Jumat, 15 Maret 2019

Pustakawan Sekolah? Cuma Jaga Buku Aja?!?



Seringkali jika bertemu dengan orang yang baru dikenal, dan baru tahu jika kita adalah pustakawan, pasti kalimat yang terlontar pertama adalah sebagai penjaga buku. Lha, dikiranya satpam buku ya, hahaha... x)

Tugas sebagai pustakawan secara umum meliputi layanan referensi, layanan perpustakaan dan pengolahan. Serta pengembangan perpustakaan dan pengembangan profesi. Kita nggak perlu jauh-jauh membahas tugas tersebut satu per satu secara teoritis. Saya akan mengulas tugas pustakawan berdasarkan realita yang memang dikerjakan sehari-hari.

Layanan Referensi
Jangan bayangkan layanan referensi di perpustakaan sekolah sama dengan layanan referensi di perpustakaan perguruan tinggi maupun di perpustakaan daerah. Layanan referensi di perpustakaan sekolah, lebih sederhana dan fleksibel. Seringkali siswa menanyakan materi tugas sekolah. Misal, saat mata pelajaran Agama Islam bagi kelas XII, setiap siswa harus mencari tokoh agama yang berbeda untuk dipersentasikan. Tugas mata pelajaran Kewirausahaan dan Prakarya kelas XII, setiap kelompok harus membuat minuman berbahan dasar tumbuhan yang anti mainstream. Ada yang memilih temanya minuman berbahan dasar dari papaya. Kalau pelajaran Kewirausaahn dan Prakarya ini, pustakawannya paling bahagia, soalnya seringkali jadi ‘kelinci percobaan’ bagi makanan/ minuman yang mereka buat, hahaha... #AjiMumpung

Sama seperti perpustakaan sekolah negeri pada umumnya, perpustakaan sekolah tempat saya bekerja sebenarnya juga nggak begitu banyak jumlah buku yang bisa menjadi sumber rujukan. Tapi meskipun begitu, ada juga beberapa siswa yang sudah lulus sekolah dan kini menjadi mahasiswa sering main ke perpustakaan sekolah untuk minta dicarikan referensi. Yang terbaru kemarin adalah siswa yang sedang berstatus mahasiswa tingkat akhir di suatu kampus, minta dicarikan referensi untuk skripsinya yang membahas tentang toleransi beragama di Indonesia. Pas banget perpustakaan sekolah baru dapet kiriman buku dengan tema tersebut dari penerbit.



Saya seringkali bertanya kepada mereka kenapa tidak mencari di perpustakaan kampus atau perpustakaan daerah, rata-rata jawaban mereka didominasi dengan pernyataan jika perpustakaan lain terlalu banyak aturan, pustakawannya galak dan juga nggak bisa leluasa mencari. Ya, sejak tahun kedua bekerja di sekolah, saya menghapuskan sistem denda. Ini salah satu aturan yang menurut saya memberatkan pemustaka. Bukannya mendisiplinkan mereka, yang ada malah jadi takut ke perpustakaan. Pustakawan galak, nah ini yang jadi problem berat. Banyak perpustakaan bagus, megah maupun mewah tapi sepi pengunjung, biasanya justru karena pustakawannya nggak friendly alias galak. Apakah saya galak? Kelihatannya saya sering cengar-cengir dan jarang banget baperan kalau bersama murid. Tapi sesungguhnya saya akan uber meski ke ujung dunia jika seorang siswa belum mengembalikan buku, hahaha... Buku aja nggak bisa dijaga, apalagi hati anak orang?!? x)) #MalahTjurhat Jadi seorang pustakawan, tetap bisa bersikap tegas tanpa harus menampilkan raut muka yang galak dan jutek.

Oya, selain nanya tentang tugas, siswa juga banyak yang nanya tentang hal-hal di luar tugas pelajaran. Seperti jurusan-jurusan kuliah (entah kenapa mereka lebih sering bertanya ke saya, padahal kan sudah ada guru BK), dan seringkali juga tjurhat-tjurhat nggak jelas ala anak sekolah; mulai dari masalah pertemanan sampai masalah percintaan remaja, hahaha... Meskipun ini nggak masuk juknis pustakawan, sampai sekarang senang-senang aja menjalaninya, siapa tahu nanti bisa jadi kumpulan cerita yang bisa dibukukan :D

Layanan Sirkulasi
Meliputi peminjaman maupun pengembalian buku. Dulu, waktu awal bekerja di perpustakaan sekolah, saya masih menerapkan perpanjangan semua buku setiap seminggu sekali. Saya keteteran banget, apalagi awal-awal bekerja kan waktunya paling banyak terkuras untuk pengolahan. Tahun ketiga, untuk buku pelajaran paket, saya ganti sistem peminjamannya menjadi satu satu semester dan satu tahun. Dan untuk buku fiksi atau buku popular lainnya, dibuat rentang waktu dua minggu. Sebenarnya buku-buku referensi kan tidak boleh dibawa pulang alias baca di tempat, tapi ada juga siswa yang ingin meminjam kamus (karena di rumah tidak punya) untuk mengerjakan tugas atau siswa ingin membaca buku ensiklopedia di rumah (karena waktu istirahat di sekolah terbatas), saya izinkan dengan syarat kalau tidak mengembalikan tepat waktu dan selagi bukunya belum dikembalikan, tidak bisa meminjam buku yang lain. Resiko rusak, bahkan hilang pasti ada. Tapi prinsip saya: lebih baik buku rusak karena dibaca daripada disimpan terlalu lama toh akhirnya rusak juga dimakan rayap x))


Layanan Pengolahan
Bulan kedua bekerja di perpustakaan sekolah, saya mulai menyicil untuk membarcode buku-buku yang ada. Apalagi waktu itu kan sudah ada program SLIMS, semuanya sudah tersedia di program itu. Mulai dari katalog online, labelling dan barcode. Meskipun begitu, sampai sekarang masih ada saja yang bilang saya kerajinan banget semua buku pelajaran pake di barcode juga. Memang sih, rata-rata sekolah lain hanya di inventaris ke buku induk dan di cap saja. Tapi apa salahnya di barcode dengan sistem SLIMS. Capek di awal, sebenarnya memudahkan pekerjaan selanjutnya. Jika semua buku sudah dibarcode, sebenarnya memudahkan semua urusan administrasi perpustakaan. Seperti sudah terklasifikasi mana buku pelajaran, mana buku fiksi, mana buku ensiklopedia dan sebagainya. Data peminjam juga langsung terdeteksi, tinggal di print. Bahkan buku apa saja yang pernah dipinjam juga terdata secara apik.


Shelving Buku
Ini salah satu pekerjaan pustakawan yang tak terlihat tapi justru paling berat alias barbelan buku. Pagi udah dirapihin, siang udah mulai tebar; di meja-meja dan juga buku-buku yang nyempil dipaksakan masuk deretan buku lain di rak. 



Untuk pengembalian buku, sebenarnya sudah ada tempatnya tersendiri, disamping meja pelayanan. Nanti biasanya kami kembalikan sesuai dengan nomer klasifikasinya. Nah, yang suka ‘kecolongan’ berantakan itu ya kalo ada yang ngerjain tugas di sela-sela rak buku (entah kenapa banyak siswa yang demen nyempil di rak-rak buku; ngerjain tugas bisa sambil gegoleran di lantai, ada juga yang sambil dengerin musik). 

Perpustakaan kayak kapal pecah? Sudah pasti. Tapi biarlah mereka mengerjakan tugas dengan gaya apa pun di perpustakaan, karena mereka biasanya sudah lelah belajar di kelas dengan duduk rapi. Palingan saya hanya mencak-mencak kalo ada yang gelar karpet di sela-sela rak buku tapi nggak diberesin ama sampah makanan cemilan/minuman yang nggak mereka buang, hahaha... Ya gitu deh, mereka paling takut kalo pustakawannya ini udah mencak-mencak soal kebersihan... tapi kok ya nggak kapok juga ke perpustakaan x))

Cleaning Services
Mungkin bagi perpustakaan sekolah swasta, sudah ada petugas khusus untuk kebersihan perpustakaan. Tapi bagi perpustakaan sekolah negeri, bisa dipastikan hampir 90% pustakawannya juga merangkap juga jadi tukang bersih-bersih; mulai dari nyapu, ngepel, elap-elap meja jendela dan perabotan lainnya, bahkan sampai bersihin langit-langit yang sawangan. Pustakawan gimana mau ayu, kalo pagi-pagi udah berjibaku dengan debu-debu seperti ini, hahaha... x))

Tidak hanya urusan bersih-bersih yang harus diemban, pustakawan sekolah negeri juga dituntut serba bisa. Mulai dari harus bisa memperbaiki printer yang eror, pasang-pasang pajangan yang menempel di tembok alias paku-memaku, masang lampu kalo ada yang putus, bahkan sampai urusan bongkar pasang korden yang abis dicuci. Pustakawan sekolah udah kayak tukang sate, semua dikerjakan sendiri x))

Pengembangan Perpustakaan
Salah satu cara mengembangkan perpustakaan melalu koleksi tanpa biaya adalah memperbanyak koneksi dan juga butuh kreativitas dan inovasi seorang pustakawan. Ada banyak hal-hal inovasi yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah bekerjasama dengan penulis atau penerbit. Perpustakaan sekolah kami, sudah beberapa kali mendapat tawaran kerjasama dengan pihak penerbit untuk mengadakan diskusi buku secara gratis. Begitu juga dengan banyak sekali penulis yang mengirimkan buntelan buku. Caranya, rajin-rajinlah pustakawannya mengulas sebuah buku. Lagipula, menulis resensi buku juga menjadi salah satu tugas pustakawan yang masuk dalam juknis loh. Sambil menyelam minum air, sambil nulis ulasan buku juga kecipratan buku gratis. Lumayan banget, kan ;)

Pengembangan Profesi
Sejujurnya, sampai sekarang ini saya tidak mengikuti organisasi berlabel perpustakaan apa pun. Bahkan IPI di Lampung saja ada dualisme kepengurusan, yang membuat bingung pustakawan rakyat jelata macam kami, hahaha... begitu juga dengan grup-grup di wa, saya tidak terlalu banyak mengikuti grup-grup perpustakaan/pustakawan. Selain orangnya yang itu lagi itu lagi, yang dibahas sebenarnya juga itu lagi itu lagi tanpa solusi. Bukannya menambah wawasan, yang ada malah bikin pening, hahaha... x))

Saya baru mengikuti Pemilihan Pustakawan Berprestasi tahun ketiga bekerja di perpustakaan sekolah. Itupun tidak masuk lima besar saat di provinsi. Sebenarnya setelah mengetahui ‘situasi’ di pemilihan, saya sudah bertekad tidak akan ikut lagi apalagi kalo jurinya sama. Barulah tahun 2015, alias tahun kelima bekerja, saya ikut lagi karena tahu jurinya sudah ganti, hahaha... dan malah nggak menyangka langsung juara 1. Mungkin memang belum rezeki, meski sudah juara 1, masih belum lolos buat ikut ke nasional karena terkendala persyaratan masa kerja (kalau nggak salah waktu itu minimal 7 tahun). 

Tahun berikutnya, 2016, saya pikir nggak bisa ikut lagi Pemilihan Pustakawan Berprestasi karena sudah pernah juara 1 provinsi, tapi ternyata saya boleh ikut lagi (karena seperti dikatakan sebelumnya, belum ikut ke nasional). Jujur, saya sudah nggak fokus dengan pemilihan ini. Selain karena adanya renovasinya ruangan perpustakaan yang sungguh menguras tenaga, saya juga malah ikut Pemilihan Tenaga Kependidikan Berprestasi profesi Tenaga Perpustakaan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Metro. Hasilnya? 2016 malah menggondol tiga piala sekaligus: Juara 3 Pemilihan Pustakawan Berprestasi tk Provinsi yang diadakan Badan Perpustakaan & Arsip Daerah  Provinsi Lampung, juara 1 Pemilihan Tenaga Kependidikan Berprestasi profesi Tenaga Perpustakaan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Metro (dan melaju ke nasional sebagai finalis perwakilan dari Lampung), dan Juara 3 Lomba Perpustakaan SMA/ sederajat tk Provinsi yang diadakan oleh Badan Perpustakaan & Arsip Daerah Provinsi Lampung. Maruk banget ya, hahaha... 

Nggak berhenti di situ, tahun 2017 masih ikut lagi. Dan kali ini Juara 1 Pemilihan Pustakawan Berprestasi tk Provinsi yang diadakan Badan Perpustakaan & Arsip Daerah  Provinsi Lampung. Sebenarnya ikut pemilihan ini nggak ada target apa-apa, saya sudah sangat senang karena kali ini bisa melaju ke nasional. Kalo ke nasional, ya nggak usah ditanya, isinya pustakawan-pustakawan hebat semua. Saya hanyalah butiran-butiran debu diantara mereka. Saya sudah senang dengan membuktikan bahwa pustakawan sekolah juga bisa bersanding dengan pustakawan-pustakawan lainnya yang lebih besar baik dari sisi perpustakaannya, jabatan maupun masa kerjanya. Apalagi di tahun itu hanya dua perwakilan pustakawan sekolah yang bisa tembus ikut ke nasional pemilihan yang diadakan PERPUSNAS ini. Selain saya, perwakilan dari NTT juga merupakan pustakawan sekolah. 

2018 saya pikir sudah tidak akan ikut apa-apalagi, ternyata masih diberi kesempatan dan alhamdulillah masih bisa membawa nama baik bagi perpustakaan sekolah dengan menjadi Juara 2 Lomba Perpustakaan SMA/ sederajat tk tk Provinsi yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan & Arsip Daerah Provinsi Lampung. Oya sampai lupa, pas tahun 2014 juga Juara 2 Lomba Perpustakaan SMA/ sederajat tk tk Provinsi yang diadakan oleh Badan Perpustakaan & Arsip Daerah Provinsi Lampung. 

Apakah tahun-tahun berikutnya masih terobsesi dengan Lomba Perpustakaan SMA/ sederajat tk tk Provinsi? Sepertinya tidak, karena saya sudah mengukur kemampuan perpustakaan sekolah memang mustahil bisa mencapai juara 1 jika ikut lagi. Ada banyak faktor. Beberapa diantaranya adalah perpustakaan sekolah yang belum merupakan gedung, masih berupa ruangan kelas. SDM yang belum sesuai, kami hanya berdua. Juga faktor koleksi yang masih didominasi buku paket pelajaran. Perlu diketahui, buku paket pelajaran, jika lomba perpustakaan tidak dianggap koleksi, karena sebenarnya buku paket itu diluar tanggungan perpustakaan sekolah. Padahal realitanya, bunyi juknis di BOS, pengadaan buku memang harus buku paket pelajaran. (Nanti akan saya bahas di postingan khusus)

Perpustakaan sekolah bisa berkembang dan diakui di luar, tidak membutuhkan biaya yang besar. Hanya butuh konsekuensi pustakawannya untuk kreatif dan berinovasi. Itu saja kuncinya. Dukungan dari pihak sekolah juga sebenarnya poin ke sekian, justru jika perpustakaan sekolah mulai diakui di luar, pihak sekolah juga akan mengakui keberadaan perpustakaan sekolah kita.

Promosi Melalui Media Sosial
Promosi perpustakaan melalui media sosial tidak membutuhkan biaya yang besar tapi memberikan dampak yang lumayan besar. Hanya dibutuhkan waktu dan tenaga pustakawannya. Melalui media sosial, perpustakaan tidak hanya dikenal oleh siswa-siswa yang ada di sekolah, tapi juga pihak luar seperti penulis maupun penerbit yang mengajak untuk kerjasama. Sekarang, sudah banyak sekali akun-akun perpustakaan yang mengikuti jejak konsep instagram @perpussmanda. Kunci dari akun perpustakaan adalah menampilkan kegiatan pemustakanya. Karena seringkali salah kaprah (terutama perpustakaan-perpustakaan daerah) justru malah lebih sering menampilkan petugas perpustakaannya yang kunjungan ke sana-sini dan malah jarang terlihat pemustakanya x))

Itu tadi adalah penjabaran tugas-tugas pustakawan sekolah. Masih bilang pustakawan kerjaannya cuma jaga buku aja?!? Jaga hati kamu gimana?!? :D

Ditulis oleh
Luckty Giyan Sukarno
Pustakawan SMA Negeri 2 Metro, Lampung

5 komentar:

  1. Baguslah menjaga buku sama saja selalu dekat dengan ilmu yang bermanfaat kalau selalu kita serap tiap hari tentu wawasan kita akan menambah..😄😄

    BalasHapus
  2. Mantabs pekerjaan dan prestasinya mb lucky....maju terus perpustakaan dan pustakawan sekolah....

    BalasHapus
  3. pustakawan sekolah memang hrs lebih kreatif ya, dg buku yang minim dan perlu kreatif agar banyak ayng datang ke perpus

    BalasHapus
  4. saya saat kuliah kesel ketemu pustakawannya jutek bahkan menerapkan dendanya sadis bisa nggak dibolehin lulus kalau masih ada tanggungan buku yg dipinjam. yang ramah justru perpustakaan di SMA. Bahkan saat classmeeting saya lebih memilih lari sama temen ke perpustakaan daripada ke kantin (karena ada AC nya hahaha).

    BalasHapus
  5. Pustakawan galak nggak masalah buat saya. Soalnya yang begitu itu bisa menjaga buku-buku tetap lengkap dan kembali tempat waktu. Karena waktu sekolah dan kuliah emang suka baca buku, petugasnya kayak apapun, nggak masalah.

    Tapi kalau dibilang kerja pustakawan cuma jaga buku, lha kerja BTS engineer ntar dibilang cuma masang kabel di tiang Telkomsel doang?

    BalasHapus