Rabu, 25 November 2020

Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada

 Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada


Dunia sebagai keseluruhan menurut pandangan filsafat klasik, adalah bidang dari segala bidang-bidang lainnya. Ia adalah jaringan dari keseluruhan, namun manusia tidak akan pernah bisa memahami ini, karena pengetahuannya selalu terbatas. Terjangan filsafat postmodern telah membubarkan harapan manusia tentang filsafat yang bisa menjelaskan segalanya dalam satu gambaran dunia yang utuh dan koheren. Tidak ada lagi “Dunia” dengan huruf D besar.


Akibatnya, banyak orang kini kehilangan pegangan, tak luput juga mereka yang berprofesi pustakawan di negeri ini, karena panduan dunia kepustakawanan dari para founding fathers ilmu perpustakaan di negeri ini yang utuh dan menyeluruh telah menghilang. Keyakinan akan kebenaran mutlak tentang kepustakawanan termasuk ilmu perpustakaan dipertanyakan ulang. Sebaliknya, imajinasi dan kreativitas di luar profesi pustakawan justru meningkat, guna mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan. 


Perpustakaan di negeri ini kini bagaikan tempat yang dingin yang harus ditata kembali dengan imajinasi dan daya cipta para pustakawannya. Tidak ada pilihan lain, kecuali pustakawan menjalani ini semua dengan penuh kesadaran dan kebebasan.


Pada titik ini, ilmu perpustakaan tidaklah cukup. Pustakawan membutuhkan seni, teknologi, agama, budaya, dan filsafat untuk mengisi hidupnya. Tanpa itu semua, dunia pustakawan bagaikan padang gurun yang kering dan tanpa makna. Jika sudah begitu, neraka tak perlu menunggu setelah kematian para pustakawan, melainkan sudah ada disini dan saat ini.


Tanpa jiwa, dan pengakuan atasnya, hidup pustakawan jadi tak berarti. Jiwa pustakawan adalah administrator dari makna. Tanpanya, hidup pustakawan jadi tak bermakna. 


Ketika peran pustakawan dihilangkan, maka ia bisa fokus pada situasi disini dan saat ini (here and now), dan mulai mencipta dengan gembira, tanpa kekecewaan, tanpa depresi.


Pustakawan hidup di dunia yang tak pernah ada, namun memiliki peluang dan kemungkinan yang tak terbatas untuk mencipta. Ia melintas berbagai area makna, lalu mencipta ulang hidupnya kembali. 


Tujuan akhir kita pustakawan di negeri ini tak akan pernah tercapai, karena tujuan itu sendiri tak pernah ada. Makna yang tersangkut pada kebenaran mutlak memang menghilang dari jati diri pustakawan, tetapi kita jangan pesimis, karena pustakawan juga memiliki kebebasan untuk menciptakan makna-makna baru secara kreatif, dan tanpa batas.



Terinspirasi dari curhatan diri 


Selasa, 24 November 2020

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi



انسى السلامة. عِش حيث تخشى أن تعيش. دمر سمعتك. كن سيئ السمعة” (جلال الدين الرومي)


Larilah dari apa nyaman, lupakan kenyamanan, hiduplah ditempat kamu takut untuk hidup, hancurkanlah reputasimu, jadilah pribadi yang kontroversial (Jaluddin Rumi)


 
Rumi, salah satu sufi dalam tradisi Islam menjadi inspirasi saya untuk menjadi "gila". Suara sang sufi menggema keras di zaman now, zaman dimana semua orang mencari kenyamanan di segala hal, bahkan sampai kenyamanan di kehidupan setelah kematian. Zaman ini semua orang menjilat kiri kanan untuk menjaga reputasinya, zaman dimana orang cari aman, tunduk pada penindasan akal sehat.

Kenyamanan adalah musuh, kenyamanan membuat saya menjadi busuk, membuat saya terlena, membuat saya turun kesadaran, membuat saya menjadi lemah dan lambat. Bagi saya kenyamanan yang saya rasakan bagaikan telur diujung tanduk, ia amat rapuh, semua ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan bisa lenyap dalam sekejap mata.

“Hancurkan Reputasimu” begitulah Rumi mengajak kita. Reputasi adalah pandangan orng lain tentang kita. Sifatnya dinamis, berputar, dan ia amat rapuh. Bagi saya hidup mempertahankan reputasi adalah hidup dalam penjara. Rumi membebaskan saya dari apa yang semu, Rumi ingin mengajak saya untuk terus memperbaharui hidup. Saya tak ingin terjebak pada satu peran ataupun identitas tertentu.

Rumi telah mengajak saya menjadi mantan pustakawan yang kontroversial, membongkar tradisi yang ada, yang mempertanyakan pandangan-pandangan lama dunia kepustakawanan yang sudah kuno, oleh karenanya saya pun juga harus siap dibenci karena melakukan itu semua.

Menjadi terkenal menjadi mantan pustakawan pemberontak, yang tidak bisa diatur, yang berantakan, yang semau gue. Itu semua saya lakukan untuk membongkar kemunafikan cara berpikir pustakawan yang ada.

Nietzche, pemikir Jerman kiranya terinspirasi banyak dari ajaran dari Rumi. Keduanya menegaskan agar hidup itu tidak hanya ikut arus, tanpa sikap kritis, dan terlena dalah hidup di zona nyaman dan aman di dalam kedangkalan. Saya telah menjadi mantan pustakawan “Gila” yang beralih profesi jadi tukang ketik atasan. Menjadi gila  seperti ini justru menjadikan saya waras sepenuhnya menjadi manusia seutuhnya untuk hidup dengan segala warnanya.
 
 

 



Senin, 23 November 2020

Antara Vlog dan Blog Jangan Bandingkan! Kombinasikan Saja

Banyak yang berkomentar sekarang ini blog sudah mulai menurun pembacanya dan banyak yang mulai beralih ke vlog? Benarkah? 

Ok, saya akan jawab beberapa hal yang terkait. 

katadata.co.id
katadata.co.id

Pertama, membandingkan dua media vlog dan blog jelas tidak adil. Kenapa? Lah, wong satunya untuk media menulis sementara vlog untuk video. Tapi, kalau digabungkan keduanya itu bisa makin dahsyat. Kalau mau membandingkan coba dua paltform yang sama misalnya antara Youtube dan Vimeo. Walaupun, jelas yang satu sepertinya lebih banyak peminatnya. Tapi kedepan, siapa yang tahu nanti suatu saat Youtube mulai tergeser dengan pilihan yang lain. Kasus blog misalnya ada banyak pilihan blogger, wordpress, kompasiana, dll. 

Kedua, ada benarnya juga tanpa melihat statistik penggunaan blog dan vlog, saya merasakan ada penurunan pembaca. Apalagi tingkat minat membaca negara kita masih memprihatinkan. Vlog misalnya di Youtube memang cukup menggairahkan. Terlebih budaya menonton di negara kita masih cukup tinggi, jauh sebelum kemunculan vlog, hiburan seperti menonton televisi masih mengalahkan hiburan misalnya dengan membaca karya sastra. Saya tidak akan jauh mengambil contohnya, cukup dikampung sendiri. Pulang dari sawah, menonton tv merupakan kenikmatan tersendiri bagi mereka dan itu saya menyaksikan secara langsung. Sekarang ini dimana smartphone dan kuota yang semakin murah, maka kehadiran vlog tentu menjadi alternatif tontonan bagi mereka. Apalagi pembuat konten vlog semakin semangat memproduksi karena iming-iming rupiah, makin banyaklah video yang beredar.

Ketiga, saya orang yang masih percaya budaya menulis akan terus ada hingga akhir zaman. Boleh saja blog hilang ditelan waktu, tapi untuk aktivitas menulis akan selalu tetap ada. Saya pernah bilang dalam suatu acara knowledge sharing, bahwa tradisi menulis sudah dilakukan ribuan tahun yang lalu, hanya medianya saja yang berubah. 

Keempat, saya tidak menampik, memang realitanya ada banyak konten-konten yang dulunya diblog dan saat ini mulai beralih ke vlog misalnya saja tema wisata, kuliner, resep, tutorial apapun itu temanya, dan masih banyak yang lainya. Mungkin ada beberapa tema yang tetap bertahan di blog seperti materi-materi pendidikan. Walaupun, saat ini materi-materi pendidikan pun ada beberapa yang mulai dibuat secara visual agar lebih menarik. 

Kelima, antara vlog dan blog itu, dua-duanya hanyalah media saja. Tapi, aktivitasnya yang paling penting. Dunia blog misalnya menulis. Dunia vlog mungkin kreativitas dengan konsep visual dan audio. Dua-duanya memiliki jalan masing-masing dan memiliki penikmatnya sendiri. 

Nah, sebagai penutup, hemat saya antara blog dan vlog itu jangan dibandingkan! Tapi, kombinasikanlah keduanya. Vlog kodenya bisa di embed ke blog. Sebaliknya vlog dalam deskripsi atau video bisa mencantumkan link/tautan menuju blog. Dua-duanya bisa berjalan seirama seperti buku saya dulu Dua Dunia Seirama (he...2). Menurut kawan-kawan pustakawan bagaimana?

Note: 
Untuk melihat secara live postingan blog di dunia setiap hari bisa akses disini:
https://www.internetlivestats.com/watch/blog-posts/

Untuk melihat statistik pemanfaatan media sosial seperti Youtube cek di APJII 2018 (2019 sepertinya belum keluar). 

Minggu, 25 Oktober 2020

Tantangan untuk ISIPII

Musim sudah berganti. Kemarau berangsur hilang. Hujan mulai turun. Banjir juga mulai terjadi. Tak terkecuali di kampung Paijo. Ya. Tapi tidak di perumahan. Yang kena banjir ya sungainya. Hehe. 


Sore itu, selepas hujan lebat pergi, Paijo merenung. Lama dia tidak merenung. Pada masa pandemi ini, sebenarnya dia banyak di rumah. Kerja. Online. Daring istilah bakunya. Namun, justru kerja online dari rumah ini membuatnya kurang produktif dalam merenung untuk kemudian menuliskannya.

Sore itu dia berusaha sekuat pikiran, untuk merenung. Beberapa diskusi, atau tepatnya lontaran diskusinya, mendapat tanggapan. Dan itu membuatnya merenung. Menerka arah dan argumen yang muncul dari rekan-rekannya.

****

Sekelebat dia ingat, masih tentang perpustakaan, pustakawan, dan kepustakawanan. Konon kabarnya, di negara lain yang dianggap maju perpustakaannya, pustakawan itu pendidikannya unik.

Kalau pendidikan tinggi dasarnya tentang perpustakaan, maka jenjang berikutnya pustakawan tidak mengambil lagi studi perpustakaan. Namun mengambil pendidikan lain. Atau sebaliknya. Pendidikan tinggi dasarnya tentang ilmu lain, kemudian pustakawan akan ambil masternya tentang perpustakaan.

Hal itulah yang kemudian (salah satunya) dianggap berkontribusi pada skill dan pengetahuan pustakawan.

Namun, di Indonesia tidak demikian. Banyak pustakawan yang tidak bosan sekolah tentang perpustakaan, atau kini diperluas dengan informasi. Diplomanya perpustakaan, sarjana perpustakaan, masternya juga demikian. Tidak bosan. Ya, seperti Paijo sendiri. Haha. 

"Hanya doktor yang tidak", batinnya. Ya. Jelas. Di Indonesia belum ada program doktor ilmu perpustakaan. Ada, sih. Tapi program nebeng. 

Paijo berfikir. Kudunya tidak demikian. Ya, minimal jika ingin sama seperti negara tetangga, lah. Kan selama ini begitu kebiasaan membandingkannya. Pustakawan tidak boleh sekolah terus di bidang perpustakaan. Ini harus dikampanyekan. Kudu variasi. Biar enak, menantang, dan tidak bosan.

Lalu siapa yang harus mengampanyekannya?

"Tidak ada yang lain. Ya para lulusannya", bathin Paijo. Juga organisasi lulusannya. Organisasi yang mewadahi para sarjana ilmu perpustakaan. "ISIPII," ucap Paijo setengah teriak.

"Untuk pengembangan kepustakawanan Indonesia, kami serukan pada para sarjana IPI untuk merdeka ambil S2 di bidang apapun"

Wani ra?

Tapi apa ISIPII berani? Paijo tidak yakin.

Renungan itu menyisakan tantangan.

Selesai

Rabu, 07 Oktober 2020

Pustakawan Berdaya


Bermula saat masa pendemi Covid-19 muncul. Sebagai pustakawan Bulan sempat berpikir bagaimana melakukan layanan perpustakaan kepada pengguna sementara perpustakaan tutup atau dibuka secara terbatas. Layanan secara fisik di mana pemustaka hadir ke perpustakaan, membaca, menulis, berdiskusi, bahkan meminjam buku tidak sebebas dahulu kala. Perpustakaan khusus yang dikelola oleh Bulan bakal makin sepi saja. Bulan tidak mati gaya. Dia terus berpikir, kira-kira layanan apa yang dapat diberikan perpustakaan.

Perpustakaan yang dikelola Bulan ini memang perpustakaan khusus. Tentu saja koleksi dan penggunanya juga khusus. Kebanyakan adalah para pegawai di lingkungannya. Ada juga masyarakat umum yang menggunakannya tetapi sejauh ini jumlahnya tidak terlalu banyak. Para pegawai memiliki kesibukannya masing-masing. Apalagi masa pandemi ini dengan diberlakukannya bekerja dari rumah atau wfh (work form home) praktis perpustakaan semakin sepi.

Jauh sebelum adanya pandemi covid-19, perpustakaan yang dikelola Bulan sudah hadir ke meja penggunanya. Ada layanan antar jemput buku bagi para pemustaka. Ada katalog daring yang bisa diakses kapan saja. Ada perpustakaan dalam genggaman (android) yang sudah di “create” dan beroperasi bagi pengguna secara luas. Semua layanan ini semata demi perpustakaan dapat memberikan layanan prima kepada pemustakanya. 

Sebagai pustakawan, Bulan masih belum puas. Dia belum melakukan kajian untuk melihat sejauh mana layanan perpustakaan selama ini benar-benar dimanfaatkan oleh pemustaka. Dia teringat, ada satu layanan perpustakaan yang makin mendekatkan dan mengakrabkan perpustakaan dengan penggunanya. Ya, layanan referensi. Apalagi pemustakanya sebagain besar adalah para peneliti. Fungsi sebagai pustakawan rujukan bisa dimaksimalkan di sini. Nah, mulailah Bulan merancang layanan ini.  

Dibuatlah sebuah flyer yang berisi informasi layanan penelusuran literatur berikut link permohonannya. Layanan ini diperuntukkan  bagi para pengguna perpustakaan baik dari kalangan pegawai sendiri, peneliti, dosen, guru, mahasiswa, ataupun masyarakat umum yang membutuhkan referensi apa saja yang diperlukan dalam aktivitas mereka.

Yup, flyer sudah jadi. Siap dikirim dan dishare ke instagram perpustakaan yang memiliki follower sekitar 2000an orang dan grup WA pemustaka. Tak disangka respon yang muncul di luar dugaan. Dalam sehari bisa masuk permintaan penelusuran literatur hingga mencapai  ratusan. Bulan dan tim sempat panik. Menggembirakan sekaligus mendebarkan. Menggembirakan karena perpustakaan masih dibutuhkan mereka. Mendebarkan karena sanggupkah melayani permintaan sebanyak ini.

Bulan dan tim bermusyawarah. Alhamdulillah sebuah solusi ditemukan. Semua request dari pemustaka dibagi bersama dalam tim. Lalu dibuatlah ketentuan-ketentuan yang mengatur layanan tersebut mulai dari hari dan jam layanan, permintaan literatur yang spesifik, kuota permintaan, dan eksekusi layanan termasuk nomor whatsapp admin perpustakaan yang bisa dihubungi.

Selama beberapa waktu, Alhamdulillah layanan ini berjalan dengan baik dan lancar. Semua permintaan literatur atau informasi yang dibutuhkan pemustaka dapat dipenuhi oleh Bulan dan tim. Bekerja dalam tim adalah bekerja sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Ah, Bulan dan tim merasa berdaya kini. Meskipun kerja dari rumah tetapi tetap produktif bahkan semakin dekat dengan pemustakanya.  Ada kebahagiaan yang tak bisa terucap dengan kata-kata.

Ya, pandemi telah memaksa pustakawan  turun gunung, menemui masyarakat penggunanya dengan hadir lebih dekat kepada mereka meskipun secara daring.  

Bravo buat Bulan dan tim. Di manapun dan kapanpun pustakawan siap mengabdi untuk bangsa dengan memberikan layanan terbaiknya. Kebutuhan mereka terpenuhi, aktivitasnya menjadi lancar dan sukses. Mereka bahagia dan pustakawan pun ikut bahagia.


Kamis, 01 Oktober 2020

Pustakawan membangun generasi pancasilais (sebuah spirit HKP.)



Merefleksi Hari Kesaktian Pancasila 1 oktober 2020, kita terbawa dalam wacana penuh  spirit Pancasila, tergambar dalam sejarah penumpasan gerakan 30 september Partai komunis Indonesia (G30S/PKI), memperingati HKP, dan bagaimana pustakawan menjabarkan spirit HKP dalam setiap tugas layanan.

 
Hari Kesaktian Pancasila (HKS) adalah hari nasional di Indonesia yang diperingati setiap 1 Oktober sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 153/Tahun 1967, Ini terjadi setelah Peristiwa Gerakan 30 September yang lebih dikenal sebagai G30S/PKI. (Wikipedia).
 
Rasa haru menyeruak dalam diri setiap Insan yang literat terhadap perjuangan dari para suhada bangsa di balik perayaan yang mengusung semangat membela Negara, mempertahankan keutuhan negara dari serangan  partai komunis Yang ingin mengubah ideologi pancasila menjadi ideologi komunis.
 
Langkah kudeta berujung pembantaian 7 perwira tinggi dan 1 perwira menengah TNI AD gugur. Pembantaian yang diplopori Resimen “Tjakrabirawa” dengan alibi PKI, bahwa Angkatan Darat dianggap sebagai lawan utama mereka. Menjadi satu bencana bagi para jenderal dan kerabatnya.
 
Narasi pemerintah Orde Baru banyak dikemas dalam tulisan maupun film yang berdurasi lebih dari 4 jam memberikan gambaran kekejaman PKI, pasca penumpasan gerakan 30 september ini menghembuskan kecurigaan kepada keterlibatan bebrapa orang dan menjadi tertuduh yang tidak jarang memakan korban.
 
Cukup bijaksana jika kita menelisik sejarah dengan melihat fakta-fakta yang ada sehingga tindakan refresif dan tuduhan tidak asal dijatuhkan kepada seseorang sebagai antek PKI. Tindakan yang tidak perplu terjadi di zaman yang serba dipenuhi dengan kesibukan
 
Generasi yang Pancasilais.
 
Saktinya pancasila adalah apresiasi perjuangan otoritas militer Indonesia dalam menumpas gerakan 30 september PKI (G30S/PKI) inilah yang menjadi spirit kebanggan terhadap pancasila sebagai dasar Negara, spirit yang mewakili setiap sila dari pancasila.

Lantas di zaman yang digandrungi oleh generasi digital saat ini atau disebut generasi terakhir Gen z ini niscaya dapat lebih literat dengan mudahnya akses informasi yang tidak mengandung hoaks atau gen-z membahasakan tidak zonk.
 
Kreatifitas dan inovasi adalah implementasi yang diharapkan dari spirit pancasila, dari generasi yang serba didukung oleh fasilitas media digital yang juga dimaknai fsilitas kemerdekaan, punya ruang gerak untuk berjuang di masa kemerdekaan yang berpotensi mensejahterakan diri, keluarga dan bangsa.
 
Menjiwai setiap sila pada pancasila dalam mengelola kehidupan yang modern, jiwa pancasila yang mampu beradaptasi di zaman, beradaptasi dalam setiap generasi yang punya loyalitas generasi yang berpaham  nasionalis berpalsafah pacasila yang  hidup di zaman moderrn.
 
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara, dan kita sudah banyak belajar dari sejarah bagaimana pancasila menjiwai setiap perjuangan.
 
Pustakawan berinovasi
 
Kemerdekaan adalah jalan menuju sejahtera, belajar dari kegagalan masa lalu dan terus belajar untuk bisa mengisi kemerdekaan.
 
"Membaca dan menulis untuk kesejahteraan"

"Penulis"


Pustakawan berinovasi dengan mengejawantahkan spirit HKP. Mencari cara terbaik untuk menghadapi guncangan invasi makhluk kecil  yang akrab dengan sebutan corona virus deseas 2019 (covid 19).
 
Tujuh bulan sudah berlalu Layanan informasi bertransformasi pengelola perpustakaan, menciptakan layanan-layanan  inovatif dan saling sharing pengetahuan melalui seminar dan workshop secara virtual dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Perpustakaan Berinklusi Social) .

Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny mengatakan,
 
"Agar tujuan kita merdeka mencapai kesejahteraan, maka orientasi pengambil kebijakan harus mengarus utama kan rasa ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan, dengan harapan ke depan bangsa Indonesia bisa lebih bijak dan dewasa dalam menyelesaikan konflik masa lalunya.
 
"Pandemi ini menantang negara dan menguji ketangguhan kita sebagai rakyat Indonesia. Pancasila sebagai pusaka negara Indonesia harus menyala di hati kita masing-masing dalam setiap perbuatan kecil dan besar yang bisa kita lakukan bagi sesama,"

Spirit Kesaktian Pancasila Melalui ideologi pancasila Yang mengusung lima sila yang diwujudkan dalam layanan perpustakaan terhadap pemustaka (Pengguna perpustakaan) untuk kesejahteraan masyarakat.
 
Falsafah setiap sila pancasila, sila Ketuhanan yang maha esa dijabarkan dlam prilaku pustakawan yang mendahulukan kecerdasan spiritual yang berketuhanan dalam melaksanakan tugas.

Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, dijabarkan dalam layanan-layanan yang mendukung pemustaka dengan kesiapan koleksi tercetak dan digital, sesuai skala prioritas untuk pemenuhan efektifitas, efisiensi dan kenyamanan bagi pemustaka.
 
Persatuan Indonesia adalh kunci sikap sila ketiga yang dijabarkan dengan melakukan kolaborasi dengan stakeholder pada lembaga internal maupun eksternal dalm mengembangkan pengelolaan informasi khususnya di perpustakaan.
 
Sila Kerakyatan yang dipimnpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, ini diharapkan dalam setiap pengambilan kebijakan untuk pengembangan koleksi, pengembangan perpustkaaan lebih mengedepankan musyawarah dengan stakeholder kampus yang terdiri dari dosen, pengelola perpustakaan, dan keterlibatan pejabat perguruan tinggi dalam penentuan kebijakan pengadaan bahan pustaka dan layanan. 

Sila ke-lima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dalam setiap pengabdian dituntut bersikap adil yang mungkin bias diwujudkan dalam model layanan di masa pandemi ini, bagaiman pengelola perpustakaan mengelola waktu layanan save the of the reader, layanan yang berorientasi pada pengguna “user oriented”

Selasa, 15 September 2020

Refleksi HKP. dan geliat literasi mengejar lebel identitas


Di era disrupsi digital,  masa pandemi saat ini bertepatan hari kunjung perpustakaan (HKP) buah pikiran Martini Hardjoprakoso,  kepala Perpustakaan nasional pertama tahun 1980-1998.

Ada yang klise dari Hari nasional yang ditetapkan pada setiap 14 september melalui surat keputusan kepala perpustakaan nasional RI. Nomor: 020/A1/VIII/1995 ini.

Sebelum pandemi para pemustaka (pengunjung perpustakaan) masih terlihat berbondong bondong mngunjungi gedung yang mnyimpan bahan pustaka biang ilmu pengetahuan.

Sekejap ruang itu bertransformasi ke platform digital. Perpustakaan mengunjungi pemustaka melalui gadget di ruang virtual.

Layanan di plosokpun meradang untuk memenuhi kebutuhan baca masyarakat kunjungan langsung pustaka ke masyarakat dilakoni dgn transportasi beraneka ragam mulai dari  bersepeda,  perahu sampai betkuda,. 

Pustaka saat ini

Informasi berseliweran terus mewarnai media. Para penulis antusias mengisi media online dengan beragam genre, beragam topik dan beragam manufer yang seakan tidak pernah kosong dari ide ide.

Dunia menulis menggeliat, eksistensi  penulis dari segala disiplin terus merespon kondisi sosial dalam susunan diksi untaian kalimat dalam artikel mengalir di dunia maya saling berebut pembaca.

Kalimat tanya yang berkelindang di benak saya.  Apakah ini diartikan bahwa tugas sebuah perpustakaan sebagai penyebar informasi antusias mengambil peranan sebagai lembaga penyebar informasi?.

Apakah bisa diyakini bahwa informasi tulisan yang bertebaran di media sosial itu terbaca. Seperti tugas perpustakaan yang selalu memastikan bahwa informasi berupa buku yang dimiliki memiliki data berapa banyak orang yang menggunakan buku di perpustakaan?.

Apakah di zaman ini perpustakaan masih menjadi identitas di beberapa kota ketika pandemi Covid-19 mengasingkan kita dari layanan langsung perpustkaan dan ketika era disrupsi digital betul betul sudah terjadi?.

Perpustkaan saat ini tutup, kehilangan spirit literasi. Kontradiktif dengan sejarah ketika saudara laki laki Kaisar bizantium Konstantinus XI yang lari ke Roma dengan membawa serta perpustakaan dalam sejarah abad ke -15 ketika Turki menaklukkan Konstantinopel.

Menyambut quote Bung Hatta yang melegenda “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bebas”.

Buku saat ini betul betul menjadi barang yang antik melebihi kesan antik ketika sebuah  buku tidak terbaca berbaris berhias debu di dalam etalase dan rak perpustakaan.


Perpustakaan sebagai ikon kota

Dalam sebuah komune pegiat literasi saya diajak ngobrol sebagai seorang pustakawan. Mereka bersemangat membahas tentang kota tercinta yang berlabel kota pendidikan, namun tanpa melibatkan sebuah gedung perpustakaan sebagai landmark atau identitas kota.


Bersama pegiat literasi Kota Parepare


Saya menghela nafas merasa ada yang beda dari obrolan perpustakaan bersama para pegia literasi ini.

Kepedulian bukan sekedar mereka berkumpul untuk mengajak mereka yang tidak membaca tapi,  berkumpul berkolaborasi untuk tujuan membahas bagaimana perpustakaan bergeliat.

Perpustakaan seumpama mall, tempat wisata, warkop, dan cinema yang banyak dikunjungi pemustakanya di kota yang banyak menjanjikan kenyamanan.

Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.

Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa,  salah satu  item dalam UU no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.

Fungsi perpustakaan di atas seharusnya memantik kesadaran pemerintah kota untuk membangun perpustakaan dengan fasilitas pendukung bagi pustakawan dan pemustaka.

Sekuat apa kita butuh perpustakaan, Kita adalah bangsa dengan budaya ngobrol yang tinggi dan hegemoni budaya ini mungkin hanya bisa dibungkam oleh. Kemewahan perpustakaan yang salah satunya saya gambarkan Trinity College Library: Dublin, Irlandia.

Dengan panel kayu gelap dan langit-langit yang melengkung tinggi, perpustakaan ilmiah ini begitu mempesona. Selain itu, Trinity College juga dikenal sebagai perpustakaan terbesar di Irlandia. Tidak hanya itu saja, perpustakaan ini juga mendapatkan gelar "perpustakaan hak cipta", yang memberikan hak untuk memperoleh materi yang dipublishkan dalam negeri tanpa biaya apapun.

Saya berfikir di keterbatasan dukungan pemerintah kota tidak harus menjadi penghambat untuk menggunakan fasilitas yang ada saat ini,  namun pegiat literasi " Gelanggang buku" jauh berfikir perpustakaan sebagai identitas kota.

Ini adalah kemajuan cara pandang tentang kota meskipun gemerlap perpustakaan di tanah air ini belum mampu memalingkan kita dari gagap gempita ala warkop dan keseruan teman ngobrol sembari menyeruput dibalik rindangnya "setangkai bunga makka" (warkop literasi).

Saat ini buku meninggalkan rumah nyaman perpustakaan, merangsek masuk ke setiap ruang kumpul kita, apakah ini bagian dari "identitas"?.


Inklusi sosial

Perpustakaan yang diharapkan saat ini adalah perpustakaan berinklusi sosial.  Perpustakaan memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya.

Melakukan perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak azazi manusia.

Data tes internasional menunjukkan lebih dari 55% orang Indonesia yang menyelesaikan pendidikan masih mengalami functionally illiterate.

Functionally illiterate,  kurangnya kegiatan membaca dan menulis untuk mengelola kehidupan sehari-hari dan pekerjaannya yang membutuhkan kemampuan membaca.

Kunjungan perpustakaan dapat bermanfaat untuk kehidupan dengan memperoleh skill yang mampu meningkatkan taraf ekonomi. 

UNESCO di tahun 2016 menyatakan Pogram Literasi untuk Orang Dewasa muncul untuk menghasilkan beberapa manfaat, khususnya membangun self esteem (kepercayaan diri) dan empowerment (pemberdayaan) dengan mekanisme pembiayaan yang sama efektifnya dengan pendidikan utama di sekolah.

Perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat menyediakan informasi dan fasilitas belajar yang berperan untuk mendorong peningkatan literasi masyarakat.

Menuliskan literasi tidak akan terhenti sampai disini karena fenomena ini bergeliat memasuki ruang gemerlap kota yang diusung pegiat literasi,  sisanya bagaiman pemkot mengapresiasi,  menfasilitasi kerja mereka untuk membangun "Perpustakaan sebagai identitas kota". Wassalam.