Rabu, 25 November 2020

Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada

 Dunia Pustakawan yang Tak Pernah Ada


Dunia sebagai keseluruhan menurut pandangan filsafat klasik, adalah bidang dari segala bidang-bidang lainnya. Ia adalah jaringan dari keseluruhan, namun manusia tidak akan pernah bisa memahami ini, karena pengetahuannya selalu terbatas. Terjangan filsafat postmodern telah membubarkan harapan manusia tentang filsafat yang bisa menjelaskan segalanya dalam satu gambaran dunia yang utuh dan koheren. Tidak ada lagi “Dunia” dengan huruf D besar.


Akibatnya, banyak orang kini kehilangan pegangan, tak luput juga mereka yang berprofesi pustakawan di negeri ini, karena panduan dunia kepustakawanan dari para founding fathers ilmu perpustakaan di negeri ini yang utuh dan menyeluruh telah menghilang. Keyakinan akan kebenaran mutlak tentang kepustakawanan termasuk ilmu perpustakaan dipertanyakan ulang. Sebaliknya, imajinasi dan kreativitas di luar profesi pustakawan justru meningkat, guna mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan. 


Perpustakaan di negeri ini kini bagaikan tempat yang dingin yang harus ditata kembali dengan imajinasi dan daya cipta para pustakawannya. Tidak ada pilihan lain, kecuali pustakawan menjalani ini semua dengan penuh kesadaran dan kebebasan.


Pada titik ini, ilmu perpustakaan tidaklah cukup. Pustakawan membutuhkan seni, teknologi, agama, budaya, dan filsafat untuk mengisi hidupnya. Tanpa itu semua, dunia pustakawan bagaikan padang gurun yang kering dan tanpa makna. Jika sudah begitu, neraka tak perlu menunggu setelah kematian para pustakawan, melainkan sudah ada disini dan saat ini.


Tanpa jiwa, dan pengakuan atasnya, hidup pustakawan jadi tak berarti. Jiwa pustakawan adalah administrator dari makna. Tanpanya, hidup pustakawan jadi tak bermakna. 


Ketika peran pustakawan dihilangkan, maka ia bisa fokus pada situasi disini dan saat ini (here and now), dan mulai mencipta dengan gembira, tanpa kekecewaan, tanpa depresi.


Pustakawan hidup di dunia yang tak pernah ada, namun memiliki peluang dan kemungkinan yang tak terbatas untuk mencipta. Ia melintas berbagai area makna, lalu mencipta ulang hidupnya kembali. 


Tujuan akhir kita pustakawan di negeri ini tak akan pernah tercapai, karena tujuan itu sendiri tak pernah ada. Makna yang tersangkut pada kebenaran mutlak memang menghilang dari jati diri pustakawan, tetapi kita jangan pesimis, karena pustakawan juga memiliki kebebasan untuk menciptakan makna-makna baru secara kreatif, dan tanpa batas.



Terinspirasi dari curhatan diri 


2 komentar: