Sabtu, 26 Januari 2019

Pustakawan Bisa Jadi Makhluk Yang Berbahaya

Anda mungkin bingung dengan pernyataan pustakawan adalah makhluk yang berbahaya. Tapi jika anda membaca artikel ini dengan latar belakang lagunya grup band Superman Is Dead (SID) anda akan menyetujuinya? Coba klik tautan video dibawah sambil membaca artikel ini. Judulnya Jika Kami Bersama. Begini liriknya: 


Jika kami bersama, Nyalakan tanda bahaya.  Jika kami berpesta Hening akan terpecah. AkuDia dan Mereka memang beda. Tak perlu berpura pura memang begini adanya. Dan jika kami bersama nyalakan tanda bahaya. Musik akan menghentak, anda akan tersentak. Dan kami tahu anda bosan dijejali rasa yang sama. Kami adalah kamu, muda beda dan berbahaya 




Agaknya lirik lagu tersebut cocok untuk menginspirasi pemberontakan terhadap stereotip negatif Pustakawan di negeri ini: Lamban dan nguplek, wanita paruhbaya, kacamata, berkutat dengan buku, tertutup gak gaul, suka ngeluh gaji kecil, pasrah dan keterpaksaan. dll
Agar kita tak perlu menunggu turunnya ratu adil atau mbah Tarno yg memimpin pemberontakan terhadap stereotip pustakawan di Indonesia, mari kita hancurkan semua stereotype negatif tentang Pustakawan di Indonesia.


  • PUSTAKAWAN GAJINYA (TIDAK) KECIL
Pustakawan gajinya kecil? itu pernyataan dulu mas bro. Tapi sayangnya pernyataan tersebut selalu direpackage dimasa kini, sehingga kemudian menjadi misleading bagi orang orang awan. Bahkan bagi staf Pengajar jurusan JIIP pun banyak yang masih meremehkan besaran gaji atau penghasilan seorang Pustakawan di era kekinian.


Sebuah stereotip bahwa peran pustakawan adalah para penjaga buku. Di era kekinian profesi kepustakawanan dan informasi banyak diminati oleh perusahaan besar sebagai pengelola data dan manajerial asset. Jadi jangan bayangkan lulusan sekolah perpustakaan hanya mengelola buku sja. Di era digital, mereka juga dipercaya mengelola Asset data digital Perusahaan. 

Apa saja assetnya? 


Ya tergantung perusahaannya, Jika korporatnya merupakan firma hukum, pustakawannya bertugas mengelola dan mengontrol dokumen hukum kepengacaraan dan kerap disebut Law Librarian. Jika perusahaannya bergerak dibidang mining dan oil, maka mereka bertugas mengontrol dokumen yang berhubungan dengan kontrak karya, perizinan tambang, minyak dll. Yang di statsiun televisi, lulusan sekolah perpustakaan banyak terserap sebagai pengelola asset digital nya. Biasanya diistilahkan dengan DAM (Digital Asset Management). Tentu saja itu tidak diperoleh dengan gratis. Butuh penambahan knowledge dan skill dari luar sekolah perpustakaan untuk meningkatkan kompetensi kita.
Ishadi SK, komisaris Trans Corp pernah berbicara di depan Asosiasi Pustakawan Media. Beliau mengemukaan ada 3 hal mendasar ketika profesional mencari karirnya.

Apa saja itu ?:  
1. Apakah Profesi cukup tersebut menantang untuk digeluti ?. 
2. Apakah suasana dan iklim kerja di Perusahaan tersebut kondusif dan memberikan peluang untuk pengembangan karir. 
3. Bagaimana dengan salary, penghasilan dan benefit yang diperolehnya?
Khusus untuk yang terakhir, Ishadi memberikan nasehat tentang penambahan nilai (added value) jika kita ingin menjadi pustakawan yang dihargai mahal. Seraya mengilustrasikan harga sebuah botol merek Aqua di kios kios pinggir jalan cuma 3000 perak; tapi sebuah botol Aqua yang sama jika ditampilkan di kafe2 Hotel Bintang 5, harganya bisa Rp 200 ribeng, bisa naik 70 kali lipat. Itu semua karena value kan? 

Banyak value2 positif yang bisa ditambahkan sebagai pustakawan; misal skill mengedit, skill membuat website, skill menulis buku dll. Jangan heran kalau sekarang banyak Pustakawan yang bergaji 2 digit. So jika ada pernyataan: pustakawan cuma sekedar profesi tempelan dan pelengkap; itu jaman dulu broh. Sekarang banyak perusahaan yang bergantung pada para pengelola asset digital untuk mengelaola harta karun koleksi perusahaannya. 


  • PUSTAKAWAN (BUKAN) HANYA PEREMPUAN PARUH BAYA BERKACAMATA
Para pria tak perlu malu berprofesi sebagai pustakawan. Pustakawan bukan masalah gender meski statistik menarik yang dilakukan di indonesia 1 dari 3 pustakawan adalah laki laki, sisanya perempuan. Di belahan dunia lain, seperti Amerika, kondisinya juga sama. Saking donimannya perempuan yang menjadi pustakawan di US, beberapa pria pustakawan disana mengusulkan istilah “guybrarian” khusus untuk istilah pustakawan laki laki. Mereka memandang  istilah Librarian dianggap terlalu feminin.



Bagaimana dengan Indonesia? Paradoks, justru istilah Pustakawan sepertinya terkesan maskulin, kelaki-lakian. Tapi ada joke tentang profesi Pustakawan di indonesia. Pustakawan merujuk pada profesi dengan status lajang atau single. Jika dia sudah menikah, istilahnya berubah menjadi pustakawin he he he


  • TAK SELAMANYA PUSTAKAWAN MENGELOLA BUKU
Harus diakui Perpustakaan identik dengan buku. Namanya juga perpustakaan, yang berasal dari kata pustaka: buku. Tapi jika fungsi perpustakaan hanya mengelola obyek bukunya, bukan konten informasi yang terkandung di dalamnya, apa bedanya perpustakaan dengan gudang buku ??? Seiring dengan perkembangan teknologi, perpustakaan tidak hanya mengelola buku, melainkan juga mengelola asset atau dokumen sebagai media informasi dalam bentuk: artefak file, pita magnetic, seluloid dll. Dan di era industry 4.0 Pustakawan hadir sebagai pengelola platform data asset digital.

Pustakawan kudu gemar membaca. Lumrah bin wajib jika pustakawan mencintai sebuah buku. Tapi bukan berarti kita tak boleh berselingkuh dengan sepia nya pustakawan; menikmati bermain kartu, papan seluncur, video games playsatation, futsal, bermain rubrik, menulis, mendengarkan musik, mengikuti komunitas off road; kelompok diskusi dan banyak lagi! 




Pustakawan suka membaca, tapi sebagian besar umur kita tidak harus dihabiskan dengan membaca buku teks, Pustakawan harus kreatif; menulis, membuat paket informasi; punya kemampuan editing gambar; capat membuat database, mampu memahami logika bahasa pemrogramman; membuat blog, dll


  • PUSTAKAWAN JUGA TERTARIK DENGAN TEKNOLOGI
Kita harus selalu meng update dan meng up grade perkembangan teknologi. Suka belajar tentang teknologi baru, menemukan dan mengoperasikan sumber daya yang paling mutakhir. Pustakawan tertarik dengan pengembangan web, dan coding. Suka melakukan aktifitas , baik secara offline maupun dalam ruang digital. Kita bisa meningkatkan value tentang arsitektur informasi, manajemen informasi, desain informasi, taksonomi, pendidikan, kepemimpinan, atau advokasi kecuali kalo kita benar benar memutuskan untuk menjadi pustakawan yang membeku dilindas deru kehidupan



  • MENJADI PUSTAKAWAN (BUKAN) KARENA TERPAKSA
Jangan merasa terpaksa menjadi pustakawan (saya lupa frasa tsb kalau diklasir dengan DDC nomernya berapa?). Banyak pustakawan yang terpenjara dengan pikiran negatif dirinya sendiri. Misal di sebuah grup facebook kerap terdengar keluhan para pustakawan; ya gimana mau berkreasi kalai gaji pustakawan  kecil?, gak bisa kaya, ya kurang keren, ya gak menantang, ya adem gak asyik, dan lain lain dan lain….Ayo potong lingkaran setan tak berujung tersebut. Kita buktikan melalui aktifitas, bahwa pustakawan itu profesi yang keren loh ! 



Bagaimana kalau pengandainya kita balik, agar menjadi sesuatu yang positif, Untuk itu kita tentukan dulu goalnya, tujuannya, bukan memakai kacamata kuda, misalnya, untuk menjadi pustakawan yang kaya, gimana caranya? Bergeraklah untuk meraih goal tersebut, jangan berkeluh kesah sepanjang usia merenungi nasib. Masih banyak ruang ruang kreatif yang bisa kita warnai dalam kepustakawan ini.


Superman Is Dead, ..but Pustakawan Isn”t Dead


by:
yogi hartono - ketua forum pengelola perpustakaan & arsip media 
sisilainpustakawan@wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar