Senin, 06 Juli 2020

Harlah Pustakawan sebagai spirit pembaharu literasi

Pustakawan. blogspot.com

Tepatnya 07 Juli setiap tahunya Hari Pustakawan di Indonesia genap berumur 30 tahun pada hari ini moment yang diresmikan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1990. Berawal dari didirikannya Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) pada tanggal 7 Juli 1973 dalam Kongres Pustakawan Indonesia yang diadakan di Ciawi Bogor. 

Sejenak mindset kita akan terbawa ke sebuah gedung dengan petugas yang stand by melayani,  mengarahkan,  membimbing dan menanyakan kebutuhan pemustaka (pengguna perpustakaan). 

Spirit ini akan terus hidup meskipun akan berhadapan dengan dimensi yang berbeda,  ruh kepustakawanan sudah terdesain oleh kebijakan pemerintah melalui undang undang tentang profesi kepustakawanan. 

lihat Undang undang no. 14 tahun 2007 Tentang Perpustakaan dan masih banyak lagi peraturan pemerintah dan kepala perpustakaan nasional yg mendukung dan melindungi eksistensi profesi pustakawan. 

Pustakawan saat ini adalah sebuah profesi yang menjadi suluh lahirnya semangat literasi,  profesi pustakawan menginspirasi lembaga perpustakaan dalam kanca pembangunan nasional. 

Ada tiga peran perpustakaan dalam pembangunan nasional; Pertama,  peran perpustakaan  sebagai pusat ilmu pengetahuan bisa melahirkan inovasi maupun kreativitas. Kedua, peran perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang berbasis literasi. Dan yang terakhir peran  perpustakaan sebagai pusat kebudayaan. (Berita Perpusnas juli 2019). 

Menurut pasal 34 ayat 1-4 UU No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan sudah jelas diatur tentang organisasi profesi yang mengatakan:"Pustakawan mempunyai organisasi profesi, yang berfungsi untuk memajukan dan memberi perlindungan profesi kepada pustakawan. 


Pustakawan dengan layanan berorientasi pengguna. 


Layanan prima dengan senyuman adalah salah satu karakter dasar yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan. 

Perpustakaan dengan beragam dimensi layanan harus didukung oleh eksistensi profesi pustakawan yang diibaratkan ruh kehidupan bagi perpustakaan yang penuh dengan atmosfir keilmuan. 

Kehidupan dan kelangsungan spirit literasi dalam setiap dimensi layanan perpustakaan diutamakan untuk pemenuhan informasi bagi pemustaka yang beragam dengan tujuan yang beragam pula. 

Melangkahkan kaki kedalam gedung perpustakaan akan kita temui sosok yang menyambut dengan senyuman menghantar para pemustaka (pengguna perpustakaan) menemukan informasi dalam koleksi perpustakaan. 

Layanan sirkulasi buku buku beragam genre akan tersusun dengan subyeknya,  berjejer dengan angka angka klasifikasi,  akan ditemukan buku buku yang diproses dari seleksi panjang untuk pemenuhan kebutuhan komune baca di lingkungan perpustakaan. 

Jurnal,  majalah,  koran, dan bahan pustaka lain ditemukan dalam sebuah susunan yang apik dengan desain ruangan sesuai selera membaca pengunjung menjadi sebuah kearifan yang tidak bisa diabaikan.


Pustakawan di masa pandemi


Pandemi Covid-19 membawa pada suasana yang jauh berbeda dengan masa sebelum Covid berpandemi,  fokus layanan di perpustakaan didesain secara konvensional dan digital. 

Pustakawan bergelut belajar dan terus mengupgrade cara-cara baru dalam pelayanan informasi,  layanan baca bagi pemustaka terus didesain mulai dari plosok desa sampai perkotaan. 

Masyarakat akan mulai akrab dengan kunjungan2 yang dilakukan oleh para pustakawan untuk memfasilitasi buku buku untuk masyarakat,  mobilisasi ini melibatkan kendaraan darat air bahkan udara sehingga, perpustakaan model delivery (pesaan antar) juga ikut mewabah seiring pandemi yg belum kita tahu kapan berakhirnya. 

Disrupsi digital semakin terlihat nyata oleh Prof Rhenald Kasali menarasikannya "doing things differently, so others will be obsolete: membuat banyak hal baru sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman". 

Guru,  dosen,  mahasiswa,  dan murid akan terus menenteng gawai ditangan tanpa batas untuk belajar dan mengajar dengan metode digital yang terbaharu oleh beragam aplikasi,  fenomena ini disambut dengan desain layanan pustaka digital oleh para pustakawan untuk mendukung pembelajaran. 

Melansir Tempo, di era digital, perpustakaan diharapkan bukan sekedar meningkatkan jumlah pengunjung. Perpustakaan masa kini diharapkan bisa menyediakan akses bagi masyarakat lewat pengembangan aplikasi teknologi informasi. Nah, disinilah pustakawan harus punya bekal dalam merancang program yang menarik minat masyarakat.

Pustakawan terus eksis berinovasi,  mengupgrade dan sharing pengetahuan melalui webinar (webseminar) yang di programkan secara virtual oleh perpustakaan nasional dan beberapa perguruan tinggi. 

Saat ini hanya dengan stay at home kita bisa masuk ke ruang baca perpustakaan secara virtual melalui pintu platform digital seperti iPusnas yang dirintis oleh Perpustakaan nasional dan banyak lagi layanan perpustakaan digital saat ini yang bisa kita akses secara berbayar maupun gratis. 

"Pustakawan pembaharu literasi dalam beragam dimensi layanan akan terus hidup bersama zaman" adalah quote penyemangat yang ingin sy share melaui tulisan ini,  Selama Hari Lahir Pustakawan. 

Sabtu, 04 Juli 2020

Sang Pustakawan dan Blogger Buku Produktif dari Metro

Ingin menjadi pustakawan produktif menulis? Bagaimana caranya? Pastinya ada banyak cara kalau kita mau berusaha dan mau konsisten menekuninya. Nah, pustakawan yang satu ini adalah pustakawan produktif menulis yang tak asing namanya. Pada 2016 saya pernah menulis Blog Para Pustakawan yang Perlu Anda Kunjungi, salah satunya adalah pustakawan penggemar buku Totto-Chan ini. 

Dia seorang pustakawan sekolah, aktif menulis buku fiksi, penyunting dan penyusun naskah, seorang reviewer buku khususnya novel dan cerpen, reviewer film juga loh, dan aktif diberbagai komunitas seperti Blogger Buku Indonesia, SLiMs, Pustakawan Blogger, dan masih banyak yang lainya.

Menyoal karya dan penghargaan, jangan ditanya! Banyak dan berderet. Dari lomba resensi buku, lomba pustakawan berprestasi, lomba blog, pokoknya banyak. Belum lagi pengalaman-pengalaman untuk program perpustakaan sekolahnya yang kreatif dan menarik. Saya kira, pustakawan sekolah bisa belajar dari pustakawan sekaligus reviewer buku ini.

Librarian Footnotes

Ok, siapa dia? Dia adalah Luckty Giyan Sukarno. Ada banyak kisah menarik darinya mulai dari buntelan buku, awal bekerja di perpustakaan sekolah yang membawa buku sendiri hingga 100 novel, diprotes oleh penulis aneh karena tulisan review bukunya hingga sebagai seorang pustakawan yang pernah diragukan karena bisa mereview ratusan buku dalam setahun. Penasaran?

Ok, langsung saja ya. Ini dia wawancara saya dengan Mba Luckty.

Mba Luckty salah satu pustakawan sekolah yang paling konsisten untuk menulis review buku khususnya genre novel dan cerpen. Susah dan masih jarang loh yang sekonsisten kaya Mba Luckty. Boleh tahu lebih tepatnya mulai kapan aktif ngeblog khusus tentang review buku  dan apa sih yang menjadi motivasinya? Lalu apa trik biar bisa konsisten seperti itu?

Aku mulai nulis review buku sebenarnya mulai dari akun multiply sekitar tahun 2008. Itupun gak khusus review buku aja, tapi review film. Karena pada dasarnya selain suka baca, aku juga suka nonton film. Lalu lanjut buat blog http://luckty.wordpress.com pas skripsi, itupun isi blog didominasi seputaran apa pun tentang Ayat-ayat Cinta, karena dulu skripsi bahas itu. Hingga selesai skripsi, akhirnya didominasi review buku sampai sekarang. Apalagi sejak 2011, aku tergabung dalam komunitas Blogger Buku Indonesia yang salah satu syaratnya harus memiliki blog khusus seputaran buku. Sejak 2013, tulisan non buku seperti kuliner, traveling, ama review film aku ulas di http://catatanluckty.blogspot.com. Sedangkan seputaran perpustakan, aku ulas di http://perpus.sman2metro.sch.id/. Beranak blog ini, hahaha... x))

Sebenarnya gak ada trik khusus karena pada dasarnya suka aja. Aku gak ada target dalam menulis blog, sesuka aku aja karena pada dasarnya nulis di blog. Jadi gak beban. Kecuali kalo itu ada semacam giveaway atau blogtour bekerjasama dengan penulis atau penulis yang memang terjadwal. Terlepas dari itu, aku gak ada patokan khusus.

Terlihat konsisten mungkin karena aku kalo posting gak pernah keliatan bolong, misal sebulan gak posting apa-apa, belum pernah kejadian kayak gitu sejak 2008 punya blog. Caranya adalah sebenarnya aku punya semacam tabungan draft postingan. Jadi misal pas bulan Ramadhan, aku gak baca buku apa-apa, tapi bulan sebelumnya aku udah ada draft review buku yang artinya bisa diposting buat bulan berikutnya. 

Menariknya setiap tahun juga dibuat semacam kaleidoskop bahan bacaan. Adakah target setiap bulan bahan bacaan yang harus dibaca itu misal berapa judul?

Aku gak melulu tiap hari baca, sehari bisa baca satu atau dua buku, atau dua minggu gak baca apa-apa juga pernah. Soalnya kalo banyak kegiatan juga pasti lelah kan, sedangkan membaca butuh pikiran yang tenang. Aku bukan tipe pembaca yang bisa membaca di mana saja, jadi sering ada yang berpikiran kalo aku bisa banyak baca buku karena nggak ada kerjaan itu keliru banget. Di sekolah, hampir tidak pernah murid melihatku membaca, jadi mereka suka heran kalo aku posting review buku, soalnya kapan bacanya, hahaha.. x)) 

Aku cenderung lebih suka baca di rumah, rebahan di tempat tidur atau di ruang tamu sambil duduk. Begitu juga dengan menuliskan reviewnya di rumah karena nulis juga butuh ketenangan. Jadi sama halnya dengan nulis, aku juga gak ada target khusus buat baca. Beberapa tahun aku terlihat banyak baca buku (sampai nembus 200-an) tiap tahun, selain karena banyak tawaran kerjasama giveaway/blogtour juga karena sebenarnya semakin banyak aku nulis review, akan semakin deras buntelan buku dari penulis maupun penerbit. Dulu pas aku awal masuk kerja di perpustakaan sekolah kan gak ada novel populer, adanya novel-novel jaman pujangga seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan lain-lain. Aku bawa dari rumah sekitar 100-an novel yang layak baca untuk remaja yang awalnya hanya aku taro sementara akhirnya berakhir menjadi koleksi perpustakaan sekolah. 

Kenapa? Mungkin memang akan beresiko buku-bukunya rusak bahkan hilang, tapi melihat ekspresi murid-murid yang antusias baca novel, jadilah aku mengikhlaskan buku-buku tersebut untuk koleksi perpusakaan sekolah. Lebih baik buku dimakan rayap karena dibaca daripada disimpan rapi di rak toh akhirnya rusak juga dimakan rayap, hahaha... x))

Dan tanpa disadari, semakin banyak kita memberi, bukan semakin hilang buku yang kita punya. Justru semakin banyak buku berdatangan baik dari penulis maupun penerbit. Uniknya lagi, nggak sekali dua kali, aku dapet kiriman buku dari seseoarng yang sebenarnya gak kenal, tapi karena liat postinganku di twitter, mau mengirimi buku-bukunya yang masih layak baca untuk perpustakaan sekolah. Jadi sebenarnya tanpa perlu mengemis meminta buku, nanti bakal banyak yang tergerak untuk memberikan buku secara cuma-cuma.

[Serba-Serbi] Buntelan Buku pernah aku ulas lengkap di postingan ini: https://luckty.wordpress.com/2015/07/14/serba-serbi-buntelan/

Apa suka dan dukanya  selama menjadi pustakawan sekaligus blogger review buku? Boleh donk cerita pengalamannya? 

Lebih banyak sukanya dibandingkan dukanya. Sebenarnya aku sudah merasakan mendapat kiriman buku sejak 2008 via multiply. Waktu itu aku suka banget Laskar Pelangi, jadi isi multiplyku didominasi artikel hal apa pun tentang Laskar Pelangi. Nah, ada Mbak Ditta dari Mizan Group. Beliau menjadi semacam Peri Buku yang pertama kali mengirimkan buku. Dan sejak 2008 itu pula, selain di blog wordpress dan multiply, aku juga posting review buku via notes Facebook yang membawaku akhirnya berkenalan dengan banyak Peri Buku dari berbagai penerbit dan juga banyak penulis. 

Aku dulu gak kepikiran ngelist buku apa aja yang didapat, baru sejak 2013 aku me-list apa saja buku yang didapat setiap tahunnya.
  • 2013 buntelan yang diterima 133 buku. 
  • 2014 buntelan yang diterima 358 buku
  • 2015 buntelan yang diterima 285 buku
  • 2016 buntelan yang diterima 150 buku
  • 2017 buntelan yang diterima 102 buku
  • 2018 buntelan yang diterima 98 buku
  • 2019 buntelan yang diterima 133 buku
Nah, kalo dukanya ini nih. JUNI – JULI 2019, aku ada cerita tentang drama yang kualami di dunia blog buku. Seumur-umur, sejak 2008 nge-blog, baru ini loh dikomplain penulis karena hasil resensiku katanya terlalu pedas. Aku balik mikir, selama ini nulis postingan review buku lebih pedas dari ini nggak pernah komplain penulisnya. Bahkan para penulis yang udah punya nama besar, woles aja mereka. 

Lucunya, malah ada yang jadi akrab karena terlibat project bareng. Misal, Erisca Febriani yang dulu awal muncul dengan fenomen #DearNathan-nya. Aku nggak suka buku tipe ini. Menye-menye banget istilahnya. Tapi kan aku nggak suka bukunya, bukan orangnya. Akhirnya pernah ketemu langsung pas 2017. Waktu itu Bukune lagi ada semacam road show keliling ke beberapa kota gitu. Pas di Lampung, salah satunya milih di Metro. Dan kebagian rejeki, mereka nawarin project ini ke aku. Siapa yang nggak mau. Dapet ilmu workshop menulis gratis kayak gini. Apalagi murid-murid pada antusias. Kita ngobrol banyak sebelum acara dimulai. Anaknya humble banget. Nggak hanya ngomongin buku, tapi juga perpustakaan. Aku masih inget kata-kata dia pas bilang perpus sekolah dia dulu nggak kayak perpus tempat aku kerja yang menyenangkan ini. Hadudu..jadi GR x))

Seiring waktu, tulisan Erisca makin matang. Terlihat perbedaannya di novel-novelnya yang sekarang. Salah satunya adalah Serendipity yang menurutku jauh lebih baik dibandingkan Dear Nathan.

Begitu juga dengan Boy Chandra. Di awal kemunculannya, aku pernah nulis review pedas tentang novel perdananya, Origami Hati. Awal ahun 2016, tiba-tiba dia main ke perpustakaan sekolah. Waktu itu bareng Galih Aditya, alumni di sekolah tempat aku kerja yang memang akrab ama Boy dari sebelum terkenal. Mana si Galih pas ngenalin aku ke Boy bilang ini loh yang review buku lo yang ditunjukkinnya di blog. Ihhh…malu banget rasanya, hahaha… x)) Trus, pas 2019 kemarin, pas DISPUSARDA Kota Metro mau ngadain Talkshow Menulis, aku rekomendasiin buat ngundang Boy Chandra. Diantara banyak nama penulis yang diajukan (Nggak hanya dari aku aja, banyak para senior literasi di Metro) justru pendapatku yang di acc. Pak Kadis memang gitu. Apa-apa kalo aku yang usul, Pak Kadis mah yess aja. Padahal aku bukan pegawai di sana loh x)) Dan karena aku dianggap lebih paham dunia kepenulisan (padahal aku aja belum punya buku terbitan mayor), aku yang dimandatkan oleh DISPUSARDA menjadi LO alias yang akan mendampingi Boy Chandra di manapun berada kelak selama di Metro. Sama seperti Erisca, Boy juga enak diajak ngobrol. Nggak hanya bahas buku, kaget juga aku pas dia bahas perpustakaan. Enak ngobrolnya, kayak ama teman sendiri x)) 

Balik ke drama blog buku. Itu adalah dua contoh yang bukunya dulu aku nggak suka tapi malah berteman dengan mereka pada akhirnya. Tidak ada masalah. Nah, yang bikin masalah ini adalah baru kali ini ngalamin penulis yang agak aneh menurutku. Dari awal emang udah keliatan rewel. Salah aku juga sih dulu nggak teliti pas ambil job kali ini. Jadi, dia minta buat di promosiin bukunya nggak hanya di blog, tapi juga medos. Aku udah bilang di awal kalo aku nggak ada IG khusus buku, palingan nanti aku posting di IG perpus tempat aku kerja seperti buku-buku lainnya yang aku dapatkan selama ini. Pas di post, komennya lucu banget. Biasanya kalo penulis bukunya di posting, minimal ngasih love atau nulis komentar makasih dsb, ini malah komennya ‘kok bisa dapet buku ini’. Piye thooo… x))

Pas aku posting reviewnya, dia minta reviewnya diubah. Lha, seumur-umur baru kali ini ada yang request kayak gini. Aku nggak mau. Di juga kekeh nyuruh ubah. Ampe panjang banget percakapan kita di wa. Aku sebenarnya males ngeladenin. Ngabisin waktu dan tenaga. Aku ampe konsultasi via wa ke beberapa teman blogger buku lainnya. Aku nyuruh mereka baca postinganku apa ada yang kasar dengan postinganku. Mereka bilang tulisanku biasa aja. Ini nggak satu orang loh, ada beberapa biar objektif. Dan memang menurutku nggak ada yang kasar. Kritik yang aku lontarkan pun juga aku kasih solusinya untuk hal-hal yang ganjil di buku itu. Jadi nggak hanya sekedar kritik aja. Karena dia ngotot terus, dan menganggap kalo blogger buku itu kayak marketing yang kayak jualan buku artinya harus nilai baik sebuah buku (whaattt?? Dia bilang blogger buku = marketing buku, fix sakit nih orang, hahaha…) akhirnya solusi dari aku adalah reviewnya aku apus aja. Dia masih belum terima. Karena capek ngadepin dia, akan aku hapus postingan reviewnya dan aku kembalikan bukunya. Dia masih ngotot dengan kalimat makin lama bikin capek bacanya. Pokoknya dia melakukan pembenaran melulu. Aku cek instagramnya memang orang ini aneh. Seperti aku bilang, salah di aku juga dari awal nggak teliti. Waktu itu hanya cek penerbitnya yang ternyata penerbit ini tuh selain buku terbitannya (secara mayor) juga ada lini terbitan indie. Nah, ternyata penulis ini yang secara indie. Pantes aja buku kacrut kayak gitu kok lolos, hahaha… x)) ini bukan berarti buku indie tuh jelek ya. Aku juga sering baca buku terbitan indie, dan bagus-bagus kok. Ini pas apes aja kali yaaa… x))

Setelah lumayan memakan waktu ampe beberapa minggu gitu, akhirnya dia mau kalo aku hapus reviewnya dan kirim balik bukunya. Epiknya lagi, dia minta buku itu dikirim pake sampul plastik kayak buku baru. Untung aja buku itu belum aku stempel dan tempel barcode untuk koleksi perpus sekolah. Aku iyain aja deh meski kudu nyari plastik, hahaha… pas ngirim juga drama loh, aku sore-sore pulang sekolah, ujan deres pula, untung bukunya nggak kebasahan di dalam tas. Biarlah orangnya aja yang keujanan. Nasibbbb… x))

Aku sebenarnya nggak sakit hati ama ni orang. Hanya ngelus dada, kok ada ya orang kayak gini. Benar-benar jadi pengalaman berkesan selama menjadi blogger buku sejak sepuluh tahun ya baru ini ngalamin. Selama itu, dia sama sekali nggak ngucapin terima kasih, bahkan sampai bukunya aku balikin itu. Ehhhh… pas sekitar sebulan kemudian, nggak ada angin nggak ada hujan dia minta maaf. Terus mau ubah isi bukunya (yang tempo hari menurutku ada beberapa yang gak pas). Aku disuruh ngereview (lagi) bukunya, nggak pake waktu kapan aja aku bisa, dan tulis apa aja yang aku mau. Ogaaaaahhhh…. gemblung apa aku kalo masih ngeladenin dia yang kataku aneh itu… hahaha… X))

[Serba-serbi] Blogger Buku pernah aku ulas di postingan ini: https://luckty.wordpress.com/2016/03/19/serba-serbi-blogger-buku/

Aku & Blog Buku, judul buku yang mencerminkan Mbak Luckty  sebagai seorang pustakawan, blogger yang rajin mereview buku. Kalau tidak salah sampai seri ke-9 ya? Bisa diceritakan ide atau konsep awalnya hingga menerbitkan buku tersebut? 

Itu idenya spontanitas aja pas 2013. Jadi pas tahun itu kan udah lumayan banyak resensi yang selama ini diposting, nah kepikiran buat semacam kumpulan reviewnya. Dan kebetulan waktu itu dibuatin covernya ama adik, dan cuma diganti warna tiap seri buku dibantu murid, jadi deh bukunya. Nggak ada target khusus, hanya kepuasan batin aja, hahaha... x))

Banyak prestasi yang diperoleh Mba Luckty mulai dari kontes review buku, resensi buku, lomba blog kepustakawanan dan masih banyak yang lainnya.  Apa sih trik atau kiat khusus untuk mereview buku novel atau kumpulan cerpen ala “Mba luckty”?

Sudah aku jelaskan di atas, gak ada trik khusus. Hanya rasa suka aja. Beda kalo menulis menjadi semacam kewajiban atau beban, pasti rasanya berat dan cenderung menjadi beban.

Tapi aku pernah mengulas tentang seputaran review buku, judul postinganya Serba-serbi Review Buku (https://luckty.wordpress.com/2015/09/25/serba-serbi-review-buku/) yang mungkin bisa membantu dan bermanfaat bagi yang ingin mencoba menulis review buku.

Bukan hanya aktif menulis di blog, Mba Luckty ini produktif juga menerbitkan karya buku, tercatat hingga ada 25 karya sudah diterbitkan (termasuk Aku & Blog Buku). Boleh ceritakan tips dan trik bisa seproduktif itu?

Pas aku lulus kuliah, sebenarnya aku sempat nganggur selama setahun pas pulang kampung sekitaran tahun 2010. Waktu itu tiga adek-adekku masih kecil-kecil sementara mamaku meninggal pas aku masih kuliah. Jadi itu alasan utama aku pulang kampung, dan bahkan gak mikir nanti apa bisa kerja pas balik kampung. Selama setahun itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya dan berkenalan dengan teman-teman maya yang ternyata memilliki passion yang sama. Nah, dari situlah aku jadi ikut beberapa antologi. Waktu itu nggak mikir jauh, yang penting nulis aja. Mungkin karena dulu punya banyak waktu alias pengangguran selama setahun, jadi punya waktu untuk nulis, hehehe... x))

Turut berduka cita Mba Luckty. Ok, selama ini, apa hambatan dalam menulis, baik ketika menulis di blog dan buku?

Hambatannya hanya lebih ke waktu dan mood, wajar sekali ini terjadi. Ya namanya juga manusia, kita bukan robot. Kalo lagi nggak mood, ya gak usah memaksakan diri.

Oya, aku pernah ulas masalah ini di postingan [Serba-serbi] Reading Slumps https://luckty.wordpress.com/2017/05/12/serba-serbi-reading-slump/]

Mba Luckty juga pernah menjadi pustakawan berprestasi mewakili Lampung di Perpusnas, tentu ada banyak penilaian dari dewan juri, salah satunya mungkin tulisan. Bisa diceritakan sedikit kisahnya tentang pengalaman itu? 

Sebenarnya dibandingkan peserta lain saat di nasional, aku jauuhhh lebih sedikit pengalamannya. Begitupula dengan karya, dibandingkan dengan yang lainnya nggak ada apa-apanya banget. Karya tulisku juga sebenarnya sederhana banget. Untuk Pemilihan Tendik Tenaga Perpustakaan Berprestasi versi Kemdikbud, mewakili Lampung di nasional tahun 2016, best practiseku judulnya Promosi Perpustakaan Melalui Media Sosial. Tahun segitu, belum ada perpustakaan sekolah yang memiliki akun khusus di media sosial, terutama instagram.  

Sedangkan tahun 2017 saat mengikuti Pemilihan Pustakawan Berprestasi versi PERPUSNAS, karya tulisku di nasional berjudul Meningkatkan Minat Baca Melalui Blog. Dilihat dari dua judul ini, sebenarnya judulnya sangat sederhana. Mungkin yang bikin menarik adalah dua judul itu nggak hanya mentah semata, tapi memang sudah diaplikasikan langsung di kehidupan nyata selama aku bekerja di perpustakaan sekolah jadi banyak dokumentasi dari kegiatan tersebut. Selama ini memang hal-hal yang aku lakukan di perpustakaan sekolah, aku simpan dokumentasinya di facebook, jadi saat ada lomba atau event apa pun yang mengharuskan adanya dokumentasinya, tinggal aku ambil saja dari album facebook.

Oya, jadi teringat. Tahun 2017 saat mengikuti Pemilihan Pustakawan Berprestasi versi PERPUSNAS, sesi wawancara ada satu pertanyaan yang menggelitik dari salah satu juri yang meragukan kemampuanku dalam setahun bisa menulis ratusan review buku dan dianggap aku tidak mengerjakan jobsdesk pustakawan yang lain. Sedih akutu...hahaha... x))

Apa pesan-pesan dari Mba Luckty untuk teman-teman pustakawan yang baru menjadi pustakawan khususnya di perpustakaan sekolah agar produktif berkarya?

Sebenarnya nggak hanya untuk yang bekerja di perpustakaan sekolah. Pekerjaan apa pun yang dari hati, akan terasa lebih ringan dibandingkan pekerjaan yang kita kerjakan penuh beban. Bekerja sesuai passion memang lebih menyenangkan, sebab seberat apa pun pekerjaan itu, akan dengan senang hati kita menjalaninya.

Mba Lucky pasti banyak pemustaka/pembaca loyal dari  kaum milenial di perpustakaan sekolahnya terutama para siswa sekolah. Selama ini apa pengalaman menarik terkait aktivitas mba Luckty yang melibatkan para siswa-siswa tersebut?

Banyak ya, beberapa pernah aku tulis di blog, atau minimal aku jadikan status di sosial media biar gak lupa sapa tau kapan-kapan bisa jadi bahan tulisan. Beberapa diantaranya adalah pernah ada murid pengen kuliah di salah satu instansi pemerintahaan tentang intelegen karena baca novel dengan tema tersebut, ada juga murid ‘istimewa’ yang saban hari selalu nanya adakah serial Naruto yang terbaru, bahkan ada juga murid nanya buku yang dia baca kemarin minta dicariin bukunya tapi lupa judulnya x))

Selama ini, program apa yang menarik untuk perpustakaan sekolah terkait dunia baca dan menulis dengan para siswa?

Namanya juga perpustakaan sekolah negeri, pasti ya terbatas masalah pendanaan. Tapi bukan berarti menghambat kita dalam berkreativitas. Pernah selama tiga angkatan awal aku kerja di perpustakaan sekolah untuk membuat buku semacam kumpulan pengalaman mereka di sekolah. Aku juga sering ngadain giveaway kecil-kecilan via instagram untuk momen tertentu. Modalnya adalah selama ini kan aku selain dapet buku dari penulis maupun penerbit, juga dapat berbagai macam merchandise yang bisa kita bagikan ke murid. Mulai dari kaos, totte bag, gantungan kunci, pin dan sebagainya.

Salah satu lomba paling unik yang pernah aku lakukan adalah lomba menghitung buku di lemari yang sengaja aku taro acak-acakan biar susah menghitungnya. Meski begitu, banyak sekali yang ikut. Tidak hanya murid, tapi juga bapak ibu di sekolah. Hadiahnya berupa paket buku.

Ok terakhir, apa buku favorit Mba Luckty dan motto hidupnya? 

Kalo ditanya apa bacaan yang paling favorit, tentunya Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi ini meski aku bacanya telat banget, jaman kuliah pas dikasih rekomendasi ama kakak kelas. Ada beberapa alasan kenapa buku ini jadi favorit. Pertama, buku ini mengajarkan bahwa setiap anak adalah istimewa. Siapa sangka, Totto-chan yang berganti sekolah, seragamnya belepotan jika pulang sekolah, dan hal-hal 'ajaib' yang dilakukannya saat kecil, saat dewasa, kelak menjadi salah satu Duta Kemanusiaan UNICEF (1984-1997)

Kedua, lewat buku ini, aku jadi kepengen punya perpustakaan dari gerbong perpustakaan kayak perpustakaan di sekolahnya Totto-chan, kayaknya seru gitu, hehehe..

Ketiga, bu guru Totto-chan menyarankan jika bekal yang dibawa murid-muridnya seharusnya dianjurkan dari laut (maksudnya ikan dsb) dan pegunungan (maksudnya sayur-mayur). Makanan sehat menjadi salah satu faktor penentu pertumbuhan seorang anak. Bukunya udah kucel banget. Dan sampe sekarang masih laris dipinjam. 

Mottoku sejak SMA gak pernah berubah: Memberi jika menerima, menerima jika memberi.

Terima kasih Mba Luckty sudah meluangkan waktunya untuk wawancara. Sukses selalu untuk Mba Luckty.

Sama-sama.

Profil Singkat

Luckty Giyan Sukarno
Luckty Giyan Sukarno

Nama: Luckty Giyan Sukarno
Pendidikan: S1 Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Universitas Padjajaran
Pekerjaan: Pustakawan SMAN 2 Kota Metro

Daftar Karya dan Penghargaan: Cek disini ya, banyak sekali. Luar biasa.

Media Sosial: 
Blog: 
Baca tulisan Luckty di blog Pustakawan Blogger disini

Demikian untuk sesi wawancara minggu kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi.

Salam,
#pustakawanbloggerindonesia

Kamis, 02 Juli 2020

LITERASI: Bangkit dari Pandemi

Ditulis oleh: Buntam 

Novel Coronavirus atau covid-19 adalah kata paling populer sepanjang akhir tahun 2019 hingga saat ini. Bagaimana tidak? Hampir semua negara dibuat menguras tenaga, pikiran dan anggaran untuk mengatasi dampak yang terjadi karena wabah virus ini. Bukan hanya berdampak pada sektor kesehatan, wabah ini berdampak pada sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial. Dalam bidang kesehatan, jelas hal ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan bisa menyebabkan penderitanya sakit atau bahkan meninggal. Dalam bidang ekonomi, di Indonesia sendiri lebih dari 600 triliun rupiah dana yang digelontorkan pemerintah untuk membantu masyarakat menghadapi wabah ini. Dampak di bidang pendidikan, jelas sekali terasa, untuk menekan laju pertambahan kasus positif covid-19, maka pemerintah menganjurkan untuk belajar dari rumah. Lalu sektor sosial, merosotnya pendapatan para produsen, membuat pemilik usaha terpaksa merumahkan karyawannya sehingga muncul pengangguran, sementara kriminalitas meningkat seiring dengan sulitnya mencari uang di masa pandemi.

Corona
Credit: Pixabay
Waktu, tenaga, pikiran dan uang sudah dikerahkan Pemerintah, maka tidak sepatutnya kita tidak peduli atau bahkan tetap santai tanpa mau mematuhi. Kita tidak ingin pandemi ini berlarut, atau bahkan terjadi gelombang yang kedua kali. Maka kita harus belajar, bersabar dan menahan ego dalam diri agar wabah ini segera berhenti sampai di sini. Semua lapisan masyarakat harus bekerjasama, bahu-membahu untuk memperbaiki keadaan negeri ini.

Lalu apakah kita akan berdiam diri dengan apa yang terjadi saat ini? Pura-pura acuh tanpa peduli sehingga mungkin tragedi wabah ini akan terulang lagi? Tentu jawabannya TIDAK. Tidak sepantasnya kita berdiam diri dan tidak belajar dari pengalaman untuk menghadapi virus ini. Tidak boleh kita egois dengan menuruti ego pribadi atau percaya begitu saja akan konspirasi yang mengiringi terlepas dari segala kebenarannya nanti, yang jelas saat ini kita sedang diuji dengan pandemi.

Kita harus belajar, membuka mata, dan belajar dari pengalaman mengapa bisa terjadi kasus sampai 59.394 kasus lebih per 2 Juli 2020 tanpa ada perbaikan khusus dalam masing-masing diri. Sebut saja Vietnam, negara yang berhasil menekan kasus covid-19 hanya dalam hitungan hari dengan jumlah kasus 355 kasus dan jumlah kematian zero.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dari berita yang beredar ternyata Vietnam sudah siap sebelum ditemukannya kasus, sehingga saat 1 kasus muncul, penanganannya langsung ketat dan pengambilan keputusan kebijakan juga cepat. Pemerintah Vietnam langsung memerintahkan social distancing, lockdown, isolasi, meliburkan semua sekolah, menangguhkan penerbangan dan larangan ekspor impor.

Warga Vietnam taat betul dengan aturan ketat (baca: lockdown) yang diberlakukan Pemerintah untuk menghindari merebaknya kasus. Intinya kita ambil garis tengahnya bahwa Vietnam sudah berbekal pengetahuan, pengalaman dan kesiapsiagaan terhadap virus corona. Hal ini tentu disebabkan kemampuan literasi pemerintah Vietnam dan rakyat Vietnam tentang penyakit menular sudah sangat baik. Mereka paham betul tentang bagaimana penyakit menular menyebar, paham atas apa yang sedang terjadi,  keputusan apa yang diambil untuk menindaklanjuti dan tindakan apa yang harus dilakukan. Rakyat Vietnam mampu taat tanpa syarat dan patuh tanpa tapi terhadap aturan yang diberi.

Tidak bisa dibandingkan memang antara negara satu dengan yang lainnya dalam penanganan covid-19 ini, hal ini karena berbagai faktor seperti geografis, demografis dan lain-lain. Namun ada satu benang merah yang bisa diambil pelajaran dari keberhasilan Vietnam menekan kasus covid-19 hingga tidak ada kasus positif lagi dan tidak ada kematian sama sekali. Benang merah tersebut adalah rakyat Vietnam paham apa itu penyakit menular (dalam kasus ini Covid-19) dan kebenaran dalam mengambil tindakan penyembuhan dan pencegahan.

Kemampuan literasi kita akan sebuah penyakit menular harus ditingkatkan. Membaca, mengambil informasi yang benar, memahami apa yang dibaca, dan menindaklanjutinya itu suatu keharusan yang wajib dimiliki rakyat Indonesia. Dimulai dari diri sendiri dulu, perbanyak pengetahuan, tetap menjaga kebersihan, lakukan apa yang diinstruksikan dan hindari hal-hal yang merugikan.

Karena rendahnya kemampuan literasi, bisa menyebabkan kita terombang-ambing atas konspirasi yang menyertai wabah ini. Lebih parahnya lagi, kita bisa menjadi korban hoaks di waktu pandemi. Sulit memang kita hadapi, berat pula untuk dijalani, kebiasaan ini juga belum tahu kapan berakhir dengan pasti, tapi dengan kemampuan literasi kita bisa paham apa itu pandemi, bagaimana menghindari dan menjaga diri dari keterpurukan ini. Dengan kemampuan literasi, kita bisa reaktif, produktif, dan aktif saat menghadapi wabah yang masif.

LITERASI: LIhat, TERapkan, dan BerAkSi untuk bangkit lebih baik lagi. Salam sehat salam sukses Indonesiaku.


Daftar Pustaka:
  • https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52675805 diakses 10 Juni 2020 pukul 14.00 WIB
  • https://www.liputan6.com/bola/read/4221604/5-cara-vietnam-menghentikan-pandemi-virus-corona-covid-19-yang-bisa-dicontoh diakses 11 Juni 2020 pukul 13.00 WIB
  • https://nasional.kompas.com/read/2020/07/02/15413381/update-bertambah-1624-total-ada-59394-kasus-covid-19-di-indonesia?page=all diakses 3 Juli 2020 pukul 13.10 WIB

Senin, 29 Juni 2020

Calon IKN Penajam Paser Utara Belum Punya Gedung Perpustakaan

Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin
Jurusan Ilmu Perpustakaan Informasi Islam
Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan salah satu wilayah di Provinsi Kalimantan Timur yang sebagian besar masyarakatnya memiliki angka minat baca rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya sarana dan prasarana. Sejak didirikan pada 27 November 2012 Dinas Perpustakaan dan Arsip belum memiliki gedung resmi melainkan menggunakan gedung sementara. Bagus Purwa dalam wartanya bersama Ridwan Effendi Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Penajam Paser Utara mengatakan Setelah ditetapkan sebagai ibu kota negara baru, pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara berencana membangun Gedung perpustakaan dengan anggaran 10 Miliyar melalui dana alokasi khusus.Sebelumnya penulis telah turun langsung kelapangan untuk mengetahui kondisi perpustakaan daerah Penajam, memang secara realita masih jauh dari standar Perpustakaan, baik dari segi ruang baca, ruang staf dan ruang khusus lainnya Gedung perpustakaan Kabupaten Penajam Paser Utara tersebut rencana akan dibangun di atas lahan seluas dua hektare yang berada di wilayah Kelurahan Penajam, Kecamatan Penajam. Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Penajam Paser Utara telah memiliki perencanaan (masterplan) untuk pembangunan gedung perpustakaan itu.
    Dengan adanya fasilitas gedung perpustaakaan diharapkan peningkatan budaya literasi atau minat baca masyarakat dapat terus digaungkan. Semoga dalam waktu dekat ini semua perencanaan yang sudah diusulkan dapat di realisasikan sehingga dapat menjadi jantung daerah dalam meningkatkan literasi kepada masyarakat, selain itu juga dapat menjadi contoh untuk perpustakaan-perpustakaan lainnya seperti perpus desa, sekolah, dan khusus.
Ruang Baca Perpustakaan Penajam


Sabtu, 27 Juni 2020

Awalnya Menulis KTI Karena Tugas dan Keterpaksaan, Saya Ingin Menulis Buku Solo

Narasumber minggu kali ini adalah bisa dibilang pustakawan yang rajin menulis karya tulis ilmiah (KTI). Walaupun sering juga menulis di blog Pustakawan Blogger dengan kisahnya yang terkenal dengan nama si “Bulan.” Tidak hanya itu, beberapa buku antologi juga ia tulis bersama dengan pustakawan lainnya. 

Hariyah bersama Kang Maman (dari kanan, urutan pertama)
Hariyah bersama Kang Maman (dari kanan, urutan pertama)

Namanya Hariyah. Pustakawan yang produktif menulis dari Perpustakaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Saya mencoba mencari namanya di mesin pencari Google dengan kata kunci “Hariyah Pustakawan,” dan hasilnya dari total 530 pencarian empat besar di urutan pertama memang luar biasa yaitu Google Scholar miliknya dan empat lainya adalah tersemat di jurnal daring dan katalog bersama IOS (21 Juni 2020). Ini artinya, tidak salah kalau narasumber yang satu ini adalah pustakawan yang rajin menulis karya tulis ilmiah. 

Ok, langsung saja ini hasil wawancaranya:

Assalamu’alaikum Ibu Hariyah. Bagaimana kabarnya? Semoga sehat ya? 

Alhamdulillah sehat-sehat, semoga demikian juga Mas Murad.

Kalau saya melihat di Google Scholar, KTI anda ada sejak 2001. Saya yakin ada tulisan yang belum dimasukan di Google Scholar tersebut. Ok, persisnya sejak kapan anda menulis KTI? 

Sebenarnya tulisan di 2001 itu adalah KTI wajib alias skripsi, hihihi. Sebenarnya saya menulis KTI sejak kuliah S2 tahun 2014. Karena dipaksa harus banyak menulis karya ilmiah dan juga dikirim ke jurnal ilmiah, maka mau tak mau, terpaksa, harus menulis dan akhirnya menjadi terbentuk keinginan untuk menulis lagi, ya itu hikmahnya juga.

Anda rajin menulis KTI di jurnal dan konferensi internasional, apa tujuan dan motivasinya?

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, awalnya karena tugas kuliah saat S2. Lalu dari situ saya punya banyak teman, punya banyak informasi, banyak mengambil manfaat dari pertemuan-pertemuan/konferensi nasional atau internasional, menambah pengalaman dan motivasi. Dan meningkatkan kompetensi diri. Maka saya pun kemudian mencoba-coba untuk menulis dan ikut konferensi.  Senang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui tulisan dan konferensi yang saya ikuti.

Ketika menulis KTI dari mana ide awal itu muncul untuk dijadikan tulisan?

Ide bisa  berasal dari kantor/dari perpustakaan yang saya kelola, dari hasil diskusi, dari pengalaman teman,  atau dari hasil membaca KTI atau bacaan yang lain. Terkait ide dari kantor/perpustakaan, dengan segala keadaannya saya menjadikannya sebagai bahan untuk berbagi pengalaman. Saya berharap dari sini, saya akan mendapatkan banyak masukan untuk perkembangan perpustakaan saya. Selain itu saya pun ingin memperkenalkan/mempromosikan lembaga saya khususnya dalam hal terbitan lembaga hasil penelitian dan kediklatan. Setidaknya lembaga saya menjadi lebih diketahui masyarakat, apa kiprahnya untuk masyarakat.


Dalam menulis KTI anda juga pernah berkolaborasi dengan penulis lain. Manfaat apa yang diperoleh ketika menulis secara kolaborasi dan adakah kendalanya?

Ya menulis secara kolaborasi jauh lebih baik daripada menulis sendiri. Banyak ide yang bisa dihasilkan dan tulisan akan lebih berkembang, lebih baik. Tugas kepenulisan juga bisa dibagi, yang mencari literature, membuat kerangka pemikiran, metodologi dan lainnya. Tulisan lebih sempurna, pemikiran lebih komprehensif. Kekurangannya, ya palingan saat harus berkordinasi atau saat menentukan titik temu karena banyak kepala, tapi itu pun sejauh ini bisa disepakati dan tidak banyak masalah. Sementara menulis sendiri, ya pastinya semua dikerjakan sendiri, lebih melelahkan. Jika ada kekurangan pada tulisan belum tentu disadari oleh penulis sendiri. Memang menulis sendiri lebih fokus, dan tidak memerlukan banyak kordinasi atau ide-ide yang perlu disinkronkan, Tetapi trend nya saat ini adalah menulis secara kolaborasi, author dan co-author.


Pengalaman berharga apa yang di dapatkan setelah banyak menulis KTI?

Ketrampilan menulis dan kebiasaaan membaca makin terbentuk. Keterampilan menelusur informasi/literature meningkat, bertambah wawasan, pengalaman, dan teman/relasi,  mendapatkan poin dan koin hihihi.

Setiap orang mempunyai tips dan trik sendiri dalam proses menulis KTI, bisa diceritakan pengalaman anda ketika menulis KTI?

Biasanya saya menulis karena menemukan sesuatu yang unik dan menarik untuk ditulis. Dan berharap  tulisan saya ada manfaatnya untuk orang lain, sebagai media berbagi pengalaman atau knowledge sharing. Nah setiap ada ide itu, saya catat dulu, saya buat pointers yang nanti saya kembangkan. Kalau tulisan itu sudah ada templatenya lebih enak lagi. Saat menemukan bahan atau sesuatu yang harus ditulis bisa dimasukkan ke dalam templatenya itu sambil berjalan dan sambil dilengkapi.  Lalu saya juga coba diskusi dengan teman, siapa tahu ada masukan atau komentar-komentar yang berharga dan mungkin bisa diajak kolaborasi. Saya  menulis kapan saja jika ada kesempatan, Tapi lebih seringnya malam atau dini hari. 

Ok, sekarang tentang tulisan populer. Anda juga rajin menulis di blog Pustakawan Blogger dan menulis di buku antologi yang diterbitkan oleh Komunitas Ayo Menulis dan Komunitas Pustakawan Menulis. Apakah yang ditulis itu semua bersumber dari pengalaman anda sendiri? 

Sebagian besar dari pengalaman saya sendiri, beberapa saja yang bukan.

Dari semua buku antologi anda yang tergabung dalam judul Mudik, Suka Duka Penulis, Biarkan Buku Bercerita, Lingkungan, Librarian Journey’s, Pukis: Pustakawan Berkisah, Perjuangan,  Move On, Lukisan Aksara, dan Ibu, manakah yang paling berkesan?  Dan mengapa judul itu yang paling berkesan?

Yang paling berkesan buku Librarian’s Journey. Pertama buku ini banyak suka duka proses terbitnya. Prosesnya lama, sempat terlunta-lunta karena berbagai faktor, masalah teknis pada naskah mulai dari cover, typo, profil penulis, miskomunikasi, juga tertunda terbit karena Covid-19 dan akhirnya berhasil terbit juga tahun 2020 setelah menunggu sejak tahun 2018. Selain itu secara konten, buku ini mengcaptured pengalaman teman2 melanglang buana ke barbagai wilayah di dunia, ini yang unik dan menarik untuk dibaca.
Librarian's Journey

Buku-buku antologi yang sudah anda terbit bergitu banyak. Seandainya ada pembaca yang ingin membeli kemana harus menghubungi?

Bisa menghubungi penerbitnya atau ke saya langsung, meskipun saya gak punya stok buku hanya 1-2 eksemplar saja per judul, hihihi.

Apa kiat-kiat menulis populer sehingga anda begitu produktif menulis dalam buku antologi?

Sejauh ini saya biasanya menulis karena pengalaman sendiri, sehingga bisa mengalir ceritanya. Ataupun  pengalaman orang lain yang saya mengetahuinya dari cerita orang tersebut langsung kepada saya. Atau bisa juga lewat kejadian yang terjadi sehari-hari dimana saya langsung mengamati, menyaksikan, melihat, mendengar, atau merasakan. Semua saya tuangkan aja dulu, bagus gak bagus tulis aja dulu, nanti terakhir baru self editing.

Apa pengalaman berharga selama ikut bergabung dengan komunitas-komunitas tersebut?

Saya jadi punya banyak teman, punya  banyak tulisan, nambah waawasan  khususnya dalam dunia tulis menulis,  punya media untuk berbagi kisah dan pengalaman yang semoga bermanfaat bagi orang lain dan dapat diambil hikmahnya, senang punya buku karya bersama, mengukir sejarah saya sendiri. 

Apa kendala atau hambatan selama menulis baik KTI atau populer seperti di blog dan buku antologi?

Saat dah buntu, biasanya saya tinggalkan menulis, tidak menulis dalam beberapa waktu lamanya, sampai merasa segar lagi untuk menulis. Saat sedang tidak enak badan dan pekerjaan kantor yang lagi overload, saat tidak punya paket internet karena tidak bisa browsing-browsing hihihi. Ini bisa bikin mood menjadi buruk dan untuk bangkit lagi perlu perjuangan yang keras, hihihi.

Adakah pengalaman menarik setelah menulis di sejumlah buku antologi tersebut?

Ya, saya biasanya pamer kepada anak-anak kalau bundanya bisa menulis buku, hihihi. Agar mereka tertarik untuk menulis juga. Dan bisanya mereka akan membaca buku saya dan memberikan komentar yang kadang  lucu, Selain itu saya juga biasanya mempromosikan buku antologi tersebut ke teman-teman via medsos, tujuannya untuk saling memotivasi. Setelah itu biasanya ada saja yang menghubungi saya untuk membeli bukunya, padahal saya tidak menjualnya, dan kadang konsultasi tentang kepenulisan padahal ya saya juga gak ahli-ahli banget, hihihhi.


Apa motto hidup dan buku favorit anda? 

Moto hidup Man Jadda wa Jadda, Siapa bersungguh-sungguh, dia mendapatkannya. Tidak ada buku favorit. Semua genre buku saya suka, tapi dari semuanya saya suka novel, buku popular tentang pengembangan diri dan sejarah.

Ok, terakhir cita-cita apa yang ingin dicapai terkait dunia menulis ini? 

Pertama ingin membuat/menulis  buku solo. Kedua, ingin bisa menulis di media massa nasional dengan tema yang lebih global dan ketiga ingin anak-anak saya mencintai membaca dan menulis.

Ok, terima kasih atas kesediaan waktunya untuk diwawancara. Salam pustakawan menulis.

Sama-sama 

Profil Singkat

Nama: Hariyah
Pendidikan: S2 Ilmu Perpustakaan FIB UI
Pekerjaan: Pustakawan Balitbangdiklat Kemenag

Daftar Karya:

KTI (Cek di Google Scholar)

Buku Antologi:
  1. Lukisan Aksara: Rasa dan Karsa
  2. Perjuangan
  3. Persembahan untuk Ibu
  4. Move On
  5. Ku Kayuh Impianku
  6. Satu Langkah Dewasakan Diri
  7. Suka Duka Penulis
  8. Pukis: Pustakawan Berkisah
  9. Biarkan Buku Bercerita
  10. Lingkungan
  11. Thanksgiving
  12. Librarian’s Journey
  13. Mudik
  14. Beberapa buku antologi yang dalam proses terbit (6)
Penghargaan:
  1. Lolos mengikuti Shortcourse Database Administration di India 2 bulan tahun 2013
  2. Lulus Cumlaude S2 Jurusan Ilmu Perpustakaan FIB UI 
  3. Terpilih mengikuti penelitian dan penyuluhan nasional tentang kerukuna umat beragama 2017-2018
  4. Pustakawan berprestasi tingkat DKI Jakarta 2018 dan lima besar tingkat nasional 2018

Media Sosial: 
Demikian wawancara untuk minggu kali ini. Semoga bermanfaat dan menginspirasi para pembaca semuanya.

Salam,
#pustakawanbloggerindonesia

Kamis, 25 Juni 2020

Ketika sebuah Buku Dilarang Dibaca

By Dian Arya*

Sore ini, ada seorang rekan pustakawan yang memposting sebuah berita di media online terkait 10 buku best seller legendaris yang ternyata pernah menjadi buku yang terlarang di Amerika. Amerika, negara yang katanya menjunjung tinggi kebebasan berfikir dan berbicara.

Terlepas dari lokasi pelarangan buku tersebut, bila kita ingat kembali hukum Ranganathan, every book it’s reader, semestinya tidak boleh ada buku yang dilarang untuk dibaca. Tapi tentunya tidak berarti tidak ada pembatasan. Semua buku ada pembacanya, artinya kalau kamu masih di bawah 17 tahun, ya jangan baca buku untuk orang dewasa. Lalu, siapa yang bertugas ‘menjaga’ supaya setiap pembaca mendapat buku yang sesuai dengan peruntukannya? Siapa lagi? Ya, pustakawan.

Buku
Pixabay
Yups, tugas pustakawan menjaga kemurnian pemikiran anak-anak dari buku-buku berkonten ‘dewasa’. Pustakawan juga yang bisa mempertahankan kekuatan ideologi bangsa dari bahaya laten. Tapi harus diingat bahwa caranya tentunya bukan dengan melarang peredaran buku, apalagi sampai membakarnya. Saya tidak bisa membayangkan perasaan penulis yang sudah bersusah lelah payah menuangkan pemikirannya ke dalam bentuk tulisan, tetiba secara sepihak dilarang beredar, apalagi dibakar. Wow. Sad.

Cara yang paling sederhana adalah dengan membatasi akses. Loh, apa bedanya melarang beredar dengan membatasi akses? Jelas beda.... Ketika melarang beredar, yang pertama kita sudah violating hak penulis dalam menyebarkan hasil pemikirannya. Yang kedua, kita juga sudah melanggar hak pembaca untuk mengakses bahan bacaan. Dengan pembatasan akses, kita hanya perlu mengenal pembaca lebih jauh, dan memberi penilaian apakah memang buku kontroversial yang dia minta memang yang dia butuhkan. Bila tepat, tentunya sang pembaca bisa mengaksesnya. Tapi bila tidak, pustakawan boleh merekomendasikan bahan bacaan lain yang lebih sesuai.

Membahas kembali hukum ketiga Ranganathan ini memang tidak akan ada habisnya. Beberapa tahun ke belakang issue ini pernah hangat dibahas berbagai media karena seorang pejabat Perpusnas menyatakan akan melarang peredaran buku-buku ‘kiri’ , tapi lalu meminta maaf karena kekeliruannya. Di sepanjang masa sejak awal buku ada, selalu ada judul-judul buku yang membuat fihak-fihak tertentu merasa tersinggung, bahkan terancam. Tapi sekali lagi, every book has it’s reader, semua buku ada pembacanya.

Untuk penutup, saya teringat sebuah manga (komik jepang, bukan typo) yang berjudul library war, yang inti ceritanya berputar antara perjuangan sekelompok pustakawan yang berjuang dengan mengangkat senjata (betul-betul senjata, senapan, bom, tank...) demi memperjuangkan hak pemustaka untuk membaca. Mereka akan membeli buku-buku dari sumber manapun, sebelum buku itu di -banned oleh pemerintah karena dianggap menentang ideologi para pemegang tampuk kekuasaan. Manga ini termasuk populer di kota terbitnya, karena sempat dibuatkan versi life action-nya juga. Satu hal yang terbersit dalam hati saya ketika baca komik ini, adalah sebuah do’a, semoga kita, pustakawan, ga perlu sampai sebegitunya mempertahankan diseminasi dan preservasi informasi.

*Pustakawan UPI

Minggu, 21 Juni 2020

Produktif Menulis Saat WFH Manfaatkan Rumus 3M

Ok, sudah lama saya tidak mewawancarai pustakawan yang senang dengan aktivitas menulis. Kali ini saya telah mewawancarai seorang pustakawan dari Sumatera Utara. Di masa WFH atau era Virus Corona (Covid-19) ini, pustakawan yang satu ini cukup produktif menulis artikel di media daring dan juga rajin membagikan tulisannya di grup komunitas menulis seperti Pustakawan Blogger dan Komunitas Menulis Pustakawan (KMP). 

Namanya Rina Devina, seorang pustakawan di Kanwil Kemenkumham Sumatera Utara (Sumut). Ada banyak tulisan yang sudah dipublikasikan mulai dari artikel hingga buku antologi. Empat buku antologi terbaru antara kurun waktu 2019-2020 yang sudah terbit berjudul Persembahan Untuk Ibu  (2019), Biarkan Buku Bercerita (2020), Mudik (2020), dan 101 Solusi Generasi Milenial (2020). 

Teman-teman pustakawan penasaran? Simak ya wawancaranya berikut ini.

Halo Ibu Rina. Semoga sehat selalu. Sudah berapa lama anda menjadi pustakawan?

10 tahun.  Sekarang di Kanwil Kemenkumham Sumut sejak 2016. 

Dalam dua minggu terakhir ini anda produktif menulis. Apa motivasinya? 

Belajar mencoba mengeksplore kemampuan menulis, mencoba berbagi ilmu khususnya tentang pustaka, perpustakaan dan pustakawan. 

Saat ini kondisi Virus Corona atau Covid-19 masih terus menghantui negara kita dan apakah dengan kondisi tersebut yang mengharuskan anda bekerja di rumah atau WFH (work from home) berpengaruh terhadap produktivitas menulis anda?

Jelas karena sebelum Covid-19 saya tidak menggunakan internet di rumah. Merasa tidak bermanfaat begitu, tapi sejak harus absen dari rumah karena WFH, kan harus ada internet. Jadi,  saya memanfaatkan paket data buat belajar menulis dan akhirnya jadi seperti sekarang. 

Masa WFH sejatinya membawa hikmah tersendiri untuk anda sehingga lebih produktif menulis. Apakah sebelum WFH anda juga rajin belajar menulis?

Belajar, tapi kan terbatas waktunya karena banyak fokusnya bekerja di kantor. Kan hanya menggunakan wifi kantor. Jadi, kurang produktif menulis. Nah, saat WFH ini saya jadi lebih banyak waktu untuk menulis.

Boleh tahu tulisan apa yang sudah dipublikasikan sebelum WFH atau Covid-19?

Sudah. Beberapa buku antologi. Selain antologi sebenarnya saya juga nulis artikel lain, tapi belum berani dipublikasikan waktu itu. Selain menunggu antri terbit di majalah atau buletin majalah perpustakaan di kota tempat tinggal, saya juga kurang percaya diri menulis waktu itu. Jadi, disimpan saja tulisannya. Hingga waktu Ibu Tri (KMP) memberikan informasi link tulisannya waktu Harkitnas, saya mencoba ikut menulis juga di portal tempat Ibu Tri menulis. Selang dua hari tanggal 22 Mei 2020, itulah tulisan pertama yang saya publikasikan selain buku antologi. Terus lanjut menulis artikel lain sampai sekarang di media yang berbeda. Oh iya, buat teman-teman pustakawan yang ingin pesan buku antologi tersebut masih open pre order ya. (he..he..). 

Buku Antologi
 

Dari mana saja ide/gagasan menulis anda? 

Masih mencari event harian dan moment khusus, seperti peringatan-peringatan apa itu.

Kalau saya baca tulisan anda yang ada di media daring selalu dikaitkan dengan istilah literasi, mengapa?  

Saya mencoba mengaitkannya dengan literasi, ternyata banyak juga yang belum tahu dengan istilah literasi dan ruang lingkupnya. Memang semua harus terus dipromosikan, profesi dan kegiatan seputar kepustakawanan.

Ada rencana mau menerbitkan buku antologi lagi? 

Ada. kumpulan tulisan yang sekarang masih proses. Kurang lebih ada 6.

Apa saja hambatan ketika menulis?

Hambatan menulis biasanya waktu. Kalau sudah aktif bekerja mungkin tidak segencar sekarang menulisnya. Tapi, memang tetap harus ada komitmen untuk menyediakan waktu untuk menulis.

Apa kiat-kiat khusus agar bisa menulis untuk benar-benar yang pemula?

Rumusnya 3M. Mulai dari sekarang. Mulai dari yang kita kuasai. Mulai dari yang kita butuhkan.  M yang Pertama, mulai sekarang tulis aja apa yang bisa kita tulis alias modal nekat. M kedua, mulai dari yang kita kuasai. Tulislah topik yang menarik minat kita, jadi lebih mengalir. M yang ketiga, karena saya butuh angka kredit, maka saya tulis yang bisa mendapatkan point juga. Kalau yang lain mungkin bisa nulis ya menghasilkan koin seperti buku yang bisa di jual atau buat blog yang menarik.

Ok, terakhir. Perlu tidak ikut komunitas-komunitas menulis? 

Sangat perlu dong. Justru saya bisa seperti ini karena ikut komunitas menulis seperti yang direkomendasikan.  Ikut grup Pustakawan Blogger dan Komunitas Menulis Pustakawan (KMP) sangat membantu dalam memupuk rasa percaya diri dan menjadi penyemangat yang terus menerus. 

Dukungan komunitas sangat perlu sebagai  role model juga. Saya lihat bagaimana  contoh tulisan  teman. Mencoba dan akhirnya bisa juga menulis bareng. Saya sangat  senang bisa bergabung di komunitas yang keren seperti itu. Walaupun masih jauh dari tulisan teman yang sudah profesional,  tapi saya merasa dukungan terus mengalir sehingga semakin ingin tetap berkarya dan mencoba  menulis dengan lebih baik lagi.

Boleh tahu motto hidup dan  dan buku favorit anda?

Hidup adalah sejarah dan kisah kita adalah karya. Jadi, menulislah. Menulis adalah belajar. Belajar sembari menulis."
 Buku favorit saya Harry Potter.

Ok. Terima kasih atas kesediaan waktunya untuk wawancara. Sukses selalu untuk anda. 

Sama-sama. Oh iya, karena saya masih belajar, mohon kiranya para pembaca tulisan saya dapat memberikan kritik dan sarannya. Saya siap menerima dengan hati terbuka.


Profil Singkat

Rina Devina
Credit: Balitbangham
Nama: Rina Devina
Pendidikan: S-1 Ilmu Perpustakaan USU (2014)

Pengalaman Pekerjaan:
  • Honorer pada Perpustakaan Psikologi USU (2005-2006)
  • Pustakawan pada SMAN 1 Serba Jadi Serdang Bedagai (2010-2012)
  • Pustakawan pada Setwan DPRD Provinsi Sumatera Utara (2012-2016)
  • Pustakawan pada Kanwil Kemenkumham Sumut (2016-sekarang)

Daftar Karya:

Karya Tulis Ilmiah :
  • Pemanfaatan Perpustakaan Bank Indonesia Medan 
  • Transformasi Menuju Perpustakaan Berbasis Kearifan Lokal
  • Peran Perpustakaan Dalam mendukung Kinerja ASN yang Profesional
  • Memaksimalkan Peran Perpustakaan dan Pustakawan Desa

Tulisan artikel populer:
  • Memanfaatkan waktu saat Pandemi dengan Menulis 
  • Mengembalikan Kejayaan Islam dengan Perpustakaan Islam 
  • Ayo Cintai Lagi Bumi Kita 
  • Bijak menggunakan Media Sosial dengan Literasi Media Sosial 
  • Memperingati Hari Media Sosial dengan melek literasi Hukum Siber Nasional
  • Donor Darah dan Literasi Kesehatan 
  • Hari Anak Internasional dan Budaya Literasi 
  • Literasi Demam Berdarah Degue 
  • Literasi Dermaga dan Pelabuhan 
  • Peringati Hari Lansia dengan Peningkatan Literasi budaya hidup bersih dan sehat
  • Peringati Hari Susu Sedunia dengan Perbaikan Literasi Gizi  
  • Refleksi Hari Laut Seunia dengan Peningkatan Literasi Bahari 
  • Refleksi Hari Tembakau Sedunia dan Literasi bahaya Merokok 

Buku Antologi:
  • Persembahan Untuk Ibu (2019)
  • Biarkan Buku Bercerita (2020)
  • Mudik (2020)
  • 101 Solusi Generasi Milenial (2020)
  • Di Rumah Saja (proses terbit)
  • Pustakawan Multitalent (proses terbit)
  • KMP 9, Perpustakaan dan Kebencanaan (proses terbit)
  • Memupuk sportivitas dalam kebhinekaan (proses terbit)
  • Hari Kunjung Pustaka (proses terbit)
  • Kumpulan Literasi (proses terbit)

Penghargaan:
  • Membawa Kantor Setwan DPR Provinsi Sumatera Utara meraih juara Harapan II pada Lomba Perpustakaaan Khusus Terbaik Sumatera Utara tahun 2013
  • Membawa Kantor Setwan DPRD Provinsi Sumatera Utara meraih Juara III pada Lomba Perpustakaan Khusus Terbaik Sumatera Utara tahun 2015
  • Finalis pada Lomba Pustakawan Teladan Sumatera Utara tahun 2015
  • Finalis 10 besar pada Lomba Pustakawan Berprestasi Sumatera Utara pada tahun 2017
  • Membawa Kanwil Kemenkumham Sumut menjadi Finalis pada Lomba Perpustakaan Khusus Terbaik Sumatera Utara tahun 2017
  • Membawa Kanwil Kemenkumham Sumut meraih juara II pada Lomba Perpustakaan Khusus Terbaik Kota Medan tahun 2019
  • Menjadi juara Harapan pada lomba Tenaga Pengelola Perpustakaan Kota Medan tahun 2019
Media Sosial:
Semoga tulisan singkat ini dapat menginspirasi dan bermanfaat untuk para pembaca sehingga memotivasi untuk berkarya, khususnya untuk para pustakawan dimanapun berada. 

Salam
#pustakawanbloggerindonesia

Kamis, 18 Juni 2020

Covid-19 dan Angan-angan Bulan Jalan-jalan


Musibah ini telah membawa masyarakat dunia pada situasi yang hampir tak menentu. Ya pandemi Covid-19 hampir meluluh lantakan semua sendi kehidupan manusia. Tapi manusia sebagai makhluk berakal tentu harus bisa bangkit dan menata diri beradaptasi dengan keadaaan ini. Segala macam cara yang dapat mencegah meluasnya penularan virus ini dilakukan dengan seksama dan cermat. Semua elemen mulai dari pemerintah hingga masyarakat kecil berjibaku untuk bersama-sama melawan Covid-19. Hasilnya?

Manusia memang harus berusaha, tetapi hasilnya tak selalu sesuai harapan. Itulah seni kehidupan, selalu ada suka-duka yang mewarnai. Kini muncul tatanan kehidupan baru.  Ya New Normal istilahnya,. Ia seolah menjadi gerbang pembuka mulai hidupnya aktivitas orang yang terbelenggu dalam penjara rumahnya. Seolah tak ingat lagi apakah virus ini masih menghantui atau tidak. Kehidupan normal baru adalah kehidupan normal biasa dengan cara baru. Orang harus tetap bermasker, menjaga jarak, memakai hand sanitizer, mencuci tangan, dan menggunakan perlenggkapan sendiri. Sudah tepatkah New Normal ini berlaku? Wallahua’lam.

Di kota tempat Bulan bekerja, semua orang menerapkan protokol kesehatan seperti pakai masker, menjaga jarak, memakai hand sanitizer, cuci tangan dan lainnya.  Tapi di sisi lain berkerumunnya orang-orang seolah-olah sudah normal  beneran saja. Contoh kasusnya ada teman sejawat Bulan yang sudah mengadakan kegiatan kantornya di hotel. Duh seperti sangat mendesak sekali harus ke hotel. Rasanya, ngeri-ngeri sedaap.  Padahal kota tempatnya bekerja masuk kategori red zone. Bulan sempat ngobrol dengan teman sejawatnya di lain kota, Entong namanya.

“Blm boleh aslinya... Bentar Nyak. Ane kasi liat tahapan new normal”, begitu katanya kepada Bulan yang biasa dipanggil Nyak olehnya.

“Yang pertama adalah prakondisi. Di tahapan prakondisi, setiap daerah harus menyampaikan prakondisi penerapan new normal dengan memberikan informasi yang jelas, holistik, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Tahapan itu harus disertai aksi pencegahan dan penanganan Covid-19 melalui sosialisasi dan komunikasi publik yang efektif. Tahap kedua adalah timing, yaitu menentukan waktu kapan suatu daerah dapat memulai aktivitas sosial dan ekonominya, dengan memperhatikan data epidemiologi tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan, kesiapan organisasi dan manajemen di daerah serta memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. Tahap ketiga adalah prioritas, yaitu proses memilih daerah atau sektor yang sudah boleh melakukan kegiatan sosial dan ekonomi secara bertahap. Dalam tahapan ini harus dilakukan simulasi untuk memastikan kegiatan tersebut dapat berkelanjutan.Tahap keempat adalah koordinasi pusat dan daerah. Tahap ini merupakan proses koordinasi timbal balik pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengambilan keputusan terkait penerapan new normal. Tahap kelima adalah tahap monitoring dan evaluasi dari pelaksanaan pemulihan aktivitas sosial ekonomi itu sendiri.

Entong menambahkan lagi kata-kata dari Pak Gubernurnya, yang menurutnya sudah pada level galak. ”Saya bisa saja menutup area publik kalau masyarakat masih tidak disiplin menjalankan protokol kesehatan. Di kota ini banyak orang berpendidikan, tapi tidak semua yang berpendidikan mau bersikap disiplin”, begitu kata Beliau. Wah setuju nih sama Pak Gubernurnya Entong.

“Nyak, baru kali ini gubernur sampai gitu. Itu termasuk dah kasar lho pak gubernur. Sekarang masuk kawasan ini wajib masker dan isi buku tamu”, begitu tambah Entong kepada Bulan. Wow, keren nih  gubernunya Entong.

Balik lagi ke kondisi di mana Bulan tinggal. Mau tidak mau kondisi ini harus diterimanya. Ya Bulan tidak bisa terus menerus bersembunyi di rumahnya. Walaupun kadang hati kecilnya masih berontak. Amankah ia di jalan? Itu pertanyaan yang selalu hadir dalam batinnya. Ya Bulan sang pustakawan adalah juga rakyat biasa. Sebagai aparat sipil negara, Bulan tentu harus menaati apa saja yang menjadi kebijakan yang dikeluarkan lembaganya. Walaupun pada praktiknya apa yang dikerjakan di rumahnya bisa menjadi lebih efektif dan efesin dibandingkan Bulan harus ke kantor. Layanan di perpustakaan yang dikelolanya memaksimalkan layanan daring dan pemanfaatan koleksi digital. Tentu perpustakaan tidak butuh kehadiran staf ke kantor dengan banyak orang, mungkin satu dua orang saja cukup untuk pelayanan di perpustakaannya yang tergolong perpustakaan khusus dengan pengguna terbatas.

Bulan senyum-senyum sendiri. Kadang dia tak habis pikir. Manusia tersandera oleh sesuatu yang tak terlihat tetapi mampu menimbulkan efek bahaya yang luar biasa. Lagi-lagi Bulan jadi teringat betapa besar kekuasan Tuhan atas semua ini. Dan betapa lemah dan kecilnya manusia atas ketidakberdayaannya. Ketangguhan dan kesombongan manusia luluh lantah seketika dengan hadirnya virus ini.

Dalam ketermanguannya, Bulan menerawang jauh ke dalam susana di mana manusia dapat bergerak leluasa dan dapat melakukan apa saja yang diinginkannya. Ya, tiba-tiba lamunan Bulan membawanya melayang ke masa di mana Bulan sangat bersuka ria melanglang Indonesa dengan program Diseminasi hasil-hasil penelitian lembaganya. Sebuah program yang mempromosikan terbitan hasil-hasil khazanah intelektual lembaganya lewat ajang pameran buku yang diadakan di seantero Indonesia. 

Sebuah perjalanan yang tak terlupakan oleh Bulan. Perjalanan yang tak mungkin terjadi untuk saat seperti ini. Ya, mengingatnya saja sudah cukup memuaskan dan meggembarikan hati Bulan. Minimal bisa senyum-senyum dan membayangkan keseruan yang terjadi saat itu.

Pernah Bulan akan bertugas ke Surabaya. Semua tiket dan dokumen yang diperlukan untuk naik pesawat sudah dipersiapkan dengan baik. Ndilalah di perjalanan, ada demo yang menghambat arus lalu lintas. Rupanya menghasilkan macet yang agak panjang. Bulan sudah merasa was-was khawatir tidak keburu perjalanan ke bandara. Ya, benar adanya. Bulan ketinggalan pesawat meskipun saat itu hanya beberapa menit saja. Dan Bulan masih mendengar namanya disebut untuk terakhir kalinya. Tetapi ia tak mampu mengejar dan terlalu lelah apalagi berlari dengan membawa ransel di punggungnya. Pasrah. Akhirnya Bulan reschedule untuk penerbangan berikutnya dengan harus membayar sejumlah biaya kembali. Apa boleh buat. Demi tugas negara.

Cerita lainnya adalah saat Bulan sedang melaksanakan tugas pemeran di Palu tepatnya di IAIN Palu. Hotel tempatnya menginap persis di pinggir pantai. Dan setiap malam selepas Isya, biasanya Bulan dan temannya keluar sebentar untuk membeli sekedar jajanan yang dijual oleh para kaum ibu di sepanjang jalan raya di depan hotel yang berderet sepanjang tepian pantai. Bulan bercengkerama dengan salah satu ibu pedagang hingga terasa haru. Betapa hidup mereka amat sedih dan perjuangan yang begitu rupa untuk dapat bertahan hidup dengan berjualan setiap malam hingga menjelang dini hari. Ya, tiga hari setelah pulang dari Palu terjadi musibah gempa yang meluluhlantahkan Palu dan sekitarnya. Bulan bersyukur masih diberi keselamatan selama berada di sana. Ia teringat dengan ibu sang penjual jajanan. Bagimana nasibnya. Apakah dia masih hidup. Hotel tempatnya menginap ikut hancur diterjang sunami, Begitupun kampus IAIN Palu tempatnya bertugas.

Pada kesempatan lainnya, Bulan dan dua temannya hampir ketinggalan pesawat menuju Jakarta setelah bertugas di Banjarmasin. “Barokallah walhamdulillah...masih rejeki kami kembali ke Jakarta dengan pesawat dan jam yang sama sesuai yang kami pesan.  Bagaimana tidak, kami sempat berlari2 dan nyaris tidak mendengar kalo nama kami disebut berkali-kali untuk segera masuk ke dalam pesawat. Padahal kami sempat ngopi-ngopi sesaat sebelum masuk ruang tunggu. Sesampainya di dalam, kami asyik dgn hp masing-masing dan tak sadar tak mengecek jam.  Sampai the last minute kami baru ngeh...dan segera check in, turun tangga dengan membawa koper dan ransel, lantas naik mobil penjemput yang isinya hanya kami bertiga, dan cusss...mobil mengantarkan kami ke pesawat yang sudah ready. Saat tiba hanya satu baris bangku itu saja yang kosong, tempat milik kami bertiga. Hihihi...baru kali ini kami ditunggu pesawat. Mohon maaf ya para kru dan penumpang lainnya. Tepat 10 menit menjelang take off, kami ready  terbang”, begitu kisah Bulan yang baru kali ini dilayani service excellent  maskapai terkemuka kebanggaan Indonesia.  Masih rejeki ya sampai ditunggu satu pesawat gini, hihihi.

Ada juga pegalaman lucu saat Bulan bertugas ke Pontianak. Setelah tugas pameran selesai sore itu. Bulan dan temannya hendak mencari makan malam. Kebetulan hotel tempatnya menginap berhadapan dengan sebuah rumah makan. Tak pikir panjang Bulan dan temannya pergi ke rumah makan tersebut. Terlihatlah sebuah penampakan menu yang cukup menggiurkan dan akan dipesannya untuk makan di tempat. Untunglah Bulan baru melihat-lihat dari luar dan belum sampai masuk ke dalam ruangan. Walhasil makanan yang akan dipesannya diurungkan setelah melihat tulisan bahwa bahan baku makanan tersebut adalah daging babi yang haram dimakan bagi muslim seperti Bulan dan temannya tersebut. Syukurlah Bulan tidak jadi makan. Bulan dan temannya jadi malu dan senyum-senyum sendiri. Untunglah rumah makan tersebut jujur dan mencantumkan bahan baku makanannya. Pelajaran buat Bulan dan temannya nih, agar lain kali baca dan teliti sebelum memesan. Ya Bulan sang pustakawan bisa kepleset juga yah. Katanya pustakawan literate tapi ternyata gak biasa membaca juga ya, hihihi. Itulah manusia tempatnya salah dan khilaf.

Ini adalah perjalan Bulan terkhir sebelum datangnya wabah Covid-19. Tepatnya saat pameran buku di Braga Bandung. Ini dia cerita Bulan.

Sore itu ceritanya mau siap-siap ikutan bedah buku, gak terlalu ingat judulnya apa tapi mc bilang ada Kang Maman Suherman. Ujug-ujug surprised... Kang Maman lagi liat-liat stand kuliner snack khas Bandung yang posisinya persis di depan stand saya. Gak melewatkan kesempatan langsung deh cuzzz....foto bareng. Tapi keren banget deh diskusinya. Kang Maman cerita soal kegiatan tulis menulis yg digelutinya selama ini.
1. Saat beliau skripsi dan topik  yg diambilnya ttg human trafficking. Ada resiko besar yg dihadapinya hingga resiko pembunuhan
2. Saat menjadi wartawan dan sempat trauma karena penghinaan seorang Ibu Artis  yg malah  menjadi hikmah besar karena beliau akhirnya memutuskan berhenti jd wartawan gosip Artis
3. Saat bersama gerakan Literasi di perahu pustaka yg mengalami musibah terbalik di lautan lepas dan tenggelam bersama kapal selama 15 menit...dan takdirnya beliau masih hidup...
4. Saat harus nginap di ruang mayat RSCM dan membuat puzzle potongan tubuh mayat yang sudah tak berbentuk...wow
Dan...masih banyak kisah hidup lainnya yg menegangkan dan luar biasa...
Kang Maman...terima kasih...banyak hikmah dan pelajaran yang saya ambil. Kisah-kisah yang dialaminya dituangkan dalam sebuah tulisan yang menarik, apik, menggunggah, inspiratif...dan pastinya ada kebenaran yg ingin diungkap di sana...
Ya ...menulis dengan hati sehingga ada ruh nya..amati..hayati...amalkan...
Sedikit tips menulis dari Kang Maman, buatlah writing blog dengan hastag. Saat kebuntuan itu hadir beralihlah ke tulisan yang lain dengan cara memanggilnya menggunakan hastag tadi. Okeh... menarik dan bisa dicoba.
Super Kang Maman...sore itu terasa bermakna sekali. Saya menjadi tercerahkan. Warbiasah. Akhirnya Saya harus ke hotel dan bersiap-siap kembali ke Jakarta.

Oke deh Bulan. Serangkaian ceritanya menjadi hikmah dan menambah kesyukuran atas nikmat yang selama ini diberikan Tuhan padanya. Jadi, kamu jangan sedih ya gak bisa jalan-jalan karena Covid-19. Perjalananmu kemarin-kemarin itu sudah cukp loh ya. Banyak yang tidak seberuntung kamu. Jadi banyak-banyak bersyukur ya…hihihi.

Senin, 01 Juni 2020

Pustakawan diantara Pancasila dan Pandemi


Oleh: Sirajuddin

Pandemi covid-19 dan berbagai informasi masih berkelindang di benak dan kehidupan kita yang dikemas dalam teori konspirasi yang kadang sengaja diplintirkan dan membuzzer info hoax di dunia maya yang seakan menjadi tempat berpijak,  kebosananpun mulai menggerogoti keinginan lahiriah kita untuk beraktifitas seperti sebelumnya, pun kita seakan mulai terbiasa dengan kebiasaan kebiasaan baru dalam menjalani aktifitas kehidupan kita.

Fenomena di balik hari lahirnya pancasila yang yang disusun oleh Dokuritsu Junbi Cosakai atau BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) tentu sarat dengan perjuangan, menyita waktu dan curah pikiran, oleh fonding fathers atau bapak bangsa Indonesia sehingga lahirnya ideologi pancasila sebagai dasar negara,  mungkin bisa menginjeksi spirit gotong royong untuk meningkatkan kualitas kepribadian,  melahirkan kebijakan dan kedisiplinan diri menghadapi keruwetan informasi yang bersliweran di dunia maya saat ini, dengan berbagai info provokatif yang yang berpotensi memecah belah masyarakat dan bangsa.

Dibutuhkan kreatifitas bagi para pegiat literasi, pejuang pena, dan pustakawan untuk mengedukasi masyarakat melalui literasi yang mungkin saat ini di dominasi oleh informasi yang dikemas dalam patform digital.

Spirit yang dibawa oleh sejarah.

Sejarah kelahiran pancasila yang jatuh pada setiap 1 juni,  lahir dari sebuah konsensus bersama antara golongan kebangsaan dan golongan islam yang diprakarsai oleh BPUPKI untuk meletakkan ideology pancasila  sebagai dasar negara pancasila di kala itu, Dan sejak tahun 2017, tanggal 1 juni resmi menjadi hari libur nasional untuk memperingati hari lahirnya pancasila.

BPUPKI pada tanggal 22 Juni 1945 membentuk Panitia Sembilan. Yang sempat direvisi oleh Sukarno atas dasar untuk menyeimbangkan sinergi dalam sebuah kepanitiaan yang diberi nama panitia sembilan  yang mempersatukan antar dua golongan ini yang masih sarat dengan kepentingan kepentingan politik namun ada kecenderungan untuk tetap mendirikan sebuah negara Indonesia merdeka

“Saudara saudara tetapi memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya bahayanya yang mungkin  orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvanisme sehingga berfaham Indonesia uberall, inilah bahayanya, kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, memiliki bahasa yang satu tetapi, tanah iar kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja daripada dunia, ingatlah tentang hal ini, kita bukan hanya mendidrikan Negara Indonesia tetapi, kita harus menuju kekeluargaan bangsa bangsa”. Petikan pidato Soekarno ini, mungkin mewakili keinginan untuk keluar dari masa pandemi Covid ini dengan kekuatan nasional, percaya kepada pemerintah dan bijak menanggapi kerja sama yang dibangun dengan Negara lain.

“Demokrasi yang mendatangkan kesejahteraan sosial, 5 prinsip kebangsaan Indonesia , nasionilisme atau pri kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, menyusun kemerdekaan Indonesia bertakwa kepada tuhan yang maha esa, masing masing orang Indonesia menyembah tuhannya sendiri. Mari menjlankan agama dengan cara berkeadaban dengan saling menghormati satu sama lain pidato ini yang disimpulkan lahirnya gotong royong”. Di masa ini gotong royong yang dibahasakan sinergi bisa menjadi senjata ampuh bersahabat dengan kondisi saat ini, kondisi yang menekan ruang gerak aktifitas.

Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPKI.


HLP bagi pustakawan

Dilansir dari Encyclopaedia Britannica.  Burung garuda dan elang merupakan spesies yang sama. Banyak orang yang mengatakan bahwa garuda adalah elang. Kata "Garuda" berawal dalam mitologi Hindu, yang merupakan burung dan kendaraan Dewa Wisnu. Memilih garuda atau burung elang adalah sebuah filosofi ketangguhan,  keuletan yang dimiliki burung pemberani yang bercakar dan berparuh kokoh ini.

karakter elang selalu mencari tempat yang lebih tinggi karena semakin tinggi ia terbang, maka semakin kencang pergerakan angin yang ia dapatkan dia bisa mengatur kepakan sayapnya dan kadang mengistirahatkan, ini bisa dimaknai sebagai proses antusiasme untuk mengembangkan diri dalam kehidupan dan menemukan hal hal baru. Kebiasaan burung elang yang suka melawan badai ini kita bisa memetik makna bahwa kita seharusnya tidak goyah dan seharusnya kit bisa berkawan dengan masalah yang dianalogikan sebagai badai.

Lantas bagaimana Pustakawan (pengelola perpustakasn) merespon stimulus dari spirit HLP,  yang masih belum lepas dari kesemrawutan informasi dan berita bohong (hoax) dan upaya layanan di masa pandemi Covid-19 ini?, kondisi yang mengharuskan  kita untuk stay at home atau mungkin lockdown.

Sejak berpandeminya virus korona yang menelan banyak korban ini perpustakaan dan segala layanannya jadi vakum jejeran buku di rak tidak terjamah,  meja layanan yang biasa ramai dengan antrian pemijaman dan pengembalian buku tidak lagi terlihat, tidak lagi kita jumpai antrian panjang pemustaka dengan menenteng buku pinjaman perpustkaan, bahkan di perguruan tinggi kita tidak menemukan lagi kegiatan kajian ilmu yang biasa dilakukan di perpustakaan di sela jam kosong belajar.

Banyak hal yang secara konkret hilang saat dimana semua kegiatan berubah dalam pola virtual ataupun kerja dari rumah WFH. Yang ditetapkan oleh persiden RI. Joko widodo istana kepresidenan Bogor 15 Maret 2020, dan hari ini bangsa Indonesia di stimulus oleh "Hari Lahir Pancasila" yang mungkin bisa menjadi pemantik bagaimana kita menghadapi Tatanan normal baru (new normal), dengan kebiasaan yang berbeda dengan hari normal sebelum pandemi Covid-19.

Layanan koleksi/buku digital digiatkan,  portal-portal aplikasi perpustakaan bisa diakses dimana saja seperti iPusnas,  repositori perpustakaan,  Eresources, sumber pembelajaran Open Education Resourches (OER),  sumber you tube,  web dan blog literasi bagi pemustaka  dan banyak buku buku cetak yang dialih mediakan dan disebar secara gratis pada platform digital. 

New Normal yang akan diberlakukan, selayaknya kita lakoni sebagai new local wisdom dengan kesadaran pancasila dan sikap gotong royong melawan Covid-19.

Artikel ini telah tayang di http://pijarnews.com edisi 1 juni 2020 dengan judul "pancasila dan pandemi bagi Pustakawan