Senin, 28 Januari 2019

Pustakawan Sekolah : Mahluk Kecil (Yang Harus) Berpemikiran Besar


Ini adalah tulisan pertama saya di blog Pustakawan.web.id ini. Sebagai tulisan perkenalan saya  yang memang masih belajar nulis ini. Itulah kenapa, di tulisan yang yang pertama di sini, saya mengunggah kembali tulisan lama saya di blog pribadi saya, Pustakawan Jogja, yang kebetulan kok ya pas dengan topik yang diberikan, Pustakawan Kuwi Mahluk Opo To?. Tentu saja ada beberapa bagian dari tulisan ini yang saya sesuaikan kembali sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada saat ini.

**(Harus) Berpemikiran Besar

Ya, sangat menggelitik memang kalimat yang saya jadikan judul artikel ini. "Pustakawan Sekolah : Mahluk Kecil (Yang Harus) Berpemikiran Besar". Kenapa Pustakawan Sekolah saya katakan sebagai "Mahluk Kecil?", apakah mereka itu Hobbit? Atau Kurcaci? Atau apa?

Betul sekali. Dalam jagat perpustakawanan, Pustakawan Sekolah acap kali ter-under estimate. Entah oleh dirinya sendiri, oleh rekan kerja di sekolahnya, atau bahkan oleh sesama pustakawan yang non pustakawan sekolah (semisal pustakawan perguran tinggi, pustakawan instansi, dsb).

Pustakawan sekolah seringkali merasa minder, malu, tidak percaya diri, introvert, dan hanya bisa memendam perasaan gundah gulananya di dalam hati. Mereka merasa diri sebagai wong cilik yang berprofesi sebagai pustakawan sekolah yang tidak bergengsi, bergaji kecil (terutama sekali yang masih honorer - hingga muncul semacam idiom "pegawai hororer" karena saking horornya gaji dan situasi mereka), dan merasa masih underdog jika dibandingkan rekan-rekan kerja di sekolah mereka seperti guru, TU, dsb. Hal dan perasaan yang sama akan didapati oleh pustakawan sekolah ketika mereka berhadapan dengan pustakawan lain (pustakawan perguruan tinggi misalnya), yang seringkali (dalam pandangan pustakawan sekolah) mereka lebih keren, prestise, pintar dan "tinggi" derajatnya. Dan masih banyak lagi.

Saya jadi teringat ada sebuah ungkapan yang ini menjadi semacam rumus dan motivasi untuk meraih sukses. "Untuk menjadi orang besar, berpikirlah selayak orang besar dan ikutilah jejak yang dilakukan orang-orang besar itu". Ya, ada dua kunci di sini. Memiliki pemikiran besar, dan ikuti jejak orang-orang besar. Maka kita akan pula (insyaa Allah, dengan ijin Tuhan) akan menjadi orang besar.

Jika ini kita terapkan di dalam dunia yang kita geluti ini, dunia perpustakaan dan kepustakawanan sekolah. Maka (barangkali) rumus di atas bisa sedikit kita modifikasi, menjadi "Untuk menjadi pustakawan besar, berpikirlah selayak pustakawan besar dan ikutilah jejak yang dilakukan pustakawan-pustakawan besar itu"

Ya, pustakawan sekolah jangan hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Pustakawan sekolah jangan hanya memikirkan bagaimana perpustakaan di sekolahnya sendiri menjadi bagus. Pustakawan sekolah yang masih berkutat pada permasalahan karier dan kesejahteraan pribadi, pustakawan yang masih berkutat pada permasalahan internal perpustakaan yang mereka kelola sendiri, bisa dikatakan (maaf) pustakawan yang belum besar. Pustakawan yang hanya tahu permasalahan dirinya sendiri dan masih berkutat pada urusan "dapur" perpustakaannya sendiri.

Akan tetapi, pustakawan sekolah harus(nya) mau dan mampu berpikir lebih dari itu. Pustakawan sekolah harus(nya) mulai berpikir bagaimana dia bisa berkontribusi dalam menjadi solusi akan setiap permasalahan yang terjadi di dalam dunia perpustakaan dan kepustakawanan di negeri ini. Pustakawan sekolah harus bisa berpikir tentang kemajuan profesi pustakawan ini. Pustakawan sekolah harusnya bisa mengikuti dan bersama-sama berperan dalam perkembangan (dan pengembangan) dunia perpustakaan dan kepustakawanan sekolah, baik dalam lingkup daerah, wilayah, maupun lingkup nasional. Bahkan tidak menutup kemungkinan dalam lingkup regional dan internasional.

**Organisasi Profesi

Lantas bagaimana bisa? Ya, benar. berpikir besar saja tidak cukup. Akan tetapi, berawal dari pemikiran-pemikiran besar itu, kita harus bergerak. Ide akan menjadi "sesuatu" ketika kita selaku pemilik ide itu melakukan "sesuatu" pula. Tapi ketika kita hanya diam, tanpa melakukan apapun, maka ide sebrilian apapun, pemikiran sebesar apapun, hanya akan mangkrak sebatas pemikiran saja.

Jadi setelah berpikir, kunci yang kedua adalah lakukan. Ya, lakukan apa yang kita pikirkan. Kerjakan apa yang menjadi ide-ide kita. Jika dalam bahasa yang lebih jauh, maka bergeraklah. Bergerak untuk melakukan sesuatu. Dari gerakan yang kita lakukan ini nantinya, kita akan bisa menjadi solusi bagi permasalahan-permasalahan, bukan hanya permasalahan kita, tetapi juga permasalahan banyak orang, permasalahan pustakawan dan perpustakaan yang ada di negeri ini.

Gerakan, yang kita lakukan tidak akan efektif ketika hanya dilakukan seorang diri, atau orang per orang. Gerakan ini akan lebih kuat jika dilakukan bersama-sama. Dalam bentuk organisasi. Karena dari organisasi ini, gerakan kita akan lebih masiv, terstruktur dan terorganisir. Kita lihat bagaimana saat ini profesi guru bisa menjadi salah satu profesi favorit di negeri ini. Lihat saja bagaimana (sebagian besar) guru saat ini yang memiliki pendapatan yang begitu besar yang bahkan (rumornya) menjadikan profesi-profesi lain merasa iri. Kesejahteraan guru ini salah satunya dari adanya tunjangan sertifikasi profesi yang besarnya sama dengan satu kali gaji guru tersebut. Taruhlah guru itu memiliki gaji 3,5 juta perbulan. Maka dengan adanya sertifikasi itu guru mendapatkan "tambahan" pendapatan 100% dari gaji dia, yang artinya dia bisa mendapatkan penghasilan 7 juta perbulan. Ini yang resmi, belum tambahan yang didapatkan dari sana-sini. Seperti kepanitiaan ujian, kepanitiaan PSB, ngajar les, wirausaha, dsb. Betapa tidak ini semua menjadikan kita pun iri tentunya. Sedangkan pustakan sekolah, digaji 400 ribu perbulan pun terasa sudah sangat besar, karena ada pustakawan sekolah yang hanya mendapatkan gaji 150 ribu perbulannya.

Akan tetapi, jika kita lihat bagaimana perjuangan guru pada waktu itu juga sangat memprihatinkan. Sampai-sampai ada lagu Oemar Bakri-nya Bang Iwan, itu sebagai sebuah gambaran sekaligus tamparan waktu itu pada, bagi, dan betapa mirisnya profesi guru. Akan tetapi dengan perjuangan guru, mereka bekerja, berpikir, dan bergerak hingga ahirnya bisa memetik hasil manis saat ini. Selain itu, tentu saja peran organisasi profesi yang menaungi guru, yaitu PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) juga sangat luar biasa. Salah satu kunci dari golnya sertifikasi guru beserta tunjangannya adalah dari gerakan dan perjuangan PGRI ini.

Inilah mengapa, kita sebagai pustakawan sekolah pun harus bisa berpikir besar, kemudian bergerak bersama-sama dalam suatu wadah organisasi profesi. Tentu saja teman-teman sudah tahu tentang organsisasi profesi yang menaungi pustakawan sekolah? Ya, ATPUSI atau Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia. ATPUSI ini adalah organisasi profesi pustakawan sekolah yang sudah memiliki struktur kepengurusan secara nasional, mulai dari tingkat pusat, provinsi, hingga tingakatan kabupaten/kota, bahkan sudah ada beberapa kecamatan yang membentuk ATPUSI, salah satunya Kecamatan Imogiri, Bantul, DIY.

Dari sini, gerakan yang kita lakukan (sekali lagi) akan lebih masiv, terstruktur, dan terorganisir. Dengan organisasi profesi ini kita akan memiliki power dan bergaining position. Maka dari itu, mari kita bersama-sama berpikir besar, bercita-cita besar, kemudian bersama-sama bergerak berdasarkan pemikiran dan cita-cita besar itu. Jangan hanya terkungkung dan terpaku di kandang kita sendiri, akan tetapi kita juga harus berbuat dan bermanfaat untuk kepentingan masyarakat. "Khoirunnas anfa'uhum linnas" Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

**Berani Mengambil Langkah 

Sekarang. Ya, sekarang. Selepas membaca tulisan amburadul ini, (minimal) akan bisa tumbuh kesadaran kita. Tumbuh tekad kita, Tumbuh niat kuat kita. Lakukan langkah pertama kita. Selanjutnya biarkan Tuhan yang bekerja untuk kita.

Lha bagaimana kalau ini, kalau itu, kalau bla bla bla...? Insyaa Allah... Biarkan Allah SWT yang mengurus nasib kita, apa yang kita akan lakukan ini adalah bentuk khodimul ummat, mengabdi kepada masyarakat. Dan Allah SWT sendiri telah manjanjikan salah satu sarana tercepat turunnya rahmat Allah SWT adalah mengabdi, berkhidmah kepada ummat. Insyaa Allah. *tpu

6 komentar:

  1. Mantap...sangat menginspirasi....jayalah pustakan..(sekolah)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Bu Kristina. Semangat selalu...!!!!

      Hapus
  2. Setuju, kita harus punya pemikiran yg luas untuk bisa diaKui dan berprestasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikomen salah satu "orang besar" di dalam jagat perpustakawanan sekolah. ^_^ matur nuwun mas Arsidi. Njenengan salah satu dari sekian orang yang kami (pustakawan sekolah) jadikan panutan untuk menjadi besar pula.

      Hapus
  3. Tulisan yg sangat menginspirasi.. 👍👍

    BalasHapus
  4. Sipp bagus mas👍lanjutkan artikel " Selanjuty

    BalasHapus