Selasa, 07 April 2020

3 Kriteria Dongeng yang baik

Kalau ngomongin dongeng, pastinya para pustakawan tahu. Apalagi pustakawan yang kerja di perpustakaan umum. Nah, seberapa sering teman-teman pustakawan yang berkerja di perpustakaan umum melakukan kegiatan dongeng? Atau mungkin teman-teman yang sudah menjadi orang tua, kira-kira seberapa sering melakukan dongeng untuk anak-anaknya? 

Seperti apa sih kriteria dongeng yang baik itu? Penasaran? Simak ya vlog berikut ini.


Salam,
Pustakawan Blogger

Senin, 30 Maret 2020

Rasa Takut, Corona dan Sikap Pustakawan

Ok kawan, saya awali tulisan singkat ini dengan rasa takut dan manusia akan diuji dengan rasa itu.

Mari kita kaitkan rasa takut yang tercipta dengan informasi. Lalu kaitkan juga dengan wabah yang sekarang sedang menggila, Virus Corona.

Ketakutan seseorang dengan Virus Corona itu sejatinya kenapa? Mungkin...

Pertama, informasinya setengah-setengah yang diketahui.

Kedua, belum sempurna memaknai informasinya.

Ketiga, penyebaran atau korban informasi hoax. Ini yang paling berbahaya.

corona
Credit: Pixabay
Dari ketiga itu, lantas bagaimana pustakawan menyikapi?

Kita memang bukan orang 'penting-penting banget' yang berada di garda terdepan seperti petugas medis dalam menyikapi Corona.

Tapi, minimal apa yang bisa dilakukan untuk bersatu padu melawan Corona sesuai dengan tugas dan kapasitasnya masing-masing? Misal di keluarga sendiri, pemustaka perpustakaan tempatnya bekerja, atau dalam lingkup yang lebih luas misalnya masyarakat? Saya yakin kawan-kawan sudah tahu.

Eit, sebentar dulu. Saya lupa lah wong pustakawannya juga masih ada yang takut. Mungkin takut karena tiga hal diatas itu. Mungkin loh ya....


#baca
#stophoax
#lawancorona

Salam WFH

Corona di haluan literasi



Opini: beberapa waktu kita sudah berjalan bersama pandemi global. Berita ini menyeruak mengisi ruang net, ini melahirkan kesan tersendiri bagi profesi kepustakawanan dan para pegiat literasi yang diamanahkan menyebar informasi dan menebar kecintaan membaca.

Menukil, menshare, memfollow,  beropini bahkan sampai memberitakan adalah gejala positif yang diperlihatkan warga net (netizen),  hal selalu pustakawan ingin sampaikan untuk cinta membaca seakan terpenuhi dimana media baca di era disrupsi ini hanya segenggam,  dan semua waktu bisa untuk membaca yang mungkin dilakukan sesaat bagai orang yang suka ngemil.

Corona virus disease 2019 yang dikenal dengan Covid-19 mengisi setiap sendi kehidupan, mengguncang dunia sains kedokteran,  dunia penelitian, memporak porandakan perekonomian dunia bahkan nilai rupiah seakan terkena virus corona menyibukkan pembesar negara dalam tindakan pngambilan kebijakan  yg tidak mudah.

Dunia literasipun menghangat merilis Jakarta Ayobandung. com Buku novel thriller "The Eyes of Darkness" karya Dean Koontz tahun 1981 mendadak menjadi bacaan istimewa yang laris di pasaran dan menjadi bestseller. 

Berdasarkan penelusuran kantor berita Reuters diketahui bahwa memang benar Koontz menulis soal virus bernama Wuhan 400 dalam novelnya dan mengacu pada kota Wuhan, tempat muasal virus corona Covid-19 meskipun dengan latar dan gejala yang berbeda dgn yang tetjadi di wuhan saat ini.





Orang sehebat perdana menteri inggris Borris johnson berani menantang perang Covid-19 dengan teori  Herd immunity atau kelompok kebal dengan langkah mengamankan kelompok lansia dan anak anak kemudian melewati fase infeksi virus ini sehingga di inggris saat ini aktifitas berjalan seperti biasa, namun strategi get it alone yang memuat konsep Herd Immunity ini mendapat kecaman dari pemimpin oposisi dan dan pejabat di luar negeri (Kompas .com), 

Covid 19 juga menggiring orang nomor satu di Amerika, Donald Trump berdebat tentang jenis pemusnah yang belum pasti uji klinis tentang obat klorokuin yang diklaim mampu menyembuhkan penyakit Covid-19,  walaupun itu harus berhadapan dengan komisatis Food and Drugs Administration (FDA) Dr.  Stephen Hahn yang tdak mengijinkan penggunaan klorokuin

Lihat saja pada hal sederhana urusan narasi "Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang dipimpin Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus resmi mengganti istilah "social distancing" atau jarak sosial dalam penanganan virus corona atau Covid-19. Sebagai gantinya WHO menerapkan istilah "physical distancing" atau jarak psikis." membuat nama saja untuk media tanding Covid-19 butuh kematangan??, Apakah Covid-19 yang punya kemampuan menempel dan hanya berukuran 400-500 micro akan kerasan di muka bumi ini hanya untuk urusan membasmi ummat manusia?

Pasca membantai italia dan korea selatan yang nyata secara popularitas memiliki standar kesehatan dan kesiapan tenaga medis yang mumpuni, melansir laman Smh.com selasa, (24-3-2020) "dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia yang paling mengkhawatirkan indonesia memiliki populasi terbesar namun lemah di sisi birokrasi, penanganan yang buruk di Indonesia akan membuat negara terpapar semakin buruk" ujar dose GriffithUniversity LeeMorgenbesser (ahli politik asia tenggara).

Kekhawatiran itu memuncak seiring kondisi Indonesia saat ini yang hanya memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Itu artinya sekitar 12 tempat tidur per 10.000 orang. Sementara Korea Selatan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memiliki 115 per 10.000 orang.

Pada 2017, WHO menemukan Indonesia memiliki empat dokter per 10.000 orang. Italia memiliki 10 kali lebih banyak, berdasarkan per kapita. Korea Selatan memiliki dokter enam kali lebih banyak.... Dengan episentrum yang kamu (covid 19) bawa kami pastikan setelah mengeal kmu lebih dalam (literasi covid 19).

Menakar kemampuan dan fasilitas medis nasional,  dan sosial budaya kerja masyarakat yang mayoritas pekerja harian maka pilihan lockdwn adalah pilihan terakhir,  pemerintah pusat dalam hal ini presiden memilih social distancing atau menjaga jarak sosial mengikuti himbauan WHO,  

Covid-19 menjadi pandemi yang membuat ummat manusia bergerak di luar alami, nuansa literasi covid-19 tumbuh dan menyentuh semua rutinitas keilmuan, ikut eksis dengan upaya yang beragam,  namun satu tujuan bahwa kita harus literat terhadap Covid-19 ini. 

Kamis, 26 Maret 2020

Ekoliterasi : Kontribusi Pustakawan Dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup dan Hutan


Setiap tahunnya, tanggal 21  Maret ditahbiskan sebagai Hari Hutan Hutan Internasional. Walaupun momen tersebut telah berlalu namun aksi penyelamatan hutan dan lingkungan tak boleh meredup. Pesan reflektif-nya adalah betapa pentingnya fungsi hutan sebagai komponen penyanggga dan penyeimbang kehidupan. Tanpa hutan niscaya kita akan merasakan betapa menderitanya kekurangan oksigen dan air serta bencana alam akan datang silih berganti. Jika alam telah rusak maka betapa tidak nyamannya hidup ini.
Telah digaungkan bahwa pelestarian hutan dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, namun segenap lapisan masyarakat turut diharapkan kontribusinya. Bahkan pustakawan pun dituntut peran aktifnya dalam berkontribusi nyata dalam pelestarian hutan dan lingkungan. Beberapa diantara kalangan pustakawan tentu familiar dengan ‘ekoliterasi’ (serapan dari ecology: ilmu tentang bagaimana interaksi antar komponen penyusun kehidupan dan literacy: kemampunan mengidentifikasi, mengelola dan memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya). Konsep tersebut pertama kali dicetuskan oleh Fritjof Capra, seorang fisikawan berkebangsaan Austria, memperkenalkan konsep ekoliterasi pada tahun 1995. Sang penggagas berpikir bahwa kerusakan hutan dan lingkungan ini dominan disebabkan oleh perbuatan manusia yang memanfaatkan sumbedardaya alam secara eksploitatif baik secara individual maupun berkelompok. Bahkan perbuatan sepele seperti membuang sampah secara serampangan pun turut menyebabkan kerusakan lingkungan, iseng-iseng memburu burung pun secara tidak langsung akan merusak regenerasi tanaman hutan secara tidak langsung. Perlu diketahui bahwa burung yang memakan buah-buahan tumbuhan hutan turut membantu penyebaran biji tanaman dan renegerasi tanaman secara alami. Nah, kenapa manusia cenderung merusak lingkungan dan hutan? Beberapa klaim menyebutkan bahwa terbatasnya pengetahuan tentang ekoliterasi akan berdampak pada sikap yang abai terhadap kelestarian lingkungan. Dan keterbatasan pengetahuan disinyalir disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap sumber informasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan topik lingkungan hidup. Dalam konteks penyebarluasan informsi, pustakawan ibarat mercusuar yang memandu masyarakat disekitarnya agar tidak abai terhadap isu-isu lingkungan hidup.
Perlu disadari bersama bahwa mengubah pola pikir (mindset) yang berorientasi ramah lingkungan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun hal tersebut tidaklah mustahil dilakukan. Teringat akan piramida pengetahuan yang susunan dari bawah ke atas yang secara  berturut-turut terdiri atas aspek: mengenalkan untuk diketahui - membaca untuk memahami – kepahaman membentuk kebijaksanaan.  Dalam konteks tersebut, pustakawan selaku garda terdepan ekoliterasi dapat berkontribusi nyata dalam tataran mengenalkan konsep kelestarian lingkungan dan menyediakan akses serta  panduan kepada sumber-sumber informasi bertopik kelestarian lingkungan.
Menjelang penghujung akhir tahun 2019, Para pustakawan/ti Perpustakaan R.I Ardi Koesoema, sebuah perpustakaan khusus di bidang lingkungan hidup dan kehutanan pada Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berikhtiar mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan pelajar terhadap lingkungan hidup dan kehutanan. Pertimbangan kenapa program ekoliterasi menyasar para pelajar adalah mereka akan menjadi pemegang estafet kepemimpinan sebagai bagian proses regenerasi  10-20 tahun mendatang. Jika para pelajar tersebut memiliki pengetahuan dan pola pikir serta sikap yang pro-kelestarian lingkungan hidup dan hutan maka paham eksploitaisme sumberdaya alam akan teredam setidaknya 10-20 tahun lagi mendatang. Lalu, tim pustakawan PRI Ardi Koesoema merumuskan bahwa format ekoliterasi yang sesuai dengan karakteristik usia pelajar tingkat sekolah dasar adalah bentuk bercerita (story telling). Mengingat bercerita merupkan proses penyampaian pesan yang mengkombinasikan aspek verbal dan non-verbal. Pendongeng dapat mengemas pesan dalam bentuk suara dan gerakan atau ditunjang materi penunjang audio visual lainnya.
Pada event FORDA YOUTH bertema “Serunya Mengajak Anak-Anak Mencintai Lingkungan Melalui Dongeng’, Kak Bugi Sumirat selaku pendongeng melalui tokoh ‘Otan‘ menyampaikan pesan-pesan pentingnya pelestarian lingkungan kepada pada pelajar. Sekelumit ulasan peristiwa tersebut merupakan kontribusi nyata Pustakawan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan hutan. 
Sebagai penutup, menjaga kelestarian alam dan lingkungan bukan monopoli suatu kelompok atau profesi tertentu. Bahkan Pustakawan yang tidak bersinggungan langsung pun dapat berperan nyata dengan mengembangkan ekoliterasi. Program tersebut dirasa efektif dengan menyasar pelajar dengan materi pengenalan konsep pelestarian alam secar berkesinambungan dan sebaiknya program memadukan konsep eduianment sehingga pesan dapat tersampaikan secara efektif dan efisien. Semoga sekelumit cerita ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bahkan menginspirasi pustakawan lainnya dalam mengembangkan program ekoliterasi dalam format program yang bervariasi. Sekian. (RAH)

Selasa, 24 Maret 2020

Bagaimana Pustakawan Bekerja di Tengah Pandemi Covid-19?

Pandemik Covid-19 mengubah pola interaksi dan kinerja pustakawan hari ini. | Sumber gambar: pixabay.com
Pasca WHO menetapkan coronavirus disease (Covid-19) sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020 yang lalu, Pemerintah Indonesia pun langsung tanggap menyikapinya dengan menetapkannya sebagai Bencana Nasional pada 14 Maret 2020. Implikasinya, pemerintah pun kemudian mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, termasuk imbauan bekerja dari rumah, yang populer dengan istilah work from home (WFH), sebagai bentuk kewaspadaan mencegah penyebaran virus ini secara masif.

Kebijakan tersebut menuai pro dan kontra. Apalagi di era post truth seperti saat ini dimana informasi bergulir begitu cepat dari kanal satu ke kanal lain, seolah-olah benar padahal tidak sama sekali. Ada yang langsung taat imbauan pemerintah untuk kerja dari rumah, tetapi tidak sedikit yang masih harus masuk kantor seperti biasa. BSN, kantor saya, termasuk yang langsung menyambut imbauan pemerintah dengan menginstruksikan pegawainya untuk melaksanakan kerja dari rumah. Saya perlu bersyukur karenanya.

Hari ini telah masuk minggu kedua pelaksanaan kerja dari rumah. Sebagai pustakawan, perubahan pola kerja menjadi “kerja dari rumah” ini ternyata berdampak pada perubahan pola interaksi antara pustakawan-pengguna, pustakawan-pustakawan maupun pustakawan-rekan kerja lainnya (manajemen). Secara umum pola interaksi tersebut menjadi 100% dilakukan secara daring (online) melalui berbagai platform. Sebagai aparatur sipil negara (ASN) meskipun bekerja dari rumah tetapi kami dituntut tetap melakukan pelayanan prima.

Berikut saya sampaikan apa saja yang kami lakukan dan bagaimana kami bekerja di Perpustakaan BSN sebagai best practices pustakawan selama masa “kerja dari rumah” (working from home) dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19. Tulisan ini cukup panjang, mohon siapkan cemilan Anda untuk teman baca. Semoga bermanfaat.

1. Optimasi layanan pengguna secara online
Perpustakaan BSN memiliki beberapa layanan publik yang menjadi indikator kinerja diantaranya; layanan dokumen standar (internal dan eksterna), baca dan unduh dokumen SNI (Standar Nasional Indonesia), konsultasi dan repositori. Beberapa layanan tersebut sebelumnya sudah ada yang full online, tetapi sebagian masih hybrid seperti layanan dokumen standar dan konsultasi yang masih tersedia dalam bentuk layanan secara konvensional (manual/tatap muka).

Pada masa krisis seperti saat ini, dalam rangka memberikan layanan pengguna yang optimal, kami juga mengoptimasi semua layanan perpustakaan. Per tanggal 16 Maret 2020, Perpustakaan BSN pun menutup sementara layanan tatap muka atau kunjungan langsung dan mengalihkannya menjadi layanan daring (online) termasuk untuk layanan dokumen standar dan konsultasi. Selain itu, untuk layanan dokumen standar yang sebelumnya dapat dipesan dalam format tercetak, sementara ini hanya dapat dilayani dalam format PDF. Hal ini akan mempersingkat proses layanan sehingga pengguna dapat dengan segera mendapatkan dokumen standar yang dibutuhkan.

2. Pemanfaatan media sosial secara efektif
Hari ini tentu kita menyadari kekuatan media sosial dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Kecepatan akses dan respon serta interaksi yang dapat dilakukan melalui media sosial menjadi salah satu alasan berbagai pihak memanfaatkannya sebagai saluran diseminasi informasi yang efektif sekaligus efisien.

Tim pustakawan banyak berkoordinasi dengan tim media sosial BSN untuk membuat konten-konten informatif, mulai dari infografis penyesuaian layanan publik BSN, termasuk Perpustakaan, dan juga konten lainnya seputar Covid-19. Pemanfaatan media sosial seperti Instagram, Facebook dan Twitter saat ini sangat efektif dan efisien, selain misi mendiseminasikan informasi secara masif, engagement terhadap setiap konten yang disebarluaskan juga cukup tinggi sehingga dapat sekaligus menjadi strategi promosi bagi layanan Perpustakaan BSN.

3. Manajemen kontrak
Perpustakaan BSN dalam menjalankan tugas dan fungsinya banyak melibatkan vendor/stakeholder terkait pengadaan barang maupun jasa. Kondisi pandemi Covid-19 saat ini termasuk dalam keadaan kahar (force majeur), suatu keadaan yang terjadi di luar kehendak para pihak dalam kontrak dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya, sehingga kewajiban dalam kontrak menjadi tidak dapat terpenuhi. Kondisi ini berdampak pada pasokan barang yang terkait kontrak dengan Perpustakaan BSN terhambat, bahkan berhenti sama sekali.

Nah, dalam hal ini pustakawan pun berperan untuk mengelola kontrak dengan vendor/penyedia dan juga PPK di lembaga. Kami mengomunikasikan terjadinya keadaan kahar sesegera mungkin (paling lambat 14 hari kalender) sesuai ketentuan LKPP secara tertulis dan terdokumentasikan. Ada beberapa pilihan tindakan dalam keadaan kahar seperti saat ini yaitu; terus dilanjutkan, kontrak dihentikan sementara, dan menghentikan kontrak secara permanen. Dalam hal ini, Perpustakaan BSN menggunakan ketiga opsi tersebut sesuai dengan penilaian kondisi kontrak yang telah dilaksanakan.

4. Manajemen krisis untuk acara perpustakaan
Sebelum krisis ini melanda, Perpustakaan BSN tengah merencanakan beberapa program kegiatan yang sebagian besar offline, mulai dari training, literasi informasi SPK (standardisasi dan penilaian kesesuaian, -red), monitoring dan evaluasi penyelenggaraan SNI Corner di beberapa wilayah. Karena kegiatan tersebut tentunya melibatkan banyak orang serta harus melakukan perjalanan ke berbagai wilayah yang saat ini menjadi zona merah penyebaran Covid-19, tim pustakawan dan manajemen Perpustakaan BSN pun memutuskan untuk menunda hingga waktu yang akan ditentukan kemudian dan beberapa acara harus dibatalkan. Hal tersebut semata untuk menghindari potensi penyebaran Covid-19 secara masif.

Dalam proses penundaaan atau pembatalan acara, hal terpenting yang kami lakukan adalah melakukan komunikasi dan koordinasi kepada pihak terkait melalui berbagai saluran seperti surel, aplikasi percakapan online (whatsapp, telegram) dan teleconference.

5. Koordinasi antar-pustakawan
Kinerja kami di Perpustakaan BSN hampir selalu terkait antara pustakawan satu dengan yang lain, terutama untuk layanan dokumen standar dan konsultasi. Pemrosesan layanan dokumen standar misalnya, setidaknya melibatkan 4 (empat) pustakawan mulai dari verifikasi pemesanan, verifikasi kode billing, verifikasi pembayaran hingga pengiriman file. Oleh karena itu perlu saluran komunikasi yang intens untuk berkoordinasi dalam layanan tersebut. Kami memanfaatkan media Whatsapp Group karena secara fungsi paling efektif dan efisien.

Selain itu, dalam hal monitoring dan evaluasi penyeleggaraan kegiatan perpustakaan, pustakawan dan manajemen Perpustakaan BSN memanfaatakan saluran teleconference. Rapat-rapat koordinasi kami lakukan secara daring memanfaatakan platform Zoom yang bisa digunakan dalam perangkat mobile maupun PC desktop.

6. Pustakawan sebagai “first responder” informasi
Sebagai pustakawan, kami menyadari memang bukan ahlinya terkait pandemik Covid-19 ini. Akantetapi pustakawan memiliki kompetensi dalam hal menelusur sumber-sumber informasi yang relevan dan kredibel terkait topik-topik tertentu, termasuk Covid-19. Oleh karena itu, di grup manajemen BSN kami sering diminta untuk menyediakan informasi yang akurat sebagai bahan press release atau konten media sosial. Selain itu, sebagai first responder, manajemen juga tidak jarang meminta bantuan pustakawan untuk memverifikasi informasi yang diterima, dengan kata lain memverifikasi apakah informasi itu benar atau disinformasi (hoax).

7. Mengompilasi sumber informasi yang kredibel terkait Covid-19
Peran satu ini memang tidak secara langsung terkait dengan kinerja sehari-sehari layanan di Perpustakaan BSN. Tetapi satu hal yang harus dipahami, profesi pustakawan memiliki peran penting di tengah masa krisis pandemik virus korona seperti saat ini, salah satunya dalam mengedukasi masyarakat untuk mengakses dan mendapatkan informasi yang benar dan terpercaya. Apalagi saat ini begitu banyak berseliweran informasi yang tidak jelas otoritasnya (hoax) di tengah masyarakat seputar isu Covid-19.

Nah, kami di Perpustakaan BSN berusaha mengompilasi berbagai informasi yang kredibel seputar isu Covid-19 dan menyebarkannya, mulai dari internal lembaga dan juga melalui media sosial. Upaya ini selain untuk memberikan referensi yang otoritatif kepada pengguna, juga dalam rangka meng-counter disinformasi (hoax) yang sudah tersebar.

8. Mengurasi artikel seputar topik Covid-19
Kegiatan kurasi artikel ini sudah menjadi kegiatan harian pustakawan di Perpustakaan BSN. Hasil kurasi artikel bisa dicek di portal kami yang sebagian besar ruang lingkupnya seputar perpustakaan, kepustakawanan, dokumentasi, data dan informasi. Di tengah kondisi wabah Covid-19 saat ini, perpustakaan memiliki peran menyebarluaskan informasi yang akurat dan kredibel sehingga tim pustakawan berinisiatif untuk mengkurasi artikel seputar topik Covid-19. Artikel yang kami kurasi bersumber dari portal-portal resmi informasi Covid-19, khususnya internasional, sehingga kami harus menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia terlebih dahulu agar lebih mudah dipahami oleh pengguna.

9. Menulis
Menulis adalah kegiatan alternatif yang kami lakukan untuk mengisi masa kerja di rumah, baik secara individu maupun kolaboratif. Bagi sebagian orang yang hobi menulis, banyak hal menguntungkan selama masa karantina diri ini. Kita bisa lebih produktif dalam menulis karena minim distraksi seperti undangan rapat dadakan, distraksi obrolan rekan kerja di sekitar, atau distraksi musik-musik yang seharusnya bisa didengarkan melalui perangkat ­earphone masing-masing. Menariknya, buat saya pribadi inspirasi dan mood menulis ternyata bisa saja muncul setelah mandiin anak atau mengganti popoknya karena sudah penuh pipis, termasuk ketika menulis artikel ini. Hehehe.

Tips work from home a la pustakawan

Satu poin penting yang perlu dipahami selama kerja dari rumah (work from home/WFH) adalah bahwa anggota tim kita mungkin tidak ada di tingkat produktivitas terbaiknya. Ada banyak kegelisahan yang muncul di antara keluarga dan teman, dan itu lumrah. WFH memerlukan tidak hanya rasa tanggung jawab yang tinggi, tapi juga empati dan rasa percaya. Ingat, ini adalah masa yang sangat berat untuk semua orang. Percayalah pada anggota tim bahwa mereka akan melakukan yang terbaik dalam situasi sekarang.

Berikut beberapa tips yang relevan dengan apa yang saya lakukan sebagai pustakawan selama masa WFH ini.

1. Ciptakan lingkungan yang tepat
Kantor memang didesain untuk kita bekerja dan fokus. Nah, ketika bekerja dari rumah mungkin kita akan menemukan hal berbeda sehingga perlu dan penting untuk menata ulang area kerja di rumah. Menyediakan area dengan penerangan cukup, minim gangguan, meja dan kursi yang nyaman menjadi satu paket yang esensial selama kerja di rumah.

Kita juga perlu memberikan penjelasan kepada anggota keluarga lain bahwa kita memerlukan waktu dimana harus bekerja, dan kapan bisa diganggu. Selain itu, jika di kantor kita memiliki rekan kerja yang bisa mengingatkan jam istirahat, berbeda ketika di rumah. Kita perlu membuat pengaturan waktu istirahat yang tepat. Jika perlu, pasang alarm di handphone.

2. Gunakan tool yang tepat
Kita perlu memastikan bahwa alat kerja dan koordinasi yang disepakati kantor atau tim sudah terpasang di perangkat kita (HP/laptop/PC). Perpustakaan BSN misalnya, menggunakan Whatsapp untuk berkirim pesan dan Zoom untuk teleconference.

Nah, sebagai best practice dalam penggunaan alat tersebut, tim juga perlu komitmen terhadap beberapa hal, diantaranya;

- Berkomunikasi secara ekstra. Tentukan ekspektasi dengan jelas dan buat Rules of Engagement untuk semua anggota tim selama periode WFH. Apa yang harus dilakukan secara sinkron dan tidak? Pasang status Whatsapp jadi Away tiap kali kamu meninggalkan meja kerja untuk istirahat, lalu berikan update jika kamu sudah selesai.
Dokumentasikan hal penting. Rapat seringnya akan jadi tidak sinkron dalam kondisi WFH ini. Oleh karena itu, penting untuk selalu mendokumentasikan semua hal yang didiskusikan. Kita perlu mencatat setiap keputusan penting memanfaatkan file sharing kemudian disimpan di folder bersama yang bisa diakses semua orang
- Ekspert tip: Dalam memanfaatkan Zoom sebagai platform rapat daring, perlu memasang opsi video muted/off sebagai pengaturan awal. Kamu tentu tidak ingin terlihat di depan orang lain dalam kondisi kamar yang berantakan, dan Zoom membantu mencegah hal itu terjadi. 

3. Bangun pola pikir yang tepat
Pindah kerja dari kantor ke rumah mungkin akan jadi pengalaman yang sangat asing bagi banyak orang. Tapi semuanya berusaha menyesuaikan diri, jadi maklumilah mereka yang belum terbiasa. Kami di Perpustakaan BSN menyepakati waktu-waktu di mana seluruh anggota tim harus standby dan melakukan briefing singkat melalui Whatsapp Group.

Pada penghujung hari, kami juga terbiasa transparan melakukan ceklis apa saja yang telah dikerjakan selama hari ini melalui logbook kegiatan dan juga kendala apa yang dihadapi, sehingga bisa menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan esok hari secara berkelanjutan.

Penutup

Work from home atau kerja dari rumah ini adalah momen yang akan mengubah bagaimana perpustakaan menjalankan fungsinya. Banyak hal yang sebelumnya dipandang tidak mungkin untuk dilakukan secara remote, ternyata terbukti bisa dikerjakan, dan tetap efektif.

------------------------------------------------------------------------------
Depok,
Selasa, 24 Maret 2020 [13:57 WIB]

Muhammad Bahrudin
Pustakawan BSN

Minggu, 22 Maret 2020

Amalan Pustakawan Hadapi Corona

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I 
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
Saat ini kita sehari-hari selalu disuguhi oleh banyak informasi seputar wabah/virus corona (covid-19) yang dinilai begitu berbahaya dan membuat manusia takut dengannya karena bisa membawa kematian, sehingga semua pihak telah menyatakan tanggap darurat untuk mengantisipasi penularan virus tersebut.

Ada satu kisah menarik dalam sejarah Islam terkait dengan sebuah virus. Kisah ini detail diceritakan dalam buku tentang khalifah Umar bin Khattab Radhiyallah Anhu (RA) karya Syaikh Ali Ash Shalabi. Hari itu tahun 18 H, Khalifah Umar bin Khattab RA bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam. Mereka berhenti di daerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha'un Amwas yang melanda negeri tersebut. Sebuah penyakit menular, benjolan diseluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan. Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi Umar RA, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan. Dialog yang hangat antar para sahabat, apakah mereka masuk atau pulang ke Madinah. Umar yang cerdas meminta saran muhajirin, anshar, dan orang-orang yang ikut Fathu Makkah. Mereka semua berbeda pendapat. Bahkan Abu Ubaidah RA menginginkan mereka masuk, dan berkata mengapa engkau lari dari takdir Allah SWT? Lalu Umar RA menyanggahnya dan bertanya. Jika kamu punya kambing dan ada dua lahan yg subur dan yang kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah

Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain. Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf RA mengucapkan hadits Rasulullah SAW: Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya. (HR. Bukhari dan Muslim). Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah. Umar RA merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yang dikaguminya, Abu Ubaidah RA. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah. Namun beliau adalah Abu Ubaidah RA, yang hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya. Umar RA pun menangis membaca surat balasan itu. Dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr, dan sahabat2 mulia lainnya RA wafat karena wabah Tha'un di negeri Syam. Total sekitar 20 ribu orang wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu.

Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash RA memimpin Syam. Kecerdasan beliau lah yang menyelamatkan Syam. Hasil tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini. Amr bin Ash berkata: Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung. Mereka pun berpencar dan menempati gunung-gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

Belajar dari bagaimana kisah orang-orang terbaik itu dalam menghadapi wabah virus, maka bagi kita semua apapun profesinya, baik dokter, perawat, guru, dosen, pedagang, dan sebagainya, termasuk sebagai seorang pustakawan, kita tidak perlu bersedih dan Islam sebagai agama terbaik telah memberikan kabar gembira ditengah kesedihan ini untuk kita semua berupa amalan-amalan sebagai panduan yang dapat kita lakukan agar terhindari dari Virus Corono.

Pertama, Berikhtiar dengan melakukan pencegahan. Di samping berlindung kepada Allah, tentunya sebagai seorang manusia kita juga harus berikhtiar dengan melakukan usaha-usaha pencegahan agar virus ini tidak menular kepada diri kita atau kepada orang-orang yang kita sayangi. Ikhtiar ini bisa dilakukan dalam skala individu maupun berjamaah.

Dalam skala individu ikhtiar dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti rutin menjaga kesehatan, rutin mencuci tangan, rutin memakan dari makanan-makanan yang baik, rutin memakai masker dikeramaian, serta menghindari keluar rumah dan berkumpul di tempat keramaian bila tidak diperlukan.

Bagi seorang muslim ikhtiar individu yang wajib dilakukan adalah dengan menjaga wudhu agar menjaga kondisi tubuh selalu dalam keadaan suci untuk beribadah, dengan sering membasuh tangan, serta wajah untuk tetap bersih. Dari hasil sejumlah riset, wudhu bisa mencegah risiko sejumlah penyakit, seperti kanker, sakit gigi, sakit kepala, rematik, flu, pilek, pegal, menjaga dan memelihara kesehatan, serta keselarasan pusat saraf, hasil riset tentang wudhu yang dilakukan oleh Leopold Wemer Von Enrenfels, seorang psikiater dan neurology dari Austria.

Ikhtiar individu lainnya adalah bersin dengan menunduk dan menutup mulut serta hidung, lalu ucapkan ALHAMDULILLAH.  Hal tersebut bisa mencegah penyebaran penyakit sekaligus mendoakan sesuai dalam hadis Nabi Muhammad saw., Jika seseorang di antara kalian bersin, maka ucapkanlah ALHAMDULILLAH (segala puji bagi Allah), hendaklah saudaranya mengucapkan YARHAMUKALLAH (semoga Allah merahmataimu). Jika ia mengucapkan YARHAMUKALLAH, ucapkanlah YAHDIKUMULLAH WA YUSHLIH BAALAKUM (semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).

Adapun ikhtiar dalam skala berjamaah, dilakukan dengan cara melakukan pencegahan-pencegahan agar virus ini tidak merambah ke skala yang lebih luas lagi seperti melakukan isolasi/karantina kepada mereka-mereka yang terkena virus atau mereka yang tercurigai terkena virus. Sebagaimana Sabda Nabi SAW : Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya. (HR. Bukhari & Muslim). Inilah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah yang harus dijalani semua negara. Sebagaimana solusi dari Amr bin Ash untuk berpencar. Menjaga diri dari keramaian (social distancing) dan menahan diri (karantina) untuk tetap di rumah sebagai cara ikhtiar yang banyak ditiru dunia barat.

Kedua, Bertawakkal setelah berikhtiar, lalu serahkan kepada Allah. Kita tawakkalkan diri kita kepadaNya. Karena hidup dan mati kita sebagai seorang hamba semua berada di tanganNya. Allah berfirman : Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. (QS Al-An’am:162)

Yakin bahwa seorang hamba akan tetap hidup bilamana memang ajalnya belum datang, bahkan bila virus corona ataupun virus lainnya yang lebih ganas daripada itu menjangkitinya, namun bila memang sudah ajalnya, jangankan virus corona atau yang lebih dari itu, bahkan digigit semut pun seseorang bisa mati jikalau memang ajalnya telah tiba. Semoga Allah menutup hidup kita dengan husnul khotimah.

Ketiga, selalu berdoa agar dijauhkan dari wabah. Senantiasa meminta perlindungan kepada Allah. Virus corona adalah makhluk sebagaimana makhluk-makhluk Allah lainnya, dan ia tidaklah bergerak kecuali atas perintah dan izin Allah ta’ala yang menciptakannya. Berlindung kepada Allah ini bisa dilakukan dengan selalu membaca doa-doa pelindung yang bersumber dari Al-Qur’an seperti surat Al-Falaq dan An-Nas ataupun dari doa-doa yang bersumber dari Nabi Muhammad saw., seperti doa yang sangat masyhur untuk dibaca di pagi dan petang hari : BISMILLAHILLADZI LA YADHURRU MA'ASMIHI SYAI'UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMA'I WA HUWAS SAMI'UL 'ALIM (Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui). Nabi Muhammad saw., menerangkan : Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x diwaktu pagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ada juga doa lainnya yang diajarkan oleh Nabi SAW, yaitu ALLAAHUMMA INNII AUUDZU BIKA MINAL BAROSHI WAL JUNUUNI WAL JUDZAAMI WA MIN SAYYI'IL ASQOOMI (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya). (HR. Abu Dawud).

Keempat, Bersabar.  Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin. Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid. (HR. Bukhari dan Ahmad).

Masya Allah, ternyata mati syahid lah balasan Allah. Sesuatu yang didambakan kaum muslimin. Maka, sabar dan tanamkanlah keyakinan itu. Jika takdir Allah menyapa kita, berharaplah syahid.

Kelima, Yakin kepada Allah akan kesembuhan. Bila ada di antara kita yang ditakdirkan oleh Allah tertimpa penyakit ini, maka yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baiknya penyembuh karena Ia lah Tuhan Yang Maha Penyembuh. Dan yakinlah juga bahwa tidak ada penyakit yang Allah turunkan, kecuali ada juga obat yang diturunkan bersamanya. Nabi SAW bersabda: Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya. (HR. Bukhari).

Demikianlah beberapa amalan yang bisa kita lakukan dalam menyikapi wabah virus corona ini, dan marilah kita berdoa kepada Allah agar senantiasa menjaga diri kita, keluarga, kerabat dan orang-orang yang kita sayangi serta menjaga negeri kita dan juga negeri-negeri kaum muslimin lainnya dari wabah virus corona. Dan selalu kita sisipkan doa-doa terbaik kita kepada mereka saudara-saudara kita yang sedang diuji dengan virus ini agar supaya Allah segera menyembuhkan mereka dari penyakit ini. Aamiiin.

Kamis, 19 Maret 2020

NASIB PUSTAKAWAN DITENGAH CORONA

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I 
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini bangsa Indonesia bahkan dunia seisinya sedang dihadapkan pada sebuah virus/wabah penyakit yang tak terlihat yang membuat seisi bumi takut dengan virus corona (covid-19) yang dinilai oleh manusia begitu berbahaya. Fenomena wabah virus corona (VC) yang muncul di awal tahun 2020 ini semakin lama semakin membuat kekhawatiran di seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus yang muncul pertama kali di kota Wuhan provinsi Hubei China ini telah memakan korban lebih dari ribuan  nyawa yang telah terinfeksi.

Semua pihak saat ini telah menyatakan siaga darurat untuk mengantisipasi penularan VC. Mulai dari individu maupun lembaga pemerintah telah menyerukan kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap wabah VC. Bahkan beberapa negara dunia telah melakukan isolasi beberapa kota, menutup jalur penerbangan dan bahkan me-lockdown dengan mengunci rapat semua pintu masuk ataupun keluar dari setiap negara terhadap orang yang ada di suatu negara sehingga tidak tertular dengan VC. 

VC yang sampai saat ini masih terus dicari penangkalnya telah merambah hampir ke seluruh negara-negara besar di dunia termasuk Indonesia. Akibat virus ini, banyak korban yang terus berjatuhan yang mana angkanya terus bertambah baik yang meninggal ataupun yang terinfeksi, dan jutaan manusia lainnya terancam terkena wabah VC yang mematikan ini.

Ancaman VC ini tentunya  bisa menular kepada siapa saja, baik para dokter, perawat, guru, dosen, pedagang, dan sebagainya. Terlebih kepada para pustakawan yang mereka sehari-hari bekerja di perpustakaan berteman dan di kelilingi dengan berbagai jenis koleksi yang mengandung zat kimia, debu, penyakit dan selalu melakukan tatap muka bertemu langsung berkumpul bersama  dengan pemustaka,  sehingga mereka para pustakawan sangat rentan dan harus lebih berhati-hati waspada terhadap ancaman VC. 

Saat ini pemerintah telah menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi interaksi langsung dengan masyarakat, mengurangi pertemuan dengan orang banyak dan bahkan meliburkan beberapa sekolah serta menyuruh para ASN untuk lebih banyak beraktivitas di rumah sebagai upaya mengantisipasi penyebaran VC.

Perpustakaan sebagai institusi layanan public yang sekarang telah bertransformasi sebagai pusat berkegiatan masyarakat yang dikelola oleh para pustakawan justru sangat mudah menjadi jalan terjangkitnya VC  karena mereka sehari-hari bersentuhan langsung oleh berbagai jenis koleksi, belum lagi berhadapan langsung dengan pemutaka yang beragam jenis orang yang berkunjung ke perpustakaan, setiap hari berinteraksi  bertransaksi pinjam kembali  buku yang mengandung zat kimia kertas, ketika buku di pinjam lalu dibawa pulang dan kembali lagi ke perpustakaan, maka rentan sekali melalui buku yg dipinjam lalu dkembalikan oleh pemustaka akan membawa virus, penyakit, dan sebagainya. Karena pekerjaan pustakawan yang rawan dengan kondisi tersebut, maka  pemerintah Indonesia sangat perhatian terhadap nasib para pustakawan yang bekerja di perpustakaan dengan memberikan tunjangan khusus berupa TUNJANGAN DAYA TAHAN TUBUH PUSTAKAWAN berupa uang perhari untuk membeli berbagai keperluan pustakawan berupa obat-obatan, suplemen makanan, makanan buah-buahan dan sebagainya, untuk meningkatkan kekebalan terhadap daya tahan tubuh para pustakawan agar dalam bekerja di perpustakaan bisa selalu dalam keadaan sehat wal afiat sehingga bisa memberikan layanan yang prima kepada pemustaka.

Oleh sebab itu, menyahuti himbauan pemerintah Indonesia yang saat ini telah menyatakan kondisi negera kita dalam keadaan darurat VC dimana penyebarannya terjadi secara global, cepat dan mudah, maka kita bersyukur saat ini beberapa perpustakaan dalam dan luar negeri telah menutup secara total layanan perpustakaan untuk sementara waktu agar menghindari kerumunan orang banyak dan tidak melakukan kontak langsung dengan para pemustaka. Harapannya semua pemimpin pemerintah pusat dan daerah agar segera memerintahkan semua jenis perpustakaan untuk sementara menutup layanan perpustakaan dan mengalihkan penggunanya untuk memanfaatkan layanan secara digital sebagai sebagai upaya dalam mengantisipasi penyebaran VC bagi pustakawan dan yang terpenting untuk menyelamatkan jiwa pustakawan dari serangan VC.

Sebagai nasehat bagi kita semua dan para pustakawan, mari kita senantiasa meminta perlindungan kepada Allah Tuhan YME, terus lakukan ikhtiar dengan karantina dan menjaga diri dari keramaian (social distancing). Bersabar, karena Rasulullah SAW bersabda: Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin. Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid.  Tanamkan keyakinan dan berbaik sangka akan ketetapan Allah, jika takdir Allah menyapa kita, berharaplah syahid. Berbaik sangka dan berikhtiarlah.  Kita tawakkal diri kita kepadaNya. Karena hidup dan mati kita sebagai seorang hamba semua berada di tanganNya. Bila ada di antara kita yang ditakdirkan oleh Allah tertimpa penyakit ini, maka yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baiknya penyembuh karena Ia lah Tuhan Yang Maha Penyembuh. Dan yakinlah juga bahwa tidak ada penyakit yang Allah turunkan, kecuali ada juga obat yang diturunkan bersamanya. Yakin kepada Allah akan kesembuhan, karena Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya. (HR. Bukhari). Teruslah berdoa, dan bahkan janji akan gelar mati syahid jika kita melakukan itu semua.

Mari kita berdoa kepada Allah agar supaya Ia senantiasa menjaga diri kita, keluarga kita, kerabat kita dan orang-orang yang kita sayangi dari terkena wabah virus ini. Mari kita juga berdoa kepada Allah agar Ia senantiasa menjaga negeri kita dan juga negeri-negeri kaum muslimin lainnya dari wabah penyakit mematikan ini. Dan tak lupa juga kita sisipkan doa-doa terbaik kita kepada mereka saudara-saudara kita yang sedang diuji dengan virus ini agar supaya Allah segera menyembuhkan mereka dari penyakit ini. Semoga kita senantiasa dilindungi Allah SWT dan bertemu kembali ditempat terbaik di SurgaNya. Aamiiin.

Literat dan bijak di tengah pandemi



Kepedulian menjadi langkah bijak melawan epidemi, kepedulin yang menyeruak mengisi ruang publik  saat ini yang wajib kita sederhanakan dalam bentuk self-protect atau  melindungi diri sendiri, yang berarti melindungi orang lain, menjadi analisa yang saya tuangkan dalam opini ini.

Beberapa hari ini pasca berita nasional pandemi  SARS-CoV-2 (yang mmenyebabkan penyakit bernama Coronavirus disease 2019 yang dikenal dengan COVID-19) sudah membunuh 5 orang indonesia meskipun  ada 9 orang yang sembuh dari covid 19 ini, namun  fakta lain bahwa Indonesia dengan 5,20 % meninggal menempatkan Indonesia berada dipuncak kedua setelah italia dengan persentasi kematian 7,169 % sumber  (analis John Hopkins University & Medicine, senin 16 maret 2020).

Coronavirus deseas 2019 adalah nama panjang dari covid-19 yang menurut para ahli di john Hopkins bahwa sekarang ada 81.191 kasus di seluruh dunia dan 2.768 kematian,  ini membawa beberapa fakta yang mengisi ruang kegelisahan kita yang kmundian tiba tiba  membuat kita jadi literat, proaktif, kreatif dan dan cenderung sabar.

Fakta pertama, epidemi yang menyebar dan sekarang menjadi pandemi global ini membawa kita untuk disiplin menjaga diri dan kesehatan, mencuci tangan, membersihkan badan dan lingkungan yang sebelumnya jauh dari perhatian kita.

Kedua, pandemi global ini mengajarkan kita saling tetap menjaga silaturrahim, menjaga pertemanan dan ikatan kekeluargaan meskipun tanpa, berpagut, bersentuhan, cipika cipiki (cium pipi) dan bahkan kita diajari menjaga jarak dengan orang lain (social distancing) yang dihimbau WHO, ini seolah olah membawa kehidupan kita dalam budaya yang apik.

Ketiga, pandemi global ini mengantar kita menjadi banyak tahu (literarate) dengan banyak membaca berita dan menambah wawasan bagaiman cara terbaik terhindar covid-19 yang  mematikan ini, kitaa akan mensearching dan menshare di media social segala hal yang berhubungan dengan pandemi global ini.

Keempat, mengisi libur 14 hari yang direkomendasikan oleh pemerintah pusat dan daerah adalah langkah ringan mengikuti lockdown yang sudah diterapkan oleh beberapa Negara, seketika kita menjadi insan yang harus melek teknologi (high tech) dengan banyak mencari cara untuk tetap bekerja dari rumah dengan menggunakan media teknologi (teleworking), seperti mengajar dan urusan kantor.

Kelima, seketika kita terkena panyakit homesickness menganggap rumahlah tempat terbaik yang sebelumnya hal ini tidak pernah sama sekali dalam benak kita, quality time atau me time istilah kalangan milenial yang terbaik saat ini adalah di rumah.

Keenam, meningkatnya pemahaman agama terutama di tengah pandemi global ini kita faham adanya kelonggaran untuk tidak ke mesjid yang didasari oleh kebiasaan Rasulullah dan para sahabat ketika menghadapi kondisi sulit untuk berjamaah dimasjid, yang menarik di beberapa Negara islam di timur tengah mengubah bunyi seruan azan untuk sholat di rumah masing-masing yang disesuaikan dengan ragam bahasa mereka.

Zaman ini akan menjadi catatan sejarah dan kita tidak tahu kapan epidemi ini terhenti dan pandemi global itu hilang beserta penyakit Covid-19 ini berakhir namun kepedulian dan kesabaran akan membawa kita mampu melewati masa-masa sulit melawan pandemi Coronavirus disease 2019 ini.

Rabu, 19 Februari 2020

Bookless


Di sebuah grup whatsapp, lagi rame diskursus tentang perpustakaan nonbuku atau bookless library. Ngapain perlunya berubah ?. Rekan saya pustakawan sebuah PTN, sebut saja Paijo menyentil satir keberadaan Bookless yang disamakan dengan pos ronda. Ironi, karena perpustakaan bookless tersebut ada di kampusnya, yang notabene satu institusi tempat Paijo mengabdi.
Tentu, doskih memberikan argumentasi yang kuat:

“Intinya kalau perpustakaan itu hadir tanpa buku, tempat nongkrong, ngobrol, trus apa bedanya dengan Pos Ronda. Akan hilang kesejatiannya”…

Agak sadis…..namun bisa jadi kita dipaksa untuk menyetujui pendapatnya. Kalau perpustakaan bookless serba online, tanpa buku, dan semua sudah disediakan oleh teknologi, lalu pustakawannya ngapain ???

“Terus, apakah itu disebut perpustakaan”, kata Paijo meradang.

Untuk pertanyaan ini, Paijo melanjutkan dengan jawaban satir dan kocak:

“Di Bookless Library, pustakawan bisa berpindah peran menjadi pengelola cafe. Jualan kopi dan indomie rebus, pustakawan yang multiskill”, ha ha ha ha

Menggelikan. Bisa jadi Paijo cuma bercanda dan menggeneralisasikan perubahan konsep perpustakaan dengan serampangan. Wajar, karena seperti yang disampaikannya, doskih mengkroping salah satu sudut pandang. Titik dia berpijak, dan itu manusiawi. Titik sebagai seorang pustakawan. Tipping point pada keakuannya. Dan perubahan yang bisa mengancam eksistensi profesi ini harus dilawan !

“Roh kegiatan kepustakawanan harus berpusat pada pustakawannya. Bukan pengguna atau pemakai”, begitu teriaknya sambil menggoyangkan badannya mengikuti instrumentalia lagu Ambyarnya Didi Kempot.

Hidup Tidak Sesederhana Yang Ada Dipikiran Mas Bro !

Paijo harus belajar dari Nicolaus Copernicus, jenius Fisika yang mengemukakan teori Heliosentris. Pusat tatasurya adalah Matahari. Menjungkilkan kaum agama Lutherian bahwa bumilah pusat semesta. Pendapat kaum agamawan bahwa pusat tatasurya bumi, merepresentasikan pendekatan ke akuannya, egosentris, pustakawan sentris. Yang kemudian dikoreksi oleh Copernicus, Mataharilah yang menjadi pusat. Semesta penggunalah yang harus kita layani.

Hidup bukan selalu perkara idealisme yang berputar di batok kepala kita. Hidup adalah seni dan stategi memecahkan masalah, mencari solusi terbaik dan butuh juga kompromi dan jalan tengah, agar kita tidak mati.

Paijo, mungkin harus berempati terhadap pustakawan eks Britis Council yang akhirnya dibubarkan. Paijo harus mengiliminir egonya ketika perpustakaaan Japan Foundation yang ditutup. Andai saja kang Paijo berprofesi sebagai pustakawan majalah Hai, Tabloid Gatra, Bola, Kontan dll yang sekarat gak bisa bertahan hidup. Atau seperti Perpustakaan PDII LIPI yang bertransformasi dari buku ke data dalam PDDI (Pusat Dokumentasi dan Data Ilmiah Indonesia). 

Karena apa? Ya perubahan! Ya tuntutan jaman karena perkembangan teknologi. Perpustakaan kemudian inovatif mengembangkan layanannya termasuk menyajikan bookless. Toh layanan ini cuma dikembangkan di salah satu sudut perpustakaan. Bukan merubah semuanya, hanya mengembangkan layanan dengan segmen baru. Gak perlu alergi dengan inovasi dan perubahan. Akankah kita melawannya dengan bambu runcing menolak perubahan?

Perubahan dimana kuasa pengguna perpustakaan begitu besar. So perpustakakaan tidak sempat lagi bicara “siapa akunya”, tapi bicara tentang apa yang harus dilakukan agar perpustakaan bisa bertahan dikunjungi dan memuaskan pengguna. Memuaskan pengguna ! Bagaimana kita harus memuaskan pemakai jika kita terlalu melihat output nya ? Kuncinya ada pada harmonisasi. Terlalu menekankan output kepuasan pengguna tanpa menekankan proses akan crowded dan berantakan. Tapi terlalu nguplek dan fokus pada proses yang mbulet dengan melupakan outputnya, ibarat berjalan dengan kacamata kuda. Serampangan.

Ada beberapa point yang saya setujui dengan subtansi Paijo. Perspektif dari sisi pustakawnnya, karena bagaimanapun pustakawan juga merupakan subsistem dari sistem besar kepustakawanan. Solusinya, kita kompromikan juga dengan perspektif pengguna juga yang tak kalah vital. Karena tanpa pengguna toh pustakawan bukan siapa siapa. Meski jika kita terlalu menghamba ke pengguna, bakalan babak belur. 

Nah kasus Britis Council, Japan Foundation, serta perpustakaan lain yang tutup dan bergesernya fokus layanan PDDI LIPI kan karena kuasa manajemen atas tuntutan pengguna juga kan? Tentu perubahan ini menuntut aktifitas dan role pustakawannya yang harus berubah.

Siapkah pustakawan menghadapinya ?

Selasa, 18 Februari 2020

Pustakawan Mentok


Banyak alasan seorang pustakawan tetap bertahan di tempat kerjanya sejak 10 bahkan 20 tahun lamanya. Antara lain mungkin karena mentok.

1. Mentok usia.

Yah… udah tua, mau ngelamar ke mana lagi? Yang buka lowongan juga pastinya nyari yang masih muda lah! Kalau yang fresh graduate kan minta gajinya gak selangit, beda sama yang sudah pengalaman.

2. Mentok ilmu.

Meski tahu sih, kalau yang namanya belajar itu seumur hidup, pustakawan yang selalu dikelilingi buku belum tentu sempat membaca. Perkembangan apa sih yang ada di dunia profesi perpustakaan? Nggak tahu juga mau cari ke mana. Beruntunglah yang ikutan grup WAG profesi, bisa update meski hanya sebagai silent reader.

3. Mentok pengalaman.

Ah, sudah bagus ini, setiap tahun saat tanda tangan kontrak juga dipuji kok kalau perpustakaannya sekarang terlihat bagus sejak dia yang pimpin. Buat apa nyari-nyari tempat lain, yang mungkin disuruh set up perpustakaan dari awal, diminta ini-itu biar kekinian. Bisanya segini doang udah cakep banget. Sesuai gaji lah!

4. Mentok jaringan.

Teman se-angkatan sudah kerja semua, pasti sudah settle dengan gaji yang memadai. Mau nanya apa ada lowongan, ya kali jadi junior temen sendiri, malu lah! (padahal asap dapur gak kenal malu kalau gak ngebul).

5. Mentok karena sayang.

Nah, yang ini juara deh. Pengabdian, loyalitas, mencintai profesi dan tempat kerja, menganggapnya sebagai rumah kedua, betah di kantor bahkan suka pulang malam kerja lembur tanpa bayaran overtime. Ini pustakawan langka, mesti dipertahankan.

Sayangnya, terlepas dari alasan-alasan mentok di atas, banyak atasan yang tidak menghargai pustakawannya. Menganggap sebagai penjaga buku, disuruh bikin kegiatan padahal nggak pernah ditengokin sekali pun, disuruh buat laporan per minggu tapi kalau diajak rapat tetiba paling sibuk se dunia, pas ada komplain dari pemakai langsung kena bombardir tanpa ampun.

Ini curhat ya?

Bukan, hanya sharing, kalau dunia perpustakaan itu tidak seindah tempat tidur bertabur bunga mawar. He-he.

**

Penulis: pustakawan sekolah dasar di Bintaro, yang sekarang Sukanya main di Instagram dengan akun @BookDragonMomma. Website: book-corner.blogspot.com