Sabtu, 16 Maret 2019

Lupa Pustaka Lupa Pemustaka

Tak ingin tersesat untuk kesekian kali. Saya terus dan terus mencoba belajar mengenali diri. Sekolah jurusan perpustakaan adalah satu dari sekian ketersesatan saya. Ya meski kadang dan sesekali mencoba positif thinking ketersesatan ini bukan di jalan yang keliru. Belajar sepanjang hayat sebagaimana dicita-citakan terwadahi di perpustakaan sesuai dengan keyakinan.

Adalah sebuah perangkat lunak sistem manajemen perpustakaan dengan kode sumber terbuka terkemuka, Senayan. Belum selesai belajar di jenjang diploma, saya berkenalan dengannya. Berikutnya berkenalan dengan keluarga besar komunitasnya sampai ketemu sang pemilik hak ciptanya. Berbagai pertemuan komunitasnya saya ikuti bahkan dengan merogoh kantong sendiri karena tak mendapat surat tugas dari instansi. Merasakan manfaatnya secara nyata sedari pengalaman pertama menjadi pustakawan ber-SK.

Saya tidak mengerti bahasa pemrograman, namun betah nge-SLiMS ria semalaman. Sebuah kebanggaan tatkala mampu memasang plugin terbaru. Tak hanya sehari dua hari, sebulan dua bulan, setahun dua tahun, tetap saja saya tidak membuat plugin sendiri. Harus segera diakhiri, saya berkesimpulan harus keluar dari zona ini. Semuanya kini berlalu, saya keliru. Saya lupa pustaka dan pemustaka.


Pustaka dan pemustaka semestinya merupakan fokus. Mengelola perpustakaan sayoganya memberi jiwa pada perpustakaan. Hadir untuk pustaka dan siap sedia siapa pun pemustaka. Menjadi pustakawan adalah memberikan pelayanan. Berkepustakawanan merupakan belajar berkelanjutan. Sementara teknologi, otomasi, dekorasi, tata letak rak dan kursi, berorganisasi dan bumbu penyedap lain pelengkap dalam menyaji.

Untuk mencapai sebuah tujuan banyak jalur mana saja bisa dilalui. Pakai kendaraan pribadi, angkutan umum atau fasilitas instansi. Jalur udara, laut atau darat pilih yang disukai.

Komunitas SLiMS adalah keluarga untuk saya yang bukan siapa-siapa. Berhenti 'ngoprek' adalah pilihan yang saya ambil untuk pergi terjun dalam lautan kepustakawanan. Tak harus membuat plugin sendiri untuk berkontribusi. Karena menggunakan SLiMS bagi saya sudah berkontribusi. Sementara lautan kepustakawanan terlalu indah untuk tidak diarungi. Tak boleh saya lupakan dan harus saya akui, kesempatan belajar berbicara di depan orang banyak tema kepustakawanan saya peroleh dari jalur keluarga merdeka, Komunitas SLiMS se-jagad raya. Terlebih untuk saya yang belum selesai menapaki sekolah jenjang sarjana.

Tetap merdeka, nge-SLiMS ria. Fokus pustaka dan pemustaka. Pustakawan bukan mesin melainkan manusia. Jaya lah kepustakawanan Indonesia.

2 komentar:

  1. Setuju...pustakawan bukan mesin...ga usah risau robot2 di luaran sana...sapalah pemustaka kita dimanapun beradan bagaimanapun caranya

    BalasHapus
  2. Perpustakaan, ruangan paling sering saya datengin pas mau skripsi, wkwkwkwk

    BalasHapus