Senin, 20 Januari 2020

Apakah Sekolah Memandulkan Intuisi Kita ?

Oleh : Bambang Haryanto

Mobil patroli polisi menanti lampu hijau menyala. Opsir tua menyopir. Mitranya, yang muda,mengamati mobil BMW baru yang ada di depan mereka. Dia lihat sopirnya merokok. Sendirian. Lalu membuang abu rokok ke jok kosong.

"Membuang abu rokok ke jok mobil baru?" Insightnya berputar keras. "Tidak mungkin pemilik melakukan hal itu.Tidak juga teman si pemilik mobil tersebut."

Gotcha !

***

Kenneth Williams, agen FBI di Phoenix, Arizona, AS, mengendus hal mencurigakan. Dua bulan sebelum 11 September 2011 ia melihat sejumlah warga Arab ambil les menerbangkan pesawat.

Herannya, mereka tidak berlatih hal yang paling penting dari penerbangan : saat take-off dan landing.

Insight Williams terpatuk. Tanggal 10 Juli 2011 dia kirim memo ke markas besar FBI. Sohor sebagai Memo Phoenix. Dia menyarankan mengawasi aktivitas serupa di seluruh negeri. Juga memeriksa visa orang asing yang belajar penerbangan di Amrik. Sayang, memonya tidak digubris markas besar FBI.

Kedua cerita tentang insight itu saya baca dari buku Seeing What Others Don't (2013), karya Gary Klein.

***

Ketajaman insight di era VUCA yang banyak kekaburan akan jadi faktor pembeda kita meraih sukses. Sayangnya, di pendidikan kita, murid-murid terpenjara dalam tembok. Pepatah luhur alam terkembang jadi guru, hanya jadi slogan belaka!
           
 

Selasa, 31 Desember 2019

KEBERKAHAN UMUR SEORANG PUSTAKAWAN (Sebuah Renungan Pergantian Tahun Baru)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)


Setiap manusia yang lahir ke dunia, siapapun dia, apapun profesinya (Guru, Dokter, Pustakawan, dan sebagainya) tentu diberikan umur yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) Tuhan Yang Maha Esa dan nantinya akan dimatikan untuk kembali kepada Tuhannya.

Umur panjang atau pendek sama saja, yang terpenting adalah kualitas hidup kita dalam  memanfaatkan umur untuk kebaikan dan ibadah sehingga umur menjadi berkah meskipun umurnya pendek.

Umumnya orang berdoa kepada Allah SWT Tuhan YME agar diberi-Nya umur panjang. Sedikit sekali atau bahkan mungkin tidak ada orang yang menginginkan berumur pendek. Mereka tentu memiliki alasan masing-masing. Namun umumnya alasan mereka adalah karena ingin memiliki amal baik yang cukup semasa hidupnya sebagai bekal hidup abadi di akhirat. Hal ini memang memiliki dasar yang kuat sebagaimana ditegaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  (SAW) yang artinya: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?Beliau menjawab: Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi) 
 
Hadits itu telah menginspirasi banyak orang termasuk seorang PUSTAKAWAN untuk senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi-Nya umur panjang. Mereka telah meyakini bahwa salah satu tanda orang terbaik adalah apabila seseorang berumur panjang dan hidupnya penuh dengan amal-amal kebaikan. Mereka yang umurnya panjang tetapi amal-amal kebaikannya amat sedikit tidak termasuk orang-orang terbaik, bahkan mereka digolongkan sebagai orang-orang yang merugi.   

Namun demikian adalah kenyataan bahwa tidak setiap orang berumur panjang meski mereka berdoa demikian. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana dengan mereka yang berumur pendek? Apakah mereka dengan sendirinya tidak termasuk orang-orang terbaik? 

Baca juga: Senyum Pustakawan
Untuk menjawab pertanyaan di atas kita dapat merujuk penjelasan dari Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 47) sebagai berikut:   “Sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah SWT, yang diberi-Nya taufiq untuk mengerjakan amalan saleh dan kebajikan-kebajikan lain baik yang khusus maupun yang umum”.

Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah SWT, yang diberi-Nya bimbingan untuk melakukan berbagai kesalehan dan kebajikan. Jadi kebaikan seseorang sebetulnya tidak semata-mata bergantung pada umurnya yang panjang, tetapi lebih pada seberapa banyak amal kebaikan yang dilakukannya semasa hidupnya. Penjelasan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW di atas. 

Oleh karena itu, bisa saja seorang PUSTAKAWAN berumur pendek tetapi amal kebaikannya sangat banyak dan mungkin sama atau bahkan melebihi mereka yang berumur panjang. Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang terbaik karena mampu memanfaatkan umurnya yang pendek untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Inilah umur yang penuh dengan berkah dari Allah SWT.   

Sebagai contoh beberapa orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya sangat banyak dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas sehingga bisa ditiru oleh para PUSTAKAWAN. Di antara contoh itu adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’í. Beliau wafat dalam usia 54 tahun. Meski usia beliau tidak panjang, namun beliau semasa hidupnya mampu menghasilkan banyak kebaikan seperti karya-karya tulis yang sangat penting bagi kaum Muslimin.

Di antara karya-karya besar Imam Syafi’i adalah pertama: Kitab Ar-Risalah yang merupakan kitab tentang Ushul Fiqh. Kedua, Kitab Al-Umm yang merupakan kitab tentang mazhab fiqihnya. Ketiga, Kitab Ikhtilaf al-Hadits yang merupakan kitab tentang hadits. Keempat, Kitab Tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i yang merupakan kitab tentang tafsir Al-Quran, dan lain sebagainya. Beberapa sumber menyebutkan jumlah kitab karangan Imam Syafi’i lebih dari 120 buah, dan beliau hafidz Qur’an dalam usia 7 tahun.   

Contoh lain orang saleh yang tidak berumur panjang namun amal kebaikannya sangat banyak adalah Abu Hāmid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Al-Ghazali. Beliau wafat dalam usia 55 tahun. Meski beliau berumur pendek, namun begitu besar sumbangsihnya bagi masyarakat luas, khususnya kaum Muslimin. Beliau dijuluki Hujjatul Islam karena jasa-jasanya membela kebenaran Islam dengan mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran dengan argumen yang sulit dipatahkan oleh lawan.   

Di antara karya-karya besar Imam Al-Ghazali adalah pertama: kitab Ihya Ulumiddin yang merupakan kitab tentang akhlak dan tasawuf. Kedua, kitab Jawahir Al-Qur’an yang merupakan kitab tentang tafsir Al-Qur’an. Ketiga, kitab Al-Basith dan Al-Wasith yang merupakan kitab tentang ilmu fiqih dan ushul fiqih. Keempat, kitab Maqashid Al-Falasifah dan Al-Arba’in fi Ushuluddin yang merupakan kitab filsafat dan ilmu kalam, dan lain sebagainya. Beberapa sumber menyebutkan jumlah kitab karangan Imam Al-Ghazali lebih dari 200 buah.

Dari apa yang dijelaskan dan dicontohkan di atas sangatlah jelas bahwa pemahaman  tentang umur yang baik adalah umur yang dipenuhi dengan kebaikan yang bisa diraih oleh orang-orang yang  saleh meskipun tidak berumur panjang, namun amal-amal kebaikan dan karyanya sangat banyak sebagaimana disebutkan di atas, yakni Imam Syafií dan Imam Al-Ghazali.

Saya teringat dengan sebuah nasehat perkataan dari almarhum Buya Hamka yang dikenal sebagai seorang Ulama dan Sastrawan Indonesia, beliau mengatakan bahwa “kita sudah MATI hancur dikandung tanah, tapi kita masih hidup. Dalam umur yang sekian pendeknya yang telah kita lalui di dunia, misalnya 100 tahun, dia bisa kita panjangkan. Dengan apa! Dengan sebutan, dengan amal, dengan bekas tangan, dengan iman dan amal shaleh”. Sesuai dengan apa yang disebut dalam pantun Melayu “Pulan Pandan Jauh Ditengah, Dibalek Pulau Angsa Dua, Hancur Badan Dikandung Tanah, Budi Yang Baik Terkenang Jua”.

Ada juga satu syair dari Syauqi Beikh seorang Penyair Arab Mesir yang terkenal mengatakan “Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu yang akan dikenang orang daripada dirimu, karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia”. Banyak orang yang setelah dimasukan ke dalam kubur, masuk sudah ditimbun kubur tadi, orangpun pulang ke rumah, sebutan orang tadi keluar dari kuburnya tiap hari dia keluar, setahun, dua tahun, sepuluh tahun, seratus tahun, malah ada yang beribu tahun.

Nabi kita Muhammad SAW umurnya cuma 63 tahun, tapi beliau sampai sekarang sudah 1440 tahun, masih seperti kemaren saja hidup beliau itu, menjadi sebutan orang siang dan malam. Inilah maksud yang dikatakan orang, “sesudah mati dia hidup kembali, lebih panjang umurnya 63 tahun dibandingkan dengan 1440”. Dan selama adzan masih kedengaran  di puncak menara, entah ratusan ribuan lagi, itu nama akan tetap hidup.

Baca juga: Pustakawan Berakhlak Nabi Muhammad saw.
Oleh karena itu, sebaik-baik umur manusia adalah umur yang diberkati Allah SWT. Hal ini meliputi umur panjang dan banyak digunakan untuk melakukan amal-mal saleh dan kebajikan-kebajikan lainnya. Selain itu adalah umur yang tidak panjang namun banyak digunakan untuk mengerjakan kesalehan-kesalehan hingga pada tingkat tertentu yang setara atau malahan lebih banyak dari mereka yang berumur panjang. 

Agar umur kita panjang, Rasulullah SAW mengajarkan dalam sabdanya yang artinya : "Siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung silaturahim." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan juga kita dianjurkan untuk memperbanyak doa berikut, yaitu Allahumma aktsir mali wa waladi wa barik li fima a’thoitani wa athil hayati ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amali waghfirli. (Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau berikan padaku. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku).

Berharap semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki umur yang diberkati Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

Minggu, 22 Desember 2019

Kursi Terbang dari Onggokan Kertas

Kursi Terbang dari Onggokan Kertas

               Hari ini begitu banyak orang memberikan ucapan dan do-doa terbaiknya untuk ibunda tercinta. Ya, Ibu sosok yang luar biasa. Wajar bahkan sepatutnya ibu mendapatkan perhatian yang lebih, baik oleh anak-anaknya bahkan negara sekalipun. Begitupun ibu di mata sang pustakawan yang satu ini. Ya bagi Bulan, ibu adalah sosok tangguh yang mengagumkan.

               Bulan jadi ingat, saat kecil dahulu ibu sering mendapat kertas-kertas bekas baik dari tetangga ataupun dari orang yang tak dikenal sekalipun. Untuk apa kertas-kertas itu. Ya itu adalah kertas-kertas bekas untuk membungkus dagangan ibu karena ibu berjualan sayuran. Orang memberikan secara cuma-cuma kepada ibu. Ibu dengan senang hati menerimanya. Dari sekian banyak kertas bekas itu, ada yang berupa buku bekas, majalah bekas, koran bekas, dan lembaran-lembaran lepas.

               Apa semua kertas-kertas itu untuk membungkus dagangan ibu. Tidak. Ternyata ibu mampu melakukan klasifikasi. Klasifikasi sederhana dengan memisahkan mana kertas-kertas tersebut yang akan dipakai untuk membungkus dagangan, dan mana yang akan disisihkan untuk Bulan kecil belajar membaca dan menulis. Maklumlah, ibu dengan kondisi ekonomi yang sederhana memaksa otaknya berfikit keras untuk bisa memenuhi kebutuhan informasi dan edukasi anak-anaknya.

               Kertas hasil pilahan ibu memang tidak salah. Pilahan yang tepat. Banyak sekali tumpukan kertas itu berupa buku-buku bacaan atau buku cerita yang menarik untuk Bulan kecil. Ibu membiarkan Bulan kecil yang belum bisa membaca dan menulis itu untuk men-corat-coret dan berkhayal dengan gambar yang dilihatnya. Ibu tersenyum bahagia saat melihat betapa antengnya Bulan kecil menikmati dan menelususri tiap halaman yang membawa imajinasinya jauh ke negeri antah barantah.

               Sebuah buku tentang kursi terbang mencuri perhatian Bulan kecil begitu rupa. Ya lembaran buku itu sudah lepas-lepas dan lecek. Halamannya sedikit lusuh dan kusam karena beberapa coretan tak beraturan dan berdebu. Tetapi buku itu full colour, gambarnya menarik dan hidup. Tak henti-hentinya Bulan kecil memandangi dan mulutnya berkomat-kamit, berceloteh  sendiri membaca buku tersebut menurut imajinasinya. Ya tokoh dalam dalam buku tersebut adalah seorang anak kecil yang sedang duduk di kursi. Kursi itu bisa terbang kemana saja anak itu mau. Seperti karpet terbangnya Aladin yang terbang ke sana kemari sesuka hati membawa Aladin berkelana. Sebuah kursi terbang yang membawa gadis kecil itu  melihat pemandangan indah dari atas.

               Bulan kecil tak bosan-bosannya membaca buku itu. Dan Bulan kecil selalu memamerkan kepada ibunya bahwa Bulan kecil ingin terbang juga seperti anak kecil dalam buku cerita itu. “ Ibu, kapan-kapan Bulan mau terbang ya bu sama kursi ini. Bulan mau pergi ke mana ajah,” celetuk Bulan kecil sambil menatap ibunya dengan senyum khas bocah lima tahun.  Ibu hanya tersenyum, “Iya nak, suatu saat kamu pasti bisa terbang, kamu bisa mejelajah bumi yang luas ini,” jawab ibu yakin selaksa doa yang mantap dipanjatkan ibu kepada Tuhannya sambil mengelus kepala Bulan kecil.

              Ibu dan harapannya selalu menjadi doa yang diaminkan semesta. Kini Bulan merasakan dan menikmati imajinasinya puluhan tahun lalu. Ibu adalah penghantar sejatinya. Bermula dari seonggok kertas bekas yang membangkitkan mimpi indah untuk kebahagiaan anak-anaknya, pandangan  ibu jauh ke depan melampaui keterbatasan hidupnya. 

Sabtu, 21 Desember 2019

Ibu Kunci Sukses Pustakawan (Refleksi Hari Ibu Nasional)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

Seperti kita ketahui bersama bahwa tanggal 22 Desember 2019 bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu Nasional (HIN) yang ke-91 dengan tema Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Hari Ibu lahir dari pergerakan perempuan Indonesia diawali dengan  Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928 di Yogyakarta telah mengukuhkan semangat dan tekad bersama untuk mendorong kemerdekaan Indonesia.

Hakekat HIN setiap tahunnya adalah mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda akan arti dan makna Hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Termasuk juga untuk mendorong semua pemangku kepentingan guna memberikan perhatian, pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan. Dan pada akhirnya memberikan keyakinan yang besar bahwa perempuan akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya serta mengembangkan segala potensi dan kemampuan sebagai agen penggerak (agent of change).  Untuk itu sebagai apresiasi atas gerakan yang bersejarah itu, HIN ditetapkan setiap tanggal 22 Desember sebagai hari nasional para ibu.


Keistemewaan Ibu

Ada sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh grup musik Nasidariya yang isinya sangat menyentuh hati kita semua yang menceritakan tentang kemulian ibu, yaitu

Ibu, kaulah wanita yang mulia
Derajatmu tiga tingkat dibanding ayah
Kau mengandung melahirkan menyusui mengasuh dan merawat
Lalu membesarkan putra-putrimu Ibu
Lautan kasih sayang
Pada setiap insan
Mataharinya alam
Sebagai perumpamaan
Dunia isinya belumlah sepadan
Sebagai balasan ibumu melahirkan
Doanya terkabulkan keramat di dunia
Kutuknya kenyataan jangan coba durhaka
Syurganya Tuhanmu dibawah kakinya
Ridhanya Ibumu ridha Tuhan jua
Wahai jangan jadi anak durhaka
Marilah berbakti pada Ibunda

Dari lirik lagu tersebut, apa yang menjadikan seorang ibu begitu istimewa? Setiap anak sungguh telah merasakan keistimewaan seorang ibu. Ibu adalah orang yang telah mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, mendidik, dan membesarkan.

Begitu besar pengorbanan seorang ibu, Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (SAW) dalam hadisnya yang disampaikan oleh Abu Hurairah RA, berkata, "Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai, Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi SAW menjawab, 'Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.

Baca juga: Angpao Pustakawan
Perintah penghormatan yang besar kepada seorang ibu juga banyak disebutkan dalam Al- Quran. Contoh, perintah hormat kepada ibu disebutkan dalam QS Luqman ayat ke-14. "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.

Kebaikan ibu sangatlah luas dan tak pernah dapat tergantikan dengan apapun. Seberapa banyak harta kekayaanmu, tak akan pernah bisa lunas untuk membayar kebaikan ibu. Maka, buatlah beliau tersenyum bahagia.

Membahagiaan ibu juga adalah perintah Agama. Dikisahkan, seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Aku akan berbai'at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis." Rasulullah SAW bersabda, "Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis." (HR. Abu Dawud).

Peran Ibu

Perempuan sebuah kata yang memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seorang perempuan menikah, lalu mempunyai seorang anak maka perempuan tersebut bermetamorfosis menjadi seorang ibu. Di Jepang jabatan seorang ibu sangatlah mulia. Banyak wanita-wanita Jepang yang lebih memilih mengundurkan diri dari karir profesionalnya ketika mempunyai seorang anak. Mereka merasa lebih bahagia, tersanjung dan mulia dengan jabatan dan tugasnya sebagai seorang ibu. Para wanita Jepang menganggap bahwa mendidik seorang anak sama profesionalnya dengan para wanita pekerja.

Karenanya, membahas peran Ibu untuk kesuksesan anaknya, seperti halnya saya seorang pustakawan yang telah berhasil memiliki prestasi dalam skala global, semuanya adalah berkah kemuliaan seorang ibu yang telah melahirkan kita yang selalu berusaha berdoa untuk anaknya, bagaikan tarikan nafas kita. Apa yang kita rasakan ketika kita berhenti menarik nafas? Disadari atau tidak menarik nafas terus menerus kita lakukan dalam keadaan dan kondisi apapun. Kita tidak pernah bisa menahan nafas dalam waktu yang lama bukan? Begitu pun peran seorang ibu terhadap anaknya, berlangsung secara terus menerus dan tidak pernah berhenti hingga ajal menjemput. Banyak para ahli yang berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional seorang ibu pada anaknya merupakan salah satu aspek penting kesuksesan hidup seseorang.

Pernah suatu ketika seorang jamaah mau mengetahui tentang kesuksesan Ustaz Abdul Somad (UAS). Yang  mereka jadikan sebagai sumber informasinya adalah ibunya, karena ibunya yang paling dominan dalam mendidik UAS sehingga bisa menjadi terkenal di Tanah Air hingga luar negeri seperti sekarang ini. Lalu jawaban ibundanya UAS, “Kalau mendidik UAS harus menerapkan disiplin. Pendidikan agama merupakan hal utama dalam mendidik UAS. Saya mendidik UAS dengan keras tak mau lembek. Anaknya harus disiplin. Ilmu agama selalu diberikan kepada UAS. Mengenai ajaran agama ibunda selalu keras dan sangat menyayangi anaknya”. Di sinilah peran ibu sangat amat penting terhadap pendidikan anak, ia menjadi seorang A, B atau C adalah karena orang tuanya. Karena itu sudah bukan rahasia lagi, jika dibalik anak yang hebat selalu ada ibu yang hebat.
Baca juga: Pustakawan Berakhlak Nabi
Satu hal yang menarik dari hasil didikan ibunya UAS adalah kasih sayang yang selalu diberikannya pada UAS. Bentuk kasih sayang, seperti pelukan, kecupan hangat, belaian, dukungan dan bentuk lainnya sangat dibutuhkan anak untuk kesehatan mentalnya di masa depan. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Child Trends sebuah organisasi riset nirlaba terkemuka di Amerika Serikat berfokus pada peningkatan kehidupan anak-anak, remaja, dan keluarga mereka.

Diketahui bahwa dengan kehangatan dan kasih sayang yang diungkapkan oleh orangtua kepada anak-anak akan menghasilkan dampak positif seumur hidup. Efeknya antara lain, anak jadi memiliki harga diri yang lebih tinggi, kinerja akademis yang lebih baik, dan risiko mengalami masalah psikologis juga lebih rendah. Sebaliknya anak-anak yang tidak memiliki orangtua yang menyayangi cenderung memiliki harga diri yang rendah dan merasa lebih terasing, agresif, dan anti social.

Pada 2010, para periset di Duke University Medical School juga menemukan bahwa bayi dengan ibu yang sangat sayang dan penuh perhatian tumbuh menjadi orang yang lebih bahagia,
lebih tangguh, dan tak mudah. Penelitian ini melibatkan sekitar 500 orang yang dianalisis saat masih bayi sampai berusia 30-an. Ketika bayi berusia delapan bulan, psikolog mengamati interaksi ibu mereka dengan mereka saat mereka melakukan beberapa tes perkembangan. Para psikolog menilai tingkat kasih sayang dan perhatian ibu pada skala lima poin mulai dari yang" negatif" hingga " boros" . Hampir 10 persen ibu menunjukkan tingkat kasih sayang rendah, 85 persen menunjukkan jumlah kasih sayang normal. Lalu sekitar 6 persen menunjukkan tingkat kasih sayang yang tinggi. Kemudian 30 tahun kemudian, orang-orang yang sama diwawancarai tentang kesehatan emosional mereka. Orang dewasa yang ibunya menunjukkan kasih sayang secara 'boros' atau sering memeluk dan membelai, tidak mudah mengalami stress, cemas, tetapi  mudah dalam interaksi sosial.

Selamat hari ibu, kasih sayangmu akan selalu dirindukan, dengan jasamulah kami bisa menjadi orang-orang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin.

Kamis, 19 Desember 2019

Kesetiaan Pustakawan dan Pemustaka (Refleksi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional)

Oleh. Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata setia yang bisa bermakna patuh, taat, berpegang teguh pada janji, pendirian, tetap dan teguh hati dalam persahabatan, dan sebagainya. 

Sebuah kesetiaan menjadi sangat penting ketika kita berinteraksi berkawan dengan orang lain. Sebuah ungkapan bijak yang disampaikan oleh Bob Sadino mengatakan bahwa “Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi setia kawan, bijaksana, mau menghargai, menerima teman apa adanya dan suka menolong, itulah kunci banyak sahabat.”
Begitu pentingnya sebuah kesetiakawanan, maka setiap tanggal 20 Desember Indonesia memperingati Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang di tahun 2019 ini mengusung tema "Kesetiakawanan Sosial Menembus Batas."

HKSN diperingati setiap tahun sebagai rasa syukur dan hormat atas keberhasilan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam menghadapi ancaman bangsa lain yang ingin menjajah kembali bangsa kita dan juga untuk mengenang, menghayati dan meneladani semangat persatuan, kesatuan, kegotongroyongan, kekeluargaan dan kerelaan berkorban tanpa pamrih rakyat Indonesia yang secara bahu membahu mengatasi permasalahan dalam mempertahankan kedaulatan bangsa atas pendudukan kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia oleh tentara Belanda pada tahun 1948. Dan harapannya  dapat mewujudkan kembali semangat kebersamaan, simpati, empati serta mendorong orang untuk berbuat yang terbaik bagi orang lain, seperti ia berbuat baik untuk dirinya sendiri, membangun integrasi sosial, menyatukan ikatan, tidak ada lagi sekat perbedaan yang menjadi masalah dan beban antar umat tersebut.

Dalam konteks dunia kepustakawanan sebuah kesetiakawanan menjadi modal penting dalam membangun komunikasi persahabatan antara seorang pustakawan yang bertugas melayani dengan setulus hati kepada setiap pemustaka (pengguna) yang datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan jasa layanan yang diberikan oleh pustakawan melalui perpustakaan.  

Kesetiakawanan antara pustakawan dengan pemustaka ibarat dua sisi mata uang yang saling membutuhkan tidak dapat dipisahkan antara keduanya, sehingga keduanya harus dibangun dalam sebuah bingkai kesetiakawanan yang harmonis sehingga mampu menjadikan sebuah perpustakaan yang bisa dimanfaatkan secara maksimal.  

Banyak upaya yang bisa dilakukan dalam membangun kesetiakawanan yang harmonis dengan orang lain termasuk antara pustakawan dan pemustaka. Pertama, Berlaku Jujur dan Dapat Dipercaya. Ekspresikan apa yang sesungguhnya kita rasakan. Berusahalah untuk tidak menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya saat berbicara antara pustakawan dan pemustaka. Ketika ada sesuatu yang salah sampaikan dengan bijak. Setia bukan berarti takut mengutarakan pendapat dengan jujur dan lugas. Sebaliknya, berbohong justru akan membuat orang lain tidak memercayai kita dan tidak menganggap kita setia.

Kedua, Jangan bergosip. Membicarakan seseorang di belakangnya adalah tindakan yang dianggap tidak jujur dan tidak setia. Jangan memercayai gosip, pun jangan ikut menggosipkan seseorang yang dekat dengan kita. Jika kita memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tertentu, bicaralah langsung dengan orang tersebut alih-alih ikut bergosip atau menyebarkan rumor. 

Jika kita mendengar orang lain bergosip di sekitar kita, mintalah mereka untuk berhenti melakukannya. Kita boleh mengatakan, "Sebaiknya jangan bergosip atau menyebarkan rumor", atau "Saya lebih suka berbicara langsung dengannya daripada memercayai gosip."

Ketiga, Penuhi komitmen kita. Temuilah orang jika kita sudah berjanji kepadanya termasuk janji yang dibuat oleh pustakawan dan pemustaka. Penuhi komitmen yang telah kita buat dan menepati apa yang sudah kita janjikan kepada orang lain menunjukkan bahwa kita bisa bisa dipercaya. Jangan mudah ingkar janji dengan apa yang kita sampaikan maupun membatalkan rencana karena akan menunjukkan bahwa kita tidak dapat dipercaya. Kita bisa dengan cepat membangun reputasi buruk karena ingkar janji dan tidak berhati-hati dengan tindakan kita.

Datanglah tepat waktu dan hadirlah untuk orang lain jika kita telah berjanji. Gunakan tindakan kita untuk menunjukkan bahwa jika kita berkata akan datang, berarti kita benar-benar bermaksud demikian. 

Keempat, Jadilah pendengar yang baik. Tunjukkan kesetiaan kita antara pustakawan dan pemustaka dengan meluangkan waktu untuk mendengarkan perkataannya. Tatap matanya dan menangguklah selama mendengarkan ucapannya. Hindari memotong ucapan orang lain selama mereka bicara, ataupun menguasai pembicaraan. Alih-alih, berikan perhatian penuh selama ia bercerita. Kita juga bisa meyakinkan orang lain bahwa kita mau mendengarkannya kapan saja. Kita mungkin bisa mengatakan “Aku (Pustakawan) selalu ada di sini kalau kamu (Pemustaka) butuh teman bicara”, atau “Aku selalu mau mendengarkan ceritamu.”

Baca juga: Senyum Pustakawan
Kelima, Berikan solusi dan ide yang positif. Kita juga bisa memberikan dukungan dan bermurah hati kepada orang lain dengan berfokus pada hal-hal positif dalam suatu situasi atau bahkan masalah. Berusahalah untuk memberikan solusi dan ide yang bisa membuat orang lain merasa optimis dan produktif.

Misalnya, Pustakawan bisa memberikan dukungan untuk pemustaka yang baru saja ditolak judul risetnya dengan mengingatkan segala hal positif dalam hidupnya bahwa masih banyak tema-tema menariknya lainnya yang tersedia di perpustakaan yang bisa digali. 

Keenam, Menjaga jarak yang sehat. Buatlah pilihan untuk setia kepada orang lain. Kesetiaan adalah sesuatu yang seharusnya kita berikan kepada orang lain karena keinginan sendiri, bukan karena terpaksa. Jangan merasa kita harus setia kepada orang lain lain yang meminta dan mengharapkannya. Alih-alih, buatlah pilihan sendiri untuk setia kepada mereka yang kita percaya dan yakini.
Ingatlah bahwa kesetiaan bukan berarti membutakan diri dan mengikuti apa saja yang orang lain inginkan atau harapkan. Sebaliknya, kita seharusnya merasa ingin setia kepada orang lain berdasarkan karakter dan tindakannya.

Kesetiakawanan antara pustakawan dan pemustaka bisa menjadi tantangan karena membutuhkan kesabaran dan kemurahan hati. Kesetiaan sesungguhnya adalah kemampuan untuk mengutamakan orang lain sebelum diri sendiri dan mendampingi mereka di waktu senang maupun susah. 

Rabu, 04 Desember 2019

Gaji Kecil Tidak Menghambat Untuk Berprestasi

Oleh: Veny Fitriyanti
Bekerja di perpustakaan sekolah negeri, jika kamu bukan PNS maka kamu harus persiapkan tenaga dan HATI untuk menerima upah yang kecil dibawah standar UMR. Kalo sudah begitu apakah kinerja kamu di perpustakaan asal-asalan, malas-malasan ato tetap giat dan bekerja ikhlas.
Jujur saja sebelum saya PNS, Tahun Oktober 2008- Februari 2009 (kalo gak salah ingat) saya pernah bekerja di perpustakaan sekolah yaitu Pondok Pesantren Darul Arafah di Tanjung Anom, Deli Serdang (tempat ustadz somad dulu loh). Saat sahabat saya sudah gaji 2 jutaan, saya hanya 750rb. Tapi bagi saya, gaji itu wajar karna makan ditanggung dan nginap di asrama putri.
Namun masih ada yang lebih kecil lagi gajinya bekerja di Perpustakaan Sekolah khusus yang di Negeri nih, rata-rata kemampuan sekolah hanya bisa memberi gaji 250rb-300rb. Nah hal ini terus jadi perbincangan hangat di kalangan pustakawan. Banyak yang gak terima tapi tetap menerima dengan legowo karna sulitnya lowongan kerja dan susahnya lulus masuk PNS.
Sehingga harap maklum kalo mutu Perpustakaan sekolah negeri rata-rata tidak bagus, kayak gudang, dsb karena gaji yang terlalu minim.
Tahun 2019, Bagian Perpustakaan dan Kearsipan Setdakab Aceh Tamiang mempunyai program kegiatan yaitu Lomba Perpustakaan Desa dan Perpustakaan Sekolah Terbaik Tingkat SD, SMP, SMA Se-kabupaten Aceh Tamiang. Perpustakaan Sekolah dan Desa akan diberi kuisioner dan Juri akan memeriksa jawaban dengan melihat sendiri Perpustakaan tersebut. Untuk Tingkat SMP dan SMA ada tahap presentasi lagi.
Rata-rata yang ikut lomba ini hampir semuanya Kepala Perpustakaan Sekolah yang sudah PNS fungsional dan bersertifikasi, kecuali Perpustakaan SD. Hal ini yang membuat jiwa saya tergugah untuk menulis kisah inspiratif ini.
Juara I Lomba Perpustakaan Sekolah Terbaik Tingkat SD Se-kabupaten Aceh Tamiang diraih oleh SD Negeri Tangsi Lama, Kecamatan Seruway.
Sekolah ini terletak di desa banget dan Tenaga Pengelola Perpustakaannya bernama Safrida Nita hanya tamatan SMA dengan gaji hanya 300rb.
Yang saya kagumi dari Nita (nama panggilan Safrida) adalah kemauan nya untuk belajar tentang perpustakaan mulai dari Nol. Dukungan penuh Kepala Sekolah SD Tangsi Lama Bapak Nurdin S.Pd untuk Nita juga turut mempengaruhi kinerjanya demi meningkatkan mutu Perpustakaan Sekolah walaupun hanya dari Sekolah SD desa kecil.
Saya membina dan melatih Nita sama seperti di sekolah lain mulai dari membuat buku inventaris perpustakaan, Klasifikasi, buat nomor punggung hingga Laporan jumlah buku per judul dan eksemplar, peminjaman dan pengunjung perpustakaan per tahun dsb.
WhatsApp saya pun selalu jadi tempat alternatif Nita bertanya apa-apa saja yang tidak mengerti. Mungkin bagi anda kelihatannya sepele.
Anda salah Ferguso!!!!!😎😎
Menulis inventaris tumpukan buku dari awal, mengklasifikasikan buku sesuai Dewey Decimal Classification (DDC) itu sudah bikin anda demam meriang. Apalagi seorang Nita yang bukan sama sekali lulusan Perpustakaan. Bahkan bukan sekali Nita mengeluh pusing, buntu bahkan pernah gak enak badan selama perbaikan perpustakaannya.
Namun dijalankan perlahan-lahan tapi pasti. Hingga akhirnya saat lomba ini diadakan dia dengan PD (Percaya Diri) menunjukkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan untuk lomba.
Hingga NILAI Perpustakaan Sekolah SD Tangsi Lama meningkat tajam paling tinggi mengalahkan juara 2 dan juara 3.
Nita bersama Kepala Sekolah dan guru-guru SDN Tangsi Lama.
Penyerahan hadiah bersama Wakil Bupati Aceh Tamiang. T. Insyafuddin, berupa Piala+Sertifikat+Uang Tunai Rp. 2.500.000
Saya kagum dengan proses pembelajaran Nita yang sudah berkeluarga dan masih punya anak bayi tapi masih semangat belajar perpustakaan. Hasil kerja kerasnya mendatangkan sebuah prestasi yang manis.

Sabtu, 30 November 2019

TERAPI AIDS DENGAN BUKU (Momentum Hari AIDS Sedunia)

Oleh: DR. AHMAD SYAWQI, S.AG, S.IPI, M.PD.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

DR. AHMAD SYAWQI, S.AG, S.IPI, M.PD.I
Seperti kita ketahui bersama setiap 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia yang dimulai pada 1988 oleh Organisasi Kesehatan Dunia yang tahun 2019 ini adalah tahun ke-31 hari AIDS diperingati bertepatan pada Hari Minggu, 1 Desember 2019.

Peringatan hari AIDS menjadi moment yang sangat penting, karena bagian upaya kita untuk meningkatkan kesadaran global tentang perjuangan melawan HIV. Juga sebagai dukungan untuk orang dengan HIV dan mengingat mereka yang meninggal akibat penyakit terkait HIV/AIDS. Berangkat dari pengertiannya, Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis dari virus yang menyerang bagian imunitas tubuh seseorang, sehingga rentan terserang berbagai macam penyakit. Sementara Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat serangan HIV.

Penyakit AIDS yang diakibatkan virus HIV adalah gangguan kesehatan yang menjadi momok bagi siapa pun. Ini bukan hanya karena risiko kesehatan yang harus dihadapi, tapi juga stigma negatif masyarakat yang diarahkan kepada pengidap HIV/AIDS yang sering diasosiasikan sebagai seseorang yang memiliki lingkup pergaulan seksual bebas dan tidak sehat, misalnya tunasusila dan mereka yang menggunakan jasanya. Padahal tidak selalu penderita HIV/AIDS merupakan seseorang yang memiliki citra negatif, karena anak-anak yang masih polos pun bisa menjadi korban virus ini. Berangkat dari pengertiannya, Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis dari virus yang menyerang bagian imunitas tubuh seseorang, sehingga rentan terserang berbagai macam penyakit. Sementara Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat serangan HIV.

Berdasarkan data dari The Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) jumlah penderita global data penderita HIV/AIDS di seluruh dunia terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS pada 2017. Dari total penderita yang ada, 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Selebihnya adalah orang dewasa, sejumlah 35,1 juta penderita. Penderita HIV/AIDS lebih banyak diderita oleh kaum wanita, yakni sebanyak 18,2 juta penderita. Sementara laki-laki sebanyak 16,9 juta penderita. Sayangnya, 25 persen di antaranya, sekitar 9,9 juta penderita, tidak mengetahui bahwa mereka terserang HIV atau bahkan mengidap AIDS.

Berdasarkan data UNAIDS 2018 mencatat penyebaran HIV di Indonesia mencapai 49 ribu atau tumbuh 16% setiap tahunnya. Indonesia menempati posisi ketiga dengan pertumbuhan penyebaran HIV paling besar di antara negara-negara Asia Pasifik. 23% dari pertumbuhan penyebaran HIV di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, berasal dari anak muda. Hal tersebut terjadi karena mereka tidak mendapatkan informasi yang cukup baik soal HIV. Keterbatasan informasi juga membuat Orang dengan HIV AIDS (ODHA) tak mengetahui status penyakit yang mereka derita.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Juni 2018, ODHA yang mengetahui status penyakitnya hanya sebesar 301.959 orang atau 48% dari 630 ribu orang. Sementara itu, ODHA yang pernah melakukan terapi antiretroviral (ART) sebanyak 195.729 orang. ODHA yang saat ini sedang menjalankan terapi ART baru mencapai 96.298 atau 15%. ODHA yang sudah melakukan tes viral load baru sebanyak 4.462 orang. ODHA yang telah mensupresi virus HIV sebanyak 4.108 atau 0,64%. Karenanya, penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bisa menyampaikan informasi dan sosialisasi mengenai masalah HIV/AIDS.


Terapi AIDS

Bagi sebagian orang memandang bahwa mereka yang mengidap AIDS merupakan suatu penyakit dan aib yang ada pada diri seseorang. Pandangan ini tentunya bisa membuat mereka yang mengidap AIDS menjadi orang yang terasing dari lingkungan mereka bahkan bisa juga membuat jiwa mereka depresi menjadi seorang yang tidak memiliki semangat hidup, sehingga perlu sekali diterapi.

Dalam dunia kepustakawanan, ada satu terapi yang sangat berguna bagi setiap orang termasuk juga penderita AIDS yang mampu membuat jiwa raga seseorang menjadi lebih tenang, sehat, kuat dan bermakna yaitu Biblioterapi. Istilah Biblioterapi berasal dari kata biblion dan therapeia. Biblion berarti buku atau bahan bacaan, sementara therapei artinya penyembuhan. Jadi, biblioterapi dapat dimaknai sebagai upaya penyembuhan lewat buku yang dibaca.

Sebagai contoh ketika kita membaca Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat kepada hambanya, selain untuk dibaca juga memiliki kemu’jizatan yang luar biasa bagi yang membaca maupun yang mendengarnya yang bisa menjadi media terapi obat (syifa) bagi penyakit rohani dan penyakit masyarakat.

Al-Qurthubi seorang mufassir Islam terkenal menjelaskan, ada beberapa pendapat dalam menafsirkan kata syifa` dalam ayat Al-Qur’an. Pertama, Al-Qur’an dapat menjadi terapi bagi jiwa seseorang yang dalam kondisi kebodohan dan keraguan. Kedua, Al-Qur’an membuka jiwa seseorang yang tertutup dan menyembuhkan jiwa yang rapuh. Ketiga, membaca Al-Qur’an juga menjadi terapi untuk menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani.

Beberapa penelitian membuktikan seperti yang dilakukan oleh Dr. Al-Qadhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat mengatakan bahwa membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, baik yang berbahasa Arab maupun bukan, berpengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan membaca atau dibacakan Al-Qur’an, seseorang dapat mengalami penurunan depresi dan kesedihan, juga memperoleh ketenangan jiwa sebanyak 97%. Penelitian ini ditunjang dengan alat pendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik.

Ada juga peneliti lain yang membuktikan pengaruh Al-Qur’an terhadap kondisi jiwa, yaitu penelitian Muhamad Salim yang dipublikasikan oleh Universitas Boston. Penelitian ini dilakukan pada 5 objek penelitian yang terdiri dari 3 lelaki dan 2 perempuan yang sama sekali tidak mengerti Bahasa Arab dan tidak mengenal Al-Qur’an. Ia melakukan sebanyak 210 kali penelitian yang dibagi dalam dua sesi, yaitu membacakan Al-Qur’an dan membacakan sebuah narasi Bahasa Arab yang bukan merupakan isi Al-Qur’an. Hasilnya, responden mendapatkan ketenangan sebanyak 65% saat mendengar bacaan Al-Qur’an dan mendapat ketenangan sebanyak 35% saat mendengarkan narasi Bahasa Arab yang bukan merupakan isi Al-Qur’an.

Selain itu, seorang dokter asal Malaysia, Dr. Nurhayati juga mengungkapkan dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia tahun 1977 bahwa pembacaan Al-Qur’an juga dapat memberikan ketenangan pada bayi. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, bayi yang baru berusia dia hari menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang saat diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tape recorder.

Menurut seorang psikolog terkenal dan penulis buku psikologi, Dr. Paul A. Hauck mengenai arti sebuah buku bagi kesehatan emosional, "terlalu banyak orang berpendapat bahwa gangguan-gangguan emosional selalu membutuhkan terapi mendalam yang berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Psikologi tidak berbeda dengan geograpi. Keduanya dapat dipelajari melalui pengajaran di kelas dan keduanya dapat menggunakan buku-buku sebagai alat untuk memaksimalkan pengajaran." Melalui Biblioterapi ini sudah biasa digunakan oleh para konselor.

Harus kita akui bahwa biblioterapi ini belum dikenal secara luas oleh semua kalangan dan hanya dilakukan oleh kalangan tertentu yang memiliki hobi membaca tinggi. Mereka biasanya mendatangi konselor yang kemudian menunjukkan buku-buku tertentu untuk dijadikan sebagai terapi jiwa pada saat mengalami stress ringan. Sudah saatnya kita mulai membiasakan diri membaca buku-buku yang penuh inspiratif dan yang sesuai dengan suasana hati kita. Terlebih bagi kita orang Islam untuk membaca Al-Qur’an sebagai penyejuk jiwa.

Jumat, 29 November 2019

Pancakarya Pustakawan (Refleksi Hari KORPRI)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
Seperti kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 29 Nopember 2019 bangsa Indonesia selalu memperingati dan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Pegawai Republik lndonesia (KORPRI) yang ditahun 2019 ini genap berusia 48 tahun. Ulang tahun kali ini bertepatan dengan pasca Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang baru terpilih sehingga diharapkan menjadi penyemangat dalam pengabdian terhadap bangsa dan benegara. 

Peringatan HUT KORPRI ini menjadi moment yang sangat penting bagi setiap aparatur sipil negara (ASN) untuk terus melakukan refleksi, menjaga soliditas dan solidaritas bagi KORPRI, sehingga menjadi lompatan besar demi mencapai kemajuan bangsa lndonesia.

Sejak pertama kali berdiri, KORPRI menjadi satu-satunya wadah bagi Pegawai Republik Indonesia dan menjadi pilar utama pemersatu bangsa dan negara lndonesia dengan ASN sebagai agen perekat kebinekaannya. Melalui KORPRI dapat menjadi wadah organisasi budaya yang penuh inovasi dan kreativitas, modern dan efisien, serta berjiwa melayani dengan jiwa dan semangat Pancasila. 

Dan yang terpenting melalui KORPRI mampu mendorong pengembangan kompetensi sumber daya manusianya, agar menjadi aparatur yang profesional yang mampu menjaga netralitas organisasi, menempatkan pelayanan masyarakat di atas kepentingan pribadi, organisasi dan golongan, serta siap bertransformasi menjadi bagian integral dari pemerintahan yang berperan menjaga kode etik dan standar profesi, mewujudkan jiwa korps sebagai pemersatu bangsa, memberikan perlindungan hukum, serta mengembangkan kesejahteraan anggota.

Pustakawan Berkarya

Menarik untuk disimak ketika peringatan HUT ke-48 ini KORPRI saat ini mengambil tema "KORPRI: Berkarya, Melayani dan Menyatukan Bangsa" dengan harapan para anggota KORPRI tetap bersemangat dalam bekerja melayani kepentingan publik dan mewujudkan fungsinya sebagai perekat persatuan bangsa.

Dalam dunia kepustakawanan, seorang pustakawan yang merupakan ASN yang juga tergabung dalam KORPRI senantiasa dituntut untuk bekerja dan berkarya secara professional.  Informasi yang sangat setelah selesai dengan tagline ‘Pustakawan Bergerak’ pada 2018, di tahun 2019 ini sejalan dengan tema KORPRI 2019, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas RI) telah mencanangkan tagline baru ‘Pustakawan Berkarya’. Implementasi tagline tersebut dituangkan dalam bentuk Ikrar Bersama oleh 12 Duta Pustakawan perwakilan dari berbagai jenjang di Perpusnas RI Jakarta. Mereka yang terpilih sebagai Duta Pustakawan adalah hasil rekomendasi dari tiap unit kerja di lingkungan Perpusnas RI Jakarta. Ke-12 Duta Pustakawan tersebut nantinya juga akan menandatangani Ikrar Bersama sebagai bentuk komitmen menjadi bagian dari program Pustakawan Berkarya. 

Ikrar Pustakawan Berkarya diwujudkan dalam Pancakarya Pustakawan Perpusnas RI, sebagai berikut yaitu (1) Melakukan perubahan; (2) Memberikan kemudahan akses informasi; (3) Mengedukasi masyarakat dalam pemanfaatan layanan perpustakaan dan informasi; (4) Berperan aktif dalam meningkatkan literasi untuk kesejahteraan; (5) Mengadvokasi masyarakat dalam pengembangan perpustakaan. 

Dengan Ikrar Bersama tersebut, seluruh pustakawan diminta peran aktifnya dalam meningkatkan kegemaran membaca masyarakat, meningkatkan keterampilan masyarakat turut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keterampilan masyarakat diperoleh dari kegemaran membaca. Kebutuhan membaca masyarakat disesuaikan dengan local content. Dari keaktifan membaca akan memunculkan keterampilan. Di tambah lagi dengan workshop-workshop yang digelar berkelanjutan. Sehingga dari hasil keterampilan yang menghasilkan dapat memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat.

Tagline ‘Pustakawan Berkarya’ dimaknai sebagai upaya mewujudkan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang melibatkan seluruh pihak untuk melakukan sinergi multi stakeholder, tidak hanya Perpusnas RI Jakarta tapi juga peran swasta, BUMN, dan pihak terkait lainnya akan menjadi bagian dalam mensejahterakan masyarakat. Tagline ini sejalan dengan ikhtiar pemerintah memasukkan perpustakaan sebagai program prioritas nasional satu sebagai upaya mensejahterakan masyarakat melalui layanannya yang berbasis inklusi sosial.

Dalam konteks berkarya, Pustakawan di masa kini harus menghasilkan inovasi dan kreatifitas menyajikan informasi serta pelayanan yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat milenial. Inovasi yang dibuat pustakawan wajib dirasakan langsung oleh masyarakat. Hal ini tak lepas dari perkembangan IPTEK yang memberikan dampak signifikan di pelbagai sektor kehidupan, termasuk perpustakaan. Apalagi perpustakaan berperan sebagai garda terdepan dalam penyediaan informasi yang kredibel bagi masyarakat. Maka dari itu, perpustakaan dengan segala kemampuannya harus bertransformasi memberikan layanan informasi berbasis teknologi yang dapat dimanfaatkan semua kalangan. 

Salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan perpustakaan adalah pustakawan yang profesional. Pustakawan yang memiliki inovasi dan dedikasi tinggi dalam mengelola perpustakaan secara profesional serta pelayanan secara maksimal layak disebut sebagai pustakawan berprestasi terbaik. Maka dari itu, Perpusnas RI setiap tahunnya selalu memberikan apresiasi bagi pustakawan melalui ajang Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional yang diharapkan dapat menjadi stimulus bagi seluruh pustakawan Indonesia agar lebih giat berkarya dan berinovasi dalam meningkatkan literasi masyarakat. Jika kompetensi pustakawan meningkat, maka otomatis kualitas perpustakaan terus berkembang, sehingga citra perpustakaan dan pustakawan sebagai partner masyarakat dalam proses belajar dan berkarya tetap baik. Hal ini akan mendorong masyarakat untuk terus memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berguna dalam peningkatan kesejahteraannya.

Selamat HUT KORPRI yang ke-48, semoga pustakawan Indonesia akan terus maju dan terdepan dalam melahirkan karya terbaiknya dalam mencerdaskan bangsa dan negara.

Sabtu, 09 November 2019

PUSTAKAWAN BERAKHLAK NABI (Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW)

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.IOleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam kalender Islam setiap tanggal 12 Rabiul Awal diperingati sebagai hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad saw. yang menjadi suri tauladan bagi umat manusia. Keindahan ajaran Islam selalu mendorong umatnya siapapun dia orangnya termasuk seorang pustakawan yang selalu bergaul dengan para pemustaka yang datang ke perpustakaan, wajib untuk memiliki akhlak (perilaku) yang mulia. 

Lahirnya Nabi Muhammad saw. ke dunia tentunya sebagai pembawa dan penyampai risalah terakhir ketauhidan menjadi mukzijat wajah dunia (terutama bangsa Arab saat itu ) dari carut marut dan penuh kejahiliyahan menjadi bangsa yang terang benderang, berakhlak dan penuh dengan rasa kemanusiaan dan kecintaan antara sesama. Tak heran bila dalam banyak survei tentang tokoh- tokoh yang berpengaruh dalam merubah dunia, sosok Nabi Muhammad saw. selalu menempati urutan teratas.

Michael Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Nabi Muhammad saw. di urutan pertama sebagai tokoh paling berpengaruh di dalam sejarah dunia. Alasannya karena beliau dilahirkan di tengah-tengah masyarakat yang agak terbelakang, yatim piatu di usia kanak-kanak, dan dikatakan bahwa beliau seorang yang buta huruf. Berbeda dengan tokoh- tokoh lain dalam sejarah, mereka lahir dan besar di tengah- tengah masyarakat berperadaban tinggi. Alasan berikutnya adalah tokoh- tokoh lain yang ada dalam sejarah memang berpengaruh besar ketika mereka masih hidup. Akan tetapi ketika sudah tiada, pengaruhnya pun hilang seiring dengan kematiannya. Katakanlah Adolf Hitler, Mussolini, Stalin, dan lain-lain, ketika masih hidup, pengaruhnya besar. Ketika dia sudah tiada, pengaruhnya pun hilang. Berbeda dengan Nabi Muhammad saw., saat beliau masih ada di tengah- tengah ummat, pengaruhnya besar. Ketika beliau wafat, pengaruhnya pun tetap ada, bahkan hingga akhir zaman.

Nabi Muhammad saw. menegaskan tentang misinya adalah “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.“ Saking pentingnya akhlak, Syauqi Beik seorang Ulama, Sastrawan Penyair Arab Mesir terkenal mengatakan dalam kata-kata hikmahnya bahwa: “Sesunguhnya umat dan bangsa itu sangat tergantung pada akhlaknya. Jika baik, maka akan kuat bangsa itu. Jika rusak, maka akan hancurlah bangsa itu.“ Oleh karena itu apapun problematika berat yang kini dihadapi oleh suatu bangsa dan masyarakat, maka solusinya terbaiknya adalah dengan mengamalkan akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., maka akan mulialah seseorang dan bangsa negara tersebut akan menjadi kuat.

Model Akhlak Nabi 

Nabi Muhammad saw. dikenal sebagai role model suri tauladan bagi seluruh umat manusia yang memiliki akhlak mulia seperti yang dijelaskan dalam surah Al Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Alah“.

Bagi seorang pustakawan yang selalu berinteraksi dengan dunia kepustakawanan, banyak sekali ajaran akhlak Nabi yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya ada 4 sifat akhlak Nabi yang wajib kita amalkan agar hidup kita sukses dunia akhirat adalah yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah.

Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi perbuatannya juga benar. Sejalan antara perkataan dengan perbuatannya. Nabi selalu mengajarkan kita untuk jujur, tidak pembohong/kizzib, dusta, dan sebagainya. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” [QS.An Najm:4-5]. 

Kita sebagai pustakawan tentunya juga harus selalu bersifat benar dalam segala perkataan dan perbuatan, seperti halnya memberikan informasi yang benar kepada pemustaka, memperlakukan pemustaka dengan memberikan layanan prima yang selalu memberikan kenyamanan pemustaka untuk bisa terus memanfaatkan layanan yang kita berikan.

Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepada Nabi, maka  orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan Nabi dengan sebaik-baiknya. Mustahil Nabi itu khianat terhadap orang yang memberinya amanah. Oleh karena itulah Nabi Muhammad saw. dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang yang pembohong. “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” [QS.Al A’raaf:68].

Bagi pustakawan, sifat amanah menjadi modal utama yang wajib dimiliki. Dengan sifat amanah inilah, maka akan membangun kepercayaan pemustaka terhadap profesi pustakawan tersebut. Ketika pustakawan bersifat amanah, maka apapun yang diberikan atau dikatakannya kepada pemustaka, akan memberikan kepercayaan kepada pemustaka terhadap informasi maupun layanan yang diberikannya. 

Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah berupa wahyu yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi. Tidak mungkin Nabi itu Kitman atau menyembunyikan wahyu. 

Bagi seorang pustakawan yang bergelut dengan dunia kepustakawanan tentunya harus selalu tabligh dan memberikan informasi yang benar kepada pemustaka. Dan hal ini menjadi bagian kewajiban kita semua untuk terus memberikan layanan informasi yang benar. Nabi selalu mengajarkan kepada kita untuk mengatakan yang benar walaupun pahit hasilnya “Qulil haq walau kana murran”.  

Fathonah artinya cerdas. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan ribuan ayat Al-Qur’an kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka mau masuk ke dalam Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya. 

Demikian juga seorang pustakawan, tentunya harus cerdas dalam memberikan informasi yang akurat dan tepat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh pemustaka serta memberikan layanan informasi yang selalu mencerdaskan pemustaka.  

Berharap semoga dengan kita mempelajari sifat-sifat Nabi Muhammad SAW seperti Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah tersebut, kita semua pustakawan juga bisa mengamalkannya sehingga menjadi pribadi yang mulia. Aamiiin.

Jumat, 08 November 2019

Ketika Paijo Menggugat Bookless

"Rezim ini harus tumbang" teriakku bersama kawan-kawan ketika ikut demo jalanan menumbangkan Orde Baru dahulu. Pun tak lupa, saat itu, kita membekali dengan asupan otak dengan membaca buku buku yang ideal tentang humanisme.

Waktu itu sempet baca bukunya Mazhab Frankfurt: One Dimensional Man, karya Herbeth Marcuse. Yoi, maklum masih muda, sepertinya kok benar kritik doski terhadap manusia moderen yang kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Ternyata dalam perjalananannya, ketika saya lulus dan mulai bekerja sebagai profesional, mindset saya lebih terbuka. Kegalauan sempat melanda sebentar. Lupakan tema tema besar kemanusiaan dan penyelamatan manusia. Gobal gabel. Jangan terprovokasi ketika baca buku jadul yang kesohor, yang berjudul "The end of the world ", Francis Fukuyama...

Ah bangke..toh nyatanya sekarang ular beludak itu sudah menyaru ke neolib dsb. Udahlah, jangan norak ngomongin pertarungan ideologi.
Di era kekinian, justru saya terbantukan oleh lirik lengking lagu Padi, yang berjudul

"Kasih Tak Sampai"....
Sudah..
Lambat sudah…
Kini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini"

Pertanda kita yang semakin bijak? semakin realitis? ataukah semakin Pragmatis?

Banyak yang bilang (mempertanyakan) aktifitas berkepustakawanan terlalu ‘kecil’ dan kerdil untuk bisa merubah dunia dan seisinya. Kurasa semakin sedikit pilihan (dan mustahil) untuk merubah semua totalitas ini (korupsi, kkn, gender dll….

Demikian juga bicara kepustakawanan dengan segala stakeholdernya. Tak melulu bicara tentang ke akuannya dengan segala keegoannya: perspektif pustakawan tok surotok !. Kalau yang terjadi demikian, betapa sederhananya dan indahnya hidup. Nahlo...padahal Jean Sastre kan sudah memperingatkan:

"Pertandingan sepakbola akan terlihat sederhana, 22 pemain yang mengejar bola. Agak rumit ketika hadir para suporter"

Nah lo, ada benang merahnya ngomongin bola dengan kepustakawanan. Bicara tentang kepustakawanan gak sesederhana juga ngomongin jualan cilok mas broh... gak sekedar dengkuran idealis ketika saya muda dulu, atau teori teori yang menempel di batok kepala ketika kuliah dulu. Pengalaman saya bekerja sebagai profesional, butuh kompromis dan jalan tengah lebih daripada sekedar menjadi pungguk merindu. Nah beberapa waktu yang lalu ada isyu yang menggelikan tentang keberadaan Bookless Library atau dalam bahasa indonesia, perpustakaan tanpa buku. Isinya semua komputer dan monitornya. Pertanyaan kritisnya, apakah keberadaan Bookless Library ini sekedar mengepulkan orang orang di luar perpustakaan, (yang sebenarnya bisa akses internet langsung) ke sebuah ruangan yang bernama Bookless Library tersebut? Nah lo !

Bookless


Di grup Pustakawan Blogger lagi rame diskursus tentang Perpustakaan Nonbuku atau Bookless Library. Ngapain perlunya berubah. Rekan saya pustakawan di UGM Jogja, Purwoko yang biasa disebut Paijo menyentil satir keberadaan Bookless yang disamakan dengan pos ronda.
Tentu, Purwoko memberikan argumentasi yang kuat:

"Intinya kalau perpustakaan itu hadir tanpa buku, tempat nongkrong, ngobrol, trus apa bedanya dengan Pos Ronda. Akan hilang kesejatiannya"...

Agak sadis.....namun bisa jadi kita dipaksa untuk menyetujui pendapatnya. Kalau perpustakaan bookless serba online, dan semua sudah disediakan oleh teknologi, lalu pustakawannya ngapain ??? Untuk pertanyaan ini, Paijo menjawab dengan menggelikan:

"Di Bookless Library, pustakawan bisa berpindah peran menjadi pengelola cafe. Jualan kopi dan indomie rebus", ha ha ha ha

Menggelikan. Bisa jadi Kang Paijo menggeneralisasikan perubahan konsep perpustakaan dengan serampangan. Wajar, karena seperti yang disampaikannya, doskih mengkroping salah satu sudut pandang. Titik dia berpijak. Tipping point pada keakuannya.

"Roh kegiatan kepustakawanan harus berpusat pada pustakawannya. Bukan pengguna atau pemakai. Perspektif idealis dari kacamata pustakawan", begitu teriaknya sambil menggoyangkan badannya mengikuti instrumentalia lagu Ambyarnya Didi Kempot. Ya, Paijo memang sedang raker di tempat kerjanya.

Paijo harus belajar dari Nicolaus Copernicus, jenius Fisika yang mengemukakan teori Heliosentris. Pusat tatasurya adalah Matahari. Menjungkilkan kaum agama Lutherian bahwa bumilah pusat semesta. Pusat tatasurya bumi, merepresentasikan pendekatan ke akuannya, egosentris, pustakawan sentris. Yang kemudian dikoreksi oleh Copernicus, Mataharilah yang menjadi pusat. Penggunalah yang harus kita layani.

Hidup bukan selalu perkara idealisme. Hidup butuh juga kompromi dan jalan tengah, agar kita tidak mati.

Paijo, mungkin harus berempati menjadi pustakawan eks Britis Council yang akhirnya dibubarkan. Mencoba merasakan keakuannya ketika menjadi pustakawan Japan Foundation yang ditutup. Andai saja kang Paijo berprofesi sebagai pustakawan majalah Hai, Tabloid Gatra, Bola dll yang tidak bertahan. Atau Perpustakaan LIPI yang bertransformasi dari buku ke data. Saya semdiri sudah mengalami transformasi itu, pustakawan yang ketika analog ada 30 orang, menyusut jadi 10 orang. Karena apa? Ya tuntutan jaman dan perkembangan teknologi. Kita akan melawan dengan bambu runcing menolak perubahan?

Ada point point yang saya setujui dengan subtansi Paijo. Melihat dari sisi pustakawannya. Bagaimana kalau filosofinya kita balik. Kita kompromikan bahwa perspektif pengguna juga penting. Kenapa? karena tanpa pengguna toh pustakawan bukan siapa siapa. Meski jika kita terlalu menghamba ke pengguna, bakalan babak belur. Kasus Britis Council, Japan Foundation dan PDDI LIPI kan karena kuasa manajemen atas tuntutan pengguna juga kan? Tentu aktifitas dan role pustakawannya juga harus berubah.

Nah ini yang menarik....apakah Bookless  dibangun untuk memuaskan pengguna berkunjung ke perpustakaan ??
Nah....jika ternyata bukan itu outputnya...terpaksa saya harus menyetujui argumen Paijo....Bookless Library ya sama dengan pos ronda...

Tabik

Yogi H