Sabtu, 21 Desember 2019

Ibu Kunci Sukses Pustakawan (Refleksi Hari Ibu Nasional)

Oleh : Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

Seperti kita ketahui bersama bahwa tanggal 22 Desember 2019 bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu Nasional (HIN) yang ke-91 dengan tema Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Hari Ibu lahir dari pergerakan perempuan Indonesia diawali dengan  Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928 di Yogyakarta telah mengukuhkan semangat dan tekad bersama untuk mendorong kemerdekaan Indonesia.

Hakekat HIN setiap tahunnya adalah mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda akan arti dan makna Hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Termasuk juga untuk mendorong semua pemangku kepentingan guna memberikan perhatian, pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan. Dan pada akhirnya memberikan keyakinan yang besar bahwa perempuan akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya serta mengembangkan segala potensi dan kemampuan sebagai agen penggerak (agent of change).  Untuk itu sebagai apresiasi atas gerakan yang bersejarah itu, HIN ditetapkan setiap tanggal 22 Desember sebagai hari nasional para ibu.


Keistemewaan Ibu

Ada sebuah lirik lagu yang dinyanyikan oleh grup musik Nasidariya yang isinya sangat menyentuh hati kita semua yang menceritakan tentang kemulian ibu, yaitu

Ibu, kaulah wanita yang mulia
Derajatmu tiga tingkat dibanding ayah
Kau mengandung melahirkan menyusui mengasuh dan merawat
Lalu membesarkan putra-putrimu Ibu
Lautan kasih sayang
Pada setiap insan
Mataharinya alam
Sebagai perumpamaan
Dunia isinya belumlah sepadan
Sebagai balasan ibumu melahirkan
Doanya terkabulkan keramat di dunia
Kutuknya kenyataan jangan coba durhaka
Syurganya Tuhanmu dibawah kakinya
Ridhanya Ibumu ridha Tuhan jua
Wahai jangan jadi anak durhaka
Marilah berbakti pada Ibunda

Dari lirik lagu tersebut, apa yang menjadikan seorang ibu begitu istimewa? Setiap anak sungguh telah merasakan keistimewaan seorang ibu. Ibu adalah orang yang telah mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, mendidik, dan membesarkan.

Begitu besar pengorbanan seorang ibu, Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (SAW) dalam hadisnya yang disampaikan oleh Abu Hurairah RA, berkata, "Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai, Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi SAW menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi SAW menjawab, 'Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.

Baca juga: Angpao Pustakawan
Perintah penghormatan yang besar kepada seorang ibu juga banyak disebutkan dalam Al- Quran. Contoh, perintah hormat kepada ibu disebutkan dalam QS Luqman ayat ke-14. "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah.

Kebaikan ibu sangatlah luas dan tak pernah dapat tergantikan dengan apapun. Seberapa banyak harta kekayaanmu, tak akan pernah bisa lunas untuk membayar kebaikan ibu. Maka, buatlah beliau tersenyum bahagia.

Membahagiaan ibu juga adalah perintah Agama. Dikisahkan, seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Aku akan berbai'at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis." Rasulullah SAW bersabda, "Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis." (HR. Abu Dawud).

Peran Ibu

Perempuan sebuah kata yang memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seorang perempuan menikah, lalu mempunyai seorang anak maka perempuan tersebut bermetamorfosis menjadi seorang ibu. Di Jepang jabatan seorang ibu sangatlah mulia. Banyak wanita-wanita Jepang yang lebih memilih mengundurkan diri dari karir profesionalnya ketika mempunyai seorang anak. Mereka merasa lebih bahagia, tersanjung dan mulia dengan jabatan dan tugasnya sebagai seorang ibu. Para wanita Jepang menganggap bahwa mendidik seorang anak sama profesionalnya dengan para wanita pekerja.

Karenanya, membahas peran Ibu untuk kesuksesan anaknya, seperti halnya saya seorang pustakawan yang telah berhasil memiliki prestasi dalam skala global, semuanya adalah berkah kemuliaan seorang ibu yang telah melahirkan kita yang selalu berusaha berdoa untuk anaknya, bagaikan tarikan nafas kita. Apa yang kita rasakan ketika kita berhenti menarik nafas? Disadari atau tidak menarik nafas terus menerus kita lakukan dalam keadaan dan kondisi apapun. Kita tidak pernah bisa menahan nafas dalam waktu yang lama bukan? Begitu pun peran seorang ibu terhadap anaknya, berlangsung secara terus menerus dan tidak pernah berhenti hingga ajal menjemput. Banyak para ahli yang berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional seorang ibu pada anaknya merupakan salah satu aspek penting kesuksesan hidup seseorang.

Pernah suatu ketika seorang jamaah mau mengetahui tentang kesuksesan Ustaz Abdul Somad (UAS). Yang  mereka jadikan sebagai sumber informasinya adalah ibunya, karena ibunya yang paling dominan dalam mendidik UAS sehingga bisa menjadi terkenal di Tanah Air hingga luar negeri seperti sekarang ini. Lalu jawaban ibundanya UAS, “Kalau mendidik UAS harus menerapkan disiplin. Pendidikan agama merupakan hal utama dalam mendidik UAS. Saya mendidik UAS dengan keras tak mau lembek. Anaknya harus disiplin. Ilmu agama selalu diberikan kepada UAS. Mengenai ajaran agama ibunda selalu keras dan sangat menyayangi anaknya”. Di sinilah peran ibu sangat amat penting terhadap pendidikan anak, ia menjadi seorang A, B atau C adalah karena orang tuanya. Karena itu sudah bukan rahasia lagi, jika dibalik anak yang hebat selalu ada ibu yang hebat.
Baca juga: Pustakawan Berakhlak Nabi
Satu hal yang menarik dari hasil didikan ibunya UAS adalah kasih sayang yang selalu diberikannya pada UAS. Bentuk kasih sayang, seperti pelukan, kecupan hangat, belaian, dukungan dan bentuk lainnya sangat dibutuhkan anak untuk kesehatan mentalnya di masa depan. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Child Trends sebuah organisasi riset nirlaba terkemuka di Amerika Serikat berfokus pada peningkatan kehidupan anak-anak, remaja, dan keluarga mereka.

Diketahui bahwa dengan kehangatan dan kasih sayang yang diungkapkan oleh orangtua kepada anak-anak akan menghasilkan dampak positif seumur hidup. Efeknya antara lain, anak jadi memiliki harga diri yang lebih tinggi, kinerja akademis yang lebih baik, dan risiko mengalami masalah psikologis juga lebih rendah. Sebaliknya anak-anak yang tidak memiliki orangtua yang menyayangi cenderung memiliki harga diri yang rendah dan merasa lebih terasing, agresif, dan anti social.

Pada 2010, para periset di Duke University Medical School juga menemukan bahwa bayi dengan ibu yang sangat sayang dan penuh perhatian tumbuh menjadi orang yang lebih bahagia,
lebih tangguh, dan tak mudah. Penelitian ini melibatkan sekitar 500 orang yang dianalisis saat masih bayi sampai berusia 30-an. Ketika bayi berusia delapan bulan, psikolog mengamati interaksi ibu mereka dengan mereka saat mereka melakukan beberapa tes perkembangan. Para psikolog menilai tingkat kasih sayang dan perhatian ibu pada skala lima poin mulai dari yang" negatif" hingga " boros" . Hampir 10 persen ibu menunjukkan tingkat kasih sayang rendah, 85 persen menunjukkan jumlah kasih sayang normal. Lalu sekitar 6 persen menunjukkan tingkat kasih sayang yang tinggi. Kemudian 30 tahun kemudian, orang-orang yang sama diwawancarai tentang kesehatan emosional mereka. Orang dewasa yang ibunya menunjukkan kasih sayang secara 'boros' atau sering memeluk dan membelai, tidak mudah mengalami stress, cemas, tetapi  mudah dalam interaksi sosial.

Selamat hari ibu, kasih sayangmu akan selalu dirindukan, dengan jasamulah kami bisa menjadi orang-orang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin.

0 komentar:

Posting Komentar