Jumat, 22 Mei 2020

Terserah…Terserah…Ane bukan Siape-siape….



Bulan jadi “ndredek” hatinya alias antara mangkel, jengkel dan gak tau mesti ngomong apa lagi. Sudah hampir tiga bulan ini, adanya pandemik memaksa sebagian bahkan banyak orang untuk bekerja secara wfh saja alias work from home, bekerja dari rumah saja. Memang sih, ada juga yang mau gak mau atau terpaksa harus juga ke luar rumah demi tetap bertahan hidup, sekedar mengais sesuap dua suap nasi. Ya itu apa daya.

Pemerintah juga bukan tinggal diam. Mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah berkejaran menyiapkan ini itu, menerbitkan segala peraturan, mengeluarkan tunjangan untuk rakyat terdampak Covid-19 walaupun belum merata, dan yang lainnya. Ini semua agar warga tetap di rumah saja. Melakukan semua aktivita dari rumah. Baik itu guru, siswa, dosen, mahasiswa, ASN, pegawai swasta, dan masih banyak yang lainnya.

Begitu pun Bulan, pustakawan yang satu ini pun tidak tinggal diam. Sebagai aparat sipil negara yang juga bagian dari aparatur pemerintah ikut menyukseskan program di rumah saja, dengan bekerja dan beragam aktivitas serba di rumah saja. Semoga semua yang serba di rumah saja menjadi bagian solusi untuk mencegah menyebaran Covid-19 meluas dan memakan banyak korban. 

Nah sebagai pustakawan tentu Bulan sudah menyiapkan serangkaian aktivitas selama wfh dengan tetap melakukan kegiatan dan layanan perpustakaan kepada penggunanya dari rumah. Pola daring dan semua serba online menghiasi hari-harinya. Layanan referensi dengan menyediakan beragam ebook ataupun ejournal yang bisa diakses disiapkan untuk pengguna. Maka huntinglah Bulan sedemikian rupa mengembangkan koleksi digital perpustakaan dengan memanfaatkan hibah gratis yang disediakan lembaga penyedia dalam dan luar negeri secara legal.

Tak hanya itu, Bulan dengan tim kerjanya juga tetap membina komunitas gemar membaca buku dengan mengadakana bibliobattle atau lomba mereview buku secara daring  dalam bentuk  video. Dengan memanfaatkan media sosial seperti instagram, facebook, dan twitter, acara ini banyak diminati oleh para follower perpustakaan Balitbangdiklat Kemenag RI yang mencapai 1700 an followers.

Media sosial perpustakaan juga dimanfaatkan untuk menyebarkan, menyosialisasikan aneka ragam informasi, kebijakan pemerintah, panduan-panduan, fatwa ulama dan masih banyak yang lainnya terkait apa yang harus dan dilarang dikerjakan warga selama adanya wabah Covid-19 ini.

Bahkan bukan itu saja, perpustakaan di mana Bulan bekerja juga membuat kliping digital perpustakaan yang dirancang sedemikian rupa hingga mudah dishare kepada para pengguna dan informasinyapun update. Isinya pun adalah subjek agama dan keagamaan yang dibutuhkan dan ramai diperbincangkan masyarakat terkait aneka ragam ibadah disertai fatwa dan panduan-panduannya selama masa pandemi Covid-19 ini. Hingga kliping ini mendapat apresiasi yang cukup baik dari para penggunanya.

Bulan dan tim pun kerap kali mengadakan seminar atau sharing session tentang berbagai informasi yang bisa dibagi untuk para penggunanya, mulai dari bedah buku, sharing session pengelolaan perpustakaan secara daring, kemas ulang informasi atau information repackaging diantaranya pembuatan kliping digital perpustakaan yang mendapat respon cukup antusias dari peserta.

Sebagai seorang pustakawan, Bulan tidak saja fokus pada pekerjaannya di perpustakaan yang sekarang dikerjakan secara daring. Sebagai individu, Bulan pun ikut menyosialisasikan program pemerintah agar warga tetap di rumah saja, menghindari kerumuman, berusaha menyebarkan beragam fatwa dan kebijakan pemerintah yang perlu dipatuhi warga masyarakat. Mulailah Bulan menyosialisasikan semua hal itu lewat grup-grup wasap yang diikuti mulai dari grup alumni SD, SMP, SMA, Kuliah, grup RT hingga grup majelis taklim.

Bulan berharap apa yang dilakukannya semoga menambah kesadaran warga akan pentingnya untuk tetap berada di rumah kecuali ada hal-hal darurat dan mendesak yang membuat warga harus ke luar rumah. Itu pun harus mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan, mulai dari memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, pola hidup bersih dan lainnya. Betapa Bulan sangat sedih jika melihat dan mendengar berita banyak pasien yang terinfeksi wabah Covid-19, bahkan banyak tim medis, para dokter dan  perawat  yang berguguran  demi menjadi garda terdepan penaggulangan wabah ini.

Tetapi sekali lagi “ndredek” nya Bulan belum hilang. Bagaimana tidak, rasa marah, kecewa, bahkan geram melihat kelakuan warga masyarakat yang tidak patuh bahkan abai terhadap Covid-19. Pasar yang berjubel, bandara yang tiba-tiba ramai, kerumunan di jalan dan masih banyak lagi yang lainnya.  Sekolah-sekolah tutup, perkantoran tutup, kampus tutup, rumah ibadah pun ikut sepi, PSBB diberlakuakn,  mudik dilarang, sudah tiga bulan warga berdiam diri di rumah, pengorbanan para tim medis yang mengharu-biru, hingga para petugas di lapangan yang menjaga lingkungan agar tidak ada kerumunan,  terasa terkhianati oleh mereka yang begitu asyiknya lenggang kanggkung di keramian seolah tak ada masalah sama sekali. Kalo sudah begini, siapa yang salah ya, warganya apa penguasanya ya…Bulan mumet sendiri…

Tidak usah jauh-jauh, di lingkungan Bulan sendiri. Selama ini di lingkungan tempat tinggal Bulan, warga masyarakatnya bisa dibilang cukup patuh pada anjuran ulama dan pmerintah. Mereka berdiam diri di rumah, menjaga pola hidup bersih, beribadah di rumah saja, mulai dari sholat Jumat hingga shalawat Tarawih pada bulan Ramadhan ini semua dikerjakan di rumah saja.  Tetapi entah, Bulan tak habis pikir, mendadak ada wacana dari beberapa warga yang cukup dibilang pentolan untuk mengadakan sholat Idul Fitri di mushola karena masjid-masjid tidak mengadakan sholat Ied sebagai imbas adanya Covid-19. Duh…duh…duh…Bulan jadi mangkel. Jangankan sholat sunnah, sholat Jumat sebagai sholat wajib saja di kerjakan di rumah, apatah lagi ini sholat sunnah, meskipun sholat Idul fitri, kenapa harus di musholla. Ini sama saja mengumpulkan keramian. Sementara protokol kesehatannya tidak dipikirkan. Duh…kenapa ini mendadak seperti ini ya, Bulan bingung sendiri.

Tidak hanya itu, rumah Bulan tidak jauh dari suatu kawasan yang terkenal sebagai pusat grosir dan home industry pakaian anak, dewasa, dan aneka fashion lainnya mendadak ramai. Kenapa menjelang Lebaran ini yang tadinya kawasan ini sepi, tiba-tiba menjadi begitu ramai? Bahkan kendaraan yang lalu lalang membuat kemacetan yang begitu parah. Duh, apa lagi ini ya…Apakah warga gagal paham kenapa selama ini harus di rumah saja, ataukah mereka memang bandel? Sebegitu pentingkah baju baru di hari raya sementara mengorbankan kesehatan diri sendiri dan orang lain. Duh…duh…duh…Bulah hanya bisa geleng-geleng kepala.

Bulan merenung, dia mengingat-ingat pesan ulama. Tetap berpikih jernih, akal sehat harus tegak, janganlah meniru keburukan dengan keburukan. Berada di rumah, menjauhi kerumuan adalah bagian dari ibadah karena menjauhi kemudharatan  adalah lebih penting daripada yang mendatangkan kemanfaatan. Tetap disiplin, bertahan di rumah, ibadah pun tetap di rumaha. Ya benar, wabah ini adalah kerumuman. Di mana ada kerumunan di situ ada wabah. Dengan warga istiqomah semoga orang lain pun terbawa istiqomah dan Allah pun akan mengangkat wabah ini dan kita pun bisa kembali berkativitas seperti biasanya di era baru, era yang lebih berkah.

Ya, lagi-lagi Bulan hanya bisa berharap. Semoga perjuangan selama ini tak sia-sia. Semoga kurva penyebaran Covid-19 dan korban yang berjatuhan menunjukkan penuruan. Lebaran kali ini jadi titik yang menentukan. Jika warga disiplin, semoga Covid-19 segera berlalu, dan kita tak ingin kembali pada kondisi bulan Maret lalu. Tetapi jika warga membandel, warga masih ngeyel, kerumunan di mana-mana, ya udah terserah…terserah…terserah  deh. Ane bukan siape-siape, begitu Bulan menggerutu.


2 komentar:

  1. keren mbak. jeritan hati bersama jadi terwakili lewat bulan, mantap badai

    BalasHapus
  2. menarik sekali dibaca jd pengen lagi dan lagi bacanya...

    BalasHapus