah tahun ke-31 hari AIDS diperingati bertepatan pada Hari Minggu, 1 Desember 2019.

Peringatan hari AIDS menjadi moment yang sangat penting, karena bagian upaya kita untuk meningkatkan kesadaran global tentang perjuangan melawan HIV. Juga sebagai dukungan untuk orang dengan HIV dan mengingat mereka yang meninggal akibat penyakit terkait HIV/AIDS. Berangkat dari pengertiannya, Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis dari virus yang menyerang bagian imunitas tubuh seseorang, sehingga rentan terserang berbagai macam penyakit. Sementara Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat serangan HIV.

Penyakit AIDS yang diakibatkan virus HIV adalah gangguan kesehatan yang menjadi momok bagi siapa pun. Ini bukan hanya karena risiko kesehatan yang harus dihadapi, tapi juga stigma negatif masyarakat yang diarahkan kepada pengidap HIV/AIDS yang sering diasosiasikan sebagai seseorang yang memiliki lingkup pergaulan seksual bebas dan tidak sehat, misalnya tunasusila dan mereka yang menggunakan jasanya. Padahal tidak selalu penderita HIV/AIDS merupakan seseorang yang memiliki citra negatif, karena anak-anak yang masih polos pun bisa menjadi korban virus ini. Berangkat dari pengertiannya, Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis dari virus yang menyerang bagian imunitas tubuh seseorang, sehingga rentan terserang berbagai macam penyakit. Sementara Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat serangan HIV.

Berdasarkan data dari The Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) jumlah penderita global data penderita HIV/AIDS di seluruh dunia terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS pada 2017. Dari total penderita yang ada, 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Selebihnya adalah orang dewasa, sejumlah 35,1 juta penderita. Penderita HIV/AIDS lebih banyak diderita oleh kaum wanita, yakni sebanyak 18,2 juta penderita. Sementara laki-laki sebanyak 16,9 juta penderita. Sayangnya, 25 persen di antaranya, sekitar 9,9 juta penderita, tidak mengetahui bahwa mereka terserang HIV atau bahkan mengidap AIDS.

Berdasarkan data UNAIDS 2018 mencatat penyebaran HIV di Indonesia mencapai 49 ribu atau tumbuh 16% setiap tahunnya. Indonesia menempati posisi ketiga dengan pertumbuhan penyebaran HIV paling besar di antara negara-negara Asia Pasifik. 23% dari pertumbuhan penyebaran HIV di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, berasal dari anak muda. Hal tersebut terjadi karena mereka tidak mendapatkan informasi yang cukup baik soal HIV. Keterbatasan informasi juga membuat Orang dengan HIV AIDS (ODHA) tak mengetahui status penyakit yang mereka derita.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Juni 2018, ODHA yang mengetahui status penyakitnya hanya sebesar 301.959 orang atau 48% dari 630 ribu orang. Sementara itu, ODHA yang pernah melakukan terapi antiretroviral (ART) sebanyak 195.729 orang. ODHA yang saat ini sedang menjalankan terapi ART baru mencapai 96.298 atau 15%. ODHA yang sudah melakukan tes viral load baru sebanyak 4.462 orang. ODHA yang telah mensupresi virus HIV sebanyak 4.108 atau 0,64%. Karenanya, penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bisa menyampaikan informasi dan sosialisasi mengenai masalah HIV/AIDS.


Terapi AIDS

Bagi sebagian orang memandang bahwa mereka yang mengidap AIDS merupakan suatu penyakit dan aib yang ada pada diri seseorang. Pandangan ini tentunya bisa membuat mereka yang mengidap AIDS menjadi orang yang terasing dari lingkungan mereka bahkan bisa juga membuat jiwa mereka depresi menjadi seorang yang tidak memiliki semangat hidup, sehingga perlu sekali diterapi.

Dalam dunia kepustakawanan, ada satu terapi yang sangat berguna bagi setiap orang termasuk juga penderita AIDS yang mampu membuat jiwa raga seseorang menjadi lebih tenang, sehat, kuat dan bermakna yaitu Biblioterapi. Istilah Biblioterapi berasal dari kata biblion dan therapeia. Biblion berarti buku atau bahan bacaan, sementara therapei artinya penyembuhan. Jadi, biblioterapi dapat dimaknai sebagai upaya penyembuhan lewat buku yang dibaca.

Sebagai contoh ketika kita membaca Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat kepada hambanya, selain untuk dibaca juga memiliki kemu’jizatan yang luar biasa bagi yang membaca maupun yang mendengarnya yang bisa menjadi media terapi obat (syifa) bagi penyakit rohani dan penyakit masyarakat.

Al-Qurthubi seorang mufassir Islam terkenal menjelaskan, ada beberapa pendapat dalam menafsirkan kata syifa` dalam ayat Al-Qur’an. Pertama, Al-Qur’an dapat menjadi terapi bagi jiwa seseorang yang dalam kondisi kebodohan dan keraguan. Kedua, Al-Qur’an membuka jiwa seseorang yang tertutup dan menyembuhkan jiwa yang rapuh. Ketiga, membaca Al-Qur’an juga menjadi terapi untuk menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani.

Beberapa penelitian membuktikan seperti yang dilakukan oleh Dr. Al-Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat mengatakan bahwa membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, baik yang berbahasa Arab maupun bukan, berpengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan membaca atau dibacakan Al-Qur’an, seseorang dapat mengalami penurunan depresi dan kesedihan, juga memperoleh ketenangan jiwa sebanyak 97%. Penelitian ini ditunjang dengan alat pendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.

Ada juga peneliti lain yang membuktikan pengaruh Al-Qur’an terhadap kondisi jiwa, yaitu penelitian Muhamad Salim yang dipublikasikan oleh Universitas Boston. Penelitian ini dilakukan pada 5 objek penelitian yang terdiri dari 3 lelaki dan 2 perempuan yang sama sekali tidak mengerti Bahasa Arab dan tidak mengenal Al-Qur’an. Ia melakukan sebanyak 210 kali penelitian yang dibagi dalam dua sesi, yaitu membacakan Al-Qur’an dan membacakan sebuah narasi Bahasa Arab yang bukan merupakan isi Al-Qur’an. Hasilnya, responden mendapatkan ketenangan sebanyak 65% saat mendengar bacaan Al-Qur’an dan mendapat ketenangan sebanyak 35% saat mendengarkan narasi Bahasa Arab yang bukan merupakan isi Al-Qur’an.

Selain itu, seorang dokter asal Malaysia, Dr. Nurhayati juga mengungkapkan dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia tahun 1977 bahwa pembacaan Al-Qur’an juga dapat memberikan ketenangan pada bayi. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, bayi yang baru berusia dia hari menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang saat diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder.

Menurut seorang psikolog terkenal dan penulis buku psikologi, Dr. Paul A. Hauck mengenai arti sebuah buku bagi kesehatan emosional, "terlalu banyak orang berpendapat bahwa gangguan-gangguan emosional selalu membutuhkan terapi mendalam yang berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Psikologi tidak berbeda dengan geograpi. Keduanya dapat dipelajari melalui pengajaran di kelas dan keduanya dapat menggunakan buku-buku sebagai alat untuk memaksimalkan pengajaran." Melalui Biblioterapi ini sudah biasa digunakan oleh para konselor.

Harus kita akui bahwa biblioterapi ini belum dikenal secara luas oleh semua kalangan dan hanya dilakukan oleh kalangan tertentu yang memiliki hobi membaca tinggi. Mereka biasanya mendatangi konselor yang kemudian menunjukkan buku-buku tertentu untuk dijadikan sebagai terapi jiwa pada saat mengalami stress ringan. Sudah saatnya kita mulai membiasakan diri membaca buku-buku yang penuh inspiratif dan yang sesuai dengan suasana hati kita. Terlebih bagi kita orang Islam untuk membaca Al-Qur’an sebagai penyejuk jiwa.

Jumat, 29 November 2019

Pancakarya Pustakawan (Refleksi Hari KORPRI)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
Seperti kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 29 Nopember 2019 bangsa Indonesia selalu memperingati dan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Pegawai Republik lndonesia (KORPRI) yang ditahun 2019 ini genap berusia 48 tahun. Ulang tahun kali ini bertepatan dengan pasca Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang baru terpilih sehingga diharapkan menjadi penyemangat dalam pengabdian terhadap bangsa dan benegara. 

Peringatan HUT KORPRI ini menjadi moment yang sangat penting bagi setiap aparatur sipil negara (ASN) untuk terus melakukan refleksi, menjaga soliditas dan solidaritas bagi KORPRI, sehingga menjadi lompatan besar demi mencapai kemajuan bangsa lndonesia.

Sejak pertama kali berdiri, KORPRI menjadi satu-satunya wadah bagi Pegawai Republik Indonesia dan menjadi pilar utama pemersatu bangsa dan negara lndonesia dengan ASN sebagai agen perekat kebinekaannya. Melalui KORPRI dapat menjadi wadah organisasi budaya yang penuh inovasi dan kreativitas, modern dan efisien, serta berjiwa melayani dengan jiwa dan semangat Pancasila. 

Dan yang terpenting melalui KORPRI mampu mendorong pengembangan kompetensi sumber daya manusianya, agar menjadi aparatur yang profesional yang mampu menjaga netralitas organisasi, menempatkan pelayanan masyarakat di atas kepentingan pribadi, organisasi dan golongan, serta siap bertransformasi menjadi bagian integral dari pemerintahan yang berperan menjaga kode etik dan standar profesi, mewujudkan jiwa korps sebagai pemersatu bangsa, memberikan perlindungan hukum, serta mengembangkan kesejahteraan anggota.

Pustakawan Berkarya

Menarik untuk disimak ketika peringatan HUT ke-48 ini KORPRI saat ini mengambil tema "KORPRI: Berkarya, Melayani dan Menyatukan Bangsa" dengan harapan para anggota KORPRI tetap bersemangat dalam bekerja melayani kepentingan publik dan mewujudkan fungsinya sebagai perekat persatuan bangsa.

Dalam dunia kepustakawanan, seorang pustakawan yang merupakan ASN yang juga tergabung dalam KORPRI senantiasa dituntut untuk bekerja dan berkarya secara professional.  Informasi yang sangat setelah selesai dengan tagline ‘Pustakawan Bergerak’ pada 2018, di tahun 2019 ini sejalan dengan tema KORPRI 2019, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas RI) telah mencanangkan tagline baru ‘Pustakawan Berkarya’. Implementasi tagline tersebut dituangkan dalam bentuk Ikrar Bersama oleh 12 Duta Pustakawan perwakilan dari berbagai jenjang di Perpusnas RI Jakarta. Mereka yang terpilih sebagai Duta Pustakawan adalah hasil rekomendasi dari tiap unit kerja di lingkungan Perpusnas RI Jakarta. Ke-12 Duta Pustakawan tersebut nantinya juga akan menandatangani Ikrar Bersama sebagai bentuk komitmen menjadi bagian dari program Pustakawan Berkarya. 

Ikrar Pustakawan Berkarya diwujudkan dalam Pancakarya Pustakawan Perpusnas RI, sebagai berikut yaitu (1) Melakukan perubahan; (2) Memberikan kemudahan akses informasi; (3) Mengedukasi masyarakat dalam pemanfaatan layanan perpustakaan dan informasi; (4) Berperan aktif dalam meningkatkan literasi untuk kesejahteraan; (5) Mengadvokasi masyarakat dalam pengembangan perpustakaan. 

Dengan Ikrar Bersama tersebut, seluruh pustakawan diminta peran aktifnya dalam meningkatkan kegemaran membaca masyarakat, meningkatkan keterampilan masyarakat turut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keterampilan masyarakat diperoleh dari kegemaran membaca. Kebutuhan membaca masyarakat disesuaikan dengan local content. Dari keaktifan membaca akan memunculkan keterampilan. Di tambah lagi dengan workshop-workshop yang digelar berkelanjutan. Sehingga dari hasil keterampilan yang menghasilkan dapat memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat.

Tagline ‘Pustakawan Berkarya’ dimaknai sebagai upaya mewujudkan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang melibatkan seluruh pihak untuk melakukan sinergi multi stakeholder, tidak hanya Perpusnas RI Jakarta tapi juga peran swasta, BUMN, dan pihak terkait lainnya akan menjadi bagian dalam mensejahterakan masyarakat. Tagline ini sejalan dengan ikhtiar pemerintah memasukkan perpustakaan sebagai program prioritas nasional satu sebagai upaya mensejahterakan masyarakat melalui layanannya yang berbasis inklusi sosial.

Dalam konteks berkarya, Pustakawan di masa kini harus menghasilkan inovasi dan kreatifitas menyajikan informasi serta pelayanan yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat milenial. Inovasi yang dibuat pustakawan wajib dirasakan langsung oleh masyarakat. Hal ini tak lepas dari perkembangan IPTEK yang memberikan dampak signifikan di pelbagai sektor kehidupan, termasuk perpustakaan. Apalagi perpustakaan berperan sebagai garda terdepan dalam penyediaan informasi yang kredibel bagi masyarakat. Maka dari itu, perpustakaan dengan segala kemampuannya harus bertransformasi memberikan layanan informasi berbasis teknologi yang dapat dimanfaatkan semua kalangan. 

Salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan perpustakaan adalah pustakawan yang profesional. Pustakawan yang memiliki inovasi dan dedikasi tinggi dalam mengelola perpustakaan secara profesional serta pelayanan secara maksimal layak disebut sebagai pustakawan berprestasi terbaik. Maka dari itu, Perpusnas RI setiap tahunnya selalu memberikan apresiasi bagi pustakawan melalui ajang Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional yang diharapkan dapat menjadi stimulus bagi seluruh pustakawan Indonesia agar lebih giat berkarya dan berinovasi dalam meningkatkan literasi masyarakat. Jika kompetensi pustakawan meningkat, maka otomatis kualitas perpustakaan terus berkembang, sehingga citra perpustakaan dan pustakawan sebagai partner masyarakat dalam proses belajar dan berkarya tetap baik. Hal ini akan mendorong masyarakat untuk terus memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berguna dalam peningkatan kesejahteraannya.

Selamat HUT KORPRI yang ke-48, semoga pustakawan Indonesia akan terus maju dan terdepan dalam melahirkan karya terbaiknya dalam mencerdaskan bangsa dan negara.

Sabtu, 09 November 2019

PUSTAKAWAN BERAKHLAK NABI (Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW)

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.IOleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam kalender Islam setiap tanggal 12 Rabiul Awal diperingati sebagai hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad saw. yang menjadi suri tauladan bagi umat manusia. Keindahan ajaran Islam selalu mendorong umatnya siapapun dia orangnya termasuk seorang pustakawan yang selalu bergaul dengan para pemustaka yang datang ke perpustakaan, wajib untuk memiliki akhlak (perilaku) yang mulia. 

Lahirnya Nabi Muhammad saw. ke dunia tentunya sebagai pembawa dan penyampai risalah terakhir ketauhidan menjadi mukzijat wajah dunia (terutama bangsa Arab saat itu ) dari carut marut dan penuh kejahiliyahan menjadi bangsa yang terang benderang, berakhlak dan penuh dengan rasa kemanusiaan dan kecintaan antara sesama. Tak heran bila dalam banyak survei tentang tokoh- tokoh yang berpengaruh dalam merubah dunia, sosok Nabi Muhammad saw. selalu menempati urutan teratas.

Michael Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Nabi Muhammad saw. di urutan pertama sebagai tokoh paling berpengaruh di dalam sejarah dunia. Alasannya karena beliau dilahirkan di tengah-tengah masyarakat yang agak terbelakang, yatim piatu di usia kanak-kanak, dan dikatakan bahwa beliau seorang yang buta huruf. Berbeda dengan tokoh- tokoh lain dalam sejarah, mereka lahir dan besar di tengah- tengah masyarakat berperadaban tinggi. Alasan berikutnya adalah tokoh- tokoh lain yang ada dalam sejarah memang berpengaruh besar ketika mereka masih hidup. Akan tetapi ketika sudah tiada, pengaruhnya pun hilang seiring dengan kematiannya. Katakanlah Adolf Hitler, Mussolini, Stalin, dan lain-lain, ketika masih hidup, pengaruhnya besar. Ketika dia sudah tiada, pengaruhnya pun hilang. Berbeda dengan Nabi Muhammad saw., saat beliau masih ada di tengah- tengah ummat, pengaruhnya besar. Ketika beliau wafat, pengaruhnya pun tetap ada, bahkan hingga akhir zaman.

Nabi Muhammad saw. menegaskan tentang misinya adalah “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.“ Saking pentingnya akhlak, Syauqi Beik seorang Ulama, Sastrawan Penyair Arab Mesir terkenal mengatakan dalam kata-kata hikmahnya bahwa: “Sesunguhnya umat dan bangsa itu sangat tergantung pada akhlaknya. Jika baik, maka akan kuat bangsa itu. Jika rusak, maka akan hancurlah bangsa itu.“ Oleh karena itu apapun problematika berat yang kini dihadapi oleh suatu bangsa dan masyarakat, maka solusinya terbaiknya adalah dengan mengamalkan akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., maka akan mulialah seseorang dan bangsa negara tersebut akan menjadi kuat.

Model Akhlak Nabi 

Nabi Muhammad saw. dikenal sebagai role model suri tauladan bagi seluruh umat manusia yang memiliki akhlak mulia seperti yang dijelaskan dalam surah Al Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Alah“.

Bagi seorang pustakawan yang selalu berinteraksi dengan dunia kepustakawanan, banyak sekali ajaran akhlak Nabi yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya ada 4 sifat akhlak Nabi yang wajib kita amalkan agar hidup kita sukses dunia akhirat adalah yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah.

Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi perbuatannya juga benar. Sejalan antara perkataan dengan perbuatannya. Nabi selalu mengajarkan kita untuk jujur, tidak pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” [QS.An Najm:4-5]. 

Kita sebagai pustakawan tentunya juga harus selalu bersifat benar dalam segala perkataan dan perbuatan, seperti halnya memberikan informasi yang benar kepada pemustaka, memperlakukan pemustaka dengan memberikan layanan prima yang selalu memberikan kenyamanan pemustaka untuk bisa terus memanfaatkan layanan yang kita berikan.

Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepada Nabi, maka  orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan Nabi dengan sebaik-baiknya. Mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah. Oleh karena itulah Nabi Muhammad saw. dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang yang pembohong. “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” [QS.Al A’raaf:68].

Bagi pustakawan, sifat amanah menjadi modal utama yang wajib dimiliki. Dengan sifat amanah inilah, maka akan membangun kepercayaan pemustaka terhadap profesi pustakawan tersebut. Ketika pustakawan bersifat amanah, maka apapun yang diberikan atau dikatakannya kepada pemustaka, akan memberikan kepercayaan kepada pemustaka terhadap informasi maupun layanan yang diberikannya. 

Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah berupa wahyu yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi. Tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu. 

Bagi seorang pustakawan yang bergelut dengan dunia kepustakawanan tentunya harus selalu tabligh dan memberikan informasi yang benar kepada pemustaka. Dan hal ini menjadi bagian kewajiban kita semua untuk terus memberikan layanan informasi yang benar. Nabi selalu mengajarkan kepada kita untuk mengatakan yang benar walaupun pahit hasilnya “Qulil haq walau kana murran”.  

Fathonah artinya cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan ribuan ayat Al-Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya. 

Demikian juga seorang pustakawan, tentunya harus cerdas dalam memberikan informasi yang akurat dan tepat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh pemustaka serta memberikan layanan informasi yang selalu mencerdaskan pemustaka.  

Berharap semoga dengan kita mempelajari sifat-sifat Nabi Muhammad SAW seperti Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah tersebut, kita semua pustakawan juga bisa mengamalkannya sehingga menjadi pribadi yang mulia. Aamiiin.

Jumat, 08 November 2019

Ketika Paijo Menggugat Bookless

"Rezim ini harus tumbang" teriakku bersama kawan-kawan ketika ikut demo jalanan menumbangkan Orde Baru dahulu. Pun tak lupa, saat itu, kita membekali dengan asupan otak dengan membaca buku buku yang ideal tentang humanisme.

Waktu itu sempet baca bukunya Mazhab Frankfurt: One Dimensional Man, karya Herbeth Marcuse. Yoi, maklum masih muda, sepertinya kok benar kritik doski terhadap manusia moderen yang kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Ternyata dalam perjalananannya, ketika saya lulus dan mulai bekerja sebagai profesional, mindset saya lebih terbuka. Kegalauan sempat melanda sebentar. Lupakan tema tema besar kemanusiaan dan penyelamatan manusia. Gobal gabel. Jangan terprovokasi ketika baca buku jadul yang kesohor, yang berjudul "The end of the world ", Francis Fukuyama...

Ah bangke..toh nyatanya sekarang ular beludak itu sudah menyaru ke neolib dsb. Udahlah, jangan norak ngomongin pertarungan ideologi.
Di era kekinian, justru saya terbantukan oleh lirik lengking lagu Padi, yang berjudul

"Kasih Tak Sampai"....
Sudah..
Lambat sudah…
Kini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini"

Pertanda kita yang semakin bijak? semakin realitis? ataukah semakin Pragmatis?

Banyak yang bilang (mempertanyakan) aktifitas berkepustakawanan terlalu ‘kecil’ dan kerdil untuk bisa merubah dunia dan seisinya. Kurasa semakin sedikit pilihan (dan mustahil) untuk merubah semua totalitas ini (korupsi, kkn, gender dll….

Demikian juga bicara kepustakawanan dengan segala stakeholdernya. Tak melulu bicara tentang ke akuannya dengan segala keegoannya: perspektif pustakawan tok surotok !. Kalau yang terjadi demikian, betapa sederhananya dan indahnya hidup. Nahlo...padahal Jean Sastre kan sudah memperingatkan:

"Pertandingan sepakbola akan terlihat sederhana, 22 pemain yang mengejar bola. Agak rumit ketika hadir para suporter"

Nah lo, ada benang merahnya ngomongin bola dengan kepustakawanan. Bicara tentang kepustakawanan gak sesederhana juga ngomongin jualan cilok mas broh... gak sekedar dengkuran idealis ketika saya muda dulu, atau teori teori yang menempel di batok kepala ketika kuliah dulu. Pengalaman saya bekerja sebagai profesional, butuh kompromis dan jalan tengah lebih daripada sekedar menjadi pungguk merindu. Nah beberapa waktu yang lalu ada isyu yang menggelikan tentang keberadaan Bookless Library atau dalam bahasa indonesia, perpustakaan tanpa buku. Isinya semua komputer dan monitornya. Pertanyaan kritisnya, apakah keberadaan Bookless Library ini sekedar mengepulkan orang orang di luar perpustakaan, (yang sebenarnya bisa akses internet langsung) ke sebuah ruangan yang bernama Bookless Library tersebut? Nah lo !

Bookless


Di grup Pustakawan Blogger lagi rame diskursus tentang Perpustakaan Nonbuku atau Bookless Library. Ngapain perlunya berubah. Rekan saya pustakawan di UGM Jogja, Purwoko yang biasa disebut Paijo menyentil satir keberadaan Bookless yang disamakan dengan pos ronda.
Tentu, Purwoko memberikan argumentasi yang kuat:

"Intinya kalau perpustakaan itu hadir tanpa buku, tempat nongkrong, ngobrol, trus apa bedanya dengan Pos Ronda. Akan hilang kesejatiannya"...

Agak sadis.....namun bisa jadi kita dipaksa untuk menyetujui pendapatnya. Kalau perpustakaan bookless serba online, dan semua sudah disediakan oleh teknologi, lalu pustakawannya ngapain ??? Untuk pertanyaan ini, Paijo menjawab dengan menggelikan:

"Di Bookless Library, pustakawan bisa berpindah peran menjadi pengelola cafe. Jualan kopi dan indomie rebus", ha ha ha ha

Menggelikan. Bisa jadi Kang Paijo menggeneralisasikan perubahan konsep perpustakaan dengan serampangan. Wajar, karena seperti yang disampaikannya, doskih mengkroping salah satu sudut pandang. Titik dia berpijak. Tipping point pada keakuannya.

"Roh kegiatan kepustakawanan harus berpusat pada pustakawannya. Bukan pengguna atau pemakai. Perspektif idealis dari kacamata pustakawan", begitu teriaknya sambil menggoyangkan badannya mengikuti instrumentalia lagu Ambyarnya Didi Kempot. Ya, Paijo memang sedang raker di tempat kerjanya.

Paijo harus belajar dari Nicolaus Copernicus, jenius Fisika yang mengemukakan teori Heliosentris. Pusat tatasurya adalah Matahari. Menjungkilkan kaum agama Lutherian bahwa bumilah pusat semesta. Pusat tatasurya bumi, merepresentasikan pendekatan ke akuannya, egosentris, pustakawan sentris. Yang kemudian dikoreksi oleh Copernicus, Mataharilah yang menjadi pusat. Penggunalah yang harus kita layani.

Hidup bukan selalu perkara idealisme. Hidup butuh juga kompromi dan jalan tengah, agar kita tidak mati.

Paijo, mungkin harus berempati menjadi pustakawan eks Britis Council yang akhirnya dibubarkan. Mencoba merasakan keakuannya ketika menjadi pustakawan Japan Foundation yang ditutup. Andai saja kang Paijo berprofesi sebagai pustakawan majalah Hai, Tabloid Gatra, Bola dll yang tidak bertahan. Atau Perpustakaan LIPI yang bertransformasi dari buku ke data. Saya semdiri sudah mengalami transformasi itu, pustakawan yang ketika analog ada 30 orang, menyusut jadi 10 orang. Karena apa? Ya tuntutan jaman dan perkembangan teknologi. Kita akan melawan dengan bambu runcing menolak perubahan?

Ada point point yang saya setujui dengan subtansi Paijo. Melihat dari sisi pustakawannya. Bagaimana kalau filosofinya kita balik. Kita kompromikan bahwa perspektif pengguna juga penting. Kenapa? karena tanpa pengguna toh pustakawan bukan siapa siapa. Meski jika kita terlalu menghamba ke pengguna, bakalan babak belur. Kasus Britis Council, Japan Foundation dan PDDI LIPI kan karena kuasa manajemen atas tuntutan pengguna juga kan? Tentu aktifitas dan role pustakawannya juga harus berubah.

Nah ini yang menarik....apakah Bookless  dibangun untuk memuaskan pengguna berkunjung ke perpustakaan ??
Nah....jika ternyata bukan itu outputnya...terpaksa saya harus menyetujui argumen Paijo....Bookless Library ya sama dengan pos ronda...

Tabik

Yogi H

Minggu, 03 November 2019

Pemustaka ini Keren

Pagi ini di kantor cukup cerah. Seperti biasanya Bulan sang pustakawan siap menyambut dan melayani pemustaka. Kali ini ia kedatangan pemustaka, seorang peneliti. Bulan dan sang peneliti itu sudah saling mengenal karena sang peneliti tersebut rajin ke perpustakaan. Pak Din begitu panggilannya. Setelah berbincang-bincang, Bulan menyampaikan keinginannya, “Pak, mohon izin bisa kah saya dimasukkan ke grup peneliti. Ya siapa tau saya bisa bantu menginformasikan segala hal yang dibutuhkan peneliti. Ya bisa buku-buku terkait atau informasinya lainnya pak.”, begitu jelas Bulan kepada Pak Din.
“Boleh mbak, dengan senang hati. Tapi jangan kaget ya, orangnya cacah-rucah, macem-macem, diskusinya juga ngalor-ngidul’, terang Pak Din sambil senyum-senyum simpul. “Ya gak apa-apa pak. Yang penting bisa menginformasikan kegiatan perpustakaan, layanan kita dan apa yang bisa kami bantu pak,” terang Bulan dengan semangat. Ya tentu saja yang diikuti Bulan adalah grup wasap peneliti.
Bagi Bulan Pak Din ini istimewa. Selain rajin ke perpustakaan,  beliau juga adalah ketua himpunan peneliti skala nasional. Sekolah S2 dan S3 nya dihabiskan di Australia. Nah bersyukurnya Bulan sudah cukup akrab dengan Pak Din. Kadang-kadang mereka berdiskusi banyak hal. Bulan pun mendapat banyak informasi terkait dunia kepenelitian dan hal lainnya yang bisa memberikan inspirasi. Dari sinilah Bulan bisa  menawarkan apa yang perpustakaan bisa bantu buat mereka.
Lebih teristimewa lagi dalam waktu dekat ini Pak Din akan melaksanakan pengukuhan professor riset. Apakah Pak Din sudah tua sebagaimana sering digambarkan layaknya seorang  professor yang tua dan kepalanya botak? Oh tentu saja tidak. Pak Din ini masih muda, energik dan supel. Pak Din patut menjadi contoh.  Diusia muda mampu menghasilkan banyak karya.
Suatu ketika Pak Din chat wasap dengan Bulan, menanyakan apakah di perpustakaan ada buku  yang sedang dicarinya. Dengan sigap bulan mencarinya di OPAC. Jreng…langsung ketemu.  Lantas Pak Din share di wasap grup  peneliti. “Älhamdulillah buku yang saya cari ketemu. Ini buku lawas terbitan tahun 1999. Buku ini hancur berikut perpustakaan dan ruang kantor lainnya karena diterjang banjir saat saya di daerah. Bersyukurnya buku ini dikoleksi oleh perpustakaan   pusat. Salut buat perpus. Di sini ada tulisan saya dan beberapa teman lainnya. Tulisan ini akan memperkaya referensi untuk naskah orasi ilmiah saya”, begitu jelasnya sambil menampilkan cover buku yng dimaksud. Selanjutnya Pak Din bilang, “Terima kasih mbak Bulan sudah membantu mencarikan buku ini,” tambahnya lagi. “Siap Pak, kami siap membantu. Kami siap jadi mitra peneliti, “ begitu balas Bulan dengan  percaya diri.
Cerita Pak Din soal buku yang kena banjir, membuat Bulan jadi berfikir. “Wah saya gak tau menau soal buku ini sebenarnya. Buku ini sudah ada di perpus sebelum saya bergabung di sini.  Ini jasa pendahulu sebelumnya yang mengumpulkan semua terbitan lembaga di sini. Beruntung Pak Din, ada perpus yang jadi andalan” begitu Bulan membatin. Bulan jadi semangat untuk menjalankan fungsi perpus deposit dengan baik.
Kembali ke Pak Din. Pada kali yang lain, Bulan sedang bertugas memandu sebuah pameran pada ajang konferensi Islam yang berskala besar. Di sana Bulan selain memamerkan buku-buku dan jurnal  terbitan lembaganya, juga membagikan sebagian buku tersebut kepada pengunjung pameran secara gratis. Nah disini lagi-lagi Bulan mendapati beberapa chat di wasap grup peneliti dimana Pak Din komentar, “Satu lagi referensi untuk naskah orasi saya ada di jurnal ini. Jurnal yang usianya sudah cukup panjang. Semoga jurnal ini kelak terindeks global. Ini tulisan lawas saya tahun 2005,” jelas Pak Din. Sejurus kemudian nampak cover jurnal tersebut dan artikel yang dimaksud yang semuanya dalam bahasa Inggris. “Terima kasih tim perpustakaan mbak Bulan keren nih. Saya ketemu dengan tulisan saya yang cukup penting ini”, sambungnya dengan senang hati.
Bagi Bulan, Pak Din memang spesial. Bagaimana tidak. Bulan menawarkan layanan antar jemput buku bagi pemustaka di kantornya. Mengingat peneliti sibuk dan hampir tidak pernah sempat ke perpustakaan.  Tim Bulan sudah membuatkan infografisnya dengan begitu menarik. Nah Pak Din pun tahu layanan ini karena dishare oleh Bulan di wasap grup peneliti. Tetapi Pak Din bukannya menghubungi nomor wasap bisnis tersebut tetapi datang langsung ke perpustakaan dan mencari buku yang dimaksud.
Jangan-jangan Pak Din gayanya konvensional nih. Apakah Pak Din gaptek alias gagap teknologi bukan tipe  yang akrab dengan gadget? Oh tentu saja tidak. Pak Din cukup literate, dengan teknologi  tidak kudet alias kurang update, dengan media sosial pun cukup lincah dan sering berselancar di dunia maya. Pak Din juga sering mengikuti dan presentasi papernya di luar negeri. Menurut kacamata Bulan, Pak Din ini ingin seimbang. Pak Din senang ke perpustakaan yang secara konvensial mengoleksi buku-buku dewa yang masih jadi referensi. Sumber yang otoritatif. Sumber online pun tetap digunakan yang peng-akses-annya sesuai kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Dua model ini diistilahkan hybrid library.
Bahkan lebih dahsyatnya lagi Pak Din menghibahkan sebagian besar buku-bukunya ke perpustakaan. Semua buku ini menurut Bulan cukup bagus dan penting. Ini bisa menjadi referensi bagi peneliti ataupun pemustaka lainnya. “Saya serahkan buku-buku ini untuk perpustakaan. Ya saya kalo perlu tinggal pakai di sini. Nilai kebermanfaatannya juga lebih besar di sini daripada saya taro di rumah”, jelasnya sambil menandatangani serah terima buku dari Pak Din ke perpustakaan.
Sepertinya Bulan cukup terkesima dengan pemustaka yang satu ini. Mau berbagi ilmu juga berbagi buku. Kalo ada reward untuk user seperti ini  pasti  seru ya dan Pak Din pasti juaranya, hihihi. Bagus juga suatu ketika nanti perpustakaan bikin acara knowledge sharing,  pikir Bulan. Kepakaran para peneliti perlu juga dieksplore. Pak Din, semoga lancar dan sukses acara pengukuhan profesor risetnya. Semoga banyak bermunculan profesor-profesor riset muda lainnya, yang rajin ke perpus dan mau berbagi pengetahuan. 


Selasa, 01 Oktober 2019

DARSO GUNDALA

“Harapan pada masyarakat adalah candu”.

Pengkor berbicara dengan bibir yang bergetar pada Gundala. Pengkor sepertinya menitipkan pertanyaan sulit pada Gundala. Bagaimana harapan mahasiswa perpustakaan menjadi pustakawan? Apakah sebuah ektasi juga?



Gundala di tulisan ini bukan tokoh superheronya Joko Anwar yang lagi trending topik di jagat medsos Indonesia. Nama lengkapnya Darso Gundala. Doski adalah seorang mahasiswa PTN yang logonya bunga teratai. Dan sama seperti pertanyaan repetitif yang tipikal, Darsopun bertanya dengan nada gulana:

“Nanti setelah lulus dari sini, saya jadi apa Pak?”

Nah lo, apakah pertanyaan tersebut terkait dengan ekspetasi mahasiswa untuk kelak menjadi pustakawan?





Pertanyaan tersebut juga terlontar beberapa kali ketika saya memberikan kuliah umum tentang pengelolaan konten digital entreprise di kampus UGM, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, yang sewaktu muda dulu sering diplesetin dengan universitas gundul mu (konon karena banyak mahasiswa yang gundul ?)...

Entah apa yang membuat para mahasiswa Jip  galau. Mereka adalah generasi milenial calon pustakawan yang ketika kecil merangkak, pipispun masih dicebokin, sampai kuliahpun sudah kelonan dengan teknologi digital. Istilahnya mereka generasi native digital. Dari kecil sampai besarpun generasi Darso Gundala ini: tidur berpeluk handphone dan ngelindurpun sambil update status di medsos

Generasi Gundala yang percaya dengan melihat sendiri, perubahan sebuah masyarakat karena disrupsi dan teknologi. Generasi Instant katanya. Para milenial ini sekarang gak terlalu kesengsem dengan profesi tukang insinyur yang pada saat generasi Y, merupakan profesi yang menjulang. Padahal dulu saking blagunya tukang insinyur, sering nyindir ke gen Y, memplokamirkan anekdok, mantu ideal itu seorang insinyur teknik. Sementara jomlo abadi direprentasikan lulusan jurusan sosial. Tenang..tenang ......Paijo dan Dulpengep...semua akan indah pada waktunya...he he he ?


PUSTAKAWAN PENGELOLA KONTEN DIGITAL




Nah konon sekarang sudah berubah Ferguso…Profesi pengelolaan konten kreatif kembali menjulang di era perubahan ini. Elo boleh berdarah darah kuliah di teknikal dan kelak menginstal hardware berat...tapi tahukan anda, bahwa di Amerika sono, para engineer tersebut pada akhirnya disindir hanya sebagai para pekerja perekayasa DUMB PIPE ! Sadis dibilang mereka cuma menciptakan saluran, pipa teknis "bodoh" perangkat teknologinya, sementara para kreatif pengelola konten yang berjaya yang mengeruk duitnya. Memang perumpamanya tidak seektrim itu. Tapi paling tidak siapa yang kemudian mengisi atau mengelola kontennya mulai diperhatikan. Perusahaan telkom dan infrastruktur banyak yang bertumbangan, digilas Youtube, Instagram, Facebook, Twitter dll para penyedia konten.

Bayangin profesi seorang vloger seperti Atta Halilintar dan Ria Reces yg bermodalkan megal megol kaya bebek depan kamera video selfih, bisa berpenghasilan lebih 1 milyar perbulan? (masa sih...meski gue gak percaya...), sesuatu yang gak mungkin ditemukan pada jaman gen Y.

Nah lo, lalu apa hubungannya ngomongin pengelolaan konten dengan kepustakawanan ? Kenapa kamu memilih jurusan ilmu perpustakaan Gundul ?

Dan faktanya, ada seorang pakar konten digital pengajar Ischool di Pratt University, New York, Prof Anthony Chocciolo tentang hubungan keduanya (Baca buku beliau: Ketegangan profesi Digital Asset dan Digital Arsip). Beliau yang menyebutkan bahwa pengelolaan konten di sektor bisnis itu mencangkok prinsip dasar kepustakawanan. Dan seorang lulusan sekolah perpustakaan dan informasi bisa jadi manajer Entrepise Content Manajement ! Dengan simbolik, ECM dianggap sebagai perselingkuhan kepustakawanan dengan teknologi di era digital.

Beberapa waktu yang lalu saya ikut konvensi Google Summit dan salah satu pembicaranya dari Tokopedia. Pembicara dari Toped mempresentasikan fakta yang menarik. Sebagai gambaran besar data arsip konten transaksi, perharinya bisa lebih dari 2 T, gila besar bingit. Artinya, mereka butuh kecepatan akses temu balik datanya, daripada proses repositori permanennya.

Fokus pada manajerial proses, untuk kecepatan akses retrieval data (temu balik) secara umum merepresentasikan gugus aktifitas kepustakawanan. Sementara proses kedalaman penyimpanan permanen dari si data, masuk ke area archive. Meskipun di era bigdata dan digital, batas tersebut luluh lantak bukan isyu lagi. Tapi tetap, dalam pandangan saya sebagai praktisi profesional, peran yang ditengah gak akan berkurang sampai kapanpun

Nah ini yang sekarang giliran saya yang tanya ke Gundala:

" Nah saya sudah jawab Darso, kamu bisa jadi apa saja kuliah disini. Kamu gak perlu menghabiskan energimu dengan selalu bertanya, kelak jadi apa? "Lah kamu, apa motivasimu kuliah di sini Gundala ? " 
Dia gak menjawab. Dan kitapun gak boleh berprasangaka, karena mereka asal milih biar bisa kuliah keren di PTN ? Atau karena dipaksa bokapnya yang menjadi korban majalah Hai dulu ?


ARTI MENJADI PUSTAKAWAN 

Kehidupan tidak bisa dibedah hanya dengan perspektif dan tafsir tunggal. Pilihan merdeka untuk berprofesi sebagai apa, dan menjadi apa, juga beragam. Sama seperti tokoh Seth dalam film City of Angel yang memilih menjadi manusia, karena bisa mencintai, sakit, dan mati ketimbang malaikat yang abadi. Atau perubahan pada diri si Casey Stoner dari gadis pesta menjadi pustakawan di film Party Girl? Dan pilihan hidup lain termasuk ketika memilih profesi pustakawan?

Saya ajak  Darso ngopi di kafe Old Town di depan Kampus Universitas Gajah Mada untuk berdiskusi serius tentang arti menjadi Pustalawan.




“Aku tak mau terjebak dalam diskusi tentang ini Darso,” ujarku sambil menyantap marugame rebus yang warnanya begitu mengkilap. Kau pun aku sama dalam memandang makna menjadi pustakawan. Bukan begitu Gundul ?".

Singkat kata, akupun kemudian membrainstromming Darso si Gundala.

“Kalo sekedar menjadi pustakawan, mah gampang Dul ! Sule atau si Tukul yang gak pernah kuliah di Jip juga bisa. Yang susah itu menjadi pustakawan yang paripurna Darso!”

Awalnya Darso Gundala, bengong gak paham. Sampai akhirnya kami kemudian mempunyai persamaan pada suatu titik; sama-sama tak ingin cepat bertekuk lutut menjadi pustakawan yang repetitif prosedural dan untuk mengabdi menjadi sahaya.

Betapa tidak menjadi Pustakawan yang sering terlihat adalah akumulasi ketertundukan manusia yang kehilangan dimensi kemanusianya. Pustakawan yang hanya terjebak dalam kegiatan repetitif administratif pagi – sore – siang – malam.

Tapi aku tak ingin diadu dengan kata-kata yang tak bermakna. Buktikan dengan tindakanmu barulah semuanya jelas. Baru aku dapat menilaimu apakah memang pantas aku menilanya sebagai Pustakawan yang Paripurna. Sayangnya itu sulit sulit dan mustahil, hingga aku merasa seperti sembelit!

“Kupikir itu wajar saja. Kita adalah orang-orang yang percaya terhadap arti penting pencapaian sebuah mimpi. Mana mau kita dengan cepat menyandarkan diri dengan orang yang tak tepat dan lemah?”

Kubiarkan pikiran Darso mengelana entah kemana. Rasanya jauh dan begitu menyakitkan. Ada kesadaran yang tiba-tiba merasuk dan mesti kuungkapkan. Iya, jika kau pada akhirnya menemukan kebahagiaan yang sempurna.

“Jika tidak?”

Atau jangan jangan karena kita telah berjalan terlalu jauh dan tenggelam ke dalam obsesi menuju mimpi-mimpi kita sendiri.

Darso mendengarkanku dengan seksama. Begitu serius dan hanyut ke dalam kata-kata yang kuucapkan disela-sela bibirku.

“Iya, selalu ada yang mesti dikorbankan Darso !,” kubisiki dengan sedih.

Kesadaran mengenai kebahagiaan yang tak mungkin dicapai jelas membayangi. Manusia yang dapat berpikir, sungguh menakjubkan sekaligus menakutkan. Berpikir dan menyelami diri sendiri seolah bermain layaknya Tuhan. Berpikir mengantarkan pada pengetahuan baru yang begitu menakutkan untuk diselami.

Kuracuni si Darso dengan kata penutup:

“Menjadi pustakawan hanyalah sebuah tools profesi. Sama seperti jasi dosen, dokter, jualan cilok dll. Dan sekarang aku memprovokasimu belajar tentang pengelolaan konten... Tujuan kehidupan pada akhirnya, tentu saja ingin bahagia kan So….Apakah dia bahagia menjadi manusia yang tak bisa  mati kesamber geledek? Itulah konsekwensi hidup.

Tapi tiba-tiba si Darso nyeletuk cerdas, doski melakukan counter attack kepadaku...:

“Dari tadi ngomong ngalor ngidul, emang Mas Yogi itu Pustakawan?”

Akupun terdiam, ...serasa menjadi terdakwa...millenial memang straight, sekali mukul pake upper cut....rasanya seperti komentator bola, yang sebenarnya tidak bisa main bola.....…

 Menjadi pustakawan itu seperti nyruput semangkuk ice cream gelato ini Darso...kamu tidak akan mendapat jawaban sebelum merasakannya..."


Darso langsung semangat nyruput eskrim gelato nya dengan lahap....entah, apakah ini strategiku untuk mengakhiri perbincangan ini....begitulah millenial...



Tabik.

Jumat, 20 September 2019

Delima "Me Librarian"

Di tengah kemacematan dan hirukpikuk Jakarta, tubuhku terasa lelah sekali melanjutkan perjalanan ke rumah, hingga akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di perpustakaan

Bermalam di perpustakaan?
mendengar kalimat ini mungkin akan terasa asing di telinga kita, khususnya perpustakaan di Indonesia. berbeda dengan negara negara maju, public library menjadi rumah idaman untuk menginap bagi para pelancong bahkan tunawisma/gelandangan.

Tiba di perpustakaan, aku putuskan untuk merebahkan diri di sofa sofa empuk di depan TV kabel, hingga ku terlelap tidur. Entah pukul berapa aku terbangun, aku memutuskan untuk berwudu dan sholat untuk merelaksasi badan yang telah lelah.

Hingga azan subuh terdengar sayup di masjid kantor, aku putuskan untuk segera mandi, dan sholat subuh, lalu berangkat ke kantor untuk menghadiri meeting pagi.

saat meeting dimulai, tlp dan wa terus menerus masuk ke handphoneku. Ada yang mengirimkan pesan bernada kesal, marah, dan tidak suka aku bermalam di perpustakaan tadi malam. semua pesan itu membuyarkan konsentrasiku di dalam meeting. Selesai rapat, aku langsung membalas pesan wa tersebut dan minta maaf atas perlakuanku menginap di perpustakaan.

Aku berpikir sepertinya ada ketabuan menginap di perpustakaan, hingga aku berprasangka para pustakawan di negeri ini belum bisa berpikiran bebas menjadikan perpustakaannya sebagai rumah keduanya.

Aku berprasangka apakah para pustakawan di negeri ini masih terinfeksi virus “Generasi Aku”, atau “Me Generation”, padahal dunia hari ini telah berubah, dunia hari ini adalah dunia kolaborasi.

Aku teringat 15 tahun yang lalu, hampir lebih  kuhabiskan usia produktifku di perpustakaan. Bahkan hingga bermalam di perpustakaan untuk belajar, riset serta mengeluarkan produk-produk teknologi perpustakaan bersama orang orang 'sosialis' pendukung gerakan kebebasan dan keterbukaan.

Kejadian malam itu, seakan-akan meyakinkanku bahwa para pustakawan di negeri ini  masih terjangkit virus "Me Generation", sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola perilaku manusia  yang egois, mementingkan kepentingannya sendiri. Generasi Aku dianggap sebagai generasi narsis. Mereka senang dipuji. Mereka senang memamerkan diri sendiri.

Aku teringat tulisan David Brooks dalam bukunya The Morality of Selfism, dalam bukunya, David Brooks menceritakan ciri-ciri Generasi Aku. Pertama, sebagai bentuk dari pemujaan diri yang berlebihan, Generasi Aku ini aktif sekali di media sosial untuk memamerkan dirinya. Jika ku hubungkan dengan konten medsos perpustakaan di negeri ini, aku hanya melihat keeogisan dari diri mereka  yang hanya sibuk menjual dirinya dengan cara-cara hard selling, mirip akun-akun akun medsos jualan obat diet dan peninggi badan. Tidak menarik sama sekali untuk dikunjungi, apalagi menjadi followernya.

Di era kolaborasi ini, ada baiknya perpustakaan di negeri ini berbenah diri menjadi perpustakaan yang iknlusif terbuka bagi pemustakanya. Biarkan pemustakanya berkreasi, berkolaborasi, bahkan meniduri setiap sudut ruangnya. Jika ini telah menjadi tradisi, maka aku jamin tak perlu lagi para petinggi di negeri  ini memikirkan gerakan literasi, yang konon gerakan ini timbul karena tingkat literasi negeri ini terdegradasi akibat sering nonton televisi.

Rabu, 11 September 2019

[[ Bookless Library ]]


Paijo, dan tentu saja dengan kawan-kawannya ngepos di gardu ronda. Mereka satu klub dalam meronda. Namun mereka rival dalam pergaplean, salah satu ritual wajib dalam ronda.

Sambil guyon ngalor ngidul, Paijo sebagaimana biasanya, tentu saja sambil promosi ilmunya: ilmu perpustakaan.

"Sekarang perkembangan perpustakaan semakin maju, lho," dia membuka diskusi sambil nyabetke kartu bergambar bulatan merah berjumlah 12 yang sejak lama bertengger di deretan kartunya.

Teman-temannya diam. Mereka konsentrasi pada kartu di tangan masing-masing, sambil menghitung dan memrediksi.

"Sekarang ada yang disebut bookless library," lanjut Paijo. Teman-temannya masih saja diam, sesekali senyum melihat kartu, atau tangannya meraih gelas berisi kopi kental tur pahit. "Srrrup," suara itu terdengar ketika kopi disruput, disusul mata yang merem melek. Gerrr.

"Itu perpustakaan yang tidak ada bukunya. Tempatnya bagus, keren, kekinian. Bisa untuk selonjoran, tiduran, sambil dolanan laptop, nggambar utawa nggawe video," Paijo nerocos.

"Isa juga sambil ngopi, ada kafenya". Paijo tampak mantap menjelaskan.

Ketika Paijo serius menjelaskan, salah satu kawannya tertawa ngakak. "Jo, kayak gitu kok dibilang maju. Sampeyan cerita, pikiranku tidak ke mana-mana. Tetap di gardu ronda ini," sergah Soplo.

Soplo menunjukkan kartunya sudah habis. Dia menang.

"Kok iso, Plo?, Paijo penasaran.

"Lah, bisa saja. Yang kamu ceritakan itu semuanya ada di gardu ronda ini, je. Selonjoran bisa, main laptop bisa, dolanan hape bisa. Di sini juga ndak ada buku sama sekali. Mau gawe video juga bisa. Tinggal pakai hapemu itu buat merekam kita yang lagi gaple ini. Upload ke yutub lalu dapat duit" Soplo menjawab.

"Ngopi, gampang. Ndak perlu kita pencat-pencet gadget pesan kopi. Tiap malam wis ana sik njatah. Ndak hanya kopi, tapi lengkap sama pacitane. Mau baca buku, tinggal buka hape, trus gugling. Akeh. Yang paling penting, di sini bisa gaple, Jo." Soplo melanjutkan.

"Ndak usah jauh-jauh. Pos ronda kita ini juga bookless library, Jo," kata Soplo.

Paijo kaget. Wajahnya kecut. Dia diam, lalu lanjut mengaduk kartu dan membagikannya. Gaple putaran berikutnya dimulai.ya dimulai.

Selasa, 10 September 2019

Perpustakaan di mata Google: sebuah analisis kuanlitatif

Latar belakang
Para orang pinter bidang perpustakaan selalu bersepakat bahwa perpustakaan itu harus unjuk gigi. Biar gigi-giginya, yang selama ini tertutup bisa dilihat banyak orang. Kalau orang pada lihat gigi putih dan bersinar, disinyalir akan terpesona.  Juga unjuk jari. Maksudnya, pustakawan memainkan jari-jarinya, pencat-pencet smartphone untuk memopulerkan perpustakaannya. Post, like, and share.

Tidak heran, banyak perpustakaan yang memiliki media sosial yang memuat berbagai hal tentang perpustakaan itu. Ada juga yang diposting di laman media sosial pustakawannya. Ya, memang ada bedanya sih. Di laman perpustakaan itu untuk yang tampak formal, wangun. Yang di laman pustakawannya itu yang gayeng-gayeng, selfie-selfie dan suka-suka. Mulai dari foto di kursi yang baru dibeli untuk perpusnya. Atau foto makan soto bareng pustakawan lainnya untuk menunjukkan betapa hangat dan  guyub para pustakawannya.

Selain pustakawan, ada pula pemustaka yang memberi komentar pada perpus dan pustakawannya. Komentar itu ada di berbagai tempat. Salah satunya di Google. Google, sebagai mesin pelacak nomor wahid di dunia, memiliki rekaman jejak komentar tentang perpustakaan.

Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggungjawab pada popularitas perpusnya di mata pemustaka. Pustakawan yang sering ikut kol for peper, disinyalir akan berpengaruh pada popularitas perpusnya. Ya, karena dia bisa belajar banyak ketika kol for peper. Selain itu, mestinya ada sentimen positif, dong, dari pemustaka pada perpusnya jika pustakawannya sering ikut kol for peper. Tentu bergengsi. Pemustaka mana ndak seneng jika pustakawannya berprestasi di kol for peper?

Nah, sentimen positif ini bisa dimunculkan di ulasan Google.

Namum, sejauh apa popularitas perpustakaan itu di mata Google lewat ulasan para pemustakanya?

Penelitian yang sangat ilmiah ini akan membuktikannya.

Prasangka
Perpustakaan yang pustakawannya banyak ikut kol for peper, maka popularitas perpustakaannya akan ada di atas rata-rata. Tinggi.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuanlitatif. Data dikumpulkan dengan metode klak-klik, dan salin tempel. Alat yang digunakan yaitu: komputer lengkap dengan tetikus dan kibot atau papan ketik, serta tentu saja paket data harus tersedia. Lebih baik 4G, biar wus-wus-wus.

Nama perpustakaan dikumpulkan dengan metode nggrambyang. Metode ini merupakan kombinasi antara memori dan respon tangan dalam mengetik di kibot pada laman mesin pencari Google.

Nama perpustakaan yang sudah muncul di laman Google, kemudian dianalisis dengan metode lihat-lihat, serta cermati-pindai.

Data dikumpulkan pada hari Minggu, 8 September 2019. Perubahan data pada Google di periode berikutnya, sangat dimungkinkan. Jika ini terjadi, maka bukan tanggungjawab penulis.

Ah, teori
Di Google, ada beberapa angka yang menunjukkan karakter perpustakaan. Pertama skor, yang ditentukan oleh klik bintang yang dilakukan pengulas. Kemudian komentar yang ditulis oleh pengulas. Sebenarnya komentar ini bisa dipetakan lagi, pakai analisis sentimen. Baik, buruk. Atau bisa juga dipetakan berdasar jenis komentarnya: tentang fisik perpus, pustkawannnya, fasilitasnya, koleksinya, atau mungkin toilet dan kamar mandinya. Tapi itu tidak dilakukan dipenelitian ini. Lama, eui.

Angka berikutnya rata-rata jam yang dihabiskan di perpustakaan. Agaknya Google menghitung dari data yang direkamnya melalui google map. Lalu terakhir hari buka dan jam tutup perpustakaan. Google punya algoritma lacak untuk info ini, tentunya melalui perilaku para pemustakanya.

Pembahasan
Berikut tabel hasil pengumpulan data. Data diurutkan berdasar jam rata-rata pemustaka menghabiskan waktu di perpustakaan. Alasannya apa? Agar terlihat, di perpus mana pemustakanya paling betah di perpustakaan.

Tabel satu-satunya: data perpus dari Google (8/9/2019)
no
nama perpus
skor (bintang) di Google
jumlah komentar
rata-rata pemustaka di perpus (jam)
Jam tutup (malam)
1
ITS
-
69
4
19
2
Kota Jogja
4.4
394
3.5
24 jam
3
UGM
4.7
255
3.5
20
4
UIN Jakarta
4.4
69
3.5
20
5
FT UGM
4.7
52
3.5
19.30
6
UMY
4.4
28
3.5
17
7
UI
4.5
388
3
19
8
UIN Jogja
4.6
137
3
18
9
UNIBRAW
4.5
129
3
22
10
ITB
4.8
109
3
21
11
IPB
4.6
100
3
21
12
USU
4.5
81
3
16
13
UIN Malang
4.7
44
3
18
14
UNSYIAH
-
19
2.5
21
15
UIN Walisongo
4.6
60
2
17
16
UII
4.9
29
-
-
17
UAJY
4.3
14
-
19
18
UIN Sunan Ampel
4.1
10
-
18

Ada 18 perpustakaan yang berhasil kami kumpulkan. Kenapa 18? Karena 18 x 2 itu 36. Tiga puluh enam merupakan angka keramat pada jaman dulu. 36 merupakan jumlah selembar gambar templek mainan saya waktu kecil.

Pada tabel di atas, terlihat skor paling tinggi  ada pada perpustakaan UII, dengan angka 4.9. Namun sayangnya, UII hanya punya 29 pengulas. Padahal mahasiswa UII sebagian besar sekali, pasti banyak yang punya smartphone, yak. Mungkin perlu usaha lagi untuk memopulerkan perpus agar banyak yang mengulasnya.

Sementara itu, paling banyak diulas yaitu perpustakaan Kota Jogja, dengan 394 pengulas. Angka ini memunculkan skor 4.4. Agaknya dengan banyaknya pengulas, skor ini sudah mulai stabil. Beda dengan UII yang baru 29.

Untuk rata-rata jam dihabiskan di perpusakaan, paling lama di perpustakaan ITS, 4 jam. Perpustakaan lainnya hanya kisaran 3-3,5. Bahkan ada yang hanya 2 jam saja. Sayangnya, Google tidak mendefinisikan skor perpustakaan ITS. Entah apa yang dimiliki perpustakaan ini. Empat jam itu setara 3 SKS lebih.



Perpustakaan kota jogja, selain memiliki pengulas paling banyak,  juga memegang rekor buka paling lama. Google mengenalinya sebagai perpustakaan yang buka 24 jam full 7 hari terus-terusan. Uelok tenan. Hal ini juga terkonfirmasi pada laman https://arsipdanperpustakaan.jogjakota.go.id/menu.php?page=2.



Latar depan
Apa itu latar depan? Latar depan itu latar yang terlihat banyak orang. Kalau latar belakang, ndak semua orang bisa lihat. Nah, latar depan itu isinya kesimpulan.

Mosok ada latar belakang, kok ndak ada latar depan.

Kesimpulan dari data data dan pembahasan di atas, yaitu: bergembiralah jadi pustakawan. Meskipun ada kawan-kawanmu yang tidak kuat jadi pustakawan, dan meninggalkanmu. 

Kesimpulan lain, terkait prasangka yang sudah dibuat. Ternyata prasangka tidak terbukti. Atau, tidak sepenuhnya terbukti. Atau, belum bisa dibuktikan. Halah.

Namun, populernya perpustakaan, tidak ditentukan oleh seberapa banyak pustakawannya ikut kol for paper. Melainkan oleh berapa banyak yang mengulasnya. (Ya, iyalah... namanya juga data diambil dari Google ulasan).

Rekomendasi dan Penelitian lanjutan
Pustakawan dan kepala perpustakaan, berdasar penelitian ini, direkomendasikan untuk berbaik hati pada pemustaka. Agar lebih banyak yang mengulas dan isinya bagus, serta memberi bintang 5.

Penelitian ini masih terbatas. Data hanya didasarkan dari Google. Dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan penelitian lanjutan, secara lebih medalam, tajam, dan terpercaya. Selanjutnya bisa pula dipublikasikan di jurnal Q1, bahkan di atasnya. Atau, bagi para penggemar jalan-jalan, bisa dikirim ke konferensi, dipresentasikan di kol for paper berbagai konferensi kepustakawanan.

Terima kasih
Kami sampaikan terimakasih pada Google, yang sudah menyediakan datanya. Segala kelebihan penelitian ini adalah buah jasa dan datang dari Google. Sedangkan kekuranganya karena diri saya sendiri.