Selasa, 24 November 2020

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi

Belajar Menjadi Mantan Pustakawan “Gila” dari Sang Sufi Jalaluddin Rumi



انسى السلامة. عِش حيث تخشى أن تعيش. دمر سمعتك. كن سيئ السمعة” (جلال الدين الرومي)


Larilah dari apa nyaman, lupakan kenyamanan, hiduplah ditempat kamu takut untuk hidup, hancurkanlah reputasimu, jadilah pribadi yang kontroversial (Jaluddin Rumi)


 
Rumi, salah satu sufi dalam tradisi Islam menjadi inspirasi saya untuk menjadi "gila". Suara sang sufi menggema keras di zaman now, zaman dimana semua orang mencari kenyamanan di segala hal, bahkan sampai kenyamanan di kehidupan setelah kematian. Zaman ini semua orang menjilat kiri kanan untuk menjaga reputasinya, zaman dimana orang cari aman, tunduk pada penindasan akal sehat.

Kenyamanan adalah musuh, kenyamanan membuat saya menjadi busuk, membuat saya terlena, membuat saya turun kesadaran, membuat saya menjadi lemah dan lambat. Bagi saya kenyamanan yang saya rasakan bagaikan telur diujung tanduk, ia amat rapuh, semua ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan bisa lenyap dalam sekejap mata.

“Hancurkan Reputasimu” begitulah Rumi mengajak kita. Reputasi adalah pandangan orng lain tentang kita. Sifatnya dinamis, berputar, dan ia amat rapuh. Bagi saya hidup mempertahankan reputasi adalah hidup dalam penjara. Rumi membebaskan saya dari apa yang semu, Rumi ingin mengajak saya untuk terus memperbaharui hidup. Saya tak ingin terjebak pada satu peran ataupun identitas tertentu.

Rumi telah mengajak saya menjadi mantan pustakawan yang kontroversial, membongkar tradisi yang ada, yang mempertanyakan pandangan-pandangan lama dunia kepustakawanan yang sudah kuno, oleh karenanya saya pun juga harus siap dibenci karena melakukan itu semua.

Menjadi terkenal menjadi mantan pustakawan pemberontak, yang tidak bisa diatur, yang berantakan, yang semau gue. Itu semua saya lakukan untuk membongkar kemunafikan cara berpikir pustakawan yang ada.

Nietzche, pemikir Jerman kiranya terinspirasi banyak dari ajaran dari Rumi. Keduanya menegaskan agar hidup itu tidak hanya ikut arus, tanpa sikap kritis, dan terlena dalah hidup di zona nyaman dan aman di dalam kedangkalan. Saya telah menjadi mantan pustakawan “Gila” yang beralih profesi jadi tukang ketik atasan. Menjadi gila  seperti ini justru menjadikan saya waras sepenuhnya menjadi manusia seutuhnya untuk hidup dengan segala warnanya.
 
 

 



2 komentar: