Sabtu, 06 April 2019

Inklusi Sosial : Bagaimana Konsep Pustakawan Meningkatkan Kerja Dan Kebahagiakan Hidup

Oleh:  Juli Purnawati*

Bagaiamana orang-orang menemukan makna dalam pekerjaan adalah topik yang sangat menarik perhatian para ahli manajemen. Satu hasil penelitian oleh profesor manajemen Wharton Adam Grant menjelaskan bahwa yang memotivasi pegawai adalah "mengerjakan pekerjaan yang mempengaruhi kesejahteraan orang lain" dan yang "melihat atau menemui orang-orang yang terdampak oleh pekerjaan mereka."

Dalam sebuah eksperimen, seorang cold caller (orang yang berusaha menjual atau mengumpulkan dana lewat telepon) di University of Michigan yang menghabiskan waktu dengan seorang penerima beasiswa yang dananya sedang diusahakan untuk dikumpulkan membawa 171% lebih banyak uang dibandingkan orang-orang yang hanya bekerja lewat telepon. Tindakan sesederhana menemui calon murid penerima dana memberikan makna ke para pengumpul dana dan meningkatkan kinerja mereka.

Orang Jawa menganjurkan agar hidup dengan ‘nrimo ing pandum’ atau menerima apa yang ada (diberikan oleh Tuhan). Sekelompok orang lain mengatakan bahwa kita tidak boleh pasrah dan nrimo atau menerima nasib. Kita harus berusaha mengubah nasib. Yang miskin harus berusaha agar tidak miskin. Yang tidak punya anak harus berusaha mempunyai anak. Yang tidak berkuasa harus berusaha memiliki kekuasaan agar berdaya. Pokoknya harus berusaha.

Baik, kita terima pendapat yang mengatakan bahwa orang harus berusaha. Jadi yang miskin harus berusaha untuk mencari nafkah yang cukup untuk makan, untuk berpakaian, untuk memiliki rumah tempat dia berlindung. Pertanyaannya adalah, apakah usaha yang dia lakukan akan dapat  menghasilkan uang untuk itu semua? Usaha yang bagaimana yang akan dapat

Kebahagiaan hakiki pada dasarnya merupakan nikmat karunia Allah yang diberikan kepada setiap orang. Dengan kat lain, kebahagiaan adalah salah satu unsur dalam diri manusia. Dalam bahasa teknis dapat dikatakan bahwa kebahagiaan merupakan design factor manusia. Sama dengan rasa manis yang menjadi design faktor gula. Kalau tidak manis maka itu bukanlah gula.

Dalam hal diri kita berada dalam ‘keadaan’ tertentu, maka potensi kebahagiaan ini akan muncul ke permukaan sehingga dapat kita rasakan.  Kalau ‘keadaan’ tersebut kita pertahankan maka kebahagiaan akan terus menerus berada di permukaan sehingga kita juga terus menerus merasakan bahagia.

Seseorang yang berada dalam kemiskinan dapat bahagia, orang yang tidak memiliki anak dapat bahagia, orang yang tidak berkuasa atau tidak menduduki jabatan penting juga dapat bahagia. Orang sakitpun dapat bahagia. Semua itu tergantung pada bagaimana kita menyikapi keadaan hidup kita. Selama sikap hidup kita tidak berubah, maka kebahagiaan akan tetap berada pada diri kita. Artinya kita akan tetap bahagia bagaimanapun keadaan yang kita alami dan apapun yang kita miliki.

Inklusi Sosial : Bagaimana Konsep Pustakawan Meningkatkan Kerja Dan Kebahagiakan Hidup

5 Nilai dasar untuk Menjadi Pustakawan Unggul yaitu :

  1. Resilience (memiliki daya tahan) kemampuan untuk bertahan hidup, survival, tidak mudah menyerah dalam berbagai situasi.
  2. Adaptivity (menyesuaikan diri) kemampuan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
  3. Intergrity mampu memegang teguh integritas pribadi dan profesional seperti kejujuran, toleransi, kolaborasi, tolong menolong, mematuhi kaidah ilmiah dan profesional.
  4. Competency memiliki kualitas dalam branding yang digeluti serta mmapu memahami perkembang bidang lain sehingga memeperluas wawasan.
  5. Continuous Improvement menjadi pembelajar sejati untuk trus melakukan perbaikan dalam bidang yang ditekuni.
Mau tahu bagaimana harus bersikap dalam hidup agar tetap bahagia?

Kembalilah pada inti sejatining ngaurip, yaitu ‘eling lan waspada’ dengan menyadari bahwa misi hidup ini adalah untuk ‘memayu hayuning bawana’, yakni memakmurkan bumi dan membahagiakan sesama manusia.

Kurang jelas? Kebahagiaan hidup adalah untuk memberi. Memberi artinya memenuhi kebutuhan orang lain bukan menyenangkan orang lain. Setiap orang dapat dipastikan mempunyai sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Untuk memberi anda harus bersikap perduli kepada sesamanya. Bersikap perduli membuka pintu kebahagiaan. Pintu terbuka dan anda mesuk ke dalam kebahagiaan.

Dalam Al Quran Allah melihat anda sebagai orang yang beriman dan bertaqwa: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa itu adalah kebahagiaan” (Surat An Na’ba ayat 31).

Pemeluk agama Islam diwajibkan mengucapkan ‘Bismillah’ setiap kali akan melakukan suatu kegiatan. Kata ‘bismillah’ artinya ‘atas nama Allah’. Kalau anda mengucapkan kata basmalah itu artinya anda ‘melaporkan’ kepada Allah bahwa apa yang akan anda lakukan itu dengan niat untuk melaksanakan misi kholifah.

Ada 3 langkah yang perlu diperhatikan dalam menjalankan perintah Allah yaitu:
  1. Perhatikan kebutuhan orang lain (artinya anda harus perduli).
  2. Maka berniatlah untuk memenuhi kebutuhan orang lain tadi (artinya anda berniat menjalankan perintah Allah dan membuat komitmen)
  3. Berupayalah memenuhi niat  
Fokus  dipoin tiga, yaitu “berupayalah memenuhi niatmu”. Langkah ini merupakan komitmen. Berupaya memenuhi komitmen sesuai dengan misi manusia yang diamanahkan Allah  juga sering disebut sebagai ‘berupaya di jalan Allah’. Sekarang mungkin anda memahami kata-kata yang sering dinasihatkan kepada kita, yaitu “Lakukan semua itu dengan ikhlas”. Dengan ikhlas artinya melakukan sesuatu di jalan Allah tadi (suatu upaya memenuhi kebutuhan orang lain dalam rangka tiga langkah tersebut di atas).

Kalau dari passion sudah diketahui kebutuhan pengguna, maka pustakawan mengambil keputusan mau melakukan apa dan dengan cara bagaimana. Setelah itu barulah berusaha melakukan pengembangan diri.

Memenuhi kebutuhan orang lain berarti memberi dan memberi itu tidak selalu langsung. Kalau anda berjalan dan melihat ada paku, maka ambillah paku itu dan buang ke tempat yang aman. Kalau niat anda mengambil paku tadi adalah agar orang lain tidak celaka karena paku itu, maka anda akan bahagia. Jadi berbuat sesuatu agar anda bahagia itu tidak perlu ada orang yang tahu.

Kalau anda seorang pustakawan, tidak bararti anda tidak dapat bahagia. Demikian juga kalau anda seorang pejabat atau penguasa. Selama anda menjalankan tugas atau pekerjaan anda “di jalan Allah” (yaitu menjalankan perintah Allah untuk memakmurkan bumi dan membahagiakan orang lain), maka anda akan bahagia.

Itulah makna sejatinya urip iku urup.

Salam Pustakawan

Salam Literasi

*Penulis adalah Pustakwan Perpustakaan USU
Blognya bisa dibaca disini: https://purnawatijuli.blogspot.com/

4 komentar: