Selasa, 05 Februari 2019

10 Ciri Pustakawan Strawberry

Kriteria Pustakawan Growth Mindset ini bisa dilihat saat mereka bekerja yaitu lebih memikirkan dampak dan merealisasikan apa yang bisa diberikannya kepada lembaga, bukan selalu menuntut dari lembaganya."

Oleh: Nugroho D Agus*

Aku ini bukan makhluk bernama pustakawan. Aku hanyalah pegawai kontrak. Yang bisa dipecat jika tidak lagi perpanjangan kontrak. Namun aku bersyukur. Kini aku sudah menikah. Membeli rumah KPR dengan modal SK kontrak itu.

Sabtu pagi ini adalah hari yang selalu aku tunggu. Waktu mandi menjadi lebih awal. Tidak lagi berpakaian resmi. Dan tidak ada sepatu hitam. Hanya memakai kaos, rok jin dan sandal untuk keluar rumah. “Indahnya sabtu”, gumamku. Sementara, Dicki, pasangan hidupku, sudah memakai helm dan menunggangi sepeda motor mionya. Kami berdua siap berangkat.

Kini, hari-hariku menyenangkan bersama teman hidupku. Kami pergi ke pasar Borobudur. Membeli sayur dan keperluan rumah tangga untuk sepekan ke depan. Sesampai di pasar,kami parkir di dekat kios buah Mbah Olo. Sudah menjadi kebiasaan kami, supaya tidak kelupaan membeli buah.

Ada tiga buah yang biasa kami beli. Kalau tidak pisang lembang, pepaya kalifornia atau strawberry. Pisang lembang kesukaan laki-lakiku. Tidak repot saat dimakan, dan rasanya manis walau bentuknya kecil. Cocok sebagai cemilan sehat di akhir pekan. Sedangkan pepaya kalifornia punya daging yang tebal dan mampu bertahan sampai 3 hari kedepan. Warnanya merah dan sedikit bergetah. Sedangkan hari ini, Dicki lebih memilih strawberry. Lalu ia menyodorkan uang kepada Mbah Olo. “Stroberi setunggal mbah! Niki Rp 11.000,- nipun (stroberinya satu ya, nenek! Ini uangnya)“.

10 Ciri Pustakawan Strawberry
Credit: Openclipart
“Kates e sekalian Le? Nopo gedhang e? (Mau sekalian beli pepaya atau pisang?)”, sahut Mbah Olo, yang sudah hafal hanya ketiga buah itulah yang bakal kami beli.

“Mboten, Mbah. Matur suwun. Pamit njih (Tidak Mbah. Terima kasih. Saya pamit ya)”.

Buah masuk ke keranjang belanja. Tanda belanjaan sudah komplit. Tukang parkir sudah diberi uang Rp 1.000,-. Dicki menyalakan motor dan siap untuk pulang. Motor telah melaju. Hawa udara masih sejuk. Jembatan telah terlewati. Motor terasa mengerem di jalan menurun. Dadaku mulai menempel di punggung Dicki. Paha kanan dan kiri semakin merapat ke depan. Reflek tanganku melingkar dengan lembut di perutnya. Daguku sengaja aku tempelkan di pundak sebelah kirinya. Aku berharap Dicki akan merasa geli. Akan tetapi usahaku bagai menggantang asap, mengukir langit. Dicki tidak merasakan apapun, malah bertanya sesuatu kepadaku: “pernah dengar istilah pustakawan stroberi?”

“Apa itu?”

“Nanti aku jelasin di rumah.”

Kepada wajahnya yang tercermin di kaca spion, senyumku mengembang. Tanganku pun semakin erat memeluknya.

**

Sesampai di rumah, tentu penjelasannya tidak seketika diungkapkan olehnya. Kami sibuk masing-masing. Aku memasak menu sederhana untuk sabtu ini. Dicki mencuci strawberry, setengah bagian di simpan di kulkas, setengah sisanya untuk pelengkap sarapan. Lalu Dicki menyiapkan piring, sendok dan mangkuk di meja makan.

Ketika sarapan sudah siap, aku menagih penjelasannya. “Ayo apa itu pustakawan stroberi?”

“Bentar-bentar, difoto dulu menu masakan hari ini. Terus lapor ke bapak-ibu. Hehe”.

“Mana-mana handphonenya, tak fotoin aja”. Cekrek-cekrek. “Udah nih! Udah aku kirim juga ke WA keluarga”, kataku kesal.

“Makan dulu ya! Baru aku jelasin”, kata Dicki dengan wajah penuh senyum.

“Pufff! Ya udah deh.”

**

Selesai makan, kami bergiliran membawa piring kotor dan mangkuk sayur ke dapur, kecuali mangkuk bening berisi beberapa buah strawberry. Lalu Dicki mencucinya. Aku pun duduk kembali di kursi meja makan. Mengambil handphone lalu mengecek apa ada pesan masuk. Ternyata cuma pesan di grup WA kecamatan. Handphone aku taruh kembali di meja. Sedangkan Dicki juga sudah kembali ke meja makan. “Mari mulai. Sudah siap?”, tanya Dicki.

“Iya donk, cepetan jelasin.”

Setelah Dicki duduk. Badannya bergerak maju, lebih condong ke depan, agak berdiri dan mencoba membenarkan posisi duduknya. Kedua sikunya menempel pada meja, pergelangan tangan kanannya mulai bergerak menandakan menunjuk sesuatu. Kemudian berkata. “Aku baru selesai baca buku berjudul Strawberry Generation. Itu di sana! Ada di rak buku belakang kamu. Karya Pak Rhenald Kasali.”

Mungkin Dicki memberi kode untuk mengambilkannya. Aku reflek mengambil buku itu. Aku taruh di atas meja lalu mendorong ke arahnya. Ternyata dugaanku salah. Dia tidak menginginkan buku itu. Buku sampul biru itu tidak digubrisnya. Meliriknya pun tidak. Matanya tetap fokus kepadaku. Hanya bibirnya yang mulai bergerak lagi lalu berkata. “Setidaknya ada sepuluh ciri pustakawan stroberi lho”.

“Banyak amat, say! Bentar-bentar, pustakawan stroberi itu apa sih?”, celotehku.

Dicki mengambil satu strawberry di depannya. Lalu menunjukkannya kepada ku. Kemudian dia melanjutkan penjelasannya. “Buah ini tuh, kalau kena goresan dikit aja langsung lecet. Kalau didiemin sebentar, cepat menghitam tanda busuk. Kalau ditaruh di freezer, malah lembek. Gini nih karakter pustakawan yang aku maksud. Mereka itu ada yang kayak stroberi. Maunya dibungkus rapi terlihat indah, tapi rapuh, ringkih, dan mudah sakit hati. Makanya aku beri mereka sebutan: pustakawan stroberi.”

“Ou….”, takjubku.

“Di kantorku ada tuh yang pustakawan stroberi”.

O ya? Emang kaya apa cirinya?”, tanyaku penasaran.

“Pertama tuh, punya ciri sifat bebal. Mereka merasa dirinya pintar eh - ternyata statis karena tidak ada upaya belajar dan sensitif kritik. Mereka lebih mementingkan ijazah dan gelar sekolah. Lalu biasanya cenderung arogan dan membanggakan prestasi masa lalu. Namun bukan berarti mereka kurang pandai, sayangnya malah suka menentang perubahan karena terlalu terkurung oleh cara berpikirnya sendiri dan anggapan-anggapan mereka sendiri. Sulit diajak maju dan tidak punya inisiatif padahal lulusan sekolah bagus-bagus. Akhirnya jika mereka bertemu teman sekantor yang lebih hebat maka dianggap sebagai ancaman dan menunjukkan muka sinis. Paling enak tuh berdasarkan kriteria itu - mereka aku sebut sebagai Pustakawan bermental Fixed Mindset. Seharusnya pustakawan berjenis kaya githu segera menyadari, lalu berubah menjadi Pustakawan bermental Growth Mindset alias siap berubah. Supaya lebih terbuka terhadap kritik dan saran.”
“Kriteria Pustakawan Growth Mindset ini bisa dilihat saat mereka bekerja yaitu lebih memikirkan dampak dan merealisasikan apa yang bisa diberikannya kepada lembaga, bukan selalu menuntut dari lembaganya. Lalu jika bertemu orang lain yang lebih berhasil, mereka akan dijadikan kawan, bukan lawan karena mereka tetap menganggap dirinya ‘bodoh’ (merasa kualitas kecerdasannya belum apa-apa). Kemudian menjadikan orang lain itu sebagai tempat belajar. Jika sudah menjadi Pustakawan Growth Mindset, mereka bakal beranggapan bahwa tantangan baru atau kegagalan justru dianggap sebagai kesempatan bagus untuk menjadi unggul di bidang-bidang baru. Intinya, Pustakawan Growth Mindset ialah manusia adaptif, bukan manusia bebal.”, lanjut Dicki.

“Ou ya ya.... Aku bisa mbayangin orang kaya gitu.”, sahutku.

“Ciri selanjutnya pustakawan stroberi adalah mereka sering memunculkan pertanyaan ‘bagaimana kalau…’. Misalnya begini, saat di kantor selalu ada rencana target atau malah ada permasalahan. Bukannya segera diselesaikan, malah sok bersuara lalu keluar kalimat pertanyaan ora mutu seperti: bagaimana kalau tidak berhasil, bagaimana kalau rusak, bagaimana kalau repot, dll. Cara seperti itu dikenal sebagai orang yang belum move on, deh. Masih mengutuk kesalahan masa lalu. Aku kasih sebutan mereka tuh sebagai Pustakawan bermental What If. Bukankah lebih baik bersikap lentur atau fleksibel dalam menyusun target dan menyelesaikan masalah. Soalnya, pernah disadari atau tidak, kita akan menghadapi situasi yang belum pernah kita bayangkan. Contohnya nih, mutasi kerja tanpa diduga atau pembatalan kegiatan secara sepihak oleh pimpinan. Nah, suatu saat mungkin akan terjadi pada kita. Seandainya Pustakawan What If tidak bebal, mereka bisa memperbaharui diri menjadi Pustakawan bermental Cognitive Flexibility. Lebih memilih menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Ya tho?”

Aku mengangguk tanda paham. Dicki pun melanjutkan ceritanya.

“Ciri berikutnya adalah hilangnya kebiasaan cetakan: cepat kaki – ringan tangan. Yang terjadi adalah menjadi Pustakawan bermental Mager alias malas bergerak, dikira semua tugas bisa selesai hanya dengan duduk manis. Contohnya saat diberi tugas A, seringnya belum tuntas mengerjakan tugas A, malah mengerjakan tugas B atau C. Akhinya ketiganya tidak tuntas semua. Parahnya bisa terjadi bagi pustakawan yang diberi tugas belajar. Cirinya hadir ke kelas tanpa membaca materi terlebih dahulu, ada juga alasan lain lupa menyelesaikan tugas, parahnya lagi malah lupa materi penting pada pertemuan pekan lalu.”

“Lalu ada pustakawan yang jauh lebih mempentingkan memperoleh gelar berderet ketimbang mencari ilmu untuk meningkatkan kompetensi. Orang semacam ini aku sebut sebagai Pustakawan bermental Sarjana Kertas. Mereka minim skilled worker. Kalau ditanya: kamu bisa (ahli) apa? Jawabannya nol besar. Bisanya cuma memindahkan isi buku ke dalam lembar kertas ujian. Padahal harapannya adalah setelah lulus – melamar pekerjaan – seharusnya siap kerja. kemudian parahnya lagi, malah lembagalah yang harus menanggungnya memberi pelatihan untuk menempa mereka supaya siap kerja.”

“Nah ada pula pustakawan yang sukanya ribut melulu, hebohnya di media sosial doang – komen sana komen sini, pintar debat sok politikus dan lihai membangun argumentasi, tapi ketika ditantang untuk mengambil keputusan atau kapan memulai pekerjaannya eh nyalinya langsung ciut. Ini nih aku sebut Pustakawan bermental Generasi Wacana. Mereka sukanya dilayani. Mentang-mentang sudah mapan, mereka menjadi malas bergerak. Gejala ini disinyalir waktu mudanya terlalu banyak menghafal saat belajar. Memang, mereka akan menjadi pustakawan berpengetahuan tapi kurang berimprovisasi, kurang berpikir kritis, dan kurang berpikir mendalam. Mereka bagai danau luas tapi dangkal, tahu banyak tapi hanya berada di permukaan doang. Contohnya sederhanya, kadang ada permasalahan datang kepada mereka sendiri. Padahal masalah tersebut tidak melibatkan teman kerja yaitu mendapat tugas perjalanan dinas luar negeri. Bukannya berangkat, malah merepotkan teman kerja untuk menguruskan paspor dan tiket. Parahnya minta ditemanin satu orang lagi sebagai pendamping karena takut ini - itu. Padahal kondisi keterasingan itu bagus untuk membangun diri. Seharusnya mereka intropeksi diri lalu menjadi Pustakawan bermental Deep Understanding, mau bergerak mendatangi permasalahan, lalu merasalah menjadi kreatif saja tidak akan cukup karena juga harus menjadi kontributor yang bertanggungjawab dan reflektif. Pustakawan semacam ini diharapkan menjadi pemecah masalah namun harus tetap terkendali dan mampu menjadi komunikator yang efektif.”

“Lanjut lagi ya?”, tanya Dicki.

“Iya, Rek. Duowuneee…”, jawabku.

“Pernah kan kita diberi kepercayaan menjadi pimpinan proyek? Semisal menjadi ketua panitia seminar. Jika pustakawan stroberi diberi tugas, bukannya diterima, malah beralasan dan inginnya menjadi anggota panitia saja. Ini nih mental Pustakawan bermental Passenger alias penumpang. Yang dirasakan adalah rasa takut dan tidak percaya diri. Ciri orang seperti ini ialah selalu berangkat ke kantor dengan menyetir melewati jalan yang sama berulang-ulang setiap hari bahkan dalam satu tahun yang sama. Dan mencirikan kemalasan berpikir belaka. Padahal jika mencoba memilih rute baru, maka akan ada banyak pilihan walau memulainya memang tidak mudah. Toh jika benar-benar bertemu dengan jalan buntu, anggap saja sebagai pengalaman baru dan pasti ada manfaatnya, kok. Oleh karena itu, jangan sampai takut melakukan kesalahan, karena orang yang tidak pernah berbuat kesalahan sebenarnya ialah orang yang tidak berbuat apa-apa. Nah kita bayangkan sebentar, dalam proses menjadi ketua panitia ibarat menjadi sopir. Pasti si sopir selalu berpikir sepanjang perjalanan untuk sampai tujuan dengan selamat namun tetap menyenangkan. Bukankah berpikir adalah proses belajar. Jika seseorang terus menerus diasah berpikir maka akan memiliki mental Pustakawan Driver. Mereka yang akan menentukan arah perpustakaannya bakal dibawa kemana. Tidak stagnan yang membosankan. Merekalah yang bermental berani mengambil risiko karena merasa memiliki tanggungjawab terhadap penumpangnya.”

Pustakawan bermental Miss Behavior. Mereka orang-orang yang memiliki kebiasaan merusak diri. Biasanya cepat menolak hal baru, reaktif, mudah curigaan, sukanya menyangkal, senang membuat orang lain susah, susah melihat orang lain senang, cemas melihat kesuksesan orang lain, sulit berkoordinasi dengan orang lain, mudah iri, senang mengadu domba, dan sukanya mempermasalahkan keberhasilan orang. Kemudian suka memperolok orang lain, mengaku tahu persis, padahal hanya tahu dari koran atau internet. Ditambah lagi kebiasaan mengerjakan tugas hanya yang disukai saja, sisanya acuh tak acuh. Kemudian suka menghasut orang lain untuk melawan atau membangkang pimpinan padahal dia sendiri mendaftar kerja melalui jalur nepotisme akut.”

Pustakawan bermental Zona Nyaman. Mereka ini kerjaannya hanya itu-itu saja dan tidak mau ditambah tugas lain. Mereka merasa belajar formal itu sudah cukup. Apa artinya bergelar S1/S2/S3 jika diajak diskusi hanya akan keluar suara “saya sudah tahu…”, “ saya tahu banyak…”, tapi takut menambah tanggungjawab dan jaringannya terbatas. Mereka lalai bahwa ada belajar informal yaitu belajar dari aktivitas keseharian, lingkungan dan alam. Dan mereka juga lupa bahwa bakal hadir zona berbahaya atau zona panik, dimana seseorang mendapatkan situasi diluar dugaan yang sama sekali tidak pernah tahu solusinya. Oleh karena itu, untuk menghindari zona panik, pustakawan perlu masuk ke zona belajar yaitu zona perantara antara zona nyaman dengan zona panik. Di sinilah muncul Pustakawan bermental Zona Belajar, dimana mereka mau belajar cara-cara baru dalam bekerja, menjadi manusia yang selalu produktif, sadar akan perubahan dan selalu dinamis serta mau belajar menangani perasaan-perasaannya.”

Kemudian, ada Pustakawan bermental 95%. Mereka itu yang belajar dari 95% pendidik di pabrik pencipta calon pustakawan. Sayangnya pendidik itu hanya memindahkan isi buku atau materi power point ke kepala mahasiswanya, tapi tidak memperbaiki cara berpikir mahasiswa lalu juga tidak menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya tercipta pustakawan yang menjadi pengikut arus. Pustakawan seperti ini mengaku sebagai generasi penerus akan tetapi terlena lalu tergerus. Seharusnya mereka segera bergabung dengan Pustakawan bermental 2%, mereka mendapatkan pengajaran dari 2% pendidik yang tidak hanya memberi hard skill, soft skill, skilled worker tapi juga diatur ulang cara berpikir dan mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Nah aku ajak kamu hitung-hitungan jumlah calon pustakawan yang masuk kategori 2% ini. Kita lihat jumlah program studi yang menyelenggarakan Ilmu Perpustakaan yang lebih dari 30 perguruan tinggi. Jika rata-rata ada 80 mahasiswa lulus per tahun. Maka setidaknya hanya ada 48 calon pustakawan muda per tahun yang mau berpikir lalu menerapkan keilmuannya. Sisanya? Pernah kita temui kok tapi kita diam saja.”

“Jangan-jangan yang dimaksud ‘sisanya’ itu aku ya?”, tanyaku.

“yeee…, bukan aku yang bilang lho ya! Hahaha.”, jawabnya. Dicki pun melanjutkan ciri terakhir pustakawan strawberry.

“Terakhir, saya jadi teringat dulu pernah menginap di rumah salah satu tokoh di daerah Cempaka Putih Jakarta selama 2 bulan. Saat itu saya menganalogikan pustakawan itu sesungguhnya terlahir bagai burung rajawali, bukan burung dara. Namun keseharian mereka telah membentuknya menjadi Pustakawan bermental Burung Dara, yang hanya bisa terbang dari satu rumah ke rumah sebelah, lalu sesekali turun ke bawah jika diberi segengam biji jagung. Jika toh terbang jauh, itu pun diiming-imingi lomba menjemput betinanya. Mereka hanya ingin selalu dekat dengan tuannya. Tidak berkeringat dan perut kenyang. Lalu masih adakah peluang menjadi pustakawan bermental rajawali? Jelas ada! Caranya datangilah tokoh-tokoh idola kita, tagihlah komitmen mereka, atau perlu sekedar numpang tidur di sana, tapi bayarlah dengan kesungguhan dan kerja keras.”

“Wah akeh banget penjelasane. Tahu githu tak rekam lalu aku buat tulisan di blogku!”, timpalku.

“Udah selesai penjelasanku. 10 ciri sudah aku paparkan rinci. Kamu gak perlu khawatir, aku sudah rekam semua percakapan kita kok pakai handphoneku di laci meja ini.”

Sambil berdiri, Dicki menarik laci lalu mengambil handphone yang dimaksudnya.

Benar juga, handphonenya menyala. Aplikasi perekamnya masih berputar. Dicki pun memencet tombol ‘stop’, kemudian pergi ke ruang tamu untuk memulai aktivitas selanjutnya.

***

*Profil Penulis: Saya memiliki nama pena yaitu Nugroho D Agus. Penamaan itu terinspirasi dari nama beberapa tokoh fenomenal dengan huruf “D” nya yang kramat pada serial anime One Piece seperti Gold D Roger, Monkey D Luffi, dll. Temui keseharian saya di akun IG @dickiagusnugroho. Pernah membaca bukunya Puthut EA dan Rhenald Kasali. Blog: https://ula3.wordpress.com.

**

Pengantar postingan di media sosial: Dalam cerita ini, penulis memposisikan diri sebagai tokoh utama yang tidak diketahui nama & jenis kelaminnya. Dia menceritakan kesehariannya apa adanya. Mula-mula dari hidupnya yang berubah setelah menikah dengan laki-laki yang ditemuinya di Margonda. Lalu menyepi di Magelang. Dan mencoba menikmati hidup. Kali ini, buah stroberi menjadi cemilan untuk sabtu pagi. Sekaligus menjadi pembuka cerpen ini. Selamat membaca.

**

1 komentar:

  1. Bagus, tapi menurutku jurang sinkron, apa sebenarnya hubungannya antara strawberi dengan 10 ciri di atas, mungkin akan lebih baik jika ada analogi bahwa strawberi begini begini, kenudian dihubungkan dengan pustakawan dengan sifat tersebut, sehingga pembaca paham bahwa sebutan pustakawan strawbery cocok dengan ciri2 seperti yang disebutkan di atas.
    Tapi secara keseluruhan tulisannya menginspirasi dan mampu membuat pembaca berpikir apakah itu ada pada dirinya, khususnya pustakawan.

    BalasHapus