Sabtu, 10 Agustus 2019

Lagi….Perpustakaan “Halu”



Ceritanya Bulan sedang mengikuti kompetisi menulis cerpen untuk ditayangkan di LINE TODAY. Setelah berjibaku begitu rupa, ternyata memang belum rejeki Bulan.  Pada hari yang ditentukan, Bulan melihat satu demi satu judul cerpen yang terpajang di situ. Dan…eng ing eng…memang tidak ada cerpennya di situ.  Tak apa lain kali bisa dicoba kembali, begitu pikirnya.

Menelusuri judul-judul yang menarik di depan matanya, Bulan menangkap salah satu judul yang gak asing di matanya. Judulnya Library. Ya, judulnya berbahasa Inggris meskipun  cerita Indonesia. Tapi uniknya, cerpen ini ko ada di menu Cerita Misteri Pilihan.  Hmmmm…gumam Bulan. Lagi-lagi yang beginian yang diangkat.

Bulan udah tau cerita ini bakalan berbau horor.  Tapi kenapa sih menggunakana latar perpustakaan.   Mang gak ada tempat  yang lain ya…begitu pikirnya. Tapi Bulan penasaran juga sama ceritanya. Dia ikuti kata demi kata, kalimat demi kalimat, alinea demi alena yang menjadi rangkaian cerita. Alkisah, disebutkan  dalam cerita tersebut bahwa di perpustakaan sekolah tempat siswa baru ini baru pindah, ia berjumpa dengan salah satu penjaga perpustakaan dan salah satu pemustaka perpustakaan, yang ternyata semuanya adalah makhluk tak kasat mata. Hiyyyy…syerem…

Ini adalah kedua kalinya Bulan membaca cerita yang berlatar belakang perpustakaan dan berbau misteri atau horor.  Sementara cerita-cerita lain di perpustakaan yang menyebar dari mulut ke mulut juga tak kalah horornya jumlahnya cukup banyak. Bulan jadi penasaran, kira-kira teman-teman Bulan yang bekerja di perpustakaan, beneran gak sih pernah mengalami hal seperti itu…

Kalo begitu banyak cerita horor ini di perpustakaan,  pertanyaannya adalah betah gak sih mereka bekerja di perpustakaan? Lantas bagaimana mereka akan memberikan layanan yang prima  ke pemustakanya? Kemudian apakah pemustakanya enjoy-enjoy aja di perpustakaan? Ataukah perpustakaan  adalah  sebuah ruangan atau gedung yang harus dijauhi…? Bertubi-tubi pertanyaan Bulan menggelayut di kepalanya.

Atau jangan-jangan perpustakaan yang ruangan-ruangannya rada muran, kurang menarik, tidak estetis, kaku, membosankan, terlalu sepi, gak in touch dengan teknologi dan sejenisnya, bakalan banyak kedatangan pemustaka tak kasat mata nih, hiii….begitu khayal Bulan.

Bulan penasaran jadi pengen ngadain survey kecil-kecilan yang isinya “Menurut kalian perpustakaan yang seperti apa yang banyak makhluk astralnya alias tidak kasat mata”. Aneh gak ya surveymya…hihihi, begitu batin Bulan.

Ya Bulan merasa sebagai pustakawan kadang sedih dan miris. Apa iya perpustakaan seserem dan seangker itu. Tetapi kenyataannya memang ada yang mengalami.  Trus Bulan mau bilang mereka bohong  gituh…hmmm, gak lah.  Karena makhluk tak kasat mata itu memang  ada. Kan dalam keyakinan Bulan, ada di sebutkan bahwa Allah SWt menciptakan jin dan manusia. Ya itu artinya makhluk halus itu ada.

Ah tapi pasti hanya beberapa perpustakaan saja yang berhawa seperti itu, harap Bulan. Ya semoga aja demikian. Karena lagi-lagi tak mesti perpustakaan yang kuno, tradisional, suram, gak modis, gak modern dan sejenisnya  yang seolah-oleh angker. Tetapi bahkan perpustakaan modern dan keren penataanya pun menjadi tempat nongkrong yang asyik buat mereka.  

Jangan-jangan pustakawan sekarang dituntut untuk bisa melakukan pelayanan prima kepada semua jenis pemustaka nih. Baik yang kasat mata ataupun tidak. Supaya semua terlayani dengan baik, hihihi. Berarti ilmu pustakawan harus ilmu bumi dan ilmu dunia gaib juga ya….hiiii…Anda siap…??? (Tulisan usil di senja malam Takbiran)






Minggu, 21 Juli 2019

Tiga tingkatan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi

Paijo ndleming. Di dekat pohon kelapa depan rumah, samping pohon pelem, di atas rerumputan yang sedikit berpasir. Tak jauh dari tempatnya duduk ngebrok, ada pohon belimbing dan jambu air yang daunnya mengering. Maklum, sudah beberapa bulan tidak tersiram air hujan.

Paijo ndleming. Melihat kenyataan di berbagai perpustakaan perguruan tinggi, yang dipimpin oleh orang dari latar belakang bervariasi. Jika dikelompokkan, para pemimpin ini ada dua golongan: pustakawan, dan selain pustakawan. Selain pustakawan itu biasanya dosen. 

Terkait maju atau  berhasil tidaknya, tidak bisa didasarkan dengan dasar dua golongan ini. Yang dipimpin pustakawan juga bisa maju, yang dipimpin dosen juga demikian. Apalagi, Paijo, sejak lama meyakini bahwa semua orang boleh menjadi kepala perpustakaan. Bukan hanya kepala Perpustakaan, bahkan menjadi pustakawan pun, Paijo meyakini, semua orang berhak. Maka bagi Paijo, secara umum, keduanya tidak masalah.

Profesi pustakawan ini profesi yang demokratis, yakinnya.

Namun…

Ada yang mengganggu pikiran Paijo. Perguruan tinggi yang memiliki perpustakaan ini, ada yang memiliki jurusan ilmu perpustakaan, ada juga yang tidak.

Jika pada perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, keyakinan Paijo di atas berlaku. Tetapi bagaimana dengan perguruan tinggi yang di dalamnya memiliki jurusan ilmu Perpustakaan?


****

Ndlemingnya Paijo, sampai pada kesimpulan derajat kepustakawanan di perguruan tinggi.

“Jadi, derajat kepustakawanan di perguruan tinggi itu bisa dibedakan dalam beberapa tingkat, Kang”, kata Paijo. Karyo yang ada di dekatnya mendengarkan dengan seksama.

Tingkatan tertinggi, tingkat pertama, kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh pustakawan.

Tingkat kedua, ditempati oleh dua kategori kepustakawanan. Keduanya beda tipis. Bisa saling bertukar posisi pada tingkatan ini. Pertama kepustakawanan di perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan ilmu perpustakaan dan perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan. Kedua kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dan perpustakannya dipimpin oleh pustakawan.

Tingkatan ke tiga, atau terakhir, yaitu kepustakawanan di perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, serta kepala perpustakaannya dipimpin oleh bukan pustakawan.

***

Paijo berkeyakinan, bahwa jika di PT itu ada jurusan ilmu Perpustakaan, maka kondisi idealnya, Perpustakaan PT tersebut dipimpin, dikepalai oleh pustakawan. Apalagi jurusan ilmu perpustakaan tersebut ada program yang lengkap, dari D3, sampai S3. Kenapa?


Dan, idealnya perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu Perpustakaan, dipimpin oleh pustakawan.

Karena dengan demikian, menunjukkan sempurnanya keberhasilan pendidikan ilmu Perpustakaan di PT tersebut, berhasilnya kaderisasi pada pustakawan, dan berhasilnya dosen ilmu perpustakaan menunjukkan keilmuwan perpustakaan.


Karyo: “lha, kalau perpus jenis ini dipimpin dosen Ilmu Perpustkaan, Jo?”, tanya Karyo.
Paijo: “ya ndak pa. Pada dasarnya ndak salah, kecuali melanggar aturan institusi tersebut. Tapi..”
Karyo: “tapi apa, Jo?”
Paijo: “tapi itu menunjukkan ada titik belum suksesnya pendidikan ilmu perpustakaan di PT tersebut”.

Karyo menyahut, menjelaskan bahwa ada perguruan tinggi yang masalahnya kompleks. Tidak mudah, sulit ditembus. Usulan dari pustakawan, atau dosen ilmu perpustakaan sulit diterima. Maka, untuk memperkuat posisi, kepala perpustakaan harus dosen, pendidik, yang sama-sama kategorinya dengan pengelola perguruan tinggi. Setara. "Kamu tahu kan, Jo?. Bahwa civitas akademika di PT itu dosen dan mahasiswa. Pustakawan itu tidak termasuk civitas akademika". Karyo menutup, berusaha meyakinkan Paijo.


Paijo: “memang, Kang. Ada yang begitu kompleks masalahnya. Justru kekompleksan masalah itulah wilayah para dosen ilmu perpustakaan, untuk menunjukkan derajat ilmu perpustakaannya pada manajemen universitas”.


***
"Bagaimana jika dipimpin oleh tenaga kependidikan selain pustakawan, sekaligus bukan bukan dosen ilmu perpustakaan, Jo?", Karyo bertanya.

Paijo mesem. Dilihatnya pohon jambu dan belimbing yang daunnya layu.


Sambisari,
Jumungah Kliwon 16 Dulkangidah Be 1952
Tulisan ini juga diposting di: http://www.purwo.co

Senin, 08 Juli 2019

Lomba Pustakawan Berprestasi


Siang itu Bulan dihubungi via telepon oleh salah seorang temannya yang ternyata adalah teman kuliahnya dahulu. Si teman ini banyak bertanya-tanya terkait informasi tentang lomba pustakawan berprestasi. Bulan jadi ingat dahulu pernah ikutan lomba yang sama dengan si teman ini dan mewakili DKI Jakarta untuk maju ke tingkat nasional. Begitupun si teman ini. Ia juara satu tingkat DKI Jakarta dan maju ke tingkat nasional.

Sebagai seorang teman, tentu Bulan tak segan-segan memberikan banyak informasi tentang lomba ini khususnya untuk persiapan ke tingkat nasional. Intinya Bulan semacam menjadi konsultan si teman ini dalam rangka membimbingnya mempersiapkan diri menuju lomba yang dimaksud.

Bicara tentang lomba pustakawan ini, sebenarnya banyak yang menggelayut di benak Bulan. Bulan merasa sebenarnya apa sih pustakawan berprestasi itu dan apa sih sebenarnya kontribusi Bulan selama ini. Kira-kira apa ya yang dilihat juri, lantas memilih Bulan untuk mewakili DKI Jakarta menuju tingkat nasional. Dan sebenarnya apa yang dinilai pada tingkat nasional hingga Bulan walaupun bukan yang terbaik terpilih masuk dalam lima besar. Hmmm Bulan kembali menerawang ke masa setahun yang lalu.

Bulan teringat saat diwawancari pada lomba tingkat provinsi DKI Jakarta. Salah seorang juri bertanya,” Apa yang saudara cari dari menulis artikel yang saudara kirim ke jurnal-jurnal ilmiah ataupun yang saudara ikuti dalam seminar atau konferensi tingkat nasional maupun internasional”.  Hmmm sebenarnya saat itu Bulan tidak menjawab secara jujur. Bukan berarti bohong, tetapi Bulan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Bulan hanya menjawab, “untuk mengembangkan pengetahuan saya dan meningkatkan kompetensi saya”.

Bulan berpikir-pikir lagi, jangan-jangan bukan itu tujuannya. Saat itu Bulan mungkin hanya mengejar poin dan koin. Atau hanya untuk prestise bahwa pustakawan bisa menulis dan melakukan kegiatan riset. Atau apakah Bulan menulis sebagai bentuk kritis terhadap dunia kepustakawanan atau menulis sekedar untuk mengangkat citra diri lembaganya saja. Hmmm, semuanya sih benar dan tidak ada yang salah. Tapi apa ya sebenarnya tujuan utama Bulan saat itu. Ya Bulan harus kembali merenung dan meninjau untuk apa Bulan berada dan dimana posisi Bulan dalam rangka mengembangkan dunia kepustakawanan. Sungguh pertanyaan diri yang berat buat Bulan.

Nah, pada saat maju ke tingkat nasional, masih terus ada hal yang menggelitiknya. Saat menjabarkan apa saja yang sudah Bulan lakukan untuk memajukan perpustakaan di lembaganya bekerja, lagi-lagi Bulan terpapar dengan rutinitas pekerjaan dan kegiatan-kegiatan perpustakaan yang insidental tetapi terkesan wah dan luar biasa.  Apa iya Bulan sudah memahami apa yang seharusnya pustakawan lakukan, mana yang inti kegiatan pustakawan, mana yang hanya kegiatan penggembira saja dan sampingan. Hmm Bulan mengoreksi diri sendiri.

Sejatinya saat seseorang dinobatkan sebagai pustakawan berprestasi, otomatis beban-beban pengembangan dunia kepustakawanan seolah bergelayut di pundaknya. Ada harapan dengan hadirnya ia sebagai pustakawan berprestasi mampu memberikan gelombang atau spora positif bagi perubahan di institusinya ke arah yang lebih baik, khususnya dalam dunia kepustakawanan di lembaganya. Sudahkah Bulan mengemban amanah ini? Bisa jadi Bulan hanya berkutat di tempat, label sebagai pustakawan berprestasi itu hanya sekedar gelar saja saat itu. Selebihnya, ya berlalu begitu saja, biasa-biasa saja.

Iya kah Bulan seperti itu? Seolah menjadi pustakawan berprestasi itu ibarat sebuah tamparan yang siap mendarat di pipinya manakala kinerja dan perilakunya  tidak sesuai dengan gelar yang disandang. Ayo Bulan, kamu harus bangkit dan jangan memalukan makna dari kata pustakawan berprestasi.  Ini bukan sekedar sebuah lomba, kejuaraan atau kompetisi menjadi yang terbaik dalam mengikuti mekanisme lomba. Tetapi lebih dari itu, ada makna yang dalam. Ke mana sang pustakawan manakala dunia kepustakawan ini hanya jalan di tempat. Di mana kontribusimu untuk menaikkan kinerja lembaga, apa yang bisa kamu berikan untuk membantu para pemustaka dan memajukan cara berfikir mereka. Wuih….berat ya jadi pustakawan berprestasi itu. 

Bukan gelar dan mahkota kemenangan yang disandang, tetapi tanggung jawab dan inovasi yang bakal dilihat para stake holder. Semakin banyak perpustakaan membantu pemustakanya, semakin ada di hati perpustakaan itu, dan semakin sulit jikalau suatu waktu perpustakaan itu harus bubar jalan. Wahai Bulan, sang pustakawan berprestasi. Jangan mutung ya…ingat amanah kamu sebagai pustakawan berprestasi tingkat nasional. Bulan merenung dalam. Bulan tidak boleh diam. Bulan harus terus bergerak. Bulan harus memajukan institusinya.


Minggu, 07 Juli 2019

10 'S' Sifat Pustakawan Jaman Now


Mumpung peringatan Hari Pustakawan Nasional yang jatuh pada tanggal 7 Juli, rasanya relevan sekali jika membahas tentang pustakawan. Sebenarnya di Indonesia, lumayan banyak pustakawan yang pintar, tapi sayangnya kurang terekspos. Kalau istilah Bu Labibah (UIN Sunan Kalijaga, Jogja) banyak pustakawan yang bekerja dengan giat, tapi bersifat tawadhu alias tak terlihat, hahaha... :D

Sabtu, 06 Juli 2019

KEMULIAAN MENJADI PUSTAKAWAN

(Refleksi Hari Lahir Pustakawan Indonesia)
Oleh: Dr.AHMAD SYAWQI, S.Ag,S.IPI,M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Tanggal 7 Juli merupakan moment yang sangat penting bagi para pustakawan Indonesia karena pada tanggal tersebut dicanangkan sebagai Hari LAHIRNYA Pustakawan Indonesia dalam sebuah wadah organisasi profesi yang bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) yang telah berkiprah dalam pengembangan kepustakawanan di Indonesia dan kini telah berusia 46 tahun (7 Juli 1973-7 Juli 2019).

Dunia Pustakawan

Sebutan Pustakawan biasanya dikaitkan dengan seseorang yang bekerja di perpustakaan dan membantu orang menemukan berbagai koleksi dan informasi. Pustakawan adalah profesi yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari teori dan bukan saja praktik dan diuji dalam bentuk ujian dari sebuah universitas atau lembaga yang berwenang serta memberikan hak legalitas keilmuan kepada yang bersangkutan untuk mengamalkan ilmu yang mereka peroleh.

Bagi saya menjadi pustakawan merupakan sebuah profesi yang sangat MEMBANGGAKAN dan profesi yang sangat MULIA dan TERHORMAT. Sama halnya dengan profesi lain, seperti dokter, guru, pengacara, dan sebagainya. Menjadi seorang pustakawan, berarti kita harus siap melayani banyak orang. Melayani kebutuhan informasi para pemustaka, melayani dengan senyuman, dan tentunya melayani dengan keikhlasan serta kerendahan hati. Energi hati yang ikhlas  menyulut aktivitas positif yang bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Nabi Muhammmad SAW sangat menghargai seorang pustakawan yang diibaratkan sebagai AKTOR utama yang menjadi mediator atau perantara dalam pencarian ilmu dengan pemustaka. Sabda Nabi SAW yang artinya: “Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi seseorang dalam meraih ilmu, maka Allah akan memudahkannya dalam meraih jalan ke sorga”. Dari hadis tersebut menggambarkan betapa mulianya profesi seorang pustakawan yang tentunya menjadi aktor dalam mencerdaskan umat manusia dari ketidaktahuan menjadi orang yang tahu atau berilmu pengetahuan.

Bayangkan, ketika pemustaka masuk ke perpustakaan, kemudian ia mencari informasi yang sangat diperlukan, tentunya harus bertanya dengan pustakawan yang ada di perpustakaan tersebut. Orang yang berkunjung ke perpustakaan tentunya mereka yang haus dengan ilmu atau informasi yang diperlukan. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak terhingga bisa berbagi dan membantu pemustaka mencari informasi yang dibutuhkan. Saat berhasil membantu pemustakan menemukan informasi yang dibutuhkan, sungguh ada kepuasan batin tersendiri dan kebanggaan menjadi pustakawan.

Memang paradigma yang berkembang di masyarakat pada saat ini terhadap profesi pustakawan adalah pustakawan sebagai “penjaga buku”. Namun paradigma ini tentu tidak akan berkembang luas apabila tidak didukung dengan perilaku dari pustakawan yang justru mengukuhkan pandangan masyarakat awam ini. Paradigma ini terbentuk karena  akumulasi dari sikap, perilaku dan cara pustakawan dalam mengaktualisasikan diri di hadapan pengguna cenderung bermuatan negatif. Sikap tersebut antara lain bersikap pasif dan tidak responsif terhadap kebutuhan pengguna, tidak melakukan pekerjaan yang berarti serta bekerja tanpa inovasi dalam melayani pengguna, tidak menguasai semua informasi yang terdapat di perpustakaan dan tidak mampu membangun komunikasi dengan pengguna.

Prospek profesi pustakawan ke depan justru sangat menjanjikan/menggiurkan dengan terbitnya berbagai regulasi baru tentang perpustakaan yaitu Undang-Undang Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 dan terbitnya Surat Keputusan MENPAN RB Nomor 9 Tahun 2014 tentang jabatan karir dan jabatan fungsional pustakawan. Dengan peraturan dan perundang-undangan yang baru pustakawan telah diakui sebagai jabatan profesional yang memiliki organisasi profesi dan etika profesi. Apalagi saat ini pemerintah telah memberikan angin segar berbagai bentuk perhatian dan penghargaan kepada pustakawan yang mampu menunjukkan keunggulan dan keprofesionalannya. Berbagai ajang lomba dan kompetisi diadakan untuk memberikan apresiasi kepada pustakawan, sekaligus ‘menguji’ sejauh mana kompetensi pustakawan dalam berkontribusi terhadap pekerjaan dan masyarakat. Seperti lomba pustakawan teladan atau yang sekarang dengan istilah pustakawan berprestasi. Lebih-lebih sekarang pemerintah sudah melaksanakan “sertifikasi pustakawan” dalam bentuk uji kompetensi. Bagi pustakawan yang lulus uji kompetensi akan diberikan sertifikat kompetensi sebagai bentuk pengakuan bahwa pustakawan tersebut betul-betul memiliki kompetensi.


Alasan menjadi Pustakawan 

Ada beberapa alasan yang sangat mendasar yang membuat kita harus jatuh cinta untuk menjadi seorang pustakawan, yaitu:

Pertama, Passion, yaitu panggilan jiwa yang memberikan suatu kenikmatan (pleasure) dan perasaan senang saat menjalani (emotion) profesi pustakawan.  Bagi saya, jika pekerjaan dilakukan sesuai dengan penggilan jiwa, maka selalu ada kekuatan yang di dalam diri untuk selalu bersemangat bekerja dan pasti akan  memberikan kebaikan, kesenangan dan kenikmatan, walaupun kesulitan selalu menghadang.  Ketika kita bekerja dengan hati yang senang pasti menjadi indah apalagi jika ikhlas dalam melakukan, kemudian mencintai pekerjaannya,  sehingga muncul perasaan senang dan timbul kepuasan batin. Efeknya akan mampu memberikan kenyamanan dalam segala hal, baik dari segi peningkatan kompetensi, jabatan maupun finansial.

Kedua, profesi yang mulia dan terhormat.  Seorang pustakawan diibaratkan oleh Nabi SAW sebagai orang yang menjadi mediator atau perantara dalam pencarian ilmu dengan pemustaka (user). Sabda Nabi SAW yang artinya: “Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi seseorang dalam meraih ilmu, maka Allah akan memudahkannya dalam meraih jalan ke sorga”. Dari hadis tersebut menggambarkan betapa mulianya profesi seorang pustakawan yang tentunya menjadi aktor dalam mencerdaskan umat manusia dari ketidaktahuan menjadi orang yang tahu atau berilmu pengetahuan.

Ketiga, profesi yang keren dan membanggakan. Jika kita memang memiliki niat dan motivasi yang kuat, profesi apapun termasuk pustakawan, maka tentunya menjadikan diri kita selalu dikenal oleh orang.  Seorang pustakawan dapat merasakan indahnya berbagi dan membantu sesama. Saat berhasil membantu pemustakan menemukan informasi yang dibutuhkan, sungguh ada kepuasan batin tersendiri dan kebanggaan menjadi pustakawan.

Keempat, profesi yang intelek/profesional.  Profesi  Pustakawan saat ini sangat menggembirakan  karena sudah ada payung hukum tentang Undang-Undang Perpustakaan No. 43 tahun 2007 dan PERMENPAN & RB No. 9 tahun 2014 tentang jabatan fungsional pustakawan, yang menjadi sebuah angin segar bagi pengakuan akan eksistensi pustakawan profesional di tengah masyarakat Indonesia. 

Kelima, profesi yang memiliki multiperan. Pustakawan bisa  berperan sebagai gerbang atau agen informasi,  baik menuju masa lalu maupun masa depan, pustakawan sebagai guru/pendidik atau yang memberdayakan, pustakawan sebagai pengelola pengetahuan, pustakawan sebagai pengorganisasi jaringan sumber daya informasi, pustakawan sebagai pengadvokasi pengembangan kebijakan informasi, pustakawan sebagai partner masyarakat, pustakawan sebagai kolaborator dengan penyedia jasa teknologi, pustakawan sebagai teknisi, dan pustakawan sebagai konsultan informasi.

Dengan momentum Hari Lahir Pustakawan Indonesia ini, kita berharap pustakawan dapat terus meningkatkan profesionalismenya dan tunjukkan kepada masyarakat luas bahwa pustakawan adalah sebuah profesi yang patut dibanggakan, menjadi agent yang akan menggerakkan perpustakaan dan memiliki peran penting dalam membangun masyarakat Indonesia yang cerdas dan bermartabat serta menjadi insan yang KHAIRUNNAS ANFAUHUM LINNAS (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain).

Minggu, 30 Juni 2019

Pustakawan dan tukang nggerji, dalam pusaran owah gingsiring jaman

Sekarang dikenal istilah disrupsi. Dulu, simbah-simbah punya istilah owah gingsiring jaman. Mirip, malah bisa jadi sama.
Dulu, keluarga kami meminta tetangga untuk nggerji kayu secara manual, memotong kayu sesuai kebutuhan untuk mebeler atau membangun rumah. Ukuran usuk, reng, blandar, dan lainnya. Perlu dua orang tukang. Satu di atas, satu di bawah. Keduanya saling menarik gergaji yang digunakan. Namun hal itu terhenti ketika muncul gergaji mesin, pilihan orang berpindah.
Gergaji mesin lebih cepat, lebih presisi, meskipun sebenarnya area kayu yang kena gergaji lebih lebar, atau lebih banyak kayu terbuang. Ini karena gergaji mesin lebih tebal daripada gergaji manual.
****
Tukang gergaji manual jadi tersingkir. Mereka tak bisa lagi mengharapkan bayaran dari jual jasa nggerji.
Begitulah gambaran sederhana istilah yang sekarang disebut disrupsi.
Tukang gergaji manual, yang menguasai seluk beluk perkayuan ini harus menyesuaikan diri. Tidak lagi jual jasa nggerji. Mereka harus mengolah kayunya. Menjadi mebel, misalnya. Tentunya dengan nilai lebih, tidak ala kadarnya.
Memotong kayu manual boleh tersingkir dan tidak laku, namun kayu olahan tetap diperlukan.
****
Agaknya, ini pula yang dilakukan pustakawan. Seperti halnya tukang gergaji manual yang berkurang bahkan hilang, pustakawan juga demikian. Dia sudah berkurang.
Perpustakaan yang sebelumnya dikelola 10, menjadi 4 orang. Bahkan mungkin bisa hilang. Pustakawan di perpustakaan akan berkurang, tak lagi sebanyak dahulu. Namun interaksi dengan koleksi tetap akan diperlukan. Bentuknya pun bermacam-macam. Profesinya juga bisa berubah.
Tidak sekedar memotong kayu, pustakawan kudu mengolah kayu, agar punya nilai lebih.

Disrupsi, owah gingsiring jaman, sudah ada sejak dulu. Ada dua akibat owah gingsiring jaman: reja-rejaning jaman, atau kalabendu.

Monggo milih

-----------

Posting ini sebelumnya juga diposting di http://www.purwo.co/2019/06/pustakawan-dan-tukang-nggerji.html

Digital Scholarship: makhluk apakah itu?

Istilah baru di dunia perpustakaan, terkadang mencegangkan. Mulai dari learning common, makerspace, scholarly communication, dan baru-baru ini digital scholarship.

Learning common, dan makerspace, ternyata bukan hal baru. Ketika dibawa ke perpustakaan, baru  kemudian dianggap barang baru. Saya menyebutnya semacam duplikasi. Kuncinya terletak pada pinter-pinternya ilmuwan perpustakaan membungkus dan menjual istilah.

Bagaimana dengan digital scholarship?

Mendengar istilah ini, saya berfikir tentang beasiswa. Ketika SMP dulu, guru Bahasa Inggris saya mengatakan bahwa arti scholarship itu beasiswa. Beasiswa digital, begitu kira-kira yang ada dalam fikiran saya saat mendengar digital-scholarship.

Paijo: langsung mumet, Kang. Mosok beasiswa digital?

Saya memperoleh sebuah poster, yang menginformasikan kegiatan, semacam kuliah umum, di perguruan tinggi. Temanya digital scholarship. Pembicaranya, tentu saja, orang pintar semua. Semua bergelar doktor. Salah satunya dari Leiden. Poster tersebut, akhirnya membawa saya sampai pada sebuah web yang menunjukkan aktivitas digital-scholarship di kampus Leiden Univ. Ini websitenya: https://www.library.universiteitleiden.nl/research-and-publishing/centre-for-digital-scholarship.

Sebagai pustakawan praktisi, jika ada istilah baru, saya tertarik pada apa peran pustakawan dalam istilah tersebut? Apakah istilah tersebut benar-benar memiliki sesuatu yang baru, yang berasal dari konsep ilmiah ilmu perpustakaan? Atau jangan-jangan?....

Pada laman URL di atas, terdapat keterangan pembuka.

The Centre for Digital Scholarship organizes meetings and workshops and it is the obvious partner for researchers to contact for questions, consultancy, and training on the following topics:

Nah, ini menarik. Kalimat di atas diikuti dengan 6 point seperti di bawah ini:







Penasaran pada apa yang dilakukan pustakawan terkait 6 hal di atas.

Data management. Pada bagian ini, perpustakaan/pustakawan melayani proses pengelolaan data riset dan hal terkait. Mulai dari merancang rencana manajemen data, sampai menyimpannya. Konsep FAIR diberlakukan pada proses ini. FAIR: Findable, accesible, interoperable, dan reusable.

Text dan Data mining. Pustakawan memberikan layanan terkait data cleaning, enrichment, analysis, visualisation, curation, dan preservation. Dengan diawali oleh mengeksplorasi berbagai kemungkinan berbagai sumber/koleksi untuk teks dan data mining.

Open access. Menyediakan dukungan penuh dalam publikasi berjenis open access, mulai dari kebijakan, pelatihan, dukungan, serta berbagai layanan lainnya. Disediakan berbagai daftar jurnal open access yang sudah membuat kerjasama dengan kampus. Repository yang mendukung, dan lainnya.

Copyright. Kepala perpustakaan Leiden Univ mengatakan bahwa mereka merekrut orang hukum untuk layanan ini. Berbagai pertanyaan terkait hak cipta pada publikasi mestinya kerap ditanyakan oleh mahasiswa. Misalnya:
  • How do I publish an article without having to give up my copyright? 
  • Can place an article found in the Catalogue in Blackboard? 
  • What about the use of images during lectures? 
  • I want to submit my thesis to the Repository, but would also like to see my thesis published at a university press. Is this possible?
Collaborative environments. Hal ini terkait dengan Virtual Research Environments. Istilah yang relatif baru. Namun, ketika saya telusur, VRE ini memanfaatkan Sharepoint-nya microsoft. Bisa lebih mudah dibayangkan layanan yang tersedia. 

GIS. Merupakan sistem untuk editing dan menampilkan data spasial. Tersedia komputer untuk digunakan dalam olah data spasial.


Kita coba lihat satu/satu. Data management, sebenarnya ini bukanlah hal baru. Dikenal sejak lama istilah manajemen data riset. Saya pernah menulisnya di sini dan di sini.

Text dan data mining. Istilah ini sudah populer di dunia informatika. Bukan hal baru secara aktivitas. Pustakawan pun sudah ada yang mulai main data mining dan visualisasi.

Open access juga hal yang sudah lama dikenal. Bahkan pustakawan sudah banyak berkecimpung dalam publikasi ini. Bersinggungan dengan para pengelola jurnal, pustakawan memiliki pengalaman terkait dunia penerbitan jurnal maupun non-jurnal open access.

Copyright. Ini menarik. Apakah pustakawan memiliki cukup ilmu? Leiden Univ. Library, kabarnya merekrut orang hukum untuk melayani berbagai pertanyaan atau konsultasi. Namun demikian, tentu saja dengan membaca, pustakawan mulai tahu beebrapa jenis  copyleft, maupun copyright, dengan berbagai versinya.

Collaborative environment. Di Leiden menggunakan Sharepoint. Ketika saya cek melalui Google, cukup banyak yang memanfaatkan Sharepoint untuk membanguan Virtual Research Environment, baik itu diberi cap bagian dari Digital Scholarship, maupun tidak. Silakan coba buka perbandingan Sharepoint dan Google Drive untuk memperoleh gambaran lebih dalam, klik https://www.eswcompany.com/sharepoint-vs-google-drive/ dan https://comparisons.financesonline.com/sharepoint-vs-google-drive. Atau Sharepoint dengan OneDrive di sini https://technologyadvice.com/blog/information-technology/sharepoint-vs-onedrive-for-business/

GIS, atau layanan sistem informasi geografi. Orang iseng akan mengatakan: lah, di kampus saya itu ada di lab geografi atau geodesi. Mosok mau bikin lab sejenis di perpustakaan?

Kesimpulan awal saya, terkait Digital Scholarship ini adalah: DS ini wadah, bungkus, paketan. Beberapa hal dibungkus dan diberi brand Digital Scholarship. Apa maksudnya? entahlah.


****

Nah, kita lihat pula konsep digital Scholarship di perpustakaan lainnya. Saya menemukan poster ini.



Di NTU ini lebih liberal lagi. Digital scholarshop tuesday. Isinya workshop dan seminar dalam berbagai tema. Informasi lainnya, bisa dilihat di https://blogs.ntu.edu.sg/ntulibrary/tag/digital-scholarship/. Pada beberapa kegiatan di atas terlihat, workshop Prezi pun masuk dalam kegiatan Digital Scholarship. Prezi itu alat untuk membuat presentasi. 

Selain itu, pada poster di atas, ada lagi workshop Canva, atau Piktochart, serta Tableau. Juga beberapa tema yang intinya mempelajari penggunaan software untuk proses riset, atau akademik yang dikelompokkan menjadi: digital publishing, data visualisation, dan presentation tools and sources.

Karyo: terus, apa kesimpulanmu, Jo?
Paijo: masih tetap sama, Kang.
Karyo: apa?
Paijo: ndak ada itu ilmu perpustakaan. Yang ada itu skill mengelola perpustakaan. 

Paijo pun melanjutkan sinaunya. 

Rabu, 19 Juni 2019

Sarjana Ilmu Perpustakaan, selain pustakawan mau jadi apa ?

Ilustrasi
Shinta adalah adik kelas Bagong  pada sebuah SMA di Kota Krikil yang telah terspisah oleh ruang dan waktu. Setelah 6 tahun terpisan, mereka dipertemukan dalam kebisingan hlilir-mudik kapal fery di Pelabuhan Wankodir. Terjadilah percakapan seru di antara mereka.
 "........." ( dua pulih lima menit empat puluh enam detik kemudian )
Shinta : " Mas Bagong saiki kerjo ndek endi?"
(mas Bagong sekarang kerja di mana )
------------------------------------------------------ sengaja saya buat dalam Bahasa Jawa dan Indonesia agar terasa suasana akrab dan memperpanjang tulisan -----------------------------------------------------
Bagong: "Aku megawe ndek Dinas pendidikan"
( aku kerja di dinas pendidikan)
Shinta: "Ndek perpustakaan tah Mas?"
(di perpustakaan mas)
Bagong: "Ora, ndek kantor."
(tidak, di kantor)
Shinta: "Bagian opo Mas?"
(bagian apa mas)
Bagong: "Kepegawaian, dadi analis ngono."
(kepegawaian, jadi analis gitu)
Shinta: "Lha kuliahe sampeyan nak jurusan Perpustakaan to?"
( la kuliahnya kamu kan jurusan perpustakaan )
Bagong: "Iyo, Perpustakaan. Piye ora nyambung maksudmu?"
(iya perpustakaan, gimana tidak nyambung maksudmu)
Shinta: "Lha kok iso?"
(lo kok bisa)
Bagong: "Yo kui, kadang jurusan perpustakaan iku dianggep remeh dan diwasi sebelah moto padahal lulusane iso dadi opo-opo."
(ya begitu, kadang jurusan perpustakaan itu dianggap remeh dan dilihat sebelah mata padahal lulusannya bisa jadi apa-apa)
Shinta: "iso dadi opo ae Mas?"
(bisa jadi apa saja mas)
Bagong: "Simaken penjelasanku iki yo !"
(simaklah penjelasanku ini ya)

https://www.renesia.com/10-peluang-atau-prospek-kerja-ilmu-perpustakaan/ 

http://www.faktakampus.com/2017/11/prospek-kerja-jurusan-ilmu-perpustakaan.html

https://www.quipper.com/id/blog/quipper-campus/campus-life/jangan-remehkan-jurusan-ilmu-perpustakaan-lulusannya-banyak-dicari-instansi-pemerintah-swasta/


Jumat, 17 Mei 2019

Serunya Bibliobattle di Ramadhan Kareem


Ini menjadi hari yang terberkati bagi Bulan sang Pustakawan.  Apa gerangan?  Tepatnya 15 Mei 2019, Bulan dan teman-teman di perpustakaannya berhasil mengadakan sebuah acara yang cukup atraktif, seru dan menarik perhatian. Acara perdana yang belum ada sebelumnya. Tepatnya di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, seolah menjadi suasana yang turut meliputi keberkahan dan kegembiraan acara ini.

Gagasan untuk membuat acara ini sudah lama bergelayut di benak Bulan. Tapi Bulan masih bingung bagaimana memulainya. Situasi dan kondisi saat itu belum memungkinkan untuk bergerak. Ndilalahnya, saat itu temannya yang bekerja di perpustakaan Japan Foundation menghubunginya untuk mengikuti acara Bibliobattle. Temannya tahu kalau Bulan memiliki beberapa buku yang sedang dibacanya. Begitu pula temannya Bulan ini juga mengontak teman-temannya yang lain untuk mengikuti kegiatan ini. Dari teman-temannya itu, Bulan kenal beberapa orang yang memang suka dan hobi membaca buku.

Sampailah Bulan pada kesempatan untuk menguatkan dirinya mengusulkan kegiatan ini pada pimpinan. Sebelum melaporkan pada pimpinan tentang rencana kegiatan ini, Bulan sudah memastikan bahwa konsep acara yang sedang direncanakannya ini sudah jelas. Bulan mencontoh temannya yang pernah mengadakan acara ini di perpustakaan Japan Foundation dengan cara terlebih dahulu mengontak calon peserta potensial.

Pertama-tama Bulan mencari calon peserta yanag berpotensi bisa mengikuti bibliobattle. Menggunakan buku pengunjung perpustakaan untuk mencari nama-nama peserta yang potensial, rupanya cukup membantu. Setelah beberapa pemustaka dihubungi, ada yang bisa, ada yang tidak, ada yang masih ragu-ragu, ada yang gak pede, ada yang gak siap, ada yang tiba-tiba dapat tugas luar kantor dan beragam alasan lainnya. Bulan tidak patah semangat. Bulan hanya perlu lima nama saja yang potensial.

Setelah hunting para pemustaka--yang notabene adalah pegawai di lembaga tempat Bulan bekerja di mana sebagiannya sudah Bulan kenal--akhirnya daftar nama peserta pun terkumpul.  Bulan mencoba menjelaskan konsep bibliobattle supaya peserta paham acara yang akan diikutinya. Undangan acara baik tercetak maupun pdf dikirimkan ke mereka.  Bulan pun  membuat infografis dengan canva (maklum pustakawan yang satu ini baru bisa pake canva.com,  itu pun belum professional) dan sedikit catatan tentang apa itu bibliobattle di-share ke calon peserta tersebut.  

Hari H semakin mendekat. Bulan me-reminder calon peserta. Bulan dan teman-teman panitia juga mengkordinir teman-teman yang ada di unitnya untuk menghadiri acara bibliobattle ini. Semua informasi tentang kegiatan ini baik yang dibuat dalam bentuk infografis atau narasi singkat, di share ke semua grup wasap yang ada di kantornya,  ke media sosial yang dimilki perpustakaan hingga website lembaga.  Wah pokoknya media apa saja dipakai deh.

Taraaa…hari H pun tiba. Selalu ya, setiap acara gak ada yang mulus, pasti selalu ada saja satu dua kendala. Tetiba pagi-pagi peserta dari Bimas Budha berhalangan hadir. Mendadak ada tugas dari pimpinan yang tidak bisa ditinggalkan. Tinggalah Bulan bingung, siapa ya penggantinya. Sebenarnya empat peserta saja gak masalah, tapi Bulan berusaha cari pengganti. Walhasil orang yang dimaksud ketemu juga. Entah kenapa tetiba Bulan ingat pernah melayani pemustaka dari Bimas Hindu. 

Mencoba menghubungi dan mengajaknya untuk kegiatan bibliobattle dan ternyata responnya cukup baik, padahal Bulan yakin pemustaka ini belum paham banget konsep acara yang dimaksud. Demi memberikan informasi yang lengkap dan sejelas-jelasnya, pagi sebelum acara dimulai, Bulan mengirimkan rekannya menemui peserta tersebut di lantai 15, memberikan undangan dan menjelaskan acara yang dimaksud. Uniknya peserta ini memang tidak punya HP android, sehingga Bulan tidak bisa wasap dan share informasi secara cepat dan jelas. Tapi misi ini beres. Lengkap sudah peserta ada lima orang. Ada dari Balitbangdiklat, ada dari Bimas Islam, PKUB (Pusat Kerukunan Umat Beragama), BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) dan dari Bimas Hindu tersebut.

Tepatnya di lantai dua ruang sidang perpustakaan, acara ini digelar. Setelah dibuka oleh kepala bagian dan Bulan pun sudah menyampaikan aturan main acara ini, maka mulailah satu persatu para peserta atau presenter menyampaikan review buku vaforitnya selama lima menit di hadapan penonton yang kurang lebih sekitar 25 orang. Kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab selama dua atau tiga menit, begitu seterusnya sampai peserta ke lima. Hingga diakhiri dengan vote dari para penonton dan juga peserta, siapakah yang mendapat suka atau like  terbanyak  dengan mengangkat tangan mereka untuk masing-masing presenter.

Begitulah acara bibliobattle ini  akhirnya bisa terwujud. Walaupun penonton tidak banyak tetapi cukup ramai dan meriah. Suasananya pun cukup cair, akrab,  dan ramah.  Buku yang direview oleh peserta pun menarik semua. Ada Ensiklopedia Juz Buah dan Sayuran untuk Pengobatan karya Abednego Bangun, Atomic Habits karya James Clear, Buku Sastra Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Energi Ilahi Tilawah karya Subhan Nur dan Novel Ayah karya Andrea Hirata. Bulan merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Banyak hal atau kejadian unik yang terjadi di sini. Dan Bulan banyak mengambil hikmah yang sangat berharga dari sini.  Apa sih yang unik-unik tersebut.

Unik pertama, saat Bulan memanggil presenter pertama (meski tidak dibuat nomor urut peserta), dengan serta merta presenter dari Bimas Hindu, sebut saja Ibu Made maju sebagai presenter pertama. Seperti apa sih profil Ibu Made. Ibu Made peserta yang paling tua usianya, dua tahun lagi akan pensiun. Beliau berperawakan kecil bahkan cenderung kurus. Bicaranya lambat dan pelan. Beliau generasi X berarti ya, salah satunya terlihat dr HP nya yang jadul yang penting bisa buat  nelpon, gak punya wasap, gak ada email dan sejenisnya hihihi.

Tetapi beliau senang membaca buku. Sebagai Pustakawan Bulan mengamati Ibu Made ini senang membaca tentang  dua hal, yakni tema kesehatan dan tema keagamaan. Uniknya buku keagamaan yang dibacanya adalah buku keagamaan Islam bukan buku keagamaan Hindu sesuai dengan keyakinannya. Sempat Bulan ngobrol dengan beliau tentang kesukaannya membaca buku keagamaan Islam, kata beliau karena dua hal: pertama dulu waktu sekolah dasar pernah diajar oleh guru beragama Islam, orangnya sangat baik dan berkesan bagi beliau hingga kini, yang kedua keinginan yang tidak bisa dijelaskannya sendiri kenapa beliau suka dengan buku keagamaan Islam.

Kembali pada biblioibattle, Ibu Made menyampaikan buku yang dibacanya tentang Juz Buah dan Sayuran untuk  Kesehatan. Menariknya apa yang disampaikan dalam buku itu sudah dipraktekan sendiri oleh Ibu Made ini. Beliau menyampaikan bahwa dirinya kekuarangan Ph dan minyak dalam tubuh. Karena itulah dirinya terlihat sangat tua, kurus, kecil bahkan sempat wajahnya seperti tengkorak saking tidak adanya daging. Beliau bahkan memasrahkan dirinya jika harus segera menghadap Yang Maha Kuasa.

Tetapi takdir berkata lain. Sedikit demi sedikit beliau mulai pulih, wajahnya mulai nampak segar, badannya mulai berisi, jalannya mulai tegap. Inilah salah satunya berkat buah dan sayur yang menjadi terapi kesehatannya. Yang bukunya beliau presentasikan, yang bukunya adalah juga koleksi perpustakaan. Luar biasa. Bulan juga penonton lainnya sampai terpana dan  ternganga mendengarkan kisah beliau. Karena beliau tidak tuntas menyampaikan bukunya dalam lima menit, maka mengundang penasaran penonton, banyak yang akan  bertanya, tetapi waktu tiga menit yang membatasi. Seru sekali sesi awal ini. Seisi ruangan bergemuruh karena tepuk tangan penonton atas penampilan Ibu Made yang luar biasa.

Unik yang kedua adalah, saat presenter kedua sedang menyampaikan review bukunya, pimpinan Bulan yang eselon dua, yang juga Sekretaris Balitbangdiklat, yang juga seorang professor,  turut menghadiri acara ini, turut bertanya jawab dengan presenter dan  menyaksikan acara ini hingga akhir. Wow, ini adalah dukungan moril yang luar biasa. Sedikit ada pimpinan yang mau meluangkan waktunya diantara kesibukannya yang cukup padat, untuk menghadiri acara seperti ini. Itu artinya acara bibliobattle ini menarik dan mengundang penasaran pimpinan. Kereen.  

Unik yang ketiga adalah presenter keempat, yang mereview bukunya sendiri. Sebut saja Bapak Nur. Selama ini Bulan mengamati  beliau sebagai pemustaka yang rajin ke perpustakaan dan rajin pula meminjam buku. Hanya sebatas itu. Tetapi ternyata  beliau juga seorang penulis. Sudah lima buku yang ditulisnya. Salah satu yang dipresentasikan pada acara ini adalah Energi Ilahi Tilawah. Buku ini menjadi menarik karena bukan semata teori tetapi ada penelitian dalam buku ini yang kemudian relasinya ke  terapi kesehatan khususnya penyakit asma. Penonton pun dibuat penasaran dengan buku ini dan banyak pula yang bertanya walaupun waktunya tidak memadai. Bahkan pimpinan sampai mengusulkan buku ini dibedah khusus dalam acara bedah buku selanjutnya. Kereen.

Unik yang keempat, Bulan hampir mengenal semua penonton acara bibliobattle. Diantara mereka ada yang  gak suka baca buku, ada yang pendiam, ada yang pemalu, ada yang cuek dan sejenisnya. Tetapi mengikuti acara bibliobattle ini membuat mereka mau bertanya, mau merespon, mau berkomentar, mau berbagi pengalaman dan sebagainya. Wah ini luar biasa. Suatu yang harus terus dibudayakan. Ini menjadi ajang berbagi pengetahuan, pengalaman, belajar bebicara, belajar manajemen waktu dan banyak lagi. Contoh Ibu Made, walaupun sudah tua mau berbagi, tidak malu, percaya diri, dan mau belajar. Tentu ini contoh dan praktik baik buat yang muda-muda. Ini menjadia awal bergeliatnya budaya baca di lembaga Bulan sesuai moto bibliobattle yaitu Know People through Books, Know Book Through People  (Mengenal orang melalui buku, mengenal buku melalui orang).

Unik yang kelima adalah follow up dari acara ini. Atas usulan Bulan kepada pengelola website lembaga dan disetujui pimpinan, maka para peserta bibliobattle diberikan kesempatan untuk menuliskan review bukunya dan akan dimuat di website lembaga dengan diberikan honor penulisan. Wow, ini nih ibarat gula yang akan didatangi semut, hihihi.

Dan unik yang keenam adalah, acara ini di Bulan Ramadhan Kareem, bulan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat Allah SWT. Semoga acara ini menjadi media kebaikan buat bersama, acara yang mendapat keberkahan dariNya, dan menjadi acara yang bisa dirutinkan. Bulan jadi teringat pada Bulan Ramadhan ini pula lah pelantikannya sebagai pejabat fungsional pustakawan bermula. (Hariyah A.)


Minggu, 12 Mei 2019

Masihkah kita Rahmatan Lil Alamin??



oleh:
Sirajuddin, S. PD. I., S. IPI., M. PD. 
(Pustakawan Iain Parepare)


Bulan Ramadhan sebagai penghulu dari segala bulan Sayyidussyuhur yang seyogyanya menjadi bulan terbaik untuk mengevaluasi dan mengintrospeksi diri sehingga kita termasuk orang-yang kembali fitrah setelah menjalani serangkaian ritual ibadah Ramadhan dan.....  "Rahmatan lil alamin" menjadi prasa populer yang sering muncul dari mulut para penceramah dan selalu jadi wacana.

Rahmatan Lil Almin secara umum difahami sebagai ajakan kepada kebajikan dan kebaikan da Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai subyek Rahmatan lil alamin (pembawa rahmat bagi seluruh manusia) sehingga dalam hal ini Allah mendelegasikan kepada sang manusia terpilih Rsulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perintah: “Dan tidaklah engkau (Muhammad) diutus ke muka bumi ini kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya: 107).

Inkonsistensi dan tidak istiqamahnya  (dibahasakan tidak ikhlas) manusia dalam melakoni tugas sebagai pengikut yang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagai manifestasi (perwujudan) dari penghambaan kepada sang pencipta  menjadi penyebab kerusakan di muka bumi.

Melalui opini ini penulis lebih jauh menyorot tentang eksistensi manusia dan intervensi manusia terhadap lingkungan sekaligus menggugat keislaman kitaR

Rusaknya Bumi dan Lingkungan

The World Risk Report yang dirilis German Alliance for Development Works (Alliance), United Nations University Institute for Environment and Human Security (UNU-EHS) dan The Nature Conservancy (TNC) pada 2012 pun menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya risiko bencana di suatu kawasan.

Kerusakan bumi dan alam disebabkan oleh pristiwa alam (seperti tsunami dan angin puting beliung ) dan ulah manusia,  peristiwa Disteriorasi atau penurunan mutu lingkungan yang ditandai dengan berkurangnya sumber daya tanah, air, udara, punahnya flora dan fauna liar, dan kerusakan ekosistem. Kerusakan lingkungan hidup ini memberikan dampak langsung bagi kehidupan manusia.

Jika kita evaluasi lebih jauh kita akan menemukan bahwa kerusakan bumi ini karena intervensi (campur tangan) dan aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan seperti perusakan hutan dan alih fungsi hutan, pertambangan, pencemaran udara, air, dan tanah dan lain sebagainya.

Allah sudah mewanti wanti dalam sebuah firmannya: Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum/30:41)

Eksistensi dan kontribusi manusia dalam menjaga dan merawat lingkungan adalah sebuah keniscayaan dengan kesiapan sumber daya manusia (human resourch) hingga Rasulullah menitipkan pesan bahwa"Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." (HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).M

Meretas Kesadaran

Ajakan hidup aman lahir secara primordial Dan menjadi tuntutan bathin yang seharusnya disupport oleh kebiasaan peduli terhadap lingkungan, sehingga tidak perlu lagi ada tulisan ..... "Dilarang membuang sampah, peliharalah kebersihan lingkungan, dan masih banyak lagi" yang terlihat di sekitar kita.

Dibutuhkan Konsistensi dan komitmen manusia dalam memelihara alam itu agar tetap seimbang (al mizan) dan terhindar dari bencana alam.  Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS ar-Rahman [55]: 7-9).
Dalam hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud Rasulullah juga menyampaikan "jangan mengotori dan merusak tempat umum atau alam yang dibutuhkan banyak orang, seperti air, udara, dan tanah"

Yang menggelitik baru-baru ini ada berita viral bule membersihkan selokan dari got yang tersumbat dan tidak ada yang membantunya padahal dalm keterangan bule cantik tersebut tidak ada masyarakat yg membantunya padahal tidak jauh dari got ada tempat untuk buang sampah...... Tentu ada gugatan bathin dimana agama yg kita anut (Islam) banyak mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebahagian dari iman.  Sampai berita ini diturunkan postingan ini sudah mendapatkan lebih dari 19.700 likes dan 324 komentar.