Kamis, 07 Maret 2019

Menjual Perpustakaan

Kalau perpustakaan dijual, apakah ada yang berminat membeli? Perpustakaan adalah lembaga non-profit, tidak mencari keuntungan materi terang seorang pustakawan. Perpustakaan musti meninggikan value informasi yang dikelolanya, terang pustakawan lainnya. Informasi-informasi yang ada di perpustakaan bisa dikemas ulang menjadi sumber pendapatan lain pustakawan, pustakawan lain menerangkan. Sementara di kesempatan lain seorang pimpinan instansi induk tempat perpustakaan bernaung berujar "mengolah perpustakaan gampang, buku-buku itu benda mati". Makjleb, dyaaarrr, bak petir menyambar.

Perpustakaan musti menjadi wahana bagi masyarakat dalam upaya mensejahterakan kehidupannya. Pustakawan harus punya pedoman diri, bertransformasi, harus memahami IT, harus memiliki beragam kompetensi, mendigitalisasi koleksi, beradaptasi. Rentetan perjalanan panjang kepustakawanan Indonesia tidak akan berhenti disini. Regulasi, pemanfaatan IT, diskusi para ahli, peran organisasi profesi, negosiasi-negosiasi, lobi-lobi, seminar, workshop, diklat disana-sini mengiringi tahun berganti. Kampanye gemar membaca ke berbagai pelosok negeri. Seruan literasi. Gembar-gembor penanggulangan hoaks dengan cek validasi informasi. Tak ketinggalan ajakan menulis para praktisi pengelola informasi.

Optimis!!! Seru pendidik sekolah pustakawan di penjuru negeri. Pustakawan profesi bergengsi, walau tak begaji tinggi. Sementara kondisi perpustakaan mulai distandarisasi. Perpustakaan diakreditasi. Kerja pustakawan disertifikasi. Disusunlah SKKNI. Pustakawan dilombakan mencari yang terbaik dari yang yang berprestasi. Semua yang terbaik dicurahkan untuk masa depan negeri.

Pustakawan mulai belajar keramahan teller bank dalam melayani. Interior perpustakaan didesain ala kafe masa kini. Perpustakaan mengadopsi bioskop dengan jargon teater mini. Koleksi digital dilayankan berbantukan teknologi informasi teringegrasi. Koleksi buku dijajar penuh gaya seni untuk promosi. Intinya perpustakaan ingin dimanfaatkan serta dikunjungi. Pustakawan menginginkan pemustakanya literat di era keterbukaan infomasi. Ingin bangsanya mandiri, sementara dunia industri terus berevolusi.

Menjual perpustakaan, jasa layanan beragam informasi dan referensi. Layanan termudah, tercepat, dan terbaik dengan beragam inovasi. Adalah keniscayaan di zaman ledakan infomasi yang kian tak terbendung ini. Adalah tugas bersama dengan beragam peran yang saling mengisi dan melengkapi.

Tetap saja musti selalu diingatkan kembali bahwa masih banyak jeloban sekolah perpustakaan yang keilmuannya belum terimplementasi. Para alumni banyak yang belum terserap kerja pada perpustakaan (sebagai industri). Masih banyak pekerja perpustakaan yang gaji bulanannya belum mencukupi. Masih banyak tenaga-tenaga perpustakaan belum terwadahi dalam organisasi profesi. Masih banyak pustakawan yang tak mendapat kesempatan meningkatkan kompetensi diri dalam kekangan instansi.



Para pekerja perpustakaan ialah ia yang menjual perpustakaan. Mereka sedang berproses menyelami strategi-strategi para sales. Memerhatikan cara penjual menjual dagangannya. Memasarkan produk dalam internet. Untuk kepuasan sang raja calon pembeli, pemustaka. Karena pemustaka adalah raja di perpustakaan.

1 komentar:

  1. Mungkin iya juga mas, banyak sekali materi-materi yang ada di perpustakan, jika memang dimanfaatkkan bisa berbuah profit. Dari non profit jadi profit...

    BalasHapus