Sabtu, 02 April 2022

Perpustakaan dalam Film Nasional


Sebenarnya sudah banyak yang tahu jika setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Tapi banyak yang belum tahu apa yang melatar belakangi kenapa di tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. 

Film Indonesia sebenarnya sudah diproduksi sejak Indonesia masih di jajah Belanda. Film pertama yang diproduksi kala itu berjudul Loetoeng Kasarung pada tahun 1926. Kala itu digarap oleh orang asing dan belum merepresentasikan Indonesia. Baru di tahun 1950, tepatnya 30 Maret, sutradara Indonesia bernama Usmar Ismail memproduksi film berjudul Darah dan Doa dengan pengambilan gambar di tanggal tersebut. Hal itu menjadi alasan Dewan Film Nasional menetapkan sebagai Hari Film Nasional.
 


Berikut beberapa ulasan pendek tentang film nasional yang terdapat scene di perpustakaan dan menampilkan pustakawannya:
 
 


1. Ada Apa dengan Cinta

Film ini menjadi momentum kebangkitan film nasional yang sempat mati suri setelah beberapa tahun sebelumnya vakum. Scene pertama kali Rangga dan Cinta bertemu di perpustakaan menjadi salah satu scene yang paling ikonik dalam film ini. Bahkan buku yang di pegang Rangga berjudul Aku, sempat banyak diburu remaja kala itu, padahal itu adalah salah satu buku yang lumayan lama, sekitar 1987.
 

 
Di film ini, perpustakaan identik sebagai tempat pelarian atau tempat paling nyaman bagi siswa yang introvert seperti Rangga. Suasana hening menjadi pilihan. Karena itu, ketika Cinta ingin menyapanya justru dianggapnya mengganggu ketenangannya dalam membaca buku yang ditekuninya.
 


Pustakawan dalam film ini masih konvesional banget; seorang ibu paruh baya yang mengenakan seragam cokelat dengan tatanan rambut yang tergulung. Tipikal pustakawan sekolah yang jadul: menegur jika ada siswa yang dianggapnya berisik, termasuk Rangga juga ditegur karena dianggap mengganggu ketenangan suasana perpustakaan x))

2. Adriana


Jauh sebelum diangkat ke layar lebar, saya sudah menyimak kisah Adriana dan Mamen ini dalam notes bersambung via Facebook penulisnya yang sebenarnya dua sisi; sisi Adriana dan sisi Mamen karena memang ditulis oleh sepasang manusia yang sedang PDKT. Tapi pas dijadikan buku (baca reviewnya di SINI), hanya satu penulis yang namanya terpampang di cover bukunya. Mungkin agak ribet ya, soalnya saat bukunya terbit, mereka sudah mantanan. Begitu juga saat bukunya diangkat ke layar lebar, disutradarai langsung oleh penulis utamanya kala itu :)

 

Kali pertama Mamen bertemu Adriana di perpustakaan nasional. Perpustakaan, ya perpustakaan. Cinta pada pandangan pertama memang sudah biasa. Tapi cinta tumbuh ketika bertemu di perpustakaan? Itu baru tidak biasa.

Kisah cinta ini lebih tidak biasa lagi karena dibalut teka-teki dengan menelusuri berbagai patung seperti Patung Hermes, Patung Pancoran, Patung Pemuda, Patung Arjuna Wijaya, Patung Selamat Datang, Patung Thamrin, dan Patung Kartini. Tak lupa kita diajak menjelajahi tempat-tempat bersejarah di Jakarta.


Mengisahkan perjuangan Mamen. Pemuda yang malas belajar sejarah ini akhirnya harus membedah sejarah, karena dengan begitu dia bisa bertemu dan mendapatkan Adriana, si gadis cantik dan misterius. Dalam memecahkan teka-teki yang diberikan Adriana, Mamen sering dibantu Bayu (versi bukunya bernama Sobar) yang sangat pintar urusan sejarah. Nah, siapa yang tak suka sejarah? Mulai dari sekarang coba baca buku-buku sejarah, siapa tahu incaranmu memberikan teka-teki lewat sejarah.




 Di awal film, sangat kental sekali scene di perpustakaannya. Apalagi itu awal Mamen melihat Adriana. Tokoh pustakawannya juga tidak hanya ditampilkan sekali, tapi beberapa scene: di sela-sela rak perpustakaan, di lift menuju perpustakaan, juga di bagian layanan di perpustakaan. Pustakawan di sini direpresentasikan meski tau segalanya, tapi tampak gengges alias mengganggu bagi Mamen karena terlalu mendekatinya alias baik karena ada maunya. Pustakawan di film ini dihadirkan dengan tampilan fisik: rambut panjang yang sepertinya disasak karena tampak mengembang, rada centil dengan pemustakanya, dan rada kepo juga x))

3. Refrain 

 

Nata bisa bersahabat dengan Niki karena ibu mereka dekat. Sejak keluarga Niki pindah di seberang rumah Nata, ibu mereka saling mengunjungi sambil membawa anak masing-masing. Kadang kursus masak bareng, kadang ikut kelas aerobic sama-sama, perawatan di salon, arisan, atau sekedar mengobrol dengan dua cangkir the hangat. Anak-anak ditinggal di pekarangan begitu saja, mungkin semacam latihan sosialisasi supaya mereka mudah berinteraksi sejak usia dini.

 
 Sebelum menonton filmnya, saya sudah membaca versi bukunya (baca reviewnya di SINI). Kebetulan penulis bukunya adalah salah satu novelis yang suka karya-karyanya yang memang bergenre remaja. Tak terkecuali dengan Refrain ini yang juga mengangkat kisah friendzone antara Niki dan Nata. Hingga muncullah Annalise, anak pindahan di sekolah mereka yang tidak hanya cantik dan pintar, tapi juga berasal dari keluarga yang mapan. Ibunya merupakan salah satu orang terpandang yang cukup disegani, maka tak heran banyak yang mendekatinya. Annalise yang polos lebih suka menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan sekolah ketika jam istirahat.

 
 Diantara beberapa film nasional yang ada scene perpustakaannya, masih jarang pustakawannya bekerja di meja kerjanya ditampilkan komputer dan printer seperti dalam film Refrain ini. Sayangnya image pustakawan galak juga masih ditampilkan dalam film ini dengan sosok pustakawan yang menegur rombongan Cheerleaders yang tampak berisik memaksa Annalise untuk mengikuti eksul mereka karena dianggap mengganggu pemustaka lainnya yang berada di perpustakaan x))

4. Pupus

 
 Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani ini sebenarnya sudah cukup lama tayang. Sekitar tahun 2011. Menceritakan kisah cinta ala mahasiwa antara Panji dan Cindy: benci jadi cinta. Dikisahkan Cindy menyukai seniornya di kampus, awalnya Panji tidak pernah menggubrisnya. Termasuk saat Cindy yang diperankan Donita membawakan bekal untuk Panji malah ditolak terang-terangan, bekal untuknya langsung diberikannya lagi untuk kepada pustakawan di perpustakaan kampus, kebetulan saat itu scenenya berada di perpustakaan. Sebenarnya agak aneh pas scene, kenapa diperbolehkan membawa makanan di dalam perpustakaan, hahaha... x))

 

Meski dalam film diceritakan jika Cindy kuliah di kampus swasta, tapi pustakawan yang ditampilkan ala-ala abdi negara: bapak tua polos dengan seragam cokelat ciri khas abdi negara.
 
5. The Tarix Jabrix 2

 
 Pas zaman remaja, saya nge-fans The Changcutres kala itu jauh sebelum akhirnya mereka sempat tenar di televisi. Setiap pagi kala zaman masih merantau, selalu mendengarkan Tria, vokalis The Chancuters yang saat itu masih menjadi penyiar radio di salah satu radio hits di Bandung, yaitu 99'ers Radio. Selama beberapa lama, bandnya tenar dan sering wara-wiri muncul di televisi. Tidak hanya itu, mereka pun sempat main di film The Tarix Jabrix yang disutradari oleh almarhum Iqbal Rais. Di luar ekspetasi, film pertama mereka meledak karena berhasil menembus satu juta penonton. Maka, muncullah seri kedua bahkan yang ketiga.
 
 
Nah, di serial yang kedua ini ada scene di perpustakaan. Jika di The Tarix Jabrix yang pertama diceritakan para personil The Changcuters ini masih SMA, di serial yang kedua ini mereka ditampilkan merantau ke Jakarta untuk kuliah, kecuali Dadang yang tetap di Bandung karena harus membantu ayahnya di bengkel milik keluarga mereka.
 

Tidak hanya Ciko dan Coki, ada kembar lagi yang dihadirkan dalam seri yang kedua ini. Adalah Lala yang ingin meminjam sebuah buku di perpustakaan kampus yang ternyata buku tersebut sudah dipinjem Ciko atau Coki ya, saya lupa, hahaha... x))

Nah, pustakawan dalam film ini dihadirkan tampak lebih muda dibandingkan film-film lainnya yang selalu merepresentasikan pustakawan selalu sosok paruh baya. Tapi ya pas pelayanan peminjama buku masih jadul; dicatat manual di buku besar belum menggunakan komputer :') 

6. Marmut Merah Jambu
 
 
 Ini adalah film keempat yang diangkat ke layar lebar dari buku yang ditulis oleh Raditya Dika. Meski diadaptasi dari buku, tapi hanya beberapa BAB saja yang diangkat ke layar lebar, yaitu Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam, Pertemuan dengan Ina Mangunkusumo, dan Misteri Surat Cinta Ketua OSIS.

 
 Jika di film-film lainnya yang menampilkan scene di perpustakaan, didominasi oleh teguran pustakawan terhadapa pemustaka yang ribut, di film Marmut Merah Jambu ini justru sesama pemustaka yang menegur Dika dan Bertus karena berisik di perpustakaan x))



 
 Cerita anak sekolah selalu identik dengan scene di perpustakaan. Tidak hanya itu, perpustakaan sekolah juga selalu dengan siswa-siswa cupu. Dika dan Bertus seperti anak sekolah pada umumnya yang ingin mengikuti salah satu ekstrakurikuler di sekolah mereka. Nah, salah satu eskul yang awalnya akan mereka ikuti adalah eskul Bahasa yang dipimpin oleh Ge Pamungkas yang ternyata adalah bukan sembarang eskul bahasa biasa, tapi eskul bahasa satwa, hahaha... x))

7. Kukira Kau Rumah
 
 
 
Baru beberapa hari tayang, film ini meledak dan menembus angka penonton yang cukup fantasis mengingat kita masih mengalami masa pandemi. Ini menjadi angin segar bagi perfilman Indonesia. Ada banyak alasan kenapa harus nonton Film Kukira Kau Rumah ini. (baca reviewnya di SINI)

 
 Niskala menyebut perpustakaan ibarat kuburan sebagai tempat favoritnya dari tempat melarikan diri dari hiruk pikuknya kehidupan. Sebagai pustakawan, aku ngakak banget bagian scene di perpustakan meski hanya ditampilkan dua kali. Yang pertama, scene yang disajikan cukup panjang. Niskala mengambil banyak buku untuk dipinjam, sementara peraturan perpustakaan hanya memperbolehkan pemustaka untuk meminjam maksimal tiga buku. Sindiran halus terlontar dari bibir Niskala bahwa buku yang masih bersih slip peminjamannya lebih baik dipinjamnya karena kasihan buku itu menganggur tidak ada yang meminjam x))


Niskala meminjam banyak buku juga memiliki makna semiotika. Ambisiusnya dalam mengerjakan tugas-tugas sejak sekolah sampai kuliah, berusaha selalu ingin menjadi yang pertama dan terbaik, tidak mau kalah dengan orang lain, dan selalu membaca banyak buku demi ingin menunjukkan kepada papanya bahwa dia mampu menjadi manusia normal pada umumnya. Dia sangat butuh validasi dari papanya bahwa dia bisa.

Itu tadi beberapa film nasional yang menampilkan scene di perpustakaan. Apakah ada yang mau menambahkan? :)

Ditulis oleh

Luckty Giyan Sukarno

Pustakawan SMA Negeri 2 Metro, Lampung

https://luckty.wordpress.com/

http://catatanluckty.blogspot.co.id/

https://www.instagram.com/lucktygs/

https://www.instagram.com/perpussmanda/



 
 







 

0 komentar:

Posting Komentar