Minggu, 14 April 2019

Pustakawan Penyuluh

Ramai-ramai membicarakan peran pustakawan dalam masyarakat, maka Bulan sang pustakawan  pun tidak tinggal diam. Diantara tugas pustakawan mengedukasi masyarakat adalah dengan memberikan penerangan, penyuluhan, seminar dan semacamnya bagi perkembangan perpustakaan dan kepustakawanan. Bulan jadi teringat, tepatnya tanggal 17 November 2016 di Grand Suka Hotel Pekanbaru, memberikan penyuluhan perpustakaan dengan tema Pembinaan Standarisasi Pengelolaan Pustaka Keagamaan  Islam se-provinsi Riau. Hadir dalam pertemuan ini adalah  para pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) dan pengelola perpustakaan masjid di provinsi Riau yang berjumlah sekitar 40 orang.  Acara ini di gagas oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama RI.

Walaupun sudah menyiapkan materi yang akan disampaikan, diantaranya tentang Pengertian Perpustakaan, Tujuan Perpustakaan, Sejarah Perpustakaan, Jenis-Jenis Perpustakaan, Kegiatan Utama Perpustakaan, Aspek-Aspek Perpustakaan, Promosi Perpustakaan, dan Kerja Sama Perpustakaan yang kesemuanya disampaikan dengan cara sederhana sesuai pemahaman peserta dan dalam konteks pengembangan perpustakaan masjid, ternyata tidak mulus.

Lho apa maksudnya tidak mulus. Begini. Tidak semua materi bisa disampaikan dengan tuntas karena beragamnya pertanyaan mereka dan spontanitas. Bagi Bulan, ini adalah baik dan tidak masalah. Tandanya mereka besar rasa keingintahuan tentang perpustakaan. Bahkan uniknya malah pertemuan ini semacam sesi temu konsultasi saja. Peserta menyampaikan apa yang dialami dan dirasakan selama ini khususnya dalam pengembangan perpustakaan masjid. Dan tindak lanjutnya adalah membutuhkan solusi dan perhatian dari pemerintah, dalam hal ini Ditjen Bimas Islam.

Suasana dialogis dalam pertemuan tersebut memberikan kesan hangat dan akrab walaupun Bulan segelintir kaum perempuan diantara mayoritas bapak-bapak. Banyak muncul uneg-uneg dari perasaan terdalam mereka, alias curhat. Di sinilah Bulan sang pustakawan tergelitik, prihatin, merenung dan berpikir keras apa yang bisa dibantu, bukan sekedar menjadi penampung aspirasi saja.  Setidaknya Bulan membawa catatan penting untuk disampaikan di Jakarta nanti.

Seolah ada jawaban dari langit. Ditjen Bimas Islam memiliki subdit baru yaitu Subdit (Sub Direktorat) Kepustakaan Islam sesuai PMA No.42 tahun 2016. Sebuah subdit baru yang masih mencari bentuk. Namun demikian harapan besar ada di sini terkait pengembangan perpustakaan masjid, yang juga merupakan salah satu tusi (tugas dan fungsi) Bimas Islam yaitu kemasjidan.  

Bulan sang pustakawan sudah menjalin komunikasi dan sinergi sebelumnya dengan Kasubdit Kepustakaan Islam Bimas Islam. Maka Bulan menjadi orang yang selalu dilibatkan dalam acara-acara dari Subdit Kepustakaan Islam. Bukan sekedar meramaikan atau menjadi peserta semata, tetapi ada harapan besar kolaborasi dan sinergi yang dibangun untuk mengembangkan kepustakaan Islam melalui pengembangan perpustakaan masjid.

Dimulailah pertemuan-pertemuan yang menggagas agenda-agenda Subdit Kepustakaan Islam. Diantaranya pembuatan naskah akademik Kepustakaan Islam dan pedoman pengelolaan perpustakaan masjid. Terakhir yang Bulan ikuti adalah temu konsultasi Kepustakaan Islam dengan tema Memperkuat Moderasi Islam melalui Literasi pada Maret 2019 lalu. Peserta kegiatan ini berasaal dari kalangan Kasie Kemasjidan pada Kanwil Kemenang  di 34 provinsi dan Pengelola Perpustakaan Masjid. Pembicara acara ini diantaranya adalah Dr. Muchlis M. Hanafi (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran), Muhammad Syarif Bando (Perpustakaan Nasional), Nirwan Ahmad Arsuka (Pustaka Bergerak), dan Prof. Oman Fathurrahman (Staf Ahli Menteri Agama). Pada kegiatan ini dipaparkan tentang Penguatan Sistem Kepustakaan Islam dalam  Bingkai Moderasi Beragama, Transformasi Perpustakaan Islam di Era Revolusi 4.0, Kreasi Pustaka Bergerak di Indonesia, dan mengenai Diseminasi Naskah dan Buku Keislaman di Nusantara.

Bulan mencatat inti dari pembahasan dan dinamika diskusi yang berlangsung pada acara tersebut adalah: 1) Pustaka Bergerak dengan mereplikasi kegiatan serupa dari komunitas yang sudah menjalankan, 2) Program menyumbang buku untuk perpustakaan masjid one jamaah, one book 3) Membangun jejaring perpustakaan masjid, 4) Menyisipkan sebagian kas masjid untuk membeli sepeda motor yang bisa digunakan untuk melakukan pustaka bergerak, 5) Perpustakaan masjid menjadi jembatan tersedianya kepustakaan Islam klasik, 6) Mendesiminasikan koleksi klasik dalan format yang lebih ringan dan mudah difahami untuk generasi milenial dan masyarakat secara umum, 7) Memaksimalkan sumber-sumber bacaan dari koleksi Islam klasik, 8) Melakukan framing koleksi yang hadir di perpustakaan masjid adalah yang benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat, dan 9) Pada perkembangan ke depan dibuat lomba perpustakaan masjid dan menulis kearifan local.


Yup, itulah sekelumit dari hadirnya perhatian negara terhadap kepustakaan Islam dan pengembangan perpustakaan masjid melalui Ditjen Bimas Islam.  Semoga pustakawan semakin bergerak utamanya sama-sama membangun literasi melalui perpustakaan masjid. Pustakawan menjadi suluh dan penyuluh. (Hariyah A.)

0 komentar:

Posting Komentar