Kamis, 30 Juli 2020

Kunci Kebahagiaan Hidup Pustakawan (Sebuah Refleksi Pembelajaran Nabi Ibrahim AS)

Oleh : AHMAD SYAWQI
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

AHMAD SYAWQI
Dalam kalender Islam, bulan Zulhijjah merupakan bulan yang sangat mulia, karena di bulan tersebut umat Islam merayakan hari raya yang penuh makna yaitu hari raya Idul Adha atau yang dikenal dengan hari raya qurban yang dikaitkan dengan kisah tentang keimanan seorang ayah dan anak yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.  Mereka berdua sama-sama merelakan sesuatu yang paling dicintainya, sebagai pembuktian bahwa cinta mereka kepada Allah SWT adalah mutlak di atas segalanya. Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya Nabi Ismail yang sangat dicintainya dan Nabi Ismail pun merelakan nyawanya demi menjalankan perintah Allah SWT. 

Yang menjadi renungan kita adalah apa makna Idul Adha yang ingin disampaikan Allah SWT kepada ummatnya? Tentunya bukan hanya sekedar berqurban. Tetapi Allah SWT telah memberikan makna pembelajaran kehidupan yang bisa menjadi kunci kebahagiaan hidup bagi setiap manusia apapun profesinya, apakah ia seorang pedagang, guru, dokter, atau lainnya, termasuk bagi seorang pustakawan, ia akan merasakan kebahagiaan hidupnya ketika mengamalkan  apa yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS.

Pertama, Cintai Tuhanmu melebihi yang lainnya. Lewat Idul Adha, Allah SWT ingin mengajarkan kita tentang kemurnian cinta. Kita tentu tahu bahwa Nabi Ibrahim baru dikaruniai seorang anak saat usianya memasuki senja. Doa beliau untuk memiliki putra dikabulkan dengan lahirnya Nabi Ismail dan Nabi Ishaq. Bisa dibayangkan betapa beratnya hati Nabi Ibrahim ketika anak yang dinantikan setelah sekian lama, dirawat dan dibesarkan sekian tahun, dicintai dengan segenap hati, harus direlakan ketika Allah SWT memerintahkan kepadanya untuk menyembelih Ismail.

Namun rasa cinta Nabi Ibrahim yang begitu besar kepada Allah, mendorong hatinya untuk rela mempersembahkan Ismail, sesuai yang diperintahkan kepadanya. Nabi Ismail yang memiliki kecintaan yang sama murninya kepada Allah pun, merelakan dirinya dijadikan persembahan kepada Sang Pencipta. Tapi, cinta Allah jauh lebih murni dari cinta siapapun. Allah mengakhiri ujiannya kepada mereka, dengan cara menukar Nabi Ismail dengan hewan qurban.

Bagi seorang pustakawan, ketika kita ingin hidup dengan bahagia, wajib mencintai Tuhan sang pencipta dengan tulus ikhlas yang telah memberikan nikmat ilmu pengetahuan dan menshare ilmu tersebut kepada orang lain sehingga memberikan manfaat kebaikan sebagai amal jariyah yang terus mengalir, sehingga Tuhan pun akan mengangkat derajat kita sebagai orang yang berilmu pengetahuan dengan berbagai kemudahan dan keberkahan hidup berkah ilmu yang kita berikan kepada orang lain.

Kedua, Doa orang yang taat tak pernah terlewat. Nabi Ibrahim dikenal sebagai nabi yang begitu taat kepada Allah. Kecintaannya tak perlu diragukan. Maka ketika Nabi Ibrahim menginginkan seorang putra di usianya yang senja, Allah tak segan-segan mengabulkannya. Allah membalas ketaatan Nabi Ibrahim dengan keturunan-keturunan yang soleh dan berbakti pada orang tua. 

Bagi seorang pustakawan, doa menjadi senjata utama dalam melaksanakan segala aktivitas kepustakawanan, karena dengan doa akan menjadi kekuatan batin pustakawan untuk bisa melaksanakan tugasnya dengan ikhlas dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka sebagai  simbol ketaatannya kepada Tuhan terhadap tugasnya sebagai seorang pelayan informasi bagi pemustaka. 

Ketika pustakawan yang dengan ikhlas memberikan kebaikan dengan layanannya kepada pemustaka, maka secara otomatis, Allah SWT juga akan memberikan ganjaran kebaikan atas apa yang telah diberikannya kepada orang lain, dimana jika Allah SWT sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, asalkan kita juga menjadi hamba yang taat.  

Ketiga,  Ikhlas memberi rasa bahagia tanpa pamrih. Beribadahlah hanya karena Allah. Ini yang bisa kita pelajari dari Nabi Ismail, saat beliau merelakan dirinya disembelih oleh ayahnya sendiri. Bagi Nabi Ismail, mengorbankan nyawa sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah adalah bagian dari ibadah. Dan ketika Nabi Ismail ikhlas menyerahkan nyawanya, Allah membalas keikhlasannya dengan usia yang panjang, dan derajat kehidupan yang lebih baik. Buktinya, kita selalu mengenang Nabi Ismail setiap tahunnya. 

Bagi pustakawan keikhlasan dalam memberi harus menjadi karakter yang harus selalu melekat dalam dirinya. Ketika pustakawan memberikan pelayanan kepada pemustaka yang memerlukan informasi, maka keikhlasan harus selalu tumbuh dalam dirinya dengan segala kesiapan melayani segala keperluan si pemustaka sehingga memberikan rasa kebahagian bagi setiap pemustaka yang datang ke perpustakaan. Oleh karena pembelajaran terpenting adalah  berilah rasa kebahagian orang lain karena Allah, maka kita juga akan selalu merasakan kebahagiaan hidup.

Keempat, menjadi anak berbakti. Kalau kita jadi Nabi Ismail, mungkin kita akan meminta Nabi Ibrahim untuk memohon kepada Allah, supaya menarik lagi perintahnya untuk menyembelih leher kita. Tapi, Nabi Ismail beda. Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail justru yang meminta ayahnya untuk segera menjalankan perintah tersebut. Sepertinya Nabi Ismail takut kalau Allah akan marah pada ayahnya dan memberikan hukuman pada ayahnya. Kalau kita? apa yang sudah kita lakukan untuk kedua orang tua kita?

Bagi pustakawan, ketaatan untuk berbakti kepada orang tua menjadi modal utama dalam meraih keberkahan dan kesuksesan hidupnya. Ketika menjadi pustakawan maka keridhoan orang tua juga menjadi keridhoan Tuhan, sehingga pustakawan dituntut untuk selalu meminta doa mereka agar menjadi anak yang shaleh berbakti kepada kedua orang tua yang setiap saat selalu mendoakan mereka yang telah melahirkan kita semua ke dunia ini.

Kelima, Berbagi kepada sesama. Melalui Idul Adha, Allah ingin memberikan satu lagi kunci hidup bahagia. Selain mencintai-Nya dengan tulus, mencintai orang tua, kita juga harus mencintai sesama. Itu mengapa, berqurban disarankan untuk mereka yang mampu. Dengan harapan, saudara-saudara di sekitar kita yang belum mampu membeli daging yang harganya mahal bisa menikmati lezatnya berbagai menu olahan daging.

Kepedulian kepada sesama jangan hanya saat Idul Adha saja, tetapi harus belajar peduli sesama setiap saat. Tidak bisa menyumbang uang, bisa menyumbang tenaga. Tidak bisa menyumbang tenaga, bisa menyumbang pikiran. Tidak bisa menyumbang pikiran, bisa menyumbang doa. 

Bagi pustakawan kesempatan untuk berbagi terutama melalui ilmu dan informasi yang ia berikan sangat terbuka lebar melalui pemberian layanan kepada permustaka yang datang ke perpustakaan, maka berusahalah untuk selalu berbagi buat sesama.

Berharap dengan moment hari raya Idul Adha ini, sebagai pustakawan yang selalu berinteraksi dengan orang lain (pemustaka), mampu mengimplementasikan 5 hal tersebut melalui pengabdian yang kita berikan sehingga bisa memberikan kebahagian hidup bagi kita dan orang lain di dunia dan di akhirat nanti. Aamiiin.

Rabu, 22 Juli 2020

Melindungi Anak dengan Membaca (Refleksi Hari Anak Nasional 2020)

Oleh: 
Ahmad Syawqi (Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 23 Juli menjadi moment yang sangat istimewa bagi anak-anak Indonesia, karena pada tanggal tersebut merupakan perayaan Hari Anak Nasional (HAN) yang selalu dirayakan dengan meriah setiap tahunnya berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. 

Perayaan HAN tersebut dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak. Upaya ini akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air di masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Berbeda dengan perayaan pada tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan HAN tahun 2020 ini menghadapi tantangan karena adanya pandemi COVID-19 di Indonesia yang berimplikasi pada masyarakat, terutama anak, mengalami  berbagai persoalan seperti masalah pengasuhan bagi anak yang orangtuanya positif COVID-19, kurangnya kesempatan bermain dan belajar serta meningkatnya kasus kekerasan selama pandemi sebagai akibat diterapkannya kebijakan jaga jarak maupun belajar dan bekerja di rumah.

Berdasarkan tantangan tersebut, maka tema HAN tahun 2020 adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan Tagline #AnakIndonesiaGembiradiRumah. Hal ini sebagai motivasi bahwa pandemi tidak menyurutkan komitmen kita untuk tetap melaksanakan peringatan HAN tahun ini secara virtual, tanpa mengurangi makna HAN untuk mewujudkan anak Indonesia gembira di rumah selama pandemi COVID-19.

Buku Yang Menggembirakan

Di tengah pandemi COVID-19 ini, kegembiraan anak-anak sekarang lebih banyak berada di rumah dan sebagian besar tidak berada di sekolah sehingga lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sebagai salah satu kebijakan untuk melindungi anak-anak kita agar terhindar dari penyebaran COVID-19. 

Ada satu upaya yang dapat kita lakukan dalam melindungi  anak Indonesia agar selalu gembira, diantaranya adalah dengan memberikan bacaan berupa buku-buku yang menyenangkan kepada anak. Membaca dapat diibaratkan membuka jendela dunia, karena dengan membaca akan memperluas wawasan dan  juga dapat meningkatkan daya pikir dan kemampuan seseorang dalam menemukan hal-hal baru yang berguna bagi kehidupan. 

Sebuah laporan penelitian (A Society of Readers, 2018) yang disusun institusi riset Demos dan lembaga amal asal Inggris, Reading Agency, menyimpulkan bahwa membaca bisa membantu mengatasi gangguan kesehatan mental, problem mobilitas sosial, kesepian, dan bahkan mencegah demensia. Saking pentingnya membaca, laporan itu bahkan menyarankan Pemerintah Inggris menambah anggaran untuk aktivitas literasi (pengadaan buku, perpusatakaan, dan program membaca) hingga 200 juta paun (sekitar tiga triliun rupiah). 

Di Inggris, kesepian memang menjadi persoalan bagi kesehatan mental penduduknya, terutama mereka yang memasuki usia lanjut. Bahkan di negeri itu, salah satu posisi kabinet adalah “Minister for Loneliness”. Kesepian disebut bakal menjadi epidemi kesehatan mental pada 2030, sehingga A Society of Readers mengajukan membaca sebagai salah satu solusi mengatasi problem itu.

Ada juga sebuah penelitian yang sangat menarik terkait dengan budaya membaca anak di masa pandemi COVID-19 ini yang dilakukan oleh The reading Agency dengan hasilnya sangat memberikan dampak positif bahwa anak-anak menjadi rajin membaca di tengah situasi negara sedang karantina. Menariknya lagi, penelitian ini mengungkapkan bahwa banyak anak yang menjadi gemar membaca berbagai jenis buku ketika masa karantina. Responden untuk penelitian ini melibatkan sekitar 14.461 anak usia 7 hingga 11 tahun. Hasil penelitian dari agensi tersebut menyebutkan bahwa sekitar 89 persen anak usia 7 hingga 11 tahun telah membaca dalam beberapa bentuk. Selain itu, sebangak 37 persen diantaranya menghabiskan lebih banyak menghabiskan waktu daripada di sekolah.

Adapun penelitian ini juga mengemukakan alasan anak bisa lebih banyak membaca ketika masa karantina. Dari anak-anak yang diteliti, sebanyak 40 persen mengatakan bahwa membaca telah membantu dirinya menjadi lebih rileks. Di sisi lain, sebanyak 35 persen anak mengatakan bahwa membaca membuat mereka bahagia. Secara garis besar, banyak juga anak yang mengaku menemukan inspirasi membaca dari berbagai platform. Rata-rata anak mendapatkan insprasi ide dari Youtube sekitar 45 persen dan dari media sosial sebanyak 28 persen. Berdasarkan jenis kelamin, hasil menunjukkan bahwa sekitar 68 persen anak laki-laki dan 70 persen anak perempuan menjadi gemar membaca.

Memang tak semua anak membaca buku bacaan, ada juga diantaranya yang memilih untuk membaca buku komik. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena The Reading Agency tengah menjalankan inisiatif Summer Reading Challenge. Tujuannya tentunya untuk mendorong anak muda untuk lebih gemar membaca. Dari segi jenis bacaan, rata-rata anak memilih untuk membaca buku bacaan, yakni 61 persen. Sisanya yakni 40 persen memilih untuk membaca komik.

Beruntung kita saat ini pemerintah Indonesia telah mencanakan program cerdas yang yang mampu membahagian dan melindungi anak kita dari kebodohan dengan sebuah gerakan yang dinamakan GERAKAN NASIONAL ORANG TUA MEMBACAKAN BUKU (GERNAS BAKU) yaitu sebuah gerakan untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, di satuan PAUD, dan di masyarakat. GERNAS BAKU ini menjadi penting sekali dalam upaya membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak, mempererat hubungan sosial-emosi antara anak dan orang tua, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini. Kalau GENAS BAKU ini sudah menjadi kebiasaan, maka akan tumbuh menjadi budaya dan menjadikan Indonesia lebih baik serta menjadikan para orang tua dan anaknya adalah orang yang selalu bahagia. 

Selamat HAN tahun 2020, tetap selalu rajin membaca di rumah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” #AnakIndonesiaGembiradiRumah.

MEMUPUK LITERASI PEMUSTAKA DI ERA "NEW NORMAL"

Hal yang akan sampaikan disini bukanlah suatu cerita, tetapi kegiatan nyata sehari - hari yang biasa kami  lakukan karena tugas dan tanggung jawab kami sebagai seorang pustakawan . Dapat dipastikan bahwa sebagai seorang pustakawan tentunya  seringkali bersentuhan atau berhubungan langsung dengan  pengunjung yang biasa disebut pemustaka, atau pengguna perpustakaan.

Ilustrasi diatas berbeda dengan pejabat struktural yang justru  memiliki PR  sendiri yang sangat berat,  dengan setumpuk pekerjaan yang harus dikerjakan berupa berbagai jenis berkas diatas meja kerjanya tentang beberapa rencana dan strategi yang justru sangat memerlukan perasan keringat yang tak terukur. Bukankah begitu ?

Dinas kami adalah  termasuk salah  satu Dinas Kearsipan dan Perpustakaan di Wilayah Provinsi Jawa tengah yang tentunya juga  mengikuti rangkaian aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan menerapkan  "Protokol Kesehatan Layanan Pengunjung" tepatnya  sejak tanggal 5 Juni 2020 ditengah "gelontoran" Era " New Normal " .

Perpustakaan umum di Dinas kami sudah mulai  dibuka kembali, setelah lebih dari sebulan  yang lalu sempat ditutup karena pandemi corona Virus Disease yang dikenal dengan Covid 19 , walaupun demikian pemustaka masih bisa menikmati layanan  Perpustakaan digital melalui iPekalongan Kab.

Layanan  bagi pemustaka di perpustakaan Umum yang sudah dibuka tersebut ,  berpedoman pada  syarat utama dan wajib menerapkan Pola " Protokol Kesehatan Layanan Pengunjung " secara ketat .Berbagai hal  yang diatur dalam Protokol Kesehatan Layanan Pengunjung tersebut antara lain meliputi : Cuci tangan pakai sabun, memakai dan menggunakan  Masker, pengukuran suhu tubuh, Jaga Jarak melalui kapasitas daya tampung maksimal, pakai hand sanitizer sebelum dan sesudah memegang buku. serta aturan tehnis lainnya yang diatur secara fleksibel oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan guna mengantisipasi hal hal riil yang mungkin terjadi saat pelayanan perpustakaan berlangsung,pada masa pandemi Covid 19.

Pemustaka yang telah mentaati  Protokol kesehatan layanan pengunjung  dimaksudkan agar pelaksanaan pelayanan pada Perpustakaan tetap berjalan aman, nyaman, lancar dan lebih baik guna memupuk kemampuan "literasi "dan menggairahkan semangat bagi pemustaka untuk kembali berkunjung ke perpustakaan pada era new normal dengan mematuhi  Kewajibannya  sebagai  pemustaka melalui penerapan Protokol kesehatan layanan pengunjung secara tertib dan teratur .


Namun kenyataannya dalam memberikan layanan perpustakaan tidak semulus yang kita harapkan, tampak masih kita temui ada beberapa pemustaka yang belum mematuhi aturan terutama anak-anak. Ketidak patuhan ini sebagaian besar dikarenakan  tidak memakai masker saat berkunjung ke perpustakaan. Hal tersebut tampak dalam Foto berikut:


Menghadapi kenyataan ini, bagi kami selaku pustakawan dan para pustakawan lainnya di Dinas kami sungguh sangat dilematis . Sanksi memang harus diberlalukan secara tepat dan benar . Hal inilah yang membuat para pustakawan jadi berfikir secara lebih serius dan sangat hati  hati dalam mengambil tindakan ,karena jika kita salah dalam mengambil tindakan maka bisa jadi pemustaka akan " Kapok " dan tidak mau kembali berkunjung ke Perpustakaan. Dalam mengatasi masalah ini , tentu saja kami tidak bisa langsung "Mengusir" Mereka dari perpustakaan secara kasar dan tanpa toleran , karena anak-anak memiliki jiwa yang sangat peka dan masil labil . Tindakan ini juga tidak bisa diterapkan bagi pemustaka lainnya walaupun bukan anak-anak.

Disamping hal tersebut , Pustakawan juga memiliki tugas yang sangat berat terutama dalam memupuk " Literasi Pemustaka Di Era New Normal . Anak anak atau siapapun pemustaka yang datang berkunjung ke perpustakaan adalah  mereka yang sudah memiliki kemampuan mengenal dan menginginkan literasi . Jika keinginan atau harapan dari pemustaka ini kita hentikan dan kita putus , tentu mereka  akan kecewa , terlebih jika pemutusan itu karena pemustaka belum mengetahui aturan Protokol Kesehatan layanan pengunjung di Era New Normal walaupun sudah  dipublikasikan melalui berbagai media yang terrsedia.

Dalam Wikipedia didefinisikan bahwa literasi adalah 

"Seperangkat kemampuan individu dalam membaca, menulis , berbicara , menghitung dan memecahkan masalah ".

Masalah riil yang dihadapi oleh pustakawan terkait dengan pelayanan perpustakaan pada era " New Normal " adalah masih ditemui pemustaka yang tidak menggunakan masker . Pemustaka yang tidak atau belum menggunakan masker ketika berkunjung ke Perpustakaan ada  dua kemungkinan :

Kemungkinan pertama adalah :  pemustaka yang belum mengetahui aturan " Protokol kesehatan layanan pengunjung " walaupun sudah dipublikasikan melalui berbagai media .Kemungkinan Kedua pemustaka yang sudah  mengetahui aturan " Protokol kesehatan layanan pengunjung " tetapi dia tidak mematuhi aturan tersebut secara tertib dan teratur karena belum memiliki Masker, ataupun sarana lainnya yang diperlukan ,

Sesuai dengan gagasan diatas , maka solusi yang tepat dalam memupuk literasi pemustaka di Era new Normal adalah dengan cara berupaya melakukan berbagai tindakan yang komprehensif meliputi :

Pertama : Bimbingan secara persuasif dan kontinue kepada pemustaka  tentang berbagai aturan yang harus dipenuhi sebagai pemustaka  di Era New Normal . 

Kedua : Lembaga menyediakan sarana dan prasarana tehnis yang diperlukan bagi Pemustaka  beserta tehnis pelaksanaannya , walaupun terkadang tehnis pelaksanaan tersebut di luar jangkauan tugas  pustakawan, tetapi pustakawan mempunyai kewajiban untuk membantu pemustaka .Misal anak anak yang belum bisa menggunakan masker maka kita sebagai pelayan pemustaka perlu membantu mereka dalam menggunakan masker tersebut.

Jika kedua hal tersebut diatas dipenuhi maka kami berharap semoga Pupuk literasi yang ditebarkan oleh Pustakawan kepada Pemustaka akan mampu menumbuhkan tingginya minat baca bagi pemustaka guna meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan  sehingga akar budaya belajar di negeri yang kita cintai ini semakin kuat dan berkembang serta membuahkan hasil karya nyata guna peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti yang kita dambakan bersama . 

Salam Pustakawan 
Penulis : Susetiyanti 
Pustakawan Dinas Arpus Kab Pekalongan.

Jumat, 17 Juli 2020

Semangat Pustakawan Melawan Covid-19

Perpustakaan Amrina Rosyada

Oleh: Wahid Nashihuddin (Pustakawan LIPI)

Namanya Wibowo Purnomohadi (Pak Bowo), seorang pustakawan di Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Ia sangat aktif dalam kegiatan kepustakawanan dan literasi informasi masyarakat.

Selain menjadi pustakawan, ia juga aktif di Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Cabang Kota Surabaya (sebagai wakil ketua), pendiri Perpustakaan Amrina Rosyada, sekretaris rumah pintar Jawa Timur, pengelola koleksi Prof M.Nuh (Menristekdikti), dan wakil ketua forum taman bacaan masyarakat Jawa Timur. Dengan banyaknya kegiatan dan pengalaman yang Pak Bowo miliki, ia diajak oleh para profesor untuk menjadi “Warga Komunitas Pendidikan Jawa Timur” dan sering diminta menjadi narasumber dalam pertemuan kepustakawanan.

Membangun Perpustakaan Pribadi

Sebagai pustakawan, Pak Bowo aktif mengajak pustakawan lain untuk membangun perpustakaan pribadi dirumahnya. Dalam setiap kesempatan, ia aktif memotivasi orang lain untuk bangkit dari kebodohan, serta melakukan advokasi kegiatan pustakawan dalam kegiatan strategis pemerintah, khususnya yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan literasi.

“Baginya, setiap ada kesempatan, pustakawan harus menjadi “garda terdepan” dalam gerakan literasi informasi di masyarakat, dan pustakawan harus mampu membuat masyarakat menjadi cerdas dalam berbagai aspek kehidupan”.
“Dokter saja bisa buka praktik di luar jam kerja bersama teman-teman seprofesinya dengan membuka klinik dan rumah sakit dari uang sumbangan pribadi (patungan), masa pustakawan ga bisa seperti dokter?” Hal itulah yang memotivasi Pak Bowo (sejak tahun 2006) untuk membangun perpustakaan pribadi. Ia berpendapat bahwa jika pustakawan bisa membangun perpustakaan pribadi, tentunya sangat “dashyat” dalam menggerakan semangat literasi di masyarakat.

“Perpustakaan Amrina Rosyada” itulah nama perpustakaan pribadi Pak Bowo, yang diambil dari nama putri tunggalnya yaitu Amrina Rosyada. Perpustakaan pribadi ini akan sangat membantu Pemerintah dalam meningkatkan budaya baca dan tulis masyarakat. Perpustakaan pribadi akan sangat membantu pustakawan ketika sudah purna tugas (pensiun), meskipun sudah tidak bekerja ia dapat memberikan layanan perpustakaan sepanjang hayat.

Untuk mengisi koleksi perpustakaan pribadinya, Pak Bowo saat ini sudah menyiapkan sekitar 7000 buku yang diperoleh dari bantuan orang lain (hasil ngamen buku) sejak tahun 2010. Dalam mengelola buku-buku di rumah, Pak Bowo dibantu oleh istri dan dikerjakan pada malam hari setelah pulang kerja. Buku-buku yang dikoleksi juga dipamerkan di lapak pameran dan taman-taman kota. Selain dari bantuan koleksi, Pak Bowo juga mulai belajar menulis buku yang diharapkan dapat menjadi koleksi pribadinya.

Masa Karantina dan Isolasi

Ketika pandemi Covid-19 melanda daerahnya (sejak Maret 2020), ia proaktif dalam kegiatan perpustakaan dan literasi informasi ke masyarakat. Dengan senang hati, Pak Bowo selalu memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik di jam kerja (kantor) maupun ketika dirumah.

“Intinya bahwa selama ada kesempatan, pustakawan harus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, dan siap membangun masyarkat yang literet di daerahnya”.
Hal yang paling menginspirasi adalah ketika Pak Bowo berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP) akibat Covid-19, hingga dirinya harus dikarantina di Rumah Sakit Jiwa Menur di Surabaya (selama 12 hari) dan menjalani isolasi mandiri di rumah sampai dinyatakan sembuh.  

Selama masa karantina di rumah sakit, Pak Bowo aktif meng-update informasi di Facebook Perpustakaan Amrina Rosyada, membaca e-book dengan smartphone, berolahraga, berjemur di bawah sinar matahari, senam pernafasan, treadmil, naik sepeda statis, jogging, dan diskusi dengan pasien lain yang terdampak Covid-19 di ruang isolasi.

Aktivitas tersebut dilakukan secara rutin oleh Pak Bowo hingga menunggu hasil tes swab dari rumah sakit, dan hasilnya “negatif Covid-19”. Setelah dinyatakan negatif Covid-19, Pak Bowo disarankan untuk isolasi mandiri di rumah hingga dinyatakan sembuh dapat bekerja kembali berdasarkan protokol kesehatan.

Pesan untuk Pustakawan yang Terdampak Covid-19

Menjadi Pasien Covid-10 adalah menyakitkan, selain tidur di ruang isolasi, si pasien juga tidak boleh berinteraksi dengan orang lain. Dalam perjuangannya, si pasien Covid-19 harus optimis untuk sembuh. Setelah diisolasi di rumah sakit, Pak Bowo berpesan kepada pustakawan dan pegiat literasi di Indonesia yang terdampak Covid-19:
  1. Kita harus mampu menggunakan keahlian dan ilmunya untuk membangun jaringan informasi dan kerjasama dengan profesi lain;
  2. Pustakawan harus bergaul dengan profesi lain agar wawasannya lebih luas, jadi tidak hanya mengurusi perpustakaan dan buku;
  3. Kita harus memiliki “jurus pamungkas” dalam kegiatan strategis pemerintah, misalnya membantu pemerintah dalam “menajamkan dan menganalisa” kebijakan gerakan literasi perpustakaan yang lebih dinamis, berdasarkan kebutuhan informasi masyarakat.
  4. Pustakawan harus mampu berperan sebagai garda terdapan dalam melawan corona, dengan menggerakan literasi kesehatan dan mendidik masyarakat untuk hidup sehat. 
Dalam mendidik masyarakat, pustakawan dapat memanfaatkan sumber-sumber informasi yang tersedia, khususnya informasi yang terkait pencegahan penyebaran Covid-19 di masyarakat, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Dengan demikian, masyarakat akan sadar bahwa Covid-19 itu berbahaya, dan pustakawan adalah mitra masyarakat di masa pandemi.

Menurut Pak Bowo “ilmu perpustakaan itu sifatnya praktis namun strategis”, untuk Anda “banggalah menjadi pustakawan”, gunakan ilmu yang kita miliki untuk mencerdaskan masyarakat. Mari kita lawan Covid-19 dengan semangat kepustakawanan yang tinggi, dan patuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Jika Anda ingin mengetahui kisah dan perjuangan Pak Bowo lebih lanjut, silakan hubungi kontak beliau:
  • E-mail: wibowo.purnomo72@gmail.com, 
  • Hp/WA: 082233645499
  • Instragram: @wiebowo.poernomohadi.


+++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Tulisan ini merupakan hasil wawancara online (via-WhatsApp) dengan Pak Wibowo Purnomohadi pada Tanggal 17 Juli 2020,  Pukul 08.25 – 09.45 WIB.