Jumat, 24 Januari 2020

KEMULIAAN ANGPAO PUSTAKAWAN (Renungan Tahun Baru Imlek)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I
(Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

Dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, salah satu kekhasan yang menjadi tradisi dalam perayaan tahun baru Imlek adalah pemberian Angpao. Dalam kamus bahasa Mandarin, Angpao didefinisikan sebagai "uang yang dibungkus dalam kemasan merah sebagai hadiah; bonus bayaran; uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya”. 

Dalam kesehariannya Angpao sendiri lebih diartikan sebagai bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah dan beberapa catatan yang berisi doa kebaikan dalam menyambut tahun baru Imlek atau perayaan lainnya.  Angpao umumnya muncul pada saat ada pertemuan masyarakat atau keluarga seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru, hari raya seperti tahun baru Imlek, memberi bonus kepada pemain barongsai, beramal kepada guru religius atau tempat ibadah, dan sebagainya. Pada pesta pernikahan, pasangan yang menikah biasanya diberi Angpao oleh anggota keluarga yang lebih tua dan para undangan. Masyarakat yang masih teguh memegang budaya tradisional juga menggunakan Angpao untuk membayar guru dan dokter.

Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

Angpao merupakan lambang kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Warna merah Angpao melambangkan ungkapan semoga beruntung dan mengusir energi negatif. Oleh sebab itu, Angpao tidak diberikan sebagai ungkapan berbelasungkawa karena akan dianggap si pemberi bersukacita atas musibah yang terjadi di keluarga tersebut.

Saking mulianya sebuah Angpao, sehingga muncul pola penghargaan terhadap orang yang memberi Angpao berdasarkan nilai atau besarnya angpao. Makin besar Angpao yang diberikan makin dihargai dan dianggap sukses memiliki banyak rejeki.

Bagi para pustakawan, Angpao merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan bagi mereka yang bekerja  di perpustakaan. Tentu saja Angpaonya pustakawan juga diberikan dalam bentuk uang berupa gajih dan tunjangan jabatan lainnya yang diberikan sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. Pemberian Angpao terhadap pustakawan diberikan dalam upaya meningkatkan mutu, prestasi, produktivitas kerja, dan pengabdian Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan agar meraih kesuksesan dalam karirnya.

Kemuliaan Memberi Angpao

Satu hal yang menarik untuk kita tiru dalam tradisi Imlek ini adalah keinginan untuk selalu memberi dan berbagi dengan sesama dalam bentuk Angpao. Hal ini sesuai yang diajarkan dalam setiap agama dan tentunya harus menjadi sebuah karakter dalam setiap orang termasuk para pustakawan yang selalu diberikan nikmat rejeki agar bisa terus berbagi.

Ketika seorang pustakawan yang senang berbagi Angpao atau besedekah maka ia berada pada posisi yang terbaik, sebab tangan di atas (orang yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (orang yang meminta)." (HR Muslim). Dan pustakawan tersebut akan selalu didoakan oleh malaikat setiap paginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (ra) juga disebutkan, “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Sebagai seorang pustakawan tentu tahu bahwa kesuksesan, begitu pula harta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) anugerahkan kepada kita semua hanyalah titipan dari-Nya yang diperintahkan untuk memanfaatkannya dalam kebaikan dan bukan di jalan yang keliru, maka sudah sepatutnya kita untuk terus berbagi di jalan Allah.

Seorang pustakawan tidak perlu khawatir hartanya berkurang ketika berbagi di jalan Allah. Jika seseorang mengerti dan pahami, investasi dan infak di jalan Allah sama sekali tidaklah mengurangi harta. Allah SWT berfirman, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan mengenai ayat ini, beliau mengatakan, “Selama engkau menginfakkan sebagian hartamu pada jalan yang Allah perintahkan dan jalan yang dibolehkan, maka Allah-lah yang akan memberi ganti pada kalian di dunia, juga akan memberi ganti berupa pahala dan balasan di akhirat kelak.” 

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) mengatakan bahwa harta tidaklah mungkin berkurang dengan sedekah. Beliau bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558)

Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An-Nawawi  rahimahullah ada dua penafsiran: pertama, Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan lama-kelamaan terbiasa merasakannya. Kedua,  Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.

Bagi seorang pustakawan yang sering memberikan Angpao atau sedekah, Allah SWT memberikan  balasan di akhirat berlipat ganda. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini sangat memotivasi hati untuk gemar berangpao. Ayat ini merupakan isyarat bahwa setiap amal sholih yang dilakukan akan diiming-imingi pahala yang berlimpah bagi pelakunya. Sebagaimana Allah mengiming-imingi tanaman bagi siapa yang menanamnya di tanah yang baik (subur). Terdapat dalam hadits bahwa setiap kebaikan akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat”.

Inilah permisalan yang Allah gambarkan yang menunjukkan berlipat gandanya pahala orang yang berinfak di jalan Allah dengan selalu selalu mengharap ridho-Nya. Dengan ini semua akan membuat harta akan selalu lebih berkah di puncak kesuksesan.

Pustakawan yang telah membiasakan dirinya untuk rajin bersedekah merupakan pribadi yang memiliki sikap terpuji. Tidak semua orang mampu melakukannya. Diperlukan latihan agar menjadi perilaku keseharian dan membentuk sikap mental dermawan. Ketika sudah terbangun sikap dermawan dalam diri seseorang, ia akan senantiasa berupaya memberikan apa yang bisa diberi setiap harinya. Hidupnya selalu optimistis. Yakin bahwa apa yang diberikan, hakikatnya bukan berkurang, justru bertambah.

Berharap dengan tahun baru Imlek ini, mampu  memperkuat relasi dan saling mendoakan kesejahteraan satu sama lainnya. Semoga kita semua bisa terus membiasakan diri kita untuk selalu istiqamah memberikan Angpao bersedekah setiap hari, memberikan keberkahan dan kebahagiaan kepada orang lain meski hanya dengan SENYUMAN dan BERWAJAH CERIA. SUNGGUH MULIA ORANG YANG MENJADIKAN KEBIASAAN BERSEDEKAH SEBAGAI JALAN HIDUPNYA. Selamat tahun baru Imlek 2571 bagi saudara-saudara kita yang merayakannya, Gongxi Fat Choi.

0 komentar:

Posting Komentar