Kamis, 14 Maret 2019

“Pustakawan” Suka Dukaku – Prestasi Hidupku

Tipisnya batas antara suka dan duka jadikan sebagai penyemangat dalam bekerja dan berkarya."

Oleh: *Murniaty, S.Sos.

Ketika membuka laman Pustakawan Blogger, saya langsung merasa tergelitik untuk berkontribusi menyumbang pengalaman, pemikiran, curhatanku selama menjalani profesi pustakawan di blog yang penuh dengan tulisan kreatif para pustakawan muda di era digital natives ini. Meskipun saya termasuk kategori pustakawan digital immigrant (yang berusaha keras menjadi digital natives.. weisss!!), tapi kenekad-an akhirnya mengantarkanku menulis di sini. Jujur, awalnya gak PeDe banget, tapi saya ingin mengukir sejarah baru dalam hidupku... menjadi “Pustakawan Blogger” (serasa keren euy!!). Kupilih tema “Suka Duka Aktivitas Berkepustakawanan”. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk sharing pengalaman dengan pembaca....

Menjadi seorang PUSTAKAWAN? Jelas sedikit sekali orang yang melirik dan tertarik pada profesi ini karena dianggap tidak populer, tidak keren, dan terdengar sangat asing. Sangat berbeda jauh dengan profesi lain seperti dokter, dosen, peneliti, akuntan, arsitek, ataupun pengacara yang terdengar lebih populer dan familiar. Tetapi itu dulu, sekarang profesi pustakawan terus berkembang dan mulai dilirik oleh banyak orang karena memiliki masa depan yang sangat menggiurkan.

“Pustakawan” Suka Dukaku – Prestasi Hidupku
Credit: Pixabay
Ketika profesi pustakawan belum populer seperti sekarang ini, sejak tahun 1994 saya sudah menjadi Pustakawan di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Kota Medan, tetapi baru menduduki Jabatan Fungsional Pustakawan pada tahun 2003. Hingga saat ini (2019) JFP saya adalah Pustakawan Madya.

Selama menjadi Pustakawan saya sudah bertugas di beberapa Bidang Kerja Perpustakaan, antara lain: 1. Pengadaan Koleksi; 2. Keanggotaan; 3. Layanan Referensi; 4. Layanan Rujukan dan Bantuan Pengguna; 5. Manajemen Koleksi; 6. Menjabat sebagai Kepala Bidang Manajemen Koleksi dan Perpustakaan Cabang; 7. Menjabat sebagai Kepala Bidang Dukungan Teknologi Informasi (jabatan terakhir saat ini). Rotasi tugas di berbagai bidang ini sangat saya syukuri karena hal tersebut memperkaya pengetahuan, pengalaman dan keterampilanku dalam bekerja.

Suka duka menjalani sebuah profesi, sudah pasti ada. Apalagi bagi saya yang sudah 25 tahun menggeluti profesi ini. Dari perpustakaan masih jaman konvensional, terautomasi, mulai booming penggunaan internet di perpustakaan, sampai pada jaman digital/milenial seperti sekarang ini, alhamdulillah semuanya dapat saya lewati dan  jalani dengan baik. Kuncinya adalah belajar, belajar, dan terus belajar. Beruntung sekali saya sebagai pustakawan senior dapat mengikuti beberapa fase perkembangan perpustakaan sesuai dengan perkembangan jaman yang berbeda.

Dalam menjalani profesi pustakawan, banyak hal yang saya alami. Suka, duka, sedih, gembira, semua berbaur menjadi sebuah cerita hidup yang bermakna. Bagiku, suka dan duka itu adalah sebuah prestasi dalam hidupku. Menjadi pustakawan adalah sebuah komitmen hidup yang harus kujalani. Saya harus konsisten dengan pilihan karirku.

Beberapa hal yang membuat saya suka menjadi Pustakawan:

  1. Berkesempatan menjadi Dosen Luar Biasa di Departemen Studi Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya USU dari tahun 1994-2012. Jadi, selama 18 tahun saya menjalani peran ganda sebagai Pustakawan sekaligus menjadi Dosen. Bukan waktu yang singkat khan Guys.... Nyatanya kedua profesi ini dapat kujalani dengan sangat harmonis, karena keduanya ibarat simbiosis mutualisme, saling membutuhkan satu sama lain. Bangga sekali rasanya bisa mengajarkan banyak hal tentang praktek perpustakaan dan kepustakawanan kepada mahasiswa berdasarkan pengalaman nyata dalam bekerja. Hal tersebut yang membedakanku dengan dosen lain yang bukan pustakawan. Ilmu yang diajarkan benar-benar yang sudah dipraktekkan dalam dunia kerja pustakawan. Plus dan minusnya sudah dianalisis, diuji dan dirasakan. Alhamdulillah, 18 tahun berperan sebagai Dosen, banyak ilmu yang sudah kubagikan kepada Mahasiswa. Jika ilmu itu mereka aplikasikan dalam dunia kerjanya, itulah amal jariahku nantinya. Satu kebanggaan ketika bertemu dengan mahasiswaku yang sudah berhasil menjadi pustakawan sukses, tetapi mereka tetap mengingat diriku sebagai Dosennya;
  2. Up-date ilmu terus karena nilai lebih berprofesi sebagai pustakawan adalah setiap hari bisa membaca buku dengan gratis dan memanfaatkan internet dengan gratis di perpustakaan; 
  3. Memiliki kesempatan yang sangat luas untuk mengikuti terus perkembangan Teknologi Informasi, khususnya TI di bidang perpustakaan dan mengaplikasikannya di pekerjaan. Hal ini mengkondisikan pustakawan menjadi sangat melek dengan teknologi baru dan tidak GapTek (Gagap Teknologi);
  4. Memiliki banyak teman sejawat/kolega dari seluruh Indonesia melalui komunitas pustakawan, organisasi pustakawan, dan kegiatan/event perpustakaan dan kepustakawanan; 
  5. Dikenal oleh banyak orang melalui aktivitas kepustakawanan. Kuncinya adalah menjadi pustakawan yang ramah, humble, aktif, kreatif, dan inovatif;
  6. Berpeluang mengukir prestasi di tingkat lokal dan nasional. Alhamdulillah beberapa prestasi terbaik sudah saya raih melalui ajang lomba kepustakawanan, baik di Tingkat Lokal USU, Tingkat Nasional dari Perpusnas RI, Tingkat Nasional dari KemenristekDikti, Tingkat CONSAL (walaupun cuma seleksi jadi Finalis mewakili Indonesia...), dll. Kejuaraan apa saja itu ? Gak usah disebut ya Guys, nanti kesannya menyombongkan diri;
  7. Percaya diri menjadi penulis dan berani mem-publish karya dalam media cetak atau elektronik. Walaupun karya tulisku masih belum sehebat tulisan para pustakawan senior dan junior yang sudah banyak menulis buku, tetapi saya sudah cukup bangga bisa menulis dan sharing informasi melalui tulisan-tulisan ringanku yang dipublish di website repository.usu.ac.id, di beberapa buku antologi Kelas Menulis Pustakawan (KMP) dan juga diterbitkan di beberapa jurnal perpustakaan dan kepustakawanan di Indonesia;
  8. Mendapat tambahan penghasilan dari aktivitas menjadi narasumber atau moderator di berbagai kegiatan Seminar, Diklat, Bimtek, dan sebagainya ataupun honor sebagai penulis.
Selain suka, duka pustakawan sudah pasti ada. Duka ini tentunya menjadi motivator untuk terus maju dan meningkatkan kompetensi agar lebih bersemangat lagi dalam bekerja dan berkarya. Duka yang kualami selama menjalani profesi pustakawan: 
  1. Tuntutan pekerjaan yang harus sejalan dengan perkembangan teknologi informasi kadang membuat terengah-engah karena sejatinya saya termasuk pustakawan di era digital immigrant (alhamdulillah masih dapat mengikuti); 
  2. Harus belajar tiada henti karena sejatinya pustakawan harus lebih pintar untuk dapat menjawab berbagai pertanyaan pemustaka serta mampu memenuhi kebutuhan informasi pemustaka di era milenial yang semakin canggih;
  3. Pustakawan sulit mendapatkan bea-siswa dari pemerintah untuk dapat meningkatkan pendidikannya, sementara pemustaka yang dilayani di Perpustakaan Perguruan Tinggi memiliki tingkat pendidikan yang tinggi; 
  4. Regulasi tentang profesi pustakawan tidak mengikuti perkembangan jaman dan hal ini sangat merugikan pustakawan;
  5. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap masa depan profesi pustakawan;
  6. Peraturan Kemenristekdikti terkait profesi pustakawan sangat merugikan masa depan pustakawan di Perguruan Tinggi Negeri.
So, Guys..... Profesi pustakawan adalah profesi yang sangat mulia. Jika Anda sudah memilih profesi ini sebagai karir dalam hidupmu, maka jalani dengan ikhlas. Tipisnya batas antara suka dan duka jadikan sebagai penyemangat dalam bekerja dan berkarya. 

Tips dari saya agar tetap menjalani profesi pustakawan dengan senang hati:

  1. Cintai profesi pustakawan dengan sepenuh hati, dengan demikian Anda akan menyukai pekerjaan ini;
  2. Bergaul dengan komunitas pustakawan di seluruh Indonesia atau lebih luas lagi, sehingga Anda tidak akan merasa sendiri;
  3. Berinteraksi dan berjejaring dengan teman seprofesi melalui media sosial, sehingga Anda dapat mengikuti perkembangan profesi pustakawan;
  4. Aktif, kreatif, dan inovatif agar di kenal oleh banyak orang;
  5. Mengikuti banyak event perpustakaan dan kepustakawanan tingkat lokal, regional, nasional, atau bahkan internasional untuk menambah wawasan pengetahuan dan kolega, serta mengukir prestasi;
  6. Menulis untuk mencerdaskan otak, mengekpresikan diri dan eksistensi diri
Para pembaca yang budiman, inilah sekedar pengalaman dan curhatan kisah kepustakawananku... sekedar ikut berkontribusi menyemarakkan gempuran rudal Pustakawan Blogger. So, Guys... mau menjadi seperti apa kisah kepustakawananmu, hanya dirimu yang dapat mengukirnya dan menuliskannya... So, jadilah pustakawan yang memberi banyak manfaat bagi orang lain.....

Medan, 14 Maret 2019

Salam Literasi,

*Pustakawan di balik LapTop

1 komentar:

  1. Mantabs bu, keren, saya suka tulisan ya...smg mjd contoh teladan bagaimana pustakawan mestinya Bergerak dan bersikap...maju terus bu...usia tak menghalangi utk terus berkarya

    BalasHapus