Senin, 06 Mei 2019

Beasiswa Ikatan Pustakawan Indonesia


[Semarang, 2 Mei 2019] Kamis malam Jumat, saya terpilih menjadi juara ketiga Lomba Pustakawan Berprestasi Terbaik Provinsi Jawa Tengah 2019. Berbagai rangkaian seleksi telah saya ikuti di gedung Perpustakaan Provinsi di Jl Sriwijaya. Salah satu tahapan seleksi diantaranya adalah menuliskan artikel alasan memilih berprofesi sebagai pustakawan dan rencana untuk memajukan profesi pustakawan. Berikut ini adalah artikel yang saya sajikan untuk kelima dewan juri yang  100% difasilitasi Perpustakaan Kota Magelang. Terimakasih teman-teman pustakawan Kota Magelang telah sepenuh hati mendukung moril dan materiil.


***

BEASISWA IPI

Sejak sekolah dasar, saya dibiasakan memegang majalah oleh ibu. Kala itu, ketika Ibu pulang kantor pada kamis siang, beliau membelikan majalah Bobo dan Ina. Saya senangnya bukan main. Sejak itu, saya selalu dibawakan kedua majalah itu tiap kamis.

Setelah dewasa, saya baru tahu bahwa Ibuku ternyata tidak suka membaca. Alasan Ibu membelikan majalah begitu sederhana, karena mengikuti nasehat dari teman kerjanya semata. Bagiku itu tidak penting, karena masa kecilku sangat bahagia dibawakan majalah oleh Ibu. Walau sebenarnya saya hanya suka melihat-lihat gambar di majalah dan sesekali mendapatkan bonus permainannya. Misalnya menyusun potongan gambar menjadi mainan kertas dinosaurus berdiri dengan empat kakinya.

Beranjak ke jenjang sekolah menengah atas, saya begitu tertarik meminjam buku di perpustakaan. Maklum, selama sekolah enam tahun sekalipun tidak pernah melihat perpustakaan. Mulai kelas tujuh, saya sudah mulai meminjam buku. Namun hanya di kala libur sekolah saja. Sehingga total selama tiga tahun hanya 5 judul buku yang saya baca. Semuanya cerita pendek. Sedangkan di saat jam pelajaran kosong, saya pergi ke perpustakaan untuk menyempatkan membaca majalah MOP. Tapi merasa kurang puas, saya lebih memilih menyisihkan uang untuk membeli majalah XY Kids dan Bola. Jika tidak ada uang, kerap kali saya merengek kepada Nenek untuk membelikan kedua majalah itu.

Setidaknya, kebiasaan membeli majalah menjadi rutinitas tiap pulang sekolah. Eh, kadang malah kehabisan stok. Ada rasa menyesal. Akan tetapi, semenjak masuk jenjang sekolah menengah atas, rasa menyesal pun hilang. Perpustakaan ternyata berlangganan majalah Bola, sehingga saya kerap kali pergi ke perpustakaan hanya untuk membaca majalah itu. Acap kali antar siswa laki-laki berebut membaca majalah itu. Sampai-sampai petugas perpustakaan mencopot steplesnya sehingga masing-masing lembaran lepas dan bisa dibaca oleh banyak siswa sekaligus.

Itulah kisah saya yang erat dengan majalah dan perpustakaan. Kini, saya telah lulus dari Ilmu Perpustakaan dan bekerja menjadi pustakawan di salah satu perguruan tinggi negeri di Magelang. Perjalanan saya memilih pilihan jurusan ketika penerimaan mahasiswa baru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Waktu itu, saya ditanya oleh Bapak. “Mau kuliah jurusan apa? Pilihlah yang kerjaannya kelak yang kamu suka dan cepat mendapat pekerjaan.” Setelah beliau menyodorkan beberapa usulan jurusan dan mendengar arahannya, saya telah memantabkan diri memilih jurusan Ilmu Perpustakaan.

Bagi Ibu, pilihan jurusan yang telah saya putuskan adalah tidak sesuai keinginannya. Beliau ingin saya bekerja satu kantor di Dinas Pekerjaan Umum. Sehingga saya disarankan untuk memilih jurusan Teknik Sipil. Apa daya, untuk memenuhi hasrat kedua orang tua, saya pun memasukkan kedua nama jurusan tersebut pada formulir daring penerimaan mahasiswa baru Universitas Diponegoro. Saya isi pilihan nomor 3: Statistika, pilihan nomor 2: Teknik Sipil, dan pilihan nomor 1: Ilmu Perpustakaan. Beres, bukan? Hasrat kedua orang tua saya telah terpenuhi. Bagi teman sekolah yang mengetahui formulir itu. Mereka membuli saya. “Bocah kok lucu. Kalau tidak keterima pilihan nomor 1, ya tidak bakal keterima pada pilihan nomor 2 atau pun 3 lah!”.

Tapi, takdir berkata lain. Tepat satu hari setelah ujian akhir sekolah berakhir, saya melihat pengumuman penerimaan masuk mahasiswa baru Undip. Saya berteriak kencang: Alhamdulillah! Saya diterima sesuai pilihan pertama yang saya pilih.

Sejak saat itu, saya membayangkan seperti apa pekerjaan seorang lulusan Ilmu Perpustakaan. Saya bertanya ke tetangga yang pernah bekerja di perpustakaan.  Cari sana dan sini. Dan bertemulah saya dengan Ibu Wiharjanti, yang bekerja di perpustakaan daerah. Saya diajak berkunjung dan mendengar cerita perjuangan beliau bekerja. Dan akhirnya, saya mantab bercita-cita menjadi pilotnya suatu perpustakaan: pustakawan.

***

Masa kuliah telah usai, gemuruh sorak-sorak wisudawan menghiasi gedung Soedarto. Semua wisudawan dan orang tua wali tertib masuk ke gedung lalu duduk dan mengikuti prosesi upacara wisuda dengan khidmat. Saya bangga. Saya adalah lulusan mahasiswa Ilmu Perpustakaan pertama dalam sejarah Undip sebagai pembaca sumpah alumni di upacara wisuda universitas. Tidak hanya itu, saya pun diberi amanah lagi mewakili seluruh wisudawan Fakultas Ilmu Budaya untuk memberikan pidato pada upacara wisuda fakultas. Berikut petikan pidato yang masih terngiang: “Seandainya kami (alumni) bagai kura-kura, tempurung kami ini kian berat! Pasalnya terlabel Undip di pundak kami! Universitas ternama dengan prestasi mengabdi kepada masyarakat yang menjulang. Sudah saatnya kami tidak lagi merepotkan Ayah dan Ibu. Kami siap mandiri demi martabat negeri!”

Lulus! Ya, lulus adalah momok bagi semua alumni. Rasa bangga bisa lulus namun hanya kesenangan sesaat. Setelah itu? Ada yang malu kerja dengan gaji sedikit. Tidak sedikit yang karirnya banting stir. Saya sudah bertekad sejak pendaftaran mahasiswa baru: Ilmu Perpustakaan adalah pilihan pertama, bukan pilihan cadangan. Oleh karena itu, saya ingin sekali bekerja menjadi pustakawan ala lembaga tempat bekerja.

***

Sejak awal mencari lowongan kerja, saya yakin menjadi pustakawan bagaikan memiliki sifat air. Air yang selalu menyesuaikan diri (mengisi) sesuai bentuk wadahnya. Jika wadahnya berbentuk tabung, maka air itu juga berbentuk tabung, jika wadahnya berupa mangkuk, maka air akan mengisi mangkuk tersebut. Artinya, indikator menjadi pustakawan itu tidak bisa dipukul rata dari sabang sampai merauke dari desa sampai ibu kota. Akhirnya saya berlabuh untuk kali pertama sebagai pustakawan di Surabaya, YPPI, Lembaga Swadaya Masyarakat yang saya lebih suka menyebutnya: lembaga konsultan perpustakaan. Dan sekarang ini, saya membentangkan layar lalu mengarahkannya di Universitas Tidar, tempat saya melanjutkan karir sebagai pustakawan.


Setelah melalang buana ke seantero negeri lalu kembali ke daerah (magelang) bukan malah mengerutkan semangat untuk berkarir lagi sebagai pustakawan. Kini karya-karya sebagai pustakawan telah saya capai. Mulai dari bekerjasama internal dengan mahasiswa untuk pendekatan kebutuhan sampai berjejaring eksternal dengan lembaga mentereng. Berbagai tulisan telah tayang di Call For Paper dan berbagai jurnal serta media massa. Kemas ulang video pun telah tayang di berbagai televisi nasional. Kini 3 buku telah terbit dan 1 sebagai editor buku. Tentu saya tidak berhenti sampai di sini. Saya memiliki pandangan yang berbeda di profesi pustakawan ini. Pasalnya menjadi pustakawan bukanlah hal mudah walau memiliki nilai IPK sempurna.

Saya berpendapat, untuk memutuskan benar-benar menjadi pustakawan adalah di mulai sejak bangku kuliah. Lebih-lebih baik lagi sejak lulus SMA. Soalnya, bila mahasiswa yang masuk kuliah saja sudah galau apalagi setelah lulus malah semakin galau, mau jadi apa negara ini?. Oleh karenanya, supaya mahasiswa tidak galau, perlu ada arahan oleh para alumninya. Mereka (mahasiswa) adalah adik tingkat kita yang menjadi tanggungjawab bagi alumni untuk membinanya. Sudah ada dosen, bukan? Kenapa alumni harus terlibat? Kita meyakini bahwa sebuah pekerjaan dikatakan menjadi profesi ketika ada tiga kriteria. Pertama, ada pabrik pencetak calon pustakawan, kedua adalah keberadaannya diakui oleh masyarakat, dan ketiga yang terpenting adalah memiliki organisasi profesi yaitu IPI – Ikatan Pustakawan Indonesia. Sehingga IPI perlu dilibatkan dalam mencetak calon pustakawan di pabriknya yaitu di lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan.

Pelibatan ini perlu mendapat perhatian khusus. Pasalnya, organisasi IPI sudah terlanjur basah kuyub dicap mengecewakan oleh sebagian pustakawan. Karena itu, saya menawarkan sebuah gagasan untuk meningkatkan martabat IPI dikancah daerah maupun nasional. Bagaimana caranya? Saya berpendapat perlunya kesediaan dan keikhlasan dari anggota IPI sendiri untuk menyelenggarakan gagasan saya ini. Lalu juga perlunya kerjasama antara IPI dengan lembaga pendidikan Ilmu Perpustakaan. Gagasan saya ini adalah program pemberian beasiswa gotong royong kepada calon pustakawan.

Program beasiswa ini memiliki konsep sebagai berikut:

  1. Penggalangan donasi beasiswa dari para alumni / pustakawan / anggota IPI sebagai donator yang bergotong royong mendonasikan minimal sejumlah Rp 50.000,- sampai maksimal tidak terhingga.
  2. Donasi disetorkan tiap bulan pada tanggal 25-4 (misal 25 april - 4 mei) dan durasi donasi tiap periode minimal 12 bulan (12 x setor).
  3. Maksimal 10 donatur membiayai kuliah seorang mahasiswa terpilih. (Tiap 10 donatur gotong royong untuk 1 mahasiswa).
  4. Calon penerima beasiswa diseleksi ketat, transparan dan daring.
  5. Calon penerima beasiswa diberikan wawasan baru tentang jenjang karirnya kelak melalui serangkaian wawancara oleh IPI.
  6. Calon penerima beasiswa wajib menjadi pengurus IPI Provinsi jika sudah bekerja dimanapun berada.
  7. IPI harus mencari donator lain selain dari anggota / pustakawan seperti perusahaan ternama.
  8. Melalui program ini, citra IPI disinyalir membaik dan pengurus IPI akan terisi oleh generasi penerus yang berkualitas sehingga IPI semakin maju.



8 komentar: