Selasa, 23 Maret 2021

Jika Clubhouse Tersedia untuk Publik Luas, Haruskah Perpustakaan/Pustakawan ikut meramaikan? Sebuah Pengantar

Oleh: Akmal Faradise

Mahasiswa Manajemen Informasi dan Perpustaakan UGM

Pengantar

Saya harus bilang bahwa tulisan ini dipicu oleh salah satu artikel di Bloomberg, yang mengatakan bahwa Clubhouse adalah ‘bintang baru’ di jagat media sosial. Mungkin artikel tersebut termasuk sebuah cara soft selling. Namun di luar hal tersebut, artikel dimaksud saya kira berhasil memantik rasa ingin tahu atas Clubhouse dan bagaimana potensi perkembangannya ke depan. Saya kemudian berdiskusi dengan seorang kawan pegiat voice-over (@miela_baisuni) mengenai platform ini dan semakin mantap untuk bergabung. Bagi saya, meski perubahan dalam lanskap bisnis media sosial itu niscaya, mengamati tiap media sosial berubah, berkembang, dan timbul-tenggelam adalah hal menarik. 

Tulisan ini merupakan ulasan sekilas tentang aplikasi sebagai gambaran bagi teman-teman yang belum bisa mencicipi Clubhouse dan bacaan pengantar serta pemantik diskusi di lingkungan LIS mengenai Clubhouse ke depannya. Pengalaman pribadi saya mungkin mirip dengan beberapa ulasan yang beredar di media sosial atau situs, sebab bisa jadi memang begitulah UI yang ada dan UX yang ditawarkan. Sisanya berupa opini dan preferensi. 

Saya pertama kali bergabung pada 20 Pebruari 2021, dinominasikan oleh teman saya @imammfi. Walau demikian, perlu sekitar seminggu bagi saya ‘bergerilya’ mencari orang yang bisa mengundang saya ke platform

Apa sih Clubhouse itu?

Clubhouse merupakan aplikasi media sosial berbasis audio besutan Alpha Exploration. Aplikasi ini dibuat oleh Rohan Seth dan Paul Davison. Pengguna dapat berinteraksi lewat suara dalam ‘room’. Room merupakan ruang interakasi (seperti WAG keluarga) yang membolehkan pengguna berkirim pesan suara. Jika room hanya berisi dua orang, rasanya akan seperti teleponan. Namun jika memuat lebih banyak orang, rasanya seperti mendengarkan seminar tapi lewat hp dan bisa disambi rebahan. Batas peserta sebuah room sependek yang bisa saya tahu adalah 8 ribu orang, wow. Dalam room berkapasitas besar tersebut, orang bisa saling mengobrol dan berdiskusi. Terdapat fitur yang dapat memosisikan pengguna sebagai moderator –mengatur diskusi dengan memperbolehkan atau menunda pengguna lain (peserta) untuk berbicara. Ada tombol ‘mengangkat tangan’ yang memperbolehkan kita ikut nimbrung dalam diskusi. Persis seperti di kelas gitu. 

Pertama kali instal saya agak terganggu karena permission yang diminta cukup banyak (email, no hp, akun medsos, audio, kontak) walau ini bisa dipahami agar aplikasi berfungsi dengan baik. UInya relatif bersih, tidak terlalu ramai dengan pemilihan font yang menurut saya lucu. Ada lima tab yang tersedia.

Pertama adalah tab home. Room yang sedang berlangsung ditampilkan di sini. Biasanya muncul karena orang yang kita follow tengah join di room tersebut. Jika ingin bergabung, tinggal klik saja maka otomatis masuk. Rasanya sih seperti mendengarkan pertunjukan langsung, realtime. Di bagian home tersedia tab search. Ini memungkinkan untuk mencari pengguna atau club (semacam grup) berdasar kata kunci tertentu. Kamu juga bisa mencari berdasar topik/interest. Ada beberapa nama pengguna yang biasanya menjadi rekomendasi untuk diikuti. 

Kedua adalah tab invitasi. Secara default kita mendapat dua jatah mengundang orang. Di tab ini akan muncul daftar nama dari kontak kita yang mungkin mau kita undang. Terdapat keterangan kontak tersebut memiliki beberapa teman di Clubhouse. Jadi kita perlu sedikit melakukan kurasi dalam mengundang siapa yang kira-kira tertarik dengan platform atau kiranya bisa aktif di platform. Jatah invitasi ini bisa bertambah sih, saya dapat beberapa (sekarang ada 6). Oh ya, karena ini berbasis kontak yang kita simpan, dapat dipastikan pengguna adalah orang nyata karena berdasar orang yang kita kenal. Jadi, ngga butuh ‘centang biru’ sih haha.

Ketiga, tab kegiatan. Kamu bisa melihat event room yang akan datang beberapa waktu ke depan dan bisa membuat jadual event kamu sendiri. Keempat tab notifikasi dan kelima tab profile. Di bagian profile kamu bisa menulis bio yang relatif panjang, macam resume CV gitu ahaha dan diperlihatkan siapa yang menominasikan/mengundang kamu ke Clubhouse. Kalau bahasa mas Ainun Najib sih, ‘ikut Clubhouse itu ada sanadnya’.

Tampilan Clubhouse
 
Tulisan ini selesai setelah sekitar satu bulan saya menggunakan Clubhouse. Menurut saya kadang aplikasi masih agak lemot, sesekali. Namun kualitas suara tergolong sangat bagus. Oh ya berbicara mengenai suara, aplikasi ini audio only jadi kemampuan public speaking, storytelling dll sangat penting dimiliki. Males kan dengerin orang yang ngomongnya belibet atau cara bertuturnya berantakan. Mana ngga bisa dipause atau skip kaya podcast wkwk. Ya mau ngga mau emang pilihannya left dari room. Masalah muncul jika itu room bersama; kamu suka denger pembicara A tapi tidak B. 

Sementara, aplikasi ini tidak punya iklan. Tapi belum tahu nanti misal dikembangkan dan memiliki banyak fitur baru, biasanya ada saja celah untuk mengombinasikan fitur dengan iklan. Ya wajar, media sosial kan juga bisnis. Cuma, saya hanya berharap bagaimanapun pengembangannya ke depan, semoga pendirinya tidak kehilangan visi dasarnya. Jadi meski Clubhouse nanti jadi besar, tetap menarik seperti awal muncul –platform diskusi berkualitas.

Penting diketahui, meski kalian sangat suka obrolan di suatu room, kalian belum bisa menikmatinya kembali artinya ketika percakapan selesai, tidak ada jejaknya. Clubhouse belum menyediakan fitur rekam percakapan, atau semacam transkripsi dari percakapan. Mau tidak mau kita bisa mengakalinya dengan live tweet (menulis poin obrolan per moment) atau membuat resume/notulensinya via microblog Instagram, misalnya. 

Kekurangan dan Kelebihan. Enak enggak si?

Bagian ini akan kita bagi menjadi dua penilaian, dari sisi aplikasi dan pengalaman pribadi. Seperti UI x UX.

Aplikasinya punya tampilan cukup bersih namun rasanya agak sedikit lemot. Beberapa kali kadang gagal melakukan perintah tertentu, semacam kalau di browser kita melihat ‘page is unresponsive’. Mungkin ini masalah server. Bisa dibilang Clubhouse sedang berkembang untuk menjadi lebih baik, lebih besar. Jadi masalah seperti ini di masa transisi bisa dibilang wajar.

Pernah Dapat Masalah

Clubhouse belum bisa clear log activity (notifikasi kegiatan seperti siapa yang baru join, ada room apa yang baru dibuat dll). Sebenarnya hampir semua aplikasi media sosial memang demikian dan aktifitas yang lama akan hilang seiring waktu. Padahal Clubhouse bisa mengatur seberapa sering pop up notification muncul. Maka seandainya notifikasi aktifitas juga bisa diatur, rasanya menyenangkan. Ngarep. Jadi bisa dibilang, digital wellbeing Clubhouse lumayan baik dan masih bisa dikembangkan.

Room di Clubhouse hanya ditampilkan judul dan siapa yang sedang berbicara, artinya kita perlu masuk room untuk tahu apa yang sedang dibicarakan. Ini menarik karena tidak langsung terpapar konten. Tidak seperti kita lihat feeds IG langsung terpapar foto/video, tidak seperti kita browsing FYP Tiktok langsung terpapar video rekomendasi, tidak seperti video yuotube yang tetap berjalan tanpa suara padahal belum kita klik dan tidak sepert cuitan/status tertulis di FB dan Twitter yang langsung kita lihat dari home. Sebenarnya ini prefensi, tapi UI yang demikian yang saya rasa relatif berpihak pada pengguna.

Keluhan saya tentang Clubhouse lebih ke hardware perangkat saya. Clubhouse memungkinkan kita mendengarkan percakapan yang sangat lama, tentu berdampak pada jam penggunaan aplikasi yang makin panjang. Nah berhubung hengpong saya iphone jadul, kondisi ini secara nyata menguras baterai dengan cepat. Sad :(

Ada catatan penting yang perlu kita ketahui bersama bahwa Clubhouse belum mendukung monetisasi. Sementara ini, tanpa monetisasi, kreator, organisasi, atau siapapun yang ingin membuat room dan mencapat cuan, maka hal terkait pembayaran akan dilakukan terpisah di luar aplikasi Clubhouse. Kondisi tanpa monetisasi cukup problematis. Satu sisi kreator tidak bisa mendapat imbalan material dari apa yang dia sampaikan, sisi lain pengguna bisa mendapat banyak insight berharga. Jadi setidaknya kita perlu berterima kasih dan bersyukur kepada siapapun yang telah membuat room dengan insight ‘daging semua’, terima kasih untuk informasi berharga yang sudah dibagikan. Tentu juga terima kasih kepada pengembang Clubhouse karena memudahkan orang untuk bisa membuat diskusi lebih mudah terjadi. Cukup janjian secara personal, tidak harus selalu di bawah organisasi tertentu.

Mungkin hal tersebut yang membedakan Clubhouse dengan Zoom. Clubhouse membuat room terjadi lebih mudah dan relatif natural. Bahkan ini menjadi alternatif yang baik untuk menghindari zoom fatigue. Cocok bagi mereka yang ngga mau harus sedikit berdandan demi sesi video conference. Walau kita tahu Zoom memang punya kelebihan pada fitur penyajian yang lebih kompleks dan interaktif, misal dengan adanya share screen.

Pengalaman saya selama menggunkan Clubhouse relatif enak. Rasanya seperti kita mendengarkan podcast, tapi saya bisa langsung memberikan komentar. Dan rasanya lebih nyata karena sama-sama live dengan lawan bicara. Persis seperti menelepon.

Lalu, apa yang kira-kira bisa Clubhouse kembangkan? Hm banyak sih. Kalau saya cenderung ke bagian Temu Kembali Informasi yang lebih baik. Bisa saja room pada Clubhouse dapat direkam jadi saat kita tidak sempat ikut room tertentu, kita bisa mendengarkan siaran tundanya. Sistemnya mungkin seperti IG live, rekaman ada setelah room selesai. Mungkin perlu bekerja sama dengan penyedia cloud drive. Bisa semacam transkirpsi juga. Walaupun hal ini saya rasa bakal masuk sebagai fitur berbayar, tentu untuk menarik pemasukan bagi pengembang. Sisanya yang mungkin terbayang untuk dimonetisasi pengembang adalah statistik pengunjung profile, premium room, donasi dan log peserta room. Btw kamu bisa cek postingan bang Ogut untuk insight lebih banyak.

PS.

Saya ingin menambahkan kegelisahan mengenai perseteruan netizen pengguna Android vs iPhone.

Saya agak kurang sreg ketika iPhone terlalu dilihat sebagai ‘hp mahal’, walau memang Apple ingin membangun image tersebut dan kesan eksklusif. Menurut saya lebih tepat iPhone dibilang hp future-proof. Saya menggunakan iPhone SE keluaran 2016 dan masih enak digunakan sampai sekarang (kecuali battery issue yang emang jadi masalah klasik iPhone). Itupun saya beli sekenan pada 2019. iPhone jadi future-proof karena didukung oleh iOS yang banyak menjangkau seri lama. Android? Sulit. Pixel series aja cuma 3 tahun dukungan. Nah mengenai mahal, hp Android sik larang yo akeh bos!

Selanjutnya mengenai pengembangan Clubhouse. Saya ngga tahu kenapa developer rilis di iOS dulu baru Android. Yah saya rasa ini wajar karena masih sedikit tim dan skalabilitasnya belum besar untuk menuju pengembangan di Android. Ingat, dulu WA dan IG juga awalnya di iOS kok. Jadi sabar, bertahap. Cek ombaknya di iOS dulu, karena pasarnya lebih sedikit. Hai kalian kasta Android, berbanggalah kalian mayoritas di muka bumi ini.

Walau yah beda lagi emang kalau bicara persaingan bisnis antar SNS. Kalau Clubhouse tidak segera meluncurkan versi Android, pasar mereka bisa direbut Twitter yang menyediakan layanan serupa –Space.

Btw kalau kamu mau coba Clubhouse versi mod Android juga ada, cuma risiko tanggung sendiri.

Pengalaman Ikut Room

Saya sudah mengikuti beberapa room di Clubhouse. Ada yang memberikan informasi insightful, ada juga yang isinya tidak jelas. Room dari publik figur tetap bisa membuat orang penasaran meski isinya kadang tidak mengenyangkan. Bahkan terkadang seperti mendengarkan orang ... ghibah. Karena bagaimanapun, seadainya dianalogikan, room di Clubhouse bisa diibaratkan sedang melakukan panggilan (baik personal atau grup), cuma orang di luar percakapan dapat menyimak bahkan berkomentar. Maka bahasannya tentu seperti percakapan kita dengan kawan; bisa sangat menarik dan berbobot, bisa juga cuma gurawan receh atau bahasan mengambang.

Kemudahan membuat room seperti di atas, tentu memudahkan mereka yang sudah ‘punya nama’ untuk mendapat lebih banyak pendengar. Walau sebenarnya kita yang biasa aja ini punya kesempatan juga jadi ‘semacam influecer’ di Clubhouse. Ada caranya.

Perasaan yang timbul saat ikut sebuah room sama persis ketika saya ikut seminar, atau webinar. Meski cuma audio, tapi tetep aja deg-degan kalau mau tanya. Haha. Pernah gitu out of knowhere saya tanya tentang sosial media berbasis blockchain di sebuah room bersama mas Ismail Fahmi dan Prof Joel Picard.

Saya juga pernah ikut room mas Ainun menyilakan mas Ismail Fahmi untuk menceritakan pengalaman menggunakan Clubhouse, dan bagaimana Drone Emprit Academic menangkap percakapan tentang Clubhouse. Saya jadi tahu bahwa Clubhouse sempat dijadikan medium pergerakan sosial di Thailand. Bahkan karena room ini saya juga jadi tahu idol kpop ada yang join Clubhouse xixixi.

Insight menarik yang saya dapat dari room tersebut adalah banyak nakes atau tepatnya dokter yang join Clubhouse untuk memerangi misinformasi isu-isu kesehatan. Membuat sebuah room di Clubhouse itu mudah dan siapa saja bisa bicara apa saja. Jadi para nakes-dokter perlu ikut bersuara dalam mengurangi misinformasi. Nah, ini semacam catatan penting. Semakin banyak ahli yang bergabung di Clubhouse, misinformasi atau disinformasi dalam room bisa lebih cepat ditangani karena banyak ahli yang bisa dirujuk langsung, bisa berkomentar langsung tentang suatu tema. Bahkan bagi pemerintah, menurut pak Sandiaga Uno dalam suatu room, Clubhouse bisa menjadi medium transparansi kebijakan pemerintah dan memungkinkan masyarakat memberikan aspirasi langsung. Hail daebak.

“Lalu, kira-kira bagaimana Clubhouse ke depannya?” tanya mas Firdza pada mas Fahmi di suatu room. “Bisa berkembang. Ada orang yang punya intensi ingin menyuarakan kritik. Lagipula, Clubhouse memfasilitasi mereka yang punya preferensi ‘ingin berbicara saja atau mendengarkan’. Clubhouse mengisi ruang kosong sosial media berbasis audio” jawab mas Fahmi, aw kama qala. Walaupun saya pribadi berpikir bahwa anak generasi baru sepertinya lebih tertarik konten/interaksi visual base, dan pada aplikasi video pendek seperti Tiktok.

Room yang Asik

Fun fact.

Tepuk tangan di Clubhouse dilakukan dengan menekan tombol suara berulang kali (mute-unmute, mute-unmute). Pertama kali tahu dari kak Gabriela. Katanya di room internasional begitulah keadaanya. Ngakak lama tidak kelar-kelar.

Tren Bergulir. Bagaimana Kita merespon?

Saya pribadi melihat Clubhouse punya potensi untuk berkembang. Cerita mereka membangun platform relatif mirip raksasa media sosial (atau tepatnya periklanan) hari ini, Facebook –mulai dari lingkaran terdekat, orang terbatas, dapat eksposur kemudian naik dan menyetabilkan pengaruh. Itupun kalau mereka ngga keduluan kalah pengaruh dengan Space-nya Twitter haha. Bagaimanapun, Clubhouse harus segera merilis versi Android. Karena tidak bisa dielakkan pangsa pasar smartphone tetap tetap dipegang pengguna Android. Clubhouse kemarin bisa hype karena menggunakan konsep scarcity seperti pada cryptocurrency; hanya bisa di iOS, hanya bisa join kalau diinvite. Tentu strategi ini tidak bisa terus bertahan atau diulang.

Bagi yang sudah tergabung di Clubhouse, saran saya satu: hati-hati. Hati-hati dalam berbicara. Karena kita tidak tahu apakah ternyata diam-diam ada yang merekam. Hat-hati dalam membicarakan orang/institusi. Karena kita tidak tahu di mana celah kebocoran informasi. Hati-hati dalam membicarakan sesuatu. Sitatlah hal yang perlu disitat, tidak perlu sok ngaku-ngaku insight yang bukan dari kamu. Jadilah bertanggung jawab dengan apapun yang kamu sampaikan.

Well, kalau begitu Clubhouse berbahaya? Ada potensi bahayanya seperti yang diulas mas Ario Pratomo. Tapi ada potensi cuannya juga. Kamu bisa cek konten mas Ogut. Oh ya, ada triknya juga kok buat kamu yang ingin punya eksposure di Clubhouse. Sering-sering ikut dan bikin room, sering-seringlah berinteraksi di sana. Kualitas saat berbicara dapat menarik orang untuk mengikuti kamu. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Haruskah LIS meramaikan?                                         

Baiklah. Akhirnya kita sampai pada penghujung tulisan dan maksud dasar dari tulisan ini dibuat. Sebagaimana terteta pada judul, haruskah?

Sebenarnya pertanyaan tersebut tidak bisa serta-merta dijawab diametral YA atau TIDAK. Tapi saya pribadi akan cenderung untuk mengadvokasi sembari juga menanyakan preferensi.

Apakah kamu termasuk orang yang lebih suka ngobrol atau mendengarkan? Apakah kamu suka mendengerkan podcast? Apakah kemasan konten audio lebih kamu suka dari teks, foto dan video? Kalau jawaban pertanyaan disebut dominan YA, kamu punya kecenderungan untuk menikmati Clubhouse.

Meski sebelumnya Clubhuouse naik gara-gara sentimen dan pemberitaan, saya rasa tidak masalah bila LIS dan pustakawan (jika memungkinkan) untuk join the trend. Bukan karena FOMO tapi lebih pada positioning bahwa pustakawan juga bisa keep up dalam dinamika media sosial.

Per tulisan ini dibuat, pustakawan (baik dari Indonesia atau luar negeri) yang join Clubhouse masih sedikit. Saya sempat mencari dengan kata kunci ‘perpustakaan’, ‘library’, ‘pustakawan’, ‘librarian’. Room berbau literasi dengan kata kunci ‘book’, ‘buku’, belum banyak. Asumsi saya memang tema literasi dan juga teman-teman LIS serta pustakawan belum banyak yang bermain di Clubhouse. Belum seramai topik atau tokoh bidang kesehatan, creative industry, financial, dll. Apakah juga ternyata teman-teman pustakawan dan pegiat literasi banyak yang ... pakai Android? No offense, please. Xixixi

Bagi saya, peluang naiknya citra pustakawan bisa digarap juga di platform ini. Seperti di singgung pada bagian sebelumnya, banyak ahli bidang tertentu yang join di Clubhouse. Harusnya pustakawan juga bisa hadir sebagai orang yang punya citra profesional pada bidang informasi, expertise-nya bisa kelihatan dengan banyak berinterakasi lewat room. Kita bisa menunjukkan dengan bangga "kita pustakawan" di profile dan bisa menunjukkan kualitas penguasaan kita dalam pengelolaan informasi, literatur, buku, penerbitan dll. Kita bisa mendapat ruang untuk menunjukkan kualitas public speaking. Seperti yang saya lakukan; membubuhkan profil sebagai mahasiswa LIS, ikut berinterasi dalam room dan ikut bersuara tentang informasi, buku, penerbitan dll.

Apa yang saya dapat dengan ikut Clubhouse dengan membawa identitas anak LIS? Banyak insight baru, banyak relasi.

Cheers!

Kamis, 24 Desember 2020

Perpustakaan Umum Terbesar Pertama di Dunia

 

Bulan sedang asyik mencari-cari cahnnel youtube tentang travelling. Menyaksikan cerita jalan-jalan cukup seru baginya di tengah situasi pandemi covid-19 yang tak memungkinkan untuk bepergian secara leluasa. Dalam penelusuran, ia dimanjakan dengan begitu banyak suguhan jalan-jalan yang menarik. Lalu, matanya menangkap suatu konten youtube yang membuatnya penasaran. Hmm, menarik ya ada perpustakaan Makah Almukarromah yang dahulunya menurut beberapa informasi adalaha rumah tempat dimana Nabi Muhammad dilahirkan. Udah gitu, ada museum Nabi Muhammad lho, ih keren banget. Semoga kesampean ke sana ya Allah ..., Bulan berbisik dan berharap dalam lamunannya. Dalam video itu, perpustakaan tersebut membagikan buku gratis kepada para jamaah yang berkunjung sesuai kebutuhanya. Selain itu juga ditampilkan perpustakaan Masjid Nabawi yang memiliki ribuan koleksi kitab-kitab dari para ulama dan ahli ilmu terdahulu hingga kini.

Bulan jadi ingat tentang sejarah bagaimana Islam pernah mencapai puncak  peradabannya. Sejarah  mencatat bagaimana pada jaman keemasan Islam, perpustakaan begitu hidup sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Setidaknya ada 3 perpustakaan Islam terbesar di dunia pada saat itu  yaitu perpustakaan Baytul Hikmah (rumah Kebijaksanaan) di Baghdad, perpustakaan Dinasti Fatimiyyah di Kairo Mesir, dan perpustakaan Kordoba di Andalusia Spanyol. Koleksinya mencapai jutaan buku dan manuskrip yang sebagian besar adalah karya para ulama, ilmuwan, dan cendekiawan besar pada masa itu.

Sebagai seorang pustakawan, rasa penasarannya tentang perpustakaan Islam mebuatnya terus mencari-cari  konten yang memenuhi rasa keingintahuannya itu. Sampailah ia pada suatu video yang membahas tentang sumbagsih peradaban Islam pada dunia. Nah, ini dia, kayaknya seru, begitu gumam Bulan. Setelah panjang lebar sang narasumber berbicara, Bulan tergelitik pada suatu pernyataan  tentang Perpustakaan Umum Pertama terbesar di dunia.  Bulan begitu menyimak apa yang disampaikan oleh narasumber tersebut.

Dari catatan Bulan dapat digambarkan bahwa Perpustakaan Baytul Hikmah yang didirikan pada awal abad 9 masehi oleh Khalifah Harun telah menjadi pusat belajar, penelitian, dan kegiatan penerjemahan teks-teks penting dari peradaban lain, misalnya Yunani Klasik. Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad ini menempati sebuah gedung yang sangat besar, memiliki ruang baca yang sangat nyaman, terdapat aula tempat seminar, ruang diskusi ilmu pegetahuan, ruang penerjemah ilmu dari dan ke dalam bahasa Arab, ruang para ilmuwan, bahkan ruang untuk istirahat dan ruang makan bagi ilmuwan karena mengkaji ilmu berhari-hari hingga letih.

Para ilmuwan ini digaji dengan sangat tinggi. Penerjemahan karya bahkan ditimbang dan beratnya dibayar dengan emas. Pada abad 3 hijriyah atau 9 masehi bahkan di negeri Eropa masih tertinggal sementara kaum muslimin sudah memiliki perpustakaan terbesar di dunia. Masjid-masjid di masa itu pun dilengkapi dengan perpustakaan yang tak kalah menarik.

Pada masa itu, salah satu kebiasan khalifah adalah nitip dibelikan oleh-oleh buku kepada  kafilah dagang yang pergi ke berbagai negeri. Kaum muslimin yang lain pun demikian. Pernah suatu ketika di reruntuhan bekas bangunan suatu negeri, kaum muslimin menemukan buku yang tertimbun dan menimbulkan aroma busuk karena  terkena panas dan hujan dalam waktu cukup lama. Buku tersebut di jemur halaman per halaman dengan begitu teliti sehingga ilmu yang ada dalam buku tersebut dapat tergali dan terbaca. Mereka menghabiskan waktu 1 tahun untuk menjemurnya secara teliti. Maka peradaban mana yang begitu rupa menghargai ilmu kecuali ada pada kaum muslimin.

Konsep perpustakaan umum pertama di dunia hadir pada jaman keemasan Islam. Timbul pertanyaan dari narasumber yang juga diiyakan oleh Bulan, apakah hal ini pernah disinggung dalam kurikulum di dunia ilmu perpustakaan dewasa ini? Pernah kah mempelajari tentang perpustakaan pertama di muka bumi? Setiap ilmu tentu ada sejarahnya, termasuk ilmu perpustakaan. Apakah ilmu perpustakaan hari ini dengan jujur mempelajari perpustakaan terbesar pertama di muka bumi? Bulan manggut-manggut, pikirannya menerawang ke masa dimana ia pernah kuliah perpustakaan dan memang tak pernah mendapatkan materi seperti ini.

Lebih lanjut narasumber dalam video tersebut menerangkan bahwa Peradaban Islam memiliki sudut pandangnya sendiri yang sangat menarik. Pasa aspek tertinggi, peradaban itu dibangun dari hubungan makhluk dengan penciptaNya, yakni manusia dengan Tuhan yang Esa. Dampak dari hubungan manusia dengan Tuhan adalah harmonisasi kehidupan dan interaksi dengan sesama umat manusia dengan baik, memanusiakan manusia dan menghargai segala-hak-hak asasinya. Jika ini berjalan, maka terjadilah dampak ikutan yaitu bagaimana manusia bisa menghasilkan karya yang  dapat mendekatkan dirinya pada Tuhan dan semakin baik interaksinya dengan sesama umat manusia. Maka dihasilkanlah karya-karya fisik manusia termasuk dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan.

Relasi-relasi itu menghasilkan peradaban yang sungguh cemerlang. Peradaban yang dibangun dari pondasi keimanan kepada Tuhan lalu turun pada hubungan kasih sayang dan cinta damai pada sesama manusia, kemudian didukung dengan alat atau sarana penunjang hidup yaitu ilmu pengetahuan dan segala peradaban yang lahir secara material dan fisik.

Peradaban Islam ini terkait degan perintah Tuhan yang tertuang dalam kitab suci yaitu Iqro “bacalah”. Membaca dan mendalami kitab suci yanag berisi firman Tuhan menjadikan manusia harus membaca, merenungi, berfikir, dan meneliti  dunia dan semesta jagad raya ini. Semua bermula dari perintah membaca agar manusia menemukan kebesaran Allah dan makin mempertebal keimanannya.

Bulan lalu merenungi kondisi umat Islam saat ini. Ya, mereka kurang membaca, kurang kepedulian terhadap ilmu. Di rumah dan tempat-tepat ibadah mereka tidak dipenuhi dengan pustaka-pustaka keislaman. Perpustakaan penting dalam pengembangan suatu bangsa karena perpustakaan menyediakan informasi dan dokumentasi. Perpustakaan layaknya lembaga sekolah sebagai learning center atau resources center.

Sementara yang terjadi di dunia ini, manusia begitu mengagung-agungkan karya fisiknya, keilmuan duniawi, seni bangunan dan banyak lagi. Padahala interaksi dan hubungannya dengan umat manusia lain sangat buruk dan zalim. Kezaliman sesama manusia ini terjadi karena pemahaman akan penciptaan makhluk oleh Tuhan tak dipahami manusia secara utuh akibat kesombongan dan pendeknya hubngan mereka dengan Tuhan.

Maka dapat dikatakan bahwa, selama belum ada kegemaran iqro atau membaca maka belum akan ada kebangkitan, belum akan ada kemajuan, dan belum akan ada peradaban. Pada masa peradaban Islam, kamun muslimin punya kepedulian dengan buku.  Tidak ada ilmu Yunani yg melalui jalur kaum muslimin. Ini mengindikasikan bahwa budaya fair dan aobjektif terhadap keilmuan dari peradaban lain diakui kaum muslimin dengan tetap menyebutkan sumbernya dan kemudian mengembangkannya secara lebih luas. Dari sinilah lalu  dunia tahu bahwa saat itu ada para ilmuwan Yunani, yang sebenarnya kondisi mereka saat itu sangat jauh dari interaksi dan terkucil di masyarakatnya.

Kaum muslimin menemukan hikmah dimana saja tanpa menutup-nutupi sumbernya. Peradaban Islam  terbukti telah mewariskan beragam keilmuan yang luar biasa yang belum pernah ada pada masa itu dan menjadi sumbangsih terbesar bagi kemajuan umat manusia hingga kini.  Namun demikian masih terjadi ketidak-fair-an dewasa ini untuk mengakui sumber-sumber keilmuan Islam sebagai rujukannya. Bukanlah sebuah peradaban dimana Kejujuran dan Keadilan belum bisa ditegakkan.

Kembali pada perintah iqro atau membaca, jika kaum muslimin tidak mau membaca bahkan tidak tahu sejarah peradabannya sendiri, maka dia akan menjadi pengekor-pengekor saja. Kaum muslimin harus kembali bangkit. Harus kembali membaca dan bersahabat dengan ilmu. Kejatuhan dan kemunduran kaum muslimin akibat dari kerapuhan dirinya sendiri. Dimensi peradaban yang memiliki tiga unsur yaitu ikatan dengan Allah, dengan manusia dan dengan alam tidak lagi diindahkan. Sumber keilmuan yang berasal dari kitab sucinya sendiri tidak mereka pedomani. Maka tak ayal, jika peradaban tidak lagi berpijak pada nilai-nilai kebenaran, maka tinggal menunggu kehancurannya.

Ya, kaum muslimin lalai, malas membaca buku dan tidak tahan mengkaji ilmu berlama-lama. Sementara, kegemaran kaum muslimin membaca buku dan cinta ilmu pada masa itu telah menghantarkan mereka membangun sebuah pusat keilmuan yang dapat diakses dan bermanfaat bagi masyarakat luas yaitu perpustakaan. Inilah konsep perpustakaan umum pertama di dunia.

Lagi-lagi Bulan hanya bisa manggut-manggut sendiri. Hari ini dia dapat pelajaran berharga. Jika belum ada kegemaran membaca, belum akan ada kebangkitan. Kata-kata inilah yang terus mengiang di benaknya.

Rabu, 25 November 2020

Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada

 Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada


Dunia sebagai keseluruhan menurut pandangan filsafat klasik, adalah bidang dari segala bidang-bidang lainnya. Ia adalah jaringan dari keseluruhan, namun manusia tidak akan pernah bisa memahami ini, karena pengetahuannya selalu terbatas. Terjangan filsafat postmodern telah membubarkan harapan manusia tentang filsafat yang bisa menjelaskan segalanya dalam satu gambaran dunia yang utuh dan koheren. Tidak ada lagi “Dunia” dengan huruf D besar.


Akibatnya, banyak orang kini kehilangan pegangan, tak luput juga mereka yang berprofesi pustakawan di negeri ini, karena panduan dunia kepustakawanan dari para founding fathers ilmu perpustakaan di negeri ini yang utuh dan menyeluruh telah menghilang. Keyakinan akan kebenaran mutlak tentang kepustakawanan termasuk ilmu perpustakaan dipertanyakan ulang. Sebaliknya, imajinasi dan kreativitas di luar profesi pustakawan justru meningkat, guna mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan. 


Perpustakaan di negeri ini kini bagaikan tempat yang dingin yang harus ditata kembali dengan imajinasi dan daya cipta para pustakawannya. Tidak ada pilihan lain, kecuali pustakawan menjalani ini semua dengan penuh kesadaran dan kebebasan.


Pada titik ini, ilmu perpustakaan tidaklah cukup. Pustakawan membutuhkan seni, teknologi, agama, budaya, dan filsafat untuk mengisi hidupnya. Tanpa itu semua, dunia pustakawan bagaikan padang gurun yang kering dan tanpa makna. Jika sudah begitu, neraka tak perlu menunggu setelah kematian para pustakawan, melainkan sudah ada disini dan saat ini.


Tanpa jiwa, dan pengakuan atasnya, hidup pustakawan jadi tak berarti. Jiwa pustakawan adalah administrator dari makna. Tanpanya, hidup pustakawan jadi tak bermakna. 


Ketika peran pustakawan dihilangkan, maka ia bisa fokus pada situasi disini dan saat ini (here and now), dan mulai mencipta dengan gembira, tanpa kekecewaan, tanpa depresi.


Pustakawan hidup di dunia yang tak pernah ada, namun memiliki peluang dan kemungkinan yang tak terbatas untuk mencipta. Ia melintas berbagai area makna, lalu mencipta ulang hidupnya kembali. 


Tujuan akhir kita pustakawan di negeri ini tak akan pernah tercapai, karena tujuan itu sendiri tak pernah ada. Makna yang tersangkut pada kebenaran mutlak memang menghilang dari jati diri pustakawan, tetapi kita jangan pesimis, karena pustakawan juga memiliki kebebasan untuk menciptakan makna-makna baru secara kreatif, dan tanpa batas.



Terinspirasi dari curhatan diri 


Selasa, 24 November 2020

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi



انسى السلامة. عِش حيث تخشى أن تعيش. دمر سمعتك. كن سيئ السمعة” (جلال الدين الرومي)


Larilah dari apa nyaman, lupakan kenyamanan, hiduplah ditempat kamu takut untuk hidup, hancurkanlah reputasimu, jadilah pribadi yang kontroversial (Jaluddin Rumi)


 
Rumi, salah satu sufi dalam tradisi Islam menjadi inspirasi saya untuk menjadi "gila". Suara sang sufi menggema keras di zaman now, zaman dimana semua orang mencari kenyamanan di segala hal, bahkan sampai kenyamanan di kehidupan setelah kematian. Zaman ini semua orang menjilat kiri kanan untuk menjaga reputasinya, zaman dimana orang cari aman, tunduk pada penindasan akal sehat.

Kenyamanan adalah musuh, kenyamanan membuat saya menjadi busuk, membuat saya terlena, membuat saya turun kesadaran, membuat saya menjadi lemah dan lambat. Bagi saya kenyamanan yang saya rasakan bagaikan telur diujung tanduk, ia amat rapuh, semua ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan bisa lenyap dalam sekejap mata.

“Hancurkan Reputasimu” begitulah Rumi mengajak kita. Reputasi adalah pandangan orng lain tentang kita. Sifatnya dinamis, berputar, dan ia amat rapuh. Bagi saya hidup mempertahankan reputasi adalah hidup dalam penjara. Rumi membebaskan saya dari apa yang semu, Rumi ingin mengajak saya untuk terus memperbaharui hidup. Saya tak ingin terjebak pada satu peran ataupun identitas tertentu.

Rumi telah mengajak saya menjadi mantan pustakawan yang kontroversial, membongkar tradisi yang ada, yang mempertanyakan pandangan-pandangan lama dunia kepustakawanan yang sudah kuno, oleh karenanya saya pun juga harus siap dibenci karena melakukan itu semua.

Menjadi terkenal menjadi mantan pustakawan pemberontak, yang tidak bisa diatur, yang berantakan, yang semau gue. Itu semua saya lakukan untuk membongkar kemunafikan cara berpikir pustakawan yang ada.

Nietzche, pemikir Jerman kiranya terinspirasi banyak dari ajaran dari Rumi. Keduanya menegaskan agar hidup itu tidak hanya ikut arus, tanpa sikap kritis, dan terlena dalah hidup di zona nyaman dan aman di dalam kedangkalan. Saya telah menjadi mantan pustakawan “Gila” yang beralih profesi jadi tukang ketik atasan. Menjadi gila  seperti ini justru menjadikan saya waras sepenuhnya menjadi manusia seutuhnya untuk hidup dengan segala warnanya.
 
 

 



Senin, 23 November 2020

Antara Vlog dan Blog Jangan Bandingkan! Kombinasikan Saja

Banyak yang berkomentar sekarang ini blog sudah mulai menurun pembacanya dan banyak yang mulai beralih ke vlog? Benarkah? 

Ok, saya akan jawab beberapa hal yang terkait. 

katadata.co.id
katadata.co.id

Pertama, membandingkan dua media vlog dan blog jelas tidak adil. Kenapa? Lah, wong satunya untuk media menulis sementara vlog untuk video. Tapi, kalau digabungkan keduanya itu bisa makin dahsyat. Kalau mau membandingkan coba dua paltform yang sama misalnya antara Youtube dan Vimeo. Walaupun, jelas yang satu sepertinya lebih banyak peminatnya. Tapi kedepan, siapa yang tahu nanti suatu saat Youtube mulai tergeser dengan pilihan yang lain. Kasus blog misalnya ada banyak pilihan blogger, wordpress, kompasiana, dll. 

Kedua, ada benarnya juga tanpa melihat statistik penggunaan blog dan vlog, saya merasakan ada penurunan pembaca. Apalagi tingkat minat membaca negara kita masih memprihatinkan. Vlog misalnya di Youtube memang cukup menggairahkan. Terlebih budaya menonton di negara kita masih cukup tinggi, jauh sebelum kemunculan vlog, hiburan seperti menonton televisi masih mengalahkan hiburan misalnya dengan membaca karya sastra. Saya tidak akan jauh mengambil contohnya, cukup dikampung sendiri. Pulang dari sawah, menonton tv merupakan kenikmatan tersendiri bagi mereka dan itu saya menyaksikan secara langsung. Sekarang ini dimana smartphone dan kuota yang semakin murah, maka kehadiran vlog tentu menjadi alternatif tontonan bagi mereka. Apalagi pembuat konten vlog semakin semangat memproduksi karena iming-iming rupiah, makin banyaklah video yang beredar.

Ketiga, saya orang yang masih percaya budaya menulis akan terus ada hingga akhir zaman. Boleh saja blog hilang ditelan waktu, tapi untuk aktivitas menulis akan selalu tetap ada. Saya pernah bilang dalam suatu acara knowledge sharing, bahwa tradisi menulis sudah dilakukan ribuan tahun yang lalu, hanya medianya saja yang berubah. 

Keempat, saya tidak menampik, memang realitanya ada banyak konten-konten yang dulunya diblog dan saat ini mulai beralih ke vlog misalnya saja tema wisata, kuliner, resep, tutorial apapun itu temanya, dan masih banyak yang lainya. Mungkin ada beberapa tema yang tetap bertahan di blog seperti materi-materi pendidikan. Walaupun, saat ini materi-materi pendidikan pun ada beberapa yang mulai dibuat secara visual agar lebih menarik. 

Kelima, antara vlog dan blog itu, dua-duanya hanyalah media saja. Tapi, aktivitasnya yang paling penting. Dunia blog misalnya menulis. Dunia vlog mungkin kreativitas dengan konsep visual dan audio. Dua-duanya memiliki jalan masing-masing dan memiliki penikmatnya sendiri. 

Nah, sebagai penutup, hemat saya antara blog dan vlog itu jangan dibandingkan! Tapi, kombinasikanlah keduanya. Vlog kodenya bisa di embed ke blog. Sebaliknya vlog dalam deskripsi atau video bisa mencantumkan link/tautan menuju blog. Dua-duanya bisa berjalan seirama seperti buku saya dulu Dua Dunia Seirama (he...2). Menurut kawan-kawan pustakawan bagaimana?

Note: 
Untuk melihat secara live postingan blog di dunia setiap hari bisa akses disini:
https://www.internetlivestats.com/watch/blog-posts/

Untuk melihat statistik pemanfaatan media sosial seperti Youtube cek di APJII 2018 (2019 sepertinya belum keluar). 

Minggu, 25 Oktober 2020

Tantangan untuk ISIPII

Musim sudah berganti. Kemarau berangsur hilang. Hujan mulai turun. Banjir juga mulai terjadi. Tak terkecuali di kampung Paijo. Ya. Tapi tidak di perumahan. Yang kena banjir ya sungainya. Hehe. 


Sore itu, selepas hujan lebat pergi, Paijo merenung. Lama dia tidak merenung. Pada masa pandemi ini, sebenarnya dia banyak di rumah. Kerja. Online. Daring istilah bakunya. Namun, justru kerja online dari rumah ini membuatnya kurang produktif dalam merenung untuk kemudian menuliskannya.

Sore itu dia berusaha sekuat pikiran, untuk merenung. Beberapa diskusi, atau tepatnya lontaran diskusinya, mendapat tanggapan. Dan itu membuatnya merenung. Menerka arah dan argumen yang muncul dari rekan-rekannya.

****

Sekelebat dia ingat, masih tentang perpustakaan, pustakawan, dan kepustakawanan. Konon kabarnya, di negara lain yang dianggap maju perpustakaannya, pustakawan itu pendidikannya unik.

Kalau pendidikan tinggi dasarnya tentang perpustakaan, maka jenjang berikutnya pustakawan tidak mengambil lagi studi perpustakaan. Namun mengambil pendidikan lain. Atau sebaliknya. Pendidikan tinggi dasarnya tentang ilmu lain, kemudian pustakawan akan ambil masternya tentang perpustakaan.

Hal itulah yang kemudian (salah satunya) dianggap berkontribusi pada skill dan pengetahuan pustakawan.

Namun, di Indonesia tidak demikian. Banyak pustakawan yang tidak bosan sekolah tentang perpustakaan, atau kini diperluas dengan informasi. Diplomanya perpustakaan, sarjana perpustakaan, masternya juga demikian. Tidak bosan. Ya, seperti Paijo sendiri. Haha. 

"Hanya doktor yang tidak", batinnya. Ya. Jelas. Di Indonesia belum ada program doktor ilmu perpustakaan. Ada, sih. Tapi program nebeng. 

Paijo berfikir. Kudunya tidak demikian. Ya, minimal jika ingin sama seperti negara tetangga, lah. Kan selama ini begitu kebiasaan membandingkannya. Pustakawan tidak boleh sekolah terus di bidang perpustakaan. Ini harus dikampanyekan. Kudu variasi. Biar enak, menantang, dan tidak bosan.

Lalu siapa yang harus mengampanyekannya?

"Tidak ada yang lain. Ya para lulusannya", bathin Paijo. Juga organisasi lulusannya. Organisasi yang mewadahi para sarjana ilmu perpustakaan. "ISIPII," ucap Paijo setengah teriak.

"Untuk pengembangan kepustakawanan Indonesia, kami serukan pada para sarjana IPI untuk merdeka ambil S2 di bidang apapun"

Wani ra?

Tapi apa ISIPII berani? Paijo tidak yakin.

Renungan itu menyisakan tantangan.

Selesai

Rabu, 07 Oktober 2020

Pustakawan Berdaya


Bermula saat masa pendemi Covid-19 muncul. Sebagai pustakawan Bulan sempat berpikir bagaimana melakukan layanan perpustakaan kepada pengguna sementara perpustakaan tutup atau dibuka secara terbatas. Layanan secara fisik di mana pemustaka hadir ke perpustakaan, membaca, menulis, berdiskusi, bahkan meminjam buku tidak sebebas dahulu kala. Perpustakaan khusus yang dikelola oleh Bulan bakal makin sepi saja. Bulan tidak mati gaya. Dia terus berpikir, kira-kira layanan apa yang dapat diberikan perpustakaan.

Perpustakaan yang dikelola Bulan ini memang perpustakaan khusus. Tentu saja koleksi dan penggunanya juga khusus. Kebanyakan adalah para pegawai di lingkungannya. Ada juga masyarakat umum yang menggunakannya tetapi sejauh ini jumlahnya tidak terlalu banyak. Para pegawai memiliki kesibukannya masing-masing. Apalagi masa pandemi ini dengan diberlakukannya bekerja dari rumah atau wfh (work form home) praktis perpustakaan semakin sepi.

Jauh sebelum adanya pandemi covid-19, perpustakaan yang dikelola Bulan sudah hadir ke meja penggunanya. Ada layanan antar jemput buku bagi para pemustaka. Ada katalog daring yang bisa diakses kapan saja. Ada perpustakaan dalam genggaman (android) yang sudah di “create” dan beroperasi bagi pengguna secara luas. Semua layanan ini semata demi perpustakaan dapat memberikan layanan prima kepada pemustakanya. 

Sebagai pustakawan, Bulan masih belum puas. Dia belum melakukan kajian untuk melihat sejauh mana layanan perpustakaan selama ini benar-benar dimanfaatkan oleh pemustaka. Dia teringat, ada satu layanan perpustakaan yang makin mendekatkan dan mengakrabkan perpustakaan dengan penggunanya. Ya, layanan referensi. Apalagi pemustakanya sebagain besar adalah para peneliti. Fungsi sebagai pustakawan rujukan bisa dimaksimalkan di sini. Nah, mulailah Bulan merancang layanan ini.  

Dibuatlah sebuah flyer yang berisi informasi layanan penelusuran literatur berikut link permohonannya. Layanan ini diperuntukkan  bagi para pengguna perpustakaan baik dari kalangan pegawai sendiri, peneliti, dosen, guru, mahasiswa, ataupun masyarakat umum yang membutuhkan referensi apa saja yang diperlukan dalam aktivitas mereka.

Yup, flyer sudah jadi. Siap dikirim dan dishare ke instagram perpustakaan yang memiliki follower sekitar 2000an orang dan grup WA pemustaka. Tak disangka respon yang muncul di luar dugaan. Dalam sehari bisa masuk permintaan penelusuran literatur hingga mencapai  ratusan. Bulan dan tim sempat panik. Menggembirakan sekaligus mendebarkan. Menggembirakan karena perpustakaan masih dibutuhkan mereka. Mendebarkan karena sanggupkah melayani permintaan sebanyak ini.

Bulan dan tim bermusyawarah. Alhamdulillah sebuah solusi ditemukan. Semua request dari pemustaka dibagi bersama dalam tim. Lalu dibuatlah ketentuan-ketentuan yang mengatur layanan tersebut mulai dari hari dan jam layanan, permintaan literatur yang spesifik, kuota permintaan, dan eksekusi layanan termasuk nomor whatsapp admin perpustakaan yang bisa dihubungi.

Selama beberapa waktu, Alhamdulillah layanan ini berjalan dengan baik dan lancar. Semua permintaan literatur atau informasi yang dibutuhkan pemustaka dapat dipenuhi oleh Bulan dan tim. Bekerja dalam tim adalah bekerja sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Ah, Bulan dan tim merasa berdaya kini. Meskipun kerja dari rumah tetapi tetap produktif bahkan semakin dekat dengan pemustakanya.  Ada kebahagiaan yang tak bisa terucap dengan kata-kata.

Ya, pandemi telah memaksa pustakawan  turun gunung, menemui masyarakat penggunanya dengan hadir lebih dekat kepada mereka meskipun secara daring.  

Bravo buat Bulan dan tim. Di manapun dan kapanpun pustakawan siap mengabdi untuk bangsa dengan memberikan layanan terbaiknya. Kebutuhan mereka terpenuhi, aktivitasnya menjadi lancar dan sukses. Mereka bahagia dan pustakawan pun ikut bahagia.