Selasa, 01 Oktober 2019

DARSO GUNDALA

“Harapan pada masyarakat adalah candu”.

Pengkor berbicara dengan bibir yang bergetar pada Gundala. Pengkor sepertinya menitipkan pertanyaan sulit pada Gundala. Bagaimana harapan mahasiswa perpustakaan menjadi pustakawan? Apakah sebuah ektasi juga?



Gundala di tulisan ini bukan tokoh superheronya Joko Anwar yang lagi trending topik di jagat medsos Indonesia. Nama lengkapnya Darso Gundala. Doski adalah seorang mahasiswa PTN yang logonya bunga teratai. Dan sama seperti pertanyaan repetitif yang tipikal, Darsopun bertanya dengan nada gulana:

“Nanti setelah lulus dari sini, saya jadi apa Pak?”

Nah lo, apakah pertanyaan tersebut terkait dengan ekspetasi mahasiswa untuk kelak menjadi pustakawan?





Pertanyaan tersebut juga terlontar beberapa kali ketika saya memberikan kuliah umum tentang pengelolaan konten digital entreprise di kampus UGM, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, yang sewaktu muda dulu sering diplesetin dengan universitas gundul mu (konon karena banyak mahasiswa yang gundul ?)...

Entah apa yang membuat para mahasiswa Jip  galau. Mereka adalah generasi milenial calon pustakawan yang ketika kecil merangkak, pipispun masih dicebokin, sampai kuliahpun sudah kelonan dengan teknologi digital. Istilahnya mereka generasi native digital. Dari kecil sampai besarpun generasi Darso Gundala ini: tidur berpeluk handphone dan ngelindurpun sambil update status di medsos

Generasi Gundala yang percaya dengan melihat sendiri, perubahan sebuah masyarakat karena disrupsi dan teknologi. Generasi Instant katanya. Para milenial ini sekarang gak terlalu kesengsem dengan profesi tukang insinyur yang pada saat generasi Y, merupakan profesi yang menjulang. Padahal dulu saking blagunya tukang insinyur, sering nyindir ke gen Y, memplokamirkan anekdok, mantu ideal itu seorang insinyur teknik. Sementara jomlo abadi direprentasikan lulusan jurusan sosial. Tenang..tenang ......Paijo dan Dulpengep...semua akan indah pada waktunya...he he he ?


PUSTAKAWAN PENGELOLA KONTEN DIGITAL




Nah konon sekarang sudah berubah Ferguso…Profesi pengelolaan konten kreatif kembali menjulang di era perubahan ini. Elo boleh berdarah darah kuliah di teknikal dan kelak menginstal hardware berat...tapi tahukan anda, bahwa di Amerika sono, para engineer tersebut pada akhirnya disindir hanya sebagai para pekerja perekayasa DUMB PIPE ! Sadis dibilang mereka cuma menciptakan saluran, pipa teknis "bodoh" perangkat teknologinya, sementara para kreatif pengelola konten yang berjaya yang mengeruk duitnya. Memang perumpamanya tidak seektrim itu. Tapi paling tidak siapa yang kemudian mengisi atau mengelola kontennya mulai diperhatikan. Perusahaan telkom dan infrastruktur banyak yang bertumbangan, digilas Youtube, Instagram, Facebook, Twitter dll para penyedia konten.

Bayangin profesi seorang vloger seperti Atta Halilintar dan Ria Reces yg bermodalkan megal megol kaya bebek depan kamera video selfih, bisa berpenghasilan lebih 1 milyar perbulan? (masa sih...meski gue gak percaya...), sesuatu yang gak mungkin ditemukan pada jaman gen Y.

Nah lo, lalu apa hubungannya ngomongin pengelolaan konten dengan kepustakawanan ? Kenapa kamu memilih jurusan ilmu perpustakaan Gundul ?

Dan faktanya, ada seorang pakar konten digital pengajar Ischool di Pratt University, New York, Prof Anthony Chocciolo tentang hubungan keduanya (Baca buku beliau: Ketegangan profesi Digital Asset dan Digital Arsip). Beliau yang menyebutkan bahwa pengelolaan konten di sektor bisnis itu mencangkok prinsip dasar kepustakawanan. Dan seorang lulusan sekolah perpustakaan dan informasi bisa jadi manajer Entrepise Content Manajement ! Dengan simbolik, ECM dianggap sebagai perselingkuhan kepustakawanan dengan teknologi di era digital.

Beberapa waktu yang lalu saya ikut konvensi Google Summit dan salah satu pembicaranya dari Tokopedia. Pembicara dari Toped mempresentasikan fakta yang menarik. Sebagai gambaran besar data arsip konten transaksi, perharinya bisa lebih dari 2 T, gila besar bingit. Artinya, mereka butuh kecepatan akses temu balik datanya, daripada proses repositori permanennya.

Fokus pada manajerial proses, untuk kecepatan akses retrieval data (temu balik) secara umum merepresentasikan gugus aktifitas kepustakawanan. Sementara proses kedalaman penyimpanan permanen dari si data, masuk ke area archive. Meskipun di era bigdata dan digital, batas tersebut luluh lantak bukan isyu lagi. Tapi tetap, dalam pandangan saya sebagai praktisi profesional, peran yang ditengah gak akan berkurang sampai kapanpun

Nah ini yang sekarang giliran saya yang tanya ke Gundala:

" Nah saya sudah jawab Darso, kamu bisa jadi apa saja kuliah disini. Kamu gak perlu menghabiskan energimu dengan selalu bertanya, kelak jadi apa? "Lah kamu, apa motivasimu kuliah di sini Gundala ? " 
Dia gak menjawab. Dan kitapun gak boleh berprasangaka, karena mereka asal milih biar bisa kuliah keren di PTN ? Atau karena dipaksa bokapnya yang menjadi korban majalah Hai dulu ?


ARTI MENJADI PUSTAKAWAN 

Kehidupan tidak bisa dibedah hanya dengan perspektif dan tafsir tunggal. Pilihan merdeka untuk berprofesi sebagai apa, dan menjadi apa, juga beragam. Sama seperti tokoh Seth dalam film City of Angel yang memilih menjadi manusia, karena bisa mencintai, sakit, dan mati ketimbang malaikat yang abadi. Atau perubahan pada diri si Casey Stoner dari gadis pesta menjadi pustakawan di film Party Girl? Dan pilihan hidup lain termasuk ketika memilih profesi pustakawan?

Saya ajak  Darso ngopi di kafe Old Town di depan Kampus Universitas Gajah Mada untuk berdiskusi serius tentang arti menjadi Pustalawan.




“Aku tak mau terjebak dalam diskusi tentang ini Darso,” ujarku sambil menyantap marugame rebus yang warnanya begitu mengkilap. Kau pun aku sama dalam memandang makna menjadi pustakawan. Bukan begitu Gundul ?".

Singkat kata, akupun kemudian membrainstromming Darso si Gundala.

“Kalo sekedar menjadi pustakawan, mah gampang Dul ! Sule atau si Tukul yang gak pernah kuliah di Jip juga bisa. Yang susah itu menjadi pustakawan yang paripurna Darso!”

Awalnya Darso Gundala, bengong gak paham. Sampai akhirnya kami kemudian mempunyai persamaan pada suatu titik; sama-sama tak ingin cepat bertekuk lutut menjadi pustakawan yang repetitif prosedural dan untuk mengabdi menjadi sahaya.

Betapa tidak menjadi Pustakawan yang sering terlihat adalah akumulasi ketertundukan manusia yang kehilangan dimensi kemanusianya. Pustakawan yang hanya terjebak dalam kegiatan repetitif administratif pagi – sore – siang – malam.

Tapi aku tak ingin diadu dengan kata-kata yang tak bermakna. Buktikan dengan tindakanmu barulah semuanya jelas. Baru aku dapat menilaimu apakah memang pantas aku menilanya sebagai Pustakawan yang Paripurna. Sayangnya itu sulit sulit dan mustahil, hingga aku merasa seperti sembelit!

“Kupikir itu wajar saja. Kita adalah orang-orang yang percaya terhadap arti penting pencapaian sebuah mimpi. Mana mau kita dengan cepat menyandarkan diri dengan orang yang tak tepat dan lemah?”

Kubiarkan pikiran Darso mengelana entah kemana. Rasanya jauh dan begitu menyakitkan. Ada kesadaran yang tiba-tiba merasuk dan mesti kuungkapkan. Iya, jika kau pada akhirnya menemukan kebahagiaan yang sempurna.

“Jika tidak?”

Atau jangan jangan karena kita telah berjalan terlalu jauh dan tenggelam ke dalam obsesi menuju mimpi-mimpi kita sendiri.

Darso mendengarkanku dengan seksama. Begitu serius dan hanyut ke dalam kata-kata yang kuucapkan disela-sela bibirku.

“Iya, selalu ada yang mesti dikorbankan Darso !,” kubisiki dengan sedih.

Kesadaran mengenai kebahagiaan yang tak mungkin dicapai jelas membayangi. Manusia yang dapat berpikir, sungguh menakjubkan sekaligus menakutkan. Berpikir dan menyelami diri sendiri seolah bermain layaknya Tuhan. Berpikir mengantarkan pada pengetahuan baru yang begitu menakutkan untuk diselami.

Kuracuni si Darso dengan kata penutup:

“Menjadi pustakawan hanyalah sebuah tools profesi. Sama seperti jasi dosen, dokter, jualan cilok dll. Dan sekarang aku memprovokasimu belajar tentang pengelolaan konten... Tujuan kehidupan pada akhirnya, tentu saja ingin bahagia kan So….Apakah dia bahagia menjadi manusia yang tak bisa  mati kesamber geledek? Itulah konsekwensi hidup.

Tapi tiba-tiba si Darso nyeletuk cerdas, doski melakukan counter attack kepadaku...:

“Dari tadi ngomong ngalor ngidul, emang Mas Yogi itu Pustakawan?”

Akupun terdiam, ...serasa menjadi terdakwa...millenial memang straight, sekali mukul pake upper cut....rasanya seperti komentator bola, yang sebenarnya tidak bisa main bola.....…

 Menjadi pustakawan itu seperti nyruput semangkuk ice cream gelato ini Darso...kamu tidak akan mendapat jawaban sebelum merasakannya..."


Darso langsung semangat nyruput eskrim gelato nya dengan lahap....entah, apakah ini strategiku untuk mengakhiri perbincangan ini....begitulah millenial...



Tabik.
Diposting dengan kategori :

Jumat, 20 September 2019

Delima "Me Librarian"

Di tengah kemacematan dan hirukpikuk Jakarta, tubuhku terasa lelah sekali melanjutkan perjalanan ke rumah, hingga akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di perpustakaan

Bermalam di perpustakaan?
mendengar kalimat ini mungkin akan terasa asing di telinga kita, khususnya perpustakaan di Indonesia. berbeda dengan negara negara maju, public library menjadi rumah idaman untuk menginap bagi para pelancong bahkan tunawisma/gelandangan.

Tiba di perpustakaan, aku putuskan untuk merebahkan diri di sofa sofa empuk di depan TV kabel, hingga ku terlelap tidur. Entah pukul berapa aku terbangun, aku memutuskan untuk berwudu dan sholat untuk merelaksasi badan yang telah lelah.

Hingga azan subuh terdengar sayup di masjid kantor, aku putuskan untuk segera mandi, dan sholat subuh, lalu berangkat ke kantor untuk menghadiri meeting pagi.

saat meeting dimulai, tlp dan wa terus menerus masuk ke handphoneku. Ada yang mengirimkan pesan bernada kesal, marah, dan tidak suka aku bermalam di perpustakaan tadi malam. semua pesan itu membuyarkan konsentrasiku di dalam meeting. Selesai rapat, aku langsung membalas pesan wa tersebut dan minta maaf atas perlakuanku menginap di perpustakaan.

Aku berpikir sepertinya ada ketabuan menginap di perpustakaan, hingga aku berprasangka para pustakawan di negeri ini belum bisa berpikiran bebas menjadikan perpustakaannya sebagai rumah keduanya.

Aku berprasangka apakah para pustakawan di negeri ini masih terinfeksi virus “Generasi Aku”, atau “Me Generation”, padahal dunia hari ini telah berubah, dunia hari ini adalah dunia kolaborasi.

Aku teringat 15 tahun yang lalu, hampir lebih  kuhabiskan usia produktifku di perpustakaan. Bahkan hingga bermalam di perpustakaan untuk belajar, riset serta mengeluarkan produk-produk teknologi perpustakaan bersama orang orang 'sosialis' pendukung gerakan kebebasan dan keterbukaan.

Kejadian malam itu, seakan-akan meyakinkanku bahwa para pustakawan di negeri ini  masih terjangkit virus "Me Generation", sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola perilaku manusia  yang egois, mementingkan kepentingannya sendiri. Generasi Aku dianggap sebagai generasi narsis. Mereka senang dipuji. Mereka senang memamerkan diri sendiri.

Aku teringat tulisan David Brooks dalam bukunya The Morality of Selfism, dalam bukunya, David Brooks menceritakan ciri-ciri Generasi Aku. Pertama, sebagai bentuk dari pemujaan diri yang berlebihan, Generasi Aku ini aktif sekali di media sosial untuk memamerkan dirinya. Jika ku hubungkan dengan konten medsos perpustakaan di negeri ini, aku hanya melihat keeogisan dari diri mereka  yang hanya sibuk menjual dirinya dengan cara-cara hard selling, mirip akun-akun akun medsos jualan obat diet dan peninggi badan. Tidak menarik sama sekali untuk dikunjungi, apalagi menjadi followernya.

Di era kolaborasi ini, ada baiknya perpustakaan di negeri ini berbenah diri menjadi perpustakaan yang iknlusif terbuka bagi pemustakanya. Biarkan pemustakanya berkreasi, berkolaborasi, bahkan meniduri setiap sudut ruangnya. Jika ini telah menjadi tradisi, maka aku jamin tak perlu lagi para petinggi di negeri  ini memikirkan gerakan literasi, yang konon gerakan ini timbul karena tingkat literasi negeri ini terdegradasi akibat sering nonton televisi.

Rabu, 11 September 2019

[[ Bookless Library ]]


Paijo, dan tentu saja dengan kawan-kawannya ngepos di gardu ronda. Mereka satu klub dalam meronda. Namun mereka rival dalam pergaplean, salah satu ritual wajib dalam ronda.

Sambil guyon ngalor ngidul, Paijo sebagaimana biasanya, tentu saja sambil promosi ilmunya: ilmu perpustakaan.

"Sekarang perkembangan perpustakaan semakin maju, lho," dia membuka diskusi sambil nyabetke kartu bergambar bulatan merah berjumlah 12 yang sejak lama bertengger di deretan kartunya.

Teman-temannya diam. Mereka konsentrasi pada kartu di tangan masing-masing, sambil menghitung dan memrediksi.

"Sekarang ada yang disebut bookless library," lanjut Paijo. Teman-temannya masih saja diam, sesekali senyum melihat kartu, atau tangannya meraih gelas berisi kopi kental tur pahit. "Srrrup," suara itu terdengar ketika kopi disruput, disusul mata yang merem melek. Gerrr.

"Itu perpustakaan yang tidak ada bukunya. Tempatnya bagus, keren, kekinian. Bisa untuk selonjoran, tiduran, sambil dolanan laptop, nggambar utawa nggawe video," Paijo nerocos.

"Isa juga sambil ngopi, ada kafenya". Paijo tampak mantap menjelaskan.

Ketika Paijo serius menjelaskan, salah satu kawannya tertawa ngakak. "Jo, kayak gitu kok dibilang maju. Sampeyan cerita, pikiranku tidak ke mana-mana. Tetap di gardu ronda ini," sergah Soplo.

Soplo menunjukkan kartunya sudah habis. Dia menang.

"Kok iso, Plo?, Paijo penasaran.

"Lah, bisa saja. Yang kamu ceritakan itu semuanya ada di gardu ronda ini, je. Selonjoran bisa, main laptop bisa, dolanan hape bisa. Di sini juga ndak ada buku sama sekali. Mau gawe video juga bisa. Tinggal pakai hapemu itu buat merekam kita yang lagi gaple ini. Upload ke yutub lalu dapat duit" Soplo menjawab.

"Ngopi, gampang. Ndak perlu kita pencat-pencet gadget pesan kopi. Tiap malam wis ana sik njatah. Ndak hanya kopi, tapi lengkap sama pacitane. Mau baca buku, tinggal buka hape, trus gugling. Akeh. Yang paling penting, di sini bisa gaple, Jo." Soplo melanjutkan.

"Ndak usah jauh-jauh. Pos ronda kita ini juga bookless library, Jo," kata Soplo.

Paijo kaget. Wajahnya kecut. Dia diam, lalu lanjut mengaduk kartu dan membagikannya. Gaple putaran berikutnya dimulai.ya dimulai.

Selasa, 10 September 2019

Perpustakaan di mata Google: sebuah analisis kuanlitatif

Latar belakang
Para orang pinter bidang perpustakaan selalu bersepakat bahwa perpustakaan itu harus unjuk gigi. Biar gigi-giginya, yang selama ini tertutup bisa dilihat banyak orang. Kalau orang pada lihat gigi putih dan bersinar, disinyalir akan terpesona.  Juga unjuk jari. Maksudnya, pustakawan memainkan jari-jarinya, pencat-pencet smartphone untuk memopulerkan perpustakaannya. Post, like, and share.

Tidak heran, banyak perpustakaan yang memiliki media sosial yang memuat berbagai hal tentang perpustakaan itu. Ada juga yang diposting di laman media sosial pustakawannya. Ya, memang ada bedanya sih. Di laman perpustakaan itu untuk yang tampak formal, wangun. Yang di laman pustakawannya itu yang gayeng-gayeng, selfie-selfie dan suka-suka. Mulai dari foto di kursi yang baru dibeli untuk perpusnya. Atau foto makan soto bareng pustakawan lainnya untuk menunjukkan betapa hangat dan  guyub para pustakawannya.

Selain pustakawan, ada pula pemustaka yang memberi komentar pada perpus dan pustakawannya. Komentar itu ada di berbagai tempat. Salah satunya di Google. Google, sebagai mesin pelacak nomor wahid di dunia, memiliki rekaman jejak komentar tentang perpustakaan.

Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggungjawab pada popularitas perpusnya di mata pemustaka. Pustakawan yang sering ikut kol for peper, disinyalir akan berpengaruh pada popularitas perpusnya. Ya, karena dia bisa belajar banyak ketika kol for peper. Selain itu, mestinya ada sentimen positif, dong, dari pemustaka pada perpusnya jika pustakawannya sering ikut kol for peper. Tentu bergengsi. Pemustaka mana ndak seneng jika pustakawannya berprestasi di kol for peper?

Nah, sentimen positif ini bisa dimunculkan di ulasan Google.

Namum, sejauh apa popularitas perpustakaan itu di mata Google lewat ulasan para pemustakanya?

Penelitian yang sangat ilmiah ini akan membuktikannya.

Prasangka
Perpustakaan yang pustakawannya banyak ikut kol for peper, maka popularitas perpustakaannya akan ada di atas rata-rata. Tinggi.

Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuanlitatif. Data dikumpulkan dengan metode klak-klik, dan salin tempel. Alat yang digunakan yaitu: komputer lengkap dengan tetikus dan kibot atau papan ketik, serta tentu saja paket data harus tersedia. Lebih baik 4G, biar wus-wus-wus.

Nama perpustakaan dikumpulkan dengan metode nggrambyang. Metode ini merupakan kombinasi antara memori dan respon tangan dalam mengetik di kibot pada laman mesin pencari Google.

Nama perpustakaan yang sudah muncul di laman Google, kemudian dianalisis dengan metode lihat-lihat, serta cermati-pindai.

Data dikumpulkan pada hari Minggu, 8 September 2019. Perubahan data pada Google di periode berikutnya, sangat dimungkinkan. Jika ini terjadi, maka bukan tanggungjawab penulis.

Ah, teori
Di Google, ada beberapa angka yang menunjukkan karakter perpustakaan. Pertama skor, yang ditentukan oleh klik bintang yang dilakukan pengulas. Kemudian komentar yang ditulis oleh pengulas. Sebenarnya komentar ini bisa dipetakan lagi, pakai analisis sentimen. Baik, buruk. Atau bisa juga dipetakan berdasar jenis komentarnya: tentang fisik perpus, pustkawannnya, fasilitasnya, koleksinya, atau mungkin toilet dan kamar mandinya. Tapi itu tidak dilakukan dipenelitian ini. Lama, eui.

Angka berikutnya rata-rata jam yang dihabiskan di perpustakaan. Agaknya Google menghitung dari data yang direkamnya melalui google map. Lalu terakhir hari buka dan jam tutup perpustakaan. Google punya algoritma lacak untuk info ini, tentunya melalui perilaku para pemustakanya.

Pembahasan
Berikut tabel hasil pengumpulan data. Data diurutkan berdasar jam rata-rata pemustaka menghabiskan waktu di perpustakaan. Alasannya apa? Agar terlihat, di perpus mana pemustakanya paling betah di perpustakaan.

Tabel satu-satunya: data perpus dari Google (8/9/2019)
no
nama perpus
skor (bintang) di Google
jumlah komentar
rata-rata pemustaka di perpus (jam)
Jam tutup (malam)
1
ITS
-
69
4
19
2
Kota Jogja
4.4
394
3.5
24 jam
3
UGM
4.7
255
3.5
20
4
UIN Jakarta
4.4
69
3.5
20
5
FT UGM
4.7
52
3.5
19.30
6
UMY
4.4
28
3.5
17
7
UI
4.5
388
3
19
8
UIN Jogja
4.6
137
3
18
9
UNIBRAW
4.5
129
3
22
10
ITB
4.8
109
3
21
11
IPB
4.6
100
3
21
12
USU
4.5
81
3
16
13
UIN Malang
4.7
44
3
18
14
UNSYIAH
-
19
2.5
21
15
UIN Walisongo
4.6
60
2
17
16
UII
4.9
29
-
-
17
UAJY
4.3
14
-
19
18
UIN Sunan Ampel
4.1
10
-
18

Ada 18 perpustakaan yang berhasil kami kumpulkan. Kenapa 18? Karena 18 x 2 itu 36. Tiga puluh enam merupakan angka keramat pada jaman dulu. 36 merupakan jumlah selembar gambar templek mainan saya waktu kecil.

Pada tabel di atas, terlihat skor paling tinggi  ada pada perpustakaan UII, dengan angka 4.9. Namun sayangnya, UII hanya punya 29 pengulas. Padahal mahasiswa UII sebagian besar sekali, pasti banyak yang punya smartphone, yak. Mungkin perlu usaha lagi untuk memopulerkan perpus agar banyak yang mengulasnya.

Sementara itu, paling banyak diulas yaitu perpustakaan Kota Jogja, dengan 394 pengulas. Angka ini memunculkan skor 4.4. Agaknya dengan banyaknya pengulas, skor ini sudah mulai stabil. Beda dengan UII yang baru 29.

Untuk rata-rata jam dihabiskan di perpusakaan, paling lama di perpustakaan ITS, 4 jam. Perpustakaan lainnya hanya kisaran 3-3,5. Bahkan ada yang hanya 2 jam saja. Sayangnya, Google tidak mendefinisikan skor perpustakaan ITS. Entah apa yang dimiliki perpustakaan ini. Empat jam itu setara 3 SKS lebih.



Perpustakaan kota jogja, selain memiliki pengulas paling banyak,  juga memegang rekor buka paling lama. Google mengenalinya sebagai perpustakaan yang buka 24 jam full 7 hari terus-terusan. Uelok tenan. Hal ini juga terkonfirmasi pada laman https://arsipdanperpustakaan.jogjakota.go.id/menu.php?page=2.



Latar depan
Apa itu latar depan? Latar depan itu latar yang terlihat banyak orang. Kalau latar belakang, ndak semua orang bisa lihat. Nah, latar depan itu isinya kesimpulan.

Mosok ada latar belakang, kok ndak ada latar depan.

Kesimpulan dari data data dan pembahasan di atas, yaitu: bergembiralah jadi pustakawan. Meskipun ada kawan-kawanmu yang tidak kuat jadi pustakawan, dan meninggalkanmu. 

Kesimpulan lain, terkait prasangka yang sudah dibuat. Ternyata prasangka tidak terbukti. Atau, tidak sepenuhnya terbukti. Atau, belum bisa dibuktikan. Halah.

Namun, populernya perpustakaan, tidak ditentukan oleh seberapa banyak pustakawannya ikut kol for paper. Melainkan oleh berapa banyak yang mengulasnya. (Ya, iyalah... namanya juga data diambil dari Google ulasan).

Rekomendasi dan Penelitian lanjutan
Pustakawan dan kepala perpustakaan, berdasar penelitian ini, direkomendasikan untuk berbaik hati pada pemustaka. Agar lebih banyak yang mengulas dan isinya bagus, serta memberi bintang 5.

Penelitian ini masih terbatas. Data hanya didasarkan dari Google. Dimungkinkan untuk dilanjutkan dengan penelitian lanjutan, secara lebih medalam, tajam, dan terpercaya. Selanjutnya bisa pula dipublikasikan di jurnal Q1, bahkan di atasnya. Atau, bagi para penggemar jalan-jalan, bisa dikirim ke konferensi, dipresentasikan di kol for paper berbagai konferensi kepustakawanan.

Terima kasih
Kami sampaikan terimakasih pada Google, yang sudah menyediakan datanya. Segala kelebihan penelitian ini adalah buah jasa dan datang dari Google. Sedangkan kekuranganya karena diri saya sendiri.


Selasa, 03 September 2019

Senyum Pustakawan

SENYUM PUSTAKAWAN (Refleksi Hari Pelanggan Nasional)

Oleh: Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I (Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Seperti kita ketahui bersama bahwa di Indonesia setiap 4 September diperingati sebagai Hari Pelanggan Nasional atau Harpelnas yang selalu dijadikan moment dalam upaya memompa semangat bagi lembaga atau perusahaan yang bergerak di sektor layanan masyarakat agar bisa terus memuaskan pelanggan.

Pelanggan bisa diartikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan produk atau jasa tertentu pada periode tertentu secara tetap dan berkala, seperti pelanggan Telkom, PDAM, perpustakaan, dan sebagainya. Pelanggan selalu identik sebagai konsumen sebagai pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Menarik ketika menyimak tema yang diangkat di Harpelnas 2019 ini yaitu "Kerja dan Hati yang Melayani". Dalam melayani pelanggan, ada satu hal yang harus terus dilakukan dalam menarik minat pelanggan yaitu membiasakan memberikan senyum kepada pelanggan. Di Harpelnas yang menjadi logo utamanya adalah lambang senyum manusia berwarna hijau yang dikarang oleh salah satu The Best Ad Designer Indonesia. Logo ini mewakili sebuah senyuman manusia yang tulus, yang menandakan sebuah kepuasan. Sementara itu, pemilihan warna hijau menggambarkan kesejukan, rasa bersahabat dan keramahan.

Efek Senyum 

Senyum diartikan gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan mengembangkan bibir sedikit. Terkait dengan senyum, adal sebuah survei di Swedia yang menyatakan Indonesia memiliki penduduk paling murah senyum dan sering ucapkan salam. Berdasarkan hasil survei The Smiling Report 2009 dari AB Better Business yang berbasis di Swedia, Indonesia adalah negara paling murah senyum di dunia. Dalam laporan itu disebutkan Indonesia sebagai negara tertinggi tersenyum dengan 98 persen. Indonesia juga merupakan negara dengan ucapan yang paling tinggi yaitu 98 persen. Sementara itu Swedia berada di nomor 24 pada daftar untuk kategori senyum dengan angka 77 persen dan urutan 31 untuk ucapan salam dengan 81 persen.

Laporan ini menunjukkan betapa pentingnya senyuman dan senyum itu harus wajib dimiliki oleh setiap orang terlebih bagi mereka yang berhadapan langsung dengan pelanggan seperti pustakawan dengan pemustakanya. Senyum bukanlah suatu tindakan yang membutuhkan keterampilan tinggi, tidak pula memerlukan modal yang besar. Semua orang bisa tersenyum dan itu sangat mudah. Namun, mengapa senyum mampu membuat hati menjadi tenang, membuat mata yang memandang merasa senang dan menciptakan kedamaian di sekitar kita?

Dalam sebuah pepatah Cina dikatakan bahwa “Orang yang tidak bisa tersenyum dengan baik, tidak layak untuk berdagang”. Senyum yang tulus merupakan hal pokok dalam hubungan kemanusiaan. Senyum merupakan kunci untuk menciptakan persahabatan yang erat, membangun hubungan keluarga yang harmonis, menciptakan persaudaran. Bahkan senyum menjadi kunci untuk menciptakan hubungan yang sinergis dalam pekerjaan, antara atasan dan bawahan.

Senyum terbukti membuat kita lebih menarik. Kecantikan dan ketampanan yang terpancar di wajah tidak akan tampak bersinar jika wajah kita muram. Sebaliknya , jika orang tersenyum, meskipun ia tidak elok parasnya, namun akan tampak lebih menarik. Ini senaga dengan pepatah yang mengatakan “Apa guna berkain batik, tapi tidak pakai kebaya. Apa guna berparas cantik, tapi selalu membawa bahaya”. Dengan menebar senyum, orang di sekitar kita akan merasa senang, nyaman dan aman. Senyum juga membuat kita merasa lebih baik dan meningkatkan pikiran positif. Senyum tulus yang kita berikan kepada orang lain bisa mengubah perasaan orang itu menjadi lebih baik, karena efek senyum bisa menular pada orang-orang di sekitar kita.

Begitu besarnya keutamaan senyum, sehingga dalam sebuah hadits diriwayatkan, Nabi Muhammad didatangi oleh seorang miskin. Dia mengajukan keberatan karena tidak bisa bersedekah seperti halnya orang kaya, sementara untuk amal ibadah lain dia tak berbeda dengan orang kaya. Nabi SAW menjawab keberatan itu dengan bersabda: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah" (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi). Hadis ini menunjukkan bahwa hal yang sangat sepele, yakni tersenyum, mampu membaca manfaat besar bagi orang lain, sehingga disejajarkan dengan sedekah. Senyum dari hati membuat orang lain merasa bahagia, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan. Hadits ini juga mengajarkan bahwa memberi (sedekah) tidak semata-mata dapat dilakukan dengan memberikan materi seperti uang atau kebutuhan hidup, namun juga dengan sesuatu yang sepele dan dapat dilakukan oleh semua orang, yaitu tersenyum.

Senyum serupa jembatan dunia, sebagai penghubung orang-orang dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan. Senyum yang kita berikan menyebar ke sekeliling sehingga membuat orang merasa lebih bahagia dan siap berinteraksi dengan kita. Meski senyum kelihatannya sesuatu yang sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Senyum adalah cara termudah untuk menghadiahi seseorang, tanpa biaya, memperkaya si penerima tanpa mempermiskin si pemberi. Sekilas, namun tahan lama. Tersenyumlah agar hatimu bahagia. Dan raihlah hidup penuh berkah, rizki yang selalu berlimpah, dengan dunia yang penuh senyum-senyum cerah.

Di Harpelnas 2019 ini mari kita jadikan senyum sebagai sarana ibadah dan salah satu instrumen dakwah yang menunjukkan keluhuran budi pekerti dalam pergaulan serta dalam meraih kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Aamiiin.

Sabtu, 10 Agustus 2019

Lagi….Perpustakaan “Halu”



Ceritanya Bulan sedang mengikuti kompetisi menulis cerpen untuk ditayangkan di LINE TODAY. Setelah berjibaku begitu rupa, ternyata memang belum rejeki Bulan.  Pada hari yang ditentukan, Bulan melihat satu demi satu judul cerpen yang terpajang di situ. Dan…eng ing eng…memang tidak ada cerpennya di situ.  Tak apa lain kali bisa dicoba kembali, begitu pikirnya.

Menelusuri judul-judul yang menarik di depan matanya, Bulan menangkap salah satu judul yang gak asing di matanya. Judulnya Library. Ya, judulnya berbahasa Inggris meskipun  cerita Indonesia. Tapi uniknya, cerpen ini ko ada di menu Cerita Misteri Pilihan.  Hmmmm…gumam Bulan. Lagi-lagi yang beginian yang diangkat.

Bulan udah tau cerita ini bakalan berbau horor.  Tapi kenapa sih menggunakana latar perpustakaan.   Mang gak ada tempat  yang lain ya…begitu pikirnya. Tapi Bulan penasaran juga sama ceritanya. Dia ikuti kata demi kata, kalimat demi kalimat, alinea demi alena yang menjadi rangkaian cerita. Alkisah, disebutkan  dalam cerita tersebut bahwa di perpustakaan sekolah tempat siswa baru ini baru pindah, ia berjumpa dengan salah satu penjaga perpustakaan dan salah satu pemustaka perpustakaan, yang ternyata semuanya adalah makhluk tak kasat mata. Hiyyyy…syerem…

Ini adalah kedua kalinya Bulan membaca cerita yang berlatar belakang perpustakaan dan berbau misteri atau horor.  Sementara cerita-cerita lain di perpustakaan yang menyebar dari mulut ke mulut juga tak kalah horornya jumlahnya cukup banyak. Bulan jadi penasaran, kira-kira teman-teman Bulan yang bekerja di perpustakaan, beneran gak sih pernah mengalami hal seperti itu…

Kalo begitu banyak cerita horor ini di perpustakaan,  pertanyaannya adalah betah gak sih mereka bekerja di perpustakaan? Lantas bagaimana mereka akan memberikan layanan yang prima  ke pemustakanya? Kemudian apakah pemustakanya enjoy-enjoy aja di perpustakaan? Ataukah perpustakaan  adalah  sebuah ruangan atau gedung yang harus dijauhi…? Bertubi-tubi pertanyaan Bulan menggelayut di kepalanya.

Atau jangan-jangan perpustakaan yang ruangan-ruangannya rada muran, kurang menarik, tidak estetis, kaku, membosankan, terlalu sepi, gak in touch dengan teknologi dan sejenisnya, bakalan banyak kedatangan pemustaka tak kasat mata nih, hiii….begitu khayal Bulan.

Bulan penasaran jadi pengen ngadain survey kecil-kecilan yang isinya “Menurut kalian perpustakaan yang seperti apa yang banyak makhluk astralnya alias tidak kasat mata”. Aneh gak ya surveymya…hihihi, begitu batin Bulan.

Ya Bulan merasa sebagai pustakawan kadang sedih dan miris. Apa iya perpustakaan seserem dan seangker itu. Tetapi kenyataannya memang ada yang mengalami.  Trus Bulan mau bilang mereka bohong  gituh…hmmm, gak lah.  Karena makhluk tak kasat mata itu memang  ada. Kan dalam keyakinan Bulan, ada di sebutkan bahwa Allah SWt menciptakan jin dan manusia. Ya itu artinya makhluk halus itu ada.

Ah tapi pasti hanya beberapa perpustakaan saja yang berhawa seperti itu, harap Bulan. Ya semoga aja demikian. Karena lagi-lagi tak mesti perpustakaan yang kuno, tradisional, suram, gak modis, gak modern dan sejenisnya  yang seolah-oleh angker. Tetapi bahkan perpustakaan modern dan keren penataanya pun menjadi tempat nongkrong yang asyik buat mereka.  

Jangan-jangan pustakawan sekarang dituntut untuk bisa melakukan pelayanan prima kepada semua jenis pemustaka nih. Baik yang kasat mata ataupun tidak. Supaya semua terlayani dengan baik, hihihi. Berarti ilmu pustakawan harus ilmu bumi dan ilmu dunia gaib juga ya….hiiii…Anda siap…??? (Tulisan usil di senja malam Takbiran)






Minggu, 21 Juli 2019

Tiga tingkatan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi

Paijo ndleming. Di dekat pohon kelapa depan rumah, samping pohon pelem, di atas rerumputan yang sedikit berpasir. Tak jauh dari tempatnya duduk ngebrok, ada pohon belimbing dan jambu air yang daunnya mengering. Maklum, sudah beberapa bulan tidak tersiram air hujan.

Paijo ndleming. Melihat kenyataan di berbagai perpustakaan perguruan tinggi, yang dipimpin oleh orang dari latar belakang bervariasi. Jika dikelompokkan, para pemimpin ini ada dua golongan: pustakawan, dan selain pustakawan. Selain pustakawan itu biasanya dosen. 

Terkait maju atau  berhasil tidaknya, tidak bisa didasarkan dengan dasar dua golongan ini. Yang dipimpin pustakawan juga bisa maju, yang dipimpin dosen juga demikian. Apalagi, Paijo, sejak lama meyakini bahwa semua orang boleh menjadi kepala perpustakaan. Bukan hanya kepala Perpustakaan, bahkan menjadi pustakawan pun, Paijo meyakini, semua orang berhak. Maka bagi Paijo, secara umum, keduanya tidak masalah.

Profesi pustakawan ini profesi yang demokratis, yakinnya.

Namun…

Ada yang mengganggu pikiran Paijo. Perguruan tinggi yang memiliki perpustakaan ini, ada yang memiliki jurusan ilmu perpustakaan, ada juga yang tidak.

Jika pada perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, keyakinan Paijo di atas berlaku. Tetapi bagaimana dengan perguruan tinggi yang di dalamnya memiliki jurusan ilmu Perpustakaan?


****

Ndlemingnya Paijo, sampai pada kesimpulan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi.

“Jadi, derajat kepustakawanan di perguruan tinggi itu bisa dibedakan dalam beberapa tingkat, Kang”, kata Paijo. Karyo yang ada di dekatnya mendengarkan dengan seksama.

Tingkatan tertinggi, tingkat pertama, kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh pustakawan.

Tingkat kedua, ditempati oleh dua kategori kepustakawanan. Keduanya beda tipis. Bisa saling bertukar posisi pada tingkatan ini. Pertama kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan. Kedua kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dan perpustakannya dipimpin oleh pustakawan.

Tingkatan ke tiga, atau terakhir, yaitu kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, serta kepala perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan.

***

Paijo berkeyakinan, bahwa jika di PT itu ada jurusan ilmu Perpustakaan, maka kondisi idealnya, Perpustakaan PT tersebut dipimpin, dikepalai oleh pustakawan. Apalagi jurusan ilmu perpustakaan tersebut ada program yang lengkap, dari D3, sampai S3. Kenapa?


Dan, idealnya perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dipimpin oleh pustakawan.

Karena dengan demikian, menunjukkan sempurnanya keberhasilan pendidikan ilmu Perpustakaan di PT tersebut, berhasilnya kaderisasi pada pustakawan, dan berhasilnya dosen ilmu perpustakaan menunjukkan keilmuwan perpustakaan.


Karyo: “lha, kalau perpus jenis ini dipimpin dosen Ilmu Perpustkaan, Jo?”, tanya Karyo.
Paijo: “ya ndak pa. Pada dasarnya ndak salah, kecuali melanggar aturan institusi tersebut. Tapi..”
Karyo: “tapi apa, Jo?”
Paijo: “tapi itu menunjukkan ada titik belum suksesnya pendidikan ilmu perpustakaan di PT tersebut”.

Karyo menyahut, menjelaskan bahwa ada perguruan tinggi yang masalahnya kompleks. Tidak mudah, sulit ditembus. Usulan dari pustakawan, atau dosen ilmu perpustakaan sulit diterima. Maka, untuk memperkuat posisi, kepala perpustakaan harus dosen, pendidik, yang sama-sama kategorinya dengan pengelola perguruan tinggi. Setara. "Kamu tahu kan, Jo?. Bahwa civitas akademika di PT itu dosen dan mahasiswa. Pustakawan itu tidak termasuk civitas akademika". Karyo menutup, berusaha meyakinkan Paijo.


Paijo: “memang, Kang. Ada yang begitu kompleks masalahnya. Justru kekompleksan masalah itulah wilayah para dosen ilmu perpustakaan, untuk menunjukkan derajat ilmu perpustakaannya pada manajemen universitas”.


***
"Bagaimana jika dipimpin oleh tenaga kependidikan selain pustakawan, sekaligus bukan bukan dosen ilmu perpustakaan, Jo?", Karyo bertanya.

Paijo mesem. Dilihatnya pohon jambu dan belimbing yang daunnya layu.


Sambisari,
Jumungah Kliwon 16 Dulkangidah Be 1952
Tulisan ini juga diposting di: http://www.purwo.co

Senin, 08 Juli 2019

Lomba Pustakawan Berprestasi


Siang itu Bulan dihubungi via telepon oleh salah seorang temannya yang ternyata adalah teman kuliahnya dahulu. Si teman ini banyak bertanya-tanya terkait informasi tentang lomba pustakawan berprestasi. Bulan jadi ingat dahulu pernah ikutan lomba yang sama dengan si teman ini dan mewakili DKI Jakarta untuk maju ke tingkat nasional. Begitupun si teman ini. Ia juara satu tingkat DKI Jakarta dan maju ke tingkat nasional.

Sebagai seorang teman, tentu Bulan tak segan-segan memberikan banyak informasi tentang lomba ini khususnya untuk persiapan ke tingkat nasional. Intinya Bulan semacam menjadi konsultan si teman ini dalam rangka membimbingnya mempersiapkan diri menuju lomba yang dimaksud.

Bicara tentang lomba pustakawan ini, sebenarnya banyak yang menggelayut di benak Bulan. Bulan merasa sebenarnya apa sih pustakawan berprestasi itu dan apa sih sebenarnya kontribusi Bulan selama ini. Kira-kira apa ya yang dilihat juri, lantas memilih Bulan untuk mewakili DKI Jakarta menuju tingkat nasional. Dan sebenarnya apa yang dinilai pada tingkat nasional hingga Bulan walaupun bukan yang terbaik terpilih masuk dalam lima besar. Hmmm Bulan kembali menerawang ke masa setahun yang lalu.

Bulan teringat saat diwawancari pada lomba tingkat provinsi DKI Jakarta. Salah seorang juri bertanya,” Apa yang saudara cari dari menulis artikel yang saudara kirim ke jurnal-jurnal ilmiah ataupun yang saudara ikuti dalam seminar atau konferensi tingkat nasional maupun internasional”.  Hmmm sebenarnya saat itu Bulan tidak menjawab secara jujur. Bukan berarti bohong, tetapi Bulan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Bulan hanya menjawab, “untuk mengembangkan pengetahuan saya dan meningkatkan kompetensi saya”.

Bulan berpikir-pikir lagi, jangan-jangan bukan itu tujuannya. Saat itu Bulan mungkin hanya mengejar poin dan koin. Atau hanya untuk prestise bahwa pustakawan bisa menulis dan melakukan kegiatan riset. Atau apakah Bulan menulis sebagai bentuk kritis terhadap dunia kepustakawanan atau menulis sekedar untuk mengangkat citra diri lembaganya saja. Hmmm, semuanya sih benar dan tidak ada yang salah. Tapi apa ya sebenarnya tujuan utama Bulan saat itu. Ya Bulan harus kembali merenung dan meninjau untuk apa Bulan berada dan dimana posisi Bulan dalam rangka mengembangkan dunia kepustakawanan. Sungguh pertanyaan diri yang berat buat Bulan.

Nah, pada saat maju ke tingkat nasional, masih terus ada hal yang menggelitiknya. Saat menjabarkan apa saja yang sudah Bulan lakukan untuk memajukan perpustakaan di lembaganya bekerja, lagi-lagi Bulan terpapar dengan rutinitas pekerjaan dan kegiatan-kegiatan perpustakaan yang insidental tetapi terkesan wah dan luar biasa.  Apa iya Bulan sudah memahami apa yang seharusnya pustakawan lakukan, mana yang inti kegiatan pustakawan, mana yang hanya kegiatan penggembira saja dan sampingan. Hmm Bulan mengoreksi diri sendiri.

Sejatinya saat seseorang dinobatkan sebagai pustakawan berprestasi, otomatis beban-beban pengembangan dunia kepustakawanan seolah bergelayut di pundaknya. Ada harapan dengan hadirnya ia sebagai pustakawan berprestasi mampu memberikan gelombang atau spora positif bagi perubahan di institusinya ke arah yang lebih baik, khususnya dalam dunia kepustakawanan di lembaganya. Sudahkah Bulan mengemban amanah ini? Bisa jadi Bulan hanya berkutat di tempat, label sebagai pustakawan berprestasi itu hanya sekedar gelar saja saat itu. Selebihnya, ya berlalu begitu saja, biasa-biasa saja.

Iya kah Bulan seperti itu? Seolah menjadi pustakawan berprestasi itu ibarat sebuah tamparan yang siap mendarat di pipinya manakala kinerja dan perilakunya  tidak sesuai dengan gelar yang disandang. Ayo Bulan, kamu harus bangkit dan jangan memalukan makna dari kata pustakawan berprestasi.  Ini bukan sekedar sebuah lomba, kejuaraan atau kompetisi menjadi yang terbaik dalam mengikuti mekanisme lomba. Tetapi lebih dari itu, ada makna yang dalam. Ke mana sang pustakawan manakala dunia kepustakawan ini hanya jalan di tempat. Di mana kontribusimu untuk menaikkan kinerja lembaga, apa yang bisa kamu berikan untuk membantu para pemustaka dan memajukan cara berfikir mereka. Wuih….berat ya jadi pustakawan berprestasi itu. 

Bukan gelar dan mahkota kemenangan yang disandang, tetapi tanggung jawab dan inovasi yang bakal dilihat para stake holder. Semakin banyak perpustakaan membantu pemustakanya, semakin ada di hati perpustakaan itu, dan semakin sulit jikalau suatu waktu perpustakaan itu harus bubar jalan. Wahai Bulan, sang pustakawan berprestasi. Jangan mutung ya…ingat amanah kamu sebagai pustakawan berprestasi tingkat nasional. Bulan merenung dalam. Bulan tidak boleh diam. Bulan harus terus bergerak. Bulan harus memajukan institusinya.


Minggu, 07 Juli 2019

10 'S' Sifat Pustakawan Jaman Now


Mumpung peringatan Hari Pustakawan Nasional yang jatuh pada tanggal 7 Juli, rasanya relevan sekali jika membahas tentang pustakawan. Sebenarnya di Indonesia, lumayan banyak pustakawan yang pintar, tapi sayangnya kurang terekspos. Kalau istilah Bu Labibah (UIN Sunan Kalijaga, Jogja) banyak pustakawan yang bekerja dengan giat, tapi bersifat tawadhu alias tak terlihat, hahaha... :D

Sabtu, 06 Juli 2019

KEMULIAAN MENJADI PUSTAKAWAN

(Refleksi Hari Lahir Pustakawan Indonesia)
Oleh: Dr.AHMAD SYAWQI, S.Ag,S.IPI,M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Tanggal 7 Juli merupakan moment yang sangat penting bagi para pustakawan Indonesia karena pada tanggal tersebut dicanangkan sebagai Hari LAHIRNYA Pustakawan Indonesia dalam sebuah wadah organisasi profesi yang bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) yang telah berkiprah dalam pengembangan kepustakawanan di Indonesia dan kini telah berusia 46 tahun (7 Juli 1973-7 Juli 2019).

Dunia Pustakawan

Sebutan Pustakawan biasanya dikaitkan dengan seseorang yang bekerja di perpustakaan dan membantu orang menemukan berbagai koleksi dan informasi. Pustakawan adalah profesi yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari teori dan bukan saja praktik dan diuji dalam bentuk ujian dari sebuah universitas atau lembaga yang berwenang serta memberikan hak legalitas keilmuan kepada yang bersangkutan untuk mengamalkan ilmu yang mereka peroleh.

Bagi saya menjadi pustakawan merupakan sebuah profesi yang sangat MEMBANGGAKAN dan profesi yang sangat MULIA dan TERHORMAT. Sama halnya dengan profesi lain, seperti dokter, guru, pengacara, dan sebagainya. Menjadi seorang pustakawan, berarti kita harus siap melayani banyak orang. Melayani kebutuhan informasi para pemustaka, melayani dengan senyuman, dan tentunya melayani dengan keikhlasan serta kerendahan hati. Energi hati yang ikhlas  menyulut aktivitas positif yang bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Nabi Muhammmad SAW sangat menghargai seorang pustakawan yang diibaratkan sebagai AKTOR utama yang menjadi mediator atau perantara dalam pencarian ilmu dengan pemustaka. Sabda Nabi SAW yang artinya: “Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi seseorang dalam meraih ilmu, maka Allah akan memudahkannya dalam meraih jalan ke sorga”. Dari hadis tersebut menggambarkan betapa mulianya profesi seorang pustakawan yang tentunya menjadi aktor dalam mencerdaskan umat manusia dari ketidaktahuan menjadi orang yang tahu atau berilmu pengetahuan.

Bayangkan, ketika pemustaka masuk ke perpustakaan, kemudian ia mencari informasi yang sangat diperlukan, tentunya harus bertanya dengan pustakawan yang ada di perpustakaan tersebut. Orang yang berkunjung ke perpustakaan tentunya mereka yang haus dengan ilmu atau informasi yang diperlukan. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak terhingga bisa berbagi dan membantu pemustaka mencari informasi yang dibutuhkan. Saat berhasil membantu pemustakan menemukan informasi yang dibutuhkan, sungguh ada kepuasan batin tersendiri dan kebanggaan menjadi pustakawan.

Memang paradigma yang berkembang di masyarakat pada saat ini terhadap profesi pustakawan adalah pustakawan sebagai “penjaga buku”. Namun paradigma ini tentu tidak akan berkembang luas apabila tidak didukung dengan perilaku dari pustakawan yang justru mengukuhkan pandangan masyarakat awam ini. Paradigma ini terbentuk karena  akumulasi dari sikap, perilaku dan cara pustakawan dalam mengaktualisasikan diri di hadapan pengguna cenderung bermuatan negatif. Sikap tersebut antara lain bersikap pasif dan tidak responsif terhadap kebutuhan pengguna, tidak melakukan pekerjaan yang berarti serta bekerja tanpa inovasi dalam melayani pengguna, tidak menguasai semua informasi yang terdapat di perpustakaan dan tidak mampu membangun komunikasi dengan pengguna.

Prospek profesi pustakawan ke depan justru sangat menjanjikan/menggiurkan dengan terbitnya berbagai regulasi baru tentang perpustakaan yaitu Undang-Undang Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 dan terbitnya Surat Keputusan MENPAN RB Nomor 9 Tahun 2014 tentang jabatan karir dan jabatan fungsional pustakawan. Dengan peraturan dan perundang-undangan yang baru pustakawan telah diakui sebagai jabatan profesional yang memiliki organisasi profesi dan etika profesi. Apalagi saat ini pemerintah telah memberikan angin segar berbagai bentuk perhatian dan penghargaan kepada pustakawan yang mampu menunjukkan keunggulan dan keprofesionalannya. Berbagai ajang lomba dan kompetisi diadakan untuk memberikan apresiasi kepada pustakawan, sekaligus ‘menguji’ sejauh mana kompetensi pustakawan dalam berkontribusi terhadap pekerjaan dan masyarakat. Seperti lomba pustakawan teladan atau yang sekarang dengan istilah pustakawan berprestasi. Lebih-lebih sekarang pemerintah sudah melaksanakan “sertifikasi pustakawan” dalam bentuk uji kompetensi. Bagi pustakawan yang lulus uji kompetensi akan diberikan sertifikat kompetensi sebagai bentuk pengakuan bahwa pustakawan tersebut betul-betul memiliki kompetensi.


Alasan menjadi Pustakawan 

Ada beberapa alasan yang sangat mendasar yang membuat kita harus jatuh cinta untuk menjadi seorang pustakawan, yaitu:

Pertama, Passion, yaitu panggilan jiwa yang memberikan suatu kenikmatan (pleasure) dan perasaan senang saat menjalani (emotion) profesi pustakawan.  Bagi saya, jika pekerjaan dilakukan sesuai dengan penggilan jiwa, maka selalu ada kekuatan yang di dalam diri untuk selalu bersemangat bekerja dan pasti akan  memberikan kebaikan, kesenangan dan kenikmatan, walaupun kesulitan selalu menghadang.  Ketika kita bekerja dengan hati yang senang pasti menjadi indah apalagi jika ikhlas dalam melakukan, kemudian mencintai pekerjaannya,  sehingga muncul perasaan senang dan timbul kepuasan batin. Efeknya akan mampu memberikan kenyamanan dalam segala hal, baik dari segi peningkatan kompetensi, jabatan maupun finansial.

Kedua, profesi yang mulia dan terhormat.  Seorang pustakawan diibaratkan oleh Nabi SAW sebagai orang yang menjadi mediator atau perantara dalam pencarian ilmu dengan pemustaka (user). Sabda Nabi SAW yang artinya: “Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi seseorang dalam meraih ilmu, maka Allah akan memudahkannya dalam meraih jalan ke sorga”. Dari hadis tersebut menggambarkan betapa mulianya profesi seorang pustakawan yang tentunya menjadi aktor dalam mencerdaskan umat manusia dari ketidaktahuan menjadi orang yang tahu atau berilmu pengetahuan.

Ketiga, profesi yang keren dan membanggakan. Jika kita memang memiliki niat dan motivasi yang kuat, profesi apapun termasuk pustakawan, maka tentunya menjadikan diri kita selalu dikenal oleh orang.  Seorang pustakawan dapat merasakan indahnya berbagi dan membantu sesama. Saat berhasil membantu pemustakan menemukan informasi yang dibutuhkan, sungguh ada kepuasan batin tersendiri dan kebanggaan menjadi pustakawan.

Keempat, profesi yang intelek/profesional.  Profesi  Pustakawan saat ini sangat menggembirakan  karena sudah ada payung hukum tentang Undang-Undang Perpustakaan No. 43 tahun 2007 dan PERMENPAN & RB No. 9 tahun 2014 tentang jabatan fungsional pustakawan, yang menjadi sebuah angin segar bagi pengakuan akan eksistensi pustakawan profesional di tengah masyarakat Indonesia. 

Kelima, profesi yang memiliki multiperan. Pustakawan bisa  berperan sebagai gerbang atau agen informasi,  baik menuju masa lalu maupun masa depan, pustakawan sebagai guru/pendidik atau yang memberdayakan, pustakawan sebagai pengelola pengetahuan, pustakawan sebagai pengorganisasi jaringan sumber daya informasi, pustakawan sebagai pengadvokasi pengembangan kebijakan informasi, pustakawan sebagai partner masyarakat, pustakawan sebagai kolaborator dengan penyedia jasa teknologi, pustakawan sebagai teknisi, dan pustakawan sebagai konsultan informasi.

Dengan momentum Hari Lahir Pustakawan Indonesia ini, kita berharap pustakawan dapat terus meningkatkan profesionalismenya dan tunjukkan kepada masyarakat luas bahwa pustakawan adalah sebuah profesi yang patut dibanggakan, menjadi agent yang akan menggerakkan perpustakaan dan memiliki peran penting dalam membangun masyarakat Indonesia yang cerdas dan bermartabat serta menjadi insan yang KHAIRUNNAS ANFAUHUM LINNAS (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain).