Kamis, 24 Desember 2020

Perpustakaan Umum Terbesar Pertama di Dunia

 

Bulan sedang asyik mencari-cari cahnnel youtube tentang travelling. Menyaksikan cerita jalan-jalan cukup seru baginya di tengah situasi pandemi covid-19 yang tak memungkinkan untuk bepergian secara leluasa. Dalam penelusuran, ia dimanjakan dengan begitu banyak suguhan jalan-jalan yang menarik. Lalu, matanya menangkap suatu konten youtube yang membuatnya penasaran. Hmm, menarik ya ada perpustakaan Makah Almukarromah yang dahulunya menurut beberapa informasi adalaha rumah tempat dimana Nabi Muhammad dilahirkan. Udah gitu, ada museum Nabi Muhammad lho, ih keren banget. Semoga kesampean ke sana ya Allah ..., Bulan berbisik dan berharap dalam lamunannya. Dalam video itu, perpustakaan tersebut membagikan buku gratis kepada para jamaah yang berkunjung sesuai kebutuhanya. Selain itu juga ditampilkan perpustakaan Masjid Nabawi yang memiliki ribuan koleksi kitab-kitab dari para ulama dan ahli ilmu terdahulu hingga kini.

Bulan jadi ingat tentang sejarah bagaimana Islam pernah mencapai puncak  peradabannya. Sejarah  mencatat bagaimana pada jaman keemasan Islam, perpustakaan begitu hidup sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Setidaknya ada 3 perpustakaan Islam terbesar di dunia pada saat itu  yaitu perpustakaan Baytul Hikmah (rumah Kebijaksanaan) di Baghdad, perpustakaan Dinasti Fatimiyyah di Kairo Mesir, dan perpustakaan Kordoba di Andalusia Spanyol. Koleksinya mencapai jutaan buku dan manuskrip yang sebagian besar adalah karya para ulama, ilmuwan, dan cendekiawan besar pada masa itu.

Sebagai seorang pustakawan, rasa penasarannya tentang perpustakaan Islam mebuatnya terus mencari-cari  konten yang memenuhi rasa keingintahuannya itu. Sampailah ia pada suatu video yang membahas tentang sumbagsih peradaban Islam pada dunia. Nah, ini dia, kayaknya seru, begitu gumam Bulan. Setelah panjang lebar sang narasumber berbicara, Bulan tergelitik pada suatu pernyataan  tentang Perpustakaan Umum Pertama terbesar di dunia.  Bulan begitu menyimak apa yang disampaikan oleh narasumber tersebut.

Dari catatan Bulan dapat digambarkan bahwa Perpustakaan Baytul Hikmah yang didirikan pada awal abad 9 masehi oleh Khalifah Harun telah menjadi pusat belajar, penelitian, dan kegiatan penerjemahan teks-teks penting dari peradaban lain, misalnya Yunani Klasik. Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad ini menempati sebuah gedung yang sangat besar, memiliki ruang baca yang sangat nyaman, terdapat aula tempat seminar, ruang diskusi ilmu pegetahuan, ruang penerjemah ilmu dari dan ke dalam bahasa Arab, ruang para ilmuwan, bahkan ruang untuk istirahat dan ruang makan bagi ilmuwan karena mengkaji ilmu berhari-hari hingga letih.

Para ilmuwan ini digaji dengan sangat tinggi. Penerjemahan karya bahkan ditimbang dan beratnya dibayar dengan emas. Pada abad 3 hijriyah atau 9 masehi bahkan di negeri Eropa masih tertinggal sementara kaum muslimin sudah memiliki perpustakaan terbesar di dunia. Masjid-masjid di masa itu pun dilengkapi dengan perpustakaan yang tak kalah menarik.

Pada masa itu, salah satu kebiasan khalifah adalah nitip dibelikan oleh-oleh buku kepada  kafilah dagang yang pergi ke berbagai negeri. Kaum muslimin yang lain pun demikian. Pernah suatu ketika di reruntuhan bekas bangunan suatu negeri, kaum muslimin menemukan buku yang tertimbun dan menimbulkan aroma busuk karena  terkena panas dan hujan dalam waktu cukup lama. Buku tersebut di jemur halaman per halaman dengan begitu teliti sehingga ilmu yang ada dalam buku tersebut dapat tergali dan terbaca. Mereka menghabiskan waktu 1 tahun untuk menjemurnya secara teliti. Maka peradaban mana yang begitu rupa menghargai ilmu kecuali ada pada kaum muslimin.

Konsep perpustakaan umum pertama di dunia hadir pada jaman keemasan Islam. Timbul pertanyaan dari narasumber yang juga diiyakan oleh Bulan, apakah hal ini pernah disinggung dalam kurikulum di dunia ilmu perpustakaan dewasa ini? Pernah kah mempelajari tentang perpustakaan pertama di muka bumi? Setiap ilmu tentu ada sejarahnya, termasuk ilmu perpustakaan. Apakah ilmu perpustakaan hari ini dengan jujur mempelajari perpustakaan terbesar pertama di muka bumi? Bulan manggut-manggut, pikirannya menerawang ke masa dimana ia pernah kuliah perpustakaan dan memang tak pernah mendapatkan materi seperti ini.

Lebih lanjut narasumber dalam video tersebut menerangkan bahwa Peradaban Islam memiliki sudut pandangnya sendiri yang sangat menarik. Pasa aspek tertinggi, peradaban itu dibangun dari hubungan makhluk dengan penciptaNya, yakni manusia dengan Tuhan yang Esa. Dampak dari hubungan manusia dengan Tuhan adalah harmonisasi kehidupan dan interaksi dengan sesama umat manusia dengan baik, memanusiakan manusia dan menghargai segala-hak-hak asasinya. Jika ini berjalan, maka terjadilah dampak ikutan yaitu bagaimana manusia bisa menghasilkan karya yang  dapat mendekatkan dirinya pada Tuhan dan semakin baik interaksinya dengan sesama umat manusia. Maka dihasilkanlah karya-karya fisik manusia termasuk dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan.

Relasi-relasi itu menghasilkan peradaban yang sungguh cemerlang. Peradaban yang dibangun dari pondasi keimanan kepada Tuhan lalu turun pada hubungan kasih sayang dan cinta damai pada sesama manusia, kemudian didukung dengan alat atau sarana penunjang hidup yaitu ilmu pengetahuan dan segala peradaban yang lahir secara material dan fisik.

Peradaban Islam ini terkait degan perintah Tuhan yang tertuang dalam kitab suci yaitu Iqro “bacalah”. Membaca dan mendalami kitab suci yanag berisi firman Tuhan menjadikan manusia harus membaca, merenungi, berfikir, dan meneliti  dunia dan semesta jagad raya ini. Semua bermula dari perintah membaca agar manusia menemukan kebesaran Allah dan makin mempertebal keimanannya.

Bulan lalu merenungi kondisi umat Islam saat ini. Ya, mereka kurang membaca, kurang kepedulian terhadap ilmu. Di rumah dan tempat-tepat ibadah mereka tidak dipenuhi dengan pustaka-pustaka keislaman. Perpustakaan penting dalam pengembangan suatu bangsa karena perpustakaan menyediakan informasi dan dokumentasi. Perpustakaan layaknya lembaga sekolah sebagai learning center atau resources center.

Sementara yang terjadi di dunia ini, manusia begitu mengagung-agungkan karya fisiknya, keilmuan duniawi, seni bangunan dan banyak lagi. Padahala interaksi dan hubungannya dengan umat manusia lain sangat buruk dan zalim. Kezaliman sesama manusia ini terjadi karena pemahaman akan penciptaan makhluk oleh Tuhan tak dipahami manusia secara utuh akibat kesombongan dan pendeknya hubngan mereka dengan Tuhan.

Maka dapat dikatakan bahwa, selama belum ada kegemaran iqro atau membaca maka belum akan ada kebangkitan, belum akan ada kemajuan, dan belum akan ada peradaban. Pada masa peradaban Islam, kamun muslimin punya kepedulian dengan buku.  Tidak ada ilmu Yunani yg melalui jalur kaum muslimin. Ini mengindikasikan bahwa budaya fair dan aobjektif terhadap keilmuan dari peradaban lain diakui kaum muslimin dengan tetap menyebutkan sumbernya dan kemudian mengembangkannya secara lebih luas. Dari sinilah lalu  dunia tahu bahwa saat itu ada para ilmuwan Yunani, yang sebenarnya kondisi mereka saat itu sangat jauh dari interaksi dan terkucil di masyarakatnya.

Kaum muslimin menemukan hikmah dimana saja tanpa menutup-nutupi sumbernya. Peradaban Islam  terbukti telah mewariskan beragam keilmuan yang luar biasa yang belum pernah ada pada masa itu dan menjadi sumbangsih terbesar bagi kemajuan umat manusia hingga kini.  Namun demikian masih terjadi ketidak-fair-an dewasa ini untuk mengakui sumber-sumber keilmuan Islam sebagai rujukannya. Bukanlah sebuah peradaban dimana Kejujuran dan Keadilan belum bisa ditegakkan.

Kembali pada perintah iqro atau membaca, jika kaum muslimin tidak mau membaca bahkan tidak tahu sejarah peradabannya sendiri, maka dia akan menjadi pengekor-pengekor saja. Kaum muslimin harus kembali bangkit. Harus kembali membaca dan bersahabat dengan ilmu. Kejatuhan dan kemunduran kaum muslimin akibat dari kerapuhan dirinya sendiri. Dimensi peradaban yang memiliki tiga unsur yaitu ikatan dengan Allah, dengan manusia dan dengan alam tidak lagi diindahkan. Sumber keilmuan yang berasal dari kitab sucinya sendiri tidak mereka pedomani. Maka tak ayal, jika peradaban tidak lagi berpijak pada nilai-nilai kebenaran, maka tinggal menunggu kehancurannya.

Ya, kaum muslimin lalai, malas membaca buku dan tidak tahan mengkaji ilmu berlama-lama. Sementara, kegemaran kaum muslimin membaca buku dan cinta ilmu pada masa itu telah menghantarkan mereka membangun sebuah pusat keilmuan yang dapat diakses dan bermanfaat bagi masyarakat luas yaitu perpustakaan. Inilah konsep perpustakaan umum pertama di dunia.

Lagi-lagi Bulan hanya bisa manggut-manggut sendiri. Hari ini dia dapat pelajaran berharga. Jika belum ada kegemaran membaca, belum akan ada kebangkitan. Kata-kata inilah yang terus mengiang di benaknya.

Rabu, 25 November 2020

Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada

 Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada


Dunia sebagai keseluruhan menurut pandangan filsafat klasik, adalah bidang dari segala bidang-bidang lainnya. Ia adalah jaringan dari keseluruhan, namun manusia tidak akan pernah bisa memahami ini, karena pengetahuannya selalu terbatas. Terjangan filsafat postmodern telah membubarkan harapan manusia tentang filsafat yang bisa menjelaskan segalanya dalam satu gambaran dunia yang utuh dan koheren. Tidak ada lagi “Dunia” dengan huruf D besar.


Akibatnya, banyak orang kini kehilangan pegangan, tak luput juga mereka yang berprofesi pustakawan di negeri ini, karena panduan dunia kepustakawanan dari para founding fathers ilmu perpustakaan di negeri ini yang utuh dan menyeluruh telah menghilang. Keyakinan akan kebenaran mutlak tentang kepustakawanan termasuk ilmu perpustakaan dipertanyakan ulang. Sebaliknya, imajinasi dan kreativitas di luar profesi pustakawan justru meningkat, guna mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan. 


Perpustakaan di negeri ini kini bagaikan tempat yang dingin yang harus ditata kembali dengan imajinasi dan daya cipta para pustakawannya. Tidak ada pilihan lain, kecuali pustakawan menjalani ini semua dengan penuh kesadaran dan kebebasan.


Pada titik ini, ilmu perpustakaan tidaklah cukup. Pustakawan membutuhkan seni, teknologi, agama, budaya, dan filsafat untuk mengisi hidupnya. Tanpa itu semua, dunia pustakawan bagaikan padang gurun yang kering dan tanpa makna. Jika sudah begitu, neraka tak perlu menunggu setelah kematian para pustakawan, melainkan sudah ada disini dan saat ini.


Tanpa jiwa, dan pengakuan atasnya, hidup pustakawan jadi tak berarti. Jiwa pustakawan adalah administrator dari makna. Tanpanya, hidup pustakawan jadi tak bermakna. 


Ketika peran pustakawan dihilangkan, maka ia bisa fokus pada situasi disini dan saat ini (here and now), dan mulai mencipta dengan gembira, tanpa kekecewaan, tanpa depresi.


Pustakawan hidup di dunia yang tak pernah ada, namun memiliki peluang dan kemungkinan yang tak terbatas untuk mencipta. Ia melintas berbagai area makna, lalu mencipta ulang hidupnya kembali. 


Tujuan akhir kita pustakawan di negeri ini tak akan pernah tercapai, karena tujuan itu sendiri tak pernah ada. Makna yang tersangkut pada kebenaran mutlak memang menghilang dari jati diri pustakawan, tetapi kita jangan pesimis, karena pustakawan juga memiliki kebebasan untuk menciptakan makna-makna baru secara kreatif, dan tanpa batas.



Terinspirasi dari curhatan diri 


Selasa, 24 November 2020

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi



انسى السلامة. عِش حيث تخشى أن تعيش. دمر سمعتك. كن سيئ السمعة” (جلال الدين الرومي)


Larilah dari apa nyaman, lupakan kenyamanan, hiduplah ditempat kamu takut untuk hidup, hancurkanlah reputasimu, jadilah pribadi yang kontroversial (Jaluddin Rumi)


 
Rumi, salah satu sufi dalam tradisi Islam menjadi inspirasi saya untuk menjadi "gila". Suara sang sufi menggema keras di zaman now, zaman dimana semua orang mencari kenyamanan di segala hal, bahkan sampai kenyamanan di kehidupan setelah kematian. Zaman ini semua orang menjilat kiri kanan untuk menjaga reputasinya, zaman dimana orang cari aman, tunduk pada penindasan akal sehat.

Kenyamanan adalah musuh, kenyamanan membuat saya menjadi busuk, membuat saya terlena, membuat saya turun kesadaran, membuat saya menjadi lemah dan lambat. Bagi saya kenyamanan yang saya rasakan bagaikan telur diujung tanduk, ia amat rapuh, semua ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan bisa lenyap dalam sekejap mata.

“Hancurkan Reputasimu” begitulah Rumi mengajak kita. Reputasi adalah pandangan orng lain tentang kita. Sifatnya dinamis, berputar, dan ia amat rapuh. Bagi saya hidup mempertahankan reputasi adalah hidup dalam penjara. Rumi membebaskan saya dari apa yang semu, Rumi ingin mengajak saya untuk terus memperbaharui hidup. Saya tak ingin terjebak pada satu peran ataupun identitas tertentu.

Rumi telah mengajak saya menjadi mantan pustakawan yang kontroversial, membongkar tradisi yang ada, yang mempertanyakan pandangan-pandangan lama dunia kepustakawanan yang sudah kuno, oleh karenanya saya pun juga harus siap dibenci karena melakukan itu semua.

Menjadi terkenal menjadi mantan pustakawan pemberontak, yang tidak bisa diatur, yang berantakan, yang semau gue. Itu semua saya lakukan untuk membongkar kemunafikan cara berpikir pustakawan yang ada.

Nietzche, pemikir Jerman kiranya terinspirasi banyak dari ajaran dari Rumi. Keduanya menegaskan agar hidup itu tidak hanya ikut arus, tanpa sikap kritis, dan terlena dalah hidup di zona nyaman dan aman di dalam kedangkalan. Saya telah menjadi mantan pustakawan “Gila” yang beralih profesi jadi tukang ketik atasan. Menjadi gila  seperti ini justru menjadikan saya waras sepenuhnya menjadi manusia seutuhnya untuk hidup dengan segala warnanya.
 
 

 



Senin, 23 November 2020

Antara Vlog dan Blog Jangan Bandingkan! Kombinasikan Saja

Banyak yang berkomentar sekarang ini blog sudah mulai menurun pembacanya dan banyak yang mulai beralih ke vlog? Benarkah? 

Ok, saya akan jawab beberapa hal yang terkait. 

katadata.co.id
katadata.co.id

Pertama, membandingkan dua media vlog dan blog jelas tidak adil. Kenapa? Lah, wong satunya untuk media menulis sementara vlog untuk video. Tapi, kalau digabungkan keduanya itu bisa makin dahsyat. Kalau mau membandingkan coba dua paltform yang sama misalnya antara Youtube dan Vimeo. Walaupun, jelas yang satu sepertinya lebih banyak peminatnya. Tapi kedepan, siapa yang tahu nanti suatu saat Youtube mulai tergeser dengan pilihan yang lain. Kasus blog misalnya ada banyak pilihan blogger, wordpress, kompasiana, dll. 

Kedua, ada benarnya juga tanpa melihat statistik penggunaan blog dan vlog, saya merasakan ada penurunan pembaca. Apalagi tingkat minat membaca negara kita masih memprihatinkan. Vlog misalnya di Youtube memang cukup menggairahkan. Terlebih budaya menonton di negara kita masih cukup tinggi, jauh sebelum kemunculan vlog, hiburan seperti menonton televisi masih mengalahkan hiburan misalnya dengan membaca karya sastra. Saya tidak akan jauh mengambil contohnya, cukup dikampung sendiri. Pulang dari sawah, menonton tv merupakan kenikmatan tersendiri bagi mereka dan itu saya menyaksikan secara langsung. Sekarang ini dimana smartphone dan kuota yang semakin murah, maka kehadiran vlog tentu menjadi alternatif tontonan bagi mereka. Apalagi pembuat konten vlog semakin semangat memproduksi karena iming-iming rupiah, makin banyaklah video yang beredar.

Ketiga, saya orang yang masih percaya budaya menulis akan terus ada hingga akhir zaman. Boleh saja blog hilang ditelan waktu, tapi untuk aktivitas menulis akan selalu tetap ada. Saya pernah bilang dalam suatu acara knowledge sharing, bahwa tradisi menulis sudah dilakukan ribuan tahun yang lalu, hanya medianya saja yang berubah. 

Keempat, saya tidak menampik, memang realitanya ada banyak konten-konten yang dulunya diblog dan saat ini mulai beralih ke vlog misalnya saja tema wisata, kuliner, resep, tutorial apapun itu temanya, dan masih banyak yang lainya. Mungkin ada beberapa tema yang tetap bertahan di blog seperti materi-materi pendidikan. Walaupun, saat ini materi-materi pendidikan pun ada beberapa yang mulai dibuat secara visual agar lebih menarik. 

Kelima, antara vlog dan blog itu, dua-duanya hanyalah media saja. Tapi, aktivitasnya yang paling penting. Dunia blog misalnya menulis. Dunia vlog mungkin kreativitas dengan konsep visual dan audio. Dua-duanya memiliki jalan masing-masing dan memiliki penikmatnya sendiri. 

Nah, sebagai penutup, hemat saya antara blog dan vlog itu jangan dibandingkan! Tapi, kombinasikanlah keduanya. Vlog kodenya bisa di embed ke blog. Sebaliknya vlog dalam deskripsi atau video bisa mencantumkan link/tautan menuju blog. Dua-duanya bisa berjalan seirama seperti buku saya dulu Dua Dunia Seirama (he...2). Menurut kawan-kawan pustakawan bagaimana?

Note: 
Untuk melihat secara live postingan blog di dunia setiap hari bisa akses disini:
https://www.internetlivestats.com/watch/blog-posts/

Untuk melihat statistik pemanfaatan media sosial seperti Youtube cek di APJII 2018 (2019 sepertinya belum keluar). 

Minggu, 25 Oktober 2020

Tantangan untuk ISIPII

Musim sudah berganti. Kemarau berangsur hilang. Hujan mulai turun. Banjir juga mulai terjadi. Tak terkecuali di kampung Paijo. Ya. Tapi tidak di perumahan. Yang kena banjir ya sungainya. Hehe. 


Sore itu, selepas hujan lebat pergi, Paijo merenung. Lama dia tidak merenung. Pada masa pandemi ini, sebenarnya dia banyak di rumah. Kerja. Online. Daring istilah bakunya. Namun, justru kerja online dari rumah ini membuatnya kurang produktif dalam merenung untuk kemudian menuliskannya.

Sore itu dia berusaha sekuat pikiran, untuk merenung. Beberapa diskusi, atau tepatnya lontaran diskusinya, mendapat tanggapan. Dan itu membuatnya merenung. Menerka arah dan argumen yang muncul dari rekan-rekannya.

****

Sekelebat dia ingat, masih tentang perpustakaan, pustakawan, dan kepustakawanan. Konon kabarnya, di negara lain yang dianggap maju perpustakaannya, pustakawan itu pendidikannya unik.

Kalau pendidikan tinggi dasarnya tentang perpustakaan, maka jenjang berikutnya pustakawan tidak mengambil lagi studi perpustakaan. Namun mengambil pendidikan lain. Atau sebaliknya. Pendidikan tinggi dasarnya tentang ilmu lain, kemudian pustakawan akan ambil masternya tentang perpustakaan.

Hal itulah yang kemudian (salah satunya) dianggap berkontribusi pada skill dan pengetahuan pustakawan.

Namun, di Indonesia tidak demikian. Banyak pustakawan yang tidak bosan sekolah tentang perpustakaan, atau kini diperluas dengan informasi. Diplomanya perpustakaan, sarjana perpustakaan, masternya juga demikian. Tidak bosan. Ya, seperti Paijo sendiri. Haha. 

"Hanya doktor yang tidak", batinnya. Ya. Jelas. Di Indonesia belum ada program doktor ilmu perpustakaan. Ada, sih. Tapi program nebeng. 

Paijo berfikir. Kudunya tidak demikian. Ya, minimal jika ingin sama seperti negara tetangga, lah. Kan selama ini begitu kebiasaan membandingkannya. Pustakawan tidak boleh sekolah terus di bidang perpustakaan. Ini harus dikampanyekan. Kudu variasi. Biar enak, menantang, dan tidak bosan.

Lalu siapa yang harus mengampanyekannya?

"Tidak ada yang lain. Ya para lulusannya", bathin Paijo. Juga organisasi lulusannya. Organisasi yang mewadahi para sarjana ilmu perpustakaan. "ISIPII," ucap Paijo setengah teriak.

"Untuk pengembangan kepustakawanan Indonesia, kami serukan pada para sarjana IPI untuk merdeka ambil S2 di bidang apapun"

Wani ra?

Tapi apa ISIPII berani? Paijo tidak yakin.

Renungan itu menyisakan tantangan.

Selesai

Rabu, 07 Oktober 2020

Pustakawan Berdaya


Bermula saat masa pendemi Covid-19 muncul. Sebagai pustakawan Bulan sempat berpikir bagaimana melakukan layanan perpustakaan kepada pengguna sementara perpustakaan tutup atau dibuka secara terbatas. Layanan secara fisik di mana pemustaka hadir ke perpustakaan, membaca, menulis, berdiskusi, bahkan meminjam buku tidak sebebas dahulu kala. Perpustakaan khusus yang dikelola oleh Bulan bakal makin sepi saja. Bulan tidak mati gaya. Dia terus berpikir, kira-kira layanan apa yang dapat diberikan perpustakaan.

Perpustakaan yang dikelola Bulan ini memang perpustakaan khusus. Tentu saja koleksi dan penggunanya juga khusus. Kebanyakan adalah para pegawai di lingkungannya. Ada juga masyarakat umum yang menggunakannya tetapi sejauh ini jumlahnya tidak terlalu banyak. Para pegawai memiliki kesibukannya masing-masing. Apalagi masa pandemi ini dengan diberlakukannya bekerja dari rumah atau wfh (work form home) praktis perpustakaan semakin sepi.

Jauh sebelum adanya pandemi covid-19, perpustakaan yang dikelola Bulan sudah hadir ke meja penggunanya. Ada layanan antar jemput buku bagi para pemustaka. Ada katalog daring yang bisa diakses kapan saja. Ada perpustakaan dalam genggaman (android) yang sudah di “create” dan beroperasi bagi pengguna secara luas. Semua layanan ini semata demi perpustakaan dapat memberikan layanan prima kepada pemustakanya. 

Sebagai pustakawan, Bulan masih belum puas. Dia belum melakukan kajian untuk melihat sejauh mana layanan perpustakaan selama ini benar-benar dimanfaatkan oleh pemustaka. Dia teringat, ada satu layanan perpustakaan yang makin mendekatkan dan mengakrabkan perpustakaan dengan penggunanya. Ya, layanan referensi. Apalagi pemustakanya sebagain besar adalah para peneliti. Fungsi sebagai pustakawan rujukan bisa dimaksimalkan di sini. Nah, mulailah Bulan merancang layanan ini.  

Dibuatlah sebuah flyer yang berisi informasi layanan penelusuran literatur berikut link permohonannya. Layanan ini diperuntukkan  bagi para pengguna perpustakaan baik dari kalangan pegawai sendiri, peneliti, dosen, guru, mahasiswa, ataupun masyarakat umum yang membutuhkan referensi apa saja yang diperlukan dalam aktivitas mereka.

Yup, flyer sudah jadi. Siap dikirim dan dishare ke instagram perpustakaan yang memiliki follower sekitar 2000an orang dan grup WA pemustaka. Tak disangka respon yang muncul di luar dugaan. Dalam sehari bisa masuk permintaan penelusuran literatur hingga mencapai  ratusan. Bulan dan tim sempat panik. Menggembirakan sekaligus mendebarkan. Menggembirakan karena perpustakaan masih dibutuhkan mereka. Mendebarkan karena sanggupkah melayani permintaan sebanyak ini.

Bulan dan tim bermusyawarah. Alhamdulillah sebuah solusi ditemukan. Semua request dari pemustaka dibagi bersama dalam tim. Lalu dibuatlah ketentuan-ketentuan yang mengatur layanan tersebut mulai dari hari dan jam layanan, permintaan literatur yang spesifik, kuota permintaan, dan eksekusi layanan termasuk nomor whatsapp admin perpustakaan yang bisa dihubungi.

Selama beberapa waktu, Alhamdulillah layanan ini berjalan dengan baik dan lancar. Semua permintaan literatur atau informasi yang dibutuhkan pemustaka dapat dipenuhi oleh Bulan dan tim. Bekerja dalam tim adalah bekerja sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Ah, Bulan dan tim merasa berdaya kini. Meskipun kerja dari rumah tetapi tetap produktif bahkan semakin dekat dengan pemustakanya.  Ada kebahagiaan yang tak bisa terucap dengan kata-kata.

Ya, pandemi telah memaksa pustakawan  turun gunung, menemui masyarakat penggunanya dengan hadir lebih dekat kepada mereka meskipun secara daring.  

Bravo buat Bulan dan tim. Di manapun dan kapanpun pustakawan siap mengabdi untuk bangsa dengan memberikan layanan terbaiknya. Kebutuhan mereka terpenuhi, aktivitasnya menjadi lancar dan sukses. Mereka bahagia dan pustakawan pun ikut bahagia.


Kamis, 01 Oktober 2020

Pustakawan membangun generasi pancasilais (sebuah spirit HKP.)



Merefleksi Hari Kesaktian Pancasila 1 oktober 2020, kita terbawa dalam wacana penuh  spirit Pancasila, tergambar dalam sejarah penumpasan gerakan 30 september Partai komunis Indonesia (G30S/PKI), memperingati HKP, dan bagaimana pustakawan menjabarkan spirit HKP dalam setiap tugas layanan.

 
Hari Kesaktian Pancasila (HKS) adalah hari nasional di Indonesia yang diperingati setiap 1 Oktober sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 153/Tahun 1967, Ini terjadi setelah Peristiwa Gerakan 30 September yang lebih dikenal sebagai G30S/PKI. (Wikipedia).
 
Rasa haru menyeruak dalam diri setiap Insan yang literat terhadap perjuangan dari para suhada bangsa di balik perayaan yang mengusung semangat membela Negara, mempertahankan keutuhan negara dari serangan  partai komunis Yang ingin mengubah ideologi pancasila menjadi ideologi komunis.
 
Langkah kudeta berujung pembantaian 7 perwira tinggi dan 1 perwira menengah TNI AD gugur. Pembantaian yang diplopori Resimen “Tjakrabirawa” dengan alibi PKI, bahwa Angkatan Darat dianggap sebagai lawan utama mereka. Menjadi satu bencana bagi para jenderal dan kerabatnya.
 
Narasi pemerintah Orde Baru banyak dikemas dalam tulisan maupun film yang berdurasi lebih dari 4 jam memberikan gambaran kekejaman PKI, pasca penumpasan gerakan 30 september ini menghembuskan kecurigaan kepada keterlibatan bebrapa orang dan menjadi tertuduh yang tidak jarang memakan korban.
 
Cukup bijaksana jika kita menelisik sejarah dengan melihat fakta-fakta yang ada sehingga tindakan refresif dan tuduhan tidak asal dijatuhkan kepada seseorang sebagai antek PKI. Tindakan yang tidak perplu terjadi di zaman yang serba dipenuhi dengan kesibukan
 
Generasi yang Pancasilais.
 
Saktinya pancasila adalah apresiasi perjuangan otoritas militer Indonesia dalam menumpas gerakan 30 september PKI (G30S/PKI) inilah yang menjadi spirit kebanggan terhadap pancasila sebagai dasar Negara, spirit yang mewakili setiap sila dari pancasila.

Lantas di zaman yang digandrungi oleh generasi digital saat ini atau disebut generasi terakhir Gen z ini niscaya dapat lebih literat dengan mudahnya akses informasi yang tidak mengandung hoaks atau gen-z membahasakan tidak zonk.
 
Kreatifitas dan inovasi adalah implementasi yang diharapkan dari spirit pancasila, dari generasi yang serba didukung oleh fasilitas media digital yang juga dimaknai fsilitas kemerdekaan, punya ruang gerak untuk berjuang di masa kemerdekaan yang berpotensi mensejahterakan diri, keluarga dan bangsa.
 
Menjiwai setiap sila pada pancasila dalam mengelola kehidupan yang modern, jiwa pancasila yang mampu beradaptasi di zaman, beradaptasi dalam setiap generasi yang punya loyalitas generasi yang berpaham  nasionalis berpalsafah pacasila yang  hidup di zaman moderrn.
 
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara, dan kita sudah banyak belajar dari sejarah bagaimana pancasila menjiwai setiap perjuangan.
 
Pustakawan berinovasi
 
Kemerdekaan adalah jalan menuju sejahtera, belajar dari kegagalan masa lalu dan terus belajar untuk bisa mengisi kemerdekaan.
 
"Membaca dan menulis untuk kesejahteraan"

"Penulis"


Pustakawan berinovasi dengan mengejawantahkan spirit HKP. Mencari cara terbaik untuk menghadapi guncangan invasi makhluk kecil  yang akrab dengan sebutan corona virus deseas 2019 (covid 19).
 
Tujuh bulan sudah berlalu Layanan informasi bertransformasi pengelola perpustakaan, menciptakan layanan-layanan  inovatif dan saling sharing pengetahuan melalui seminar dan workshop secara virtual dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Perpustakaan Berinklusi Social) .

Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny mengatakan,
 
"Agar tujuan kita merdeka mencapai kesejahteraan, maka orientasi pengambil kebijakan harus mengarus utama kan rasa ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan, dengan harapan ke depan bangsa Indonesia bisa lebih bijak dan dewasa dalam menyelesaikan konflik masa lalunya.
 
"Pandemi ini menantang negara dan menguji ketangguhan kita sebagai rakyat Indonesia. Pancasila sebagai pusaka negara Indonesia harus menyala di hati kita masing-masing dalam setiap perbuatan kecil dan besar yang bisa kita lakukan bagi sesama,"

Spirit Kesaktian Pancasila Melalui ideologi pancasila Yang mengusung lima sila yang diwujudkan dalam layanan perpustakaan terhadap pemustaka (Pengguna perpustakaan) untuk kesejahteraan masyarakat.
 
Falsafah setiap sila pancasila, sila Ketuhanan yang maha esa dijabarkan dlam prilaku pustakawan yang mendahulukan kecerdasan spiritual yang berketuhanan dalam melaksanakan tugas.

Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, dijabarkan dalam layanan-layanan yang mendukung pemustaka dengan kesiapan koleksi tercetak dan digital, sesuai skala prioritas untuk pemenuhan efektifitas, efisiensi dan kenyamanan bagi pemustaka.
 
Persatuan Indonesia adalh kunci sikap sila ketiga yang dijabarkan dengan melakukan kolaborasi dengan stakeholder pada lembaga internal maupun eksternal dalm mengembangkan pengelolaan informasi khususnya di perpustakaan.
 
Sila Kerakyatan yang dipimnpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, ini diharapkan dalam setiap pengambilan kebijakan untuk pengembangan koleksi, pengembangan perpustkaaan lebih mengedepankan musyawarah dengan stakeholder kampus yang terdiri dari dosen, pengelola perpustakaan, dan keterlibatan pejabat perguruan tinggi dalam penentuan kebijakan pengadaan bahan pustaka dan layanan. 

Sila ke-lima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dalam setiap pengabdian dituntut bersikap adil yang mungkin bias diwujudkan dalam model layanan di masa pandemi ini, bagaiman pengelola perpustakaan mengelola waktu layanan save the of the reader, layanan yang berorientasi pada pengguna “user oriented”